Tujuan Yesus : Kashmir

 Dan Kami menjadikan putera Maryam dan Ibunya sebagai tanda bukti, dan Kami mengungsikan kedua-duanya ke tanah tinggi yang mempunyai padang rumput dan mata air. (Qs 23:50)

 Oleh:  Andreas Faber Kaiser

Kita telah melihat bukti, bahwa beliau hidup terus setelah penyaliban dan muncul kepada para muridnya dalam bentuk jasmani yang nyata. Kepada orang-orang yang tidak percaya kepada beliau, maka dia menunjukkan badan beliau yang sama seperti sebelum terjadi penyaliban, beliau sekali lagi menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya bukanlah hantu sebagaimana yang diyakini orang-orang itu, berulangkali beliau menunjukkannya dengan jelas bahwa beliau bukan hantu. Jelas sekali, beliau tidak dapat tinggal di Palestina yang sedang dalam kondisi yang tidak menentu (yakni bahaya pengkhianatan yang kedua kali), maka tidak lama kemudian beliau pergi untuk menyempurnakan missinya dengan menjumpai sepuluh suku Israel yang hilang di Kashmir.

Di dalam kitab “Kanzul-Ummal” jilid 2, Abu Hurairah menerangkan kepada kita, bahwa Tuhan memberi petunjuk kepada Yesus supaya keluar dari Yerusalem, maka dengan begitu beliau pasti tidak akan diketahui dan dikejar-kejar. Setelah itu beliau pergi ke Galilea, dan demi memutus kesulitan yang dihadapi, dimana para pengikutnya selalu mengenalinya ketika beliau muncul di hadapan mereka (contohnya, lihatlah penjelasan pada Yahya 20:14-16, Lukas 21:13-31 dan pada Yahya 21:1-7), maka seringkali beliau menyamar.

Menurut Imam Abu Ja’far Muhammad al-Tabari dalam kitabnya yang termasyhur: “Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari” menjelaskan bahwa “Yesus dan bundanya, Mariam, telah meninggalkan Palestina dan berangkat ke negeri yang jauh, berkelana dari satu negeri ke negeri lainnya” (Vol. 3, hal. 197). Dalam hubungan ini, sangat menarik sekali, bahwa dikala Yesus meninggalkan makam, beliau pergi ke Galilea, karena letak kota ini adalah rute para kafilah untuk pergi ke Syria, dan dari sana, dengan menembus Belukar yang Rimbun, beliau menuju ke arah Timur.

Andaikata Yesus pergi mengikuti rute ini, maka tak dapat diingkari lagi bahwa beliau pasti mengunjungi Damaskus (Damsyik). Memang, hanya dua mil saja jauhnya dari kota, di sana ada satu tempat yang dinamakan “Maqam-i-‘Isa, yang artinya (“tempat di mana Yesus pernah tinggal”). Berbagai keterangan mendukung pandangan tersebut bahwa Yesus pernah tinggal beberapa lama di Damaskus; dan mohon diingat kembali, bahwa dalam perjalanannya menuju Damaskus itulah Yesus pernah muncul kepada Saul dari Tarsus, yaitu orang yang pernah menganiaya orang-orang Kristen dan menjadi rasul Paulus. Apabila hipotesa ini benar, maka mungkin sekali Yesus benar-benar pernah tinggal di Damaskus pada waktu itu, dan beliau dengan sengaja keluar untuk menemui Saul dalam perjalanannya ke kota dan berusaha menobatkannya.

Kita diberitahu, bahwa selama tinggal di Damaskus, Yesus menerima sepucuk surat dari Raja Nisibis yang memberitahukannya bahwa raja sedang menderita sakit keras dan ia memohon pertolongan beliau. Yesus mengirim balasan dan mengatakan, bahwa beliau pasti mengirimkan seorang muridnya dan beliau sendiri akan datang belakangan (“Biblioteca Christiana Ante-Nicena”, Vol.20 – Syrian Documents, 1). Beliau mengetahui, bahwa beberapa suku yang hilang tinggal di Nisibis – hal ini juga disebutkan oleh Josephus (“Antiquities”, XVIII, 9)- dan benar, bahwa waktu untuk meninggalkan Damaskus telah tiba. Tobatnya Saul itu membuat bangsa Yahudi berang, dan mereka berencana untuk menangkapnya.

Mohammed bin Khavendshan bin Mahmud, yang biasanya dikenal sebagai Mir Khwand, menulis di dalam bukunya yang termasyhur: “Rauzat-us-Safa”, yang telah menjadi kebanggaan di antara karya-karya sejarah bangsa Persi, bahwa Yesus dan Mariam meninggalkan kota, kemudian pergi ke Syria (Vol. 1, hal.134). Keadaan Yesus dan Mariam di saat-saat demikian ini diperkuat oleh pernyataan buku sejarah “Jami-ut-Tawarikh”-nya Faqir Muhammad yang juga mengatakan, bahwa Yesus pergi berjalan kaki dan membawa sebuah tongkat. Sumber yang sama (Vol. 2) memberitahukan kepada kita, bahwa beliau terus menuju Nisibis, di sana beliau berkunjung kepada raja dan mengajar; dan dari sana beliau melanjutkan perjalanannya ke Mashag, yang di sana terdapat makam Shem, putera Nabi Nuh.

Buku sejarah “Nasikh-ut-Tawarikh” memberikan pernyataan yang sama, tetapi baik yang ini maupun dua sumber yang terakhir itu, tidak menjelaskan, mengapa Yesus tidak tinggal lama di Nisibis.Namun demikian, menurut “Tafsir Ibnu Jarir at-Tabari”, sebab orang-orang Nisibis menunjukkan ketidak senangan terhadap Yesus dan mereka ingin membunuhnya.

Nazir Ahmad memberi keterangan kepada kita, bahwa pada waktu Yesus di sana ada tiga kota yang dikenal seperti Nisibis (Nasibain); satu di antara Mosul (pusat perniagaan yang terbesar di atas sungai Tigris) dan Syria; satu di tepi sungai Euphrates (Eprat); dan satu lagi di dekat Jalalabad di Afghanistan. Di dalam “Majma-ul-Buldan” Vol.8, hal. 1207 (oleh Shaikh-ul-Imam Shahabuddin Abi Abdullah Ya’qub bin Abdullah al-Hamdi al-Rumi al-Baghdadi) ia menyatakan, bahwa yang pertama itu terletak enam hari perjalanan dari Mosul, sepanjang rute kafilah besar dari Laut Tengah ke Teluk Persi dan terus ke Timur. Uraian ini cocok dengan Nusaybin modern, yang terletak di Turki, dekat perbatasan Syria.

Di waktu meninggalkan Nisibis, Yesus selama perjalanannya rupanya menggunakan nama “Yuz Asaf”, yang dihubungkan dengannya oleh tulisan-tulisan dan ceritera-ceritera adat-istiadat setempat yang pernah dilalui oleh beliau. Buku sejarah “Farhang-i-Jahangiri” dan “Anjuman-i-Arae Nasiri” dari Raja Quli (xxiv, kolom 1) membicarakan Asaf sebagai seorang besar dari negeri-negeri Arab, sementara di dalam buku “Burhan-i-Qate” (XXXIV, kolom 2) Asaf adalah suatu nama yang diberikan kepada anak Barkhia, salah seorang yang terpelajar dari Bani Israel. Yuz, bagian nama lain, dinyatakan oleh Muhammad Badshah di dalam bukunya “Farhang-i-Anand Raj” (vol.8) sebagai “yang berkuasa” atau “pemimpin”.

Gambaran yang jelas dari arti nama Yuz Asaf tersebut dilengkapi oleh buku “Farhang-i-Asafia” (vol.1) yang mengatakan bahwa Hazrat ‘Isa (Yesus) adalah “penyembuh penyakit kusta”; dan yang pernah membebaskan dari segala penyakit disebut “Asaf”. Jadi, jika “Yuz” artinya “Pemimpin”, maka “Yuz Asaf” artinya seperti “pemimpin penyembuh penyakit kusta”, yang sudah pasti sangat cocok sekali dengan nama Kristus. Hal ini menguatkan sekali, bahwa dua nama tersebut menandakan pribadi yang sama. “Faizi”, satu sya’ir dari istana Akbar, menandakan Yesus itu sebagai “Ai Ki Nami to: Yus o Kristo” (“Kamu itu yang bernama Yuz atau Kristus”).

Dalam melanjutkan perjalanannya, Yesus datang ke Iran. Adat-istiadat setempat memberitahukan kepada kita, bahwa seseorang yang disebut Yuz Asaf datang ke sana dari suatu negeri di barat, kemudian dia mengajar dan banyak menobatkan orang. Lagi, adat-istiadat ini secara terperinci menjelaskan bahwa Yuz Asaf adalah Yesus (Contohnya lihatlah Agha Mustafai dalam bukunya “Ahwali Ahalian-i-Paras”). Begitu juga jejak-jejak Yesus bisa didapati di Afghanistan: sebelah barat, dan di Ghazni dan Jalalabad di sebelah timur.

Menjelajahi jejak-jejak Yesus di Timur, kita dapati adat-istiadat bahwa beliau pernah melalui daerah Taxila, kini Pakistan. (Pada tahun 1981, saya pernah meninjau daerah Taxila ini. Di tempat ini terdapat berbagai candi tua dan puing-puing peninggalan agama Buddha yang sudah tidak terurus lagi dan terletak di bukit-bukit kecil yang tandus. Taxila ini adalah salah satu rute yang dilalui Yesus dalam perjalanannya yang kedua kalinya dari Palestina ke Kashmir, dan dari sini beliau terus mendaki perbukitan yang sekarang dinamakan “Bukit Muree” dimana Bunda Yesus, Maria, dikebumikan di bukit ini karena beliau tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya menuju Lembah Kashmir. Ceritera mengenai Bunda Yesus ini, bisa dilihat di dalam buku: “Khiyaban Murre” dalam bahasa Urdu oleh Latief Kashmiri, yang pernah saya jumpai dan wawancarai, dan kata beliau, buku ini sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk disebar-luaskan di Eropa dan Amerika. Sedikit menyinggung buku ini dan demi memperkuat fakta sejarah bahwa Yesus pernah melalui kota kuno Taxila dan Bukit Muree ini, di sini sedikit saya kutip keterangan dari buku tersebut: “Bukit Muree ini dibenarkan oleh sejarah adalah tempat singgah serombongan pengembara yang datang dari daerah Barat yang sedang menuju “Lembah Kashmir” melalui Afghanistan dan kota kuno “Taxila”, India (sekarang termasuk daerah Propinsi Balucistan, Pakistan)(“Khiyaban Muree” halaman 11-12). Juga, demi menguatkan fakta, bahwa Yesus pernah melalui daerah ini, di mana di daerah ini banyak sekali penduduk keturunan bangsa Yahudi, hal ini pernah ditulis oleh Ghulam Ali Khan di dalam “Mingguan Bilal” tanggal 8 Juli 1981, yang diterbitkan oleh “Murraka Dera Ghari Khan” dalam bahasa Urdu, yang juga dikatakan di sana, bahwa di Propinsi Balucistan ada kota kecil yang bernama “Isa Kheli” yang artinya “Kota ‘Isa” yang menunjukkan bahwa ‘Isa as. pernah singgah di kota ini sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Kashmir melalui Taxila”. Adapun “Bukit Muree”, kini di sekitarnya telah banyak dibangun Gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen berikut biara-biaranya, dan tepat di sebelah makam Bunda Maria, kini telah dibangun Menara Pemancar Televisi untuk daerah Rawalpindi, Islamabad dan sekitarnya, dan Bukit Muree itu jauhnya dari kedua kota tersebut kurang-lebih 50 km, dan makam tersebut terletak di puncak bukit yang kini bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor melalui jalan berkelok-kelok dan jurang-jurang yang curam di kanan kirinya. -penj.). Taxila ini tidak jauh dari perbatasan Kashmir (India). Menurut Injil yang tidak resmi yakni “Actae Thomae” (Kisah Perbuatan Thomas), Thomas pernah ada di sana sewaktu menghadiri pernikahan putera Gad, saudara Raja Gondafras, dan setelah upacara pernikahan itu usai: “Thomas meninggalkan tempatnya. Mempelai laki-laki itu menarik tirai yang memisahkannya dari mempelai perempuan, dan ia melihat Thomas, seakan-akan ia sukar sekali untuk berkata kepadanya. Tiba-tiba ia berkata kepadanya: “Mengapa anda ada di sini? Bukankah saya melihat anda sudah pergi?” Dan Tuan itu menjawab: “Saya bukan Judas Thomas, tetapi saudaranya”. (Actae Thomae dalam “Biblioteca Christiana Ante-Nicena” Vol. 20. Lihat juga V.A. Smith, Early History of India, hal. 219).

Yang penting dalam hal ini ialah Yahya, pada Yahya 20:24, Thomas diberi nama Didymus, yang dalam bahasa Yunaninya sama dengan bahasa Aramic “Ioma” artinya “Kembar”, dan diperkirakan Thomas dilahirkan jasmaninya lebih kuat, tidak seperti Yesus.

Lebih penting lagi, walaupun “Actae Thomae” telah menempatkan Thomas dan Mariam serta Yesus di Taxila, dan tidak dengan para muridnya di Yerusalem. Menurut riwayat kuno ini, Thomas telah menemani Yesus ke Kashmir melalui Damaskus dan Magdonia (Nisibis) (lihat “Rauzat-us-Safa”, vol. I hal. 124); ada di Kashmir menjelang wafatnya Yesus (lihat Shaikh Al-Sa’id-us-Sadiq dalam “Kamal-ud-Din”); kemudian setelah menelusuri jejak-jejaknya ke Taxila, melanjutkan perjalanannya ke Kerala, di India selatan, dan wafat serta mayatnya dibakar di Milpore, Madras.

Mariam dimakamkan di Pakistan

Setelah meninggalkan Taxila, Yesus, Mariam dan Thomas melanjutkan perjalanan ke Kashmir; tetapi Mariam tidak pernah mengalami ke tempat yang dinamakan “Sorga di Bumi” itu.

Tidak kuat menghadapi kesukaran perjalanan yang jauh, Mariam wafat di suatu tempat yang sekarang menjadi kota kecil yang dinamakan Murree (kota yang terletak di puncak bukit dekat perbatasan Pakistan dan Kashmir, India -penj.) satu nama untuk menghormatinya (Kashmir Postal, in “Punjab Gazette”,No. 673, 1869. Lihat juga Drew, “Jammoo and Kashmir Territories”, hal. 527), dan kira-kira empatpuluh mil jauhnya dari Taxila atau tigapuluh mil dari Rawalpindi, Pakistan. Di tempat itu Mariam dikebumikan, yang dikenal sebagai “Pindi Point” (Puncak Pindi) dan makam itu sendiri dinamakan “Mai Mari da Asthan” yang artinya: “Tempat peristirahatan Bunda Maria”. Menurut adat-istiadat Yahudi, makam tersebut menghadap timur-barat, sebagaimana makamnya Yesus dan Musa (akan dibicarakan belakangan). Ini berbeda sekali dengan kebiasaan arah makam kaum Muslimin yang membujur utara-selatan.

Mumtaz Ahmad Faruqui menulis dalam bukunya “The Crumbling of the Cross”, bahwa pada waktu Mariam wafat dan dimakamkan di Murree, negeri itu di bawah pemerintahan raja-raja Hindu. Orang-orang Hindu yang banyak menyembah dewa-dewi, mereka sebagaimana biasa sangat percaya kepada takhayul, dan ketika mereka melihat makam baru yang terletak di puncak sebuah bukit, mereka mulai memujanya dan bersembahyang di sana, maka makam itu menjadi sangat terkenal sebagai tempat yang suci. Ketika kaum Muslimin mengambil alih pemerintahan, mereka insaf akan hal itu, sekalipun orang-orang Hindu masih tetap memuja makam itu, seseorang yang telah dikuburkan di sana itu pasti “Seorang Ahli Kitab” (apakah itu orang Yahudi atau Kristen), sejak itulah orang-orang Hindu membakar mayat-mayat mereka di sana. Kaum Muslimin pun mulai memuja-muja makam Bunda Maria tersebut. (Sebelum dibangun menara pemancar televisi di sebelah makam tersebut, di lokasi itu setiap tahun selalu penuh dikunjungi para penziarah dari berbagai pelosok, baik dari Afghanistan, Kashmir, Punjab India maupun dari Pakistan sendiri. Demikian kata Latif Kashmiri, seorang pengarang buku “Khiyaban Murre” yang pernah saya jumpai di rumahnya di Bukit Murree tersebut, -penj.).

Pada tahun 1898, Pemerintah kolonial Inggris telah mempertahankan menara yang dibangun berhadapan dengan makam itu, yang selalu dikunjungi oleh orang-orang daerah sekitarnya. Pada tahun 1916 sampai 1917, seorang insinyur militer setempat, Kapten Richardson, ingin menghancurkan makam tersebut, maka dia mengusir orang-orang dari daerah itu; tetapi rakyat bangkit dan melawan, bahwa pemerintahan kota-praja harus menjadi perantara untuk menyetop penghancuran itu, dan membentuk lembaga penyelidikan. Hal ini termuat dalam dokumen (tertanggal 30 Juli 1917) yang tersimpan di dalam file No.118 pada pemerintahan kota-praja Murree; ini bisa didapati, dan bukti-bukti ini pada dasarnya terdapat pada lusinan terbitan-terbitan tua yang terdapat pada penduduk setempat, bahwa tempat suci di Pindi Point (Puncak Pindi) tersebut ialah makam seorang yang memiliki akhlak yang suci, yang selalu dipuja baik oleh orang-orang Hindu maupun oleh kaum Muslimin, dan karenanya, di waktu musim panas, upacara sembahyang dan persembahan sesajen-sesajen di makam tersebut pada umumnya dilakukan untuk mendatangkan hujan. Ini diperkuat oleh para petugas penyelidikan yang melaporkan, bahwa pada musim panas sekitar tahun 1916-1917, diadakan upacara sembahyang dan sesembahan yang dibuat di makam tersebut, yang akibatnya segera saja banyak hujan dan salju turun yang berlangsung selama tiga hari. Maka diputuskanlah untuk tidak menghancurkan makam, dan tidak lama kemudian, Kapten Richardson benar-benar luka parah dalam suatu insiden. Begitulah orang-orang di sana mengatakan, bahwa hal itu sebagai balasan atas perbuatannya.

Pada tahun 1950 makam itu diperbaiki, terima kasih atas segala usaha Khwaja Nazir Ahmad, penulis buku “Yesus in Heaven on Earth”. Dipertahankannya menara tersebut sejak akan dirobohkannya, karena dianggap tak berguna, dan di tempat itu dibangun menara televisi (sebagaimana dijelaskan di atas. Juga kurang-lebih 350 meter di bawah makam tersebut ada satu biara yang cukup sunyi dan di halaman mukanya, persis bersandar di suatu tebing yang dibuat agak menjorok ke dalam, ada satu patung Bunda Maria yang cukup elok. Penj.).

Padang Rumput Yesus: Pintu Gerbang ke Kashmir

Dari Murre, Yesus melanjutkan perjalanannya menuju Kashmir, beliau masuk Kashmir melalui lembah yang dikenal sebagai Yusmarg, “Padang Rumput Yesus”. Ini adalah Lembah Hijau yang indah lebat dengan pepohonan dan ditempati oleh bangsa Yadu, keturunan sepuluh suku Israel. Orang-orang yang tinggal di sini hidup sebagai pengembala yang ditopang oleh banyaknya ternak gembalaan mereka, dan lembah tempat tinggal mereka hidup itu terletak sepanjang rute perjalanan kuno yang dilalui oleh para pedagang (kafilah) antara Afghanistan dan Lembah Kaghan, di Kashmir. Bila menjelajahi rute ini ke arah timur, maka sampailah ke Aishmuqam. “Aish” adalah kata awalan dari “Isa” (Yesus), dan “muqam” artinya “tempat istirahat”. Di tempat inilah Yesus beristirahat dalam perjalanannya, sebagaimana dikuatkan oleh satu buku yang berjudul “Nur Nama”.

Penduduk Aishmuqam sekarang Muslim. Waktu kami berkunjung ke sana, kami dapati bahwa tanduk-tanduk “the Ram of God” (Perkakas Tuhan) terdapat di sana disimpan baik-baik, dan tongkat juga disimpan di sana yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa tongkat itu asli milik Yesus. Tetapi orang-orang yang bertanggungjawab menjaga tongkat itu mengatakan kepada kami (dan Proffesor Hassnain nanti akan menguatkan) bahwa keterangan itu salah, karena tongkat itu bukan milik Yesus tetapi milik Musa, yang ada mata-rantainya dengan Kashmir yang akan kami bicarakan pada bab berikut.

Sebelum melanjutkan keterangan berbagai dokumen bersejarah yang menjadi saksi atas kehadiran Yesus di Kashmir, di sini saya berikan daftar ringkas sejarah bangsa Kashmir dan nama-nama peta bumi yang ada sangkut pautnya dengan Yesus, untuk memudahkan.

Issa-Brari                       Yusu-dha

Issa-cil                             Yusu-dhara

Issa-Kush                        Yusu-gam

Issa-Mati                         Yusu-hatpura

Issa-Ta                              Yusu-kun

I-yes-Issa                         Yusu-maidan

I-yes-th-Issa-vara        Yusu-para

Kal-Issa                             Yusu-raja

Ram-Issa                          Yusu-varman

Arya-Issa                         Yus-marg

Aish-muqam                   Yus-nag

Yusu                                   Yus-mangala

Yesus tinggal di Kashmir

Sekarang marilah kita pertimbangkan beberapa teks yang menjadi saksi bagi tempat tinggal sementara Yesus dan wafatnya di Kashmir.

Mulla Nadiri, seorang ahli sejarah Muslim pertama Kashmir, yang menulis dalam bahasa Persi, mengatakan di dalam bukunya “Tarikh-i-Kashmir”, bahwa Yuza Asaf mengawali da’wah risalahnya di Kashmir pada tahun 54 (tepatnya tanggal yang dimaksudkan ini akan didiskusikan kemudian). Sebagian kutipan yang bersangkut-paut dengan masalah ini di antaranya sebagai berikut:

 “Raja yang bernama Gopananda kemudian memulai aktifitasnya di Lembah Kashmir. Selama kekuasaannya, banyak sekali tempat peribadatan dibangun dan diperbaiki. Dia mengundang Sulaiman dari Persi untuk keperluan perbaikan Takhta (Nabi) Sulaiman di gunung. Orang-orang Hindu berkeberatan dengan mengatakan, bahwa karena dia bukan orang Hindu dan dia itu pengikut agama lain, maka dia tidak bisa memperbaiki makam suci itu.

Di masa periode itu Yuza Asaf tiba dari Palestina dan mulai mengaku dirinya sebagai Nabi di Lembah Kashmir. Dia melaksanakan tugasnya siang dan malam, dan dia sangat tawakal dan suci. Dia menyampaikan firman-firman Tuhan kepada rakyat Kashmir. Banyak sekali orang yang insyaf dan menjadi pengikutnya. Raja memohon kepadanya untuk memimpin orang-orang Hindu ke jalan yang benar.

Sulaiman memperbaiki Takhta Sulaiman dan membangun empat tiang utama dengan dibubuhi tulisan berukir yang berbunyi:

Para pembangun tiang-tiang ini adalah Bhisti Zargar, tahun 54.

Dan Khawaja Runkun, putera Miryan.

Yuza Asaf mendakwahkan dirinya sebagai seorang nabi. Tahun 54.

Dia adalah Yuzu, dari suku-suku Israel.

Tulisan-tulisan berukir itu masih tetap ada dan mudah dibaca ketika Khawaja Haidar Malik Chadura menulis buku sejarahnya “Tarikh-I-Kashmir”, selama kekuasaan Jahangir (lihat pula Pirzada Ghulam Hasan dalam bukunya “Tarikh-i-Kashmir”, vol. 3). Tempat suci itu dikenal sebagai Takhta Sulaiman yang terletak di atas sebuah bukit lebih ke timur lagi dari Srinagar, dan mempersembahkan panorama kota yang mengagumkan.

Pecakapan Yesus bersama Shalewahin

Di dalam buku: “Bhavisya Mahapurana” kuno, yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 3191 dari Zaman Laukika (115 M.) dan dianggap berasal dari Viyas, dalam ayat (17-32) kita diberi tahu bahwa raja Shalewahin pada suatu hari keluar untuk berjalan-jalan di pegunungan dan di Voyen dekat Srinagar, melihat seseorang yang berpakaian lain daripada yang lain, berbaju putih dan berwajah simpatik. Raja menanyakan namanya. Yesus menjawab, bahwa dia yang dikenal sebagai anak Tuhan dan lahir dari seorang perawan. Sang Raja merasa terkejut, tetapi Yesus lebih lanjut menjelaskan, bahwa dia ditunjukkan jalan yang benar dan missinya adalah untuk membersihkan agama. Ketika sang raja mengulangi pertanyaannya, Yesus mengatakan kepadanya, bahwa dia telah menda’wahkan kependetaannya di suatu negeri yang jauh di seberang Indus, dan orang-orang di sana telah membuatnya menderita. Dia telah mengajarkan cinta-kasih, menunjukkan jalan yang benar dan menjernihkan hati, dan karena hal inilah dia telah dikenal sebagai Masih.

Berikut ini adalah terjemahan ayat-ayat yang berhubungan dengan peristiwa itu:

“Shalewahin, cucu Bikramajit, memikul tanggungjawab pemerintahan. Dia berperang dengan pasukan gerombolan China, Parthian, Scythian dan Bactrian. Dia menentukan perbatasan antara bangsa Arya dengan bangsa Amalekit, meminta mereka untuk tinggal di sisi lain sungai Indus. Suatu hari Shalewahin menuju Himalaya, dan di sana, di tengah-tengah negeri Hun, raja yang berkuasa itu melihat seseorang yang sangat berbeda sekali sedang duduk di dekat suatu bukit. Berwajah simpatik dan berpakaian putih. Raja Shalewahin bertanya kepadanya, siapakah gerangan orang itu. Dia menjawab dengan lemah lembut: “Saya yang dikenal sebagai anak Tuhan yang lahir dari seorang perawan”. Sang Raja merasa terpesona dengan jawaban ini, kemudian orang suci itu melanjutkan: “Saya mengajarkan agama bangsa Amalekit dan mengikuti prinsip-prinsip kebenaran sejati”. Sang Raja bertanya kepadanya mengenai agamanya dan dia menjawab: “Wahai raja, saya menyeru dari negeri yang jauh, dimana kebenaran tidak bisa tinggal lama, dan kejahatan sudah merajalela tanpa batas. Saya muncul di negeri bangsa Amalekit sebagai Masih. Melalui sayalah orang-orang berdosa dan orang-orang bersalah menderita, dan saya juga menderita di tangan-tangan mereka”. Sang Raja memohon kepadanya untuk menjelaskan perihal ajaran agamanya lebih banyak lagi, dan orang suci itu mengatakan kepadanya: “Mengajarkan cinta-kasih, kebenaran dan kesucian hati. Membimbing manusia untuk mengabdi kepada Tuhan yang menjadi pusatnya matahari dan segala makhluk. Dan Tuhan beserta makhluk itu akan abadi”.

Sang Raja kembali setelah berjanji akan setia kepada orang suci itu.

7 Tanggapan

  1. Wah,hebat saya sependapat dengan anda. Baca juga Jesus in India karya Holger Kersten. Da dijual kok bukunya. Pauluslah yang bertanggungjawab atas semua ini. Dia kaya Amrozi rela mati demi ide. Bedanya setelah dia mati idenya dipercaya miliaran orang dibumi. Film Jesus in India nya Paul Davids da bs dibeli seharga krg lebih 250.000.Bukukan aja idenya bro. Saya dulu Kristen. Saya meninggalkan kristen krn ide konyol keselamatan dgn mengimani wafat& kebangkitan isa. kalo percaya dia mati tebus dosa berarti kekerasan Roma terhadap yesus dibenarkan.Allah pendendam.Amarahnya reda dgn pembunuhan org suci. Dia naik ke surga di atas bukit Zaitun jg aneh. ni kan kepercayaan kuno surga di langit& neraka di bwh bumi. da terbukti dilangit g da pa2.penulis2 PB adalah rekan2 paulus bkn murid perdana Yesus..Ide paulus didukung petrus makanya kuat.petrus yg plin-plan,egonya tinggi tak layak jd pemimpin para rasul. Petrus pst cemburu ma Maria Magdalena pemimpin para rasul.Dukungan konstantin 325M terhadap ide paulus membuat ide lain lenyap dari muka bumi.Yesus jg g mgkn menghalalkan mknan.ni ide paulus agar org di luar yahudi menerima ideny.yesus seorng vegetarian

    • AKU kATHOLIK JAWA tepatnya khatolik ktp karena yang aku lakukan adalah spiritual jawa yang dianggap irasional dan animis yang sering ditertawakan dan dihina sebagai orang-orang yang kafir.
      Memahami Kekristenan ala Paulus atawa yang lain juga diperlukan sesuatu yang lebih dari sekedar rasional tetapi harus memasuki kerangka spiritual sehingga dapat menemukan mutiara spiritual juga. Kisah Kematian dan kebangkitan Yesus ala Paulus-pun pasti memliki dasar dan alasan yang riil. Bila ternyata Yesus memang benar masih hidup setidaknya juga menjadi suatu yang perlu dirahasiakan agar keselamatan Yesuspun dapat lebih terjamin. Atau bisa jadi Paulus memang tidak tahu karena hal itu memang hanya diketahui beberapa orang tertentu salah satunya Thomas. Apapun kenyataannya yang mencoba digali secara logika dan rasional tetap tak akan memenuhi kerangka spiritual sebab bagaimanapun azasnya berbeda. Berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi miliknya.

  2. Yesus yg dimaksud di sini yg mana nih? yudas yg wajahnya dimiripkan dengan Isa? atau Isa

    • Sdr Saya Yth, yang dimaksud disini adalah benar2 Isa Ibnu Maryam yang diangkat nabi oleh Allah SWT, kepada bani Israel untuk mencari domba domba Israel yang hilang, untuk mengajarkan injil dan meneguhkan hukum Taurot yang diajarkan oleh Nabi Musa AS. untuk lebih lengkapnya Sdr Saya bisa mempelajari artikel2 lainnya yang berkaitan dengan Nabi Isa AS, yang juga menjadi Rukun Iman bagi Kaum Muslimin untuk diimani. Terimakasih.

  3. Kabar yang paling kuat dan bisa dipertanggung jawabkan hanya Al Qur’an. Tidak bisa masuk dalam logika saya ketika golongan mencari justifikasi pada cerita rakyat dan sebangsanya. Yang terjadi hanyalah otak-atik gatuk. Orang islam tidak perlu menyibukkan diri membahas apakah Isa masih hidup atau mati, dimana makamnya dsb. Karena nasap kepercayaan orang Islam hanyalah tauhid. Menghukumi Isa mati di kasmir hanyalah cara GAI cs untuk mencari pembenaran tentang HMGA. Maaf jika saya kurang pintar memilih kata-kata.

    • Sdr Susanto Yth, terimakasih telah mengunjungi webblog kami, berkaitan dengan pernyataan sdr dapat kami tanggapi sbb:
      Segala hal yang kami kemukakan tentu bersumber dari Al-Quran dan Hadist, jika sdr membaca kembali dengan teliti kami rasa telah cukup banyak kutipan dari Qur’an dan Hadist yang menjadi dasar kami berpijak dan kami yakin sdr akan sangat setuju dengan kami, bahwa informasi yang bersumber dari buku sejarah, buku antropologi atau buku2 lainnya yang ditulis oleh orang seorang atau para ilmuwan sekedar sebagai pendukung informasi yang telah dikemukakan oleh Qur’an Suci dan Hadist Nabi yang kami tempatkan sebagai dalil utama dalam pembahasan sedangkan hal-hal yang lainnya kami tempatkan pada posisi sekedar memperkaya kazanah ilmu pengetahuan kita, bukan sebagai alat utama yang digunakan sebagai dalil dalam membuktikan suatu pokok permasalahan.

      Berkaitan dengan klaim Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, tentang kematian Nabi Isa AS. dapat dibaca pada artikel2 berikut ini dan kami rasa tidak ada keuntungan apapun yang diharapkan oleh Imam Zaman dari klaim tersebut kecuali agar kaum muslimin kembali kepada petunjuk Al-Quran dan Hadist Rasulullah serta mempersiapkan diri dalam menghadapi gazwul fikr dengan penganut keimanan lainnya yang nyata-nyata memanfaatkan keyakinan-keyakinan yang keliru dari umat ini. Sebagai bahan pertimbangan dapat dibaca pada artikel2 berikut ini:
      1. Mematahkan salib
      2. Integrasi Religi
      3. Imam Mahdi Yang Ditunggu
      4. Al-Masih Al-Mauud Hakiki dan Matsil

      Demikian semoga bermanfaat, terimakasih.

  4. Ini sangat menarik bagi saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: