Doa Yang Menghidupkan

DOA YANG MENGHIDUPKAN

WILL TO ACTION

“Setiap perbuatan baik yang tak dimulai dengan Basmalah akan terputus berkahnya” (Al-Hadits)

Doa Paling Mustajab

Kalimat Basmalah bunyi selengkapnya “bismillaahir-rahmaanirrahiim” artinya dengan nama Allah Yang Maha pengasih, Yang Maha penyayang”. Kalimat ini merupakan ayat tunggal dalam Al-Qur’an yang tertulis 114 kali dalam Al­-Qur’an, dengan rincian 113 tertulis dalam permulaan surat, kecuali surat No. 9 “Al-Bara’ah” atau “At-Taubah”, tetapi kalimat ini tertulis dalam ayat ke 30 surat 27 “An-Naml”.

Kata depan bi dalam bahasa Arab multi arti, dalam kalimat ini bismillah yang biasa diartikan dengan nama Allah dapat pula diartikan atas pertolongan Allah. Abu Abdillah Hayyan Al-­Andalusi dalam tafsirnya Bahrul-Muhith kalimat itu diartikan Aku mohon pertolongan Allah, Yang Maha pengasih, Yang Maha-penyayang. Jadi Basmalah merupakan doa dan doa yang paling mustajab. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa “setiap perbuatan baik yang tak dimulai dengan Basmalah akan terputus (berkahnya)”.

Nama Diri Tuhan Yang Maha Esa

Keesaan Tuhan bukan hanya berkenaan dengan Dzat atau EsensiNya, Sifat-sifat-Nya dan Af’al atau Karya-Nya saja, melainkan pula berkenaan dengan Nama-Nya, Allah. Kata “Allah” adalah Esa, sebab:

Pertama, dari segi penggunaan dan makna kata Allah adalah Ismu Dzat Tuhan, oleh karena itu tak pernah digunakan untuk menamakan sesuatupun selain Suatu Dzat Yang Maujud dengan sendirinya atau Dzat Yang Wajib adanya (Wajibul-­Wujud), Yang berdiri dengan sendirinya (Qiyamuhu binafsih), Yang berbeda dengan segala apa yang baru (Mukhalafatuhu lilhawadits) dan Ismu A’zham, Nama Yang Agung, yakni nama Yang mencakup segala sifat keagungan kesempurnaan.

Kedua, kata Allah adalah jamid, bukan isim musytaq, karena tak digubah dari kata lain, sebagaimana nama-nama yang lain. Kata Allah bukan berasal dari kata ilah yang berasal dari akar kata a1iha artinya tahayyara atau digubah dari kata wilah dari akar kata waliha artinya tergila-gila. Ilah artinya dewa, pujaan, tuhan atau sesembahan. Ini pendapat pertama. Pendapat lain menyatakan bahwa kata Allah adalah berasal dari kata ilah mendapat awalan al, sehingga menjadi al-ilah (berbentuk ma’rifat atau definite, karena kedua huruf tersebut sama dengan “the” dalam bahasa Inggris

D­iantara dua pendapat tersebut yang lebih mendekati kebenaran adalah yang pertama, yakni Al pada kata Allah bukanlah awalan (artikel), buktinya:

(1) Bentuk kalimat “ya, Allah” adalah benar. Seandainya “al” pada Allah adalah artikel, seharusnya kalimat itu berbunyi “Ya lah” (al-­nya hilang), sebagaimana kata ar-Rahman dan ar-Rahim jika didahului kata seru “Ya” maka al-nya hilang, menjadi Ya Rahman dan Ya Rahim, bukan Ya Ar-Rahman dan Ya Ar-Rahim.

(2)Kata ilah jika mendapat artikel “al” menjadi al-­ilah, bukan allah. Jika huruf iditiadakan memang berbunyi allah, tetapi jika ditulis dengan huruf Arab sangat berbeda dengan Allah sebagai nama Diri/Tuhan. Keduanya terdiri dari huruf-huruf yang sama yakni: Alif, Lam, Lam dan Ha’; huruf Lam pertamaa tanpa syakel dan Lam kedua bersyakel tasydid (4JJ I). sedangkan pada kata allah (4JJ I) huruf 1am pertama bersyakel saktah dan Lam kedua tanpa tasydid.

(3)Dari segi lafazh kata Allah nampak keistimewaannya: jika dihapus huruf awalnya menjadi Lillah (4JJ) artinya bagi/milik Allah, jika dihapus awalnya kata lillah menjadi lahu (4J) artinya bagi-Nya, selanjutnya dihapus huruf awal lahu menjadi hu ( ) artinya Dia (menunjuk Allah).

(4)Kata ilah adalah bentuk mufrad, karena itu mengenal bentuk tatsniyah, yaitu ilahaini artinya dua tuhan; sebagaimana terdapat dalam ayat 5:116. Kata ilah juga mengenal bentuk jamak, yaitu Alihah artinya banyak tuhan, sebagaimana terdapat dalam ayat 6:19. Perubahan bentuk semacam ini tak terjadi pada kata Allah.

Ketiga, dalam bahasa manapun, tak ada kata yang semakna dengan kata Allah yang mengandung segala sifat kesempurnaan_ tanpa cacat. Bangsa Arab pun tak pernah menamakan salah satu berhala mereka dengan nama Allah. Nama yang mereka gunakan ialah al-Lata dan al-Uzza serta Manat. Kata God (Inggris) identiik dengan god artinya dewa, maka kata goddess artinya dewi, sesuatu yang sangat dipuja-puja; selaras dengan kata ilah dalam bahasa Arab, karena selain Allah dapat saja diper­-ilah, dipertuhan.

Dua Sifat Utama

Nama ar-Rahman (Yang Maha-pengasih) dan ar-Rahim (Yang Maha-penyayang) berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahima-yarhamu-rahmat. Rahmat artinya riqqatun taqtadil-ihsan ilal-marhum, yakni kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti dengan perbuatan baik kepada yang dirahmati. Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, warahmati wasi’at kulla syai’ (Q.S. 7:156). Kata rahman digubah mengikuti wazan fa’lan, menunjukkan melimpah-limpahnya rahmat Allah dalam tingkatan setinggi-tingginya, maka ar-­Rahman artinya Yang Maha-pengasih, yakni yang mencukupi segala kebutuhan makhluk, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani, yang kebutuhan itu telah disediakan sebelum ciptaan­-Nya ada, yang disediakan secara cuma-cuma bukan karena permohonan dan bukan karena balas jasa.

Sedangkan kata rahim digubah mengikuti wazan fa’il, menunjukkan berulang-ulangnya rahmat itu, sifatnya dawam (langgeng), maka ar-Rahim artinya Yang Maha-penyayang”, yakni Yang membalas perbuatan baik yang tak seberapa dengan balasan yang berlipat ganda. Jadi tak ada perbuatan baik manusia yang sia-sia tak diganjar.

Rasulullah saw, menjelaskan kedua Sifat Ilahi itu sbb: “Ar-Rahmanu rahmanud-dunya war-­Rahimu rahimul-akhirah” artinya “Ar-Rahman ialah Tuhan Yang Maha-pengasih, yang kasih sayang-Nya diwujudkan dalam perbuatan menciptakan dunia seisinya (alam semesta) dan Ar­-Rahim ialah Tuhan Yang Maha-penyayang, yang kasih sayang-Nya diwujudkan dalam keadaan yang akhir (datang kemudian), yaitu dalam akibat proses yang berlangsung dan perlakuan-Nya terhadap manusia”.

Perbedaan antara sifat Rahman dan Rahim adalah sebagai berikut: Sifat Rahman mengandung arti bahwa cinta kasih Allah begitu melimpah dan tingginya, sehingga Allah menganugerahkan rahmat dan kasih-sayang-Nya kepada umat manusia, sekalipun mereka tak berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka ­memperoleh rahmat. Pemberian segala kebutuhan hidup untuk memperkembangkan jasmani mereka berupa alam semesta, dan pemberian wahyu untuk mempertumbuhkan rohani mereka, ini semata-mata berkat adanya kasih sayang Ilahi yang melimpah tak terbatas tanpa campur tangan manusia.

Kemudian menyusul suatu tingkatan, dimana manusia memanfaatkan bahan-bahan pemberian Allah dan digunakan untuk memperkembangkan jasmani dan rohaninya. Pada tingkatan ini muncullah sifat Rahim, yang melalui sifat ini Allah mengganjar tiap-tiap perbuatan baik dan benar yang dilakukan oleh manusia; dan selama manusia tak henti-hentinya melakukan itu, maka kasih sayang Allah yang dinyatakan dengan sifat Rahim akan terus melimpah. Sifat rahimiyah ini terus bekerja dalam perkembangan jasmani dan rohani.

Sumber Kemulian Hakiki

Seseorang yang menyadari benar bahwa segala kebutuhannya telah disediakan secara cuma­-cuma dan berada di sekitar dirinya tentu ia berterima kasih dan selalu memuji Allah sebagai Ar-Rahman. Memuji dan terus memuji Dia, karena ia sadar bahwa segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani telah disediakan oleh-Nya, yang tak disediakan dan tak dipenuhi Ilahi adalah keinginan dirinya tahwalanfus (Q.S. 53:23) sumber segala keserakahan dan keangkuhan.

Memuji sesuatu atau seseorang, apalagi memuji Tuhan tentu menggunakan tutur kata yang lemah lembut dan sikap yang santun jauh dari kata-kata kotor dan sikap kasar. Cepat atau lambat ia akan dipuji, sebab Allah adalah Ar-Rahim.

Kata kerja (verb) “memuji” bahasa Arabnya ahmad, sedang kata sifat (adjective) “terpuji” bahasa Arabnya Muhammad. Kata Ahmad dan Muhammad adalah nama Nabiyullah terakhir. Kesemuanya tersebut dalanm Al-Qur’an dan Hadits, bahkan tersebut dalam kitab-kitab Suci para Nabi terdahulu, seperti Taurat dan lnjil (Q.S. 7:157).

Nama “Ahmad” mengandung sifat jamali, yakni sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi; sedang nama “Muhammad” mengandung sifat jalali, yakni sifat kebesaran, kemenangan dan kemulian. Nama Ahmad dengan sifat jamalinya seperti yang diperagakan oleh Nabi Isa Almasih, beliau jabarkandalam periodeMekkah selama tiga belas tahun, yang diwarnai dengan penderitaan kesulitan dan kesusahan; sedang nama Muhammad dengan sifat jalalinya seperti diperagakan Nabi Musa, beliau jabarkan dalam periode Madinah selama hampir sepuluh tahun yang diwarnai dengan kemenangan, kekuasaan dan kemakmuran.

Kesimpulannya, kalimat Basmalah adalah doa yang menghidupkan will to action kemauan berbuat, sehingga seorang Muslim yang sejatinya adalah a man of action, manusia ahli perbuatan dengan mengucapkan doa bismillahir rahmanir­rahim selalu menggunakan power of action sebaik-­baiknya, karena will to action-nya selalu berkobar dalam dirinya. Jadi Basmalah merupakan doa yang menghidupkan will to action dan memperbesar power of action sumber kemuliaan hakiki seseorang.

(S. Ali Yasir, ).

Satu Tanggapan

  1. Subkhanallah….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: