TATA DUNIA BARU (the new world order)

TATA DUNIA BARU (The New World Order)

Oleh Maulana Muhammad, Ali MA. LLB.

Materialisme yang menyingkirkan paham keagamaan menimbulkan perlawanan dari kutub ekstrim radikalisme, keduanya membawa akibat yang sama yakni kehancuran secara sistematis peradaban yang telah dibangun oleh Islam dengan nilai-nilai kemanusiaan untuk mencapai peradaban sebagaimana diamanatkan Ilahi.  Hari ini kita saksikan betapa pergulatan yang sengit dari keduanya tetap berlangsung dan hanya hanya satu jawaban untuk menuntaskannya yakni kembali kepada Al-Quran dan As-sunah Rasulullah Muhammad saw dalam membangun peradaban. Tulisan ini dibuat pada sekitar tahun 40 an, meskipun sudah cukup tua namun esensi pemikiran yang dikemukakan tetap up to date sebagai bahan pemikiran akan arah tatanan dunia yang hingga kini belum disepakati oleh banyak negarawan dan politisi. Bahwasannya landasan abadi suatu negara mesti dibangun diatas moral kemanusiaan dan kekuatan  iman kepada Tuhan, hanya dengan jalan demikianlah maka negara dan bangsa dapat saling hidup secara damai dan tenteram.

Kemanusiaan hari ini berhadap-hadapan dengan bencana  besar  dan krisis hebat yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kehancuran akibat Perang Dunia Pertama masih segar dalam ingatan generasi sekarang, ketika dalam tenggat waktu dua puluh tahun, kita dapati neraka benar-benar berkobar di muka bumi dari ujung ke ujung dalam bentuk Perang Dunia Kedua. Dan karena belum ada sedikitpun tanda-tanda padamnya kobaran itu sekarang ini, maka sudah ada bisikan tentang datangnya Perang Dunia Ketiga; dan siapa tahu kunjungan yang keempat atau kelima, masing-masing lebih menakutkan daripada pendahulunya, yang masih tersimpan di dunia ini!

Apakah hal ini adalah tanah garapan bagi manusia untuk bisa memberikan kelahiran kepada tata dunia baru yang lebih baik? Apakah hal yang semacam ini harapan dari setiap orang yang mempunyai keimanan kepada kebijaksanaan Tuhan; bahkan seorang yang tidak percaya kepada Tuhanpun bisa melihat bahwa dalam bencana yang menakutkan ini ada tanda-tanda Utusan yang membawa revolusi yang luar-biasa besar. Tetapi, sebagai fakta nyata, hal ini semua terjadi seperti yang akan ditunjukkan nanti, adalah sesuai dengan rencana Ilahi yang cermat dan diperhitungkan untuk membawa manusia selangkah demi selangkah menuju ke arah tujuan kesempurnaannya.

Seruan bagi terciptanya Tata Dunia Baru adalah universal, terutama didunia Barat yang hingga kini terkesan bahwa kemajuan material dan penaklukan alam yang membabi-buta telah mencapai puncak tertinggi kesempurnaan. Hal ini telah menghasilkan kejutan hebat berupa berbagai peristiwa yang terjadi selama tigapuluh tahun belakangan. Kemajuan material, yang dipercaya menjadi sumber kebahagiaan tertinggi bagi umat manusia, telah mengusung yang sebaliknya, yaitu berupa kesedihan yang tak terkatakan dan kehancuran yang luar biasa. Dunia nyaris dalam keadaan yang kacau balau, setiap bangsa yang lemah menjadi kurban tirani dari bangsa yang lebih kuasa serta maju. Rasa benar dan salah dalam hubungan internasional seluruhnya telah lenyap dihadapan nafsu keserakahan nasional, dan mentalitas ini telah menguasai dunia dari ujung ke ujung. Kekuasan adalah kebenaran dihari ini seperti ketika kita dahulu dalam keadaan liar. Dunia tidak menemukan dirinya dalam ketinggian kesempurnaan akibat kemajuan material yang besar ini, melainkan menemukan dirinya di jurang terdalam degradasi, sama persis tempatnya dengan ribuan tahun yang lalu, yakni pada tahap peradaban bunuh dan hancurkan.

Nafsu mementingkan diri sendiri, mengabaikan hak-hak orang lain, tidak mempunyai tanggung-jawab moral, menindas yang lemah, begitu merajalela – mungkin lebih parah lagi – pada puncak peradaban; sama seperti ketika mereka dalam keadaan liar; mereka hanya memakai baju yang berbeda. Mementingkan diri sendiri dikutuk sepanjang itu merupakan penyakit dari satu atau dua orang, tetapi ketika hal itu menjadi wabah dan mempengaruhi seluruh bangsa, maka hal ini dipuji sebagai suatu pencapaian yang besar dari suatu bangsa. Seseorang bisa merasa aman dalam batas wilayah tertentu, tetapi seluruh negeri tidak terjamin keamanannya dan bisa jadi setiap saat dikuasai oleh bangsa yang mempunyai kelebihan dan kekuatan  mesin perang. Tiran mungkin tidak diperkenankan dalam batas suatu negara, tetapi tak satupun yang bisa mengontrol tirani dari satu bangsa terhadap bangsa lainnya. Suatu sistim sosial tertentu bisa jadi berhasil dalam menahan keserakahan seseorang, tetapi tak satupun yang bisa menahan keserakahan suatu bangsa kecuali oleh keserakahan negara lain yang lebih kuat. Kejahatan dianggap sebagai sifat mulia kalau dibungkus dalam jubah nasionalisme. Kemanusiaan dibagi kedalam ras dan bangsa-bangsa saling membenci; dalam berbaris menuju kemajuan dan demi nafsunya untuk kesenangan materi yang lebih dan lebih lagi serta kekayaan dan kekuasaan duniawi, mereka menuju kepada kehancuran satu sama lain, tanpa ikatan moral apapun. Peradaban materialistis dari Barat yang mencitakan kepemilikan kekayaan sebagai tujuan tertinggi dalam kehidupan, seluruhnya bertanggung-jawab kepada keadaan anarkis dari segala hal yang meruyak disana.

Jelaslah bahwa materialisme yang mengipas api keserakahan manusia akan membawa ke jurusan kehancuran dan kesengsaraan, seperti yang telah bawa oleh kedua perang dunia, bila tak ada kekuatan yang mempersatukan ras umat manusia. Kekuatan semacam ini hanyalah kekuatan ruhani. Di dunia  Barat yang maju materinya, sebagai pusat getaran gempa seismik yang mengguncangkan seluruh dunia, kekuatan moral semacam itu tidak ada. Agama Kristen yang menyediakan kekuatan semacam itu sejak berabad-abad akhirnya benar-benar dikalahkan sebelum datangnya kekuatan materialisme;. di Rusia pijakannya demikian lemah untuk menahan gelombang kemajuan ateisme; di Jerman pun demikian, Naziisme tidak memiliki sedikitpun penghormatan kepada agama Kristen. Di banyak Negara Eropa lainnya, dimana agama itu masih hidup, dia hanya tinggal namanya saja, tidak sebagai kekuatan yang vital. Agama hanya dikenal sebagai urusan pribadi, dan rakyat merasa malu untuk membicarakannya dimasyarakat. Nama Tuhan tinggal di bibir saja, dan para politisi, bukannya berbakti kepada-Nya, tetapi meminta pelayanan-Nya dalam beberapa bencana nasional atau demi kejayaan dalam peperangan. Tuhan lebih dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan materi, dan berfungsi untuk tujuan politik daripada untuk mendatangkan ketenteraman batin – sebagai budak materialisme, bukan sebagai kekuatan spiritual, untuk mengendalikan kecenderungan jahat dari materialisme yang terbukti telah menghancurkan dunia. Eropa praktis telah mengharamkan Tuhan dari ranah pemikirannya, dan sebagai akibatnya Tuhan pun mengharamkan perdamaian dan ketertiban di tanah Eropa.

Bisa dikatakan bahwa Eropa masih condong untuk menarik dunia kepada agama Kristen; dia mengirim missi dan membelanjakan uang yang luar-biasa jumlahnya di Asia dan Afrika serta bagian lain didunia demi tujuannya ini. Apakah ini menunjukkan bahwa Eropa percaya kepada kekuatan spiritual dari agama Kristen?  Tidak. Jika Eropa memiliki  iman kepada nilai ruhani dari agama Kristen, pasti dia akan berusaha pertama-tama untuk menyelamatkan Rusia. Eropa hanya percaya kepada nilai materialistis dari agama Kristen, dan oleh karena  itu pekabaran Kristen hanya dianggap cocok bagi rakyat yang terbelakang materialnya di Timur, bagi kasta paria di India, bagi suku-suku Negro yang liar atau bagi massa Cina yang terbelakang. Jadi adalah materialisme yang gentayangan di Timur berselimutkan jubah Kristen. Tidak ada keinginan dalam mengajarkan ke Timur suatu agama yang terbukti telah gagal total secara spiritual di negeri Barat sendiri. Agama Kristen tidak dapat menyelamatkan Eropa yang sekarang dalam cengkeraman materialisme dan yang terbakar bak neraka dari ujung ke ujung; adalah naif mengira bahwa dia akan bisa merubah Asia menjadi surga. Kegagalan telah ditulis besar-besar di jidat Kekristenan; kekuatannya yang bergerak mundur mencoba peruntungannya ke Timur dengan pekabaran peningkatan ekonomi, yang tidak diikuti dengan manfaat ruhani.

Jika agama Kristen punya sisa-sisa kekuatan spiritual setelah kekalahannya di tangan materialisme, mengapa dia tidak berusaha mengkristenkan Rusia yang ateis, yang racun tidak bertuhannya mempengaruhi seluruh dunia, bahkan  sebagai gantinya mengirim penginjil ke Timur dimana kepercayaan kepada Tuhan masih ada dengan vitalitas yang lebih besar dibanding Eropa dan Amerika? Eropa membela dirinya terhadap Komunis Rusia, tetapi ini karena pengaruh kepentingan materialnya juga dan karena ini menjadi ancaman terhadap Kapitalisme Eropa yang menjadi batu landasan Imperialisme Eropa. Jika utusan Bolsewik keluar hanya untuk mengajarkan bahwa tuhan itu tidak ada dan tidak mengutak-atik Kapitalisme serta Imperialisme Eropa, pasti dia tak akan menggerakkan bahkan jari kelingkingnya pun terhadap mereka.

Kegagalan agama Kristen dalam menjaga api iman yang menyala dalam hati manusia terhadap gelombang materialisme karena dua sebab. Di awal  pertama, agama Kristen – bukan keimanan sederhana dari Yesus Kristus melainkan seperti yang diwakili oleh Gereja – adalah berdasarkan dogma yang tidak masuk akal manusia. Sepanjang Eropa tenggelam dalam kejahilan, dia cukup puas dengan deklarasi Gereja yang berwenang – Percaya dan jangan bertanya!. Dengan majunya ilmu pengetahuan di segenap cabang kehidupan, jelas bahwa pegangan terhadap suatu agama yang berdasarkan doktrin yang menolak akal akan melonggar. Sesungguhnya bentrokan pertama Kekristenan adalah dengan ilmu pengetahuan. Setiap penemuan baru dalam ranah ilmu pengetahuan dipandang oleh Gereja sebagai kemurtadan, karena semangatnya seirama dengan kejahilan dan bukannya dengan pelajaran. Bukan karena agama Kristen, melainkan karena meninggalkan agama Kristen, maka penelitian ilmu pengetahuan mendapatkan pijakannya di Eropa. Gereja berusaha untuk menekan penemuan ilmiah dengan segala daya di bawah perintahnya tetapi setiap kali menderita kekalahan. Kemudian datanglah tahap dimana, bertentangan dengan semua tradisi sebelumnya dari Kekristenan, akal sehat mulai diterapkan terhadap doktrin Gereja; semua doktrin dasar – ketuhanan Yesus, penyaliban, penebusan dosa, Ekaristi – ketika diusung di bawah sorotan cahaya penelitian akal sehat, didapati hanya berdasarkan mitos bangsa-bangsa kuno penyembah berhala. Kekristenan adalah satu-satunya agama yang dikenal Eropa, dan Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan, dan bila ini gagal dalam memuaskan fikiran yang maju, agama dan Tuhan bersama-sama pergi dari otak dari mereka.

Alasan lain atas kegagalan agama Kristen adalah bahwa ini hanyalah kredo yang berkaitan dengan keselamatan diakhirat. Ini bukanlah sistim atau tatanan yang bersangkut-paut dengan kehidupan ini; semua perhatian yang dipetiknya adalah mengenai pertanyaan diluar dunia.  Tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan ada pandangan hidup umum yang progresif, dimana semangat agama Kristen menentangnya. Dua masalah besar dalam kehidupan ini, perkara kekayaan dan seks, seperti yang diterima oleh generasi Kristen, tidak bisa memuaskan fikiran yang maju. Tidak saja agama Kristen tidak  memberi pemecahan suatupun terhadap pertanyaan baru yang timbul dengan berderapnya peradaban, dia juga menentang semua perubahan dalam perkara ini, dan karena itu fikiran manusia berbalik dengan penentangan terhadapnya. Dan karena pegangan agama dalam fikiran manusia menjadi longgar, materialisme tinggal sebagai tuan tunggal dalam lapangan kehidupan.

Jadi kekuatan perekat dari agama telah lenyap dari Eropa, dan pandangan sebelah mata atas perkembangan peradabannya, pertumbuhan materialisme yang tanpa kendali, kebencian dan penguasaan kekuatan politik, yang telah  membawa kehancuran dan kerusakan kepada kemanusiaan. Karena itu, permintaan pertama dari Tata Dunia Baru adalah, ini harus berdasarkan kekuatan ruhani yang hanya dapat disediakan oleh agama saja. Bila dasar-dasarnya tidak mendalam serta terpercaya, maka struktur atas dari Tata Dunia Baru ini akan pecah berkeping-keping. Inilah yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Perang Dunia Pertama bergolak selama lebih dari empat tahun, mendatangkan kehancuran dan kematian atas penduduk kota-kota besar dan kecil, merubah tanah subur menjadi tandus tersia-sia, membunuh ratusan atau ribuan pemuda yang sehat, melumpuhkan sejumlah manusia yang telah dewasa, menghancurkan kebahagiaan jutaan rumah tangga, dan mencemplungkan bagian yang sangat besar dari umat manusia ke dalam kesengsaraan dan penderitaan. Akhir dari peperangan kelihatannya membenarkan semua pengurbanan ini. Agresor dikalahkan, dan demokrasi memperoleh kemenangan total. Diundang bersama-sama pakar terbaik dari negara-negara yang menang dan dikumpulkan dalam konferensi Internasional yang besar dan dengan demikian diletakkan landasan bagi suatu Tata Dunia Baru. Peta Eropa digambar ulang. Wilayah baru diikat dalam demarkasi. Agresor yang ditaklukkan dipecah-pecah menjadi kecil sehingga mereka tak bisa lagi memperoleh kekuatannya kembali untuk mengangkat kepala. Liga Bangsa-bangsa diciptakan untuk memberi Orde ini sebagai dukungan moral. Inilah Tata Dunia Baru nomor satu.

Di manakah Orde itu sekarang ini? Dia segera pecah berkeping-keping sepuluh tahun setelah penciptaannya, dan sepuluh tahun berikutnya mencemplungkan dunia kedalam kobaran api yang lebih menakutkan dibanding yang pertama. Semua kerja keras yang dijalani kemanusiaan telah berakhir menjadi asap. Mengapa? Karena Tata Dunia Baru ini tidak memiliki landasan moral. Orang-orang terkemuka yang berkumpul dalam konferensi tidak memberikan pemikiran kepada penyakit sebenarnya dari kemanusiaan. Mereka mengira bahwa penaklukan suatu negara oleh yang lain adalah obat mencegah agresi di masa depan. Tidak mungkin, dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Mereka tidak berbuat apa-apa untuk mengikis rasa saling membenci di antara fihak-fihak yang berperang. Mereka tidak berbuat sesuatu untuk mengadakan perubahan di hati, baik bagi penakluk maupun yang ditaklukkan. Mereka sedikitpun tidak menaruh perhatian atas kenyataan bahwa usulan perdamaian mereka itu hanya memberi pencetus kepada keserakahan manusia terdalam yang telah mengusung bencana besar itu. Mereka membicarakan segala sesuatu kecuali bagaimana merekatkan kemanusiaan menjadi satu bangsa, dan bagaimana meletakkan suatu landasan moral bagi struktur atas Tata Dunia Baru mereka. Dukungan moral dari Lembaga Bangsa-bangsa tiada lain adalah permainan; ini disebut Liga para Maling oleh Iqbal, karena masing-masing mereka hanya mempunyai satu keinginan di hatinya: bagaimana mencuri keuntungan material untuk bangsanya sendiri; dan tak seorangpun dari mereka yang diilhami oleh ide yang luhur: bagaimana menyatukan pelbagai bangsa yang berbeda ini dalam satu umat manusia.

Sekarang kita di tengah Perang Dunia Kedua dan penaklukan kepada kaum agresor telah di depan mata. Segala macam pertanyaan didiskusikan seperti apa Tata Dunia Baru nomor dua akan dibentuk, tetapi satu pertanyaan menarik lagi-lagi mengambang: bagaimana pelbagai bangsa itu bisa direkatkan dalam satu kemanusiaan?  Bila masalah ini tidak dipecahkan dengan sungguh-sungguh, persembahan baru kepada dewa perang untuk mengatasi kesengsaraan dan kesedihan kemanusiaan serta kemerosotan peradaban ini akan sia-sia, dan Tata Dunia Baru kedua akan berlalu seperti Tata Dunia Baru pertama. Ini hanya akan meretas jalan bagi bencana yang barangkali jauh lebih dahsyat di dunia. Tidak mungkin suatu konferensi dari orang-orang yang materialistis, liga dari bangsa-bangsa yang serakah, bisa membawa keselamatan bagi Eropa. Pemecahan bagi seribu masalah yang  materialistis tidak bisa membawa damai sampai diketemukan dulu landasan moral untuk merekatkan pelbagai bangsa dalam satu kemanusiaan, dan suatu perubahan dari mentalitas serakah. Jalan yang dijalani kaum politisi bukanlah jalan menuju Kerajaan Tuhan, dan perdamaian hanya akan datang kepada umat manusia bila Kerajaan Tuhan ditegakkan di bumi. Tata Dunia Baru nomor dua, bila berdasarkan landasan materialistis yang sama tentang bagaimana bagi-bagi rezeki, pasti akan mendorong kepada Perang Dunia ketiga sebagaimana Perang Dunia pertama menuntun kepada Perang Dunia kedua.

Adalah suatu kemalangan terbesar bagi kemanusiaan bahwa agama yang dapat menyediakan landasan moral, dimana suatu Tata Dunia yang sejati bisa ditegakkan telah dijadikan barang haram, dan satu-satunya obat itu dianggap sebagai racun. Kebencian terhadap agama telah menjadi mode di antara rakyat yang maju secara materi, tanpa menyadari fakta yang tak terbantah bahwa agama telah menjadi kekuatan utama dalam perkembangan umat manusia menjadi keadaannya yang unggul sekarang ini.  Sebagai suatu perkara nyata, peradaban manusia seperti yang kita miliki sekarang ini, adalah berdasarkan agama. Agama telah memungkinkan suatu keadaan peradaban yang berkali-kali menyelamatkan umat manusia dari kemerosotannya. Telusurilah sejarah peradaban manusia diantara bangsa-bangsa, dan akan terlihat bahwa dimanapun dia mulai terguncng, suatu semangat keagamaan yang baru selalu siap sedia untuk menyelamatkannya dari kehancurannya yang menyeluruh. Tidak saja peradaban itu, dengan tanpa dukungan daya tahan, hanya bisa bertahan berdasarkan dasar moral, dan moral yang benar serta luhur itu hanya diilhami dengan keimanan kepada Tuhan; bahkan kesatuan dan kelekatan dari eleman kemanusiaan yang terguncang, adalah mustahil suatu peradaban bisa bertahan bahkan untuk sehari saja, bisa sebaik-baiknya dibawakan oleh kekuatan pemersatu dari agama.

Seringkali dikatakan bahwa agama itu bertanggung-jawab terhadap sebagian besar kebencian dan pertumpahan darah di muka bumi, tetapi sekilas pandang terhadap sejarah agama akan menunjukkan bahwa ini adalah salah konsepsi yang menakutkan. Kasih sayang, keselarasan, simpati, kehangatan terhadap sesama manusia, adalah risalah dari setiap agama, dan setiap bangsa telah mendapatkan pelajaran penting ini hanya melalui semangat tanpa pamrih pribadi dan pelayanan yang diilhami oleh keimanan kepada Tuhan. Bila terdapat pamrih pribadi dan kebencian serta pertumpahan darah di antara orang-orang beragama, mereka bertindak demikian adalah diluar kepentingan agama, bukan sebagai akibat dari risalah cinta yang diusung oleh agama. Mereka ada di sana karena sifat manusia itu terlalu condong kepada hal-hal ini; dan kemunculannya hanyalah menunjukkan masih dibutuhkannya kebangkitan agama yang lebih besar, bahwa seseorang yang benar-benar beriman kepada Tuhan adalah jeritan dari kebutuhan kemanusiaan. Bahwa manusia seringkali berubah kepada perkara yang rendah dan tidak berharga bukan berarti menunjukkan bahwa perasaan yang lebih mulia itu tiada gunanya; ini hanya menunjukkan bahwa perkembangan untuk itu semua merupakan suatu kebutuhan yang lebih penting.

Jika persatuan adalah dasar yang benar dari peradaban umat manusia, yang dengan frasa mana saya maknakan kebudayaan, tidak hanya satu bangsa atau satu negeri, tetapi dari kemanusiaan secara menyeluruh, maka Islam tak diragukan lagi adalah kekuatan peradaban terbesar di dunia yang pernah dikenal atau yang agaknya akan dikenal. Seribu empatratus tahun yang lalu, adalah Islam yang menyelamatkannya dari remuknya ke jurang yang liar, yang datang untuk menolong suatu peradaban dimana landasannya telah runtuh, dan menyusun dasar-dasar baru serta membangun tinggi-tinggi suatu bangunan yang baru seluruhnya tentang kebudayaan dan etika. Suatu ide baru dari persatuan umat manusia secara keseluruhan, tidak saja persatuan dari bangsa ini atau negara itu, yang diperkenalkan ke dunia; ide yang demikian kuasa hingga bisa merekatkan seluruh bangsa-bangsa yang terlibat peperangan dan saling membenci sejak dunia diciptakan. Tidak saja di Arabia, di antara kabilah di jazirah tunggal itu yang selalu saling berperang, yang menjadikan ini mukjizat besar, seperti yang dikatakan seorang penulis Inggris, juga dibentuk, suatu keajaiban dalam kejayaan dimana segala sesuatu menjadi kurang arti pentingnya.

“Suatu bangsa yang lebih terpecah sungguh sulit ditemui hingga tiba-tiba suatu mukjizat terjadi. Seorang lelaki bangkit, yang dengan kepribadian dan pengakuannya atas petunjuk langsung Ilahi, benar-benar menggelar sesuatu yang mustahil – bernama persatuan dari faksi yang saling berperang itu” (“The Ins and Outs of Mesopotamia”, halaman 99).

Dia tidak saja merekatkan menjadi satu kabilah yang saling berperang di satu negeri melainkan dia juga menegakkan suatu persaudaraan dari segenap bangsa di dunia, menggabungkan bersama-sama bahkan mereka yang tak ada artinya apa-apa secara awam kecuali kemanusiaannya pada umumnya. Dia menghapuskan perbedaan warna kulit, ras, bahasa, batas wilayah dan bahkan perbedaan budaya. Ini mempersatukan manusia dengan manusia lain sedemikian rupa, sehingga hati mereka yang ada di timur jauh mulai berdetak dalam kesatuan dengan kalbu mereka yang jauh di belahan barat. Sungguh ini membuktikan bahwa tidak saja yang terbesar melainkan juga kekuatan satu-satunya yang bisa mempersatukan kemanusiaan, karena bila agama-agama lain hanya berhasil dalam mempersatukan elemen yang berbeda dari satu ras atau bangsa yang tunggal, Islam benar-benar mencapai persatuan dari pelbagai ras dan bangsa yang berbeda-beda, serta menyelaraskan perselisihan dan ketidak-akuran elemen kemanusiaan.

Islam tidak hanya membuat ras manusia yang berbeda-beda menjadi ras yang tunggal melainkan juga mempersatukan pelbagai bangsa menjadi satu bangsa manusia. Diatas basis ini, dasar  yang paling meyakinkan dari peradaban, dia membawakan kembali kepada umat manusia peradabanya yang hilang. Demikianlah tulis J.H.Denison dalam “Emotion as the Basis of Civilization”:

“Pada abad kelima dan keenam, dunia yang beradab ditepi jurang kekacauan. Kebudayaan emosional yang tua yang telah membuat peradaban menjadi mungkin, karena dia memberi kepada manusia perasaan persatuan dan penghormatan kepada pemerintahnya, telah patah, dan tak ada suatupun yang didapati bisa cukup untuk menggantikan tempatnya…..”

“Rupanya kemudian peradaban besar yang telah dijalani selama empat ribu tahun untuk dibangun telah ditepi jurang disintegrasi, dan bahwa manusia sepertinya kembali ke suasana barbar dimana setiap suku dan sekte saling berhadapan, dan hukum serta ketertiban tidak dikenal…..Sanksi suku yang lama telah kehilangan tenaganya…..Sanksi baru yang diciptakan oleh agama Kristen bekerja untuk memecah belah dan menghancurkan dan bukannya mempersatukan serta menertibkan…..Peradaban adalah seperti pohon raksasa yang dedaunannya telah menjangkau seluruh dunia….keropos hingga intinya… Adakah suatu budaya emosional yang bisa diusung untuk mengumpulkan kemanusiaan sekali lagi dalam persatuan dan menyelamatkan peradaban?”

Dan kemudian berbicara tentang Arabia: “Di antara orang-orang inilah lahir seorang yang mempersatukan seluruh dunia yang dikenal waktu itu di timur dan selatan”.

Peradaban sekali lagi berhadapan dengan disintegrasi dan kehancuran merujuk kepada keadaan yang semacam itu di abad keenam pada umumnya. Bangsa bangkit melawan bangsa, mau menghancurkan satu sama lain. Beberapa kekuatan diperlukan – dan ini adalah kebutuhan pertama dari kemanusiaan hari ini – yang akan mempersatukan bangsa-bangsa yang berbeda menjadi satu umat manusia. Kekuatan ini yang akan membawa perubahan mentalitas seperti mengikis rasa saling cemburu dan kebencian hanya bisa dengan kekuatan moral, dan kekuatan moral itu hanya bisa disediakan oleh agama. Islam menyediakan kekuatan semacam itu di abad ketujuh mulai dari Arabia. Pada hari-hari itu Arabia menyajikan adegan perang habis-habisan persis sama dengan apa yang digelar Eropa hari-hari ini. Suku dan puak yang menghuni gurun pasir itu dalam cengkeraman pertengkaran yang tak ada habisnya. Perkara sangat remeh saja sudah bisa menjadi korek api yang mengobarkan api peperangan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Seluruh suku akan menceburkan diri mereka dalam kobaran api, beberapa mengepung mereka dari satu sisi, dan beberapa dari yang lain. Dimana-mana ada pertumpahan darah dan kehancuran. Setelah semuanya lelah mereka akan mengadakan perdamaian. Dengan susah-payah tinta perjanjian kering ketika sedikit ganjalan yang tetap menyala akan berkobar sekali lagi dan seluruh negeri kembali dalam nyala peperangan. Demikianlah berjalan peristiwa untuk generasi yang panjang dari ayah ke anak dan dari anak ke cucu. Seluruh rakyat nyaris ditepi jurang yang akan menghanguskan mereka menjadi abu akibat kobaran api peperangan ini, ketika Tuhan dengan rahmat-Nya mencurahkan dari atas air dingin, sekali untuk seterusnya menghapuskan sisa pembakaran terakhir dari perseteruan dan ganjalan yang panjang berabad-abad, menggantikannya dengan saling bersimpati dan kehangatan.

Mungkin ini nampak aneh, persaudaraan yang basisnya diletakkan di Arabia pada abad ketujuh itu tidak terbatas di jazirah itu saja. Selama satu abad, wilayah yang sangat luas diluar perbatasan Arabia menerima cahaya ilmu dan peradaban yang ditegakkan dari jazirah yang kurang dikenal itu. Persatuan dari kemanusiaan yang merupakan batu landasan dari kebudayaan baru ini memang unik, dan dunia belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Tak ada seorang pembaharu atau agama yang pernah bermimpi tentang persaudaraan umat manusia yang seperti itu – persaudaraan yang tidak kenal ikatan warna kulit, ras, negeri, bahasa atau bahkan peringkat; suatu persatuan dari ras manusia yang tak suatu konsepsipun bisa melewatinya. Ini tidak hanya mengakui persamaan dalam hak-hak sipil serta politik umat manusia, melainkan juga hak spiritual mereka. “manusia adalah umat yang satu” (Q.S. 2:213) adalah doktrin fundamental, dan karena alasan inilah setiap bangsa diketahui telah menerima hadiah istimewa berupa wahyu, yang sampai saat ini dipandang hanya sebagai hadiah kepada bangsa ini atau itu yang disayangi. “Dan tiada suatu umat melainkan telah berlalu di kalangan mereka seorang juru ingat” (35:24).

Konsepsi umat manusia sebagai satu  bangsa, tidak peduli perbedaan ras dan warna kulit serta bahasa dengan melewati semua batas wilayah adalah sumbangan Islam yang unik kepada peradaban manusia. Inilah satu-satunya obat penawar racun kecemburuan dan kebencian nasional yang telah membawa kemanusiaan, bersama dengan peradabannya, ke jurang kehancuran. Agama Kristen, seperti halnya Islam, adalah agama internasional dalam pengertian bahwa dia dipeluk oleh berbagai bangsa dalam barisannya, tetapi, dalam arti kata yang sebenarnya, dalam membawa seluruh bangsa-bangsa pada satu tingkatan dan mengusung keselarasan di antara bangsa-bangsa, Islamlah satu-satunya agama internasional. Dalam hal ini Kekristenan telah menunjukkan tanda-tanda kegagalannya. Orang Kristen yang berkulit putih hingga hari ini membenci orang Kristen yang berkulit hitam meskipun tinggal di satu negeri, seperti kasus di Amerika, negara Kristen yang paling maju dan rumah demokrasi, dimana, diluar keinginan orang saleh seperti Mr. Roosevelt, Negro dan orang kulit putih tidak dapat berkumpul di bawah satu atap. Orang Kristen Barat masih menganggap dirinya lebih unggul daripada Kristen di Timur, yang tidak dapat menyembah Tuhan di gereja yang sama dengan mereka. Pemeluk Kristen dari kasta rendah di India tetap tidak tersentuh di mata pemeluk Kristen dari kasta yang tinggi. Kekristenan dengan sia-sia gagal dalam membawa persatuan umat manusia. Islam, sebaliknya, telah membidani kelahiran suatu Orde Baru dari persaudaraan universal dimana baik Barat maupun Timur, kulit putih maupun hitam, bangsa Arya maupun Semit, Indian maupun Negro, berdiri pada tataran yang sama. Sesaat setelah seorang Negro atau kasta paria memasuki barisan Islam, dia sungguh-sungguh memperoleh suatu posisi yang sama dalam Islam untuk segala hal dengan yang berkulit putih atau pun mualaf dari kasta tinggi, dengan setiap warga dari persaudaraan Muslim. Dia tidak saja shalat di masjid yang sama bahkan bisa bahu membahu dengan saudaranya yang paling mulia, dan dapat makan di satu meja dengannya. Pengaruh Islam yang sederajat dan harmonis tidak dikenal dalam agama atau masyarakat atau tatanan lain di dunia.

Demokrasi dunia yang sesungguhnya, yang ditunjukkan dalam persamaan status dari seluruh umat manusia semacam itu, hanya dapat dicapai melalui Islam. Dia memiliki pengaruh spiritual yang begitu besarnya sehingga seketika manusia bergabung dalam Tatanan ini, dia merasakan dirinya meningkat ke level yang tinggi dimana semua perbedaan menyangkut ras, warna kulit, kasta serta peringkat lenyap seolah-olah oleh tongkat pesulap. Bahwa Islam memiliki kekuatan spiritual ini bahkan hingga hari ini, diluar kekuasaan lahiriahnya yang hilang, telah diakui oleh keduanya, baik kawan maupun lawan. Disini kata-kata dalam paragraf penutup oleh Gibb’s “Whither Islam” (halaman 379):

“Tetapi Islam masih memberikan pelayanan lebih lanjut yang diberikan demi kemanusiaan…. tidak ada masyarakat yang mempunyai catatan keberhasilan dalam menggabungkan persamaan status, kesempatan, dan pencapaian yang begitu banyak serta pelbagai macam terhadap berbagai ras umat manusia. Dalam komunitas Muslim yang besar di Afrika, India dan Indonesia, mungkin juga komunitas kecil Muslim di Cina dan komunitas yang lebih kecil lagi di Jepang, menunjukkan bahwa Islam tetap bertenaga untuk merukunkan dengan jelas elemen-elemen yang tak bisa dirujukkan dalam ras serta adat-istiadatnya.  Jika bentrokan dari masyarakat Barat dan Timur  yang besar ini bisa digantikan dengan kerjasama semacam itu, maka mediasi dari Islam adalah syarat yang sungguh tak ternilai harganya”.

Apa rahasia dari keberhasilan Islam dalam menegakkan suatu persaudaraan dunia dan mengusung persatuan dari pelbagai bangsa yang berbeda-beda ini? Pertama, dasar ajaran Islam adalah bahwa seluruh umat manusia ini adalah satu keluarga besar, dengan Tuhan sebagai penciptanya; dan pembagian dalam berbagai cabang dan suku bangsa adalah hanya dimaksudkan agar orang-orang saling mengenal dengan lebih baik: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan membuat kamu suku-suku dan kabilah-kabilah, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling taqwa di antara kamu” (Q.S. 49:13). Dan sama seperti dalam masing-masing individu, begitu pula di antara bangsa-bangsa. Bangsa yang unggul bukanlah yang  menurunkan yang lain sebagai budak dan menginjak hak-haknya di bawah kakinya; secara moral bangsa semacam itu lebih rendah tingkatnya dibanding bangsa yang masih liar. Bangsa yang unggul – satu yang dimuliakan Tuhan – adalah yang menghormati hak-hak orang lain. Karena itu, konsepsi kaum Muslim tentang kemanusiaan, adalah bahwa ini tiada lain satu keluarga, apapun perbedaan di sana baik dalam warna kulit, dan bahasa serta budayanya, dengan Tuhan sebagai Tuannya, atau dalam istilah Kristen, bapa bagi semuanya. Anggota dari satu keluarga bisa bertengkar satu sama lain sekarang atau di belakang hari, tetapi mereka tidak dapat membenci untuk selamanya. Sesungguhnya, konsep yang luas tentang kemanusiaan ini adalah satu-satunya penjagaan terhadap prasangka nasional, ras ataupun warna kulit, dan hanya atas dasar inilah perdamaian bisa ditegakkan di muka bumi ini.

Kedua, ide dasar dari persamaan dan kebapaan dari seluruh umat manusia itu dilaksanakan dalam praktek kehidupan seorang Muslim dengan institusi shalat. Seluruh kaum Muslim berkumpul bersama sehari-hari dalam masjid untuk menegakkan shalat, dimana mereka berdiri di hadapan Penciptanya bahu membahu, raja bersama dengan warganya yang termiskin, si kaya yang berselimutkan jubah kebangsawanan dengan pengemis yang bertutupkan gombal, orang kulit putih dengan kulit hitam. Perbedaan dalam pangkat, kekayaan ataupun warna kulit lenyap di dalam masjid, dan suatu atmosfir yang benar-benar baru, suasana persaudaraan, persamaan dan kasih-sayang, berbeda sepenuhnya dengan dunia diluar, mengudara di tempat yang suci itu. Bisa bernafas lima kali sehari dalam atmosfir perdamaian sempurna di dunia yang penuh usaha dan perjuangan, tentang persamaan dimana ketidak-samaan menjadi tatanan sehari-hari, dan tentang kasih-sayang ditengah permainan kecemburuan serta kebencian dalam hidup sehari-hari, adalah suatu berkah yang besar. Manusia yang harus bekerja untuk nafkahnya sehari-hari ditengah ketidak-samaan, di tengah usaha dan perjuangan, di tengah adegan kebencian dan perseteruan; dia ditarik dari sana lima kali dalam sehari, dan membuat sadar bahwa persamaan, kebapaan dan kasih-sayang adalah sumber sesungguhnya dari kebahagiaan umat manusia. Bahkan bila kita mengabaikan manfaat besar yang diperoleh seseorang dengan merasakan dirinya di hadlirat Ilahi dalam masjid, waktu yang digunakan untuk shalat tidaklah sia-sia dari sudut pandang aktifitas kemanusiaan. Sebaliknya, manfaat terbaik yang timbul dalam mengkaji pelajaran yang besar ini adalah membuat hidup ini ada nilainya. Dan pelajaran tentang kebapaan, persamaan serta kasih-sayang ini, ketika dijalankan dalam praktik sehari-hari, menyajikan landasan bagi persatuan ras manusia dan peradaban yang lestari dari kemanusiaan. Sesungguhnya, shalat berjamaah lima kali sehari dimaksudkan, disamping hal-hal lainnya, untuk membawa dalam praktek pelajaran teori tentang persamaan dan kebapaan yang diajarkan Islam; dan betapapun banyaknya Islam telah mengajarkan dalam kata-kata mengenai persamaan antara umat manusia serta kebapaan dari komunitas Islam, semuanya akan tetap menjadi huruf mati, kalau itu tidak diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari dari manusia melalui institusi shalat berjamaah sehari-hari.

Pada waktu yang sama shalat mempunyai maksud lain yang lebih besar. Obyek agama itu tidak sekedar mengajarkan doktrin adanya Tuhan dalam teori; ini mempunyai maksud lebih jauh lagi. Agama mendambakan untuk menyerap keyakinan, bahwa Tuhan adalah kekuatan yang hidup dalam kehidupan manusia, dan shalat adalah sarana dimana dia berusaha mencapai tujuan yang besar ini. Keyakinan sejati bahwa Tuhan itu datang kepada manusia, tidak dengan percaya bahwa ada Tuhan di dunia sana, tetapi dengan menyadari bahwa Ilahi itu ada dalam dirinya, dan penyadaran ini dicapai melalui shalat. Pengalaman universal dari umat manusia mengandung kebenaran atas hal ini. Di setiap abad dan di antara masing-masing bangsa ada, orang-orang yang melalui shalat, telah menyadari kebenaran besar atas kehadiran Tuhan dalam kalbu mereka, dan telah meletakkan hidup mereka demi kebaikan kemanusiaan. Dalam kasus mereka, keimanan kepada adanya Tuhan adalah suatu kekuatan moral yang tidak saja bekerja merubah secara keseluruhan hidup mereka sendiri, melainkan juga menjadikan mereka mampu merubah kehidupan dari bangsa-bangsa selama berabad-abad dan merubah sejarah umat serta negeri. Tanpa pamrih pribadi, dan ketulusan mereka luar biasa, dan kesaksian mereka, yang merupakan kesaksian dari bangsa-bangsa di segenap abad, menegakkan satu fakta bahwa keimanan kepada adanya Tuhan itu  menjadi kekuatan moral yang sangat hebat ketika suatu kali disadari dalam hati manusia melalui shalat di hadapan hadlirat Dzat Ilahi. Sesungguhnya, begitu besarnya kekuatan moral ini sehingga bahkan kekuatan material yang paling berkuasa pun menyingkir di hadapannya. Bukankah pengalaman   pribadi yang besar ini menjadi cahaya mercusuar bagi yang lain, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka juga bisa menjadikan Tuhan sebagai suatu kekuatan moral dalam kehidupan mereka? Kekuatan dan kemampuan yang diberikan kepada satu orang juga diberikan kepada orang yang lain, dan melalui penggunaannya yang tepat seseorang bisa melaksanakan apa yang dilakukan oleh orang lain pendahulunya.

Sesungguhnya, peradaban tidak terletak pada kenyamanan yang diperoleh manusia melalui penaklukan Alam. Dasarnya yang sejati adalah perasaan mulia dimana terilham keimanan kepada Tuhan. Sekilas pandang terhadap sejarah peradaban manusia akan menunjukkan bahwa keimanan kepada Tuhan telah menjadi kekuatan utama dalam perkembangan manusia hingga keadannya yang sekarang ini. Semua yang luhur dan baik dalam diri manusia tidak atas jasa penaklukan manusia terhadap Alam melainkan penaklukan terhadap dirinya sendiri, yang terilham oleh keimanan kepada Tuhan; ini adalah suatu kebenaran yang tak seorangpun bisa membantahnya. Adalah orang-orang seperti Ibrahim, Musa, Kristus, Buddha, Krishna, Kong Hu Cu dan Muhammad, yang telah merubah sejarah ras manusia, dan meninggikan dari jurang degradasi kepada moral yang luhur. Adalah melalui ajaran dan teladan dari para nabi inilah maka manusia itu bisa menaklukkan nafsu rendahnya, dan menggelar di hadapannya idea yang luhur dengan menghilangkan pamrih pribadi dan pelayanan kepada kemanusiaan. Cermatilah perasaan luhur yang mengilhami manusia hari ini dan anda akan mendapati asalnya yakni dalam ajaran dan teladan dari beberapa tokoh besar yang mempunyai keyakinan mendalam terhadap Tuhan, dan melalui siapa ditebarkan benih keimanan kepada kalbu manusia lain. Perkembangan moral dan etis dari manusia hingga keadaannya yang sekarang ini, yang dalam pengertian sebenarnya bisa disebut peradaban manusia – maka pencapaian material hanyalah soal kedua – adalah atas jasa iman. Bagi semua yang lahiriah, kekuasaan materialisme harus membutuhkan batasan aturan yang tidak mementingkan diri sendiri. Suatu skema jalan pintas yang langsung  mengeringkan dengan membagi rata kekayaan tidak akan pernah mengilhami perasaan luhur yang sekarang menjadi kebanggaan manusia. Keadaan tidak bertuhan akan membuat massa rakyat tenggelam mundur, secara bertahap tentunya, kedalam keadaan barbar.

Sesungguhnya, peradaban manusia yang stabil hanya bisa berdiri di atas dua tonggak: beriman kepada Tuhan dan persatuan umat manusia. Materialisme yang sekarang meruyak di Eropa telah menarik roboh tonggak-tonggak ini,, dan hingga mereka ditegakkan lagi, Eropa, bersama segenap kenyamanan materialnya, tak akan pernah bisa mencapai kebahagiaan di hati atau perdamaian di antara bangsa-bangsa. Dan karena hanya Islam sebagai tatanan yang dikenal di dunia ini yang telah sukses dalam menegakkan persaudaraan dunia dan dalam merekatkan pelbagai macam suku kedalam satu bangsa, maka hanya agama inilah yang berhasil dalam tetap menjaga ruhani manusia selalu dalam hubungan dengan Ruh Ilahi, mengatasi kekuatan materialisme. Adalah suatu kenyataan bahwa kaum Muslim sebagai suatu bangsa mempunyai keyakinan yang lebih utama terhadap Tuhan daripada para penganut agama lainnya. Adalah dengan keimanan kepada Tuhan ini yang berjasa atas kemenangan kaum Muslim awal yang tidak ada tandingannya dalam sejarah dunia. Sepanjang sumber material yang dikaitkan, Persia dan Romawi mempunyainya dengan melimpah dan Arab dalam hal ini sangat miskin. Mesin perang yang pertama jauh lebih adidaya; dalam jumlah orangpun Arab tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan pasukan dari kedua kekaisaran itu. Namun ketika kedua kekaisaran adidaya ini bentrok dengan Muslim Arabia – dan mereka adalah agresor – mereka bisa disapu bersih seperti jerami di hadapan kekuatan ruhani yang hebat dari Islam, keimanan kaum Muslim kepada Tuhan dan atas keadilan dari tindakannya. Adalah keimanan yang sama kepada Tuhan yang memungkinkan kaum Muslim mempertahankan milik mereka terhadap serbuan hebat Kristen Eropa selama Perang Salib. Adalah keimanan yang sama kepada Tuhan lagi yang memungkinkan kaum Muslim hari ini berani bertanding dengan Kekristenan untuk menguasai dunia, dengan mengabaikan fakta bahwa semua kekuatan material dalam kontes ini – kekayaan, kekuasaan dan organisasi – berfihak kepada agama Kristen. Institusi shalat dalam agama Islam yang tetap menjaga ruhani kaum Muslim dengan selalu bersentuhan dengan Ruh Ilahi tanpa ragu adalah basis dari mana keimanan yang kuat ini terletak, dan nilai shalat dalam pembentukan sifat luhur yang menonjol dalam karakter kebangsaan kaum Muslim sungguh tidak ternilai. Karena setiap Muslim merasa dirinya dalam kehadiran Tuhan yang penuh kehormatan lima kali sehari, keimanan kepada Tuhan mengayunkan mentalnya bahkan dari pandangannya terhadap dunia material ini, sehingga kemudian menjadi kekuatan penggerak dalam kehidupan ini.

Jadi Islam dapat menyediakan bagi Eropa dua kekuatan moral yang besar – keimanan yang hidup kepada Tuhan dan suatu tatanan yang berdasarkan kesatuan kemanusiaan – yang dapat mengembalikan perdamaian di atas Eropa. Hingga masyarakat Eropa mau menerima dua karunia langit yang besar dari Islam ini, maka bencana tidak akan ada akhirnya. Silahkan Eropa mendiagnosa penyakitnya dengan kepala dingin dan menerapkan pengobatan ini dengan keberanian hati. Janganlah mengulangi hari-hari yang telah lewat dan memandang teman sejatinya sebagai musuh. Eropa mencoba menghancurkan Islam dengan pedang pada waktu Perang Salib, tetapi gagal. Perlawanan sesudahnya dilakukan dengan semakin canggih. Tidak saja pasukan Eropa pulang ke rumahnya dengan keyakinan palsu bahwa Islam adalah musuh Eropa, suatu yang menakutkan, karena dia hanya bertemu di medan tempur, dan keyakinan ini diturunkan sebagai warisan dari ayah ke anak, melainkan juga pemimpin Eropa dalam bidang politik maupun agama – master masa lalu dalam seni propaganda – meningkatkan kebencian ini dengan menggambarkan suatu lukisan Islam yang sangat bertentangan dengan realitas. Islam, dalam arti katanya yang paling benar, adalah risalah perdamaian untuk seluruh dunia, agama yang paling toleran yang pernah diajarkan, tetapi ini telah disalah-tafsirkan sebagai agama yang paling tiran dan tidak toleran. Islam tidak saja dikenal dalam kata-kata yang paling jelas sebagai berasal dari Ilahi dari semua sistem keagamaan yang besar di seluruh dunia, meletakkan landasan bahwa tak ada satu bangsapun di muka bumi ini dimana tak ada seorang pengingat atau penunjuk yang dikirimkan agar mendekat kepada Tuhan (1); dia melangkah selanjutnya dan meminta agar setiap orang yang memasuki barisan Islam beriman kepada para nabi dari bangsa-bangsa lain, sama seperti berimannya dia kepada Nabi Islam (2).  Tetapi para pemimpin politik dan keagamaan di Eropa sungguh telah melukiskan gambaran bahwa Nabi Muhammad itu keluar dengan pedang di satu tangan dan Al-Qur’an di tangannya yang lain. Dan meskipun cahaya terang telah disorotkan atas topik ini pada waktu belakangan, penulis Eropa tetap saja menyajikan Islam sebagai agama pedang (3).

Di bawah salah tafsir yang paling celaka ini Eropa mencoba menghancurkan Islam dengan melemahkannya secara politis di satu tangan, dan mengusung di tangannya yang lain, propaganda palsu dan kasar terhadapnya di bidang agama. Jika ada sesuatu yang bisa disetujui oleh seluruh Eropa, ini adalah bahwa Islam itu musuh terbesar Eropa, dan ini harus dihancurkan atau dilemahkan, dengan cara halus atau kasar. Politisi atau kaum misionari, dari negara manapun dia berasal, bekerja sama untuk tujuan ini. Namun, Allah Yang Maha-kuasa, dengan kebijaksanaan-Nya, telah menetapkan sebaliknya. Islam adalah berkah bagi kemanusiaan dan dia harus diselamatkan. Bangsa-bangsa Eropa, yang di antara mereka tidak pernah ada keselarasan yang sesungguhnya, menjadi saling cemburu, dan akhirnya kecemburuan ini berkembang, seperti yang telah terikat padanya, ke dalam kebencian dan perseteruan yang paling dahsyat, dan dorongan untuk saling membinasakan ini telah menggantikan dorongannya untuk menghancurkan Islam. Dosa Kekristenan yang berusaha menghancurkan teman sejatinya telah berkunjung dalam suatu azab yang berkaitan: penghancuran hubungan kerjasama persahabatan dan keinginan untuk saling membinasakan. Ini sesuai dengan rencana Ilahi yang diumumkan tigabelas abad yang lalu:

“Dan di antara mereka ada yang berkata, kami ini orang Kristen, Kami telah membuat perjanjian dengan mereka, tetapi mereka melalaikan sebagian dari apa yang dengan itu mereka diperingatkan; maka dari itu Kami bangkitkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Dan Allah akan memberi tahukan kepada mereka apa yang mereka lakukan”.

“Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami, yang menjelaskan kepada kamu banyak hal yang kamu sembunyikan tentang Kitab, dan mengabaikan banyak hal lagi. Sesungguhnya telah datang kepada kamu, cahaya dan Kitab yang terang.

“Dengan itu, Allah memimpin pada jalan keselamatan kepada siapa yang mengikuti perkenan-Nya, dan mengeluarkan mereka dari gelap ke sinar terang dengan izin-Nya, dan memimpin mereka pada jalan yang benar”(Q.S. 5:14-16).

“Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami yang memberi penjelasan kepada kamu setelah terjadinya penghentian para Utusan, agar kamu tak berkata: Kami tak kedatangan orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat. Sesungguhnya telah datang kepada kamu orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat” (Q.S. 5:19).

Perjanjian yang dibicarakan dalam ayat pertama yang dikutip di atas merujuk kepada nubuatan atas kedatangan Nabi Suci Muhammad yang terdapat dalam Alkitab, dan perintah Yesus Kristus kepada para pengikutnya agar menerima Nabi besar ini yang dengan kedatangannya suatu Tata Dunia yang sempurna akan diturunkan kepada kemanusiaan (4). Selanjutnya kita diberitahu, dalam ayat-ayat yang dikutip di atas, bahwa perdamaian yang sejati akan tiba kepada Kerajaan Kristen hanya bila mereka menerima Tata Dunia yang ditegakkan oleh Islam.

Bahwa peradaban besar Eropa akan menuju kehancurannya sendiri karena perkembangannya yang berat sebelah juga menjadi bagian dari rencana Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Suci Muhammad saw; materialisme Eropa mendapat sebutan yang jelas dalam Qur’an Suci:

“Katakan: Bolehkah kami beritahukan kepada kamu orang yang paling rugi perbuatannya?  (Yaitu) orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, dan mereka mengira bahwa mereka pandai dalam membuat barang-barang. Mereka orang yang mengafiri ayat-ayat Tuhannya, dan (mengafiri) pertemuan dengan Dia, maka sia-sialah amal mereka. Dan pada hari Kiamat Kami tak membuat neraca bagi mereka.  Neraka – itulah pembalasan mereka karena mereka kafir dan menertawakan ayat-ayat-Ku  dan para Utusan-Ku” (Q.S. 18:103-106).

Inilah  gambaran yang tepat dari peradaban Barat, tentang kebanggaan Kerajaan Kristen: semua usaha dihabiskan untuk kehidupan di dunia ini –  manufaktur adalah keistimewaan mereka yang besar – dan kehilangan seluruhnya atas visi Ketuhanan. Sejauh menyangkut keuntungan duniawi, bintang lah yang diraihnya, dan kelihatan yang paling berkilauan di matanya; mengenai masalah spiritual, matanya tertutup.(5) Potret peradaban modern memperoleh penjelasannya yang terang dalam ayat-ayat di atas. (6)

Industrialisasi adalah sesuatu yang istimewa dan merupakan kebanggaan Barat; tetapi kita diberi tahu, bangsa-bangsa ini akan sangat terlibat dalam perlombaan pembuatan barang-barang industri sehingga tak ada ingatannya lagi kepada Tuhan yang tersisa di benaknya. Karena itu mereka kehilangan kedamaian fikiran yang hanya dengan visi Ketuhanan saja bisa dianugerahkan. Mereka berlebihan timbangan di matanya untuk melihat yang lebih tinggi diluar industrinya yang kecil untuk melihat secercah sinar cahaya keagungan Ilahi. Nafsu untuk berproduksi dan memiliki demikian mencengkeram mereka dan hal itu membuat mereka lalai atas semua nilai kehidupan yang lebih tinggi. Produksi dan  produksi lagi, memiliki dan memiliki yang lebih lagi – ini yang akan menjadi satu-satunya dan tujuan seluruh kehidupan mereka. Segenap bangsa-bangsa akan terlibat dalam kejar-mengejar ini, dan dalam hal ini mereka akan berusaha untuk menghapus yang lain. Namun, akhirnya dalam jangka panjang, hasil produksi industri mereka sendirilah yang akan membuktikan kesalahan amal mereka. Hati mereka akan terisi dengan perbuatan salah mereka. Hati mereka akan dipenuhi dengan rasa saling membenci, dan mereka akan keluar, siang dan malam, berencana dan melawan rencana, melingkupi penghancuran satu sama lain.

Penghancuran peradaban materialistis Barat ini secara eksplisit disebutkan dalam awal surat 18 – Gua – yang bersangkut-paut dengan sejarah Kristen, ayat yang dikutip di atas menyebutkan peristiwa yang menuju akhir hal itu:

“Dan untuk memperingatkan orang-orang yang berkata: Allah telah memungut putera.”

“Mereka tak mempunyai pengetahuan tentang itu, demikian pula ayah-ayah mereka. Mengerikan sekali kata-kata yang keluar dari mulut mereka.” …..

“Lalu barangkali engkau akan membunuh dirimu sendiri karena dukacita, karena menanggung prihatin terhadap mereka kalau-kalau mereka tak beriman kepada pemberitahuan ini. Sesungguhnya Kami telah membuat apa yang ada di bumi sebagai hiasan baginya, agar Kami dapat menguji siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami membuat apa yang ada di atasnya, tanah tanpa tumbuh-tumbuhan. (Q.S. 18:4-8) (7).

Ayat pertama menunjukkan bahwa adalah bangsa-bangsa Kristen yang dibicarakan di sini, kedua ayat terakhir menunjukkan bahwa bangsa-bangsa ini akan memperindah bumi dengan penaklukan mereka atas Alam, tetapi bahwa semuanya ini, karena kelakuan buruk mereka sendiri, akan mendatangkan keruntuhan, dan kota-kota yang indah di atasnya itu akan dirontokkan ke bumi dan kebun-kebun yang besar itu akan berubah menjadi tanah yang tandus tersia-sia.

Di tempat lain dinyatakan bahwa penghancuran peradaban ini akan begitu meluas sehingga melingkupi seluruh dunia, tak satu kotapun yang tidak merasakan keruntuhan ini:

“Dan tiada satu kota melainkan Kami menghancurkan itu sebelum hari Kiamat atau Kami menyiksa itu dengan siksaan yang pedih.

Itu adalah hal yang ditulis dalam Kitab” (Q.S. 17:58).

Kita selanjutnya diberi-tahu bahwa penjatuhan hukuman yang akan diterapkan kepada bangsa-bangsa ini adalah konsekwensi dari dosa besar mereka dalam menolak perdamaian yang diberikan oleh Islam, bahkan ingin menghancurkan Risalah Ilahi tentang Perdamaian ini, dan akan dieksekusi terhadap bangsa-bangsa itu sendiri. Eropa adalah instrumen dimana Eropa sendiri yang akan mengalami kehancuran. Sarana pencegahan seringkali menunjuk satu bangsa menghukum yang lain. Kaum Yahudi dihukum atas pelanggaran mereka di tangan Nebukadnezar. Kaum Muslim dikunjungi dengan azab Ilahi di tangan Hulagu, dimana Baghdad, pusat peradaban Muslim, dirontokkan ke bumi. Eropa sangat adidaya untuk dihukum oleh bangsa lain; karena itu dia dibuat teraniaya atas perbuatan jahatnya oleh tangan-tangannya sendiri. Bagian dari skema Ilahi ini juga diperjelas dalam Qur’an Suci di bawah nama Ya’juj wa Ma’juj: (8)

‘Bahkan tatkala Ya’juj wa Ma’juj dilepas, dan mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi” (Q.S. 21:96).

Dalam Hadist, Ya’juj wa Ma’juj digambarkan sebagai bangsa-bangsa adidaya yang akan menguasai dunia, dan dengan siapa “tak satu bangsapun di dunia mempunyai kekuatan untuk melawan mereka’ (HR.Muslim). Dalam hal bangsa-bangsa ini, karenanya pelanggaran akan dihukum dengan membuat satu melawan yang lain. Lagi-lagi di sini Qur’an Suci membuatnya jelas:

“Dan pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka menggempur sebagian yang lain……”(Q.S.18:99).

Dan lagi:

“Dan pada hari itu Kami perlihatkan kepada kaum kafir Neraka, dengan jelas” (Q.S. 18:100).

Inilah sesungguhnya yang kita dapati. Bangsa Eropa mula-mula menyerbu tanah-tanah asing dan memerintah bangsa-bangsa yang lemah. Tak satu bangsapun di dunia ini yang mempunyai kekuatan untuk melawannya. Setelah menjajah nyaris seluruh dunia, mereka bertarung satu sama lain dan akhirnya mati berjatuhan. Mereka sendiri yang menjadi alat untuk menghancurkan apa yang mereka bangun dengan tangan-tangan mereka sendiri. Neraka yang dibicarakan dalam ayat-ayat di atas adalah akibat dari saling bentrok antar mereka yang berkobar hari ini, tidak saja di Eropa melainkan lebih-kurangnya diseluruh penjuru dunia. Tuhan berlaku adil kepada makhluk-makhluk-Nya, dan neraka di dunia ini diperlihatkan nampak karena manusia tidak peduli terhadap Peringatan Tuhan, bahkan tidak mau membuka telinganya terhadap pembicaraan semacam ini:

“(Yaitu) orang yang matanya tertutup dari Peringatan-Ku, dan mereka tak dapat mendengar” (Q.S. 18:101).

Namun, menurut Qur’an Suci, seluruh siksaan ini bersifat korektif:

“Dan sungguh telah Kami utus (para Utusan) kepada umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan kesusahan, agar mereka berendah hati” (Q.S. 6:42).

Kerja keras di dunia ini tidak sia-sia. Dari penderitaan datanglah kebahagiaan. Evolusi berjalan tidak hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual.

Dalam ayat yang paling awal dari Qur’an Suci, satu yang paling banyak diulang-ulangi, Allah disebut sebagai Rabbul-‘alamin. Kata Rabb berarti memelihara sesuatu sedemikian rupa sehingga dia mencapai satu keadaan demi keadaan hingga mencapai tujuan kesempurnaannya,  dan ‘alamin berarti seluruh alam atau segenap bangsa-bangsa. Jadi Allah, menurut Islam, adalah Yang Memelihara menuju kesempurnaan dari umat manusia, dari segala bangsa. Dunia ini bergerak kepada kemajuan selangkah dan setahap demi setahap. Dan bencana seluas dunia yang kini terjadi, kehancuran terberat yang belum pernah terjadi di muka bumi ini, bisa menggerakkan dunia melangkah ke kemajuan yang terbesar. Bicara mengenai konflik besar-besaran antar-bangsa di Eropa, Qur’an Suci berfirman:

“dan ditiuplah terompet, lalu mereka kami himpun semua” (Q.S. 18:99).

Ditiupnya terompet menunjukkan datangnya suatu revolusi yang hebat. Persatuan bangsa-bangsa yang berperang menjadi satu umat adalah suatu tanda yang cukup luas atas adanya umat Islam; karena hanya ada satu keyakinan, yakni Islam, yang mampu merekatkan pelbagai bangsa yang berbeda-beda menjadi satu keseluruhan yang homogen; dan karenanya, ini adalah Tata Dunia Baru dimana bergantung kemajuan umat manusia kepada satu tujuan yang lebih luhur.

Seperti telah ditunjukkan dimuka, Islam berhasil mengusung suatu persatuan dari elemen kemanusiaan yang  berbeda pendapat melalui pengabdian kepada Tuhan, yakni, dengan memperdalam akar kesadaran ber-Tuhan di hati manusia. Dan melalui keimanan kepada Tuhan serta keyakinan akan persatuan kemanusiaan haruslah terletak landasan bagi setiap Tata Dunia yang dapat mempertahankan dan menyelamatkan kemanusiaan dari bencana serta memulihkannya menjadi kedamaian dalam hati, namun bahkan dalam kesatuan umat manusia ini hanya merupakan hubungan yang vital terhadap keimanannya kepada Tuhan, dan karena itu keimanan kepada Tuhanlah landasan yang nyata itu. Obor dari keimanan ini adalah dengan kesadaran ber-Tuhan yang dibangunkan dalam hati manusia dengan lembaga shalat dalam Islam. Islam tidak membolehkan kesadaran ber-Tuhan yang ditanamkan dalam fitrah azali manusia ini, harus tergeletak santai selama enam hari dalam seminggu dan baru dibangunkan lagi pada hari ketujuh. Ini adalah api yang tetap hidup hanya bila digerakkan setiap saat dan seterusnya.

Karena itu, shalat adalah bagian dari perkara keseharian manusia. Ada shalat di pagi hari ketika bangun dari tempat tidur – kerja harian manusia yang pertama – dan shalat pada waktu malam sebelum pergi tidur – kerja terakhir penutup hari; dan di antara ini adalah shalat lain selama jam sibuk atau santai. Inilah pengaturan secara Islami: menyeru kembali manusia ketika dia sedang ditengah keterlibatan duniawi dan mengenalkan dirinya ke hadapan Ilahi; membangunkan dalam dirinya, di tengah segala gejolak dan hasutan yang cenderung mendorong fikirannya dari mengingat Tuhan, kesadaran bahwa ada Dzat Yang Lebih-tinggi kepada Siapa dia sungguh-sungguh harus bertanggung-jawab atas segala tindakannya; mengingatkan dia di saat kemenangan bahwa dia itu tak ada artinya melainkan seorang makhluk yang lemah dan hina dari Tuhan, dan pada saat dia mengalami kegagalan serta kekecewaan dia tetap mempunyai pembela dimana dia bisa menyerahkan dirinya, dan bahwa tak ada suatupun yang bisa membuatnya putus asa. Jadi shalat tidak saja membangunkan kesadaran ber-Tuhan dalam diri manusia; dia menambah semangat baru kepada amalnya, dengan mana dia kembali dengan fikiran yang segar.

Apakah shalat yang diajarkan Islam? Dia memberi setiap individu kebebasan penuh untuk mohon kepada Tuhan segala sesuatu yang diperlukan dan memberi jalan keluar kepada perasaannya di hadapan Penciptanya seperti yang dikehendaki-Nya, namun pada saat yang sama mengarahkan dia pertama-tama mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha-tahu, Yang Maha-kuasa. Doa yang paling penting tedapat dalam Surat Pembukaan dari Qur’an Suci, suatu permohonan yang biasanya dimintakan lima kali sehari:

“Kepada engkau kami mengabdi, dan kepada Engkau kami mohon pertolongan,

Pimpinlah kami pada jalan yang benar,

Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” (Q.S. 1:4-6).

Pertama dan utama, doa ini menciptakan dalam hati manusia mentalitas “mengabdi Tuhan”, mengikuti perintah Ilahi, bahkan bila hal itu bertentangan dengan kehendak kita sendiri, atau permintaan dari lingkungan sekitarnya, atau kebiasaan dan tradisi dari orang-orang dimana dia tinggal. Kedua, dia menciptakan sikap mental yang tidak berputus-asa menghadapi kesulitan yang terbesar dan mencari kekuatan, ketika semua sarana telah gagal, dari Sumber segala kekuatan. Orang yang menggantungkan kepada pertolongan Tuhan tidak mengenal rasa putus asa, dan mempunyai kekuatan untuk menghadapi cobaan yang paling berat sekalipun.

Namun, yang paling penting dalam doa ini, adalah bahwa manusia diajarkan agar mohon petunjuk dari Tuhan atas segala masalah yang dihadapinya. Tuhan kaum Muslim tidak hidup di bibirnya; Dia hidup dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dia mohon bantuan-Nya setiap saat, dan dia mohon petunjuk dari-Nya atas apapun yang akan dilakukannya. Jika seseorang tidak percaya atas bimbingan Tuhan, berarti dia tak mempercayai-Nya sama-sekali. Tidakkah kita dalam pusaran kesulitan setiap saat dan nantinya? Tidakkah ada kegelapan setiap waktu di sekeliling kita? Siapakah yang dapat menunjukkan cahaya kepada kita di tengah kegelapan? Hanya Tuhan. Orang secara moral dipersenjatai bagi mereka yang mohon petunjuk Ilahi dalam segala macam perkara, dan inilah apa yang dimaksud dengan shalat dalam Islam.

Shalat adalah ungkapan dari keinginan yang terdalam dari jiwa, dan  bahwa Islam ingin menciptakan dalam hati manusia untuk di bimbing di jalan yang benar, di tuntun selangkah demi selangkah kepada tujuan yang besar dari kehidupan. Ini membuat jiwa mendambakan keluhuran yang tertinggi. Sikap kaum Muslim terhadap dunia bukanlah sesuatu yang tanpa tindakan atau tanpa semangat; ini adalah satu perjuangan terus-menerus yang harus dijalani setahap demi setahap hingga dia mencapai kesempurnannya. Dia memberikan pujian kepada Allah di setiap langkahnya, menyerukan alhamdulillah (segala puji kepunyaan Allah), jadi dengan mentalitas inilah diciptakan kehidupan damai yang sempurna dengan sekelilingnya. Namun dia bukan dalam keadaan menetap. Juga dia bukan budak lingkungannya; dia berjuang dan berusaha sepanjang hidupnya untuk menguasainya. Dia tidak berdiri damai tanpa kemajuan, tetapi gabungan antara perdamaian dengan perkembangan. Jadi mentalitas yang diciptakan dalam setiap individu akhirnya menjadi karakter nasional, karena suatu bangsa terdiri dari individu; dan pada saat mentalitas tercipta di setiap orang dalam suatu bangsa, ini menjadi mentalitas bangsa. Bila seseorang ingin melihat perubahan apa yang bisa dibawakan oleh Islam, seseorang harus mempelajari kemajuan di segala bidang dari generasi Muslim pada awalnya yang dilakukannya untuk dunia ini.

Bagaimanapun, shalat bukanlah satu-satunya sarana dalam Islam untuk menjaga agar iman tetap hidup di hati manusia, dan karenanya membuat agama itu suatu kekuatan vital dalam kehidupannya. Ada juga pengaturan Ilahi yang istimewa dalam Islam yakni bahwa dari waktu ke waktu ada orang-orang dengan kesadaran ber-Tuhan yang lebih tinggi yang bisa menarik sesamanya mendekat kepada-Nya dan menghidupkan kembali iman kepada-Nya. Para pengikut semua agama percaya bahwa Tuhan berbicara kepada orang-orang besar di masa lalu; tetapi hanya Islam sendiri, dari semua agama di dunia, yang mengajarkan bahwa Tuhan itu berbicara kepada yang dipilih-Nya bahkan sampai saat ini seperti Dia berwawan-sabda di masa lalu. Tentulah terbit pertanyaan: jika Tuhan mendengarkan doa seperti yang didengar-Nya di masa lampau, bagaimana bisa bahwa Dia sekarang tidak berbicara seperti Dia berwawan-sabda di masa lampau? Karena itu, meskipun wahyu telah dibuat sempurna dan kenabian telah ditutup dalam pribadi Nabi Suci Muhammad, ini tidak berarti bahwa Tuhan berhenti berbicara setelahnya. Dia berbicara kepada yang dipilih-Nya bahkan sekarang ini, karena berwawan-sabda adalah satu dari sifat-Nya, dan asma Ilahi tidak pernah berhenti berfungsi. Nabi-nabi tidak lagi dibangkitkan sekarang ini karena Syariat telah disempurnakan dengan kedatangan Nabi Suci Muhammad, tetapi wahyu dan kenabian adalah dua perkara yang berbeda, dan adalah salah untuk membiaskan terputusnya kenabian dengan terputusnya  wahyu. Wahyu dalam bentuk yang lebih rendah, baik terhadap nabi maupun kepada mereka yang bukan nabi tetap berlangsung; sedangkan wahyu dalam  bentuk tertinggi yang khusus kepada para nabi telah terputus.

Inilah sesungguhnya alasan mengapa keimanan dalam agama lain telah berhenti sebagai kekuatan vital kecuali dalam agama Islam. Bahwa Tuhan mewahyukan Diri-Nya dan berbicara kepada manusia ribuan tahun yang lalu, dan bahwa ini bukan pengalaman universal kemanusiaan, mengasingkan keimanan kepada Tuhan dari semua vitalitasnya. Dengan demikian, Tuhan dan agama karenanya disisihkan sebagai perkara masa lampau, dan Wahyu dianggap sebagai dongeng tanpa kekuatan yang hidup. Islam membumikan wahyu dan menegakkannya berbasis ilmu pengetahuan. Wahyu, pertama dan terutama, menurut Qur’an Suci, bukanlah pengalaman tunggal bangsa ini atau itu tetapi pengalaman universal dari kemnusiaan. Yang dipilih kepada siapa Tuhan berbicara dan mewahyukan Diri-Nya muncul di segenap bangsa dan di setiap abad, dan wahyu karenanya adalah pengalaman dari seluruh ras manusia. Dan kedua, Islam mengajarkan bahwa wahyu itu tetap suatu fakta dan bahwa Tuhan tetap berbicara kepada yang dipilih-Nya. Bahkan orang yang terpilih semacam itu sampai sekarang diperlukan untuk membukakan vitalitas keimanan kepada Tuhan; tetapi mereka tidak disebut nabi karena mereka tidak membawa satu syariat baru, ataupun mereka membuat perubahan dalam syariat yang sudah ada.

Sesungguhnya, akhir kenabian adalah suatu kebutuhan dimana persatuan kemanusiaan menjadi niscaya. Setiap bangsa mempunyai nabinya; dan karenanya, meskipun kenabian dalam satu citra adalah suatu fakta universal, para nabi yang muncul di setiap bangsa, ini kurang lebihnya adalah institusi nasional, ruang lingkup ajaran dari setiap nabi itu terbatas kepada bangsanya sendiri. Kenabian nasional merekat ikatan persatuan nasional; tetapi waktu dengan cepat mendekat ketika persatuan internasional atau kesatuan dunia akan dibutuhkan, dan ini hanya bisa dilaksanakan dengan dikirimnya seorang nabi-dunia, atau satu nabi kepada segenap bangsa di dunia. Hanya dengan demikian ide agung dalam mempersatukan seluruh ras umat manusia di bawa kepada kesempurnaan. Jadi missi Nabi Suci Muhammad digambarkan dalam Qur’an Suci sebagai berikut:

“Maha-berkah Dia Yang telah menurunkan Pemisah kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi sekalian bangsa” (Q.S. 25:1).

“Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Utusan Allah kepada kamu semua, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi”.(Q.S. 7:158).

“Dan tiada Kami mengutus engkau, kecuali sebagai pengemban kabar baik dan sebagai juru ingat kepada sekalian manusia” (Q.S. 34:28).

“Dan tiada Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sekalian bangsa” (Q.S. 21:107).

Nabi Suci Muhammad adalah Nabiyullah seperti setiap nabi yang lain, tetapi kedatangannya menandai suatu revolusi dalam sejarah kenabian. Hari ketika kenabian nasional berakhir, dan hari baru terbit di dunia dengan munculnya nabi-dunia yang menggabungkan seluruh bangsa yang berbeda-beda menjadi satu. Ide agung dalam mempersatukan seluruh ras manusia, dan mengumpulkan bersama-sama di bawah satu bendera, dengan demikian diusung kepada kesempurnaannya. Semua batas wilayah dihapus begitu juga semua sekat warna kulit serta ras, dan basis dari persatuan ras manusia diletakkan berdasar prinsip agung bahwa seluruh umat manusia ini adalah satu, dimanapun mereka didapatkan, yang merupakan bangsa yang satu. Kesatuan semacam itu tidak bisa digenapi kecuali bila akhir kenabian ditegakkan; sebab, bila para nabi tetap muncul sesudah nabi-dunia, mereka tak diragukan lagi akan meminta pengakuan dari sekte ini atau itu, dan akan mengguncangkan landasan persatuan yang didambakan oleh Islam dengan memberikan satu nabi tunggal untuk seluruh dunia.

Kembali kepada subyek asal bahwa bahkan sekarang ini Tuhan berbicara kepada yang dipih-Nya, ada suatu sabda yang jelas dari nabi Suci Muhammad: “Sesungguhnya ada di kalangan sebelum kamu orang-orang kepada siapa Tuhan berbicara meskipun mereka bukan  para nabi; jika ada orang semacam itu di kalangan umatku, maka dia adalah ‘Umar” (B.62:6). Ini menunjukkan bahwa, meskipun tidak ada nabi sesudah Nabi Suci Muhammad, namun Tuhan akan berbicara kepada yang dipilih-Nya di kalangan kaum Muslim. Tidak saja karena berwawan-sabda itu merupakan sifat dari Dzat Ilahi seperti halnya mendengar dan melihat adalah asma-Nya, tetapi juga karena dengan melalui kata-kata-Nya maka keyakinan yang nyata itu merasuk ke hati bahwa Tuhan itu ada, dan melalui yang dipilih-Nya inilah keimanan yang vital kepada Tuhan itu dipulihkan. Orang pilihan semacam itu khususnya disebut bangkit pada permulaan setiap abad:

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi kaum ini (dari kaum Muslimin) pada setiap permulaan abad seorang yang akan memperbaharui agama mereka” (A.D. 36:1).

Orang semacam itu disebut mujaddid, atau seorang penggugah, dalam istilah Islam, dan dia tidak hanya menggugah iman kepada Tuhan melainkan juga menyingkirkan kesalahan yang menyelinap di antara kaum Muslim, dan memancarkan cahaya baru terhadap kebenaran yang besar dari agama Islam dalam suasana baru di mana kaum Muslim terpanggil untuk menghadapinya. Mujaddid abad keempat belas Hijriyah adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, pendiri dari Gerakan Ahmadiyah – gerakan kebangkitan dalam Islam yang terakhir – yang muncul pada permulaan abad 14 H. ini, atau sekitar tahun 1882 M.

Catatn  kaki:

  1. “Dan tiada suatu umat, melainkan telah berlalu di kalangan mereka seorang juru-ingat”(Q.S. 35:24).

“Dan bagi tiap-tiap umat ada Utusan” (Q.S. 10:47).

“Dan tiap-tiap bangsa mempunyai seorang pemimpin” (Q.S. 13:7).

  1. “Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau” (Q.S. 2:4).
  2. “Penyiaran Islam dengan senjata adalah kewajiban keagamaan bagi kaum Muslim pada umumnya”. (D.B.Macdonald, “Encyclopaedia of Islam”, art. “Djihad”).
  3. Dalam hubungan ini saya hanya mengutip satu dari nubuatannya di sini: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran;….Ia akan memuliakan aku” (Yahya 16:12-14). Isa Almasih hanya dikirim sebagai pembaharu bagi Bani Israil dan dia hanya mempersalahkan kejahatan mereka yang menyedihkan. Tetapi Roh Kebenaran – kedatangan Nabi Suci dikatakan sebagai datangnya Kebenaran dalam Qur’an Suci (17:81) – yang menunjukkan manusia kepada seluruh kebenaran, menunjukkan bahwa Tatanan yang diwahyukan kepadanya adalah sempurna. Tidak ada Syariat di dunia kecuali Islam yang meng-klaim kesempurnaannya: “Hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu” (Q.S. 5:3). Nabi Muhammad memuliakan Yesus sedemikian rupa sehingga beliaulah yang membersihkan dia dan ibunya dari semua tuduhan yang kaumnya sendiri, Bani Israil, menisbahkan kepadanya, dan karena beliau yang menegakkan kedudukannya yang benar sebagai seorang manusia-nabi.

5        Visi Isa Almasih, setelah agama kristen itu tinggal namanya saja – dalam ruhnya dia adalah bertolak-belakang dengan apa yang diajarkannya – sungguh berbeda seluruhnya. Dia tidak memperhatikan benda-benda dalam kehidupan dunia ini dan hanya mengurus bagaimana mengusung visi Ilahi ke dunia ini. Sepanjang semangatnya yang dibahas, agama Kristen yang sekarang ini adalah Anti-Kristus. Dalam satu dari sabda Nabi Suci Muhammad maka Anti-Kristus (Dajjal – pen) itu digambarkan sebagai mempunyai mata kanan – mata ruhani yang tertutup, dan mata kiri – material – yang bersinar seperti bintang yang berkilauan. Ini adalah gambar kiasan yang paling indah dari peradaban Barat.

6        Ayat-ayat ini, menurut Hadist, adalah penangkal terhadap Dajjal.

7        Menurut Hadist, ayat-ayat ini melengkapi kunci terhadap apa yang menjadi fitnahnya Dajjal itu.

8        Ya’ju wa Ma’juj dikatakan sebagai mengambil seorang hamba Allah sebagai Tuhan (Q.S.18:99-104) yang mana merupakan gambaran Al-Qur’an terhadap kaum Kristen. Pada peristiwa lainnya juga, penyebutan Ya’juj wa Ma’juj diikuti disebutnya Isa Almasih (Q.S. 21:91-96). Alkitab berbicara tentang Ya’juj wa Ma’juj sebagai tinggal di utara Kaukasus: “Hai anak manusia, tujukanlah mukamu kepada Gog di tanah Magog, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal dan bernubuatlah melawan dia dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan Allah; Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Gog raja agung negeri Mesekh dan Tubal” (Yehezkiel 38:2-3). “Aku mendatangkan api ke atas Magog dan ke atas orang-orang yang diam di daerah pesisir dengan aman tenteram, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan” (Yehezkiel 39:6). Gog di sini dikatakan sebagai pangeran kepala dari Mesekh dan Tubal, dan di sebelah utara Kaukasus kita masih bisa mendapati dua sungai  yang mengandung nama yang ada hubungannya dengan nama dalam Alkitab ini, yakni Moscow dan Tobolsk, yang pertama adalah yang terletak sebagai kota tua Moskow dan yang belakangan adalah kota Tobolsk. Jadi nubuatan dalam Alkitab ini menunjukkan Eropa sebagai tanah yang terancam. Dalam versi Urdu, Arab dan Persia, yang diterjemahkan dari Ibrani, kata-kata dalam Yehezkiel 38:2 adalah: “pangeran kepala dari Rus, Mesech dan Tubal”, Rus adalah nama Arab dan Persia dari Rusia. Kehadiran patung Ya’juj wa Ma’juj di Guidhall, London, sejak zaman kuno juga suatu segi yang pantas dipertimbangkan.

3 Tanggapan

  1. Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi yang ditunggu keadatangannya. Sementara dalam beberapa hadits Rasulullah SAW disebutkan bahwa di antara sifat/kondisi setelah kedatangan Imam Mahdi itu, dunia akan aman dan tenteram, penuh dengan keadilan. Namun kenyataan justru sebaliknya, setelah lebih dari 100 tahun setelah Mirza Ghulam Ahmad sang Imam Mahdi datang, dunia semakin runyam. Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaatnya malah menjadi benih perpecahan di kalangan ummat Islam. Jadi kesimpulannya dia adalah Imam Mahdi palsu alias pembohong.
    Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa Al-Masih Al-Mauud yang dijanjikan Allah akan kedatanggannya kembali ke dunia meneruskan ajaran syari’at Nabi Muhammad SAW. Sementara sifat dan ciri-ciri beliau dalam Al-Quran surat An-Nisa 159 : “tidak ada seorangpun dari ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa Al-Masih) sebelum kematiannya dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”. Artinya semua orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa sebelum kematianya, bahwa dia adalah Rasulullah, bukan anak Allah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa hal itu akan terjadi menjelang hari kiamat tiba setelah Isa Al-Masih turun kembali ke dunia. Namun kenyataannya, Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Isa Al-Masih yang dijanjikan Allah, sebelum dan sesudah kematiannya tahun 1908 M, ternyata ahli kitab Yahudi dan Nasrani masih banyak sampai sekarang. Mirza Ghulam Ahmad, alih-alih meneruskan pelaksanaan syari’at Nabi Muhammad SAW malah sebaliknya, mengacak-acaknya dan pembawa berbagai macam bid’ah dalam Islam. Jadi ternyata Mirza Ghulam Ahmad bukan Isa Al-Masih yang dijanjikan, alias Isa Al-Masih palsu. Dalam beberapa hadits dinyatakan bahwa Isa Al-Masih yang dijanjikan itu akan melaksanakan Haji dan Umroh ke Baitullah dan akan ziarah ke makam Nabi SAW di Medinah dan akan dikuburkan di samping makam Nabi SAW. Namun kenyataannya Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah Haji dan Umroh, dia mati di Lahore dan dikuburkan di Qodian India (57 km sebelah timur Lahore). Seharusnya seorang Nabi itu dikuburkan di tempat di mana ia meninggal (Hadits). Ini sebagai bukti nyata bahwa dia bukan Isa Al-Masih yang dijanjikan Allah, alias Isa Al-Masih palsu dan pembohong.

    • Kata Iman dalam ayat 4:159 itu bukan berarti seluruh orang akan serta merta menjadi beriman (Islam), karena sampai akhir zaman sampai kiyamat pun pun orang-orang kafir akan tetap ada. Kata iman disini bahwa keyakinan kaum Ahli kitab, Yahudi dan Nashrani membutuhkan keyakinan bahwa Nabi Isa mati secara terkutuk di tiang salib.

      Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaatnya malah menjadi benih perpecahan di kalangan ummat Islam

      Adakah sebelum kedatangan Mirza Ghulam Ahmad, umat Islam itu bersatu padu?? jauh sebelum kedatangan beliau, Umat Islam telah berperang satu dengna yang lainnya, jadi pernyataan saudara itu jelas salah.

      kedatangan Imam Mahdi itu, dunia akan aman dan tenteram, penuh dengan keadilan. Namun kenyataan justru sebaliknya, setelah lebih dari 100 tahun setelah Mirza Ghulam Ahmad sang Imam Mahdi datang, dunia semakin runyam.

      Iya bagi yang mempercayainya, siapapun Imam Mahdi nanti yang datang setelah Mirza Ghulam Ahmad, tetap tidak akan berfungsi sebagai pembawa kedaiaman dan ketentraman selama ia ditentang. Nabi Suci, jelas dikatakan Rahmatan lil ‘Alamin, namun kenyataannya ada saja orang yang beranggapan Islam itu agama TERORIS agama perang, apakah hal ini yang salah Nabi SUci?

  2. Untuk Sdr. Matius

    Mengapa Islam Memperdebatkan keyakinan Kristen ?

    Perjuangan menyebarkan Islam keseluruh dunia adalah Jihad Kabir kewajiban bagi kaum Muslimin yang dimulai sejak Nabi Muhammad diutus kedunia ini untuk menegakkan Tauhid dan membentuk tatanan dunia baru berdasarkan ajaran Islam

    Jihad jaman ini adalah untuk menyebarkan agama Islam dan melawan para pengkritik (Islam) dengan menyebarkan keindahan agama yang benar, yaitu Islam keseluruh dunia dan untuk memanigfestasikan kebenaran Nabi Suci kepada dunia. Ini adalah Jihad sampai Allah membuat lingkungan yang berbeda didunia ini ( Surat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikutip dalam Ruhani Khaza’in, Jilid 17 hal 17)
    Missionaris Kristen telah memulai perang yang berbahaya melawan Islam . Dimedan Perang, mereka muncul dengan pena, bukan pedang atau meriam yang sebenarnya. Jadi senjata yang harus kita miliki dalam memasuki medan perang tersebut hanya dengan pena, kami yakin bahwa tugas setiap orang muslimlah untuk terjun kedalam peperangan ini . (Malfuzat, bab 1 hal 44)
    Pada masamasa awal Islam, perang phisik untuk mempertahankan diri diperlukan karena orang2 yang menyebarkan agama islam mendapat perlawanan dengan senjata, bukan dengan akal dan argumentasi. Jadi perang haruslah digunakan untuk menghadapi perlawanan, akan tetapi pada saat sekarang pedang tidak lagi digunakan untuik mengatasi masalah,tetapi dengan menggunakan pena dan argumentasi. Hal ini merupakan alas an mengapa Allah pada Zaman sekarang menghendaki pedang digantikan dengan pena dan para musuh dihadapi dengan tulisan. Jadi tidaklah tepat sekarang untuk menjawab pena dengan pedang. (Malfuzat bab 1 hal 59)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: