Jawaban Atas Fitnah Terhadap HMGA

Dalam suatu majalah ada tertulis

Mirza Ghulam Ahmad, muncul di akhir 1800-awal 1900an. ‘Diangkat’ menjadi nabi oleh Inggris dengan agama Ahmadiyah (ndompleng Islam tapinya) di akhir hayatnya mati sakit di kamar mandi (beberapa sumber menyatakan di wc) dengan kondisi menyedihkan

Jawaban:

Isi tulisan itu adalah rangkaian yang wajar dari fitnah-fitnah yang beredar lalu dirangkai menjadi satu. Namun yang tidak wajar adalah kebenaran isinya bila ditinjau dari kenyataan fakta sejarah.

1. Bagaimana kondisi wafatnya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad?,

Pada tanggal 25 maret 1908 jam 10 malam tiba-tiba dia merasa sakit, terserang diarrhoea, dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya jam 10 pagi tanggal 26 Maret 1908, sakitnya pun seperti yang tercantum dalam sertifikat yang dikeluarkan oleh Civil Surgeon of Lahore, bukan karena wabah penyakit menular atau apapun, dan karena sertifikat inilah Jenazah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad diizinkan oleh otoritas,   dibawa dengan kereta api  untuk dimakamkan di Qadiyan (sumber: http://www.muslim.org/books/f-ahm-mv/ch7.htm )

2. Benarkah dia antek-antek Inggris?

Hingga kini tuduhan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah antek Inggris belum bisa dibuktikan. Tidak ada arsip-arsip atau dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad merupakan kaki tangan pihak Inggris dan yang ada justru sebaliknya, karena pengakuan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi maka pihak Inggris senantiasa menaruh curiga terhadap Jemaatnya yakni dengan cara:

  1. menaruh intel 2xnya di Qadian dan berpura-pura menjadi salah seorang Jemaatnya
  2. Surat-suratnya senantiasa di sensor terlebih dahulu
  3. Para pendatang dan yang keluar dari Qadian senantiasa dicatat dan dilaporkan ke Pemerintah. (sumber: http://aaiil.org/text/books/others/naseerahmadfaruqui/ahmadiyyatserviceislam/othercharges.shtml )

Lagipula bagaimana mungkin Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menjadi antek-antek Inggris bila dia mengatakan bahwa Inggris merupakan Dajjal yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Suci Muhammad dan  kepada umat Islam hendaknya melawan dengan sekuat tenaga?

3. Tuduhan dakwahan sebagai Nabi dan Rasul

Untuk melihat permasalahan ini hendaklah dilihat dari sudut pandang ramalan Nabi Suci bahwa diakhir zaman akan turun “Nabi Isa”  yang akan memenangkan perkara Islam dan mengalahkan Dajjal. Disini keyakinan segenap kaum Ahmadi berdasarkan Quran Suci dan Hadits bahwasannya Nabi Isa telah wafat, dan  Al-masih yang dijanjikan itu merupakan salah seorang Imam dari umat Islam itu sendiri (kaifa antum idza nazalal ibnumaryama minkum wa imamukum minkum. Bagaimana keadaan kamu semua bila turun Ibnu Maryam diantara kamu dan merupakan imam kamu dari antara kamu sendiri Hr Bukhari). Karena itu istilah-istilah nabi dan rasul, hendaklah dilihat dari kacamata Ijtihad Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam rangka mensinkronisasikan kenyataan bahwa:

  1. Banyak penjelasan dalam Qur’an Suci sebagai sumber hukum tertinggi dalam Islam yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat, dan orang yang telah wafat tidak mungkin hidup kembali
  2. Kalimat Khataman-Nabiyyin (Penutup para nabi) tertulis jelas dalam Quran Suci sebagai sumber hukum tertinggi dalam Islam dan diartikan sendiri oleh banyak Sabda Nabi Suci sebagai La Nabiyya Ba’di Tidak ada lagi nabi setelah ku
  3. Kenabian Masih Yang Dijanjikan itu hanya terdapat dalam Hadits

Karena posisi Qur’an Suci sebagai sumber hukum itu berada diatas Hadits , maka apapun arti yang dikenakan dalam memahami hadits-hadits nuzulul masih itu tidak boleh menyimpang dari apa yang telah dijelaskan secara terang benderang yang terdapat dalam Qur’an Suci yakni:

  1. Nabi Isa telah wafat, dan orang yang telah wafat tidak mungkin hidup kembali
  2. Nabi Suci Muhammad merupakan Khataman nabiyyin, yakni penutup para nabi/ nabi terakhir

Karena landasan kedua dalil muhkammat diatas  makanya, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan segenap kaum ahmadi meyakini bahwa nuzulul masih itu bukanlah Nabi Isa yang dahulu diutus kepada Bani Israel, karena selain telah wafat, Nabi Isa merupakan Nabi & Rasul dan dinding Khataman Nabiyyin telah menghalanginya untuk datang kembali. Karena itu Ramalan Nuzulul Masih itu tiada lain hanyalah salah seorang Imam dari kalangan umat nabi Muhammad (Umat Islam) hal ini dijelaskan dalam hadits dengan kata-kata Imamukum minkum (Bukhari) dan Fa ammakum minkum (Muslim). Setelah masalah pertama selesai maka persoalan kedua datang, yakni apakah Nuzulul Masih —yang merupakan Imam dari umat islam– itu seorang nabi?, (mengingat dalam hadits yang disampaikan oleh ibn Saman dan diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan kata-kata Nabiyullah untuk Al Masih-nya umat Islam). Nah, kata ‘nabi’ untuk Al-Masih yang dijanjikan inilah yang ditafsirkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai berikut:

  1. Nabi dan Rasul dalam arti kamus (pengertian tata bahasa/etimologi): yakni ‘Nabi’ artinya orang yang mendapatkan An-naba, dan Rasul secara etimologi berarti ‘orang yang diutus’
  2. Nabi dalam literatur Sufi, yakni Nabi Zilli, Nabi Buruz, Nabi Ghair Mustaqil, Nabi Ghair Syari’at, Nabi Majazi, Nabi wa Ummati. Namun kesemua itu merujuk kepada istilah dalam kazanah sufi yaitu seorang Waliullah dan Muhaddats (orang yang kepadanya Allah berkenan ber mutakallim, meskipun bukan nabi)

Sehingga pada hakikatnya kesemua itu bukanlah Nabi dalam artian yang sesungguhnya, berikut penjelasan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad:

Do not level false allegations against me that I have claimed to be a prophet in the real sense. Have you not read that a muhaddas [saint] too is a mursal [messenger]?… It is true that, in the revelation which God has sent upon this servant, the words nabi, rasul and mursal occur about myself quite frequently. However, they do not bear their real sense. …

We believe and acknowledge that, according to the real meaning of nubuwwat [prophethood], after the Holy Prophet Muhammad no new or former prophet can come. The Holy Quran forbids the appearance of any such prophets. But in a metaphorical sense God can call any recipient of revelation as nabi or mursal. Have you not read those Sayings of the Holy Prophet in which occur the words: rasulu rasul-illah [‘messenger of the Messenger of God’]? The Arabs to this day call even the message-bearer of a man as a rasul, so why is it forbidden for God to use the word mursal [messenger] in a metaphorical sense too?…

“I say it repeatedly that these words rasul and mursal and nabi undoubtedly occur about me in my revelation from God, but they do not bear their real meanings. And just as these do not, similarly the Promised Messiah being called nabi in Hadith is not meant in a real sense. This is the knowledge which God has given me. Let him understand, who will. This very thing has been disclosed to me that the doors of real prophethood are fully closed after the Khatam an-nabiyyin, the Holy Prophet Muhammad. According to the real meaning, no new prophet nor an ancient prophet can now come.” (Siraj Munir, pages 2 – 3, published March 1897). Dikutip dari http://www.muslim.org/noclaim/state3.htm

karena itulah HANYA Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan para muridnya yang setia yakni Ahmadiyah Anjuman Isya’ati Islam Lahore yang berpendapat bahwa, Nabi Suci Muhammad saw adalah khataman-nabiyyin yang berarti nabi terakhir dalam artian tidak akan datang lagi baik nabi baru maupun nabi lama secara sesungguhnya  disamping tetap mempercayai sepenuhnya hadits-hadits tentang kedatangan Al Masih di akhir zaman

Satu Tanggapan

  1. Maafkan saya, yang jelas saya tidak paham tentang Islam, karena saya berasal dari bukan Islam. Setelah saya menemukan web ini dan juga membaca berbagai pertanyaan dan tanggapan serta penjelasan maka saya mengambil sedikit kesimpulan bahwa yang namanya perpecahan itu selalu ada di dalam kehidupan manusia. Karena ciptaan yang paling mulia itu mempunyai kehendak bebas yang di hormati penciptanya. Hal itu terjadi pada agama apa saja dan berada di mana saja. Yang beda hanya cara menyatukan perbedaan itu. Ada yang melalui jalan damai musyawarah dan mufakat, ada yang dengan jalan kekerasan. Padahal semua agama yang ada mengajarakan jalan2 kebaikan menuju surga abadi. Mungkin yang kurang berimanlah yang selalu mengunakan cara2 kekerasan, pemaksaan kehendak, karena merasa kurang aman dan banyak kekurangan di dalam diri sendiri sehingga orang lain menjadi salah. Kalau engkau beriman tunjukanlah imanmu dalam tingkah dan perbuatan nyata, jadilah yang baik2 pasti orang akan mengikuti ajaranmu. Mulailah dengan jalan damai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: