Perbedaan antara Ahmadiyah Lahore dan Qadiyani

PERBEDAAN ANTARA KEDUA AHMADIYAH

LAHORE-QADIAN

Sesungguhnya dia (Isa bin Maryam) adalah ilmu tentang Saat” (43:61).

Dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi dijelaskan adanya persamaan antara Nabi Muhammad saw. dengan Musa a.s. (73: 15-16) dan sama-sama dibangkitkannya khalifah di tengah-tengah umat kedua nabi tersebut (24:55) yang menurut Rasulullah saw. kedua umat itu seperti sepasang sepatu. Di tengah-tengah kedua umat tersebut dibangkitkan Almasih ibn Maryam yang kedatangannya sebagai ayat bagi manusia (19:21) dan ilmu tentang saat (43:61). Pengikut kedua Almasih pun ada persamaan, yakni sama-sama terpecah menjadi dua golongan sepeninggal Almasih.

Pengikut Almasih Israeli yang menyimpang dari ajaran Gurunya disebut Nasrani atau Kristen (5: 14; Kis 11:25-26; 24:5) yang sejatinya mereka adalah pengikut Paulus yang mempertuhan diri Yesus Kristus (Isa Almasih); sedang pengikut sejati Isa Almasih disebut Hawariyin (61:14) yang dalam sejarah Gereja disebut kaum Kristen Yahudi atau Ebionit yang akidahnya a.l. (1) Tuhan (Yahweh) adalah Esa, (2) Isa Almasih manusia biasa yang dilahirkan oleh Maryam setelah menikah dengan Yusuf si Tukang kayu, (3) Yesus tak mati disalib, (4) taat dan patuh kepada hukum Taurat, maka eksklusif (5) mengharapkan kedatangan Kerajaan Seribu Tahun, dll. Di kalangan pengikut Almasih Islam yakni Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) juga terpecah menjadi dua golongan (1914) sepeninggal beliau. Yang meneruskan ajaran sejati beliau disebut Ahmadiyah Lahore atau Gerakan Ahmadiyah (GA), sedang yang menyimpang dari ajaran beliau disebut Ahmadiyah Qadian atau Jemaat Ahmadiyah (JA). Perbedaan antara keduanya a.l sbb:

1. Cara menafsirkan pernyataan Imam Mirza Ghulam Ahmad dan landasannya.

GA Proporsional dalam mcnggunakan istilah syar’iy dan sufiy, arti majazi dan hakiki; selain itu mendasarkan akidahnya pada ayat atau pernyataan muhkamat, bukan mutasyabihat yang multi arti. Tetapi JA tak proporsional karena tak membedakan antara keduanya, selain itu mendasarkan akidah tentang kenabian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pada kalimat majazi.

2. Ungkapan khatamun-nabiyin (33:40).

GA mengartikan segel (penutup) para Nabi, selaras dengan pendapat Imamnya bahwa Muhammad saw. adalah nabi terakhir dari nabi-nabi dan nabi terbesar atau termulia dari semua nabi (Anwar al-Islam, hlm. 34). JA berpendapat, “khatam apabila dipakaikan menurut susunan yang ada pada ayat khatamun-nabiyyin yaitu berhubungan dengan jama’ (meervoud), maka tidak ada artinya dalam bahasa Arab penghabisan atau penyudah, hanya artinya yang termulia atau jempolan menurut kata orang sekarang (selanjutnya “(Syafi R. Batuah, Beberapa Persoalan Ahmadiyah, (selanjutnya BPA). Penerbit Sinar Islam Jakarta, 1357/ 1978, hlm. 19); tetapi dalam tafsir Qadiani ungkapan itu berarti pula “nabi terakhir” dengan penjelasan: “Rasulullah saw. adalah yang terakhir diantara para nabi pembawa syariat”. jadi memungkinkan datangnya nabi tanpa syariat.

3. Jabatan nabi setelah Nabi Suci Muhammad saw.

GA percaya bahwa sesudah Nabi Suci Muhammad saw. tak akan datang nabi lagi, baik Nabi lama (menolak pendapat kaum Muslimin umumnya bahwa Nabi Isa Almasih a.s. dari Bani Israil akan datang) ataupun nabi baru yang pengangkatannya pasca Nabi Suci Muhammad saw. Menurut JA, sesudah Nabi Suci Muhammad saw. “kenabian seperti itu (tanpa syariat, pen) terus terbuka dan adalah puncak rahmat yang selalu diharapkan setiap muslim dalam doa utamanya.” (BPA, hlm. 11).

4. Kata Nabi yang terkait dengan Imam Mirza Ghulam Ahmad.

GA memahaminya hanya secara harfiah (etimologis), bukan secara istilah (terminologis) syar’iy, maka GA menolak kenabian beliau. Tetapi JA menyatakan, kepada ahli syariat menggunakan terminologi shufi, seperti Nabi Syariat, Nabi Hakiki, Nabi Mustaqil, dsb (BPA, hlm 4). Di sinilah sumber kekacauan itu.

5. Istilah profetik-eskatologik Nabiyullah Isa dalam Hadits Muslim.

GA memahami secara metaforis, baik pada istilah Nabiyullah maupun Isa dan turun nuzul-nya; dengan demikian Imam Mirza Ghulam Ahmad yang datang menggenapi profetik tersebut bukan Nabi (secara syar’iy). Tetapi JA memahami Nabiyullah secara hakiki, sedang Isa bin Maryam secara metaforis (majasi), dengan demikian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad “sebagai Almasih yang dijanjikan berpangkat nabi” (BPA, hlm. 11). Hanya arti turunnya saja yang majazi.

6. Perubahan keyakinan tahun 1901.

GA memahaminya buku Ek Ghalati ka Izalah (1901) tak menunjukkan adanya perubahan keyakinan Imam Mirza Ghulam Ahmad, buku itu menjelaskan kata nabi dan rasul yang telah dinyatakan sejak tahun 1880, bahwa kata itu hanya dalam arti harfiah atau dalam arti shufiah yakni dalam keadaan fana fin-nabi, fana fir-rosul; istilah shufiy nabi tasyri’ dan nabi mustaqil identik dengan istilah nabi secara syar’iy, sedang istilah shufiy nabi ummati, nabi buruzi dll. secara syar’iy bukan nabi. Jadi, penerimaan dakwah itu hanya secara syufi; sedang penolakannya secara syar’iy karena para ahli syariatlah penentang beliau dan pengikutnya sampai hari ini; sekiranya secara syar’iy beliau itu Nabi (hakiki), tentu tak menganjurkan agar kata nabi dihapus untuk digantikan dengan kata muhaddas (pernyataan 8,10).

JA memahami buku tersebut menjelaskan perubahan keyakinan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, “sebelum 5 Nopemebr 1901 pengertian beliau dengan istilah nabi dan rasul sama dengan pengertian yang umum terdapat di kalangan kaum Muslimin, tetapi sejak waktu itu pengertian beliau mengenai beberapa istilah kenabian berubah atas dasar petunjuk wahyu yang beliau terima dari Tuhan” (BPA., hlm. 10). “Meskipun pengertian beliau mengenai istilah-istilah kenabian mengalami perubahan, namun hal itu sedikitpun tidak mempengaruhi tugas yang diserahkan Tuhan kepada beliau sebagai Almasih yang dijanjikan dan berpangkat nabi” (BPA, hlm. ll), seperti halnya pendapat kaum muslimin pada umumnya, bahwa Nabi Isa Almasih yang sekarang masih hidup di langit, nanti pada zaman akhir akan turun ke dunia.

7. Wahyu kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

GA bcrpendapat bahwa wahyu yang beliau terima bukanlah wahyu kenabian karena wahyu kenabian hanya berIangsung sejak Adam a.s. sampai Muhammad saw.; yang beliau terima hanyalah wahyu walayat, mujaddidiyat dan muhaddasiyat. Qur’an Suci menggunakan kata “wahyu” dalam arti luas, secara teologis mencakup wahyu matluw, wahyu ghairu matluw, wahyu khafiy, dll. Lalu ada rumusan teologis, wahyu untuk nabi sedang ilham untuk manusia biasa, jadi wahyu walayat dan mujaddidiyat itu hanya ilham, bukan wahyu.

JA berpendapat bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu, karena beliau dianggap sebagai Nabi secara syar’i, sebagaimana dinyatakan: “suatu ayat lain dari Al-Qur’an mengatakan bahwa orang-orang muttaqi ialah “orang-­orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau (Muhammad), dan yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin tentang akan datang (akhirat) (2:5)”. Menurut konteks ayat ini, yang dimaksud dengan ”yang akan datang” itu ialah yang diturunkan pada masa yang akan datang. Yang dimaksud dengan ‘yang diturunkan’ pada dua bagian pertama dari ayat ini ialah wahyu kenabian. Oleh karena itu yang dimaksud dalam bagian ketiga ayat ini haruslah pula ‘wahyu kenabian’ yang akan diturunkan pada masa yang akan datang ” (BP.4 hlm. 14).

8. Pangkat nabi.

GA berpendapat bahwa kenabian tak dapat diminta tetapi semata-mata anugerah Allah, sebagaimana dinyatakan oleh lmam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya Zururatul-Imam (perlunya seorang Imam Zaman). Tetapi menurut JA kenabian dapat diminta. “kedatangan seorang nabi yang tidak membawa syari’at sesudah Nabi Muhammad saw. Tidak bertentangan sedikitpun dengan pengertian khatamun-nabiyin dari beliau saw., bahkan pangkat kenabian ini terus terbuka dan adalah puncak rahmat yang selalu diharapkan setiap Muslim dalam doa utamanya.”(BPA, hlm. 11). Yang dimaksud “doa utama” tersebut adalah tiga ayat terakhir surat Alfatihah.

9. Takfirul-muslimin.

GA berpendapat bahwa kaum Muslimin non-Ahmadi yang tak menerima dakwah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan tak baiat kepada beliau tidaklah kafir, tetap Muslimin menurut syariat Islam. JA berpendapat bahwa “seorang Muslim… tidak baiat kcpada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan A1masih yang dijanjikan itu berarti ia tidak percaya dan tidak mau patuh kepada seorang nabi yang diutus oleh Tuhan (BPA, hlm. 15). Tidak percaya dan tidak mau patuh kepada seorang nabi itu identik dengan kafir, bahkan bisa non muslim yang kuffar.

10. Salat berjamah.

GA dapat salat berjamah dengan Muslim non-Ahmadi, baik sebagai imam maupun sebagai makmum. Tetapi JA, dalam berjamaah dengan Muslim non-Ahmadi hanya mau menjadi imam dan tak mau menjadi makmum, sebagaimana dinyatakan “sama sekali tidak ada kemungkinan bagi seorang Ahmadi untuk bersembahyang di belakang seorang imam yang bukan Ahmadi, kalau Ahmadi itu betul-betul menganggap dirinya Ahmadi. “Alasannya” sabda yang sangat terkenal dari Hazrat Nabi Muhammad saw.; bahwa “imamukum minkum”. Di sini pula terletak suatu rahasia larangan itu” (BPA, hlm 17).

11. Bapak Isa Al-Masih a.s.

GA berpendapat bahwa Isa Al-Masih keturunan Daud suku Yehuda adalah manusia biasa yang dilahirkan secara wajar oleh ibunya setelah menikahi si tukang kayu, jadi beliau berbapak manusia; hal ini bertentangan dengan pendapat umum yang tak berbeda dengan akidah Gereja (fs 2), bahkan bertentangan dengan pernyataan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Hal ini membuktikan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, karena pendapatnya tidak mengikat. Tetapi JA berpendapat bahwa Isa Almasih a.s. lahir secara luar biasa, tak berbapak.

12. Pernikahan perempuan Ahmadi.

GA mengizinkan perempuan Ahmadi dinikahi oleh seorang Muslim non-Ahmadi sebagaimana seorang Muslim boleh menikahi seorang perempuan Ahlikitab (5:5). Tetapi JA tak mengizinkan seorang perempuan Ahmadi dinikahi oleh seorang Muslim non-Ahmadi. Alasan “larangan bagi seorang wanita Ahmadi untuk dinikahi dengan seorang pria bukan Ahmadi adalah untuk menjaga iman wanita itu dari kerusakan.” (BPA, hlm. 18)

(S. Ali Yasir).

9 Tanggapan

  1. Terlepas dari HMGA itu nabi atau bukan, Perbedaannya yang sangat jelas adalah:
    1.Orang2 Lahore dari dulu hanya disibukan dan berkutat serta berdebat di masalah kenabian HMGA (bisa dilihat di website2 mereka) sementara Qadiani lebih disibukan dengan menyampaikan pesan-pesan HMGA dan tabligh ke seluruh dunia dari pada bertikai masalah kenabian HMGA.
    2. Lahore tidak berusaha menampilkan suatu organisasi yang layak disebut sebagai jemaah Imam Mahdi yang akan mensejahterakan umat, sementara Qadiani disibukkan dengan berbagai kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan dengan mendirikan berbagai sarana pendidikan dan kesehatan sekolah dan rumah sakit diseluruh dunia serta aktif dalam misi kemanusian dengan membantu korban-korban bencana alam oleh badan Qadiani yaitu HF humanity first
    3. Lahore lebih disibukan dengan menampilkan tulisan-tulisan yang berisi hujatan dan kebencian kepada khalifah qadiani, sebaliknya mereka bisa bersikap manis kepada para penghujat dan penghina Imam Mahdinya. Bahkan mereka dijadikan Imam sholatnya..wow
    4. Lahore tidak memenuhi nubuatan wahyu yang diterima Imam mahdinya dimana dalam wahyu tsb Tabligh HMGA akan disampaikan ke seluruh dunia.

  2. Assalamu’alaikum wr wb.
    Ikhwan Alif Yth, dari beberapa point yang ikhwan simpulkan, kami berpendapat kesimpulan itu sangat tidak berdasar, jauh dari kenyataan dan memutarbalikkan fakta. Mengapa demikian, karena point2 yang ikhwan kemukakan bertolak belakang dengan bukti2 dan kenyataan yang ada dilapangan.
    Adapun kesimpulan subyektif yang ikhwan kemukakan dapat kami jawab sbb:

    1. Masalah Kenabian HMGA, merupakan titik pangkal perpecahan didalam Ahmadiyah, dan merupakan titik pangkal penolakan dan hujatan yang dilemparkan kepada Imam Zaman. Dengan demikian usaha untuk membersihan tuduhan palsu tersebut harus terus menerus diusahakan agar setiap orang yang mengetahui persoalan yang sebenarnya tidak akan antipati kepada Imam Zaman. Akan tetapi alangkah celakanya hingga hari ini ada segolongan orang yang mengaku pengikut Imam Zaman tetap berapologi dengan masalah tersebut.

    2. Pemahaman jemaah seperti apa yang ikhwan maksudkan? bukankah menerima Imam Zaman dan masuk kedalam bait Imam Zaman adalah masuk dalam jamaah? (lihat judul AHMADIYAH AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH)

    3. Kebenaran itu harus disampaikan meskipun terasa pahit, tinggal bagaimana menyikapinya. Bila kita dapat memahami maksudnya maka justeru akan berterimakasih.

    4. Untuk point ke 4 ini ada baiknya ikhwan alif sudi membuka website internasional kami.

    Demikian tannggapan kami, terimakasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  3. piye kabare smuanya.. ^ ^
    halo2..!!!!
    aduh2.. koq masii aja ngurusin masalah agama org sih??
    sudahlah… byasa aja lagi~~
    Islam itu adalah agama yg baik..
    gag usahlah mempermasalahkan ahmadiyah,ato blablabla..
    kita bisa jadi umat yg baik aja udah syukur..
    manusia mana sih yg lepas dari dosa?
    bahkan Nabi pun bisa berdosa..
    bisa berbuat salah.. ibaratnya karena mereka (Nabi) selalu dibimbing Tuhan dalam Wahyu,makanya mereka lebih bisa dekat sama Tuhan en terhindar dari dosa..
    simple kan???
    oh yah.. Bung,nanya aja.. setaw saya, Al-Masih artinya Juru Selamat yah??
    hmm.. brarti Isa punya kuasa menyelamatkan toh??
    kuasa yg menghapus dosa manusia gitu?
    en, kok Isa gag mati di kayu salib??
    saya baru liad loh!!
    bahkan orang2 beragama lain yang saya kenal juga berkata mereka mengagumi Isa, karena Dialah satu-satunya yg brani mati demi menebus dosa umat manusia..
    sekian aja yah~~~
    peace aja lah… oh yah, klo emang gag setuju ma pendapat ini, yah terserah ente2 aja.. saya mah cuma mengutarakan pendapat.. take care yah smuanya.. dadha… ^ ^

  4. Ikhwan Wekekeke Yth,
    Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya, mengenai saran yang disampaikan dapat kami jelaskan bahwasannya dalam beragama kita senantiasa dianjurkan untuk:
    1. Nasehat menasehati dengan kebaikan dan kesabaran
    2. Menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat
    3. Menyampaikan kebenaran walupun resiko yang kita hadapi adalah penderitaan dan kesengsaraan.
    Nah dengan mengikuti prinsip tersebut maka menjadi komitmen kami di Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) untuk selalu mengatakan yang demikian.
    Masalah kemudian orang akan menerima atau menolak, hal tersebut menjadi tanggung jawab masing2 orang dan tidak ada paksaan. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Masih dapat dilihat pada pembahasan2 pada judul yang sama. Pada intinya tiada keselamatan kecuali berbuat baik dan berbuat benar sesuai tuntunan agama dan tiada suatu pemikul beban akan memikul beban orang lain. Jadi agama adalah perbuatan bukan dongeng atau keyakinan buta terhadap sesuatu. Demikian yang dapat kami sampaikan. Terimakasih.

  5. Jika Ahmadiyyah ingin tetap bertahan di Indonesia, maka harus menjadi agama sendiri bukan lantas menamakan suatu aliran dalam Islam. Karena itu sudah tidak sesuai dengan aqidah islam yang memang paten, kebenarannya tidak dipertanyakan lagi, dan sudah menjadi harga mati, Itu demi kebaikan Ahmadiyyah sendiri. Karena suatu misal, seorang jemaat Ahmadiyyah ingin bertalak dengan istrinya kemudian pergi ke pengadilan agama atas nama Islam, maka jika ia menemukan hakim memutuskan hukum sesuai dengan agama Islam yang tidak sesuai dengan ajarannya, maka ia tidak punya hak menuntut. Karena hukumnya itu di kembalikan ke agama induknya yaitu Islam. seperti halnya orang NU dan Muhammadiyah status hukum dikembalikan ke agama induknya yaitu Islam. Saya hanya bisa berpesan “Suatu pendapat adalah kebenaran yang tertunda”. Terima kasih.

    • @ Saifur
      Saya tidak setuju bila Jemaat Ahmadiyah dijadikan agama baru, dan sama sekali tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Sebab bila itu terjadi maka hal ini sama artinya dengan Pindah Agama dari Islam menjadi Non Islam alias MURTAD, dan hampir segenap umat Islam termasuk MUI berpendapat orang yang telah Murtad HALAL DARAH NYA. Sdr Saifur bersedia bertanggung jawab bila para PREMAN BERJUBAH bertindak anarkis dengan membantai sesama Muslim?, hendaknya kita jangan mau diperdaya oleh ucapan2x yang seolah-olah akan menyelesaikan masalah namun dibalik itu ada misi terselubung. Betapappun anehnya pandangan Jemaat AHmadiyah Qadiyan tentang Islam, namun dimata non Muslim (Kristen dsb) mereka melilhat sesama Umat Islam saja saling bantai dan menumpahkan darah bagaimana mereka bisa akur kepada umat Non Muslim?, lalu dimana arti Islam sebagai yang katanya agama perdamaian, agama yang membawa damai?, agama yang cinta damai? atau hanya sekedar lips service saja?

  6. Ass.Wr.Wb
    Saya adalah seorang non-ahmadi
    saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang kebetulan dia adalah seorang qadiani
    Hubungan kami yang sudah terjalin selama hampir 8thn tersandung kasus perbedaan ini
    Orangtuanya selalu menyuruh saya untuk baiat jika ingn mempersunting anaknya
    Saya baru mengetahui mereka adalah qadiani bebberapa bulan ini
    Saya sangat galau saat ini
    Saya sangat membutuhkan saran dan masukan yg dapat menyelesaikan masalah saya ini
    Demikian terimakasih
    Semoga ada yang berkenan memberikan solusi yang terbaik
    Amin
    Wass.Wr.Wb

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Ikhwan Ridwan Farid Yth, Hendaknya suatu keputusan yang akan kita ambil selalu memiliki dasar argumentasi yang kuat. Sebagaimana teladan yang diberikan oleh Baginda Rasulullah SAW, bahwasanya seseorang menikah atau berhijrah hendaknya demi agamanya karena yang demikian akan terjaga dari murka Allah. Mengapa? karena kalau menikah hanya didasarkan pada kecintaan fisik semata, yakinlah semua itu akan luntur dan berakhir, jika didasari karena harta benda dan kedudukan duniawi, yakinlah segala sesuatu yang ada didunia ini hanyalah fana dan sementara belaka, dan semua itu tidak ada nilainya dihadapan-Nya. Maka jika hendak menikah pertama harus disadari bahwa wanita pilihan kita adalah wanita yang salehah akhlaknya dan memiliki pengetahuan agama yang cukup sehingga akan memiliki pandangan yang sama terhadap segala sesuatu kelak jika sudah menikah. Kedua mohonlah pertolongan Allah SWT, dengan shalat istikharah apakah perempuan yang kita inginkan tersebut benar-benar pilihan yang tepat, dan jangan putus asa dari rahmat Allah hingga Dia memberikan petunjuknya. Masalah yang berkaitan dengan orang tua gadis tersebut yang menghendaki seseorang untuk berbait bila hendak meminang putrinya, hal tersebut tidak berdasakan sunah Rasul dan anjuran imam zaman, padahal seseorang melakukan baiat apabila telah mengerti dan memahami secara haq apa yang hendak dilakukan. demikian sedikit saran kami , semoga bermanfaat. Wassalam wr wb

    • Yakinkan kepada calon mertua mas Ridwan bahwsannya HMGA tidak pernah mengajarkan bid’ah seperti itu, tolong katakan bahwasannya muslim diluar Qadiyani adalah juga umat Islam (Bukan Non Muslim), yang taat dan patuh kepada ketentuan Quran dan Hadits. Karena itu tidak ada alasan sama sekali untuk tidak menikahkan anaknya dengan Muslim Ghair Ahmadi, untuk lebih meyakinkan lagi mas bisa baca buku http://www.aaiil.org/text/books/mali/splitahmadiyyamovement/splitahmadiyyamovement.shtml
      pada halaman 88-89 disana terlihat Jelas bahwa HMGA menikahkan gadis Ahmadi dengan Lelaki Non Ahmadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: