Al-Masih Al-Mau’ud Hakiki dan Matsil

AL-MASIH AL-MAU’UD

HAKIKI DAN MATSIL

“Tatkala Ibnu Maryam disebutkan sebagai contoh, lihatlah! kaum engkau memekikkan protes atas itu. Dan mereka berkata: ‘Apakah tuhan-tuhan kami itu lebih baik ataukah dia?’ Mereka tak mengemukakan itu kepada engkau, kecuali hanya sebagai bantahan. Bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar”

(Q.S. 43:57-58)

Datangnya Ibnu Maryam Matsil

Ayat suci tersebut menjelaskan bahwa tatkala Nabi Isa bin Maryam disebutkan dalam Qur’an Suci itu dikemukakan oleh Nabi Suci Muhammad saw. dengan penuh penghormatan, kaum beliau – yakni kaum kafir Quraisy – berkeberatan atas penghormatan yang diberikan kepada beliau, sedang berhala-berhala mereka dikecam, sebagaimana tersirat dalam protes mereka: “Apakah tuhan-tuhan kami itu lebih baik ataukah dia?” Tentunya mereka bertanya lebih lanjut: “Mengapa penghormatan tak diberikan kepada tuhan- tuhan nasional – yang berupa berhala-berhala – sebagaimana penghormatan telah diberikan kepada Nabi Isa bin Maryam yang diakui sebagai tuhan oleh umat Kristen?”

Keberatan mereka itu dijawab oleh Nabi Suci, bahwa Nabi Isa Almasih bin Maryam dihormati bukanlah karena beliau dianggap sebagai Tuhan (5:72) atau anak Tuhan oleh umat Kristen (9:30), melainkan karena beliau adalah seorang hamba Allah yang tulus yang kepadanya Allah berkenan mengaruniakan nikmat-Nya berupa wahyu, sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikutnya “ia (Isa bin Maryam tiada lain hanyalah hamba yang Kami beri nikmat kepadanya dan Kami jadikan contoh bagi Bani Israel” (43:59). Jadi beliau bukan saja dikaruniai wahyu Ilahi, melainkan pula dijadikan contoh bagi bangsanya. Sebagaimana diketahui, yang bisa dijadikan contoh bagi manusia hanyalah manusia pula, misalnya berenang di laut contohnya bukan katak, terbang di angkasa contohnya bukan burung, demikian pula untuk menempuh kehidupan suci contohnya bukan malaikat, maka ayat berikutnya menyatakan:”Dan jika Kami kehendaki, niscaya sebagian kamu Kami jadikan Malaikat Yang mewakili (Kami) di bumi” (43:60).

Oleh karena dalam ayat 43:57 menggunakan kata idza artinya tatkala (untuk sekarang dan masa yang akan datang), bukan idz artinya juga tatkala (untuk masa lalu), maka ayat itu dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Suci saw., yakni umat Islam, diberi tahu bahwa di tengah-tengah mereka ada atau dibangkitkan seseorang yang seperti Nabi Isa bin Maryam, mereka juga akan memekikkan protes atas itu seperti halnya kaum kafir Quraisy. Berkenaan dengan masalah ini Rasulullah Muhammad saw. bersabda: “Bagaimanakah kamu (antum) apabila turun di dalam kamu (fikum) dan ia menjadi imam kamu (imamukum) dari antara kamu (minkum)? (H.r. Bukhari). Secara lahiriah yang dimaksud “kamu” sampai empat kali adalah para sahabat, tetapi yang dituju adalah umat Islam diakhir zaman, sebab Ibnu Maryam yang dijanjikan datang di akhir zaman. Jadi Ibnu Maryam yang dijanjikan (al-mau’ud) itu bukan seorang Nabi dari bangsa Israel, melainkan seorang Imam dari umat Islam. Beliaulah Ibnu Maryam matsil yang dituju oleh ayat suci dan sabda Nabi Suci saw.

Datangnya Ibnu Maryam Hakiki

Ayat berikutnya menyatakan sbb: “Dan sesungguhnya ia (Ibnu Maryam) adalah ilmu tentang saat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang itu dan ikutilah aku. Ini adalah jalan yang benar” (43:61). Di tempat lain kedatangan beliau dijelaskan sbb: “Aku membuat dia tanda bukti bagi manusia dan sebuah rahmat dari Kami dan itu adalah perkara yang telah diputuskan” (19:21). Tatkala ayat itu diturunkan berarti Nabi Suci memberitahu kepada kaumnya, bahwa kedatangan Nabi Isa bin Maryam itu merupakan ilmu atau ayat (tanda bukti) tentang, “Saat” ­bagi umat manusia.

Apakah yang dimaksud “Saat” itu? Dari berbagai ayat Qur’an Suci dan juga Kitab-kitab Suci terdahulu serta bukti-bukti sejarah dapat diketahui, bahwa yang dimaksud ialah saat berakhirnya wahyu kenabian dan keturunan Israel – bahkan berakhirnya wahyu kenabian nasional dari berbagai bangsa di dunia (5:19) – yang ditengarai dengan dihinakannya orang-orang Yahudi oleh bangsa lain; sehingga mereka dilukiskan sebagai kera yang hina (7:166) atau babi (5:60). Oleh karena itu mereka tak pantas lagi memegang “tongkat kerajaan” (Kej. 49:10). Pegang kerajaan duniawi saja tak pantas, apalagi pegang Kerajaan rohani yang telah dijanjikan kepada keturunan Nabi Ibrahim lebih tak pantas lagi, maka hak mereka dicabut untuk selama-lamanya dan diberikan kepada bangsa lain (4:51-54), yakni bani Ismail keturunan Ibrahim lewat Siti Hajar.

Dicabutnya kerajaan itu setelah Ibnu Maryam hakiki datang kepada mereka sebagai Raja rohani (Yoh 18:36), yakni sebagai Nabi Utusan Allah (61:6). Beliau mereka tolak karena Al-Masih (Mesias) yang mereka harapkan adalah Mesias yang menegakkan kembali kerajaan duniawi mereka yang telah hilang. Sebelum peristiwa penyaliban yang gagal pada hari Jumat 7 April 30 Masehi, beliau memperingatkan bangsanya sbb: “Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan diberitakan kepada bangsa lain yang mendatangkan buah Kerajaan itu” (Mat 21:43).

Menurut para ulama tafsir Qur’an yang dimaksud “Saat” adalah Kiamat, maka dari itu ayat 43: 61 mereka tafsirkan Ibnu Maryam akan turun ke bumi di akhir zaman menjelang hari Kiamat; sekarang beliau mereka anggap masih hidup di langit. Anggapan mereka itu didasarkan atas pernyataan berbagai ayat Qur’an Suci, tentang diangkatnya Isa Almasih (3:55; 4:158) dan hadits-hadits Nabi tentang turunnya Isa Ibnu Maryam di akhir zaman. Pendapat yang sama dengan Pengakuan Iman Rasuli pasal ke-6 dan ke-7. Dogma Gereja ini jelas salah, sebab Ibnu Maryam hakiki itu telah wafat. Wafat secara wajar, dalam usia lanjut, 120 tahun sesuai dengan nubuat Musa (Kej. 6:3) dan Hadits Nabi. Menurut Qur’an Suci 23:99-100 orang yang telah mati tak akan hidup lagi lalu kembali ke dunia, maka dari itu beliau tak akan datang kembali ke muka bumi.

Persamaan Kedua Ibnu Maryam

Semua ulama dan umat Islam sepakat bahwa Ibnu Maryam atau Nabiyullah Isa akan datang, karena telah dinubuatkan dalam Qur’an Suci dan Hadits Nabi sebagaimana dijelaskan di atas. Akan tetapi berkenaan dengan kedatangannya ada dua pendapat, yaitu: Pertama, umat Islam umumnya berpendapat bahwa sampai sekarang Ibnu Maryam yakni Nabiyullah Isa Almasih bin Maryam (selanjutnya disingkat NIAM) itu belum datang, masih berada di langit. Kedua, kaum Muslim Ahmadi berpendapat bahwa Ibnu Maryam yang dijanjikan (mau’ud) itu telah datang, yaitu Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (selanjutnya disingkat HMGA). Silang pendapat ini terjadi dan tak akan bisa dipertemukan, sebab umat Islam umumnya memahami Ibnu Maryam secara hakiki, sedang Muslim Ahmadi memahaminya secara majasi.

Secara majasi HMGA adalah Ibnu Maryam, maka disebut Ibnu Maryam Majasi atau Matsil, sedang NIAM adalah Ibnu Maryam Hakiki. HMGA disebut Almasih Isa Ibnu Maryam karena memiliki banyak persamaan dengan NIAM. Persamaannya ialah: (1) Al-Masih Al-Mau’ud. NIAM dinubuatkan dalam Taurat Musa (7:157) dan para Nabi sesudahnya (3:81) sampai kepada ibundanya Maryam (3:45-48). Sedang HMGA dinubuatkan dalam Quran Suci (43: 57-61). Hadits Nabi dan para wali atau orang-orang suci sebelum beliau. (2) Saat kedatangannya, NIAM datang 1300 tahun setelah Musa, sedang HMGA datang 1300 tahun setelah Nabi Suci Muhammad saw. Hal ini melengkapi persamaan Nabi Suci dengan Nabi Musa terdapat banyak persamaan (78:15-16), a.l. sama-sama diikuti masih Mau’ud. (3) Keadaan umatnya. NIAM datang waktu umat Yahudi terpecah belah menjadi banyak mazhab dan dikuasai oleh orang kafir; HMGA datang pada waktu umat Islam terpecah belah menjadi 73 golongan dan juga dikuasai oleh orang kafir. (4) Harapan umatnya. Umat NIAM mengharapkan kedatangan almasih untuk memperbaiki duniawi dan menegakkan kembali kehidupan duniawi mereka yang telah lenyap, sedang beliau datang untuk memperbaiki rohani umat; demikian HMGA untuk memperbaiki rohani umat, sedang umat Islam mengharapkan kedatangan Almasih juga untuk memperbaiki duniawi mereka. (5) Sikap umatnya. NIAM, ditolak keras oleh umatnya dan mereka berusaha membunuh beliau secara keji, disalib yang digagalkan oleh Allah (4:157-I59). Demikian pula HMGA ditolak keras oleh segenap umat Islam, yang perlawanan mereka terus berlangsung sampai sekarang dan juga digagalkan oleh Allah. (6) Khatamul-Khulafa. NIAM khatamul­-khulafa bagi bangsanya, Israel, sedang HMGA khatamul-khulafa bagi umat Islam. (7) Pengikutnya terpecah menjadi dua kelompok. Pengikut NIAM ­adalah kaum Kristen atau Nasrani yang mempertuhan beliau, dan Hawariyin atau Ebionit yang tak mempertuhan beliau. Pengikut HMGA juga tepecah menjadi dua kelompok, yaitu Ahmadi Qadiyani yang menabikan beliau dan Ahmadi Lahore yang tak menabikan beliau, hanya seorang ulama. (8) Mengkorupsi istilah. NIAM menyatakan kepada umatnya, bahwa mereka telah mengkorupsi istilah karena pengakuannya sebagai “anak Allah” mereka pahami pengakuan sebagai Allah (Yoh 10:33-36). Demikian pula pengakuan HMGA sebagai “nabi buruzi” atau “nabi ummati” oleh umat Islam dipahami sebagai pengakuan kenabian: jadi menurut mereka nabi buruzi = nabi (menurut syariat Islam) dan arti harfiah = arti istilah, istilah syar’i = istilah shufi. (9) Kecurigaan umat. NIAM dicurigai oleh umat Yahudi sebagai orang yang memihak penguasa yang menjajah mereka. Demikian pula HMGA dicurigai sebagai antek imperialis Inggris yang menguasai India-Pakistan dan wilayah-wilayah Islam lainnya. (10) Lahir kembar. NIAM dilahirkan kembar, saudara kembarnya adalah Thomas, sedang saudara kembar HMGA adalah Janat yang wafat tatkala masih kanak-kanak. (11) Tuduhan palsu. NIAM diseret ke muka pengadilan dengan tuduhan palsu. HMGA juga diseret ke muka pengadilan dengan tuduhan palsu pula. (12) Kemampuan umatnya. NIAM menyatakan kepada umatnya, bahwa “sesungguhnya masih banyak yang akan dikatakannya tetapi kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh 16:12). HMGA juga mengatakan: “… sebelum abad ketiga berakhir, ketika sudah muak dan kecewa tentang kedatangan Nabi Isa a.s. yang kedua kalinya, umat Islam dan Kristen keduanya akan kembali perhatiannya kepada apa-apa yang kami katakan selama ini” (Tadzkiratusy-syahadatain, hlm. 64-65). (13) Duduki kursi Nabi.Para ulama umat NIAM menduduki kursi Musa (Mat.23:1­6). karena fatwa mereka menggantikan hukum Taurat yang seharusnya mereka patuhi (5:44); sedang para ulama umat HMGA menduduki kursi Nabi Suci Muhammad saw. karena fatwa mereka menggantikan Quran Suci dan Sunnah Nabi yang seharusnya mereka patuhi (4:59). (14) Desak penguasa. Ulama dan umat NIAM desak penguasa agar beliau dieksekusi sebagai realisasi fatwa; demikian pula umat HMGA, juga desak penguasa agar mengeksekusi “HMGA” sebagai realisasi fatwa ulama. (15) Pendukungnya preman berjubah. Fatwa ulama bani Israel didukung oleh para preman berjubah atas nama agama; demikian pula fatwa ulama Islam juga didukung oleh para preman berjubah atas nama agama dan umat. (16) Bermarkas di Bait Allah. Penentang NIAM imam-imam kepala, pengawal dan penjaga Bait Allah atas nama suruhan orang-orang Farisi (Luk 22:52: Yoh 18:3) bermarkas di Bait Allah (Sinagog); demikian pula penentang HMGA dan gerakannya bermarkas di Bait Allah (masjid).

Dengan demikian kaum Muslimin umumnya sama dengan kaum Yahudi, yakni sama-sama mengharapkan Masih Mau’ud yang sampai sekarang belum datang atau turun. Harapan mereka sama-sama tak akan terpenuhi sampai hari Kiamat, sebab sama­sama mendasarkan harapan pada ayat mutasyabihat yang majasi dipahami sebagai ayat mukhamat yang dipahami sccara hakiki Profetik itu sifatnya majasi, jika dipahami secara hakiki salah. Sampai kapan kesalahan dipertahankan? Apakah rentang waktu lebih dari seribu tahun kurang lama?

S. Ali Yasir Ketua Tabligh & Tarbiyah PB GAI

Jl. Kemuning 14 Yogyakarta 55225 Telp (0274) 565695; 497986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: