Belajar dari sejarah Ahmadiyah

INDOPOS 24 APRIL 2008

Belajar dari  Sejarah Ahmadiyah

Oleh: Asvi Warman Adam

Sejarahan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Jakarta

 

 

AHMADIYAH bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia. Hampir se­abad lalu gerakan itu sudah masuk ke tanah air dan selama berpuluh tahun ti­dak mengalami masalah dengan ke­lompok lain.

 

Mengapa sekarang dalam situasi eko­nomi-politik yang kian panas menje­lang Pemilu 2009 persoalan itu kembali diungkit`? Ada baiknya kita menengok ke belakang, melihat proses masuknya Ahmadiyah ke Nusantara ini. Artikel ini terutama berdasar tulisan Herman L. Beck dalam Bijdragen tot de 7ho1, Imnd en Unlkc nkrrride (2005: 210-246).

Ini bermula dengan kedatangan Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad ke Jogjakarta pada Maret 1924 mengha­diri Kongres Ke-13 Muhammadiyah. Mereka dipersilakan berbicara dalam ke­sempatan tersebut.,”

  Mereka dipersilakan berbicara dalam ke­sempatan tersebut. Pandangan mereka terhadap Jesus, yang dalam Islam disebut Nabi Isa, menarik perhatian hadirin.

 

Bagi penganut Ahmadiyah, Jesus se­telah disalib tidak meninggal, tiga hari kemudian sadar dan bertemu dengan murid-muridnya. Dia kemudian pergi ke Srinagar, Kashmir, dan mengem­bangkan ajarannya di sana hingga me­ninggal pada usia 120 tahun.

 

Karena Jesus itu hanya manusia biasa, messias atau A1-Masih yang disebutnya akan datang ke bumi tak lain dari Mirza Ghulam Ahmad. Oleh Ahmadiyah alir­an Lahore, dia dianggap mujadid (pem­baru). Sedangkan aliran Qadiyan memosisikan dia sebagai nabi.

 

Ahmadiyah juga memiliki pandangan yang khas tentang jihad. Bagi mereka, jihad bersenjata memerangi musuh (orang kafir) tidaklah wajib kecuali un­tuk mempertahankan diri. Kelompok itu sebetulnya juga tidak tergolong ekstrem karena bersikap loyal kepada pemerintah yang berkuasa.

 

Tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari – kakek Abdurrahman Wahid’ (Gus Dur)­ dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah lndonesia. Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah yang juga ber­saudara sepupu adalah pendiri NU (Nahdlatul Ulama) tahun 1926.

 

Tahun 1930, pemerintah Hindia Be­landa mengakui Ahmadiyah. Selain ke­tua Djojosoegito, terdapat nama Erfan Dahlan sebagai pengurus. Erfan Dah­lan adalah putra H Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang belajar tentang Ahmadiyah di Lahore dan ke­mudian mengembangkan aliran terse­but di Thailand.

 

Selain Erfan Dahlan, ada beberapa pemuda lain yang juga belajar tentang Ahmadiyah di Lahore. Yang satu se­telah kembali ke Indonesia bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indone­sia). Yang lain, Maksum, keluar dari Muhammadiyah, bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) yang dipimpin A. Hassan di Bandung.

Polemik Panjang

Seperti kita ketahui, polemik panjang mengenai ajaran Islam juga terjadi an­tara A. Hassan dan Soekarno. Maksum beberapa puluh tahun kemudian ikut gerakan DI TII yang dipimpin Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Djojosoegito kemudian memindah­kan kegiatannya ke Purwokerto dan di kota ini didirikan masjid pertama Ah­madiyah di Indonesia. Hubungan an­tara Ahmadiyah dan SI (Sarekat Islam) pada mulanya cukup erat.

Pemimpin SI, HOS Tjokroaminoto, menerbitkan tafsir Alquran pada 1930. Kata pengantar diberikan pimpinan Ahmadiyah di Lahore, India. Ketika ketepatan terjemahan kitab suci itu ba­nyak dikritik, terutama dari kalangan Muhammadiyah, dukungan diberikan pimpinan Ahmadiyah.

 

Namun, hubungan Ahmadiyah de­ngan SI kemudian menjadi renggang karena sikap politik Sl yang radikal ter­hadap penjajah Belanda. Sedangkan Ahmadiyah tetap loyal kepada peme­rintah. HOS Tjokroaminoto yang men­jadi mertua Soekarno, menurut KH Ab­durrahman Wahid, sebetulnya juga sau­dara sepupu dari Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah.

 

Kalau benar demikian, sebenamya to­koh-tokoh NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah tersebut berasal dari rumpun keluarga yang sama. Kalau terjadi selisih paham sesama mereka, itu menjadi per­tengkaran intern keluarga yang tidak akan menjadi konflik berdarah.

 

Pada 1925, Haji Rasul, ulama terke­nal dari Sumatera Barat, ayahanda HAMKA, mengunjungi putrinya, Fa­timah, yang menikah dengan A.R. Su­tan Mansyur, pimpinan Muhamma­diyah di Pekalongan. Dari Pekalongan, dia singgah di Jogja dan Solo serta ber­temu dengan tokoh–tbkoh Muhamma­diyah dan Ahmadiyah. Terjadilah per­debatan seru. Haji Rasul mengatakan bahwa keyakinan Ahmadiyah itu me­nyimpang dari ajaran Islam.

 

Dalam kongres Muhammadiyah di Solo pada 1929, hubungan antara or­ganisasi itu dan Ahmadiyah menjadi putus. Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa barang siapa yang memercayai adanya nabi setelah Mu­hammad dianggap ka£u, walaupun tidak eksplisit menyebut Ahmadiyah. Sebe­lumnya sudah ada larangan bagi warga Muhammadiyah untuk mendengarkan ceramah tentang ajaran Ahmadiyah.

 

Setelah 1929, Muhammadiyah sangat jarang mengeluarkan pernyataan yang memojokkan Ahmadiyah aliran La­hore. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 1984, Muhammadiyah mendukung dan meng­anggap bahwa itu terutama menyang­kut Ahmadiyah aliran Qadiyan.

 

Tak Berbahaya

Mengapa Muhammadiyah masih ber­sikap toleran terhadap Ahmadiyah aliran Lahore? Menurut Herman Beck, itu terjadi karena organisasi tersebut di­anggap tidak berbahaya serta bukan kompetitor dalam bidang dakwah, so­sial, dan pendidikan. Itulah sebabnya, selama puluhan tahun, Ahmadiyah te­tap hidup berdampingan secara damai dengan Muhammadiyah dan organisasi Islam yang lain.

 

Menjadi pertanyaan saat bangsa Indonesia mengalami kesulitan eko­nomi yang berkepanjangan, kesejahte­raan rakyat tak kunjung terwujud, ma­syarakat didera kemiskinan, mengapa persoalan Ahmadivah yang muncul ke permukaan? Untuk apa dan siapa yang menggerakkan semua ini?

 

Kalau diperhatikan, sejarah lahirnya organisasi-organisasi muslim di tanah air terlihat bahwa pendiri dan pengurus awal berbagai organisasi Islam itu se­sungguhnya bersaudara: Oleh karena itu, sebaiknya masalah Ahmadiyah ini dise­lesaikan secara persaudaraan pula. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: