Arti Khatamun Nabiyyin

KHATAMUN-NABIYYIN

“Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang (lelaki) kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. Dan Allah senantiasa Yang Maha-tahu akan segala sesuatu” (Q.S.33:40).

Berakhirnya Silsilah Jasmani

Ayat suci tersebut menerangkan dua hal yang saling berhubungan, yaitu berakhirnya silsilah Muhammad saw. secara jasmani, tetapi berlangsung terus silsilah rohani beliau, sebab beliau adalah Utusan Allah. Setiap utusan adalah bapak (rohani) bagi umatnya. Musa adalah bapak umat Yahudi, Isa Almasih bapak umat Kristen, Siddharta Gotama bapak umat Budhis, Konghucu bapak umat Konfusianis dan Muhammad saw. adalah bapak umat Islam. Oleh karena itu isteri-isteri beliau disebut ibu orang-orang beriman (33:6) -yakni umat Islam- yang karena itu haram dinikahi oleh umat Islam sepeninggal Nabi Suci untuk selama-lamanya (33:53), sebagaimana diharamkannya seseorang mengawini ibunya sendiri (4:23), yakni janda bapaknya.
Asbabun-nuzul ayat memperjelas makna firman Allah tersebut. Siti Khadijah memiliki seorang budak lelaki bernama Zaid. Setelah beliau dinikahi oleh Nabi Suci, Zaid dibebaskan, lalu diangkat sebagai anak angkat Nabi Suci. Zaid termasuk lima sahabat pertama. Setelah Hijrah ke Madinah, Nabi Suci mengusulkan agar Siti Zainab binti Jahsy saudara sepupu beliau dinikahkan dengan Zaid. Usul Nabi ini diterima, meski bertentangan dengan kehendak Zainab dan keluarganya. Ternyata pernikahan yang tak kafa’ah (sederajad) ini gagal. Zainab rupawan, bangsawan dan masih muda, sedang Zaid berkulit hitam, bekas budak dan jauh lebih tua. Akibatnya “fatal” bagi Zainab. Dia lebih menderita lagi karena disebut “janda, bekas istri seorang budak” suatu status yang hina di masyarakat Arab yang belum bebas dari budaya jahiliah. Cara mengangkat martabatnya tiada lain adalah Nabi Suci mengawini beliau, tetapi Nabi Suci takut akan dampak negatifnya, yakni fitnah, pelecehan dan penodaan nama baik beliau, sebab menurut tradisi jahiliyah kedudukan anak angkat sama dengan anak kandung; mengawini janda anak angkat sama dengan mengawini janda anak kandung.
Atas restu Allah Nabi Suci menikahi Zainab (33:37). Dengan demikian Siti Zainab terangkat derajatnya, karena perkawinan itu beliau menduduki tempat mulia, baik dimata Allah maupun mata manusia, yakni sebagai ibu orang beriman. Tetapi orang-orang kafir dan munafik -yang secara rohani adalah tuli, bisu dan buta (2:18)- memaki dan menghina Nabi Suci saw. dengan tuduhan telah mengawini menantunya sendiri. Caci maki dan penghinaan yang berlangsung terus sampai sekarang ini ditangkis Ilahi dengan turunnya ayat suci 33:40 di atas. Penegasan “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang (1elaki) kamu” berarti Zaid bukanlah anak (Nabi Suci) Muhammad saw. tetapi anak Haritsah. Sejak saat itu, Zaid dipanggil anak Haritsah, sesuai dengan syariat Islam yang menganjurkan agar memanggil seseorang itu dengan menyebut ayah kandungnya (33:5), bukan ayah angkatnya; sebab kedudukan anak angkat tidak sama dengan anak kandung (33:4).

Silsilah Rohani Abadi
Terputusnya silsilah jasmani Nabi Suci seakan-akan merupakan suatu cacat, maka orang-orang kafir mengejek beliau dengan sebutan abtar (terputus), tetapi Qur’an Suci justru menyebut orang-orang kafirlah yang abtar (108:3). Turunnya ayat 33: 40 tersebut menjawab ejekan kaum kafir tersebut, karena menyatakan bahwa “Muhammad… … … dia itu Utusan Allah”. Seorang utusan Allah adalah bapak rohani bagi umatnya. Hubungan rohani nilainya lebih baik dan mulia daripada hubungan jasmani, maka dari itu “Nabi itu lebih dekat pada kaum mukmin daripada diri mereka sendiri” (33:6). Sejarah menjadi saksi tatkala ayat ini diturunkan anak-anak rohani Rasulullah saw., telah berjumlah ratusan ribu jiwa sekarang tidak kurang dari 1,3 milyar – sedang kaum kafir telah terputus dan benar-benar terputus, karena anak-anak mereka telah menjadi anak-anak rohani Nabi Suci yang prosesinya dinyatakan dalam 110:1-3.
Kebapakan rohani Nabi Suci tak berakhir, berlangsung terus sampai hari Kiamat, sebab beliau sdalah Khatamun-Nabiyyin artinya segel (penutup) para Nabi, sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Jadi silsilah jasmani beliau terputus-karena tak beranak lelaki tetapi silsilah rohani abadi dikaruniakan kepada diri beliau. Sebab beliau segel (penutup) para nabi. Disinilah salah satu keagungan beliau dibanding dengan para Nabi sebelumnya yang silsilah rohaninya hanya berlangsung untuk sementara waktu saja (13:38-39), misalnya Nuh hidup di tengah-tengah kaumnya selama alfa sanatin illa khamsina ‘ama (seribu tahun kurang lima puluh tahun) alias 950 tahun (29:l4). Ini umur kenabian atau syariatnya, bukan umur pribadi orangnya.

Arti Khatamun-Nabiyyin
Berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. dinyatakan dengan kata “khatam” yang bisa dibaca “khatim” seperti tertulis dalam Mushaf menurut riwayat Warsy dari Nafi’al- Madani. Antara keduanya ada perbedaan. Kata khatam berarti segel atau bagian terakhir atau penutup digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian dan pelestarian penganugerahan nikmat Ilahi (5:3); maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah yang paling mulia diantara semua nabi. Jadi kata khatam mengandung arti ganda yakni “yang paling mulia” dan “bagian terakhir” atau “penutup”. Sedang kata khatim artinya bagian terakhir atau penutup; maka dari itu Nabi Muhammad saw. adalah penutup para Nabi, yang dipertegas oleh Nabi Suci “la nabiyya ba’di” artinya “tak ada Nabi sesudahku” (Hr. Bukhari).

Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
Kedua arti tersebut diterima sebagai kebenaran oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana dinyatakan dalam tulisan-tulisan beliau antara lain sbb: “Adam, diciptakan dan Rasul-rasul diutus, setelah semuanya, Nabi Muhammad saw. diciptakan yang menjadi segel penutup para Nabi dan yang paling utama dari sekalian Nabi”(Haqiqatul-Wahyi, 1907, h1m.141). Kemuliaan Nabi Suci atas semua Nabi telah berulangkali beliau tulis dalam berbagai buku dan selebaran, juga beliau sampaikan secara lisan dalam berbagai khotbah dan perdebatan. Demikian pula tentang berakhinya kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw. Pernyataan beliau antara lain sebagai berikut: “Karena semua itu kenabian berakhir pada Nabi Suci saw. dan begitulah senantiasa, sesuatu yang ada awalnya pasti ada akhirnya” (Al-Washiyyat, hlm. 10).
Jika menjelaskan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci saw. seringkali beliau tambahkan kalimat “sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama ataupun Nabi baru” misalnya dalam Ayyamush-Shulh (1989) sbb: “Allah hersabda: ‘Ia adalah Utusan Allah dan Khataman Nabiyyin’. Dan itu dalam Hadits : ‘Tak ada Nabi sesudahku’…….Bila Nabi lainnya datang, apakah itu (Nabi) baru atau lama, bagaimana mungkin Nabi Suci kita sebagai Khataman-Nabiyyin?” (dari Ruhani Khaza’in jilid 14, hlm 308-309). Pada halaman berikunya beliau tulis sbb:”Dengan menyatakan Tidak ada Nabi sesudahku’ Nabi Suci menutup pintu secara mutlak kepada (datangnya) seorang Nabi baru atau datang kembalinya seorang Nabi lama” (Ibid, hlm. 400).

Penegak Akidah
Dari anak kalimat “Sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru” tersebut mengandung petunjuk bahwa beliau adalah penegak akidah berakhirnya kenabian secara mutlak pada diri Nabi Suci Muhammad saw. secara syar’i. Tanpa anak kalimat tersebut doktrin Islam Khatamun-Nabiyyin yang menjadi landasan kesatuan umat manusia menjadi kelabu dan mengganggu kesatuan umat manusia, termasuk antar golongan umat Islam. Mengapa? Karena umat Islam terjebak pada dua pendapat ekstrim yang saling berlawanan dalam memahami teks profetik-eskatologik yang sama, yakni tentang datangnya Nabiyullah Isa dalam Hadits riwayat Imam Muslim dari sahabat Nawwas bin Sam’an.
Pada umumnya para ulama Islam penentang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mahdi dan Masih Mau’ud -termasuk MUI- berpendapat bahwa, setelah Nabi Suci saw. akan datang seorang Nabi lama, yaitu Nabi Isa a.s. dari bani Israel yang dilahirkan oleh Siti Maryam sekitar dua ribu tahun yang lalu, yang sekarang mereka yakini masih hidup, di langit; kedatangan beliau untuk melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw. Jadi kedatangannya sebagai Nabi tanpa syariat. Pendapat ini muncul karena teks “Nabiyullah Isa” mereka pahami secara hakiki, baik kata nabiyullah maupun nama Isa. Maka dari itu beliau bertanya Apakah mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah SWT. telah menetapkan Nabi Muhammad saw. sebagai Khatamul-Anbiya’ tanpa perkecualian” (Hamamatul-Busyra, hlm. 20).
Jawaban mereka biasanya “Nabi Isa pengangkatannya sebelum Nabi Suci saw. dan kedatangannya hanyalah untuk menegakkan syariat Nabi Suci”. Mereka memelintir pokok masalah, dari masalah ada atau datangnya, seorang Nabi dialihkan kepada masalah pengangkatan kenabian. Doktrin berakhirnya kenabian menjadi kelabu, meski mereka teriak-teriak qathi’i. Teriakan mereka tidak memperjelas pokok masalah, tetapi justru menambah kelabunya pokok masalah, karena mengundang keresahan dan kekisruhan, bahkan sering melahirkan perbuatan anarkis.
Selain penentang Masih Mau’ud dari sebagian pengikut beliau pun ada pula yang berpendapat bahwa beliau seorang Nabi tanpa syariat, seperti halnya pendapat para penentang beliau. Hanya bedanya, yang datang setelah Nabi Suci adalah Nabi baru, bukan Nabi lama Isa Almasih, sebab beliau telah wafat. Pendapat ini muncul sebab teks profetik-eskatologik Nabiyullah mereka pahami secara hakiki, sedang nama Isa secara majasi. Jadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa majasi, beliau seorang nabi hakiki tetapi tanpa syari’at. Di sinilah sumber pertentangannya, padakata Isa, jika dipahami secara hakiki menunjuk Nabi lama dan jika dipahami secara majasi menunjuk Nabi baru.
Diantara dua pendapat saling berlawanan itu mengandung petunjuk bahwa salah satu benar yang lain salah atau kedua-duanya salah.Kesimpulan terakhir itu yang benar, yakni keduanya salah. Benarnya bagaimana? Benarnya sbb: kata Nabiyyullah dipahami secara majasi demikian pula nama Isa, juga dipahami secara majasi. Mengapa harus dipahami secara majasi? Sebab teks itu suatu profetik atau nubuat. Dengan cara demikian mereka yang menolak boleh saja disebut sesat tetapi tidak sampai kafir atau murtad, sebab keduanya masih mengimani profetik -eskatologik itu dan disamping itu kalimat syahadat yang diucapkan oleh kedua golongan itu menjadikan mereka sebagai anak-anak Muhammad sang Khatamun-Nabiyyin. Inilah ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang sejati, yang dipegang teguh oleh pengikut beliau kaum Muslim Ahmadi (Lahore). Belum saatnyakah umat Islam bersatu?
(S. Ali Yasir).

4 Tanggapan

  1. Inilah bukti yang tidak dapat disangkal oleh Lahore bahwa salah satu pendiri Lahore yaitu Kwajja Kamaluddin pun memanggil HMGA yaitu nabi dari qadian “The Prophet of Qadian” bahkan kepada Sir Sayyad Ahmad Khan pun sama…
    silahkan anda lihat di website anda sendiri:
    http://www.aaiil.org
    http://www.aaiil.org/text/articles/islamicreview/1913/feb/feb1913.djvu
    baca artikel islamicreview halaman 39

  2. Dalam dunia Matador (Bullfighting) di Spanyol, sang sapi jantan (Bull) di tunjukan bendera merah oleh sang matador, dan sang sapi jantan berlari kerah bendera tersebut, karena yang dilihat oleh sang sapi hanya bendera merah tersebut, dan tidak ada yang lain. Hal ini melahirkan istilah dalam bahasa Inggris yang disebut dengan “red rag to a bull” (bendera/kain merah kepada sapi).
    Dikiyaskan dari cerita tersebut, kata nabi merupakan bendera merah kepada warga Qadiyan (sang sapinya).
    Khawaja Menulis:
    “… the prophet of Qadian and the same of Aligarh …”
    Disini dia membicarakan tentang Sir Sayyid Ahmad Khan dan HMGA dan dia menyebut HMGA sebagai nabi dari Qadiyan, dan Sir Sayiid disebut “The same of Aligarh, artinya apa?, artinya Khawaja juga menyebut nabi kepada Sir Sayyid. Disini Khawaja menyebut nabi tidak lebih dari artian “Pemimpin atau Ulama Besar”
    Untuk membaca secara menyeluruh Silahkan klik:
    http://www.wokingmuslim.org/work/islamic-review/1913/feb13.pdf

    dua tahun sebelum itu (1911), memberikan khutbahnya silahkan di klik:
    http://www.wokingmuslim.org/work/allahabad.pdf

    pada halaman 11 (4 alinea dari bawah) tertulis jelas:

    we believe Muhammad to be the last of the prophets

    dan pada halaman selanjutnya, beliau menjelaskan kedatangan para Mujaddid, dan menulis beberapa nama Mujaddid serta menjelaskan bahwa HMGA merupakan Mujaddid abad 14
    Bagaimana mungkin pada tahun 1911 khawaja yang berkeyakinan bahwa
    we believe Muhammad to be the last of the prophets, dan menyebut HMGA sebagai Mujaddid abad 14 lalu serta merta pada tahun 1913 berkeyakinan bahwa HMGA merupakan nabi???

    Wasalam
    Erwan

  3. Aneh juga cara berpikir Lahore
    Kalau ada orang Lahore memanggil Nabi maka dibilang itukan cuma kiasan, padahal itu adalah bukti yang tidak bisa dibantah..
    Jadi bolehkah kita memanggil Nabi kepada HMGA? terlepas itu kiasan atau bukan? jawabannya tentu saja adalah:
    Boleh saja kalau itu cuma kata-kata kiasan, hehehe lucu juga..

    Coba baca apa kata MMA mengenai boleh tidaknya pemanggilan Nabi kepada seorang ulama besar,
    M. ali writes in ROR April 1909, the title of this article is “Islam as interpreted by the Ahmadiyya Movement”:
    “no muslim saint has been called nabi after the Holy Prophet”

    Jelas?

  4. Assalamu’alaikum wr wb.
    Ikhwan Pendeta Yth, itulah mengapa Ahmadiyah Lahore TIDAK PERNAH MENYEBUT NABI kepada siapapun yang diutus oleh Allah setelah kedatangan Nabi Suci Muhammad saw. karena jelas bagi siapapun pintu kenabian telah tertutup dengan hadirnya beliau. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dengan tegas menyatakan :

    “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi (Q.S.33:40).Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah Yang Maha Pengasih telah menyatakan Nabi Suci kita tanpa syarat sebagai Khatam al-anbiya, dan dalam menerangkan ayat ini, Nabi Suci telah bersabda: ‘Tak ada nabi lagi sesudahku’” (Hamamat al-Bushra, hal. 20; edisi baru, hal. 81-82).

    Demikianlah jadi seandainya ada seseorang yang mengaku nabi setelah Muhammad Rasulullah saw. maka orang tersebut telah bertentangan dengan ayat suci yang dikemukakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tersebut diatas. Demikian semoga cukup jelas.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: