Jawaban untuk ikhwan Sukma Fadhal Ahmad

Ikhwan sukma fadhal ahmad mengirim tulisan yang cukup panjang dengan menjelaskan kronologi perpecahan Gerakan Ahmadiyah menurut versi beliau (Qadiyani). Dapat kami sampaikan masalah perpecahan dalam tubuh organisasi Ahmadiyah ini terjadi pada tahun 1914, karena persolan yang sangat fundamental, bukan masalah khilafiah (perbedaan pendapat yang tidak menimbulkan konskuensi hukum), kiranya  perlu disadari mengapa sampai terjadi  Maulana Muhamamd Ali yang merupakan sekretaris HMGA dan sangat memahami ajaran Imamuzaman terpaksa harus memisahkan diri ke Lahore dan membentuk Gerakan yang baru, tentu bukan persoalan duniawi semata atau sekedar hawa nafsu sebagaimana yang dituduhkan Ikhwan Qadiyani tersebut.

Baca selengkapnya masalah isu perpecahan yang sebenarnya disini jangan hanya menelan mentah2 sebuah pendapat yang tidak berdasar .. http://aaiil.org/text/books/mali/truefactssplit/truefactssplit.shtml

Selanjutnya Ikhwan Sukma menanyakan sebagai berikut:

Pertanyaan untuk Gerakan Lahore

1. Dalam “Al Wasiyat” yang dikarang Hz Mirza Ghulam Ahmad tahun 1905, beliau menulis tentang “qudrat kedua” yang akan sempurna manakala beliau as pergi (wafat) (Al Wasiyat, hal. 18).
“Qudrat-us-sani” sempurna dalam bentuk Khilafat yang terbentuk setelah beliau as wafat. Sedangkan Anjuman ada/dibentuk pada saat beliau as hidup dan memang dibentuk oleh beliau as sendiri. “

2. Jika fungsi Hz.Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujadid abad 14, siapa Mujadid abad 15 ?

3. Mengapa masalah kenabian Hz. Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah diangkat pada saat beliau as masih hidup? Juga tidak dimunculkan pada saat Khalifatul Masih I masih ada? Mengapa baru dihembuskan setelah tahun 1914, ketika mereka membentuk Gerakan Lahore.

4. Kalau Hz. Mirza Ghulam Ahmad as tidak mendakwakan sebagai Nabi/Rasul, sedangkan Allah swt menyapa beliau sebagai Nabi/Rasul dalam wahyu “Ya…Ahmad, engkau telah dijadikan Rasul” (Tadzkiratus-syahadatain hal. 486) . juga “Ya.. Nabi, beri makanlah (orang) yang lapar dan susah” (Al Hakam 2 Januarin 1908). Apakah M.Muhamad Ali dan kelompok Lahore lebih faham dibanding Allah swt?

Tanggapan kami :

1.  Menurut ikhwan apa pengertian khilafah yang ikhwan pahami?, bagi kami Gerakan Ahmadiyah yang dimaksud Khilafah itu adalah para pemimpin yang sepanjang masa dibangkitkan Allah SWT untuk meneruskan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW. Jadi para mujadid adalah Khalifaturasul (pengganti/penerus Rasulullah) dimuka bumi ini yang tanpa lelah berjuang meneruskan dan menegakkan kalimat Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Imam Zaman HMGA. Dan sepeninggal HMGA pun akan dibangkitkan para mujadid (bukan khalifatul Masih sebagaimana keyakinan Qadiyani) yang akan meneruskan perjuangan HMGA hingga kemenangan Islam benar2  tercapai. Islam tidak mengenal khalifatul Masih karena Al Masih pun hanyalah penerus ajaran dan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dan tugas almasih akan sempurna dalam 300 th sepeninggal beliau. Bukankan saat ini setelah 100 tahun sepeninggal HMGA Islam sudah menjadi sebuah agama yang mengalami perkembangan tercepat dimuka bumi ini, dibanding kristen, budha dan agama2 lainnya dan kita tinggal menunggu waktu saja untuk seluruh manusia dimuka bumi ini menjadi muslim karena dakwah2  yang dirintis oleh para murid Imamuzaman.

(tambahan jawaban dari sdr Erwan) sbb:

Yang dimaksud dengan qudrat kedua tidak lain adalah pertolongan Tuhan, bukan merujuk kepada seseorang, baca lagi kalimat lengkapnya:

“…for it is necessary for you to see the second power as

well. And its coming is better for you because it shall be

perpetual — it shall not be intercepted till the Day of

Judgment. That second power cannot come until I go, but

when I go, then will God the Most High send the second

power for you; and it shall be with you for ever…”

kalimat tersebut adalah ucapan Yesus Kristus yang merujuk kepada ayat Qs yang berbunyi “Aku akan membuat orang2x yang mengikuti kamu melebihi orang orang kafir hingga hari kiamat” .

Sekali lagi kalimat Kudrat Kedua tidak merujuk kepada person, melainkan kepada pertolongan Ilahi yang akan datang setelah wafatnya HMGA, sebab bila merujuk kepada person maka harusnya kalimat itu berbunyi “Setelahku akan ada seseorang yang menjadi manifestasi qudrat tsani”

2. Yang mengangkat mujadid adalah Allah SWT sehingga sudah selayaknya Ikhwan sukma memohon kehadirat Allah SWT untuk menunjukkan siapa mujadid abad 15 H.

(tambahan jawaban dari sdr Erwan) sbb:

Kalau nggak salah saat ini sudah ada yang mendakwahkan sebagai mujaddid abad 15, terlepas dari benar atau tidaknya dakwahan tersebut, bila kita merujuk kepada dakwahan Mujaddid, ternyata tidak semua mujaddid mendakwahkan dirinya di awal abad, sebagai contoh, Mujaddid abad I, Umar Bin Abdul Aziz, tidak mungkin beliau mendakwahkan dirinya diawal abad I Hijriah, sebab saat itu Baginda Rasul masih hidup.

3. Pertanyaan masalah kenabian HMGA seharusnya pertanyaannya terbalik kami yang harus menanyakan, karena yang menyatakan HMGA adalah nabi yang sesungguhnya adalah MBMA (Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad). Jadi menjadi JELAS mengapa pada masa HMGA dan pada masa Maulana Nuruddin masalah kenabian tidak dipersoalkan karena pengertian Nabi yang diyakini kaum Ahmadiyah adalah sama, yakni HMGA hanyalah nabi dalam pengertian sufi, dengan istilah istilah zhilli nabi, buruzi nabi, ummati nabi, nabi ghoiri mustaqi, bukan nabi yang dalam pengertian yang sebenar -benarnya.  Sehingga hal ini menjadi persoalan ketika masalah kenabian diyakini oleh MBMA sebagai nabi yang sesungguhnya sebagaimana dalam QS 61;6. Dan inilah yang menimbulkan tentangan kaum muslimin hingga hari ini.

(tambahan jawaban dari sdr Erwan) sbb:

Karena Sebelum datangnya obsesi Basyiruddin Mahmud Ahmad menjadi (BMA) Khalifah Penuh (seperti halnya Khalifaturasyiddin) seluruh Jemaat Ahmadiyah tidak ada yang punya pemikiran bahwa HMGA adalah Nabi dan Rasul dalam terminologi Islam/ Nabi Hakiki. Buktinya pada 1910 Basyiruddin Mahmud Ahmad masih menganggap HMGA sebagai Mujaddid dan jelas menyatakan bahwa Nabi Suci Sebagai Nabi terakhir:

http://www.muslim.org/qadis/mahmud-f.htm

dan juga sumpah 70 orang pengikut HMGA yang bai’at sebelum 1901 menyatakan dengan tegas bahwa HMGA tidak pernah merubah dakwahaannya:

http://www.muslim.org/qadis/oath-70.htm

yang mana BMA ditantang untuk membuat hal yang sama minimal 1 orang saja yang berbai’at sebelum 1901 untuk mengajukan sumpah bahwa HMGA telah merubah dakwahannya, ternyata BMA tidak bisa memenuhinya

4.  Pertanyaan ke 4, tetap merujuk ke jawaban ke tiga, Allah menyapa Imam zaman sebagai nabi dan Rasul dalam kapasitasnya sebagai nabi dalam pengertian sufi.

(tambahan jawaban dari sdr Erwan) sbb:

Saya teringat dengan Amin Djamaluddin, penentang keras Ahmadiyah, yang menuduh bahwa syahadat yang dimaksud dalam kalimat Muhammad bukan ditujukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Melainkan ditujukan kepada rasulnya yakni HMGA, sebab dalam buku Ek Ghalati Ka Izala, disana dinyatakan bahwa HMGA dipanggil oleh Allah dalam wahyunya dengan nama MUHAMMAD

Pertanyaan saya adalah benarkah tuduhan Amin Djamaluddin tsb?, bisakah HMGA menjadi Muhammad hanya karena dipanggil oleh Allah dengan sebutan Muhammad?

Disisi lain HMGA jelas sekali menyatkan bahwa panggilan Nabi dan Rasul itu hanyalah MAJAZI saja bukan HAKIKI: http://www.muslim.org/noclaim/state3.htm

Lagi pula seseorang menjadi nabi bukan karena dipanggil nabi atau rasul, Nabi suci pada waktu bi’tsah kenabian, sama sekali dalam surat Al ‘Alaq tidak ada kalimat Nabi Atau Rasul,

Seseorang menjadi Nabi karena dia mendapatkan wahyu Nubuwwat atau wahyu kenabian wahyu yang diucapkan/dibaca oleh malaikat Jibril disebut juga wahyu matluw (wahyu yang jelas sekali), karena sifatnya yang matluw itu, maka bila ada wahyu yang ia terima berbeda dari nabi sebelumnya maka wajiblah ia menerima syari’at yang barunya itu dan membuang syari’at yang lama.

Hal ini mustahil setelah kedatangan Nabi Suci Muhammad sebagai Nabi Terakhir, karena syari’at Islam telah sempurna dan HMGA bila menerima wahyu yang bertentangan dengan Qur’an Suci maka dia membuang jauh2x wahyu yang ia terima karena dia tunduk dan patuh kepada Qur’an Suci

Berikut ini kami kutipkan  tulisan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad,  MOHON UNTUK DIRENUNGKAN …!!!

1. “Adalah naif untuk membayangkan bahwa dalam menerima pengakuanku ada ketakutan atas rusaknya keimanan. Saya gagal untuk mengerti apa yang menyebabkan kerusakan itu? Akan ada suatu kerusakan bila hamba yang rendah ini memaksa umat untuk mengikuti ajaran baru, yang bertentangan dengan ajaran Islam, yakni bila saya mengumumkan suatu perkara yang halal menjadi haram atau sebaliknya telah mengenalkan suatu perubahan dalam kepercayaan Keimanan yang sangat perlu untuk keselamatan, atau telah mengenalkan suatu tambahan atau pengurangan dalam perkara puasa, salat, haji, zakat, dan sebagainya yang telah ditetapkan oleh Syariat. Misalnya, jika saya telah menetapkan sepuluh atau dua kali salat untuk menggantikan salat harian lima kali sehari, atau menetapkan dua bulan berpuasa sebagai ganti sebulan, atau berpuasa kurang dari sebulan lamanya, maka karenanya akan ada kerugian spiritual menyeluruh, bahkan kekafiran dan kehancuran. Tetapi bila situasinya adalah bahwa hamba yang rendah ini berulang-kali menyatakan hanya ini, wahai saudaraku, saya tidak pernah mengusung suatu agama baru atau suatu ajaran baru, tetapi aku adalah satu dari kalian, dan seorang Muslim seperti kalian, dan bagi kami kaum Muslim tidak ada kitab lain yang diikuti kecuali Qur’an Suci, atau ada kitab wahyu lain yang kami ajak agar kalian mengikutinya, dan bila saya membenarkan bahwa kecuali Ahmad dari Arabia, akhir dari para Nabi s.a.w., tak seorangpun yang membimbing kita dan tak seorangpun yang layak diikuti oleh kita, dan tak seorangpun yang kami inginkan agar yang lain mengikutinya, lantas dimana terletak risiko bagi seorang Muslim yang religius untuk menerima pengakuanku yang berdasarkan wahyu Allah ini?” (Izala Auham, hal. 181-182).

2. “Ini adalah sungguh-sungguh suatu rekayasa dari Muhammad Husain bahwa dia menisbahkan saya bahwa saya menolak mukjizat para nabi, s.a.w., atau bahwa saya sendiri mengaku nabi, atau bahwa, semoga Allah mengampuni, saya tidak menganggap bahwa Hazrat Muhammad Mustafa s.a.w. bukanlah akhir para nabi, atau bahwa saya tidak percaya kepada malaikat atau dasar keimanan Islam semacam kebangkitan dan sebagainya, atau bahwa saya mengecilkan landasan Islam seperti puasa dan salat serta memandangnya sebagai tidak perlu. Tidak, Allah Yang Maha-kuasa sebagai saksi bahwa saya beriman kepada semuanaya itu, dan menganggap seseorang yang ingkar dari akidah dan amalan ini sebagai terkutuk dan yang merugi di dunia dan Akhirat”.(Anjam Atham, hal.45).

3. “Adalah fitnah seluruhnya oleh <Maulavi> Muhammad Husain <Batalvi> yang menisbahkan kepadaku bahwa saya menolak mukjizat dan bahwa saya mengaku nabi, dan bahwa saya tidak menganggap Nabi Suci sebagai Khatam al-anbiya. Semoga Tuhan mengampuni. … Tidak, sebaliknya, Allah sebagai Saksi bahwa saya percaya kepada semua perkara itu, dan bagi mereka yang menolak keimanan dan amalan <Islam>, saya anggap mereka terlaknat dan merugi di dunia ini dan di Akhirat”. (Majmu’a Ishtiharat, jil. ii, hal. 257).

4. “Orang-orang ini telah merekayasa kebohongan terhadap saya yang mengatakan bahwa orang ini mengaku sebagai seorang nabi”. (Hamamat al-Bushra, hal.8; edisi baru hal. 36).

5. ‘Orang-orang tidak memahami kata-kataku dan menyatakan bahwa orang ini meng-klaim kenabian. Tetapi Tuhan tahu bahwa kata-kata ini adalah dari mereka dan jelas suatu kepalsuan. Tak ada sebijipun kebenaran di dalamnya, ataupun ada basis atasnya” (ibid. hal. 81; edisi baru hal. 289).

6. “Secara rekayasa, mereka memfitnahku dengan mengatakan bahwa saya telah meng-klaim kenabian… Tetapi hendaknya diingat bahwa semua ini adalah bikin-bikinan belaka. Keyakinan kita adalah bahwa pemimpin dan tuan kita, Muhammad mustafa s.a.w., adalah Khatam al-anbiya”. (Kitab al-Barriyya, hal. 182, catatan kaki).

7. “Saya tidak meng-klaim kenabian. Ini adalah kesalahan kalian, atau anda mempunyai beberapa niat di hati. Perlukah seorang yang mengaku menerima wahyu itu juga harus menjadi seorang nabi?” (Jang Muqaddas, hal. 67).

8. “Penentang yang jahil mengatakan tentangku bahwa orang ini mengaku sebagai seorang nabi atau rasul. Saya tidak meng-klaim yang semacam itu”. (Pamflet Aik Ghalati Ka Izala).

9. “Bisakah seorang pendusta yang bobrok yang mendakwahkan kerasulan dan kenabian bagi dirinya sendiri punya sedikit keimanan kepada Qur’an Suci? Dan bisakah seseorang yang beriman kepada Qur’an Suci, dan yakin kepada ayat ‘Dia Rasulullah dan Khataman nabiyyin’  sebagai firman Ilahi, menyatakan bahwa dia adalah seorang rasul dan nabi sesudah Nabi Suci Muhammad?”. (Anjam Atham, hal. 27, catatan kaki).

10. “Kejahilan yang lain adalah, supaya bisa menghasut orang-orang bodoh mereka berkata bahwa orang ini meng-klaim kenabian. Ini benar-benar suatu rekayasa dari fihak mereka”(Haqiqat al-Wahy, hal. 390).

11. “Betapa jahil, bodoh dan sesat dari kebenaran, mengatakan bahwa kenabian telah di-klaim” (ibid. Appendix, hal. 68).

12. “Dalam menghadapi ulama masa kini, hamba yang rendah ini telah… bersumpah berulang kali demi Allah bahwa saya bukanlah seorang yang mendakwahkan diri untuk kenabian. Tetapi orang-orang ini tetap bergeming dalam mengumumkan saya sebagai kafir”. (Surat kepada Maulavi Ahmad-ullah dari Amritsar, 27 Januari 1904).

Demikian tanggapan kami semoga bermanfaat.

2 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum w.r. w.b.

    Kalau saudara-saudara Lahore mau merenung dengan hati yang tidak berat sebelah, tentu saudara-saudara akan mengakui status kenabian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Sayangnya, dikarenakan kealergian mereka membaca buku-buku tentang pendakwahan kenabian beliau a.s., maka mereka menjadi tidak mau tau dan acuh saja tentang perkara ini. Ketahuilah, sebelum 1914, Muhammad Ali sendiri mengakui kenabian Hazrat Sahib a.s. Hal ini dapat diketahui sendiri dari tulisan-tulisanya di majalah yang Muhammad Ali pimpin, yakni “Review of Religions”.

    Wassalamu ‘ala man-it-taba al-Huda

    • Wa’alaikumsalam wr wb, ikhwan Iffat yang kami hormati, sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya, mengenai pertanyaan ikhwan tanggapan kami sbb:
      1. Status kenabian HMGA adalah dalam konteks sufi, misalnya sebagai ummati nabi, burruzi nabi, ghoiri mustaqi nabi, dan sebutan lainnya yang mengacu pada terminologi sufi, artinya seseorang yang karena pengabdian dan ketulusannya dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah Muhammad SAW, maka orang tersebut seolah-olah mencapai kedudukan nabi. Kondisi ini tidak serta merta mengangkat seseorang tersebut menjadi nabi dalam arti sesungguhnya sebagaimana nabi-nabi sebelum kedatangan Rasulullah Muhammad SAW, oleh karena itulah HMGA berkali-kali menegaskan apabila kata-kata nabi yang beliau ucapkan itu mengganggu maka diganti saja dengan kata MUHADATS(orang yang begitu banyak melakukan wawansabda/diajak berkomunikasi dengan ALLAH SWT). Oleh karena itu AAIIL dari dulu hingga kapanpun tidak pernah berubah dari pemahaman ini, termasuk Maulana Muhammad Ali.
      2. Masalah kenabian adalah masalah yang sangat fundamental dalam Islam karena menyangkut Rukun Iman, yang secara TEGAS dinyatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah Khataman Nabbiyyin, yakni penutup para nabi. Dengan demikian maka ayat Muhkamad (hukum) ini harus menjadi pedoman dan patokan dalam memahami segala sesuatu, termasuk kata-kata HMGA, karena beliau tidak akan menyimpang serambut pun dari pengertian Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Maka seseorang yang memiliki pemahaman yang selain dari pada itu, dia sudah MELANGGAR BATAS, YAKNI KELUAR DARI AGAMA ISLAM, karena telah merusak rukun iman yang menjadi fondasi dari keimanannya.
      3. Dalam tulisan2nya HMGA MENYANGGAH DENGAN KERAS PENDAKWAHAN ITU, (lihat pada kutipan2 diatas) karena memang tuduhan itu dibuat untuk menyudutkan posisi HMGA, dan HINGGA HARI INI KITA SAKSIKAN betapa dakwah HMGA mendapatkan tantangan yang begitu keras dari kaum muslimin lainnya, karena kesalahpahaman dalam memahami ikhwal kenabian ini.

      Demikian tanggapan kami, semoga menjadi renungan, terimakasih.
      Wassalam wr wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: