DARI SALIB KE KASHMIR

 

Kami kutip dari Yahoo! Answers: 
 Yesus berterimakasih kepada Yudas dan Pontius Pilatus?
“Yang ini agak aneh, Ada cerita tentang Yesus, berterimakasih secara khusus kepada Yudas yang telah mengkhianatinya Yesus berkata,”Terimakasih Yudas, berkat koordinasimu dengan pontius pilatus akhirnya Aku, anak Allah yang Tunggal berhasil disalibkan untuk menebus dosa manusia. Kalau saja Kamu tidak memberitahu pilatus, tentu Aku tak jadi disalibkan, karena murid muridKu terkasih tidak ada yang mau menyalibkan Aku. Sampaikan terimakasihku pada pilatus, karena atas kerja kerasnya mencari aku akhirnya anak manusia berhasil disalibkan, dan katakan pada semua orang bahwa mereka harus berterimakasih pada pilatus yang telah ambil peran terbesar dalam kisah penebusan dosa.”

Menurutku cerita ini sangat aneh, karena Yudas adalah penghianat, dan pilatus adalah pembunuh yang melakukan pembunuhan berencana terhadap yesus.
tapi cerita itu pasti bohong. karena tidak mungkin yesus berterimakasih pada murid yang menghianati”

Betapa sulit untuk dipahami konsep penebusan dosa yang menjadi fondasi iman kristen yang telah dirumuskan oleh Bapa-Bapa Gereja, konsep penebusan dosa yang didasarkan pada KEMATIAN YESUS DITIANG SALIB untuk menbus dosa umat manusia, menimbulkan kegoncangan-kegoncangan bagi kaum kristiani, ketika sedikit demi sedikit fakta-fakta yang terkuat dan terbabar semakin kontradiktif, bahkan sebaliknya semakin membuktikan kondisi yang sebaliknya. Benarkah Yesus Wafat di tiang Salib, Benarkah Yesus diutus untuk menebus dosa umat manusia? Pada pembahasan kali ini, kami kutipkan fakta-fakta yang tercecer yang justeru menjadi batu uji yang utama (redaksi)

A. Faber Kaiser

 Pilatus sangat simpati kepada Yesus

 Sebagaimana telah diketahui, Pontius Pilatus, Gubernur Yudea, pada waktu penyaliban, berbantah mengenai hukuman mati terhadap Yesus. Ayat-ayat berikut ini dari Yahya dan Matius yang diikhtisarkan di dalam Bebel mengenai upaya Pilatus mengatakan:

                “Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: Jikalau engkau membebaskan dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar”. (Yahya/Yohanes 10:12).

                “Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya dan berkata: Jangan engkau mencampuri perkara orang yang benar itu, sebab karena dia aku sangat menderita dalam mimpiku tadi malam”. (Matius 27:19).

                “Ketika pilatus melihat bahwa segala usahanya akan sia-sia, maka timbullah huru-hara, kemudian ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: Aku suci dari darah orang yang benar ini; hal itu urusan kamu sendiri” (Matius 27:24).

                Suatu keterangan yang menarik hati tentang kisah Pilatus yang simpati kepada Yesus Kristus ini adalah sebuah surat yang dia tulis untuk Kaisar Tiberius pada tahun 32 Masehi. Surat yang asli itu kini disimpan di Perpustakaan Vatikan di Roma, dan mungkin bisa memperoleh salinan-salinan (copy) surat tersebut pada Perpustakaan Kongres di Washington, Amerika Serikat. Surat itu berbunyi:

                Kepada Kaisar Tiberius:

                “Seorang pemuda muncul di Galilea, dan dengan nama Tuhan Yang telah mengutusnya, ia mengkhotbahkan undang-undang baru dengan penuh kerendahan hati. Pertamakali saya pikir dia berniat untuk menggerakan rakyat agar memberontak bangsa Roma. Segala kecurigaan saya segera lenyap . Yesus dari Nazaret itu banyak berbicara sebagai teman orang-orang Romawi dari pada kawan-kawan bangsa Yahudi lainnya.

                Pada suatu hari saya memperhatikan seorang pemuda di antara kerumunan orang banyak, dia bersandar di bawah pohon dan berbicara dengan tenang sekali kepada orang yang yang mengurumuninya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa orang itu Yesus. Ini jelas, karena perbedaan yang mencolok di antara dia dan orang-orang yang mengerumuninya. Rambut dan janggut yang terurai memberi kesan bahwa dia seorang perwujudan Ilahiyah. Usianya sekitar tigapuluh tahunan; dan sebelumnya saya tak pernah melihat orang yang begitu menyenangkan dan berwajah simpatik. Alangkah jauh bedanya antara dia yang berwajah tulus dengan mereka yang berjanggut hitam yang sedang asyik mendengarkan khutbahnya. Karena saya tak ingin mengganggunya, maka saya melanjutkan perjalanan saya sendiri, namun saya berpesan kepada sekretaris saya untuk bergabung dengan kerumunan itu dan ikut mendengarkan.

                Belakangan, sekretaris saya mengatakan kepada saya bahwa ia belum pernah membaca karya-karya para ahli filsafat yang sebanding dengan ajaran-ajaran Yesus, dan ia tidak pernah memimpin orang-orang ke arah pendurhakaan dan tidak pula menghasut. Oleh karena itu mengapa kami memutuskan untuk melindunginya. Dia bebas berbuat, berbicara dan mengumpulkan orang banyak. Kebebasan yang tak terbatas ini yang menimbulkan kemarahan bangsa Yahudi dengan berangnya, ia tidak pernah menghina kaum miskin tetapi membuat sakit hati orang-orang kaya dan berkuasa.

                Kemudian saya membuat surat untuk Yesus memintanya untuk berbicara di Majelis. Dia datang. Ketika orang Nazaret itu muncul, waktu saya sedang berjalan-jalan di pagi hari, dan ketika saya memandangnya, saya terpukau. Kaki saya seperti terbelenggu rantai besi di lantai marmer; sekujur tubuh saya menggigil bagaikan seseorang yang berbuat dosa, padahal dia tenang sekali. Tanpa bergerak, saya memuji orang yang istimewa ini untuk beberapa saat. Tidak ada yang tidak menyenangkan dari penampilan dan budi-pekertinya. Pada saat kehadirannya saya merasa sungguh-sungguh hormat kepadanya. Saya katakan kepadanya bahwa dia memiliki cahaya gemerlap di sekitarnya, dan kepribadiannya penuh dengan kesederhanaan yang mengagumkan dan membuatnya melebihi para ahli filsafat maupun guru-guru besar di zaman kita. Dia memberikan kesan yang sangat dalam bagi kami semua karena budi-pekertinya yang menyenangkan, sederhana, lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ini semua, paduka yang mulia, segala tingkah laku yang menyangkut pribadi Yesus dari Nazaret, dan saya telah lama ingin memberi tahukan kepada paduka lebih jauh lagi mengenai hal ini. Menurut hemat saya, orang inilah yang mampu merobah air menjadi anggur, menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan kembali orang yang mati dan menenangkan gelombang laut yang gemuruh, dia tidak bersalah dan tidak mempunyai tindakan yang jahat. Sebagaimana orang-orang lain mengatakan, kita harus mengakui, bahwa dia itu benar-benar seorang anak Tuhan.

Hambamu yang setia,

Pontius Pilatus.

 

                                Terbukti Pilatus tidak menginginkan kematian Yesus, tetapi orang-orang Yahudi menyatakan, bahwa Yesus seorang pemberontak yang ingin menjadi raja, kemudian mereka memperingatkan Pilatus bahwa, apabila dia membebaskan Yesus, maka dia sendiri yang akan dinyatakan khianat terhadap Kaisar. Pilatus tidak berani membahayakan pangkatnya yang tinggi itu, dan memang tidak pantas baginya menjadi musuh Kaisar dengan cara apa pun, yang orang-orang Yahudi pasti segera menyatakan itu apabila ia membebaskan Yesus. Kemudian apa yang dia harus perbuat? Berbeda sekali dengan apa yang dikehendaki orang-orang Yahudi, dia hanya memilih satu-satunya jalan untuk melaksanakan hukuman mati tersebut dengan demikian rupa, yakni, Yesus sedapat mungkin harus hidup terus tanpa diketahui oleh para musuhnya. Sehubungan dengan ini, suatu hal yang sangat menarik hati bahwa dia mempersiapkan pelaksanaan penyaliban tersebut yang benar-benar dekat kepada saat mulainya “Hari Sabath”-nya kaum Yahudi, yaitu – Hari Jum’at sebelum matahari terbenam–, dimana menurut undang-undang Yahudi, para penjahat tidak boleh dibiarkan tergantung di kayu salib apabila Hari Sabath mulai tiba. Mengingat hal itu, maka kedua penjahat yang disalib bersama Yesus, mereka masih hidup ketika para prajurit mematahkan kaki-kaki mereka kemudian menurunkannya dari kayu salib., maka tidak mungkin pula pada saat itu Yesus sudah wafat. Juga perlu dicatat, bahwa Yusuf Arimathea, seorang saudagar kaya dan murid Yesus yang tidak kentara, tiba-tiba muncul di tempat penyaliban tersebut, dan, dengan idzin Pilatus, ia mengambil Yesus untuk dibawa ke tempat pemakaman pribadinya.

                Demikian perincian-perincian yang cocok dengan kemungkinan bahwa Yesus masih tetap hidup setelah mengalami ujian berat di atas tiang salib. Sekarang marilah kita periksa lagi bukti-bukti yang lebih mendetail.

Yesus Tidak Wafat Di Kayu Salib

                Di dalam Kitab Ibrani 5:7, Yesus menunjukkan: “Dalam Hidupnya sebagai manusia, …. Ia memanjatkan do’a dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, Yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, ia telah didengarkan”. Ini dapat menuntaskan perkataan, bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib; tetapi untuk memperkuat bukti, kita harus melihat sumber lainnya.

                Pertamakali harus kita renungkan: Yesus tidak lama tergantung di kayu salib, beliau dipaku dan diturunkan pada hari itu juga setelah dilaksanakannya hukuman tersebut, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa si tersalib harus segera diturunkan sebelum Hari Sabath tiba. Sekarang, penyaliban sudah dipastikan bukanlah suatu penyebab kematian yang cepat, tetapi hal itu adalah suatu penyiksaan yang berkepanjangan sampai berhari-hari. Kematian semacam itu bisa terjadi akibat kelaparan, haus, cuaca buruk atau diserang burung-burung pemakan bangkai atau juga diterkam oleh binatang-binatang buas lainnya. Kadang-kadang kematian semacam itu dapat dipercepat dengan mematahkan kaki-kaki si terhukum; dan di waktu-waktu yang lain, pelaksanaan hukuman itu hanya menggantungkan si terhukum di atas kayu salib lalu dianggap selesai dan kemudian si korban itu segera diturunkan kembali dan begitulah dia diperbolehkan hidup lagi. Apabila luka-luka akibat penyaliban itu dirawat dengan seksama, maka luka-luka tersebut bisa sembuh seperti sedia kala.

                Harus diingat! Yesus disalib bersama dua orang penjahat, hal ini dapat kita baca di dalam Injil Lukas 23:30-40, dimana mereka sama-sama menderita seperti Yesus:

                “Salah seorang penjahat yang disalib itu menghujat dia, katanya: Jika engkau Kristus, selamatkanlah dirimu dan kami.

                “Tetapi yang seorang lagi menegur dia, katanya: Tidak takutkah engkau kepada Tuhan, sedangkan engkau mendapat hukuman yang sama?

                Seperti telah dijelaskan, Yesus dan para pencuri itu telah diturunkan dari kayu salib pada waktu yang sama dan pada saat itu pula para pencuri itu masih hidup. Jadi, mereka pun sama-sama mengalami penderitaan seperti halnya yang dialami Yesus; namun ada yang tidak sama karena Yesus nampak sudah wafat, terutama tidak lama setelah beliau “berteriak dengan keras sekali, katanya: “Eli! Eli! Lama sabakhtani! Artinya: “Tuhan! Tuhan! Mengapa Kau tinggalkan daku!”

                Hal lain yang harus diingat bahwa, Bebel memberitahukan kepada kita, ketika Yusuf Arimathea,  mengajukan permohonan kepada Pilatus untuk meminta jasad Yesus, Pilatus, orang yang sangat berpengalaman,  tahu bahwa kematian akibat penyaliban pasti memakan waktu yang cukup lama. “ia merasa heran kalau Yesus ketika itu sudah wafat” (Markus 15:44). Lagi pula, sewaktu seorang prajurit Romawi menombak lambung Yesus dengan  lembing, untuk mengetahui apakah beliau sudah wafat atau belum, “tiba-tiba mengalirlah darah dan air dari luka itu” (Yahya 19:34). Jika Yesus sudah wafat, maka hanya darah kentallah yang pasti keluar dari luka itu. Hal ini erat sekali hubungannya dengan suatu hal yang sangat menarik, yaitu penemuan-penemuan mutakhir tentang Kain Kafan yang ada di Turin yang terkenal itu, dimana tubuh Yesus dibungkus atau dikafani dengan kain itu ketika beliau dibawa ke pemakaman yang berbentuk goa.

Kain Kafan Turin

Sejak tahun 1969, Professor Max Frie, seorang ahli kriminologi yang termasyhur dan menjabat Direktur Laboratorium Kepolisian Zurich, telah memeriksa “Kain Kafan” dari Turin untuk meneliti serbuk-serbuk yang melekat padanya, dan, setelah bertahun-tahun mengadakan penganalisaan secara seksama dan teliti dengan menggunakan peralatan modern mutakhir, akhirnya dapat menemukan gambaran yang mendetail mengenai sejarah dan asal-usul Kain Kafan tersebut. Khususnya dia telah menemukan benih-benih yang sangat kecil yang terdiri dari biji-bijian yang sudah memfosil. Setelah mengadakan pengujian secara teliti, ternyata biji-bijian tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan yang hanya terdapat di Palestina saja sekitar 20 abad yang lampau. Dari hasil penemuan ini dia kini tidak ragu-ragu lagi akan keaslian Kain Kafan tersebut yang juga kain itu membawa bekas biji-bijian dari tumbuhan-tumbuhan di daerah sekitar Constantinople dan Laut Tengah. Biji-bijian yang terdiri dari limabelas macam tumbuh-tumbuhan yang berlainan telah ditemukan juga di Kain Kafan itu, yakni, enam berasal dari daerah Palestina, satu dari daerah Constantinople, sedangkan yang delapan macam lagi berasal dari daerah sekitar Laut Tengah.

                Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut yang dimulai tahun 1969 dan atas perintah Gereja, dicatat oleh suatu press telah disebarkan permulaan tahun 1976 mengatakan:

                “Setelah diadakan penelitian selama tujuh tahun mengenai Kain Kafan yang membungkus tubuh (Kristus), banyak para sarjana mendapat kesimpulan bahwa Yesus telah dibawa ke makam dalam keadaan masih hidup. Para ahli menguatkan pernyataan itu, bahwa Kain Kafan Suci yang disimpan di Turin tersebut diselimutkan ke tubuh orang yang disalib, yakni, yang menderita itu sungguh sama seperti apa yang diderita oleh Yesus, tetapi dinyatakan bahwa, orang yang disalib itu tidak mati di kayu salib, melainkan dikemakamkan sewaktu ia masih hidup. Duapuluh delapan noda darah di kain itu membuktikan hal ini. Para peneliti tersebut meyakinkan kita bahwa mayat yang dibungkus kain kafan pasti tak akan mengalirkan darah semacam itu. Yesus dikemakamkan dalam keadaan masih hidup, jika tidak, maka pasti ada Yesus yang kedua dan ia telah sama-sama menderita menghadapi sakaratul-maut”.

                 Mengenai  catatan-catatan Kain Kafan Turin tersebut kembali ke abad sembilan, ketika itu berada di Yerusalem. Pada abad keduabelas ada di Constatinople, dan pada tahun 1474, setelah dalam waktu yang singkat ada di Belgia, kain itu menjadi milik Rumah Keselamatan. Kain itu pernah rusak terbakar pada tahun 1532 dan tiga tahun kemudian dipindahkan ke Turin. Dari tahun 1536 sampai 1578 dipindahkan ke Vercelli, lalu ke Milan, lalu ke Nice dan kembali lagi ke Vercelli, kemudian ke Chambrey, kemudian dikembalikan lagi ke Turin pada tahun 1706 (yang selama tahun itu kain tersebut pernah dipindahkan ke Jenewa dalam waktu yang tidak lama). Pada tahun 1946, Hubert II dari Bala Keselamatan mempercayakan Kain Kafan itu kepada Uskup di Turin untuk dirawat, tetapi tanpa diserahkan dengan baik kepada si pemilik Kain itu.

                Foto-foto pertama dari Kain Kafan itu diperoleh pada tahun 1898. Foto-foto resminya telah diambil oleh G. Enrie pada tahun 1931 ketika penelaahan kain itu dimulai.

                Ukuran Kain Kafan tersebut adalah: Lebar 3 kaki 7 inchi (110 cm) dan panjang 14 kaki 3 inchi (436 cm). Menurut pendapat Mr. Ricci, seorang ahli tehnik di Vatikan, tapak tubuh yang membekas di Kain Kafan tersebut menunjukkan tubuh yang berukuran tinggi 5 kaki 4 inchi (162 cm). Namun Proffesor Lorenzo Ferri, seorang ahli pemahat patung dari Roma, telah mengukur panjang tubuh yang diselimuti kain itu yaitu hampir 6 kaki 2 inchi (187 cm).

                Pada tahun 1957, buku Kurt Berna yang berjudul “Jesus nicht am Kreuz gestorben” (Yesus tidak wafat di kayu salib) muncul. Berna adalah seorang Katolik dan Sekretaris Institut Jerman di Stuttgart, yang sejak beredarnya foto-foto G. Enrie, telah mempelajari Kain Kafan tersebut secara intensif. Hasil-hasil penelaahan itu telah disebar-luaskan oleh Berna sendiri dalam bentuk dua buku, yakni: “Das Linen” (Kain Kafan) dan “Jesus nicht am kreuz gestorben”. Buku-buku tersebut, khususnya yang kedua, pada waktu penyebarannya telah menggemparkan dan menjadi ajang pertentangan yang sungguh hebat.

                Pada tanggal  26 Februari 1959, Berna menulis sepucuk surat kepada Paus John XXIII memohon kepadanya untuk membentuk suatu panitia para dokter untuk menyelidiki Kain Kafan tersebut, dan tujuannya adalah untuk mengakhiri pertentangan mengenai persoalan tersebut.

                Permohonan pertama ditolak, langsung melalui utusan Paus di Jerman; tetapi pada tahun 1969, Vatikan membentuk panitia yang hasilnya telah kita lihat di muka tadi, yang pada kesimpulannya adalah sama seperti apa yang dikehendaki oleh Berna. Berikut ini adalah surat Berna kepada Paus John:

                Paduka yang mulia,

                     Dua tahun yang lalu, Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman telah mempersembahkan hasil-hasil penelaahan Kain Kafan yang disimpan di Turin kepada Paduka dan masyarakat luas.

                     Selama duapupuh empat bulan yang lalu itu, para ahli yang berbeda dari berbagai Universitas di Jerman telah berusaha untuk tidak membenarkan penemuan-penemuan yang luar biasa itu, tetapi mereka gagal. Walaupun begitu, mereka berdalih bahwa ilmu pengetahuan mereka memungkinkan mereka dengan mudah untuk tidak membenarkan kesimpulan-kesimpulan kami, namun akhirnya mereka mengakui kalah dan sekarang mereka mengakui kembali dan bahkan menyetujui sahnya penelaahan ini; dan memang hal ini penting sekali bagi kedua agama, yakni Yahudi dan Kristen. Kirangan sangat berlebihan dan tidak pada tempatnya di sini untuk menyebutkan berapa banyak komentar-komentar yang timbul di berbagai media massa internasional.

                     Karena tak seorang pun dapat mengingkari dengan yakin akan hasil-hasil penelitian tersebut, maka Lembaga yakin bahwa penemuan-penemuan tersebut akan menimbulkan tantangan terbuka bagi seluruh dunia.

                    Telah terbukti dengan meyakinkan, bahwa Yesus Kristus telah dibaringkan di Kain Kafan itu, setelah penyaliban dan pencabutan mahkota duri.

                     Penelaahan-penelaahan telah menetapkan dengan begitu pasti bahwa tubuh orang yang disalib itu telah diselimuti dengan kain itu dan dibiarkan beberapa saat lamanya. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, telah terbukti bahwa tubuh yang dibaringkan di Kain Kafan itu tidak mati karena jantungnya masih tetap berdenyut. Bekas-bekas darah mengalir, keadaan ini dan secara alami, memberikan bukti ilmiah bahwa apa yang dinamakan hukuman mati itu benar-benar tidak sempurna.

                     Penemuan ini menggambarkan, bahwa apa yang diajarkan Kristen masa kini maupun yang dahulu tidaklah benar.

                     Paduka, ini adalah kesaksian ilmu pengetahuan. Tak dapat diingkari, bahwa penelaahan Kain Kafan Suci sekarang ini sangat penting sekali artinya, karena melibatkan ilmu pengetahuan (science) dan bukti sejarah.

                     Foto-foto Kain Kafan Suci yang telah dipersiapkan pada tahun 1931 dengan izin Paus Pius XI yang tegas, menambah lengkapnya perbendaha-raan untuk membuktikan benar tidaknya hasil-hasil penelaahan saat ini. Untuk membuktikan bila hal itu tidak benar, maka di sini penting sekali mengemukakan pengujian-pengujian berikut ini:

                a).  menggunakan percobaan kimia modern (yang dianalisa oleh miscroscope dan dengan penelaahan-penelaahan semacam itu) pada bekas-bekas darah yang menetes yang terdapat di Kain Kafan Suci tersebut yang dihasilkan oleh hentakan-hentakan jantung yang masih tetap berdenyut.

                b).   pengujian menggunakan sinar “X” dan sinar infra merah serta sinar ultra-violet maupun dengan menggunakan metode-metode modern lainnya.

                c).  didata dengan peralatan jam atom dan metode karbon 14. Untuk menganalisa kain kafan dengan tepat, hanya diperlukan 300 gram. Ini tak akan merusak Kain Kafan Suci, ia hanya memerlukan carikan 2 cm saja lebarnya dari sisi kain itu, yang panjang kain itu 4,36 meter. Dengan cara ini, bagian-bagian penting dari kain itu tidak akan rusak seluruhnya.

      Tak ada seorang Kristen pun di dunia ini, kecuali Paduka tentunya sebagai seorang Paus Gereja, yang dapat mengurus barang pusaka suci itu. Hasil-hasil penelaahan Lembaga dan perwakilan-perwakilan lain yang hanya dapat menolak, apabila pengujian-pengujian ilmu pengetahuan diselenggarakan. Saya tidak mengerti, mengapa Gereja tidak mau memberi izin terhadap penelaahan-penelaah Kain Kafan Suci itu. Saya tidak percaya bahwa hal itu akan menyebabkan Gereja merasa takut: Mengapa harus begitu? Lembaga pun tidak perlu merasa takut, sebab hal itu mengemukakan penelaahan-penelaahan yang tulus dan suci, ia menggunakan metode-metode yang berlaku. Dengan keyakinan penuh, kami dapat menyatakan bahwa tak seorang pun bahkan di dunia ini yang tidak dapat membenarkan penemuan-penemuan itu, yang menimbulkan tantangan terbuka pada Lembaga.

     Sebagaimana telah digambarkan, hanya dengan menunjukkan benar atau tidaknya fakta-fakta dan analisa-analisa ilmu pengetahuan saja yang dapat melengkapi hasil-hasil yang diharapkan.

     Mengingat penelaahan yang luar biasa ini, kami dengan rendah hati memohon kepada Paduka untuk memberikan perhatiannya, dengan demikian Gereja dapat membawa perkara itu kepada suatu kesimpulan. Sejumlah para pengikut Gereja dan masyarakat lain mereka siap untuk menjawab panggilan apabila Gereja berkenan.

     Atas nama Lembaga Penelitian Kain Kafan Suci Jerman dan rekan-rekan yang berkepentingan dalam penelitian ini, kami, sebagai penganut Katolik Roma, dengan ini memohon kepada Paduka untuk memberikan izin hal tersebut karena pentingnya bukti-bukti yang mungkin bisa diperoleh.

                                                                 Salam takzim pada Paduka. 

                                                                Kurt Berna,

                                                                Penulis dan Sekretaris Katolik

                                                                Urusan Lembaga Penelitian Jerman.

 

                Sebelum mendiskusikan kehidupan Yesus setelah lukanya sembuh akibat penyaliban, saya akan menggaris-bawahi satu pandangan dari kesimpulan yang dicapai oleh Berna di dalam bukunya tersebut.

                Berna mengatakan, analisa kain kafan tersebut meunjukkan bahwa, kepala dan tangan Yesus diletakkan lebih tinggi dari pada letak badannya. Andaikata Yesus telah wafat ketika dibungkus kain kafan tersebut, maka ini berarti tidak mungkin ada darah segar yang mengalir pada bagian-bagian tersebut yang meninggalkan bekas pada kain kafan itu. Oleh karenanya, Berna mempertahankan pendiriannya, bahwa kain itu meninggalkan bekas-bekas darah yang mengalir dari luka-luka yang disebabkan mahkota duri yang dipasang oleh orang-orang Romawi di seputar kepala Yesus, yang mencemoohkan sebagai “Raja Yahudi”, kemudian suatu ketika tubuh itu diturunkan dari kayu salib dan “mahkota” itu pun dicopot, maka luka-luka yang disebabkan oleh duri-duri tersebut mulai berdarah. Apabila Yesus telah wafat saat itu, maka semua darah pasti membeku di bagian bawah badannya. Sudah merupakan hukum alam, asalkan jantung terus-menerus memompa, maka darah pun akan terus beredar bahkan sekalipun dalam keadaan hampa udara. Apabila saat itu jantung berhenti berdenyut, maka darah pun akan berhenti beredar dan akan mulai kembali ke urat-urat, pembuluh-pembuluh darah di permukaan kulit akan segera mengering, dan rupa pucat kematian pun akan nampak di tubuh. Jadi, darah segar pasti tak akan mengalir dari luka-luka di kepala Yesus jika jantungnya berhenti berdenyut, ini adalah bukti medis, bahwa Yesus tidak wafat ketika beliau dibungkus kain kafan itu. Mungkin beliau tidak bernafas dan nampaknya seperti mati; tetapi bilamana jantung tetap berdenyut, dalam keadaan demikian ini, seseorang bisa hidup kembali dengan perawatan medis yang intensif.

                Garis tipis pada kain kafan tersebut menunjukkan darah yang berasal dari luka tangan yang dipaku mengalir sepanjang lengan kanan ketika paku itu dicabut. Terlihat, bahwa darah itu segar dan membasahi kain kafan itu, ini menambah lengkapnya bukti, bahwa jantung Yesus masih tetap aktif ketika beliau diturunkan dari kayu salib.

                Kain Kafan itu juga menambah lengkapnya bukti dimana tombak yang digunakan prajurit Romawi untuk menguji apakah Yesus sudah wafat atau belum, ia menancap dan jatuh dari tubuh beliau. Bekas-bekas darah menunjukkan, bahwa tombak menembus dada sebelah kanan, di antara tulang rusuk yang kelima dan keenam dan menerobos ke sebelah atas lengan kiri dan membuat sudut 20 derajat. Oleh sebab itu, tombak tersebut lewat dekat jantung tetapi tidak melukainya, “darah dan air” yang dinyatakan dalam Injil Yahya (19:34) memberikan bukti kepada kita, bahwa darah itu mengalir dari luka dan bukan dari jantung. Ini menunjukkan bahwa jantung masih tetap berdenyut sekalipun lemah, dan karenanya Yesus masih tetap hidup.

                Namun Paulus mencatat dan menjadikan doktrin, bahwa Yesus mati disalib dan kemudian bangkit kembali, dan doktrin inilah yang diperkuat oleh Gereja Kristen. Oleh sebab inilah, hasil-hasil penelitian Kain Kafan Turin membuat Gereja dalam keadaan serba sulit, dan akibatnya pada tanggal 30 Juni 1960, Paus John XXII mengeluarkan maklumat yang dicetak koran Vatikan: “L’Osservatore Romano” pada tanggal 2 Juli, dengan judul: “Keselamatan Sempurna Tubuh Yesus Kristus”. Dalam hal ini Paus menyatakan kepada para Uskup Katolik yang mengakui dan menyebarkan berita-berita ini, bahwa keselamatan sempurna umat manusia adalah akibat langsung dari darah Yesus Kristus, dan kematiannya akhirnya tidaklah dianggap penting.

Yesus Masih Hidup Ketika Beliau Meninggalkan Makam

                 Setelah Yesus diturunkan dari kayu salib, sederetan peristiwa menjadi petunjuk, bahwa beliau menerima perawatan dan meninggalkan makam dalam keadaan hidup. Kita telah mencatat mengenai kesimpatian Pilatus terhadap Yesus, dan Yesus diberikan bukan kepada musuhnya tetapi kepada sahabatnya. Menurut Yahya 19:38 mengatakan:

 “Kemudian dari pada itu Yusuf, orang Arimatea (seorang murid Yesus juga, tetapi bersembunyi, oleh sebab takutnya akan orang Yahudi), minta izin kepada Pilatus akan menurunkan badan Yesus; maka Pilatus pun mengizinkan. Lalu pergilah ia dan membawa tubuh Yesus.

 “Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira limapuluh kati beratnya”.

                Bertentangan dengan adat-istiadat bangsa Yahudi, Yesus tidak dibaringkan dan dikubur di tanah, tetapi dibaringkan di sebuah makam yang luas yang pintu masuknya ditutup sebuah batu besar, dan di dalam ruangannya, udara cukup yang memungkinkan bisa bernafas leluasa. Agar bisa meninggalkan makam itu, Yesus menggeser pintu-batu yang menutup makam itu ke samping. Ini menunjukkan bahwa beliau meninggalkan tempat itu dengan badan wadagnya dan bukan ruhnya saja, karena ruh itu tidak perlu menggeser atau memindahkan benda wadag. Begitu pula, fakta yang telah kita bicarakan, bahwa beliau berjalan terus ke Galilea mendahului para muridnya berupa perjalanan seorang manusia. Di bawah ini adalah pernyataan yang dikemukakan oleh Injil Markus 15:46-47, 16:1-7:

 “Maka Yusuf Arimatea pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan jasad Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.

 “Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus melihat di mana Yesus dibaringkan.

 “Setelah lewat hari Sabath, Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

 “Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

“Mereka berkata seorang kepada yang lain: Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?

 “Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.

 “Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk disebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka:

 “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan dia.

 “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridnya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat dia, seperti yang sudah dikatakannya kepada kamu”.

                 Keterangan yang menyatakan bahwa tiga perempuan masuk ke dalam makam, ini menunjukkan, betapa luas makam itu.

                Kembali kepada kisah dari Yahya yang telah dikutip di muka, ini harus dicatat, bahwa hal itu berisi suatu pernyataan yaitu: Nicodemus bisa jadi seorang yang merawat luka-luka Yesus, dan dia merawat luka-luka tersebut dengan salep khusus. Sejumlah pengobatan bangsa Timur menunjukkan pada jenis salep ini yang disebut “Marham-i-Isa” (“Salep Yesus”) atau “Marham-i-Rasul” (Salep Nabi”). Yang paling termasyhur dari semua ini adalah “Qanun” Shaikh-ul-Rais Bu Ali Sina (yang di Barat pada umumnya dikenal sebagai “Canon of Avicenna”). Di antara karya-karya lainnya adalah “Quarabadin-i-Rumi, yang telah disusun sekitar waktu Yesus masih ada, dan belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

                Kesimpulan, ini penting sekali untuk dicatat, bahwa sebagaimana Mircea Eliade di dalam bukunya “Le Mythe du retour eternel” (Paris, 1951) mengemukakan, dua jenis mantera rakyat yang berlaku di Inggris pada abad enambelas dan digunakan

ketika pohon sage  1 dan pohon verbena   2 hampir dipanen, karena jenis tumbuh-tumbuhan ini memiliki keistimewaan tersendiri yang pertamakali tumbuh di Calvary (daerah sekitar Yerusalem, penj.) dan pernah menolong menyembuhkan luka-luka Yesus. Jadi inilah jenis tumbuh-tumbuhan yang dimaksudkan dan dapat menyembuhkan dengan efektif orang-orang pada zaman abad tersebut. Mantera-matera itu mungkin dimaksudkan untuk melepaskan kekuatan-kekuatan daya sembuh tumbuh-tumbuhan itu dengan memberikan pengakuan yang sebenarnya kepada nenek moyang mereka.

3 Tanggapan

  1. ahhh..keliatannya dan pastinya tulisan ini mengada-ngada saja. tolong baca lagi lahg Alkitab dengan lebih teliti. coba baca berulang ulang, jangan sepenggal-penggal. masih terlalu banyak yang tidak anda ketahui tentang misteri iman Katolik.
    Tuhan Yesus memberkatimu sekalian.

  2. Judulnya studi islam, kok bahasnya agama lain. Saya berharap menemukan sesuatu yang berguna menambah pengetahuan keagamaan saya di sini daripada sekedar mencari kelemahan2 agama lain.

    • Sdr Khalya Yth, terimakasih atas keunjungannya di webblog kami, mengenai materi yang ada pada blog ini kami memandang perlu adanya studi perbandingan antara suatu keyakinan dengan keyakinan lain dengan cara yang ilmiah dan cerdas berdasarkan sumber2 yang dapat dipercaya dengan harapan dapat menambah wawasan keilmuan dan keimanan kita sehingga keimanan kita benar2 keimanan yang telah teruji dari berbagai aspek. Kami sama sekali tidak dalam posisi mencari-cari kelemahan2 dari agama2 tertentu, akan tetapi sekedar menunjukkan dalil dan bukti-bukti yang telah ada. Demikian sedikit tanggapan kami, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: