Persamaan & Perbedaan Ahmadiyah lahore dengan lainnya

PERSAMAAN & PERBEDAAN

AHMADIYAH (LAHORE) DENGAN LAINNYA

 

“Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat manusia satu umat. Dan mereka tak henti-hentinya berselisih; kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhan dikau; dan untuk inilah Ia menciptakan mereka” (Q.S. 11: 118-119)

 

 

Perbedaan itu rahmat

Kalimat “dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat manusia satu umat” maksudnya menurut Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya adalah “Allah tak memaksa manusia supaya menganut suatu kepercayaan; Allah memberi kebebasan memilih, apakah menerima ataukah menolak Kebenaran” (tafsir no. 1208), seperti dinyatakan dalam ayat lain. “Kebenaran adalah dari Tuhan kamu, maka barang siapa suka ia boleh beriman, dan barang siapa suka ia boleh kafir” (18: 29). Ini tak berarti bahwa menerima Kebenaran dari Tuhan tak diganjar dan menolak Kebenaran tak dihukum. Ganjaran atau hukuman akan diberikan oleh Tuhan sendiri –bukan oleh sesama manusia– yang akan diberikan nanti di akhirat (2:113; 5:48; 22:17), bukan di dunia ini, kecuali kalau diminta dengan mubahalah (3:61; 62:5-7). Maka dari itu di dunia ini siapa pun tak boleh ditindas atau dianiaya karena agama dan kepercayaannya dan siapa pun bebas memeluk agama yang disukainya, sebab “semua agama hanya bagi Allah” (2:193).

Jadi di dunia ini manusia tak dihukum karena perbedaan agama, melainkan karena tak melakukan kebaikan (11:117), alias melakukan kejahatan dan kesewenang-wenangan atau kelaliman. Mengapa? Karena sebenarnya perbedaan itu rahmat. kata Nabi Suci “perbedaan diantara umatku itu rahmat” (Jami ‘ush Shaghir). Maka dari itu ayat suci di atas mengandung petunjuk bahwa orang yang dikaruniai rahmat Tuhan adalah mereka yang dapat menghargai dan menghormati perbedaan diantara umat manusia. baik perbedaan warna kulit dan bahasa (30:22), maupun agama dan kepercayaan.

 

Masalah far’iyyah

Menurut Quran Suci para Nabi Utusan Allah yang paling banyak disalah-pahami oleh umat manusia adalah Almasih Isa bin Maryam dari bani Israel (19:34). Hal ini mengandung petunjuk pula, bahwa Almasih Isa bin Maryam seorang Imam dari umat Islam – ibnu maryam fikum imamukum minkum (Ibnu Maryam dalam kamu sebagai Imam kamu dari antara kamu) – juga menjadi sumber perdebatan diantara umat Islam. Tetapi perlu diingat bahwa perdebatan tentang diri beliau dan ajarannya hanyalah dalam hal yang bersifat sekunder (masalah furu’), bukan masalah pokok (ushul), misalnya antara umat Islam golongan Ahmadiyah Lahore (selan­jutnya disingkat AL) dan umat Islam lainnya (selan­jutnya disingkat UI) tentang:

(1) Khatamun-Nabiyyin (33:40). AL mengartikan “segel (penutup) para Nabi”; tafsirnya menurut Nabi Suci “tak ada Nabi sesudahku” lalu dipertegas oleh H.M. Ghulam Ahmad: “dengan menyatakan ‘tak ada Nabi sesudahku’ Nabi Suci menutup pintu secara mutlak kepada seseorang Nabi baru atau datang kembalinya seseorang Nabi lama” (Ayyamush Shulh, hlm. 152). Tegasnya setelah Nabi Suci tak akan ada Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. UI mengartikan “penutup nabi-nabi”, tafsirnya Nabi Muhammad saw. hanyalah Nabi terakhir pengangkatannya, karena mereka masih mengharapkan datangnya Nabi lama, yang diangkat sebelum Nabi Muhammad saw., yaitu Nabi Isa Almasih bin Maryam (lihat Ahkamul-Fuqaha yang diterbitkan oleh PB. NU, tanya jawab no. 34, 35; Majalah Moetiara yang diterbitkan oleh Muhammadiyah, th ke IX, Februari 1940, hlm. 32; Brosur Risalah Mirzaiyah diterbitkan oleh Persis, hlm. 25-46; Pelajaran Agama Islam oleh HAMKA, hlm. 236;d11). Kepercayaan ini seperti akidah Ahmadiyah Qadiani (AQ), sama-sama meyakini adanya Nabi setelah Nabi Suci, hanya bedanya UI meyakini datangnya Nabi lama, sedang AQ datangnya Nabi baru.

 

(2) Innahu la’ilmun lissa’ah (43:61). AL mengartikan “sesungguhnya itu adalah ilmu tentang Sa’ah,” tafsirnya kedatangan Nabi Isa a.s. merupakan tanda tentang Saat, yakni saat dicabutnya Wahyu Kenabian dari bani Israel diberikan kepada bangsa lain, yakni bangsa Arab dengan diturunkannya Quran Suci, dan bisa ditafsirkan pula bahwa kedatangan Isa yang dijanjikan seorang Imam umat Islam “tibalah saat kebangkitan Islam kembali”, yang ini telah digenapi dengan datangnya H.M. Ghulam Ahmad pendiri Gerakan Ahmadiyah yang sejak tahun 1901 telah mencanangkan pembelaan dan penyiaran Islam di Barat yang pada saat itu masih diabaikan oleh umat Islam sedunia, terutama umat Islam Arab Timur Tengah. UI mengartikan “sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat”, tafsirnya “yang memberitahukan dan menjadi tanda hari kiamat itu ialah kedatangan Nabi Isa a.s. pada akhir zaman nanti, sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits sahih”. Suatu tafsiran yang tidak berbeda dengan Pengakuan Iman Rasuli pasal ke-7 yang diyakini oleh umat Kristen.

 

(3) Wama qataluhu wama shalabuhu (4:152). AL mengartikan “mereka tak membunuh dia (Isa Almasih) dan tak menyalibkan dia (sampai mati)”. Tafsirnya “kalimat ma shalabuhu ini, tak sekali-kali mendustakan direntangkannya tangan dan kaki Nabi Isa dengan dipakukannya pada kayu salib, melainkan mendustakan wafatnya Nabi Isa pada kayu salib sebagai akibat dari penyaliban” yang menjadi pokok dogma Gereja. Jadi AL fokusnya pada apa arti salib (shalb). UI mengartikan “mereka tak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya”. Tafsirnya “mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang disalib dan dibunuh itu ialah seorang yang serupa dengan Isa Almasih bernama Yudas Iskariot bekas muridnya”, Nabi Isa diangkat ke langit. Jadi menurut UI fokusnya pada siapa yang disalib (mashlub).

(4) Walakin syubbiha lahu m (4:157). AL mengartikan “melainkan ditampakkan kepada mereka seperti (telah mati)”. Tafsirnya Nabi Isa dibuat, seperti itu atau dibuat menyerupai itu, yakni diserupakan orang mati, bukan orang lain itu yang diserupakan dengan Nabi Isa, karena ayat ini membantah kematian Isa Almasih disalib yang menjadi sentral dogma Gereja Kristen. UI mengartikan “tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka”. Tafsirnya seperti dikutip dalam no (3) di atas. Suatu tafsir yang tak ada hubungannya dengan dogma Gereja Kristen.

 

(5) Bal rafa’allahu ilaihi (4:158). AL mengartikan “tidak Allah mengangkat dia kehadapan­-Nya,” tafsirnya “diangkat kehadapan Allah, adalah kebalikan dari mati pada kayu palang yang dikutuk oleh Allah (UL 21:23). Jika Nabi Isa mati pada kayu palang (salib), beliau mati terkutuk sebagaimana diyakini oleh kaum Yahudi dan Kristen (2:113). Jadi sebenarnya ini membantah keyakinan kaum Yahudi dan Kristen. UI mengartikan “Tetapi (yang sebenarnya) Allah mengangkat Isa kepada-Nya”, tafsirnya Isa a.s. yang diangkat ke langit dengan jasmani dan rohani, sejak diangkatnya sampai turunnya kembali ke bumi, adalah sepenuhnya di tangan Allah”. Suatu tafsir yang menjustifikasi dogma Gereja pasal ke-6 dan ke-7.

 

(6) Wain min ahlil-kitabi illa layu’minanna bihi qabla mautihi (4:159). AL mengartikan “dan tak seorangpun dari kaum Ahlikitab, melainkan akan mengimani itu sebelum matinya”, tafsirnya “Kaum Yahudi dan Kristen kedua-duanya memerlukan kepercayaan bahwa Nabi Isa mati disalib, padahal menurut Qur’an mereka sebenarnya tak mempunyai kepercayaan tentang kematian Isa di tiang salib itu dengan yakin. Mereka hanya mengikuti dugaan saja, tanpa pengetahuan tentang kematian Isa disalib. UI mengartikan “Tidak ada seorang pun dari Ahlikitab, kecuali akan beriman kepada-Nya”. Tafsirnya “Tiap-tiap orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa sebelum wafatnya. bahwa dia adalah Rasulullah, bukan Anak Allah”, yakni tatkala sakaratul maut mendatangi mereka.

 

(7) Kaifa nukallimu man kana fil-mahdi shabiyya (19:29). AL mengartikan ucapan para ulama Yahudi ini sbb: “Bagaimana kami bercakap-cakap dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”. Tafsirnya, “Memang sudah menjadi kebiasaan para sesepuh dan ulama Yahudi untuk menyebut anak kecil yang masih dalam ayunan, kepada seseorang yang masih muda.” Kalimat itu bisa ditafsirkan menunjuk masa kenabian, sebelum penyaliban yang gagal (4:157). Jadi kata “mahdi shabiyya” dipahami sebagai kalam ibarat atau majasi, bukan hakiki, karena ucapan itu disampaikan sekitar 30 tahun setelah kelahiran beliau. UI mengartikan “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Tafsirnya “Maryam menunjuk kepada puteranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang hal keadaannya karena beliau sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapapun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu. Orang-orang Yahudi bertanya dengan keheran-heranan seperti itu”. Jadi kata “mahdi shabiyya” dipahami secara hakiki. Isa Almasih benar-benar masih dalam buaian yang akan dijadikan Nabi dan dianugerahi Kitab Suci. Jadi jawaban beliau itu mereka sangka disampaikan beberapa hari atau minggu setelah kelahiran beliau.

 

(8) Fahamalathu fantabadzat bihi makanan qashiyya (19:22). AL mengartikan “Lalu mengandunglah dia; dan dia menyingkir dengannya ke tempat yang jauh”. Tafsirnya, seperti diterangkan dalam ayat-ayat lain (3:33-47) dapat disimpulkan bahwa tatkala Maryam mendapat kabar baik tentang lahirnya seorang anak Iaki-laki yang suci, beliau telah cukup dewasa dan akan diperisteri oleh seorang lelaki yang berhasil memenangkan pelemparan kalam untuk menentukan siapa yang akan “memelihara” beliau. Pria yang beruntung menikahi beliau adalah Yusuf si Tukang kayu dari Betlehem. Setelah Maryam mengandung pergi ke tempat yang jauh. yakni dari Nazaret ke Betlehem kota asal suaminya (Yusuf) untuk keperluan sensus penduduk. UI mengartikan ayat itu sbb: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh”. Tafsirnya “Setelah Jibril menerangkan maksud kedatangannya itu, maka Maryam menjawab: “Aku menyerahkan diri kepada ketetapan Allah”. Lalu Jibril meniupkan roh Nabi Isa ke dalam lengan baju Maryam, sehingga mengakibatkan beliau mengandung; lalu beliau mengasingkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh untuk menghindari tuduhan dan cemoohan dari bani Isarel”. Tanpa menyebut nama tempat yang dituju Maryam. Suatu tafsir yang tak terkait dengan nubuat para Nabi.

(9) Walladzina yu’minuna bima unzila ilaika wama unzila min qabblika (2:4). AL mengartikan “Dan yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau“, tafsirnya Al-Qur’an bukan saja mewajibkan iman kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Suci saja, melainkan mengharuskan pula kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada seluruh umat manusia di dunia. Menurut kaum kafir Quraisy Kitab Suci yang berisi firman Allah hanya diturunkan kepada dua golongan dari bani Israel, Yahudi dan Kristen; seperti halnya pendapat umat Kristen (Rm 3:2). Al-Qur’an diturunkan untuk menghapus pendapat keliru tersebut (6:155-156). karena Quran Suci mengajarkan wahyu Ilahi sifatnya universal, diturunkan kepada sekalian bangsa. UI mengartikan juga sama dengan AL, tetapi berbeda dalam tafsir, karena mereka hanya mengimankan empat Kitab Suci saja, yaitu Al-Qur’an, Injil, Zabur dan Taurat.

 

Rahmat berubah jadi laknat

Dari sembilan contoh tersebut -dan masih banyak lainnya- dapat disimpulkan bahwa dalam masalah pokok yang secara tekstual termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits antara AL dan UI sama, tak ada perbedaan ­tetapi dalam terjemahan ada sedikit perbedaan, lalu perbedaan itu semakin jauh hanya pada tafsir saja. Oleh karena itu orang boleh berbeda pendapat. Jika demikian halnya, berbeda pendapat dalam hal ajaran dan dakwah H.M. Ghulam Ahmad sebagai Masih Matsil adalah wajar, dan menolak dakwah beliaupun tidak menyebabkan kafir, keluar dari Islam, asal masih mengakui kebenaran kalimat syahadat yang telah diikrarkan, sebab tak ada perbedaan akidah pokok yang ada hanyalah orientasi masalah kecil tentang sesuatu hal yang termasuk masalah furu’.

Jika masalah kecil itu dibesarkan berarti yang furu’ dijadikan ushul akibatnya fatal, karena rahmat berubah jadi laknat. Sebagai umat Islam berarti meninggalkan Kitab Allah dan Sunnah Nabi berpegang kepada Sunnah Arab.

 

About these ads

4 Tanggapan

  1. ELEH-ELEH ISLAM BANGUN KEMBALI DENGAN ADANYA MGA ITU MAH SESAT LAGI MENYESATKAN/ PENGAKUAN ITU HANYA DI AKUI ORANG2 AHMADIYAH

    LAIN HALNYA DENGAN IMAM AL GHAJALI
    ALIRAN APAPUN MENGAKUINYA

  2. Ikhwan Jun Yth,
    Kami menghargai pendapat ikhwan, akan tetapi sangat kami sayangkan apabila ikhwan menyatakan sesuatu yang tidak jelas dasar hukumnya. Bila ikhwan menyatakan ahmadiyah sesat lagi menyesatkan, dimana letak kesesatan ahmadiyah dan bagaimana yang benar menurut ikhwan berdasarkan Qur’an Suci dan Sunnah Rasulullah serta Kitab Hadist. Kami berharap, kita sebagai seorang muslim dapat melakukan diskusi secara adil dan bijaksana dengan landasan tersebut bukan sekedar melempar opini tanpa mau bertanggung jawab secara jujur dan kami tunggu tanggapan ikhwan selanjutnya.

    Mengenai Imam Al-Ghazali kami dari Gerakan Ahmadiyah sangat menghormati beliau bahkan semua para wali Allah karena beliau2 itu dibangkitkan oleh Allah sebagai Imam zaman pada masanya. Demikian pula halnya dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beliau adalah Imam Zaman pada masa ini yang menyeru kembali kepada agama yang benar sesuai yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Dan penjelasan diatas dari berbagai perbedaan adalah tajdid yang dilakukan oleh beliau karena pemahaman yang telah menyimpang yang diikuti oleh kaum muslimin.
    Demikian penjesan kami, Terimakasih.

  3. SEPANJANG MASIH MENGAKUI ALLOH MAHA ESA,
    ADALAH TANDANYA MEMILIKIM IMAN, YANG PERLU DIPRIHATINKAN ADALAH YANG YANG TIDAK PERCAYA ADANYA TUHAN…..MASYA ALLOH…..KASIHAN SEKALI

  4. saya pernah mencoba mempelajari tentang Ahmadiyah, dan alhamdulilah saya telah mengetahui perbedaan antara Ahmadiyah Lahore dan Ahdmadiyah Qodian. Ahmadiyah Lahore lebih seperti aliran aliran yg ada di indonesia dan tdk mempercayai pendirinya sebagai Nabi melainkan hanya sebagai mujadid( imam atao kiai )cuma memang Ahmadiyah Lahore lebih menekan kan rasionalitas dan nalar dalam ajaran hingga mudah untuk mengerti dan mengetahui Ajaran- ajaran Islam. saya lebih bisa melihat Islam dengan sangat tentram dan damai bila mempelajari nya . berbeda dengan Ahmadiyah Oodian yg agak kolot dan ortodok dan mengakui Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 251 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: