ISTILAH BURUZ NABI, ZILI NABI, dan NABI TANPA SYARIAT ADALAH BUKAN NABI

Oleh: Prof. Ir. Faturakhman Ahmadi Djojosugito, M.Sc
Ketua Umum Pedoman Besar  Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI)

Orang sering menyalahpahami istilah buruz nabi, zili nabi dan nabi tanpa syariat sebagai nabi yang sebenarnya.

Pemahaman seperti itu tidak benar. Jika orang konsisten memegang teguh pernyataan Mirza Ghulam Ahmad yang muhkamat (pernyataan nomor 1 dan 2), sama sekali sudah tidak ada peluang lagi untuk mengartikan kata nabi yang diterapkan kepada Mirza Ghulam Ahmad sebagai arti nabi yang sebenarnya, tetapi hanya nabi dalam arti kiasan atau hanya dikiaskan sebagai nabi (pernyataan nomor 3, 4, dan 5), sekalipun demikian, Mirza Ghulam Ahmad juga menjelaskan secara eksplisit bahwa buruz nabi, zili nabi, dan nabi tanpa syariat itu bukan nabi. Penjelasan mengenai hal tersebut dapat dilihat dalam uraian berikut.

BURUZ NABI

Buruz adalah bayangan/cerminan. Buruz seorang nabi merupakan bayangan/cerminan seorang nabi dan ini istilah yang ada atau dikembangkan di kalangan kaum Sufi. Menjadi buruz seorang nabi lalu kemudian dikenal dengan istilah nabi buruz. Dan apakah nabi buruz itu nabi? Menurut Mirza Ghulam Ahmad nabi buruz itu bukan nabi. Ini terlihat dari pernyataan berikut.

Pernyataan no 14.

“Seluruh Umat setuju bahwa seorang non-nabi (ghair nabi) dapat menjadi (menempati) seorang  nabi secara buruz. Ini adalah arti hadis: ‘Ulama dari Umatku seperti para nabi bangsa (bani) Israel’. Lihatlah, Nabi Suci telah menyatakan bahwa ulama seperti para nabi. Satu hadis mengatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Hadis lain mengatakan: Di antara para pengikutku, selalu akan ada empat puluh orang yang menyerupai hati Ibrahim. Dalam hadis ini, Nabi Suci telah menyatakan mereka menyerupai/seperti Ibrahim” (Ayyam as-Sulh, hlm. 163; RK, jilid 14, hlm. 411).

Jadi, menurut Mirza Ghulam Ahmad, buruz Nabi Suci Muhammad adalah seorang NON-NABI (GHAIR NABI).

Adanya , atau timbulnya istilah Nabi Buruz, menimbulkan pengertian seolah-olah istilah tersebut sebagai nabi hakiki.

ZILI NABI

Zili adalah refleksi/pantulan. Zili seorang nabi merupakan refleksi/pantulan seorang nabi, dan ini juga istilah yang ada atau dikembangkan di kalangan kaum Sufi. Menjadi zili seorang nabi dan lalu akhirnya kemudian menimbulkan adanya istilah nabi zili. Hal ini juga jelas akan menimbulkan pertanyaan, apakah nabi zili itu nabi? Menurut Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana nabi buruz, nabi zili adalah bukan nabi, tetapi seorang wali. Adanya istilah Nabi Buruz, dan Nabi Zili menimbulkan pengertian sebagai nabi hakiki. Lihat pernyataan Mirza Ghulam Ahmad berikut.

Pernyataan no 15.

“Saya yakin secara teguh/kuat bahwa Nabi Suci Muhammad adalah Khatam-ul-anbiya, dan setelah beliau tidak ada nabi yang akan datang….. Tentu saja, para muhadas akan datang dan Tuhan akan berbicara (kepadanya), dan (para muhadas) akan mempunyai beberapa atribut kenabian penuh/sempurna dengan cara refleksi (zili), dalam beberapa cara diwarnai dengan warna kenabian. Saya adalah salah satu di antaranya.”   (Nishan Asmani, p. 28).

Mirza Ghulam Ahmad telah mengatakan tentang Hazrat Umar, khalifah Islam kedua, sebagai zili Nabi Suci dalam kata-kata berikut.

Pernyataan no 16.

“ … seorang Hazrat Umar adalah seorang dari Nabi Suci Muhammad dengan cara zili, karena itu … tangan     Hazrat Umar dianggap sebagai tangan Utusan Tuhan, Nabi Suci” (Ayyam as-Sulh, p. 35; RK, vol. 14, p. 265)

Lihat juga pernyataan Mirza Ghulam Ahmad berikut.

Pernyataan no 17.

Kenabian saya adalah zili dari Nabi Suci Muhammad, bukan kenabian asli (yang nyata atau sebenarnya)” (Haqiqat-ul-Wahy hlm.150, catatan kaki; RK, jilid 22, hlm. 154).

Kenabian zili yang dikatakan di sini merujuk pada apa yang dipunyai oleh seorang wali. Mirza Ghulam Ahmad menulis tentang ini:

Pernyataan no 18.

Nabi adalah barang nyata (asli), dan wali adalah zili (Karamat-us-Sadiqeen, hlm. 85, RK, jilid 7,  hlm. 127).

Dua pernyataan terakhir (pernyataan nomor 17 dan 18) tersebut juga membuktikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan mengaku (klaim) dirinya sebagai nabi tetapi sebagai wali. Menurut Mirza Ghulam Ahmad zili nabi itu wali.

Oleh karena itu, zili seorang nabi berarti seorang muhadas, mujadid, aulia/wali atau khalifah, dan mereka bukan seorang nabi.

Jadi, Mirza Ghulam Ahmad sebagai zili Nabi Suci Muhammad saw., dan sebagaimana Hazrat Umar, bukanlah seorang nabi.

NABI TANPA SYARIAT.

Kasus yang ada kaitannya dengan konteks kata nabi, menurut Mirza Ghulam Ahmad,: “…YANG TIDAK MEMBAWA SYARIAT, mereka SEMUANYA ADALAH MUHADAS” (Tiryaq al-Qulub, Oktober 1902, hlm. 130).

Beberapa pernyataan Mirza Ghulam Ahmad tentang muhadas:

Pernyataan no 19.

“…..YANG TIDAK MEMBAWA SYARIAT, mereka SEMUANYA ADALAH MUHADAS, tidak peduli betapapun tinggi tingkat mereka dihadapan Tuhan, dan diangkat dengan jubah wahyu Ketuhanan, tak seorangpun menjadi kafir dengan menolak mereka” (Tiryaq al-Qulub, Oktober 1902, hlm. 130).

Pernyataan no 20.

“Dalam Hadis ‘Ulama Umat-ku menyerupai nabi-nabi bangsa (bani) Israel’ kabar tentang persamaan Masih disebutkan secara implisit. Oleh karena itu, atas dasar ini, Masih yang akan datang, karena keberadaannya SEBAGAI SEORANG MUHADAS, juga merupakan SEORANG NABI DALAM ARTI KIASAN” (Izala Auham, September 1891, hlm. 349).

Orang  yang menerima kabar penting ( dan banyak) dari Allah dalam terminologi Islam namanya MUHADAS. Ini terdapat dalam Hadis Bukhari pada buku “Kualitas para sahabat” dalam judul “Umar” yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

“…di antara bangsa-bangsa sebelum kalian, biasa muncul para MUHADAS, bila ada seorang di antara pengikutku, ia adalah Umar”. (Bukhari)

‘Di antara bani Israel sebelum kalian,  dulu pernah muncul orang-orang yang Tuhan berbicara kepada mereka, meskipun mereka bukan para nabi, dan bila ada seorang di antara pengikutku, ia adalah Umar’.(Bukhari,.v.1, page 521, part 14, ch. Virtues of Umar).

Dari kedua hadis tersebut dapat diperoleh pengertian tentang apa arti muhadas, yaitu orang yang Tuhan bericara kepadanya meskipun orang tersebut bukan nabi.

Pengertian muhadas di atas adalah pengertian muhadas dalam terminologi Islam, bukan dalam arti lughowi.

Kata Nabi dalam pernyataan Nabi tanpa syariat hanya dapat diartikan nabi dalam arti kiasan,  atau hanya dikiaskan sebagai nabi, karena semua nabi selalu membawa syariat. Hal itu dapat disimpulkan dari pernyataan Mirza Ghulam Ahmad berikut.

Pernyataan no 21.

“Allah berbicara dan berkomunikasi dengan para wali-Nya dalam umat ini. Mereka dianugerahi sifat-sifat nabi, tetapi mereka bukanlah nabi yang nyata, sebab Quran Suci telah melengkapi seluruh persyaratan syariat. Mereka hanyalah diberi pemahaman tentang Quran; mereka tidak menambah apapun pada Quran ataupun mengurangi sesuatu dalam Quran.”                 (Mawahib ar-Rahman, Januari 1903, hal. 66).

Dalam pernyataan di atas Mirza Ghulam Ahmad mengatakan bahwa alasan mengapa para wali bukan nabi karena syariat Islam telah disempurnakan dengan turunnya Quran.

Seorang nabi hanya akan diturunkan apabila syariat tersebut perlu  disempurnakan

Jadi, nabi yang tidak membawa syariat itu bukan nabi, tetapi hanya nabi dalam arti kiasan atau hanya dikiaskan sebagai nabi.

Jadi, makin jelas bahwa hanya ada dua kategori: (1) kelompok nabi, mereka diturunkan untuk menyempurnakan (atau membawa) syariat dan (2) kelompok wali (muhaddas), mereka bukanlah nabi yang nyata. Jadi jelas, bahwa Nabi tanpa syariat termasuk dalam kategori (2) ini.

Dari uraian di atas terlihat bahwa Mirza Ghulam Ahmad sendiri telah menjelaskan secara eksplisit bahwa sebutan nabi zili, nabi buruz, dan nabi tanpa syariat adalah bukan nabi ! Mengingat pengakuan (klaim) Mirza Ghulam Ahmad bukan sebagai nabi (sekali lagi: kalau mau silakan sebut: bukan nabi yang sebenarnya), tetapi hanya nabi dalam arti kiasan, yang tak lain adalah bukan nabi, maka salahpaham yang pokok dalam memahami pengakuan (klaim) Mirza Ghulam Ahmad ini adalah memahami arti nabi dalam arti kiasan menjadi arti nabi yang sebenarnya.

Jika ada orang, atau golongan yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, atau masih meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi; sehingga orang, atau golongan ini berkeyakinan bahwa orang harus beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad, keyakinan orang, atau golongan tersebut adalah bertentangan dengan pernyataan Mirza Ghulam Ahmad. Orang, atau golongan tersebut belum memahami pernyataan Mirza Ghulam Ahmad secara utuh.

Dan juga jika ada orang, atau golongan yang menyatakan atau menuduh bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengaku (klaim) dirinya sebagai nabi, atau masih menyatakan atau menuduh bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengaku (klaim) dirinya sebagai nabi, sehingga orang atau golongan ini lalu anti Ahmadiyah, atau anti Mirza Ghulam Ahmad, berarti orang-orang tersebut juga belum memahami pernyataan Mirza Ghulam Ahmad secara utuh

Kekeliruan orang atau golongan tersebut adalah; bahwa secara tidak sadar, mereka mengartikan kata nabi dalam arti kiasan, menjadi Nabi dalam arti hakiki, atau arti Nabi yang berlaku dalam konvensi di masyarakat Islam

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, istilah nabi tanpa syariat (dan juga istilah nabi yang lain-lainnya) sebaiknya tidak boleh disebarluaskan di masyarakat, oleh karena selain bertentangan dengan pernyataan Mirza Ghulam Ahmad sendiri, istilah nabi tanpa syariat secara jelas dan pasti, tentu akan membingungkan masyarakat awam.

Masyarakat awam secara tidak sadar akan dapat terjerumus, oleh karena salah memahami. Masyarakat awam akan tidak menyadari, akan membuat arti kiasan berubah arti, yakni akan berubah menjadi arti yang sebenarnya, atau dalam pengertian bahwa arti kiasan berubah menjadi arti hakiki.

Dan hal ini adalah bertentangan dengan pernyataan Mirza Ghulam Ahmad ( pernyataan 19; 20 dan 21 )

Siapapun yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi hakiki, telah melakukan kesalahan yang fatal

2 Tanggapan

  1. yang jelas yang disebut Nabi yang benar itu adalah Nabi yang diutus oleh Allah swt.
    bukan ada orang Lahore baru ada yang tau namanya Nab itu, sejak dahulu orang sudah tahu ada yg disebut Nabi itu.

    • Assalamu’alaikum wr wb;
      Ikhwan Najam Yth, Memang benar ikhwan najam bahwasannya istilah2 tersebut bukanlah hal-hal yang baru dalam kazanah sufi, tetapi sebagai hal yang biasa saja ketika seseorang benar2 beri’tiba kepada Rasulullah Muhammad saw, maka Allah mengangkatnya pada kedudukan yang mulia sehingga orang tersebut bagaikan cermin (Zill) dari Rasulullah ( zilliun Nabi). Dan tidak sedikit dari para ulama yang mencapai maqom tersebut. Akan tetapi sungguh menyesatkan jika hingga hari ini masih ada yang keliru mamahami sebagai nabi yang sesungguhnya seperti kawan2 dari Jemaat Qadiyani, sehingga memicu perlawanan dan kemarahan kaum muslimin. Jika mereka jujur dan mengakui Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mencapai kedudukan yang demikian maka mereka (jemaat Qadiyani) juga harus jujur mengakui kenabian2 buruzi, atau Zilli dari para wali yang lain. Jika tidak mau ya jangan dipahami sebagai sebuah kenabian meskipun hanya bayang2 kenabian. Demikian semoga bermanfaat, afwan.
      Wassalam wr wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: