Tafsir Surat (81) AL-TAKWIR : MELIPAT

Oleh  : DR. Basharat Ahmad,

 Surat ini, Al-Takwir (yang berarti melipat), adalah salah satu surat permulaan yang diwahyukan kepada nabi Suci. Di sini, baris-baris baru argumentasi  digunakan untuk menerangi fakta bahwa puncak ganjaran di akhirat itu tergantung kepada amal perbuatan kita di dunia. Pada awal surat ini, dijelaskan beberapa nubuatan besar dan yang telah disusun secara lengkap, suatu ramalan yang akan digenapi sebelum datangnya hari Pengadilan yang agung dan final, dimana pada saat itu materialisme dan ateisme akan merajalela. Juga  akan ada penolakan yang sangat keras dan merata di mana-mana terhadap Hari Pembalasan seperti halnya tidak  diterimanya kepercayaan bahwa kita akan di beri pahala atau siksa sesuai dengan kelakuan kita dalam hidup ini.

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

  1. Tatkala matahari dilipat,
  2. Dan tatkala bintang-bintang menjadi gelap,
  3. Dan tatkala gunung-gunung dibikin musnah,
  4. Dan tatkala unta ditinggalkan,
  5. Dan tatkala yang buas (manusia dan binatang) dikumpulkan,
  6. Dan tatkala kota-kota dijadikan membengkak,
  7. Dan tatkala orang-orang dipersatukan,
  8. Dan tatkala anak perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya,
  9. Karena dosa apakah ia dibunuh?
  10. Dan tatkala buku-buku disiarkan,
  11. Dan tatkala langit dibuka tutupnya,
  12. Dan tatkala Neraka dinyalakan,
  13. Dan tatkala Sorga didekatkan.
  14. Tiap-tiap jiwa akan tahu apa yang ia siapkan.
  15. Tidak, Aku bersumpah demi bintang,
  16. Yang beredar, (dan) terbenam,
  17. Demi malam tatkala pergi.
  18. Dan demi pagi tatkala bersinar,
  19. Sesungguhnya itu sabda Utusan yang mulia,
  20. Yang mempunyai kekuatan, yang senantiasa di sisi Tuhan Yang mempunyai singgasana.
  21. Seseorang (yang) ditaati dan dipercaya.
  22. Dan kawan kamu tidaklah gila.
  23. Dan sesungguhnya ia melihat dirinya ada di cakrawala yang terang.
  24. Dan ia tidaklah kikir terhadap barang gaib.
  25. Dan itu bukanlah ucapan setan yang terkutuk.
  26. Lalu ke manakah kamu akan pergi?
  27. Itu tiada lain hanyalah Peringatan bagi sekalian bangsa.
  28. Bagi siapa di antara kamu yang hendak berjalan di jalan yang benar.
  29. Dan kamu tidaklah menghendaki, terkecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.

 

Jelasnya, saat yang dikatakan itu adalah abad ini dimana kita hidup saat ini. Dengan pengungkapan yang jelas dan indah pada empat belas abad yang lampau dari ilmu yang gaib, suatu pengetahuan yang tersembunyi terlipat untuk masa depan, argumentasi ini telah mengingatkan kembali kepada  para pelawan Tuhan bahwa hal yang sama telah menghadirkan berita untuk masa depan, berita yang sepenuhnya benar,  juga memberikan peringatan akan fakta yang tak meragukan lagi bahwa kita akan diadili sesuai dengan amal perbuatan kita dan akan dibalas secara tunai.

Bahkan, suatu hari akan tiba, pada Hari Akhir ketika seluruh hasil amal perbuatan kita akan diputuskan, dan tak seorangpun akan tertinggal dari  perhitungan ini. Dan bila nubuatan yang berisi berita masa depan ini benar-benar terjadi, maka berita lain tentang perhitungan akhir dari amal perbuatan kita juga yakin benar dan pasti terjadi.

Hendaknya diingat, bahwa ramalan itu selalu berisi aspek yang tersembunyi, dan hal yang tersembunyi itu akan terbuka pada saat digenapinya. Dengan perkataan lain, peristiwa kehidupan ini mengangkat tabir rahasia dari wajah ramalan itu, sehingga kemudian, nubuatan yang dikatakan itu benar-benar digenapi, bagaikan merekahnya matahari tatkala bersinar, dan menjadi sumber yang memperkuat keyakinan  kaum mukmin serta mengusir argumentasi para penentang.

Aspek tersembunyi itu biasanya dinyatakan dengan cara perumpamaan. Kiasan ini, pada satu fihak, membuat tabir rahasia bagi ramalan itu, akan tetapi dari sisi yang lain justeru  memberi kekuatan, keelokan dan keanggunan akan pernyataan itu. Misalnya, kepada Nabi Yusuf a.s. ditunjukkan suatu rukyah bahwa matahari, bulan dan sebelas bintang, semuanya tunduk kepadanya. Betapa indah dan rumit metafora itu. Karena, perumpamaan apa yang lebih indah selain itu yang dapat dikemukakan untuk menandai bahwa seseorang itu akan mewarisi pangkat ruhani yang tinggi, selain dengan mengungkapkan kepadanya bahwa benda-benda langit itu tunduk dan patuh kepadanya.      

Begitu pula, didalam surat ini, At-Takwir, didapati nubuatan yang berisi berita akan suatu peristiwa di masa depan yang sangat rumit dan menakjubkan; dan beserta dengan itu penuh dengan metafora yang indah semacam itu, sehingga saat peristiwa yang telah diramalkan itu terbuka dari lipatannya sendiri, maka jiwa  para pembacanya mulai berdegup penuh kegairahan ketika dia menyadari keanggunan, keagungan dan ilmu yang cerdas dan mendalam yang terdapat dalam ayat-ayat ini.

Pada titik ini, suatu pertanyaan timbul: Mengapa ada aspek tersembunyi semacam ini dalam suatu nubuatan? Jawaban atas hal ini adalah: untuk memberikan bukti yang jelas bahwa ilmu tentang yang gaib di masa depan ini benar-benar dari Tuhan dan bukan hasil renungan otak manusia. Karena, kapan terbuktinya bagi penerima  ramalan itu dan wahyu Ilahi yang diterimanya itu sendiri tak dapat menjangkau kenyataan yang diungkap ketika wahyu itu diturunkan, hingga ketika peristiwa yang dikatakan dalam ramalan itu menampakkan dirinya, maka beliau (Rasulullah) sendiri, tidak memiliki ilmu atas maksud yang sesungguhnya dan makna dari nubuatan itu, dan jika ramalan itu menjadi kenyataan, maka dari situ bisa dilihat dengan jelas bahwa sumber mata air dari kabar gaib ini adalah Dzat Yang Maha-mengetahui dan Maha-bijaksana, dan bukannya dari otak si penerima wahyu Ilahi.

Misalnya, nabi Suci melihat dalam mimpi bahwa setelah wafatnya, isterinya, yang tangannya paling panjang, adalah yang pertama menyusulnya. Lalu semua isteri beliau mengukur tangannya di hadapan Nabi Suci dan beliau tidak menghentikan perbuatan itu. Sebagai hasilnya, diambil kesimpulan bahwa ini berarti Hazrat Saudah akan yang wafat pertama menyusul Rasulullah. Akan tetapi ketika yang wafat pertama ternyata Hazrat Zainab (ibu kaum papa), maka baru disadari bahwa yang paling panjang tangannya berarti adalah dia yang paling utama dalam kedermawanan dan kebajikan, dan Hazrat Zainab adalah yang paling tepat dalam hal ini karena beliau adalah yang paling dermawan dibandingkan isteri beliau yang lainnya. Kabar  itu  sepenuhnya benar, akan tetapi tabir rahasia yang menyelimutinya dengan menggunakan  perumpamaan tangan yang panjang disingkap setelah peristiwanya itu sendiri terjadi. Fakta bahwa penerima wahyu ini sendiri tidak sadar akan maksud dari ramalan ini dalam kenyataan menunjukkan bahwa berita dari yang gaib ini bukanlah suatu produk dari fikiran penerimanya. Sebaliknya, ini turun dari Entitas Yang Maha-mengetahui.

Aspek kedua dalam rahasia ini yang melingkupi suatu nubuatan adalah memisahkannya dari setiap pendusta yang mengangkat dirinya sebagai penggenap ramalan itu, seseorang yang merekayasa dan memanipulir beberapa peristiwa yang dicocokkan dengan kata-kata yang jelas dalam ramalan itu, boleh jadi akan menipu masyarakat. Inilah sebabnya kenapa berita dari yang gaib itu mempunyai aspek tersembunyi di dalamnya, dan arti penting dari misteri ini tidak akan diungkap kepada seorangpun melainkan kepada pengklaimnya yang sejati, yakni, orang yang benar-benar kepada siapa nubuatan itu digenapi.    

Untuk mencocokkan saat datangnya peristiwa yang diramalkan dan dipotret dalam surat ini, yakni peristiwa akan  datangnya Hari Kebangkitan yang final, pertama-tama adalah memotret ateisme serta materialisme yang merajalela pada saat itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mula-mula berfirman sbb:

Tatkala matahari (sumber mata-air cahaya Ilahi) dilipat, dan tatkala bintang-gemintang (yang bersinar akibat cahaya Ilahi ini) menjadi gelap.

Perumpamaan ini terdapat dimana-mana didalam Qur’an Suci. Misalnya, Nabi Suci telah disebut bagaikan suatu lampu yang memberi cahaya (siraj munir). Kecocokan metafora ini terletak dalam kenyataan, bahwa kalau matahari yang sebenarnya itu sumber cahaya semesta, maka demikian pula pribadi para nabi, khususnya  Nabi Suci – seorang pribadi yang menerangi hati yang gelap dari manusia melalui cahaya yang diturunkan Allah dalam bentuk Qur’an Suci – sumber mata-air cahaya ruhani. Dan hati yang digelapkan  ini, ketika diterangi dengan cahaya Ilahi, menjadi manusia sempurna yang mulai bersinar bak matahari dilangit ruhani dan karenanya seperti bintang-gemintang, sebagaimana Nabi Suci sendiri telah bersabda: “Para Sahabatku adalah ibarat bintang”.

Karenanya, setiap orang yang diterangi oleh cahaya spiritual ini, baik seorang sahabat yang suci dari Nabi Suci s.a.w. atau seorang wali ataupun seorang ahli agama dengan kecerdasan dari anugerah Tuhan, merupakan bintang dilangit ruhani. Betapa indah epik ateisme dan materialisme pada masa kini yang dipotret disini. Allah berfirman bahwa sumber mata air dari cahaya ruhani akan dilipat pada zaman itu (yakni, ilmu al-Qur’an dan kewajiban untuk menuruti perintah Al-Quran akan lenyap), dan kegelapan dari ateisme serta penyelewengan dari jalan yang lurus akan membanjiri bumi. Orang-orang yang tercerahkan oleh cahaya ruhani ini, orang-orang yang tulus serta para ulama, bila tidak meninggalkan dunia ini, atau bila ada sedikit yang tersisa, mereka tidak memiliki jejak kilauan cahaya dalam diri mereka, atau bila terdapat sedikit cahaya, maka itu sungguh sangat redup. Betapa tepat potret ini dikemukakan tentang kondisi keagamaan pada saat ini!

Setelah menggambarkan kemerosotan agama di dunia, Allah Ta’ala memotret kemajuan materi pada saat in. Kebudayaan dan peradaban merupakan prasyarat untuk kemajuan materi, sehingga jarak antara desa dan kota diperpendek dan setiap hambatan dalam perjalanan disingkirkan, sarana transportasi dapat diperoleh dengan mudah yang akan memfasilitasi perjalanan itu serta menghemat waktu. Ini agar supaya orang-orang dapat mengambil manfaat dari pengetahuan orang lain, dan melalui pertukaran ide, mereka bisa menjalani kemajuan ilmu pengetahuan, industri dan profesi, serta melalui komersialisasi dan perdagangan, mereka bisa memetik kemajuan finansial. Karena itu, Allah Yang Maha-tinggi, pertama-tama menyebutkan perkara ini. Sebagai hasilnya, Dia membagi faktor yang menjadi hambatan dalam interaksi dan pertukaran di antara umat manusia, hambatan yang  akan disingkirkan membersihkan jalan kepada kemajuan dan kesempurnaan, dibagi menjadi empat bagian: pertama, hambatan berupa pegunungan, kedua jauhnya  jarak, ketiga kebodohan dan kebiadaban, dan keempat hambatan berupa lautan.

Pertama dari semuanya itu Dia menyebut pegunungan:

     3. Dan tatkala gunung-gunung dibikin musnah.

Karena manusia  membangun huniannya diatas daratan, maka hambatan pertama dalam cara untuk saling berinteraksi dan bekerjasama adalah gunung-gunung. Sungguh nyata, ambillah contoh di Afghanistan: identitas dan pertahanannya yang kuat adalah karena jajaran pegunungan  yang seperti tembok. Kini gunung-gunung itu dibikin musnah, firman Allah. Lihatlah sekarang betapa sebagian besar pegunungan di seluruh dunia ini telah dibikin musnah. Jalanan telah dibangun,  begitupun terowongan telah digali – bahkan tak ada lagi  ketinggian gunung yang belum pernah dirambah oleh Ya’juj wa Ma’juj, yakni bangsa-bangsa Eropa? Sungguh kini gunung-gunung itu tidak lagi menjadi hambatan seperti biasanya, bahkan telah menjadi resor turis. Suatu usaha bahkan sedang dijalankan untuk mengukur puncak tertinggi yang belum ditaklukkan manusia, dan yakinlah bahwa suatu hari nanti semuanya akan ditaklukkan oleh manusia, karena Allah Yang Maha-tinggi telah berfirman: “Bahkan tatkala Ya’juj wa Ma’juj dilepas, dan mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi” (21:96).

Sekarang tak ada lagi halangan bagi jalan interaksi dan perdagangan antara kota besar dan kota kecil yang tersisa, firman-Nya, dan bahkan gunung akan memberi jalan, serta perjalanan dan interaksi antar masyarakat akan dimungkinkan dengan menggali terowongan dan membangun jalan raya di atasnya,  dan padang hijau serta rerumputan di pegunungan akan menjadi resor wisatawan.

Allah menjelaskan mengenai hambatan yang disebabkan oleh jauhnya jarak. Karena dunia ini tak dapat dibuat mengkeret, maka satu-satunya jalan agar jarak ini bisa diperpendek dalam cara yang praktis yakni menemukan sarana transportasi yang cepat sehingga jarak yang jauh itu  seolah mengkerut: sehingga semakin pendek waktu perjalanan, semakin pendeklah jarak itu, seperti itulah yang nampak oleh musafir.

Maka Dia berfirman: 4. Dan ketika unta-unta ditinggalkan.

Kata ‘ishar digunakan terhadap unta betina yang hamil sepuluh bulan. Adalah suatu hukum bahwa sapi betina menjadi semakin bernilai bila sudah dekat saatnya untuk melahirkan. Misalnya di negeri kita, sapi dan kerbau semakin berharga bila saat melahirkannya sudah dekat, dan mereka ditawar dengan taksiran yang mahal. Alasannya adalah karena ada harapan untuk anaknya yang akan lahir. Begitu pula, ketika unta betina itu dekat waktu kandungannya, ini disebut ‘ishar di Arabia, yakni, hamil sepuluh bulan, dan harganya meningkat karena ada harapan atas seekor anak unta  yang akan dilahirkan. Tambahan lagi, seekor unta betina itu lebih cepat dan kuat dalam melintasi jarak yang jauh. Suatu sebutan khusus dibuat untuk unta sebagai sarana transportasi karena jenis inilah kendaraan yang dipakai untuk tunggangan sambil membawa beban di padang dimana tak ada sarana transportasi lainnya atau bahwa binatang itu sungguh penuh daya guna. Di padang pasir dan jajaran perbukitan yang kering kerontang, dimana bahkan tak ada jejak air, seekor unta bisa berjalan berhari-hari sampai tujuan tanpa makan dan minum. Staminanyalah yang bisa menutup jarak yang jauh dengan membawa beban berat, stamina yang tidak tertandingi oleh binatang lainnya. Bangsa Arab hanya bisa mengarungi padang pasir yang  tanpa air dan dedaunan serta jajaran perbukitan yang kering terbakar  hanya dengan menggunakan binatang unta, dan inilah yang mereka lakukan. Kuda hanya digunakan dalam peperangan. Karenanya, bagi mereka, unta adalah binatang yang berharga mahal dan penuh kegunaan, dan sebagai satu-satunya cara untuk melintasi rute yang sulit. Jadi, ketika kita diberitahu bahwa suatu hari akan tiba dimana unta itu akan menjadi tidak berguna dan tak seorangpun akan menengok unta betina yang sedang hamil, ini adalah suatu indikasi yang jelas bahwa sarana transportasi yang jauh lebih maju, rel kereta api dan jalan raya misalnya, akan diciptakan yang tidak  saja lebih efektif dibanding unta dalam mengangkut penumpang dan barang, melainkan juga mereka akan berjalan menempuh rute yang sulit yang hanya bisa ditempuh oleh unta di masa lampau.

Keterangan lain adalah bahwa jalan raya akan dibuat sedemikian mudah sehingga unta tidak diperlukan lagi. Sebaliknya, model transportasi baru ini akan memungkinkan untuk melintasi rute yang  sulit itu dimana unta biasa pergi, dan moda transportasi yang lebih baik dan cepat akan lari di atas jalanan ini dan menghemat waktu. Jadi, masalah hambatan di jalan serta jarak yang jauh tidak jadi bahan pertimbangan lagi.

Dan demikianlah hal itu kini terjadi. Jarak tak ada artinya di hadapan pesawat  terbang, kereta api dan transportasi jalan raya, dan bahkan rute yang paling sulit pun bisa dibuat mudah dan dicapai oleh kendaraan serta jaringan jalan raya dan rel kereta api yang mendunia telah menjadikan penggunaan unta itu ditinggalkan. Sekarang, siapa yang akan mencari unta betina yang hamil sepuluh bulan? Betapa besarnya penghematan waktu dan betapa mudahnya pertumbuhan komunikasi internasional serta interaksinya, dan betapa menggentarkannya perdagangan internasional  yang tumbuh akibat sarana transportasi baru ini!

Ini juga bisa diterapkan untuk Hijaz. Kini, bepergian naik haji melalui jalan raya untuk melaksanakan ibadah haji adalah hal yang biasa. Di sini, saya akan ceriterakan suatu insiden yang berkaitan dengan unta yang ditinggalkan ini yang telah menyesatkan mentalitas para ulama masa kini. Adalah hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid yang ditetapkan untuk abad ini, yang menarik perhatian kita terhadap nubuatan ini. Pada saat itu, kereta api Hijaz sedang dibangun, tetapi akibat revolusi di Turki, proyek itu dihentikan ketika jalur kereta-api itu mencapai Medinah. Karena hal itu, sebagian ulama Punjab mulai menari kegirangan, hanya karena mereka mengira bahwa mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu salah; tanpa menyadari bahwa kedudukan mereka itu, sebenarnya melawan Qur’an Suci itu sendiri, karena adalah al-Qur’an yang menyatakan bahwa akan tiba kehadiran semacam transportasi yang menjadikan unta ditinggalkan. Pandangan mereka itu juga bertentangan dengan Nabi Suci yang telah meramalkan: “Unta betina akan ditinggalkan dan tidak akan digunakan lagi”.                   

Kesalahan satu-satunya dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah bahwa dia mengangkat tabir dari wajah nubuatan ini setelah mendapatkan kabar dari Allah. Tetapi sungguh besar cemburu dan prasangka buruk para ulama ini, meskipun penafsiran  yang mereka kemukakan bertentangan dengan Qur’an Suci dan Hadist, toh mereka menari dengan sukacita atas kemungkinan bisa membuktikan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu salah. Tetapi Allah Yang Maha-tinggi segera menghentikan kesenangan para musuhnya ini dan jalan raya telah menjadi kenyataan  antara Jedah, Mekah dan Madinah, serta unta betina menjadi benar-benar ditinggalkan. Sekarang, sebagai ganti kabilah unta, kendaraan bermotor digunakan pada rute ini dan ada suatu proposal untuk membangun kereta api, jadi hal tersebut memenuhi ramalan dalam Qur’an Suci dan Hadist.

Pendeknya, jelaslah bahwa dengan usahanya untuk bisa mengatasi hambatan  berupa gunung yang menghadang, pembangunan jalan raya, dan penemuan alat  transportasi yang dapat bergerak cepat, sehingga membuat jarak yang sangat jauh itu bisa dijangkau dalam hitungan menit, maka interaksi dan pertemuan antara berbagai bangsa telah meningkat, dan peradaban modern juga telah mencapai orang-orang yang hidup di tempat-tempat yang sangat jauh dan terpencil, yang, karena keterasingannya, dikelompokkan sebagai orang-orang  liar dan orang rimba. Interaksi dan percampuran ini menjadikan tersingkirnya kebodohan dan keliaran mereka dan membuatnya beradab serta berbudaya. Dus, kebudayaan dan peradaban menyebar ke seluruh dunia. Maka Allah Yang Maha-tinggi menunjuk kepada fakta ini yang  sungguh-sungguh telah mengikis habis kebodohan dan keliaran dengan berfirman:

     5. Dan tatkala binatang-binatang buas (manusia dan binatang) dikumpulkan.

Yakni dikatakan, bahwa orang-orang liar yang biasa hidup di hutan dan gunung  dan berpindah-pindah tempat tinggal sekarang akan datang ke kota kecil atau kota besar serta menetap di sana, dan akan memetik manfaat dari setiap aspek budaya dan peradaban. Cobalah simak  suku-suku terasing di rimba Afrika dan lihatlah betapa mereka telah datang dan menetap di kota. Hal yang sama terjadi di negeri-negeri Lain. Sebetulnya apakah benua Eropa itu dahulu? Tak lebih hanya sekedar kumpulan suku terasing. Perhatikanlah betapa masyarakatnya telah maju sekarang ini dan kemudian renungkanlah ayat ini: Dan tatkala binatang-binatang buas dikumpulkan.

Ketika kejahilan dan kebuasan dari orang-orang rimba ini pelan-pelan lenyap, maka mereka segera bergerak maju melalui berbagai tahapan budaya dan peradaban. Tetapi proses peradaban ini tak akan dapat mencapai klimaksnya hingga seluruh negeri dan benua itu terhubung satu dengan yang lainnya sehingga seluruh dunia akan menjadi satu kota besar saja; perniagaan dari satu negara siap untuk mencapai negara lain, dan orang-orang dari satu negara akan mengunjungi negara yang lain, saling bertemu dan, dengan memetik manfaat pengalaman orang lain baik dalam hikmah maupun ilmu, seni dan kerajinan, organisasi komersial dan kenegaraan, berkembang semuanya dalam bidang masing-masing. Maka adalah perlu,untuk mencapai hal ini, bahwa hambatan yang digelar oleh lautan itu disingkirkan. Demikianlah Allah Yang Maha-tinggi berfirman:

     6. Dan ketika lautan terisi penuh (atau dapat diatasi).

Yakni, sungai dan lautan akan “terisi penuh” (sehingga adanya tidak menimbulkan halangan); jembatan di atas sungai serta sarana transportasi modern melintasi lautan akan menjadi hal yang  biasa sehingga lautan dan sungai akan menjadi seperti jalan raya biasa.        

Sekarang,, lihatlah betapa hari ini, Asia dan Afrika, Eropa dan Amerika, Australia dan ribuan pulau di dunia telah menjadi bak satu kota. Laut tak lagi menjadi halangan di antara mereka. Bahkan, ia menjadi seperti jalan raya dan perjalanan melintasi lautan itu, seperti misalnya pesawat terbang, telah menjadi demikian nyaman dan cepat, dan ada sejumlah besar kapal pesiar yang anggun serta nyaman, serta pesawat terbang pun bisa mendarat di atasnya, sehingga  perjalanan melalui lautan dan udara menjadi  lebih nyaman dan mewah dibanding perjalanan darat.

      7. Dan tatkala orang-orang dipersatukan; kata ayat selanjutnya.

Betapa jelas nubuatan ini telah digenapi. Dimanakah di dunia ini yang tidak kita dapati orang-orang melakukan perjalanan ke luar negeri dan bercampur-baur satu sama lainnya? Sekarang, ketika jarak telah dihapus dan seluruh hambatan telah disingkirkan, seluruh umat yang amat banyak itu saling bertemu dan memetik manfaat  dari interaksi ini, dan dengan bertukar pengetahuan serta ide dan kerja-sama perdagangan serta perekonomian. Hasilnya adalah bahwa kebudayaan dan peradaban telah mencapai puncaknya.

Kedua ayat berikutnya adalah sebagai berikut:

     8. Dan tatkala anak perempuan yang ditanam hidup-hidup ditanya.

     9. Karena dosa apakah ia dibunuh.

Allah Ta’ala telah berfirman bahwa sebagai akibat dari interaksi dan bergaul secara internasional ini, maka begitu pula perkembangan kebudayaan, peradaban, pendidikan dan ilmu pengetahuan,  kecerdasan manusia akan meningkat ke suatu tingkat yang lebih tinggi sehingga persepsi  dan penghormatan akan hak-hak kaum perempuan masuk dalam fikiran dan mengusik manusia. Dengan perkataan lain, kebudayaan dan peradaban hanya bisa mencapai potensinya secara maksimal bila ada realisasi dari penghormatan dan respek kepada kaumwanita  serta menjunjung tinggi hak-hak mereka.

Suatu gambaran yang menonjol dari orang-orang yang buas dan tak beradab yakni tiadanya penghormatan mereka  terhadap kaum perempuan dalam komunitas mereka. Malahan, mereka dianggap sumber yang membuat malu dan kehilangan muka. Inilah sebabnya mengapa selama masa jahiliah di Arabia ada pandangan bahwa untuk menjaga kebangsawanan dan kehormatan seseorang maka anak perempuan itu harus dibunuh pada saat kelahirannya. Begitu pula kebiasaan di antara kaum Rajput di Hindustan dan bahkan sampai kini, masih ada insiden ganjil semacam ini di antara mereka. Tetapi di Arabia pada masa itu lebih buruk lagi: mereka biasa mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Suatu kali, seorang badui hadir di majelis Nabi Suci dan menceriterakan rincian dari kejadian yang biadab semacam itu sebagai berikut: “Saya mempunyai satu anak perempuan kecil yang tak dapat saya kuburkan hidup-hidup pada saat kelahirannya karena kecintaan ibunya kepadanya. Anakku juga sangat mencintaiku dan telah tumbuh beberapa tahun ketika saya membawanya ke padang liar dengan maksud untuk menguburnya hidup-hidup. Saya membujuknya dengan menjanjikannya buah perdu liar yang tumbuh di hutan. Ketika saya mulai menggali lubang untuk menguburnya, terkadang debu terbang dari lubang galianku dan mengotori pakaianku  tetapi  dia membersihkannya dengan sayang memakai selendangnya dari debu yang menempel tersebut. Akhirnya, ketika galian sudah selesai saya mulai menguburkannya, dan dia selalu memanggil-manggil ‘Ayah, ayah’, tetapi saya menulikan telinga saya atas permohonannya dan lari sesudah menguburkannya”.

Mendengar kisah yang sangat menusuk ini, air-mata mulai mengalir tanpa sengaja dari mata Nabi Suci. Demikianlah, daya spiritual dari hati yang penuh kasih-sayang dari pribadi yang pemurah dan pengasih ini cukup memenuhi tujuan yang tak dapat sepenuhnya dicapai bahkan oleh hukum Ingris di India yang kuat-kuasa.       

Maka dengan turunnya ayat ini menjadi titik balik untuk membantu menghapuskan kebiasaan biadab yang menjijikkan ini yakni pembunuhan kaum perempuan dari Arabia yang cukup dengan satu goresan pena, karena ketika bangsa Arab mendengar bahwa hal ini adalah  tindakan yang hina mereka akan berkilah mungkin, di dunia ini, tetapi pasti di majelis Allah Yang Maha-kuasa, hingga  hati orang Arab yang paling gagah-berani pun akan gemetar. Dalam kenyataannya, ini adalah penyucian hati  dan kedermawanan dibawakan oleh jiwa Nabi Suci s.a.w. yang tulus untuk membersihkan dan mengukir keajaiban ini sehingga  membuat kepala seluruh bangsa Arab yang bangga serta sombong tunduk di hadapan ketentuan Ilahi.

Islam tidak hanya menghapuskan kebiasaan membunuh anak perempuan di jazirah Arabia, tetapi dia melangkah lebih lanjut: Islam membawa perempuan sederajat dengan laki-laki baik dalam kehormatan maupun penghormatan, perempuan yang  sebelum kedatangan Islam dengan segala niat dan tujuan dikubur hidup-hidup, mereka tidak dihormati sama-sekali, dan tidak punya hak  apapun atau  diberikan  pendidikan. Maka Islam memulihkan kehormatan dan penghormatannya serta mengakui hak-haknya dan memberi perintah agar kepada mereka diberikan pendidikan dan pelatihan yang setara dengan laki-laki.

Bagaimanapun, pada saat itu, tidak ada hubungan atau kontak internasional seperti sekarang, dan perempuan terus saja dikubur hidup-hidup – termasuk di antaranya di Eropa – dimana pengaruh Islam tidak tertanam. Inilah sebabnya mengapa Allah Yang Maha-kuasa, berfirman bahwa suatu saat akan tiba ketika hubungan internasional itu akan meningkat serta kebudayaan dan peradaban akan bergerak maju, dan kemudian suatu perwujudan dari hak-hak serta penghormatan kepada wanita akan timbul, dan mereka akan diselamatkan dari keadaan “dikubur hidup-hidup” serta hak-hak mereka secara hukum diakui.

          10. Dan tatkala buku-buku disiarkan; firman Allah dalam ayat selanjutnya.

Akan datang suatu masa, firman-Nya, ketika tekanan utama akan ditempatkan bagi ilmu pengetahuan dan hikmah, surat-kabar, traktat, majalah dan buku-buku; semuanya akan diterbitkan dalam jumlah besar. Dia juga akan mengangkat tabir dari Pengetahuan-Nya atas perkara. Sesuai dengan itu, Dia berfirman:

         11. Dan tatkala langit dibuka tutupnya.

Dengan disebutnya pembukaan tabir langit berarti bahwa tirai akan diangkat dari ilmu pengetahuan langit serta misterinya. Yakni dikatakan, misteri serta kerumitan ilmu langit dan kebenaran ruhani akan dibukakan. Adat kebiasaan dalam pengungkapan hal semacam itu diserahkan kepada hati yang suci dari orang yang dekat dengan Ilahi dan melalui dia manusia di dunia bisa diperkaya dengan harta karun ilmu pengetahuan langit.

Maka adalah abad ini yang telah ditakdirkan untuk maksud itu dan tujuan itu dimana Nabi Suci s.a.w. telah bersabda: “Bahkan bila iman telah naik sampai Bintang Tsuraya, seseorang dari antara putera Persia ini akan menurunkannya ke bumi”.   

Dan nubuatan ini digenapi dalam pribadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid 14 H, yang telah ditetapkan untuk abad ini.

Pada saat sumber mata air pencerahan langit itu mengering, ketika pemahaman ilmu Qur’an Suci  telah menghilang dari bumi ini, dan ulama yang mendapat ilham dari Tuhan telah terhenti kehadirannya – dan mereka yang ada tidak diberkahi dengan ilham serta cahaya dari langit – maka Allah Ta’ala, dalam epos ini pada saat bersemi dan berkembang luasnya ilmu dan hikmah, telah menjadikan seorang hamba dari Nabi Suci ini bangkit, dan melalui dia maka tabir yang menutupi wajah penglihatan terdalam serta ilmu dari langit telah dibukakan, dan melalui penanya serta kedermawanan ruhaninya maka suatu sungai ilmu pengetahuan langit mulai mengalir. Dialah yang membuat Islam itu unggul di atas agama-agama palsu di dunia ini dan yang berdiri bak batu-karang melawan serbuan ateisme dan materialisme. Dia mengangkat tabir dari wajah ilmu langit, misteri serta kerumitannya dengan cara yang penuh kekuatan sehingga membuat dunia ini terkejut heran dan kagum. Selanjutnya, dia menjadikan agama ini nampak seperti ilmu pengetahuan dengan cara sedemikian rupa sehingga menyebabkan orang bijak menundukkan dirinya terhadap argumentasinya yang begitu kuat dan dalam.

Dalam hubungan ini, pertanyaan tertentu timbul: ketika dunia telah mencapai puncak kemajuan peradaban dan kebudayaan, dimana kepentingannya untuk membangkitkan seseorang khususnya demi melayani Islam dan mengapa  kebutuhan untuk mengangkat tabir penglihatan-terdalam dari langit itu ada di tangannya? Selanjutnya, mengapa ada suatu keperluan yang dirasakan oleh manusia terhadap ilmu dan penglihatan terdalam dari langit ini serta seorang guru dari langit  untuk mengajari mereka?

Allah Ta’ala menjawabnya dengan ayat berikut:  12. Dan tatkala Neraka dinyalakan.

Yakni untuk mengatakan, disamping kemajuan dalam budaya dan peradaban, manusia tidak dapat bebas dari rantai nafsu seksualnya serta pamrih pribadinya; bahkan, bersamaan dengan kemajuan material itu, nafsu seksual serta pamrih pribadinya akan makin meningkat. Dan penyalaan dari nafsu hewani ini, seperti api neraka, dan terhadap hal itu Qur’an Suci secara tidak langsung merujuknya di tempat lain sebagai berikut: “Yaitu Api yang dinyalakan oleh Allah. Yang menjilat-jilat di hati”(104:6-7), akan semakin marak.

Kita dapat menyaksikan sendiri betapa kemajuan  ilmu duniawi serta pencapaian bendawi tidak mampu membebaskan manusia dari perbudakan terhadap nafsu seksual dan kehendak rendah setan. Kecintaan kepada harta dan kesenangan seksual tidak hanya melahirkan tontonan maksiat seperti pornografi, alkohol, perzinaan, perjudian, riba dan karenanya semakin membesarkan api neraka di dalam hati, tetapi bahkan terlebih lagi, meningkatkan kebrutalan dan kedengkian yang begitu hebat yang menjadi bahan bakar neraka dalam bentuk peperangan yang berbahaya sehingga tak ada potret yang lebih baik daripada ayat, tatkala Api Neraka  dinyalakan,

Ayat selanjutnya berkata:  13. Dan tatkala Sorga didekatkan.

Yakni, ini adalah saat dimana, kata-Nya, ketika pelayanan terhadap keimanan Islam sungguh sangat dihargai dan merupakan perkara yang tak ternilai,  bahkan sedikit saja usaha dalam hal ini akan membawa ganjaran yang besar.

Dalam prinsip ini, mengerjakan beberapa kebaikan di jalan Allah serta ketaatan kepada Perintah-Nya dimana pada saat yang sama dibumi penuh dengan kekacauan dan pelanggaran, kesesatan serta penyelewengan dari Jalan-Nya, maka akan membawa suatu pahala yang lebih tinggi dibanding perkara yang sama yang dikerjakan pada waktu yang lain. Suatu kali Nabi Suci menyampaikan khutbah dan bersabda: “Seseorang yang bersedekah bahkan segenggam gandum pada saat itu akan menghasilkan jauh lebih besar pahalanya daripada seseorang yang memberikan setumpuk emas setinggi bukit Uhud pada waktu yang lain”.

Masalahnya adalah, bahwa seseorang yang membantu pada waktu dibutuhkan jauh lebih terpuji daripada seseorang yang menyokong pada keadaan biasa. Di saat perjuangan membela iman itu  memerlukan dana, maka uang yang dibelanjakan pada saat itu akan menghasilkan balasan yang jauh lebih tinggi dibanding mendermakan uang guna tujuan ini pada waktu iman itu tidak memerlukan bantuan finansial. Seperti juga pada saat ini, Nabi Suci sendiri telah bersabda bahwa bahkan sekali sujud saja kepada Allah pada saat itu akan dihargai lebih daripada seluruh dunia dan isinya. Alasan untuk ini adalah bahwa menjalani kehidupan keagamaan di tengah ateisme adan materialisme dalah sesuatu yang berat dan sangat terpuji. Inilah sebabnya bahwa pada saat semacam itu Surga didekatkan, dan sedikit pelayanan saja bisa memberikan pahala yang besar bagi manusia.       

Setelah menyatakan semua nubuatan ini, Allah Ta’ala berfirman bahwa jika ini semuanya benar maka yang menyusul belakangan juga pasti benar, yakni:

14. Tiap-tiap jiwa akan tahu apa yang ia siapkan.

Yakni, setiap orang itu bertanggung-jawab terhadap apa yang diperbuatnya, dan suatu hari  akan tiba dimana dia akan dipanggil demi pertanggung-jawaban atas perilakunya, dan dia tak akan mampu untuk mengelak dari pertanyaan ini.

Sekarang, setelah menyebutkan dinyalakannya api neraka dan didekatkannya surga, ini hanya tepat diterapkan  seperti firman Allah, untuk menyatakan bahwa perbuatan seseorang itu suatu hari akan terlihat akibatnya, karena Surga dan Neraka adalah dua manifestasi dari proses ini.

Sari-pati dari semua nubuatan ini adalah  jika kedua belas ramalan di atas  benar-benar tejadi maka orang harus juga menerima nubuatan yang ketiga-belas tentang akhirat, dan menyadari bahwa ini adalah berita besar dimana duabelas ayat nubuatan sebelumnya diadakan.

Dua ayat berikutnya terbaca: Fa la uqsimu bil khun-nas; Aljawaril kun-nas

15. Tidak, Aku bersumpah demi bintang,

16. Yang beredar, (dan) terbenam,

Kata qasam (sumpah) berarti berdiri saksi dan ini memberikan konotasi penekanan. Kata khunnas adalah jamak dari khanis, yang berarti seseorang yang meyelinap keluar atau mundur ke belakang.

Dalam Hadist dikatakan: “Ash-shaitanu yu-was-wi-su ilal ‘ibadi, fa idha dhakaral-Laha, khanasa” (Setan itu membisikkan saran jahat ke dalam fikiran manusia, tetapi bila yang bersangkutan mengingat Allah, maka setan akan mundur ke belakang”. Tepatnya dikatakan, khanasa berarti menarik diri ketika nama Allah disebut, dan, karenanya, setan itu disebut al-khan-nas.

Dari akar kata yang sama asal kata khan-nas, seperti yang kita dapati dalam surat An-Nas (Manusia ):

         Min shar-ril was-wa-sil khan-nas (Dari keburukan bisikan (setan) yang menyelinap).

Dan Qur’an Suci sendiri telah mendefinisikan kata khan-nas dengan mengatakan: alladhi yu-was-wi-su fi su-du-rinna-si minal jin-nati wan-nas (Yang berbisik-bisik dalam hati manusia; Dari golongan jin dan  manusia).

Ini adalah entitas yang meniupkan insinuasi dan keragu-raguan dalam fikiran, baik bisikan dari manusia maupun jin. Kata al-jawar (dari jara: lari) adalah entitas yang berjalan cepat di bumi serta menyebar ke mana-mana. Kata al-kun-nas adalah jamak dari kanis yang berarti seseorang yang lenyap atau bersembunyi.

Dalam ayat ini, ungkapan alkhunnas….al-jawar-il kun-nas Bujukan diam-diam yang menyebar cepat kemudian lenyap), identitas dari pembujuk itu tidak diuraikan, tetapi hanya pengkhianatan mereka yang disebutkan. Dan jelas, perkara yang telah dicatat sebagai peristiwa itu harus juga berkaitan dengan abad  yang sama dimana ramalan yang sebelumnya kita uraikan itu bisa diterapkan.

Sekarang, marilah kita cari orang-orang yang membisikkan bujukan serta keraguan dalam hati manusia dan kemudian menyelinap keluar serta siapa yang menyebar-luaskannya ke seluruh dunia. Jelaslah, bahwa ini tiada lain adalah misionaris Kristen yang sibuk siang dan malam mengaduk-aduk dengan bacaan dan propaganda anti-Islam; tujuan utamanya adalah untuk meniupkan keraguan dalam hati manusia tentang keimanan kepada Tuhan, yakni Islam. Pemfitnah yang lain dari Islam, misalnya kaum Arya Samaj, juga telah meminjam dari bacaan Kristen yang anti-Islam untuk menghantam Islam.

Musuh sebenarnya dari Islam adalah misionaris ini, yang dengan cerdik dan diam-diam membuat insinuasi  tentang Islam dan kemudian menyelinap keluar. Seorang misionaris India, Pendeta Imaduddin dari Amritsar, menulis: “Bahkan bila kita tidak berhasil memasukkan orang-orang Muslim ini menjadi Kristen, kita pasti sukses dalam menjadikan mereka non-muslim melalui bacaan secara besar-besaran yang kita terbitkan melawan Islam”.

Tujuan dibalik seluruh pembangunan rumah sakit, sekolahan, kolese dari misionaris ini tiada lain hanyalah untuk meracuni fikiran pemuda dan pemudi  serta mahasiswa muslim yang mendalam fikirannya  tentang Islam dengan menghembuskan insinuasi-insinuasi dalam fikirannya yang masih lembut segala macam hal yang buruk tentang Islam. Di mana ketika serbuan Kristiani ini tidak mempan, mereka mengusung berhala materialisme dll. Tujuan utamanya ialah agar orang-orang muslim yang saleh bisa meninggalkan keyakinannya yang kuat.

Ini menjelaskan arti kata al-khan-nas. Sekarang, seperti yang dikatakan ‘aljawar’ (mereka yang menyebarluaskan dengan cepat), ini memotret betapa misionaris itu telah menjangkau seluruh penjuru dunia. Kecepatan kaum misionaris dalam menyebarluaskan propaganda buruk ke seluruh pelosok dunia tidak ada tandingannya. Mereka bahkan bisa mencapai tempat terlarang secara diam-diam, dan setelah memetakan tempat itu dan mengumpulkan semua informasi yang relevan tentangnya, lantas mereka menyerahkannya kepada pemerintahnya masing-masing. Aspek ini jelas mengindikasikan bahwa entitas yang disebut dalam ungkapan, al-khan-nas….al-jawa-ril kun-nas, tiada lain adalah misionaris Kristen ini.

Dalam surat ini, setelah Allah Yang Maha-tinggi telah menyatakan nubuatan yang sangat kuat tentang abad ini pada empatbelas abad yang lalu, dan setelah memotret keadaan dunia lahiriah dan batiniah dalam abad ini, Dia membuat nubuat penuh kuasa dan berfirman: Tidak hanya ini….dengarkanlah peristiwa penting lainnya….akan ada segolongan orang yang misi utamanya adalah menghembuskan keraguan dalam fikiran manusia mengenai keimanannya kepada Tuhan, yakni Islam, dan kemudian menyelinap keluar. Mereka akan menjalankan misinya dengan cepat sampai ke pelosok yang jauh di pojok dunia….tetapi saatnya akan tiba pada waktu Dajjal (Anti-Kristus) ini akan mencair seperti garam tercampur air. Dan para pelopor pembuat ragu ini akan menyelinap keluar sesudah anjuran dan saran jahat mereka, dan setelah menyebar dengan cepat di dunia, itu akan mulai lenyap dari panggung dunia.

Merinci tema yang sama, selanjutnya Allah Yang Maha-tinggi berfirman:

17. Demi malam tatkala pergi,

18. Dan demi pagi tatkala bersinar.

Berarti di sini, bahwa orang-orang ini, yang sibuk terlibat dalam proyek-proyek propaganda anti-Islam, hanya bisa beroperasi di kegelap-pekatan malam kesesatan. Tetapi seperti halnya semua tumbuh-kembangnya kegelapan itu, baik serangga malam atau pemakan daging, atau pencuri dan semua elemen anti-sosial yang lain yang hanya bisa muncul pada waktu malam untuk melangsungkan kegiatannya dan lenyap pada saat akan datangnya fajar, begitu pula, ketika saatnya matahari Islam mulai terbit, semua pelopor  yang  menyuntikkan keraguan dalam hati manusia lalu mundur ke belakang, akan menjadi tiada guna dan semua usahanya akan menjadi nihil dan sia-sia.

Dikatakan dalam Hadist bahwa matahari terbit Ini akan terjadi di Barat, yakni, pada saat itu matahari petunjuk dari Islam akan memancarkan sinarnya terutama di Eropa dan Amerika. Maka kita akan menyaksikan dengan mata-kepala sendiri hari-hari ini adegan terbitnya matahari Islam yang menyembul melalui Eropa, dan betapa terbitnya matahari yang baru muncul dari Woking Muslim Mission di Inggris Raya dan Mission in Berlin, Jerman.

Lihat pula, betapa pendeta Kristen Eropa serta misi mereka secara berangsur-angsur menjadi tidak efektif, terutama  sejak  cahaya Islam mencapai Eropa melalui usaha dari Mujaddid Agung, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad serta barisan pengikutnya, dan melalui penyebaran literatur Islam mereka di sana. Seluruh  antek-antek kegelapan ini menjadi gugup ketika berhadapan dengan dialektika dan bacaan kaum Ahmadi – keduanya penuh dengan cahaya langit yang cemerlang dari kebenaran ruhani – dan segera lenyap ketika menghadapi cahaya Ilahi ini. Kekristenan tidak lagi bersemayam di hati umat negeri-negeri Kristen, karena prinsipnya yang tidak logis dan tidak masuk akal tidak lagi menarik perasaan hati kesetiaan pengikutnya semula.

Kini, setelah empat sumpah ini, Allah Yang Maha-tinggi, memberi kita obyek dari empat nubuatan ini, bersama dengan duabelas ramalan sebelumnya, dan berfirman bahwa semua ini menjadi saksi fakta bahwa:

19. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu sabda dari Utusan yang mulia.

Berarti dengannya, bahwa al-Qur’an ini yang kalian dengar dari mulut Nabi Suci Muhammad s.a.w., bukanlah dari kata-katanya sendiri, melainkan, ini adalah risalah beliau, sebagai rasul, menyampaikannya atas nama Pengirim dari risalah ini.

Inilah sebabnya kenapa Rasulullah s.a.w.disebut utusan, yakni, beliau adalah pembawa teks dari risalah ini; dengan kata lain, beliau dikirim ke dunia ini sebagai utusan untuk menyampaikan risalah dari Tuhannya kepada orang-orang. Jadi, Firman yang disampaikannya sebagai utusan bukanlah dari kata-katanya sendiri; sebaliknya, ini adalah Firman yang turun dari Allah Ta’ala. Jadi, seseorang yang mentaati Firman ini berarti taat kepada Allah Yang Maha-tinggi, dan seseorang yang melawan risalah ini berarti berperang melawan Allah Ta’ala. Yang harus diperbuat oleh semua Rasul adalah menyampaikan risalah Allah kepada umatnya. Dengan kata lain, beliau hanyalah seorang utusan yang membawa risalah.

Hal yang sama juga dikatakan dalam surat 69, Al-Haqqah (Kebenaran yang sudah pasti) dalam ayat 40-46:

      Sesungguhnya itu ucapan Utusan yang mulia,

      Dan itu bukanlah ucapan seorang penyair. Sedikit sekali apa yang kamu imani!

      Dan itu bukan (pula) ucapan ahli nujum. Sedikit sekali apa yang kamu perhatikan!

      Itu adalah Wahyu dari Tuhan sarwa sekalian alam.

      Dan sekiranya ia membuat-buat sesuatu ceritera melawan Kami,

      Niscaya ia akan Kami tangkap dengan tangan kanan,

      Lalu Kami potong urat jantungnya.

Ini tak perlu penjelasan lagi. Di sini terang-terangan kita diberi-tahu bahwa Firman ini yang disajikan oleh Muhammad s.a.w., Rasulullah, bukanlah sekedar kata-kata sebagai seorang manusia. Memang benar bahwa Nabi Suci yang berbicara, tetapi beliau hanyalah seorang utusan yang membawakan kata Tuannya.

Dan kemudian Allah berkata, bahwa ini bukanlah komposisi seorang penyair, ataupun kata-kata seorang ahli nujum. Sebaliknya, ini adalah suatu teks yang turun sebagai wahyu dari Tuhan semesta alam, dan ini dibacakan kepadamu olehnya sebagai utusan, dan beliau melakukannya dengan begitu hati-hati sehingga bahkan tak satu kata tambahan pun yang dinisbahkan kepada Allah olehnya. Ke-hati-hatian ini adalah sangat perlu, karena jika beliau menisbahkan suatu kata yang tidak diotorisasi oleh Allah, satu kata yang tidak diwahyukan oleh Allah, maka Allah akan memotong urat jantungnya.

Di tempat lain dalam al-Qur’an, dalam surat 53, An-Najm (Bintang), ayat 3, Allah Ta’ala berfirman:

Dan ia tak berbicara atas kemauan (sendiri).

Yakni, beliau hanya berbicara apa yang diwahyukan kepadanya.

Demikianlah, setelah menyatakan ramalan ini, nubuatan yang terdiri dari berita yang paling rumit  dari masa depan yang gaib, Allah Yang Maha-tinggi  berfirman bahwa semua ramalan ini adalah bukti dan saksi atas kenyataan bahwa Muhammad s.a.w. seorang Utusan Tuhan yang benar, dan Firman yang dibacakannya, adalah Firman Ilahi Yang telah mengirimnya sebagai seorang utusan. Dan lagi, kata “mulia” ditambahkan kepada kata “Utusan”, menunjukkan bahwa beliau adalah seorang utusan yang sangat mulia.

Ada suatu aturan bahwa bila seorang duta itu datang dari seorang raja, maka kewibawaan dan kehormatannya dijamin, dan melecehkannya berarti sama dengan menghina raja itu sendiri, yang telah mengirimnya. Bila mereka yang dikirimi duta itu ingin melecehkannya, maka pengirim duta itu akan menganggap itu sebagai penghinaan terhadap pribadinya dan bersiap untuk memeranginya demi duta yang dikirimkannya. Maka, Allah berfirman: Ini adalah seorang duta dari-Ku dan peringkatnya sebagai pribadi yang terhormat dan dimuliakan Aku jamin. Setiap orang yang berusaha melecehkan atau menghinanya serta menyerang kehormatannya berarti berperang melawan-Ku, dan karenanya, akan terhina dan dibinasakan. Dan utusan ini, karena dia dari Allah, pasti akan memperoleh penghormatan dan kehormatan. Kalau sekiranya dia seorang pendusta, Aku Sendiri yang akan menjadi musuhnya dan akan menghinakan serta mempermalukannya. Karenanya, meningkatnya penghormatan dan kehormatannya adalah tanda-bukti dan suatu argumen yang bersumber pada kenyataan bahwa dia adalah benar-benar seorang utusan dari-Ku.

Peristiwa dunia yang dibukakan belakangan sepenuhnya  membuktikan kehormatan dan kewibawaannya. Tidak saja para penghuni jazirah Arab yang menundukkan kepala di hadapannya, melainkan ratusan juta umat manusia juga menganggap bahwa menjadi pelayannya adalah suatu kehormatan bahkan hingga hari ini. Betapa kuatnya para penentang Islam berusaha menyajikan Islam secara carut-marut, namun pribadi yang dipandang sebagai “yang terhormat dan dimuliakan” oleh Allah Yang Maha-tinggi  akan tetap selalu demikian di mata dunia, dan bahkan sesungguhnya, waktunya kini telah tiba ketika kehormatannya akan menjadi semakin besar dan semakin nyata tergelar didunia ini.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman: 

20. Yang mempunyai kekuatan, yang senantiasa di sisi Tuhan Yang mempunyai singgasana.

Ungkapan “dhi quw-wah” terdapat di sini yang berarti “pemilik kekuatan”, yakni, nabi ini adalah pemilik baik kekuatan fisik maupun spiritual, dan segera setelah kedermawanan spiritual dari Nabi yang penuh kekuatan ini diperagakan secara luas maka beliau akan mengangkat seluruh bangsa Arab keluar dari rawa-rawa politeisme, kemesuman penyelewengan dan kekacau-balauan, serta perbudakan dari nafsu seksual, dan akan meningkatkan mereka ke panggung tertinggi dari monoteisme, kesalehan, kesucian dan akhlak yang luhur. Kekuatan duniawi di bumi ini tidak akan bisa mengalahkannya; tidak, kekuatannya akan mengungguli segala kekuatan lainnya. Dan kenapa tidak, karena beliau itu Utusan dari Tuhan Yang Maha-kuasa, dan karenanya kekuatan dari Tuhan Sendirilah yang besertanya.

Sekarang, lihatlah betapa, pada satu sisi, semua kekuatan kejahatan itu dibinasakan oleh kekuatan ruhani dari Nabi Suci dan seluruh bangsa Arab disegarkan kembali secara spiritual, dan di sisi lain, bagaimana kekuatan sementara ini, baik dari bangsa Arab maupun dari Kaisar dan Chosroe, tumbang di hadapan kekuatannya.

Ungkapan ” ‘inda dhil ‘arshi makin” berarti seseorang dengan status bersama Tuhan di Singgasana-Nya. Dan karena Utusan ini adalah seorang  yang dekat dengan Allah Ta’ala, Tuhan di Singgasana-Nya (berarti Tuhan pemilik seluruh kerajaan fisik maupun spiritual), maka adalah perlu untuk mengikuti kedudukan  yang unggul dalam Majelis Allah dan statusnya di sana itu juga akan tercermin di dunia ini. Dan Rasul ini, yang adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh kerajaan ruhani dan duniawi, akan menjadi dicintai dalam hati banyak sekali manusia. Jadi, seluruh kata-kata yang keluar dari Mulut Tuhan tergenapi pada  saat hidupnya Nabi Suci itu sendiri.                     

Dalam ayat selanjutnya Dia berfirman:  21. Seseorang (yang) ditaati dan dipercaya.

Kata muta’ di sini berarti seorang yang ditaati, yakni, banyak sekali manusia akan mematuhinya. Seseorang harus merenung terhadap kenyataan bahwa pada saat ayat wahyu ini diturunkan maka hanya sedikit orang yang taat kepada Nabi Suci. Tetapi, saatnya tiba ketika tidak saja seluruh Arab berbai’at dalam taat kepadanya, melainkan lebih dari itu, raja-raja  menganggap bahwa melayani beliau adalah suatu kebanggaan dan hal ini berlangsung bahkan hingga sekarang.

Ungkapan “tham-ma amin” menarik perhatian kita kepada kenyataan atas keimanan dan sifat amanah beliau yang kuat. Hingga kini, Allah Ta’ala telah membuat beberapa nubuatan yang kuat tentang Nabi Suci, masing-masing dengan argumen yang bersumber pada kejujurannya dan menunjukkan bahwa beliau dikirim oleh Allah.

Tetapi kini Allah menyodorkan argumen lain atas kebenaran Nabi Suci, dan Dia berbuat demikian dengan membalikkan perhatian pendengar kepada masa depan dan masa lalu, serta menunjukkan kepada hal sebagai berikut: “Pertimbangkanlah aspek lain dari masalah ini. Kalian semua tahu bahwa utusan ini telah besertamu sepanjang hidupnya, dan kalian telah mengetahui betapa tulusnya dia. Sesungguhnya, kejujurannya serta sifat amanahnya telah menjadi pengetahuan umum buat kalian. Maka, apakah kaukira bahwa seorang yang tulus dan terpercaya ini sekarang bisa merekayasa kebohongan terhadap Tuhan? Sungguh, awal kehidupannya, yang penuh dengan kejujuran dan sifat amanah, dimana kalian sebagai saksi, adalah suatu argumen yang tak terbantahkan atas kebenarannya”.

Ayat selanjutnya terbaca:  22. Dan kawan kamu tidaklah gila.

Setelah menarik perhatian lawan kepada fakta bahwa Rasul ini telah tinggal di antara mereka dalam jangka waktu yang panjang, dan yang kesidikan serta keamanahannya telah teruji dan terjamin, Allah Ta’ala menunjukkan salah faham lain yang timbul di fikiran orang: bahwa meskipun seorang yang sidik dan amanah semacam itu tidak bisa mengarang kedustaan, mungkin saja bahwa dia secara mental menjadi kacau dan boleh jadi mendakwahkan kerasulannya dalam kegilaannya yang mendadak. Dia telah menjawab hal ini cukup dengan satu kata – sa-hi-bu kum (sahabatmu). Yakni, kamerad kalian, yang beserta kalian siang dan malam, tidaklah mungkin gila.

Ada semacam kegilaan dimana orang yang sakit itu meracau terus-menerus segala macam omong-kosong dan hal ini tidak sulit untuk mendiagnosa. Tetapi ada orang-orang yang mempunyai sakit mental yang kacau tak bisa membedakan fakta dan khayalan tentang suatu hal, dan terhadap orang semacam ini harus tetap diawasi untuk jangka waktu berhari-hari. Beberapa mesti dikunci di penjara atau klinik untuk diawasi dan hanya setelahnya bisa di ambil kesimpulan tentang keadaan mentalnya karena ketidak-normalannya yang khusus muncul ke permukaan sewaktu-waktu atau hal lainnya lagi sepanjang pengamatan itu atau ketika mereka berbicara ngawur dan tak masuk akal karena neurosis yang mempengaruhi otaknya.       

Maka, Allah Yang Maha-tinggi, menarik perhatian para penentang dengan kenyataan ini dan bertanya kepada mereka apakah dapat menunjukkan ketidak-normalan dalam perilaku Nabi Suci sepanjang pertalian  kalian yang terus-menerus dengan mereka itu. Dan jika mereka tidak bisa, bagaimana lantas mereka bisa menganggapnya gila?  Bagaimana keadaan sakit mental seseorang yang menyertai mereka siang dan malam bisa tetap tersembunyi? Apakah kegilaannya muncul pada suatu waktu atau pada waktu yang lain lagi karena ia pasti akan memperlihatkan kegilaannya itu dengan mengatakan sesuatu yang nonsens atau tak logis. Dalam hubungan mereka setiap hari tidakkah mereka bisa membedakan antara orang suci yang diselimuti akhlak yang  mulia dengan seorang yang gila?

Ayat selanjutnya terbaca:

         23.Dan sesungguhnya ia melihat dirinya (atau Allah) ada di  cakrawala yang terang.   

Kata ufuq berarti stasiun atau titik tertinggi. Stasiun apakah ini? Ini adalah titik yang menandai batas kemajuan keatas dari ruhani manusia. Dalam ayat ini kita diberi-tahu bahwa Muhammad Rasulullah s.a.w. bukannya gila; melainkan beliau telah melihat dirinya mencapai titik tertinggi dari kesempurnaan manusia dan kedekatannya kepada Allah begitu dekat dimana manusia lainnya tak dapat melaju lebih jauh lagi. Atau alternatif lain, ayat ini bisa menandakan bahwa beliau telah melihat Allah dengan mata batinnya dan mencapai gnosis-Nya hingga puncak yang dapat dicapai oleh kemampuan manusia, yakni, batas terjauh dalam melihat Allah serta menangkap gnosis-Nya yang bisa dicapai manusia. Fakta ini dibuktikan tidak saja oleh akhlaknya yang luhur dan gnosisnya yang sempurna, melainkan juga Allah Ta’ala telah membukakan pengetahuan tentang Yang Ghaib berlimpah-ruah serta misteri Ilahiah kepadanya dimana pengetahuan manusia tak dapat meliputi secara menyeluruh yang semacam itu tanpa bantuan Ilahi dan atau ilmu yang diwahyukan. Dan nubuatan dalam surat ini hanyalah suatu contoh kecil dari fakta ini. Dapatkah seorang pendusta atau orang gila yang mampu memenuhi perbuatan semacam ini?

Allah berfirman:  24. Dan ia tidaklah kikir terhadap barang gaib.

Yakni, adakah orang-orang  gila dan pendusta dianugerahi dengan pengungkapan yang berlimpah tentang Yang Ghaib, meliputi nubuat yang penuh dengan ilmu yang rumit serta sulit dari Yang Ghaib? Ini jelas menunjukkan bahwa Sumber mata air dari Firman ini adalah ilmu Ilahi dan orang yang membukakannya itu berwawan-sabda dengan Allah, Yang Mengetahui segala perkara.

      25. Dan itu bukanlah ucapan setan yang terkutuk.

      26. Lalu ke manakah kamu akan pergi?

Ini berarti catatan bahwa mungkin rekayasa setan adalah benar-benar sesat dan berakibat buruk meletakkan manusia sebebas-bebasnya dalam jalur yang salah, karena iblis itu, sejak awal mula, adalah entitas yang disingkirkan, diusir dan diasingkan dari majelis Allah. Seruannya akan selalu menganjurkan yang jahat, dan kepada kemesuman, kehinaan serta mengajak kepada neraka. Sebaliknya, al-Qur’an menyeru kepada Allah dan mengundang kita kepada ketenteraman.      

     27. Itu tiada lain adalah Peringatan bagi sekalian bangsa.

Kata “dhikr” dalam ayat ini berarti menasehati dan mengingatkan orang kepada agama fitrah, yang dengan menjalaninya orang bisa mencapai kebanggaan dan kehormatan dimana dia itu telah diciptakan. Lihatlah ajaran al-Qur’an, firman Allah, betapa telah meliputi dan mencakup prinsip yang utama – ajaran yang membawa manusia kepada kehormatan dan wibawa, yakni, dengan mengikutinya maka manusia bisa  mencapai kehormatan dan kebanggaan untuk tujuannya dia diciptakan. Bisakah ajaran semacam itu dari setan, ajaran yang membimbing manusia kepada kehormatan dan kewibawaan serta peringkat tertinggi dari kemuliaan?

Para pembaca bisa melihat untuk dirinya sendiri betapa menyeluruh dan universal ajaran al-Qur’an itu, betapa semua bangsa di muka bumi ini, dari segala zaman, bisa memetik manfaat darinya. Tentunya, dalam berbuat demikian, adalah penting agar manusia itu mengambil prakarsa dan mengadakan  ikhtiar untuk mengambil manfaat darinya. Inilah mengapa Allah selanjutnya berfirman dalam ayat-ayat berikutnya:

     28. Bagi siapa di antara kamu yang hendak berjalan di jalan yang benar,

     29. Dan kamu tidaklah menghendaki (untuk berjalan di jalan yang benar),      

           kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.

Malangnya, ulama kita telah menafsirkan ayat ini dengan arti: Engkau tidak menghendaki kecuali atas kehendak Allah; maka baranngsiapa ingin dijalan lurus dia berbuat demikian karena kehendak Allah dan barangsiapa yang tidak mau menyusuri jalan yang lurus, atau berbuat demikian atas kehendak Allah juga. Penafsiran yang seperti ini akan membuat orang menjadi apatis, karena tanpa kehendak apapun, lalu dia menerima hukuman karena berbuat salah dan  benar-benar keadaan yang  tidak adil. Karena itu, arti semacam ini jelas keliru dan bertentangan dengan kehendak al-Qur’an. Bila seseorang membaca ayat-ayat ini (29-30) bersama-sama dengan ayat sebelumnya (27), artinya menjadi sangat jelas. Yakni, seperti disebutkan di atas bahwa Kitab ini telah diturunkan untuk menolong orang mencapai kedudukan yang terhormat dan berwibawa, serta, bersamaan dengan ini, dikatakan juga bahwa kehormatan dan kebanggaan ini bisa dicapai hanya oleh mereka yang ingin berjalan di jalan yang lurus. Lalu datanglah ayat ini yang kita perbincangkan dan hanya kepada orang yang mau mengikuti jalan yang luruslah ayat ini ditujukan.

Jadi Allah ta’ala berfirman: Bagi yang ingin menggunakan jalan yang lurus, maka engkau dan Tuhanmu itu satu dalam keinginan; jika  engkau menghendaki tepat seperti apa yang dikehendaki oleh Allah. Jika engkau ingin memakai jalan yang lurus, ini juga yang Dia inginkan, yakni, bahwa engkau harus menyusuri jalan yang lurus.

Dan inilah sebabnya mengapa al-Qur’an ini, suatu Kitab yang membawa kehormatan kepada semua orang, telah diturunkan oleh-Nya. Asma-Nya yang Maha-pemurah meminta agar seluruh kemanusiaan ini menggunakan jalan yang lurus. Namun, Dia tidak melakukan pemaksaan dengan kekuatan. Karena manusia itu diciptakan dengan kemauan masing-masing, adalah perlu bahwa dia harus memakai jalan yang lurus ini dengan melatih kemauannya serta akal sehatnya dan tidak menyia-nyiakan kemampuan kehendak-bebasnya dengan tidak mengaktifkannya.

Pendeknya, Allah Ta’ala tidak menginginkan kecuali bahwa manusia itu hendaknya menggunakan jalan yang lurus, karena Dia adalah Pemelihara semesta alam, dan inilah sebabnya mengapa Dia menurunkan al-Qur’an, suatu Kitab yang menjadi suatu Peringatan bagi segenap bangsa-bangsa di dunia. Maka, barangsiapa yang ingin memakai jalan yang benar ini  berbuatlah tepat segaris dengan Kehendak Allah; dan mereka yang tidak menggunakan jalan yang  benar ini dengan berbuat demikian maka mereka telah melawan maksud dan kehendak Allah.

Pendeknya, di sini orang-orang yang di jalan yang benarlah yang dituju, dan diberi-tahu  bahwa kehendak mereka itu tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak disebutkan di sini mereka yang tidak mau menyusuri jalan yang benar.

Mungkinkah demikian?, bahwa Allah Ta’ala itu ingin agar manusia itu tidak menyusuri jalan yang lurus? Naudzubillah.  Bila benar demikian, lalu mengapa Dia menurunkan al-Qur’an, yang menjadi suatu Peringatan bagi segala bangsa, dan mengapa Dia sebut asma-Nya sebagai Pemelihara semesta alam (Rabb)? Apa betuk permintaan dari pemelihara sekalian alam supaya manusia itu tidak diperbolehkan mengikuti jalan yang benar? Rububiyyat (Sifat Penyantun) digunakan dalam ungkapan ini yang berarti membimbing seseorang itu secara bertahap ke arah yang lebih tinggi; dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya, hingga suatu saat dimana makhluk yang disantuni itu mencapai kesempurnaannya. Jadi, asma-Nya sebagai Pemelihara semesta alam meminta agar manusia itu menyusuri sepanjang jalan yang lurus yang bila orang semacam itu menginginkan apa yang Rububiyyat (sifat pemelihara dari Tuhan) inginkan. Dan bila orang itu menginginkan sebaliknya, maka jelas bahwa ambisinya itu bertentangan dengan kehendak dan keridlaan Tuhan dan karenanya kemauannya itu pastilah mustahil merupakan kehendak Allah Ta’ala, Yang adalah Pemelihara semesta alam.

Sekarang, marilah kita rekap bagian akhir dari surat ini dan lihatlah betapa Allah Yang Maha-tinggi telah memberi argumen yang kuat untuk membuktikan bahwa Nabi Suci dikirim oleh-Nya seperti juga wahyu Ilahi yang diterimanya.

Meskipun nubuatan ini berisi suatu bagian penting dari ilmu Yang Ghaib yang pada saat itu tersembunyi dibalik tabir masa depan – meski pada saat ini telah digenapi dalam bentuk peristiwa dunia yang tergelar di hadapan mata kepala kita sendiri, bagaikan matahari di siang yang benderang – namun tentang hal ini kebanyakan diakui bahkan oleh  kaum kafir Mekkah: mereka sepenuhnya mengakui sifat amanah, kejujuran dan ketulusan dari Nabi Suci, seorang nabi yang telah hidup di antara mereka sepanjang usianya. Maka, inilah sebabnya mengapa Allah, setelah menyatakan ramalan ini, telah menggelar argumen ini pada semuanya dengan berkata bahwa pribadi ini telah hidup di antara kalian sepanjang hidupnya dan seorang yang benar   serta terpercaya, dan bahkan kini kalian mengakui ketulusan, amanah dan kejujurannya, maka bagaimana mungkin orang semacam ini bisa membuat-buat kedustaan terhadap Allah?

Mereka boleh keberatan atas hal ini dengan berkata: Dijamin tak ada keraguan atas ketulusannya, tetapi barangkali dia telah menjadi kacau mentalnya. Untuk hal ini Allah menjawab: Dia telah tinggal di antaramu siang dan malam. Bisakah kau tunjukkan satu tanda kekacauan mentalnya? Sebaliknya, akan kaudapati bahwa dia memiliki gnosis Ilahi yang lengkap serta suatu pengetahuan yang mendalam tentang misteri keilahian. Apakah pengetahuan semacam ini dari Yang Ghaib, yang dibukakan kepadanya setiap waktu, pernahkah diwahyukan sebelumnya kepada mereka yang menderita kegilaan atau para pendusta? Tidak, ini hanya dibukakan kepada mereka yang telah sempurna mengembangkan hubungan khusus dengan Allah dan yang telah menerima wahyu Ilahi.

Untuk itu, keberatan lain bisa timbul bahwa mungkin ini kata-kata dari setan. Untuk hal itu Dia berfirman: Apakah mungkin setan itu, suatu entitas yang disingkirkan dan diusir dari Majelis Allah, memberikan suatu pelajaran yang  membuat manusia mencapai kemuliaan dan kehormatan, dan karenanya akan menjadikan dia berhasil mencapai tujuan yang lebih tinggi dari penciptaan manusia?

Dengan perkataan lain, menghadapi semua keraguan dan pandangan dan berkeberatan yang muncul, Allah Ta’ala telah memberikan argumen yang kuat dalam mendukung kebenaran serta dakwah Nabi Suci, bahwa Al-Qur’an adalah dari Allah Yang Maha-tinggi, sehingga Dia tidak membiarkan satu titik  pun keraguan dan kecurigaan muncul tanpa jawaban.

Penterjemah : H. Imam Musa Projosiswoyo (alm)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: