HIJRAH PENGGENAPAN TIGA NUBUAT YESAYA

Oleh: Simon Ali Yasir

“Jika kamu tak menolong dia, Allah sungguh-sungguh telah menolong dia tatkala orang-orang kafir mengusir dia – dia adalah orang yang kedua dari (orang) dua; tatkala dua dua orang itu berada dalam goa, tatkala dia berkata kepada kawannya: Jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah menyertai kita. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan memperkuat dia dengan bala tentara yang kamu tak melihatnya, dan membuat rendah kalimah kaum kafir. Dan kalimah Allah adalah yang amat luhur” (9:40)

Yang dimaksud “dia” dalam ayat suci 9:40 di atas adalah Nabi Muhammad saw. yang melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dalam tahun 622 Masehi. Ayat suci yang menguraikan hijrah Nabi tersebut setidak-tidaknya ada tiga peristiwa profetik sebagai pemenuhan nubuat Yesaya a.s. seorang Nabi Israel yang hidup sekitar tahun 700 sebelum tarikh Masehi. tiga peristiwa profetik itu ialah: (1) Pertolongan Ilahi terhadap Nabi Muhammad saw. (2) Tentang innallaha ma’ana dan (3) Kebinasaan kaum Quraisy. Uraian sekedarnya sebagai berikut:

Pertolongan Ilahi

Perlindungan Ilahi terhadap Nabi Muhammad saw. yang juga mengandung arti perlindungan terhadap al Qur’an atau agama Islam, ini diisyaratkan dalam kalimat “Jika kamu tak menolong dia, Allah sungguh-sungguh telah menolong dia tatkala orang kafir mengusir dia”. Wujud pertolongan itu berupa perlindungan terhadap beliau dari bahaya maut yang mengancam keselamatan beliau, misalnya pada zaman Mekah akhir, para sahabat telah hijrah ke Madinah, Rasulullah tinggal sendirian di Mekah. Kaum kafir Quraisy akhirnya membuat berbagai macam rencana yang dikemukakan dalam suatu rapat besar di Darun-Nadwa; akhirnya disepakati sebuah rencana agar Rasulullah saw. dibunuh dengan menikamkan pedang dalam tubuh beliau yang dilakukan serempak oleh para pemuda dari berbagai kabilah, sehingga tak ada orang atau kabilah yang dapat melancarkan tuduhan terhadap seseorang atau suatu kabilah. Untuk tujuan inilah, rumah Rasulullah dikepung begitu hari mulai malam. Secara diam-diam beliau dapat meloloskan diri lalu bersama Abu Bakar menuju ke gua Tsur untuk bersembunyi. Keesokan hari para calon pembunuh yang haus darah itu terkejut, karena yang bangun dari tempat tidur Ali bin Abi Thalib, bukan Rasulullah. Beliau telah meninggalkan kota Mekah, penduduk Mekah juga terkejut dan heran, bagaimana bisa lolos dari kepungan. Kemudian dilakukan penyisiran ke seluruh penjuru kota. Hasilnya nihil. Hari berikutnya dilakukan penyisiran lagi. Hasilnya nihil pula. Kaum kafir menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat membawa nabi Muhammad, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Hal ini di isyaratkan dalam ayat:

“Dan tatkala orang-orang kafir membuat rencana terhadap engkau untuk mengurung engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau – dan mereka membuat rencana, dan allah juga membuat rencana; dan Allah itu yang terbaik di antara para perencana” (8:30)

Peristiwa dan ayat suci tersebut merupakan pemenuhan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi:

“Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah! Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga, sebab Allah menyertai kami!” (Yes 8:9-10)

Imanuel

Imanuel (bahasa Ibrani) artinya Allah beserta kita atau kami, senada dengan inallah ma’ana artinya sesungguhnya Allah beserta kita, yang termaktub di dalam ayat 9:40 “dia adalah yang kedua dari (orang) dua; tatkala dua orang itu berada dalam gua, tatkala dia berkata kepada kawannya: jangan merasa sedih, seungguhnya Allah menyertai kita”.

Frase tersebut diucapkan Rasulullah saw. kepada sahabat setianya Abu Bakar, yang sedang mengalami kecemasan karena mendengar perdebatan kaum kafir di dekat mulut gua. Mereka sampai di sana berkat petunjuk ahli pencari jejak. Tatkala mereka melewati mulut gua, Abu bakar menyaksikan kaki-kaki dan ujung-ujung pedang mereka. Namun mereka tak tertarik untuk melihat dalam gua, karena “tertutup” oleh rumah laba-laba. Rumah laba-laba yang lemah itu ternyata dapat menjadi “benteng kokoh” yang menyelamatkan sang Rahmatan Lil’alamin. Mengapa? Jawabannya dinyatakan Ilahi dalam firman-Nya:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan selain llah itu seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah; dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka tahu” (29:41)

Kaum Kafir itu mengambil pelindung selain Allah dan mengandalkan akalnya. Menurut akal sehat memang tak ada barang atau orang yang masuk ke dalam gua, karena rumah laba-laba dalam keadaan utuh.

Ucapan Rasulullah saw. inallaha ma’ana merupakan penggenapan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi sebagai berikut:

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik”. (Yesaya 7:14-15)

Ayat profetik tersebut menurut catatan ka Bible de Jerusalem sebagai “nubuat kelahiran Kristus” yang tujuannya ialah “Tuhan mewujudkan keselamatan bagi umat-Nya”. Sebenarnya profetik tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., bukan Isa al Masih (Yesus kristus). Mana yang benar? Mari kita analisa karakteristik dalam profetik tersebut lebih tepat diterapkan kepada siapa, Yesus ataukah Muhammad saw.

Pertama, anak laki-laki tersebut dilahirkan oleh almah. Kata Ibrani almah artinya perempuan muda atau gadis, anak dara. Menurut bahasa Yunaninya kata yang bermakna ganda ini Partheuos, sedang gadis atau anak dara bahasa Yunaninya bethulah. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kata perempuan muda untuk ayat Yesaya 7:14, tetapi untuk ayat matius 1:23 menggunakan arti anak dara. Maria, ibunda Yesus tak dapat disebut almah, baik dalam arti perempuan muda maupun anak dara, sebab dia mengalami tua, wafat dalam usia lanjut, dan dia juga berumah tangga (dengan Yusuf si tukang kayu); jadi dia bukan gadis. Tetapi almah dalam arti perempuan muda dapat diterapkan kepada Siti Aminah, ibunda Muhammad saw., karena beliau wafat dalam usia muda, dalam likuran tahun saja.

Kedua, kata Imanuel artinya Allah bersama kita atau Allah bersama kami, dalam sejarah hidup Yesus menurut Perjanjian Baru banyak ayat yang menggambarkan bahwa Allah tidak bersama kami (Almasih) karena Almasih berada di bumi sedang Allah (bapa) berada di langit tatkala beliau dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes pembaptis (mat 3:16-17), bahkan lebih fatal lagi karena Allah meninggalkan Yesus tergantung di tiang salib pada hari Jum’at Agung sekitar pukul 15:00, sebagaimana tercermin dalam ucapannya: Eli, Eli lama sabakhtani? Artinya “Allahku, Allahku mengapa engkau tinggalkan aku? (mat 27:46). Empat puluh hari setelah penyaliban yang gagal itu, Yesus sang anak Allah menyusul Bapanya ke Surga dengan meninggalkan kita umat manusia di bumi sampai sekarang, bahkan untuk selama-lamanya (Mik 16:19). Semua peristiwa tersebut menggambarkan bahwa kata Imanuel tak tepat diterapkan kepada yesus akan tetapi sangat tepat jika diterapkan kepada Muhammad Rasulullah saw. karena tatkala beliau dalam keadaan kritis seperti Yesus – hanya bedanya Yesus tergantung di tiang salib, Nabi Muhammad saw. terkurung di dalam gua – beliau justru mengucapkan, la tahzan innallaha ma’ana, artinya jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah beserta kita. Di samping itu hubungan kita dengan Allah dilukiskan bahwa “Dia (Allah) adalah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat nadinya” (50:16) karena “tak ada percakapan rahasia di antara orang tiga melainkan Ia yang keempatnya, dan tak pula antara lima orang melainkan Ia yang keenamnya, tak pula lebih sedikit dari itu dan tak pula lebih banyak daripada itu, melainkan Ia menyertai mereka di manapun mereka berada” (58:7), jadi Allah selalu beserta kita  kapan saja dan di mana saja.

Ketiga, tentang dadih tak disinggung-singgung dan tak terkait dengan kehidupan Yesus, tetapi dalam tarikh Islam dadih adalah minuman fitrah dan yang diminum beliau tatkala beliau Isra’ Mi’raj dan tatkala beliau bersembunyi dalam gua tsur selama tiga hari tiga malam.

Keempat, tentang madu, juga tak disinggung atau terkait dengan Yesus Kristus, tetapi oleh Allah dijelaskan dalam al Qur’an bahwa madu adalah obat bagi manusia (16:68-69) dan al qur’an adalah “madu ruhani” karena merupakan obat pula, yakni obat bagi segala penyakit dalam hati (10:57); jika demikian Rasulullah saw. adalah “penghasil” madu ruhani (98:2-3). Oleh karena itu al Qur’an selain sebagai obat juga sebagai rahmat bagi orang mukmin (17:82).

Kebinasaan kaum Quraisy

Tentang kebinasaan kaum kafir Quraisy diisyaratkan dalam kalimat “(Allah) membuat rendah kalimat kaum kafir, dan kalimat Allah adalah yang amat luhur”. Kata kalimat artinya: rancangan, ramalan Allah, putusan tanda, hukuman, kabar suka, ciptaan Tuhan, kata atau ucapan dan perintah. Di sini arti yang tepat adalah rancangan atau rencana. Rencana kaum kafir ialah membunuh Nabi Muhammad saw. dan membinasakan Islam, sedang rencana Allah ialah menyelamatkan para Nabi dari upaya pembunuhan, terutama bagi Nabi Muhammad saw. dan memenangkan Islam atas semua agama. Islam akan mengungguli kekaisaran Persia, sebagaimana yang disampaikan kepada Suraqah bin Malik dalam perjalanan menuju Madinah. Kedatangan Rasulullah di Madinah disambut baik oelh penduduk setempat.

Meski Nabi Muhammad saw. telah hijrah ke Madinah, kaum kafir tetap berusaha membinasakan beliau lewat kekuatan senjata. Terjadilah peperangan-peperangan dahsyat yang selalu dimenangkan oleh Islam dan membinasakan diri mereka sendiri. Misalnya perang badar yang terjadi dalam tahun 624 Masehi. Perang ini merupakan penggenapan nubuat yesaya yang berbunyi sebagai berikut:

Ucapan ilahi terhadap Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel, telah mengatakannya.” (21:13-17)

Dalam ayat profetik itu jelas dan tergenapi pada diri Nabi Muhammad saw. Anjuran membawa air untuk orang haus dan menyambut orang pelarian (hijrah), tergenapi tatkala penduduk madinah menyambut kedatangan Rasulullah saw dan Abu Bakar. Profetik “mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang terhunus” tergenapi dengan lolosnya Rasulullah dari rumah beliau yang telah dikepung musuh dan juga tatkala beliau bersama bersama Abu Bakar bersembunyi dalam gua Tsur. Profetik “melarikan diri… terhadap busur yang dilentur” terlengkapi tatkala beliau dikejar oleh Suraqah bin Malik yang mengejar beliau dan tiga kali melepaskan anak panah dari busurnya dalam perjalanan menuju Madinah. Sedangkan profetik “melarikan diri… terhadap kehebatan peperangan” tergenapi dengan syariat Islam tentang jihad atau qital yang boleh dilakukan karena diperangi, diusir dan dizalimi; jadi peperangan terpaksa dilakukan. Akhirnya profetik “dalam setaun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan kan habis…” tergenapi dengan terjadinya perang Badar yang terjadi dalam tahun 624 Masehi dan perang-perang berikutnya yang memusahkan kemuliaan Bani Kedar, yakni kaum Quraisy.

16 Tanggapan

  1. Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan. Di sini saya hanya tertarik dan hendak me-reply tulisan sdr. Simon Ali Yasir yang terkait denga penafsiran kitab Yesaya dan Matius serta kata “Immanuel”.
    Sebelumnya perlu saya sampaikan nasihat Rasul Petrus dalam surat ke-2 beliau (1:20): “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditasirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”.
    Berangkat dari nasihat beliau, saya meluruskan tafsiran Sdr. Simon terhadap kitab Yesaya khususnya Yesaya 7:14-15, Yesaya 8:9-10, Matius 1:23, Matius 3:16-17 dan Matius 27:46 sebagai berikut:
    1) Yesaya 7:14-15 dan Matius 1:23
    “Anak perempuan muda” adalah nubuatan kepada “anak dara”, yaitu Maria. Pada waktu melahirkan Yesus, ya logikanya Maria si “anak perempuan muda” atau si “anak dara” itu ya masih muda. Kalau dia diberi umur panjang oleh Allah, ya logikanya tubuhnya pun akan menyesuaikan dengan usianya. Kalau seseoran mati muda, ya otomatis tubuhnya pun sesuai dengan usianya saat itu. Semua orang begitu!
    2) Yesaya 8:9-10
    Yesaya 8:9-10 adalah firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Yesaya kepada Raja Ahas yang merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya [7:1-25 dan 8:5-8]. Karena Raja Ahas tidak berani maju berperang melawan bangsa Aram padahal Allah melalui Nabi Yesaya telah berfirman “Janganlah takut dan janganlah hatimu kecut” dan menolak ketika ia disuruh oleh Nabi Yesaya untuk meminta tanda dari Allah, maka Allah akhirnya memberi tanda kepada Raja Ahas melalui Nabi Yesaya bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamainya Immanuel. Hingga anak laki-laki itu tahu mana yang jahat dan yang baik, Allah akan menghukum dengan mendatangkan kesuraman kepada Raja Ahas dan rakyat Israel. Jadi ayat 9-10 dalam Yesaya 8 termasuk kata-kata “…sebab Allah menyertai kami!” adalah perkataan bangsa Asyur yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk menyerang Yehuda.
    3) Matius 3:16-17
    Bagaimana logikanya Sdr. Simon dapat mengatakan bahwa Allah tidak bersama Yesus karena Yesus berada di bumi sedang Allah berada di surga tatkala beliau dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes pembaptis? Tidak bersama dalam arti apa, secara jasmani? Ya jelas sdr. Simon tidak akan dapat melihat Allah bersama Yesus secara jasmani. Jangankan sdr. Simon, yang hidup pada saat itu juga tidak dapat. Kalau secara rohani? Ya, itu baru benar. Lagipula kenapa sih hanya dibatasi pada waktu Yesus dibaptis?
    4) Matius 27:46
    Kata-kata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” adalah penggenapan nubuatan Nabi Daud (Mazmur 22:1). Hal yang sama dialami oleh Nabi Daud ketika ia dalam kesesakan seakan-akan Allah meninggalkan atau tidak menolong dia. Karena misinya ia harus mati, maka Yesus taat sampai mati. Dan ucapan itu membenarkan nubuatan kematiannya. Jadi bukan Allah meninggalkan Yesus tergantung di tiang salib pada hari Jum’at Agung sekitar pukul 15:00! Karena memang Allah mengutus Yesus untuk itu. Dan penyaliban itu tidak pernah gagal bahkan dapat dikatakan sukses bagi orang Israel yang menolak Yesus.

  2. sory,
    sebenarnya gw cuma mo numpang lewat, tapi karena gw peratiin, admin-nya sok jago ngebahas islam, maka gw tantang km untuk ikut dalam forum http://www.indonesia.faithfreedom.org

    wassalam

  3. ah,..asal bunyi aja sih bisa. jangan sembarangan tafsir deh,…gampang banget bilang “dia” itu Muhammad. nabi Yesaya ga kenal tuh sama “dia” mu

  4. Kepada semua pengunjung dan pemberi tanggapan yang saya hormati, pertama kami ucapkan terimakasih atas partisipasinya dalam dialog ini.

    Berkenaan dengan sdr adek baiklah akan kami tanggapi sebagai berikut:

    1. Berkaitan dengan nasihat Rasul Petrus tersebut memang harus menjadi landasan bagi kita semua, karena sudah seharusnya demikian adanya agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan sesuatu terhadap suatu nubuatan. Didalam agama Islam kami disuruh oleh Allah untuk beriman kepada nabi2 dan kitab2 suci yang diturunkan sebelum Rasulullah Muhamamd saw karena didalam kitab2 tersebut masih terdapat kebenaran meskipun telah tercampur dengan tulisan2 yang buat oleh tangan2 manusia yang diakukan berasal dari Allah SWT. nah dengan bersandar pada kaidah yang demikian karena memang menjadi hukum Allah bahwa sebuah kitab suci yang turun belakangan sudah pasti akan mengoreksi dan memberi kesaksian kebenaran kitab sebelumnya — misalnya kedatangan Yesus bukanlah menghilangkan hukum torat tetapi melengkapinya dan demikian pula Yesus menyatakan kepada umatnya bahwa pada saat dia tampil sebagai nabi belum seluruh firman Allah akan disampaikan akan tetapi menunggu datangnya roh kebenaran (al-Quran) — maka maka didalam menafsirkan nubuat-nubuatan pada kitab2 sebelumnya pun harus berlandaskan pada Al-Quran sebagai wahyu samawi yang hadir paling belakang dan didalam terang peradaban tanpa cacat sejarah sedikitpun. Nah dengan demikian maka kita akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan tidak bertentangan dengan kaidah tafsir maupun fakta sejarah yang menyertainya.

    2. Nubuatan mengenai Yesaya 7:14-15 dan Matius 1:23, yang pada intinya immanuel akan lahir dari anak perempuan muda, menurut kami berdasarkan fakta sejarah lebih tepat ditujukan kepada Siti Aminah yang memang mati dalam usia muda ketika Muhammad baru berusia 6 tahun dan Aminah berusia antara dua puluh hingga tiga puluhan tahun serta bandingkan dengan Siti Maryam yang masih hidup hingga berusia lanjut, kira-kira mana yang lebih cocok.

    3. Nubuatan Yesaya 8:9-10, “Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah! Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga, sebab Allah menyertai kami!” (Yes 8:9-10) didalam sejarah siapakah yang mampu mengalahkan lawan-lawannya -kaum kafir mekah atau kaum Yahudi — sehingga mereka bertekuk lutut dan berbalik menjadi pengikut yang setia kecuali hanya tepat diterapkan kepada Rasulullah Muhammad saw, karena Allah telah benar2 bersamanya? bandingkan dengan kisah perjuangan Yesus yang ditolak oleh Kaum Yahudi dan malah berencana menyalibkannya.

    4. Mengenai Allah beserta kita/kami, sebenarnya kami mempertentangkan konsep ketuhanan yang menjadi keyakinan Yesus pada saat itu dengan konsep ketuhanan dalam agama kristen yakni trinitas yang hadir belakangan dan hal tersebut membuat rancu. Sehingga menjadi dilema ketika konsep trinitas tersebut dihadapkan pada kenyataan sejarah bahwa Yesus saja merasa tidak berdaya menghadapi ulah kaum Yahudi, seandainya konsep kristen mengenai trintas adalah benar. Mengapa, karena memang Yesus hanyalah seorang manusia yang diangkat menjadi nabi hingga tidak kuasa untuk menghindari takdir yang harus dilalui dengan cara disalibkan. Akan tetapi yang membedakan antara orang Tuhan dan orang yang bukan berasal dari tuhan adalah pertolongan Allah, yaitu Janji Allah adalah pasti dan seorang nabi pasti akan ditolong oleh-Nya yakni dihindarkan dari mati terkutuk ditiang salib sebagaimana diyakini kaum yahudi dan sangat ditakuti oleh Yesus, karena sebagaimana tertulis dalam kitab sesorang nabi yang mati ditiang salib adalah nabi palsu dan harus mati terkutuk. Dan yang demikian tidak terjadi pada diri Yesus karena beliau diselamatkan oleh Allah dengan diserupakan dengan orang yang mati dan yang akhirnya bisa diselamatkan oleh Yusuf an-najjar murid beliau. Bandingkan dengan rasulullah Muhammad ketika digua Hira yang nyata-nyata musuh telah sampai dimulut gua dan kilauan cahaya dari pedang musuh terpantul dari mulut gua, dia tetap meyakinkan sahabatnya yang bersamanya (Abu Bakar) Innallaha ma’ana — Allah (Tuhanku) beserta kita —

    5. Yesus sebagai seorang nabi memang tidak pernah mengkawatirkan nyawanya karena beliau sangat yakin akan pertolongan Allah, akan tetapi kekhawatiran beliau adalah jikalau benar2 disalib dan kemudian mati ditiang salib apa jadinya misi beliau sebagai seorang nabi yang adalah benar-benar diutus oleh Allah? orang2 Yahudi pasti akan meyakini beliau adalah nabi palsu dan kekhawatiran beliau adalah wajar sebagai manusia biasa. Pembahasan mengenai penyaliban dapat dibaca pada judul yang lain.

    Untuk sdr muhammad dan suro ghoto kami tunggu tanggapannya menurut sdr bagaimana yang seharusnya menafsirkan nubuat2 tersebut sehingga bermanfaat bagi keimanan kita.

    Demikian penjelasan kami, terimakasih.

  5. Kepada saudara2 ku sekalian, Menurut yang saya pelajari, selama ada nya manusia di bumi ini mulai dari zaman nabi Adam sampai dengan Nabi Mohammad, hanya ada nabi yang mendapat gelar dari Tuhan, yang pertama adalah nabi Isa ( Yesus) dengan gelar A.S, dan Mohammad dengan gelar S.A.W, sampai disini benar kan..? coba di pertegas arti dari gelar tersebut, A.S = nabi pembawa keselamatan sedangkan S.A.W = nabi yang meminta keselamatan bagi umatnya. So, saya rasa kita sebagai manusia kalau mau memilih pasti kita akan memilih nabi yang membawa keselamatan bagi umat manusia dari pada nabi yang meminta keselamatan buat manusia, tul ga..? btw, ada firman Tuhan yang mengatakan ” Berbahagialah orang yang tidak melihat namun mendengar, berbahagialah orang yang percama namun tidak melihat”

  6. Sdr Rey Yth,
    Kami ucapkan terimakasih atas kunjungan dan partisipasinya dalam diskusi ini,

    sdr Rey menyatakan sbb “Menurut yang saya pelajari, selama ada nya manusia di bumi ini mulai dari zaman nabi Adam sampai dengan Nabi Mohammad, hanya ada nabi yang mendapat gelar dari Tuhan, yang pertama adalah nabi Isa ( Yesus) dengan gelar A.S, dan Mohammad dengan gelar S.A.W, sampai disini benar kan..? coba di pertegas arti dari gelar tersebut, A.S = nabi pembawa keselamatan sedangkan S.A.W = nabi yang meminta keselamatan bagi umatnya.”

    Tanggapan kami dapatkah sdr memberikan referensi buku atau kitab apa yang menyatakan demikian sehingga diskusi ini benar2 bermanfaat, bukan sekedar debat kusir?.

    Mengenai kata AS=‘alaihi salam’ dan SAW = ‘salallahu ‘alaihi wassalam’ arti kata tersebut adalah sbb:
    Didalam pandangan agama Islam semua nabi adalah suci dari dosa dan terbebas dari kesalahan, maka Allah pasti memberikan keselamatan kepadanya, misalnya Nabi Isa as, Musa as. Dll, sehingga setiap nama nabi tersebut ditambahkan kata2 ‘alaihisalam’ yang maknanya “keselamatan Allah terlimpah padanya”. Sedangkan khusus untuk Nabi Muhammad saw, selain secara pribadi beliau itu suci dan terhindar dari dosa beliau telah berhasil dalam misi dakwah beliau yang mampu mengubah peradaban umat manusia, sehingga dengan tanggung jawab yang begitu besar dalam mengubah peradaban umat manusia tersebut Allah beserta malaikat pun berkenan untuk bersalawat kepadanya. Sehingga makna “salallahu ‘alaihi wassalam” tidak saja sekedar Allah melimpahkan keselamatan kepadanya akan tetapi juga Allah berislah (tersambung – terhubung sebagai suatu ikatan yang tidak terpisahkan) dengan Rasulullah Muhamamd saw, karena pribadi dan perilaku Rasulullah adalah benar-benar cermin dari sifat-sifat Allah (berakhlak Al-Quran). Untuk referensi tulisan mengenai Rasulullah Muhamamd saw baca disini : http://www.aaiil.org/text/pbuh/mainpbuh.shtml

    Apa tanggungjawab tersebut yang harus diemban oleh Muhammad, baca pada artikel “Mematahkan Salib” dan “Integrasi Religi” ,

    Demikian sedikit penjelasana kami, dan kami tunggu tanggapannya. Terimakasih.

  7. Sebaiknya bagi kita yang sudah mempercayai siapa sesungguhnya sang Juru Selamat, tetap berpegang teguh. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun mendengar, berbahagialah orang yang percama namun tidak melihat. Kita hidup dalam dimensi Roh krn kita memiliki Roh Allah yang hidup dalam diri kita. Jadi daripada kita yang sudah percaya akan Kristus, lebih baik lebih tekun berdoa dan sebagai pelaku Firman-NYA. Kita tidak perlu berdebat karena semuanya akan sia-sia. Hidup dalam kerukunan dan biarkanlah Roh Kudus yang menyingkapkan/melawat agar banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan. Tuhan Yesus Memberkati!!!!

  8. Sdr Aku MempelaiNYA yang kami hormati memang sebuah keyakinan apapun adanya akan mendatangkan manfaat apabila keyakinan itu dilaksanakan sebaik-baiknya. Namun harus diingat bahwa kita meyakini sesuatu itu kemudian tidak ada resikonya, keyakinan terhadap suatu obat akan benar-benar manjur dan sesuai dengan manfaatnya apabila obat tersebut benar-benar dimakan oleh yang meyakini. Demikian pula keyakinan dalam beragama keyakinan tersebut akan mendapatkan pembenaran manakala keyakinan tersebut dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kita sebagai manusia yang telah diberikan akal dan pikiran serta ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, apakah kita akan menyia-nyiakan karunia tersebut dengan mengikuti sesuatu keyakinan yang bertolak belakang dengan ilmu dan pengetahuan kita serta meninggalkan prinsip-prinsip beragama yang sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia, demikian sedikit tanggapan dari kami, terimakasih.

  9. heh dasar bego semua…

    forum debat kalian tuh ga guna

    yang penting tuh ini :

    ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu
    dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu,
    dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’

    coba deh renungin, resapin dalam2, dan lakukan dalam setiap kesempatan

    dan yang ga kalah penting

    ‘Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’

    renungin lebih lama, resapin lebih dalam, dan berusaha lakukan setiap saat.

    2 hal itu 7x7x7 lebih susah di lakukan di bandingkan membinasakan musuh. jadi klo kita bisa membinasakan/ mengalahkan musuh kita, JANGAN BANGGA. hal itu cuma perbuatan rendah.

    soal sejarah dulunya kaya gimana itu ga penting!!
    kitab suci itu bukan buku sejarah yang bisa di perdebatkan.
    walo kita bisa ngerti sejarah islam ato pun kristen, budha, atopun hindu kita tetep ga bisa ngubah sejarah…
    udah kemauan Tuhan kaya gitu!!

    Kitab suci itu sebuah panduan bagi kita untuk hidup BENAR!!
    tafsiran kalian itu ga berguna kalo hanya mentafsirkan cerita2 yang ada.
    coba tafsirkan kalimat2 dengan awalan “Aku berkata kepadamu… bla bla bla…”

    itu lah pesan2 Tuhan yang musti kita dengar kita mengerti dangan membuka pikiran dan hati serta melakukannya.

    udah itu ajah.

    lain kali jangan bego2 amat yah!!

  10. Sdr Yesaya Yth,
    Kami harap sdr berkata yang sopan, bagaimana sdr akan dihormati oleh orang lain bila kata2 anda saja sudah kasar begitu.

    Sdr Yesaya mengatakan :
    “soal sejarah dulunya kaya gimana itu ga penting!!
    kitab suci itu bukan buku sejarah yang bisa di perdebatkan.
    walo kita bisa ngerti sejarah islam ato pun kristen, budha, atopun hindu kita tetep ga bisa ngubah sejarah…
    udah kemauan Tuhan kaya gitu!!

    Tanggapan kami :
    Memang kita tidak bisa mengubah sejarah, akan tetapi betapa pentingnya sejarah bagi manusia untuk kehidupannya dimasa yang akan datang, makanya Allah memberikan kita akal fikiran dan disuruh mempelajari kaum yang sudah-sudah tujuannya adalah belajar dari sejarah masa lalu, kaum yang terdahulu agar kita tidak mengulangi kesalahan yang diperbuat oleh kaum kaum yang terdahulu. Kaum yang terdahulu telah banyak berbuat dosa dan kesalahan makanya mereka diazab oleh Allah SWT misalnya kaumnya Nabi Nuh ditenggelamkan dalam air bah, Kaumnya nabi Luth (sodom dan Gomora) diturunkan hujan api dan gempa bumi. Demikian pula kaum Yahudi dipaksa menjadi budak di mesir dan dihancurkan oleh Nabukadnezar karena senantiasa melawan utusan-utusan Allah. Kalau saat ini kita merasa tenang-tenang saja tidak mau belajar dari peradaban masa lalu dan kita merasa aman-aman saja melakukan perbuatan2 yang dilakukan oleh kaum yang terdahulu misalnya maraknya perbuatan maksiat (misalnya berbuat zina, sodomi, makan riba, dll) dan tidak mengikuti petunjuk Allah maka tunggu saja saatnya yang akan datang kemurkaan Allah akan menimpa diri atau kaum kita.

    Yang berikutnya sdr Yesaya menyatakan :
    ” Kitab suci itu sebuah panduan bagi kita untuk hidup BENAR!!
    tafsiran kalian itu ga berguna kalo hanya mentafsirkan cerita2 yang ada.
    coba tafsirkan kalimat2 dengan awalan “Aku berkata kepadamu… bla bla bla…”

    itu lah pesan2 Tuhan yang musti kita dengar kita mengerti dangan membuka pikiran dan hati serta melakukannya

    Tanggapan kami:
    Memang benar Kitab suci itu menjadi panduan hidup kita, dengan catatan Kitab Suci tersebut memang kitab suci yang benar, Bagaiamana kalau kitab sucinya saja diragukan keaslianya?, akankah kita mendapat petunjuk yang benar? Bukankah kitab suci yang anda maksudkan (Al-Kitab) adalah kumpulan cerita-cerita yang disusun dari berbagai sumber :
    ” Teofilus Yang Mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi diantara kita … dst ” (Lukas 1:1-4).

    maka dengan demikian diperlukan suatu kitab suci yang tidak ada keraguan didalamnya :

    “Kitab ini(AL-Quran) tak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan” (QS 2: 2)

    Tolong dibandingkan???

    maka menjadi mutlak perlu untuk mempelajari pesan2 Tuhan melalui kitab2 yang benar-benar berasal dari Tuhan sehingga tidak terjebak pada pemahaman yang keliru. Demikian tanggapan kami, terimakasih.

  11. Senang bisa gabung kedalam pembahasan ini dan saya mohon maaf jika ada sesuatu yang mungkin kurang menyenagkan bagi saudara sekalian. dan mari kita kiranya menjalin hubungan yang baik satu sama lain. yang pertama adalah perbandingan antara Nabi Muhamad saw dan Tuhan Jesus. jika nabi muhamad mencerminkan kepribadian Allah dan kalian bilang bahwa nabi muhamad nabi pembawa damai dan keselamatan namun kan dalm sejarahnya dia mengadakan perang, membunuh dan menghabisi setiap orang yang dianggap musuh, jika di bandingkan dengan Tuhan kita… ada ungkapan yang sangat jelas yang Dia ajarkan pada kita yaitu, ” kasihilah musuhmu ‘, ‘ jangan membalas kejahatan dengan kejahatan ‘, karena Dia datang untuk menggenapi hukum taurat dan mengajarkan pada kita apa itu kasih. Jadi, manakah yang dapat mencerminkan kepribadian Allah ?…
    jadi, pastinya kita dapat mempertimbangkannya bukan ?

    • Ikhwan Pasti Yth, sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya, mengenai pertanyaan sdr dapat kami tanggapai sbb:

      1. Sdr Menulis Sbb : “jika nabi muhamad mencerminkan kepribadian Allah dan kalian bilang bahwa nabi muhamad nabi pembawa damai dan keselamatan namun kan dalm sejarahnya dia mengadakan perang, membunuh dan menghabisi setiap orang yang dianggap musuh… ”

      Jawaban kami :
      Nabi Suci Muhammad SAW, mengadakan perang tidak seperti yang Sdr. pahami, Jika anda secara jujur membaca buku sejarah maka perang yang dilakukan adalah perang untuk membela diri (defensif), bukan untuk menaklukkan musuh (agresor), apalagi memaksa orang-orang kafir untuk memeluk Islam sudah pasti pendapat itu keliru sama sekali, Islam menjamin kebebasan memeluk agama, termasuk agama yahudi, kristen dan majusi, akan tetapi ketika kebebasan beragama itu dihalang-halangi, atau tempat ibadah itu dirusak dan terjadi penindasan terhadap pemeluk suatu agama, maka Rasulullah maju menghadang siapa saja yang hendak merusak kondisi damai tersebut. Hal ini jelas tertulis dalam Quran Suci :
      “Perang diijinkan kepada orang-orang yang diperangi, karena mereka dianiaya. Dan sesungguhnya Allah itu kuasa untuk menolong mereka. Yaitu orang-orang yang diusir dari rumah mereka tanpa alasan yang benar, kecuali mereka hanya berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. Dan sekiranya tak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, niscaya akan ditumbangkan biara-biara, dan gereja-gereja, dan kanisah-kanisah, dan masjid-masjid, yang didalamnya banyak diingat nama Allah” (Qs 22:39-40)
      “Dan perangilah mereka sampai tak ada lagi penindasan dan hingga agama itu kepunyaan Allah semata” (Qs 2:193)
      “Dan perangilah mereka sampai tak ada lagi penindasan dan hingga agama itu kepunyaan Allah semata. Tetapi jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha Melihat apa yang mereka lakukan” (Qs 8:39)

      Sehingga landasan perang yang dilakukan oleh Rasulullah dan Kaum Muslimin jelas bukan perang dalam memaksa orang kafir untuk memeluk Islam, akan tetapi semata-mata untuk menjaga tertib sipil yang amat diperlukan bagi dakwah Islam. Di dalam Islam batasan perang pun jelas, dalam Quran dinyatakan sbb:
      “Dan berperanglah dijalan Allah melawan mereka yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melanggar batas. Sesungguhnya Allah tak menyukai orang yang melanggar batas” (Qs 2:190).

      Bahasan yang lebih komprehensif mengenai masalah ini bisa didownload disini.

      2. Sdr Menulis sbb: “ada ungkapan yang sangat jelas yang Dia ajarkan pada kita yaitu, ” kasihilah musuhmu ‘, ‘ jangan membalas kejahatan dengan kejahatan ‘, karena Dia datang untuk menggenapi hukum taurat dan mengajarkan pada kita apa itu kasih. Jadi, manakah yang dapat mencerminkan kepribadian Allah”

      Tanggapan kami :
      Setiap Nabi, prinsip ajaran utama yang dibawa adalah mengajarkan perdamaian, baik damai dengan sesama manusia maupun damai dengan sang penciptanya. nama Islam juga berarti damai, demikian juga kata-kata shalom atau santi maknanya sama. Dengan demikian tidaklah aneh kalau semua nabi mengajarkan yang demikian. untuk memahami ajaran para nabi dapat dibaca disini, dan perbandingan Rasulullah Muhammad SAW. dan Kristus dapat dibaca disini.

      Demikian terimakasih, semoga bermanfaat.

  12. Salut utk redaksi.
    walaupun dihujani kata2 kotor dari umat paulus tapi dibalas redaksi dg bahasa santun.
    Go a head

  13. Kedatangan hamba Allah
    “” “” “” “” “” “” “” “” “” ”
    ‘Atmak’ belum tentu berarti ‘yang saya menjunjung’ tapi itu sebenarnya nama

    penulisan Atmak adalah אתמך
    penulisan Ahmad אחמד

    Dalam Yesaya 42:1, Tuhan berkata
    “Lihatlah, ‘Hambaku’ (diucapkan sebagai Abd-ee), ‘yang saya menjunjung’ (diucapkan sebagai Atmak);

    Allah menubuatkan tentang kedatangan hamba-Nya
    Lihatlah Hambaku Ahmad (Yesaya 42:1) – dan begitu siapa Ahmad ini? disebut hamba Allah?

    Dia tidak lain adalah
    Abd-Allah Ahmad (Hamba Allah, Ahmad) – Nabi Muhammad saw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: