NABI MUHAMMAD, KESUDAHAN PARA NABI, NABI TERAKHIR (KHATAMAN NABIYYIN)

Oleh: Simon Ali Yasir

[Akhir-akhir ini marak dibicarakan di pelbagai media masa baik elektronik maupun koran tentang aliran Al Qiyadah Al Islamiyah, pengakuan pendiri aliran tersebut (Ahmad Mushadiq) bahwa dirinya adalah nabi dan rasul menimbulkan pertentangan keyakinan umat Islam yang berdasar kepada Quran Suci dan Hadits. Tidak disangsikan lagi bahwasannya Nabi Suci Muhammad saw adalah Nabi terakhir, karena itu anggapan adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw tentu saja bertentangan dengan Quran Suci dan Hadits, namun yang cukup menggelitik dibenak saya adalah bukankah mainstream umat Islam juga umumnya meyakini bahwa akan datang lagi Nabi setelah Nabi Muhammad saw yakni Nabi Isa as?. Dalam hal ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beserta para muridnya yang setia (Ahmadiyah Lahore)  berkeyakinan teguh bahwa Nabi Suci Muhammad adalah Nabi terakhir dalam artian tidak akan datang lagi nabi, baik nabi baru maupun nabi lama, berikut ini adalah dalil-dalil dari Qur’an Suci dan Hadits]

 

Maha berkah Dia Yang telah menurunkan Furqon (Pemisah) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi bangsa-bangsa” (25:1).

Segala sesuatu itu terjadi karena kebutuhan, Karena kenabian telah sempurna pada diri Nabi Suci Muhammad saw­. dan agama dalam Islam, maka sekarang dunia tidak lagi membutuhkan datangnya Nabi dan agama baru. Quran Suci menyatakan sebagai berikut:

Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan ia adalah Utusan Allah dan penutup para nabi … (33:40)

1.1 Dasar Pengertian

Sabda Ilahi dalam Quran Suci (33:40) itu mengandung tiga pernyataan yang saling berkaitan, yaitu

  • 1. Nabi Suci Muhammad saw. bukan ayah salah seorang lelaki turunan siapapun.

  • 2. Nabi Suci Muhammad saw. adalah Utusan Allah.

  • 3. Nabi Suci Muhammad saw. adalah penutup para Nabi.

1.1.1 Masalah Abuwwat

Pernyataan pertama menegaskan bahwa garis keturunan kejasmanian pada beliau tertolak. Dengan turunnya ayat tersebut lenyaplah segala perhubungan sebagai bapak dengan anak antara Nabi Suci saw. dengan Zaid anak laki-laki Haritsah, Sebelum turunnya ayat tersebut Zaid anak angkat Nabi Saw. biasa dipanggil Zaid bin Muhammad. Ayat tersebut diturunkan sebagai jawaban atas tuduhan orang-orang kafir dan munafik yang memfitnah Nabi Suci saw. telah mengawini menantunya sendiri. Perkawinan Nabi dengan Siti Zainab seorang janda, bekas isteri Zaid bin Haritsah, oleh orang-orang kafir dan munafik digunakan sebagai kesempatan untuk menodai nama baik Nabi Suci saw. Mereka menuduh bahwa Nabi Suci mengawini menantunya sendiri. Tuduhan itulah yang menyebabkan turunnya ayat tersebut. Dengan demikian teranglah bahwa Nabi Suci saw. tidak mengawini bekas menantunya sendiri, sebab Zaid bukan anak Muhammad melainkan anak Haritsah. Perkawinan itu direstui oleh Allah (33:37, 38).

1.1.2 Masalah Risalah

Pernyataan kedua menegaskan bahwa beliau adalah Utusan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau mempunyai kebapaan – (Abuwwat) yang lebih mulia, yaitu kebapaan dalam segi kerohanian. Hubungan seperti ini berlaku pula pada nabi-nabi yang lain terhadap pengikut pengikutnya. Hubungan seorang nabi dengan pengikut-pengikutnya itu bagaikan hubungan seorang ayah terhadap anak-anaknya. Sebagaimana seorang anak itu mempunyai beberapa sifat ayahnya, demikian pula pengikut-pengikut para nabi yang sempurna itu mempu­nyai pula beberapa sifat nabi yang diikuti pada dirinya. Misalnya: lihatlah sifat-sifat Musa as. pada umat Yahudi, sifat-sifat Yesus Kristus pada umat Kristen, sifat-sifat Budha pada umat Budhis, sifat-sifat Krisna pada umat Hindu, sifat-sifat Zarathustra pada umat Majusi, sifat-sifat Konfusius pada umat di negeri Cina dan lihatlah sifat-sifat Muhammad saw. pada umat Islam. Semua pengikut para Nabi Utusan Allah itu disebut anak-anaknya dalam arti kerohanian. Dengan demikian teranglah bahwa Nabi Suci saw. secara kejasmanian bukan ayah salah seorang lelaki turunan siapapun, tetapi beliau dalam silsilah kerohanian adalah ayah bagi seluruh umat Islam. Dan Siti Zainab bukan lagi seorang janda, bekas isteri seorang budak yang hina; akan tetapi seorang istri yang paling mulia. Siti Zainab adalah ibu orang-orang beriman.

1.1.3 Masalah Khatamunnabiyin

Pernyataan ketiga, beliau adalah QHootamu-n nabiyyiin (di Indonesiakan menjadi Khatamun nabiyin) artinya penutup para nabi, sesudah beliau tidak akan datang nabi lagi baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Hal ini menunjukkan bahwa beliau menduduki martabat yang paling agung dan mulia daripada sekalian Nabi. Bahkan lebih mulia daripada sekalian makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Sebab garis keturunan (silsilah) kerohanian beliau berlaku terus sepanjang masa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu seperti para Nabi sebelumnya[i]. Dalam 33:6 Allah menyatakan bahwa beliau adalah bapak rohani bagi segenap orang beriman sampai akhir zaman dan dalam 4:65 Allah menyatakan bahwa beliau adalah hakim dalam urusan rohani (agama) untuk selama-lamanya. Hal ini 1 ah yang menjadi dasar pengertian istilah khatamun nabiyin dalam arti penutup para Nabi.

Jadi turunnya ayat 40 surat Al Ahzab itu menyatakan maksud Allah SWT bahwa garis keturunan yang bersifat kejasmanian tidak diteruskan oleh beliau, melainkan Allah Ta’ala menjadikan beliau sebagai Nabi Utusan Allah yang terakhir. Dengan demikian silsilah yang bersifat kerohanian tak akan terputus untuk selama-lamanya di dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa silsilah kejasmanian itu dalam Islam tak ada harganya pada pandangan Allah SWT. Harga diri seseorang tidak , terletak kepada darah keturunan, kebangsaan dan kedudukan, tetapi terletak pada ketaqwaannya (49:13)

1.2 Arti Khatamunnabiyin

Arti khatamunnabiyin ialah penutup atau kesudahan para Nabi. Ini adalah arti yang sebenarnya, sebagaimana dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat dan alim ulama Islam sepanjang zaman.

1.2.1 Menurut bahasa

Para alim ulama Islam dan ahli bahasa Arab mengartikan kata qHootamu-n nabiyyiin dengan makna penutup/penghabisan para nabi. Di bawah ini keterangan dari beberapa ahli.

Al Lihyani

Beliau adalah ahli bahasa Arab pada abad kedua dan ketiga Hijriah, menerangkan bahwa “qHootamul- qoum. qHootirnuhum”, artinya yang penghabisan dari mereka itu. (Lisanul Arab).

Abdul Ta’idz Sayid Muhammad Murthadha al Husaini

Beliau menerangkan bahwa “qHootamu-l qoum” berarti “penghabisan dari suatu kaum” (Tajul Arus}.

E-W. Lane

Beliau adalah ahli bahasa Arab, telah menerangkan bahwa perkataan “qHootam” dan “qHootim” berarti bahagian yang penghabisan daripada sesuatu barang dan “qHootam” berarti stempel atau cap penutup (Arabic – English Lexicon, hlm. 703).

Zamakhsyari

Beliau adalah mufassir kenamaan (467-538 H), karyanya yang termasyhur ialah Tafsir Quran Kasysyaf. Dalam kitab “Asasul Balaghah” beliau menerangkan bahwa “nabiyyan, qHootama-n nabiyyiin” artinya seorang nabi yang mencap (menutup) segala Nabi (dari Abdullah bin Mas’ud).

Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir at Thabari

Beliau adalah ahli tarih dan tafsir termasyhur, telah menerangkan bahwa kata “qHootama-n nabiyyiin” Itu mempunyai arti cap nabi-nabi (menurut Hasan Asim) dan “qHootima-n nabiyyiin” berarti penghabisan daripada segala nabi (Tafsir at Thabari, jus 22, him. 11).

Imam Raghib al Isfahani

Beliau adalah ahli kamus bahasa Arab, menerangkan sebagal berikut: “(Nabi Muhammad) qHootama nabiyyiin, karena ia menutup nubuwwat (kenabian) yakni ia cukupkan kenabian itu dengan kedatangannya” (Al Mufradat fi Gharibil Quran).

1.2.2 Menurut Quran Suci

Quran Suci sendiri juga menguraikan bahwa khatamun nabiyyin artinya penutup nabi-nabi. Sesudah Nabi Suci Muhammad saw tak akan datang nabi lagi, baik nabi lama atau nabi baru. Ada puluhan ayat yang menunjukkan bahwa sesudah Nabi Suci Muhammad saw tak diperlukan lagi datangnya seorang nabi, baik nabi lama ataupun nabi baru. Adapun ciri-cirinya bahwa beliau sebagai nabi yang terakhir Ialah:

1. Diutus untuk semua bangsa

Allah Ta’ala dalam Quran Suci berfirman sebagai berikut:

“Maha-berkah Dia Yang telah menurunkan Pemisah kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi sekalian bangsa” (25:1),

Lagi firman-Nya:

Artinya: Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Utusan Allah kepada kamu semuanya (7:158)

Dua ayat ,suci tersebut di atas menegaskan bahwa Nabi Suci Muhammad saw menggantikan empat nabi nasional. Dengan datangnya Nabi Suci saw Lembaga Kenabian dibuat universal (sejagat) dalam arti yang sebenarnya. Lembaga Kenabian Nasional yang ruang lingkup ajarannya hanya terbatas bagi suatu bangsa tertentu telah berakhir. Pada zaman Nabi Suci saw sudah datang waktunya seorang nabi untuk semua bangsa di dunia, tanpa membedakan batas kedaerahan, perbedaan warna kulit, suku bangsa, bahasa dan negara. Tiap-tiap bangsa di dunia yang mempunyai sejarah agama yang berbeda-beda telah mempersatukan dalam satu yaitu Islam. Maka dari itu ajaran Islam dimulai dengan “segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (sekalian bangsa)” (1:1). Dengan demikian segala bentuk susunan kata seperti “Tuhannya Israil” (I Samuel 25:32); yang membatasinya sebagai Tuhan dari suatu bangsa, telah ditinggalkan oleh Quran Suci dan dipergunakan kata-kata “Robbu-1 “aalamiin” (Tuhan sekalian bangsa) untuk menunjukkan bahwa ajaran Quran Suci diperuntukkan bagi segala bangsa di dunia. Para nabi sebelum Nabi Suci saw tiada seorang pun yang menyatakan diri kepada dunia, bahwa kedatangannya untuk seluruh kemanusiaan. Sebagai contoh ialah Nabi Isa as, seorang Nabi nasional yang terakhir. Kepada seorang wanita kanaan menyatakan sebagai berikut: “Aku hanya disuruh kepada seluruh domba yang sesat dari kaum Bani Israil Tidak patut diambil roti dari anak-anak lalu mencampakkannya kepada anjing” (Matius 15:26).

Jadi kesudahan kenabian pada diri Nabi Suci saw adalah dasar daripada persatuan dunia. Dunia tidak membutuhkan lagi datangnya nabi dan agama baru yang akan mengadakan umat yang baru,

2. Beriman kepada semua Kitab suci dan para nabi

Tanda kedua daripada kesudahan kenabian pada diri Nabi Suci Muhammad saw ialah kewajiban para pengikutnya untuk mengimankan kepada semua kitab suci dari para nabi tanpa membeda-bedakan antara yang satu di antara mereka (2:136; 3:83; dan lain-lain). Para nabi terdahulu tak ada yang mewajibkan kepada para pengikutnya untuk mengimankan kepada para Nabi Utusan Allah pada bangsa lain. Akan tetapi Quran Suci menerangkan bahwa mereka yang beriman ialah:

Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau (2:4) Kalimat maa unzila min qoblika” itu menunjukkan bahwa sesudah Nabi Suci Muhammad saw tidak akan diturunkan lagi wahyu kenabian. Wahyu kenabian hanya diturunkan sebelum Nabi Suci saw saja.

Umat Islam wajib mengimankan kepada semua kitab suci dan semua nabi, karena para nabi itu datang menyiapkan pengikut mereka untuk menerima guru jagat, yaitu Nabi Suci Muhammad saw. Semua nabi telah mendapatkan perjanjian dari Allah dan menerima sebuah kitab suci dan nubuwwat (ramalan) datangnya Nabi Agung yang akan membenarkan ajaran mereka (3:80-84)[ii]

3. Adanya petunjuk yang sempurna

Tujuan Allah membangkitkan seorang nabi untuk semua bangsa ialah untuk menyatakan kehendak-Nya bahwa agama Allah telah sempurna, ajarannya memenuhi segala kebutuhan manusia pada setiap zaman. Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepada kamu dan Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama (5:3),

Jadi kesempurnaan agama berhubungan erat dengan kesempurnaan kenabian. Dengan datangnya Islam, tidak diperlukan datangnya nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru, Sebab kalau masih tetap akan datang nabi lagi, pasti akan menimbulkan golongan dan umat baru. Hal ini akan menggoyahkan persatuan dunia yang dituju oleh Islam yang ajarannya melingkupi segala macam kebutuhan manusia sepanjang zaman

4. Adanya contoh yang sempurna

Nabi Suci saw bukan hanya sebagai Nabi yang terakhir dan pembawa agama yang sempurna saja, melainkan pula sebagai contoh yang sempurna. Oleh karena itu barang siapa yang ingin memurnikan tujuan hidupnya dan ingin makrifat kepada Allah SWT cukup mencontoh tingkah laku Nabi Suci saw saja. Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan sebagai berikut:

Sesungguhnya kamu mempunyai dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mendambakan (bertemu) dengan Allah dan Hari Akhir, dan yang ingat sebanyak-banyaknya kepada Allah (33:21).

Di tempat yang lain Allah berfirman sebagai berikut:

Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung (68:4)

Lagi firman-Nya:

Utusan dari Allah, yang membacakan[iii] halaman-halaman yang suci, Yang di dalamnya berisi Kitab-kitab yang benar,(98:2-3)

Ayat-ayat suci tersebut di atas menjelaskan bahwa hidup Nabi Suci saw adalah gambaran yang sempurna dari segala ajaran kitab suci. Keluhuran dan kesempurnaan akhlak beliau disaksikan oleh sejarah. Lawan-lawan yang hendak membunuh beliau memberi gelar Al Amin artinya orang yang dapat dipercaya. Sehingga banyak di antara mereka yang memeluk agama Islam karena tertarik kepada ketinggian akhlak Nabi Suci saw, sebagaimana dinyatakan oleh Quran Suci sebagai berikut:

Kerap kali orang-orang kafir menginginkan sekiranya mereka dahulu Muslim (15:2)

Siti Aisyah, seorang isteri yang paling mesra hubungannya dengan beliau mengatakan: “Akhlak-akhlak beliau adalah Al-Quran”. Oleh karena itu beliaulah satu-satunya orang yang berhak berkata:

Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintai kamu,409 dan melindungi kamu dari dosa. Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih (3:30).

5. Adanya penjagaan petunjuk yang telah sempurna

Sebagai bukti kelima bahwa kenabian telah berakhir pada diri Nabi Suci saw ialah adanya jaminan Ilahi terhadap kemurnian petunjuk yang telah diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Suci sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan, dan sesungguhnya Kami adalah penjaganya (15:9).

Penjagaan Ilahi itu tidak diserahkan kepada manusia, melainkan terletak pada tangan Allah SWT sendiri (perhatikan kata-kata “wainnaa lahuu lakHaafiizHuun” artinya dan sesungguhnya Kami (Allah) adalah Penjaganya). Dengan demikian Quran Suci atau agama Islam tak akan mengalami nasib seperti kitab suci atau agama terdahulu. Kitab suci dan agama terdahulu baru beberapa tahun sepeninggal pembawanya telah mengalami perubahan dari pada bentuk asli, karena “mereka mengganti kata-kata dari pada tempatnya” (4:46). Sebagai contoh kitab Injil, yang disampaikan kepada Bani Israil 600 tahun sebelum Quran Suci diturunkan, dalam tempo beberapa puluh tahun sepeninggal Isa Almasih tidak dapat diketemukan lagi dalam bentuknya yang asli sebagai ajaran agama dari Nabi Allah. Telah menjadi lebih dari empat Injil yang ajarannya saling bertentangan. Hal semacam ini tidak akan terjadi pada Quran Suci sebagai petunjuk yang sempurna yang diperuntukkan kepada semua bangsa dan zaman.

6. Penjaga itu Mujadid, bukan Nabi

Penjaga petunjuk yang telah sempurna itu bukan Nabi. Dalam terminologi islam, penjaga itu disebut Mujadid artinya Pembaharu yaitu orang yang ditugaskan oleh Allah untuk mengadakan pembaharuan (tajdid) dalam Islam. Tajdid ialah usaha membersihkan kotoran-kotoran dan kesesatan-kesesatan yang masuk dalam Islam dan menyajikan gambaran Islam yang sebenarnya yang selaras dengan tuntutan zaman. Para Mujaddid itu termasuk “ulil-amri minkum”, sebagaimana dinyatakan oleh Quran Suci sebagai berikut:

“Wahai orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah, dan ta’atlah kepada Utusan, dan kepada yang memegang kekuasaan di antara kamu; lalu jika kamu bertengkar mengenai suatu hal, kembalikanlah itu kepada Allah dan Utusan” (4:59).

Dua kali perkataan Rasul pada ayat tersebut di atas ialah Nabi Suci Muhammad saw. Petunjuk jalan kebenaran yang akan selalu datang kepada umat Islam setiap ditimpa kerusakan termasuk ulil-amri minkum (yang memegang kekuasaan di antara kamu). Ulil-amri itu bukan nabi. Termasuk ulil-amri ialah para mujadid yang datang pada permulaan tiap-tiap abad. Jadi mujadid itu bukan nabi, sebab Muhammad saw adalah Nabi yang terakhir. Maka dari itu orang dapat berselisih paham tentang datangnya ulil-amri, sesudah Nabi Suci Muhammad saw. karena ulil-amri itu bukan nabi. Itulah sebabnya maka dalam 4:59 tersebut di atas ditegaskan “jika kamu bertengkar mengenai sesuatu hal, kembali

7. Mujadid adalah khalifatun Nabi

Bukti ketujuh bahwa kenabian telah berakhir pada diri Nabi Suci Muhammad saw ialah adanya janji Ilahi kepada umat Islam bahwa Allah SWT akan selalu membangkitkan

Allah berfirman:

Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa

Hanya bedanya, khalifah-khalifah Nabi Musa as pada Bani israil adalah para nabi Utusan Allah, Allah berfirman: “Dan kami menyusulkan sesudah Musa dengan beberapa Utusan.(2:87); sedangkan khalifah Nabi Suci Muhammad saw bukan nabi, tetapi hanya seorang ulama Islam yang seperti Nabi Bani Israel, Nabi Suci bersabda: “ulama-ulama umatku seperti nabi-nabi bani Israel”. Mereka lebih termasyhur dengan sebutan Mujadid

1.2.3 Menurut nabi Muhammad saw

Sekarang perhatikanlah arti khatamunnabiyyin menurut Nabi Suci Muhammad saw sendiri. Dengan panjang lebar beliau menjelaskan bahwa Khatamun nabiyyin artinya penutup para nabi-nabi. Di bawah ini sebagian dari pernyataan-pernyataan beliau.

1. Laa nabiyya ba’di (Tak ada nabi sesudahku)

 Hadits Nabi meriwayatkan sebagai berikut:

Rasulullah pergi ke medan perang Tabuk dan meninggalkan baginda Ali. Maka Ali berkata: Mengapa saya ditinggalkan buat menjaga anak-anak dan perempuan-perempuan? Nabi bersabda:Tidakkah engkau ridha jadi menggantiku sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa, hanya bedanya tidak ada nabi lagi sesudahku (Bukhari)

Hadits lain meriwayatkan sebagai berikut:

Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh penipu. Tiap-tiap orang dari mereka akan mengaku bahwa ia seorang nabi dan saya adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi sesudahku (Bukhari)          .

2. Nabi adalah Al “Aaqib (penghabisan)

Nabi Suci saw pernah menyatakan bahwa dirinya adalah Al “aaqib artinya yang penghabisan, yaitu penghabisan para nabi (Lane’s Lexicon, hlm. 2103). Suatu Hadis Nabi meriwayatkan sebagai berikut:

Artinya:Saya mempunyai lima nama: Saya ini Muhammad, Ahmad dan saya Al Mahi (yang menghapuskan) karenanya Allah menghapuskan kekafiran, dan saya ini Al Hasyir (Yang mengumpulkan) karena yang mengumpulkan segala manusia mengikuti jejakku, dan saya bernama pula Al ‘Aqip (Yang penghabisan karena sesudahnya tak akan datang nabi lagi (Bukhari-Muslim)

3. Nabi laksana batu gedung

Dalam Hadis banyak kita temukan beberapa lukisan, bahwa Nabi Suci Muhammad saw sebagai batu penjuru bagi sebuah gedung. Batu itulah yang dipasang paling akhir untuk menyempurnakan bangunan tersebut. Nabi Suci saw pernah bersabda sebagai berikut:

Artinya:

“Sesungguhnya perbandinganku dengan para nabi sebelumku itu sebagai seorang yang membikin sebuah rumah yang dibuat indah sekali dan rapi pula, kecuali sebuah batu yang ditempatkan di penjuru: maka orang-orangpun mulailah berjalan mengelilingi rumah itu, dengan takjub mereka berkata: Mengapa batu ini tidak ditempatkan? Beliau bersabda: Sayalah batu itu dan sayalah penutup para nabi (Bukhari)

4. Umarlah yang patut jadi nabi

Nabi Suci saw pernah bersabda: “Sekiranya ada lagi nabi sesudahku, dia itu adalah Umar” (Tirmidzi). Lagi Nabi Suci saw pernah bersabda sebagai berikut:

Sekiranya aku tak dibandingkan ditengah-tengah kamu, niscaya umarlah yang dibangkitkan “(jadi Nabi Utusan Allah)” (Mirah, jilid 5, hlm 539)

Berdasarkan dua Hadis Nabi tersebut di atas, teranglah bahwa Nabi Suci saw adalah penutup para nabi. Buktinya, Umar bin Khathab tak pernah menyatakan diri sebagai nabi.

5. Yang ada hanya khalifah nabi

Nabi Suci saw menerangkan bahwa sesudah beliau tak akan datang nabi lagi, yang akan. selalu datang ialah khalifah-khalifah yang banyak. Sabdanya sebagai berikut:

Adapun Bani Israil itu dipimpin oleh Nabi-nabi. Setiap seorang nabi wafat maka datanglah nabi yang lain, dan sesungguhnya sesudah saya tidak akan datang nabi lagi, tetapi akan ada khalifah-khalifah yang banyak (Bukhari)

6. Khalifah, seperti nabi bani Israil

Nabi ‘Suci saw menerangkan bahwa khalifah-khalifah yang banyak itu adalah ulama Islam yang seperti nabi bani Israil. Mereka dibangkitkan pada permulaan tiap-tiap abad untuk menjaga kemurnian agama Islam. Nabi Suci saw menerangkan sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah akan selalu membangkitkan pada umat (Islam) ini pada tiap-tiap permulaan abad seseorang yang akan memperbaiki agamanya baginya (Abi Daud).

1.2.4 Menurut sahabat Nabi

Para sahabat adalah orang yang menerima sinar rohani langsung dari Nabi Suci saw. Merekalah yang dapat menghayati semua ajaran yang disampaikan oleh Nabi Suci saw. Mereka mempunyai i’tiqad bahwa Nabi Suci saw adalah Nabi yang terakhir, sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru, membawa syariat ataupun tidak. suatu atsar sahabat meriwayatkan sebagai berikut:

Telah berkata Ismail bin Abi Khalid: saya pernah bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa: Apakah tuan lihat Ibrahim anak Rasulullah? Jawabnya Ibrahim telah wafat selagi masih kecil. Jika ditakdirkan ada nabi sesudah nabi Muhammad niscaya hidup anaknya, tetapi tidak akan datang nabi sesudah beliau (Ibnu Majah)

Lagi ada suatu riwayat sebagai berikut:

Ada orang bertanya kepada Anas. Berapa umur Ibrahim? Ia menjawab Ibrahim telah memenuhi nubuatan, dan jika ia hidup, niscaya ia jadi nabi, tetapi ia tidak hidup, karena nabi kamu (Muhammad saw) adalah Nabi yang penghabisan” (Ahmad).

1.2.5 Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujadid abad ke-14 Hijriah, yang bergelar Masih dan Mahdi. Banyak orang menuduh beliau bahwa beliau tidak percaya akan berakhirnya kenabian pada diri Nabi Muhammad saw[iv]. Tuduhan ini tidak benar! Di bawah ini adalah penjelasan beliau tentang arti khatamun nabiyyin. Katanya:

“Tidakkah engkau ketahui bahwa Tuhan Yang Maha penyayang dan Pemurah telah namakan Nabi kita saw dengan Khatamal ambiya” dengan tidak pakai kecuali, dan ditafsirkan perkataan itu oleh Nabi kita sendiri dengan perkataannya: laa nabiyya ba’di, yakni tidak ada seorang nabi sesudahku dengan terang. Jika kita bolehkan lahirnya satu nabi sesudah Nabi Suci Muhammad saw berarti kita membolehkan terbukanya pintu wahyu kenabian sesudah tertutupnya. Yang demikian ini suatu omongan yang jelek. Bagaimana bisa jadi datang seorang nabi sesudah Nabi kita saw padahal terputus wahyu nubuwwat sesudah wafatnya Nabi, dan Allah telah mengakhiri sekalian nabi dengan dia.” (Hamamatul Busyra, him. 74-77).

Pada kitabnya yang lain beliau menegaskan sebagai berikut:

“Saya mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa Nabi kita saw ialah Nabi yang penghabisan dan tak akan datang nabi lagi sesudah beliau kepada umat ini, baik nabi baru atau nabi lama.” {Nisyan-i-Asmani, him. 28).

1.2.6 Menurut bukti sejarah

Sejarah kemanusiaan juga membuktikan bahwa silsilah kenabian telah terputus. Sudah lebih dari 1.400 tahun sesudah Nabi Suci saw tidak seorang pun yang dibangkitkan sebagai Nabi Utusan Allah. Dalam sejarah dunia hanya satu kali terjadi fatrah (kosong kenabian). Selama 600 tahun tiada seorang nabi pun yang dibangkitkan. Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami yang memberi penjelasan kepada kamu setelah terjadinya penghentian para Utusan, agar kamu tak berkata: Kami tak kedatangan orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat (5:19).

Sehubungan dengan terputusnya para Utusan itu Nabi Suci saw bersabda sebagai berikut: “Laisa bainii wabainahuu nabiyyun” artinya: “Antara aku dengan dia (lsa Almasih) tak ada seorang nabipun”. (Bukhari).

Jadi waktu yang sekian lama tiada seorang nabi pun yang dibangkitkan Allah itu suatu pertanda akan datangnya seorang Utusan Allah untuk seluruh umat manusia. Selama 600 tahun dunia menanti-nanti kedatangan nabi dunia itu. Sebelum itu dalam sejarah dunia nabi-nabi datang dalam jangka waktu yang lebih pendek. Dengan demikian, jelaslah bahwa kenabian telah diakhiri pada diri Nabi Suci Muhammad saw. Jika sampai ribuan tahun orang menanti-nantikan datangnya seorang nabi, maka nabi yang datang kemudian itu akan lebih besar daripada Nabi Suci Muhammad saw sendiri. Hal ini bertentangan dengan sebutan Nabi Suci sebagai khatamun nabiyyin, nabi yang terbesar dan terakhir. Sejarah mencatat, sesudah Nabi Suci Muhammad saw di dunia ini tiada seorang

 


 

[i] Misalnya Quran Suci 29:14 menerangkan bahwa usia Nabi Nuh as 950 tahun. Hal ini berarti bahwa umur kenabian (syariat) Nabi Nub as 950 tahun. Jadi kenabian seseorang Utusan Allah itu berakhir dengan bangkitnya seorang Nabi yang lain.

[ii] Ramalan kedatangan Nabi Suci Muhammad saw oleh Nabi-nabi Israil tersebut dalam: Bilangan 18:15-22; 33:1-3; Kejadian 12:2-3; 16:8-16 17:4-14;20:21)l8:21; Yesaya 42:1-16 Yermia 31: 31-32; Habakuk 3:3-6; Daniel 2:38-45; Yahya 14:15-17; 16:12-13 dan Lain-lain. Zarathustra meramalkan dalam Dasatir 14. Ramalan Weda dapat kita baca dalam Bhavishya-Purana, Purwa 3, Khand 3 Shalob 3,7,8, Krisna meramalkan dalam Bhagawadgita IV:7-8. Ramalan Budha dapat kita baca dalam Digha Nikaya 111:76

[iii] Membacakan sebagai terjemahan dari kata “yatlu“, akar katanya tala arti aslinya mengikutinya atau berbuat sesuai dengan (kitab suci ) itu (Ibnu Abbas). Tugas seorang Nabi selain menyampaikan wahyu Ilahi ialah menerangkan dan memberi contoh bagaimana mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari

[iv] Sebagian besar pengikut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang ekstrem berpendapat bahwa Nabi Suci Muhammad saw bukan Nabi yang terakhir. Mereka berpendapat bahwa pintu kenabian tetap terbuka untuk selama-lamanya sampai hari Kiamat.

 

52 Tanggapan

  1. I. Ramalan nabi Muhammad saw. sebagai nabi penutup Al Ahzaab (33) ayat 40 akan adanya era globalisasi sesuai sesuai Al Isro (17) ayat 104, AlKahfi (18) ayat 99, Al Qaari’ah (101) ayat 4.

    II. Ramalan nabi Muhammad saw. sebagai nabi penutup akan adanya syariat kiamat sesuai Al Jaatsyiah (45) ayat 16-18 dan sebagai umat Muhammad saw. wajib mengikuti syariat kiamat dan jangan mengikuti hawa nafsu.

    III. Ramalan nabi Muhammad telah ditentukan batas beliau mengantar agama islam adalah hari kiamat, sedang sampai sekarang umat islam sendiri secara jelas, gamblang, tegas, dan tidak berputar-putar pendapat tentang kiamat sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15 dan Al Baqarah (2) ayat 257. Itulah sebabnya umat Islam terutama Ahmadiyah Lahore dan Qadian tidak mengetahui hal-hal yang akan datang setelah mujaddid abad ke-14 hijriah, Mirza Ghulam Ahmad sesuai Al Bqarah (2) ayat 4,5, kasihan? Pada hal hadits Nabi meyakini tiap-tiap 100 tahun akan ada mujaddid.
    Bagaimana kalau mujaddid abad ke-15 hijriah datangnya dari kaum Ahmadiyah Lahore atau Qadian atau hadits Nabi itu sudah dibatalkan oleh Allah, oleh Nabi atau oleh manusia, terserah anda.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. Tidak ada yang batal, Sabda Nabi Suci tentang datangnya para Mujaddid pada tiap-tiap abad (Hr Abu Daud) merupakan terjemahan dari Quran Suci surat An-Nur (24:55) tentang kekhalifahan pasca wafatnya Nabi Suci, Khalifah ini ada yang bersifat pemerintahan dunia namun ada pula yang bersifat Rohani, khalifah dibidang Rohani itulah yang disebut-sebut dengan Mujaddid. Sekali lagi tidak ada yang batal, hanya saja datangnya itu adalah menurut kehendak Allah. Mujaddid itu datangnya bisa diawal abad, ditengah-tengah abad ataupun diakhir abad Hijriah. Contohnya saja Mujaddid abad pertama Umar Bin Abdul Aziz (61-101 H/ 680-719 M) tidak mungkin beliau dibangkitkan pada awal abad sebab pada awal abad tentunya Nabi Suci saw masih hidup dan tidak dibutuhkan mujaddid

  3. Assalamualaikum wr. Wb.,
    Dear Bpk Erwan
    1. Apakah Nabi Isa yang dijanjikan itu tidak berpangkat Nabi padahal dlm hadist Shahih Muslim beliau dipanggil Nabi?
    2. Menurut Lahore HMGA adalah seorang Muhadast bukan Nabi
    padahal masih menurut lahore pula bahwa muhadast adalah bagian dari kenabian
    Jika Muhammad saw adalah penutup segala Nabi (segala macam nabi )
    lalu kenapa Lahore masih mempercayai datangnya seorang Muhadast (bagian dari kenabian) bukankah bagian dari kenabian itu artinya Nabi walaupun “bagian” ?

    Agar lebih jelas, saya quote pernyataan HMGA sendiri ttg ini:
    http://www.muslim.org
    Translation of Ayk ghalati Ka Izala:

    should be borne in mind that, according to this sense, I do not deny prophethood and messengership.{20} It is in this sense that the Promised Messiah has been called nabi in the Sahih Muslim.{21} If one who receives news of the unseen from God is not to be called nabi, tell us what he should be called? If it is said that he should be called muhaddas, I say that in no lexicon is the meaning of tahdees ‘making known the unseen.’ The meaning of nubuwwat is, however, making known matters of the unseen.{22} Nabi is a word which is common to Arabic and Hebrew. In Hebrew this word is naabi, and is derived from naabaa which means “to prophesy, upon receiving intimation from God.'{23} And it is not a requirement for a nabi that he should be a bearer of shariah.{24} This is a mere gift by which matters of the unseen are disclosed. As I have received up to this time about 150 prophecies from God, and seen with my own eyes that they were fulfilled clearly, how can I deny the application of the word nabi or rasul to myself? And when God Almighty has himself given me these titles, how can I reject this, or fear someone other than Him?{25}

    I swear by God Who has sent me — and about Whom it is the work of the accursed to make fabrications — that He has sent me as the Promised Messiah. And just as I believe in the verses of the Holy Quran, similarly, without an iota of difference, I believe in the clear and open revelation of God which I receive, the truth of which has become evident to me by its repeated signs. I can swear on oath in the House of God that the holy revelation which descends on me is the word of the same God Who sent His word to Moses, Jesus and Muhammad mustafa, may peace and the blessings of God be upon him.{26} The earth testified for me, and so did heaven. So also did both heaven and earth proclaim that I am the khalifa (appointed one) of God. However, according to the prophecies it was necessary that I should be denied, so those upon whose hearts are veils do not accept me. I know that God will certainly succour me, as He has ever been helping His messengers. None can stand against me, as he has not the aid of God.

    Wherever I have denied prophethood and messengership, it is only in the sense that I am not the independent bearer of a shariah, nor am I an independent prophet. However, in the sense that, having gained spiritual graces from the Messenger whom I follow, and having attained for myself his name, I have received knowledge of the unseen from God through the mediation of the Holy Prophet, I AM A MESSENGER AND A PROPHET BUT WITHOUT A NEW SHARIAH.{27} I have never denied being called a prophet in this sense. In fact, this is the sense in which God has addressed me as nabi and rasul. Nor do I now deny being a prophet and messenger in this sense.{28} And my statement, “I am neither a messenger nor bearer of a scripture,” means only that I am not a possessor of shariah (sahib-i shariah).{29}
    …dst

    Jadi menurut anda (saya yakin anda mahir Bhs Inggris)
    apakah HMGA itu Nabi atau bukan? Coba garis bawahi ini: I AM A MESSENGER AND A PROPHET BUT WITHOUT A NEW SHARIAH……
    Beliau sendiri tidak keberatan dipanggil Nabi hanya saja
    Kenabian yang beliau tentang adalah kenabian yang berdiri sendiri dan membawa syariat baru
    itu artinya beliau adalah nabi yang tidak membawa syariat…beliau HMGA bersabda :
    “Lembaga kenabian telah tertutup, kecuali melalui dan di dalam Nabi Muhammad SAW. Nabi pembawa syariat tidak mungkin datang lagi. Seorang Nabi tanpa syariat baru bisa datang, tetapi lebih dulu ia harus seorang ummati, yakni pengikut Nabi Muhammad SAW”….(Tajallati-Ilahiyah, halaman 20, 1906).
    Kenapa Lahore selalu menutup mata dgn ini Bp. Erwan?
    Bukankah lahore selalu menyatakan bahwa Lahore lah pengikut sejati HMGA as, kalau pernyataan itu benar maka anda tidak akan merasa berat untuk menjawab pertanyaan2 tsb?
    Jika begitu sudah benarkah pemahaman anda mengenai khataman nabiyin tsb seperti tulisan di atas?
    Apakah anda akan tetap berpendapat bahwa Muhammad saw adalah penutup segala nabi?
    Mohoan maaf bila ada yang tidak berkenan, saya hanya mengingatkan segala sesuatu akan dimintai pertangung jawabannya kelak..
    Wassalam,
    Alif

  4. Assalamualaikum wr. Wb.,
    Dear Bpk Erwan
    1. Apakah Nabi Isa yang dijanjikan itu tidak berpangkat Nabi?
    2. Menurut Lahore HMGA adalah seorang Muhadast bukan Nabi
    padahal masih menurut lahore pula bahwa muhadast adalah bagian dari kenabian
    Jika Muhammad saw adalah penutup segala Nabi (segala macam nabi )
    lalu kenapa Lahore masih mempercayai datangnya seorang Muhadast (bagian dari kenabian) bukankah bagian dari kenabian itu artinya Nabi walaupun “bagian” ?
    Agar lebih jelas, saya quote pernyataan HMGA sendiri ttg ini:
    http://www.muslim.org
    Translation of Ayk ghalati Ka Izala:

    should be borne in mind that, according to this sense, I do not deny prophethood and messengership.{20} It is in this sense that the Promised Messiah has been called nabi in the Sahih Muslim.{21} If one who receives news of the unseen from God is not to be called nabi, tell us what he should be called? If it is said that he should be called muhaddas, I say that in no lexicon is the meaning of tahdees ‘making known the unseen.’ The meaning of nubuwwat is, however, making known matters of the unseen.{22} Nabi is a word which is common to Arabic and Hebrew. In Hebrew this word is naabi, and is derived from naabaa which means “to prophesy, upon receiving intimation from God.'{23} And it is not a requirement for a nabi that he should be a bearer of shariah.{24} This is a mere gift by which matters of the unseen are disclosed. As I have received up to this time about 150 prophecies from God, and seen with my own eyes that they were fulfilled clearly, how can I deny the application of the word nabi or rasul to myself? And when God Almighty has himself given me these titles, how can I reject this, or fear someone other than Him?{25}

    I swear by God Who has sent me — and about Whom it is the work of the accursed to make fabrications — that He has sent me as the Promised Messiah. And just as I believe in the verses of the Holy Quran, similarly, without an iota of difference, I believe in the clear and open revelation of God which I receive, the truth of which has become evident to me by its repeated signs. I can swear on oath in the House of God that the holy revelation which descends on me is the word of the same God Who sent His word to Moses, Jesus and Muhammad mustafa, may peace and the blessings of God be upon him.{26} The earth testified for me, and so did heaven. So also did both heaven and earth proclaim that I am the khalifa (appointed one) of God. However, according to the prophecies it was necessary that I should be denied, so those upon whose hearts are veils do not accept me. I know that God will certainly succour me, as He has ever been helping His messengers. None can stand against me, as he has not the aid of God.

    Wherever I have denied prophethood and messengership, it is only in the sense that I am not the independent bearer of a shariah, nor am I an independent prophet. However, in the sense that, having gained spiritual graces from the Messenger whom I follow, and having attained for myself his name, I have received knowledge of the unseen from God through the mediation of the Holy Prophet, I AM A MESSENGER AND A PROPHET BUT WITHOUT A NEW SHARIAH.{27} I have never denied being called a prophet in this sense. In fact, this is the sense in which God has addressed me as nabi and rasul. Nor do I now deny being a prophet and messenger in this sense.{28} And my statement, “I am neither a messenger nor bearer of a scripture,” means only that I am not a possessor of shariah (sahib-i shariah).{29}
    …dst

    Jadi menurut anda (saya yakin anda mahir Bhs Inggris)
    apakah HMGA itu Nabi atau bukan? Coba garis bawahi ini: I AM A MESSENGER AND A PROPHET BUT WITHOUT A NEW SHARIAH……
    Beliau sendiri tidak keberatan dipanggil Nabi
    Kenabian yang beliau tentang adalah kenabian yang berdiri sendiri dan membawa syariat baru …..
    Beliau adalah nabi yang tidak membawa syariat…
    “Lembaga kenabian telah tertutup, kecuali melalui dan di dalam Nabi Muhammad SAW. Nabi pembawa syariat tidak mungkin datang lagi. Seorang Nabi tanpa syariat baru bisa datang, tetapi lebih dulu ia harus seorang ummati, yakni pengikut Nabi Muhammad SAW”….(Tajallati-Ilahiyah, halaman 20, 1906).
    Kenapa Lahore selalu menutup mata dgn ini Bp. Erwan?
    Bukankah lahore selalu menyatakan bahwa Lahore lah pengikut sejati HMGA as, kalau pernyataan itu benar maka anda tidak akan merasa berat untuk menjawab pertanyaan2 tsb?
    Jika begitu sudah benarkah pemahaman anda menganai khataman nabiyin tsb?
    Apakah anda akan tetap berpendapat bahwa Muhammad saw adalah penutup segala nabi?
    Mohoan maaf bila ada yang tidak berkenan, saya hanya mengingatkan segala sesuatu akan dimintai pertangung jawabannya kelak..
    Wassalam,
    Alif

  5. Yang hendak pertama kali dijelaskan adalah bahwa bagian dari sesuatu maka artinya barang/hal tersebut bukan sesuatu yang utuh, dihadits dijelaskan bahwasannya Lam yabqa minannubuwwati illal mubasyaratu. Wa maalmubasyaraat?, qaa laa ru’yalshalichahTdk akan tetap tinggal kenabian kecuali mubasyarat. Sahabat bertanya: Apakah Mubasyarat itu? Jawab beliau Ar ru’yashalihah (Bukhari)
    Jadinya kenabian telah terputus kecuali bagian kecil dari kenabian, ditempat lain Nabi Suci bersabda:
    Ru’yal mu’min juz un min sittati wa ar ba’iinajuz ann min nubuwwatiin
    Ru’ya seorang mukmin itu seperempat puluh enam bagian dari kenabian (Bukhari), Muhaddats itu bukan Nabi melainkan orang yang kepaanya Allah berkenan untuk ber mutakallim

    Jadinya para Muhaddats itu bukan kenabian penuh melainkan hanya 1/46 dari kenabian. Istilah nabi tanpa syariat, nabi Ghairi Independent (Nabi Umati) itu juga harus kita lihat dalam konteks istilah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri dan dalam koridor Quran dan Sunah. Nabi juga tapi umati juga adalah seseatu yang bertentangan (antithetik) sebab kedatangan seorang Utusan haruslah ditaati:
    Dan tiada Kami mengutus seorang Utusan melainkan agar ia ditaati dengan izin Allah (4:64), bagaimana mungkin seorang Utusan itu juga ummati (yakni harus tunduk dan taat kepada nabi yang diikutinya?), karena itu Istilah Nabi yang diungkapkan oleh Imam Ghulam Ahmad berkenaan dengan turunnya Al Masih di akhir zaman itu tiada lain hanyalah kenabian dalam artian sufi / kamus (etimologi) bukan dalam artian sebenarnya:
    “However, in the terminology of Islam, nabi and rasul mean those who bring an entirely new Law (shariah), or those who abrogate some aspects of the previous law, or those who are not called followers of a previous prophet, having a direct connection with God without benefit from a prophet. Therefore, one should be vigilant to see that the same meaning is not taken here, because we have no Book but the Holy Quran, and no religion but Islam.” — Letter dated 7 August 1899, published in Al-Hakam, vol. 3, no. 29, 17 August 1899.

    Istilah Nabi Tanpa Syariat itu tiada lain menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad untuk menggambarkan posisi dari Muhaddats:
    “The point is worth remembering that to call the denier of one’s claim as kafir is only the privilege of those prophets who bring a shariah and new commandments from God. But apart from possessors of shariah (sahib-i shariah), all the others who are muhaddas, no matter how high a rank they may have with God, and be exalted with the robe of Divine revelation, no one becomes a kafir by denying them.” (Tiryaq al-Qulub, October 1902, p. 130, footnote)
    Kiranya footnote yang diberikan dalam tulisan yang Mas Alif kutip dari situs Lahore sudah cukup jelas membahas istilah-istilah Nabi Ghairi Tasyri dsb.

    Dus, Kenabian telah berakhir karena itu tidak akan datang lagi baik nabi baru maupun nabi lama

    wasalam

  6. MENGENAI PENGERTIAN KHATAMAN NABIYYIN SESUNGGUHNYA YANG DIMAKSUD OLEH ALLAH, OLEH NABI MUHAMMAD SAW. DAN OLEH KITAB SUCI-NYA MEMERLUKAN PENJELASAN SEJAK SIKLUS TURUNNYA ADAM 10.000 TAHUN YANG LALU SAMPAI KIAMAT HARI INI, MAKA KAMI ANJURKAN AGAR MEMBACA BUKU PANDUAN TERHADAP KITAB-KITAB SUCI AGAMA-AGAMA MILLENNIUM KE-3 MASEHI BERJUDUL “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”, BERIKUT 4 LAMPIRAN ACUAN “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN (GLOBALISASI)”, HASIL KARYA TULISAN OTODIDAK “SOEGANA GANDAKOESOEMA” TENTANG PENELITIAN TERHADAP KITAB-KITAB SUCI AGAMA-AGAMA SELAMA 25 TAHUN DAN DITERBITKAN OLEH “GOD-A CENTRE”.

    DISANA DIJELASKAN SECARA LENGKAP DENGAN BENAR DAN TIDAK SALAH!

    WASALAM, SOEGANA GANDAKOESOEMA, PEMBAHARU PERSEPSI TUNGGAL AGAMA MILLENNIUM KE-3 MASEHI.

  7. Dalam penjelasan anda tentang khataman nabiyyin diatas, terutama pada kalimat terakhir ” Dus, kenabian telah beraklhir, karena itu tidak akan datanglagi baik nabi baru maupun nabi lama”

    Pendapat anda menyalahi isi kitab suci nabi Muhammad saw.:

    1. An Nisaa (4) ayat 159: yang isinya nabi Isa (nabi lama) akan datang pada hari kiamat sebagai saksi.

    2. Al Mu’min (40) ayat 34: yang isinya barangsiapa yang mengatakan Allah tidak akan menurunkan nabi / rasul setelah nabi sebelumnya Muhammad saw. dia disesatkan Allah karena pelampau batas dan peragu (sunnatullah sejak dahulu tidak berubah Al Fath (48) ayat 23).
    a. Al Maidah (5) ayat 20, Maryam (19) ayat 58: Datangnya nabi kapanpun adalah nikmat Allah.
    b. Ali Imran (3) ayat 164: Datangnya rasul kapanpun adalah karunia Allah.
    c. Al Mu’min (40) ayat 28: Tidak berdosa mengakui nabi / rasul yang akan datang.
    d.Al Haaqqah (69) ayat 44-46: Apabila nabi / rasul itu berdusta, maka resikonya ada pada dirinya.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  8. @ Bpk Soegana
    Kaidah Penafsiran Qur’an Suci dalam Islam adalah
    1. Quran Suci dengan kitab Qur’an Suci itu sendiri,
    2. Quran Suci dengan Hadits
    3. Quran Suci dengan Ijma para Sahabat
    dst,
    dan tidak ada tertullis Quran Suci ditafsirkan berdasar kepada BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA,

  9. Ar R’ad (13) ayat 38: yang isinya sejak dahulu Allah menurunkan seorang rasul dan kepadanya diberikan pasangnnya (dalam jarak wahtu 1.300 dari tiap-tiap agama Buddha, Hindu, Yahudi-Nasrani, Islam).

    Ar Ra’d (13) ayat 39: yang isinya Alllah yang menghapuskan dan Allah yang menetapkan apa yang Dia kehendak. Berarti Allah maha segala-galanya.

    Sedang manusia seperti anda menentukan “pasti” tidak ada lagi nabi yang akan datang, ini berarti saya terpaksa memberi julukan kepada anda bahwa “ANDA ADALAH ALLAH, SEDANG ALLAH ADALAH MAKHLUK” Allah wajib tunduk kepada anda. Nauzubilah min zalik!

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  10. 4:159
    Nabi Isa akan menjadi saksi pada saat hari pengadilan nanti di Akhirat untuk mengadili kaum ahli kitab Yahudi dan Nashrani karena akidah mereka membutuhkan kepercayaan bahwa Nabi Isa mati terkutuk

    40:34
    Yang tidak mempercayainya pada saat itu adalah Firaun, lucu sekali bila hal ini dijadikan dalil sebab jangankan kedatangan Rasul, ia pun mengkafiri keberadaan Tuhan 40:37

    @ point 2a
    Iya memang kenabian itu nikmat yang sangat luar biasa, Nabi Suci itulah sumber kenikmatan untuk segala bangsa yang kelak akan mempersatukan seluruh agama dibawah naungannya (Konsep ummatan wahidatan) dengan kata lain Nabi Suci menggantikan konsep kenabian yang terbatas pada ruang (daerah) dan waktu

    point 2b
    Penjelasan Quran Suci 3 : 164 disini memperjelas penjelasan saya diatas, yang dimaksud dengan Utusan dari golongan mereka adalaah Nabi Suci. Salah sekali jika dikatakan “kapanpun”, karena kedatangan nabi itu seperti yang tertulis dalam 3:164 akan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Kebijaksanaan. Dalam Islam Quran Suci adalah Final, karena itu Kenabian telah final pula dan tidak akan datang lagi Nabi yang kelak akan mengajarkan kitab yang baru

    2 c & d
    memang jika ada orang yang membuat-buat sesuatu kebohongan dan ia menyandarkan kebohongan itu kepada Allah maka kelak La’nat Allah akan menimpanya

  11. Qs 13:38 sangat jelas tertulis min qablika (para utusan sebelum Nabi Suci) jadinya setelah Nabi Suci Tidak akan datang lagi Nabi, baik nabi baru maupun nabi lama. Saya tidak pernah berangan-angan dan tidak pernah terbesit bahwa saya adalah Allah, na’udzubillah Min dzalik!, saya hanyalah orang awam yang berkeyakinan teguh berdasarkan Qur’an Suci dan Hadits, bahwa Nabi Suci adalah penutup para nabi dan tidak akan datang lagi nabi baik nabi baru maupun nabi lama

  12. Kami mengatakan “kapanpun” sebab Allah hidup kekal selama-lamanya, sedang anda sebentar lagi bisa kami mati, tidak kekal, bisa saja Allah menurunkan nabi setelah anda meninggal.
    Tentang roh disana “alam baqa” setelah mati merujuk kepada Al Isro (17) ayat 85: Hanya Allah yang tahu, maka saya berpendirian tentang roh kami tidak tahu apa-apa, terserah Allah mau ditempatkan disorga atau neraka urusan Allah!

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  13. Tolong jelaskan dengan gamblang dan jelas:

    1. Apakah akhirat itu sesuai Al Baqarah (2) ayat 4,5.

    2. Apakkah kiamat itu sesuai Al Qioyamah (75) ayat 6-15.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  14. [quote]Jadinya para Muhaddats itu bukan kenabian penuh melainkan hanya 1/46 dari kenabian. Istilah nabi tanpa syariat, nabi Ghairi Independent (Nabi Umati) itu juga harus kita lihat dalam konteks istilah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri dan dalam koridor Quran dan Sunah. Nabi juga tapi umati juga adalah seseatu yang bertentangan (antithetik) sebab kedatangan seorang Utusan haruslah ditaati [quote]

    Berarti Nabi Muhammad saw tidak 100% menutup kenabian,
    beberapa persen masih bisa dimungkinkan, atau gimana menurut anda? koq saya jadi bingung?
    Nabi juga umati juga bukankah contohnya ada pada Nabi Isa
    Belia sbg Nabi juga tapi harus tunduk kepada ajaran Nabi Musa?

    Atau pertanyaan saya langsung saja deh:

    Apakah HMGA itu bukan utusan Allah menurut anda?
    Kalau begitu untuk apa beliau mendakwakan diri menjadi Imam Mahdi/mujadid dan untuk apa harus berbaiat kepadanya jika beliau bukan utusan Allah yang harus diikuti? toh tidak menjadi dosa buat kita, atau bagaimana menurut anda?
    untuk apa pula lahore bertabligh jika Imam Mahdi tidak harus diikuti oleh orang?
    Bukankah beliau diberi wahyu/kasyaf atau ru’ya menurut anda tentang khazanah2 Islam contohnya masalah kewafatan Isa…
    wassalam,

  15. Satu lagi mas…
    Apakah Imam Mahdi BUKAN UTUSAN ALLAH?
    Lalu untuk apa Muhammad SAW menyuruh kita berbaiat kpd nya?

  16. Kami kasihan dan sedih melihat perselisihan persepsi agama dengan pembodohan diri antara bertiga:

    1. Umat Islam tahun 600 -1900 – Pembaharu abad ke-1 hijriah sampai kiamat.
    2. Umat Islam Ahmadiyah Qadian – Pembaharu abad ke-14 hijriah sampai kiamat awal millennium ke-3 masehi (membutuhkan Pembaharu abad ke-15 hijriah).
    3. Umat Islam Ahmadiyah Lahore – Pembaharu abad ke-14 hjriah sampai kiamat awal millennium ke-3 masehi (membutuhkan Pembaharu abad ke-15 hijriah.
    Orang itu sangat bodoh “keledai” apabila tidak membutuhkan Pembaharu abad ke-15 hijriah.

    Sebab utama perselisihan mereka bertiga adalah melupakan bahwa umat Islam itu telah ada sejak Adam sesuai Al Hajj (22) ayat 78.
    Adam islam sampai kiamat, Nuh islam sampai kiamat dan semua nabi / rasul adalah Islam islam sampai kiamat dan sampai sekarang umatnya masih ada dan wahyu waktu itu turun tanpa ditulis; penulisan aturan dalil rumusan kitab-hikmah, taurat-Injil, yahudi-nasrani mulai Musa-Isa sampai kiamat, sesuai Ali Imran (3) ayat 64,65
    Mereka bertiga berfikir Islam itu sejak datang nabi Muhammad saw, padahal sebelum Adam diturunkanpun Islam sudah ada.
    Inilah kesalahan besar dan fatal dari mereka bertiga, sehingga mereka bertiga menganggap Buddha non islam, Hindu non islam, Yahudi non islam, Kristiani non islam, kepercayaan-kepercayaan lain non islam, Lahore dan Qadian dikatakan sesat.

    Pemahaman nabi Muhmad saw. sendiri tentang persepsi Islam kaffah sesuai Al Baqarah (2) ayat 208 adalah mencakup manusia sejak siklus jauh sebelum Adam sampai hari ini dan seterusnya kekal sesuai simbul siklus thawaf mengelilingi Kabah dan sekitarnya.

    Nabi Suci menggambarkan persepsi siklus seperti ini dilukiskan menurut syiar-syiar Allah pada Baitullah dan sekitarnya, dan belum difahami maknanya semuannya ini oleh “umat Islam termasuk Lahore dan Qadian”, sehingga berlaku vonis Allah dengan “keledai”sesuai Al Jumu’ah (62) ayat 5.

    Tugas umat Muhammad saw. wajib menyingkap tabir rahasia dari manasik haji dan umroh agar tidak divonis “keledai” sesuai Al Jumu’ah (62) ayat 5.
    Sebab syair-syiar Allah itu adalah Risalah Allah / Tuhan yang disampaikan oleh pada nabi / rasul sesuai Al Maidah (5) ayat 67, Al An Aam (6) ayat 124,125, Al A’raaf (7) ayat 62,68,79, 93,144, Al Ahzaab (33) ayat 38,39,40, Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28.

    Kita semua manusia sebagai makhluk Allah / Tuhan wajib menyampaikan Risalah Allah / Tuhan itu, akan tetapi oleh karena manusia masih menjadi “keledai” maka mereka tidak dapat menyampaikan risalah itu, sedangkan mereka sombong tidak membutuhkan “Pembaharu abad ke-15 hijriah”.

    Ingat manusia akan berjumlah 20 triliun 1000 tahun dari sekarang yang berjumlah 6,5 milyard, kemudian akan terdapat kemusnahan manusia sebelum itu sisa tinggal sedikit untuk bersiklus selanjutnya sesuai Al Qashash (28) ayat 58,59, Yesaya 24:6.
    Kalau ini terjadi persepsihan agama-agama tidak ada lag,
    Kami do’akan manusia musnah segera sesuai dengan hukum alami, agar perselisihan agama tidak ada lagi.

    Kami telah mengupas singkap tabir rahasia hal-hal ini dengan baik dan benar kemudian kami sampaikan kepada seluruh umat manusia dari semua agama-agama, agar mereka manusia tidak lagi disebut “keledai” sesuai Al Jumu’ah (62) ayat 5, melalui buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA” , berikut 4 buah lampiran acuan “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”, hasil karya tulis secara otodidak oleh “SOEGANA GANADAKOESOEMA”, melalui penerbit “GOD-A CENTRE”

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  17. 1. Kami harapkan dengan cara baik agar semua manusia beragama, berkepercayaan, berkeyakinan dipermukaan bola atlas ini janganlah mengarbabankan / memberhalakan / menuhankan nabi-nabinya dari tiap-tiap agama sesuai Ali Imran (3) ayat 80.

    2. Kami mengharapakan dengan cara baik agar penganut agama-agama jangan mengarbabankan / memberhalakan / menuhankan pemuka agamanya sesuai At Taubah (9) ayat 31.

    3. Karena sifat arbaban-arbanan ini adalah musrik, najis, bunuhlah oleh diri sendiri dengan hujah ilmu agama kaffah, perangilah oleh diri sendiri dengan hujjah ilmu agama kaffah, jangan do’akan ampunan Allah, karena tidak ada ampunnya dihadapan Allah sesuai:

    a. Al Taubah (9) ayat 5: Bunuhlah musrik arbaban itu dengan hujjah ilmu pengetahuan agama kaffah.

    b. At Taubah (9) ayat 28: Musrik arbaban itu najis.

    c. At Taubah (9) ayat 36: Perangilah musrik arbaban itu dengan hujjah ilmu pengetahuan agama kaffah.

    d. At Taubah (9) ayat 113: Orang musrik arbaban itu jangan do’akan ampunan Allah.

    e. Al Haaj (22) ayat 31: Musrik arbaban itu sesat seperti jatuh dari langit tidak sampai kebumi (tujuan agama bersatu sesuai Al Mu’min (40) ayat 34, An Nahl (16) ayat 93).

    f. An Nisaa (4) ayat 48,116: Musrik arbaban itu tidak diampuni Allah, sedang dirinya tidak sadar.
    Yang berbahaya itu adalah sifat tidak sadarnya itu!
    Dan inilah yang terjadi dari sifat umat agama-agama semuannya dipermukaan bola atlas ini.
    Nauzubilah min zalik.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenium ke-3 masehi.

  18. Akibat ketidak-tahuan umat agama-agama dan sempalannya tentang agamanya sendiri didalam konteks sesuai Risalah Allah / Tuhan yang adalah rencananya dari awal sampai akhir artinya dari Adam ke Adam, dari kekal kejadian siklus risalah agama yang lalu dan kekal kejadian siklus risalah agama yang akan datang, maka semua manusia beragama berselisih persepsi agama-agama padahal mereka masing-masing ada didalam rencana Allah itu.

    Kasian deh lu !!!!!

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  19. @ alif
    Meskipun pijakan dasar adalah Taurat akan tetapi ada beberapa syariat yang telah diganti oleh Nabi Isa as, (bdk Qs 3:50), berikut penjelasan Mirza
    “In the terminology of Islam, nabi and rasul mean persons who bring an entirely new law, or abrogate some aspects of the previous law, or are not included among the followers of the previous prophet, having a direct connection with God without benefit from any prophet.” (Letter dated 17 August 1899; published in Al-Hakam, vol. iii, no. 29, August 1899)

    Yang perlu diluruskan disini adalah berkenaan tentang pembedaan arti secara etimologi (lexicon/kamus) dengan arti secara terminologi/syariat Islam.
    Secara Etimologi Seseorang yang diutus itu disebut Rasul, dan orang yang mendapatkan an-naba disebut Nabi, berikut penjelasan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

    1. “A person who is sent is called rasul in Arabic.” (Arba‘in, No. 2, footnote, p. 18)
    2. “Risalat in Arabic lexicology means to be sent.” (Letter dated 17 August 1899; published in Al-Hakam, vol. iii, no. 29, August 1899)
    3. “Rasul means a Divine elect who is sent.” (Siraj Munir, p. 40)
    4. Nubuwwat means ‘to make prophecies’.” (Ruhani Khaza’in, No. 2, vol. i, p. 140)
    5. “He who discloses news of the unseen received from God is called nabi in Arabic.” (Arba‘in, No. 2, footnote, p. 18)
    6. “Nabi here has only been used to mean ‘one who makes prophecies through knowledge received from God’, or ‘one who explains hidden matters’.” (Letter dated 17 August 1899; published in Al-Hakam, vol. iii, no. 29, August 1899)

    Dus, para Muhaddats dan Mujaddid termasuk kategori Rasul dan Nabi dalam kategori ini, atau rasul dan nabi dalam artian kamus atau nabi dan rasul secara etimologi, dan dalam kategori ini Al-Masih dan Al-Mahdi yang dijanjikan itu adalah Rasul dan Nabi secara Etimologi
    Berikut penjelasan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, menolak arti kenabian/rasul secara terminologi/syariat dan menerima arti kenabian/rasul secara etimologi/metapora

    1. “It is true that, in the revelation which God has sent upon this servant, the words nabi, rasul and mursal [a variant of rasul] occur about myself quite frequently. However, they do not bear their real sense. … according to the real meaning of nubuwwat [prophethood], after the Holy Prophet Muhammad no new or former prophet can come. The Holy Quran forbids the appearance of any such prophets. But in a metaphorical sense God can call any recipient of revelation as nabi or mursal. … I say it repeatedly that these words rasul and mursal and nabi undoubtedly occur about me in my revelation from God, but they do not bear their real meanings. … This is the knowledge that God has given me. Let him understand who will. This very thing has been disclosed to me that the doors of real prophethood are fully closed after the Last of the Prophets, the Holy Prophet Muhammad. According to the real meaning, no new prophet or ancient prophet can now come.”
    (Siraj Munir, p. 3)

    2. “By virtue of being appointed by God, I cannot conceal those revelations I have received from Him in which the words nubuwwat and risalat occur quite frequently. But I say repeatedly that, in these revelations, the word mursal or rasul or nabi which has occurred about me does not carry its real meaning.”
    (Anjam Atham, p. 27, footnote)

    3. “Sometimes the revelation from God contains such words [nabi, rasul] about some of His saints in a metaphorical and figurative sense; they are not meant by way of reality. This is the whole issue which the foolish and prejudiced people have dragged in a different direction. The epithet ‘nabi of God’ for the Promised Messiah, which is found in the Sahih Muslim etc. from the blessed tongue of the Holy Prophet Muhammad, is in the same metaphorical sense as that in which it is used in Sufi literature as an accepted and common term for [the recipient of] Divine communication. Otherwise, how can there be a prophet after the Last of the Prophets?

    wasalam

    Erwan

  20. @ bapak Soegana yang saya hormati
    Kenabian telah berakhir, sebab sifat rububiyah Ilahi mengharuskan bahwa segala sesuatu itu dimulai dalam keadaan yang paling sederhana, lalu terus mengalami perkembangan sesuai zaman, hingga pada akhirnya mencapai tahap kesempurnaan. Dalam hal ini bisa kita lihat agama yang diturunkan oleh Allah dalam bentuk pertama/sederhana diturunkan kepada Nabi Adam, lalu terus berkembang hingga mencapai tahap kesempurnaan, dan kesempurnaan agama inilah yang terdapat pada Nabi Suci Muhammad saw

  21. Bp. Erwan,
    Karena Taurat bukanlah kitab sempurna maka masih dimungkinkan terjadi perubahan syariat tetapi walaupun begitu bukankah nabi Isa tetap berhukum kepada kitab taurat?
    Jika Nabi Isa as bukan nabi Umati dari nabi Musa lalu kenapa Imam Mahdi as dikatakan sbg nabi Isa juga oleh Muhammad saw? Anda mengimani bahwa HMGA adalah Nabi Isa yang dijanjikan bukan ? Bukankah Nabi Isa adalah seorang Nabi?

    Memang benar beliau HMGA menolak klaim kenabian setelah Muhammad saw yang berdiri sendiri dan yang membawa syariat baru, akan tetapi beliau tidak keberatan dgn panggilan nabi umati atau nabi tanpa syariat…

    I claim to be a Rasul and a Nabi. Actually this is a controversy on the terminology. Whoever receives converse from God which far exceeds the others, and also makes prophecies in abundance, is called a Nabi. This definition truly applies to me;
    therefore I am A Nabi (Badr, March 5, 1908)
    So, I am a nabi in accordance with the commendment of God. If I deny that claim, I would commit a sin. Since God named me nabi, How can I deny it? (Akhbar-e-‘Am, May 26, 1908)
    Sekarang mari kita lihat apa kata Maulvi Muhammad Ali sang pendiri lahore sebelum memisahkan diri dgn jemaat beliau berkata:
    We believe that the promise of an avatar, which was given to them, was from God, Almighty Allah fulfilled that promise in the person of the righteous nabi of
    India, Mirza Ghulam Ahmad as, of Qadian (Review Of Religion, November 1904, P. 411)

    Statement Under Oath of Maulvi Muhammad Ali in the Court
    In the presence of Promise Messiah as, MMA appeared as a witness on May 13, 1904, On being questioned by khwaja kamaluddin , he said:
    Anyone who denies the truthfulness of a Prophet is a great Liar, Mirza Sahib has claimed to be a Nabi,
    On June 16, 1904 in the presence of th Promise Messiah as, in response to the critiqu made by maulvi Karam Din, Maulvi Muhammad Ali said:
    Mirza Sahib makes a claim of Nubuwwat in his writtings, The purport of his claim is that, “I am a nabi but I have brought no ne shariah. According to the Holy Qur’an anyone who treats such a true claimant as a liar is a great liar (court proceedings. P. 362)

    lalu apa kata Dr. Basharat Ahmad:
    In summary, they will be Prophets and messengers, but at the same time they will also be Ummati-within the dispensation of the Holy prophets as, because, in this way their risalat or Nubuwwat will not be contrary to khatme-nubuwwat (Paigham-e-eulh, Feb 24, 1914)

    Dr. Mirza Yakb Baig
    It is a grace of God that for doctards like us He has raised Anbiya, auliya and sulaha in every age (supplement to Paigham-e-sulh March 5, 1914)

    pada tahun 1926 Khalifah II Mirza Bashiruddin menantang Mubahalah dgn Maulvi Muhammad Ali mengenai klaim kenabian HMGA dan mengenai kekalifahan, kenapa MMA menghindar?

    wassalam,

  22. Yang menjadi pertanyaan dari komentar bp Alif adalah, apakah Nabi Isa as menjadi nabi karena mengikuti Taurat?, apakah pada saat kedatangan Nabi Isa as Taurat itu terjamin keasliannya? Bisakah bapak alif bayangkan bila seandainya Nabi Isa menjadi Nabi karena mengikuti ajaran Taurat yang sudah tercampur oleh tangan-tangan manusia, dimana yang haq dan yang bathil telah dicampur oleh sang Rahib??, Para Nabi menjadi nabi bukan karena ia menjadi umati, Kenabian seluruh para nabi adalah Independent, karena itu setiap nabi berhak mengatakan:
    aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (Qs 6:50)
    Jadinya seandainya ada wahyu kitab Taurat, itu semata-mata Allah menurunkan yang sama persis dari apa yang diturunkan kepada Musa as, atau Allah mewahyukan kepada para Nabi untuk mengikuti beberapa syariat Taurat yang telah dipilih-Nya, sebab tanpa bantuan Ilahi mustahil para nabi bisa memilah-milah mana yang Haq dan yang bathil
    Apa yang bapak Alif kutip justru mendukung pernyataan kutipan saya diatas bahwa HMGA menerima panggilan nabi dalam definisi kamus (etimologi), namun menolak dalam definisi terminologi Islam
    I claim to be a Rasul and a Nabi. Actually this is a controversy on the terminology…dst
    Dalam istilah kamus (etimologi) seseorang yang diutus adalah Rasul dan seseorang yang mendapatkan An-Nabi adalah Nabi, namun dalam terminologi Islam berbeda sama sekali (sudah saya kutip diatas)
    Sebelum berpisah antara Lahore dan Qadian, seluruh Jemaat Ahmadiyah memahami ke’nabi’an Al-Masih yang dijanjikan itu sama persis dengan apa yang diucapkan oleh HMGA, yakni Nabi dan Rasul dalam konteks kamus, sebab bagaimana mungkin datang lagi Nabi dan Rasul setelah Nabi Suci:

    “We believe and acknowledge that, according to the real meaning of prophethood, after the Holy Prophet Muhammad, no new or former prophet can come. The Holy Quran forbids the appearance of any such prophets. But in a metaphorical sense God can call any recipient of revelation as ‘nabi’ or ‘mursal’. … I say it repeatedly that these words ‘rasul’ and ‘mursal’ and ‘nabi’ undoubtedly occur about me in my revelation from God, but they do not bear their real meanings. And just as they do not, similarly the Promised Messiah being called ‘nabi’ in Hadith, is not meant in a real sense. This is the knowledge which God has given me. Let him understand, who will. This very thing has been disclosed to me that the doors of real prophethood are fully closed after the Khatam al-anbiya, the Holy Prophet Muhammad. According to the real meaning, no new or ancient prophet can now come.” (Siraj Munir, p. 3)

    Mengenai tantangan Mubahalah Basyiruddin Mahmud Ahmad kepada Muhammad Ali, terus terang saya baru tahu hal ini, boleh saya tahu referensinya?, kalau bisa ada dalam literatur http://www.alislam.org supaya bisa saya konfirmasikan kepada AAIIL untuk di klarifikasikan. Jazakallah

    Wasalam

  23. Ass wr wb
    Mas Erwan:
    [quote] Yang menjadi pertanyaan dari komentar bp Alif adalah, apakah Nabi Isa as menjadi nabi karena mengikuti Taurat?, apakah pada saat kedatangan Nabi Isa as Taurat itu terjamin keasliannya? Bisakah bapak alif bayangkan bila seandainya Nabi Isa menjadi Nabi karena mengikuti ajaran Taurat yang sudah tercampur oleh tangan-tangan manusia, dimana yang haq dan yang bathil telah dicampur oleh sang Rahib??, Para Nabi menjadi nabi bukan karena ia menjadi umati, Kenabian seluruh para nabi adalah Independent, karena itu setiap nabi berhak mengatakan:
    aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (Qs 6:50)
    Jadinya seandainya ada wahyu kitab Taurat, itu semata-mata Allah menurunkan yang sama persis dari apa yang diturunkan kepada Musa as, atau Allah mewahyukan kepada para Nabi untuk mengikuti beberapa syariat Taurat yang telah dipilih-Nya, sebab tanpa bantuan Ilahi mustahil para nabi bisa memilah-milah mana yang Haq dan yang bathil [/quote]

    Mas Erwan, menurut hadist seseorang menjadi Nabi karena orang tsb dipanggil Nabi oleh Allah..
    Nabi Isa menjadi nabi karena beliau dipanggil Nabi oleh Allah, beliau diutus untuk kaumnya Musa yaitu Bani Israel agar mereka kembali kepada ajaran taurat yang sesungguhnya dan membenarkannya (QS:61:6) walaupun mungkin adanya penambahan beberapa syariat untuk menggenapinya tetapi beliau sama sekali tidak merombaknya (Mathius)
    Beliau dihukum salib berdsrkan hukum taurat ..nah dari data2 diatas cukup jelas bahwa beliau menjalankan hukum/syariat taurat yaitu Kitabnya Nabi Musa as. Bukan menjalankan syariatnya sendiri. Hal ini diakui oleh kalangan Ulama Kristen maupun Islam…
    Jika beliau menjalankan syariatnya sendiri itu artinya beliau sudah merombak Taurat padahal beliau datang tidak untuk itu tetapi hanya menggenapkan (mathius)
    adalah sesuatu hal yang mustahil seorang nabi Isa mengajak dan menggiring kaum bani israel untuk kembali ke ajaran taurat tapi beliau sendiri tidak menjalankan syariat taurat
    Jadi dengan begitu beliau adalah seorang nabi dari umati Musa as/nabi penggiring/Nabi tanpa syariat sendiri..
    hal itu sama dengan kenabian HMGA dimana beliau adalah Nabi tanpa syariat/Umati Muhammad yang menggiring umat Muhammad agar kembali kpd Islam yang benar

    Mengenai pertanyaan apakah Taurat terjamin keasliannya ketika Nabi Isa diutus? (sebenarnya pertanyaan anda tsb sudah dijawab oleh anda) Tentu saja tidak, untuk itu diperlukan seorang Nabi penggiring yang melalui wahyu2 Nya beliau diajarkan Kitab taurat (3:48) agar kaum Bani Israel kembali kepada ajaran taurat begitu juga dgn HMGA beliau mengetahui khazanah isi Qur’an karena berdasarkan wahyu…
    dan beliau sama2 datang setelah 1400 thn ketika syariat Musa maupun Muhammad berjalan.

    Karena adanya persamaan dgn nabi Isa itulah kami meyakini bahwa HMGA adalah Isa yang dijanjikan…
    dlm wahyunya HMGA dipanggil nabi oleh Allah dan karena kehati-hatian HMGA dlm mengklaim dirinya Nabi agar tidak menimbulkan perselisihan diantara umat Islam maka beliau menolak dipanggil Nabi yang berdiri sendiri
    karena kadang2 beliau dipanggil sbg Nabi Muhammad saw itu artinya beliau hanya sbg Nabi bayangan (zilli) bukan dlm arti sebenarnya/metaphora .
    Tetapi beliau tidak menolak dan keberatan jika dipanggil Nabi tanpa syariat
    Jadi menurut saya beliau adalah Nabi dlm arti Metaphora ketika beliau sbg Nabi Muhammad karena beliau adalah Nabi bayangan/Zilli Muhammad saw dan Nabi tanpa syariat dlm artian sebenarnya.
    Jadi istilah nabi Umati/nabi tanpa syariat itu memang ada karena istilah tsb pun dipakai oleh HMGA (lihat ket. Misunderstanding)
    Jika kita mengikuti hadist bahwa seorang nabi adalah karena dia dipanggil Nabi oleh Allah lalu apakah salah jika JAI kemudian meyakini bahwa beliau adalah Nabi tanpa syariat ?
    Justru menurut saya tidak ada dalam literatur Islam seorang dipanggil Nabi dan diberi tugas sbg Rasul dlm wahyu2Nya tetapi beliau bukanlah Nabi dan rasul dlm artian sebenarnya
    mungkin saya Lupa bisakah mas Erwan memberikan contoh? Siapa orang tsb?
    Lalu berdasarkan apa Lahore meyakini bahwa HMGA adalah Nabi Isa yang dijanjikan padahal membaca komentar anda tidak ada satupun kesamaan antara HMGA dan Isa as ?

    Mengenai Kutipan saya yang menguatkan pendapat anda, mohon agar Mas Erwan tidak memotong kalimat berikutnya…

    [quote]
    Sebelum berpisah antara Lahore dan Qadian, seluruh Jemaat Ahmadiyah memahami ke’nabi’an Al-Masih yang dijanjikan itu sama persis dengan apa yang diucapkan oleh HMGA, yakni Nabi dan Rasul dalam konteks kamus, sebab bagaimana mungkin datang lagi Nabi dan Rasul setelah Nabi Suci: [/quote]

    Saya kira pernyataan tsb adalah karena kehati-hatian HMGA dan menjelaskan tentang kenabian yang berdiri sendiri. Terus terang saya belum memahami apa yang dimaksud dgn kenabian berdasarkan konteks kamus.
    Adakah istilah tsb dalam literatur Islam? Atau adakah contoh seorang nabi yang anda sebutkan?

    [quote]
    Mengenai tantangan Mubahalah Basyiruddin Mahmud Ahmad kepada Muhammad Ali, terus terang saya baru tahu hal ini, boleh saya tahu referensinya?, kalau bisa ada dalam literatur http://www.alislam.org supaya bisa saya konfirmasikan kepada AAIIL untuk di klarifikasikan. Jazakallah [/quote]
    Maaf thn nya salah yang benar thn 1944
    Buku tsb ditulis oleh seorang saksi hidup mengenai perpecahan JA dan GA
    Silahkan baca di:
    http://www.alislam.org/library/books/Nubuwwat-and-Khilafat.pdf

    Wassalam
    ALif

  24. Alhamdulillah, disini kita sepakat bahwasannya Taurat itu telah banyak mengalami perubahan-perubahan hal ini diperkuat dengan temuan naskah dead sea scroll tahun 70 an lalu. Menurut hemat saya para Nabi Israeli mereka adalah nabi independent, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Taurat, dengan kata lain mereka menjadi nabi bukan karena mengikuti Taurat, sebab kitab Suci sebelum Quran Suci itu ditulis berdasarkan desas-desus belaka (Qs 2:78-79, baca juga tentang Injil Barnabas, hal ini juga berlaku untuk Kitab Suci selain Quran Suci termasuk Taurat), Karena itu mustahil para nabi Israeli berhukum kepada kitab Taurat yang berada di tangan para rahib, para nabi mendapatkan hukum Taurat berdasarkan wahyu kenabian yang mereka terima langsung dari Allah, karena itu bila ada beberapa wahyu yang dia terima dan berbeda dengan Taurat yang berada di tangan para rahib mereka pasti akan berkata aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (Qs 6:50) hal ini tentunya berbeda dengan Imam Ghulam Ahmad yang senantiasa menjadikan Quran dan Hadits bila dia menerima ilham yang berbeda dengan pendapat Ahlusunah waljamaah, bila ternyata cocok maka akan dia gunakan, namun bila bertentangan dengan Quran dan Hadits maka ilham itu akan dibuangnya. Karena itu istilah para nabi Israel itu bukan umati, dan Imam Ghulam Ahmad adalah nabi wa ummati dalam artian tiada lain beliau adalah Muhaddats.

    Mas Alif:

    adalah sesuatu hal yang mustahil seorang nabi Isa mengajak dan menggiring kaum bani israel untuk kembali ke ajaran taurat tapi beliau sendiri tidak menjalankan syariat taurat

    Menurut saya mustahil para nabi menyeru kepada ajaran Taurat yang dipegang oleh para Rahib, para Nabi mengajarkan kitab Taurat berdasarkan wahyu yang mereka terima sendiri. Terlebih lagi bila mas Alif mempunyai pengetahuan bahwasannya kitab Taurat itu pada zaman Nebukadnezar dimusnahkan dan sempat (maaf kalau tidak salah) selama 300 tahun, Kitab Taurat itu tidak ada.

    Mas Alif:

    Jika kita mengikuti hadist bahwa seorang nabi adalah karena dia dipanggil Nabi oleh Allah lalu apakah salah jika JAI kemudian meyakini bahwa beliau adalah Nabi tanpa syariat ?

    Maaf, boleh saya tahu isi redaktur hadits tsb? Karena yang saya tahu wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Suci Surat 96 tidak ada sama sekali berisi, wahai muhammad hari ini engkau adalah nabi. Yang saya tahu juga sebelum pengangkatan nabi suci sebagai nabi, Nabi suci juga kerap menerima ru’yah 2x yang disebut oleh Hadzrat Aisah dengan wahyu
    “an ‘aisyah annha qalat awwalu maa budiyya rasuulullahu saw minal wachyiir ru’yash shalichaatu finnaw mi fa kaa na la yara ru’yaa illa jaa at mitsla falakhi shubchi
    ‘Aisyah berkata bhw wahyu pertama yg diturunkan kpd Rasulullah saw. adl berupa Ru’ya Shalihah dlm keadaan tidur, demikanlah beliau maka beliau tdk pernah bermimpi kecuali yg benar bersinar seperti fajar pagi (Bukhari)

    Mas Alif

    Justru menurut saya tidak ada dalam literatur Islam seorang dipanggil Nabi dan diberi tugas sbg Rasul dlm wahyu2Nya tetapi beliau bukanlah Nabi dan rasul dlm artian sebenarnya
    mungkin saya Lupa bisakah mas Erwan memberikan contoh? Siapa orang tsb?

    Oh banyak sekali, penggunaan2x istilah-istilan Nabi dan Rasul dalam artian etimologi yang digunakan. Sebab orang2x suci (Muhaddats) tersebut juga meyakini bahwa Nabi Suci adalah Nabi terakhir dimana setelahnya tidak ada nabi lagi baik nabi baru maupun nabi lama, untuk lebih lengkapnya Mas Alif bisa dilihat disini [klik] situ juga dijelaskan kenabian dalam artian etimologi

    Masalah Mubahila (Duel Prayer)
    Saya mendapatkan versi yang berbeda [klik] namun tanpa Mubahillah pun Muhammad Ali telah memohon kutuk bila dirinya adalah pendusta

    “I, Muhammad Ali, head of the Lahore Ahmadiyya Jama’at, do swear that
    my belief is that Hazrat Mirza [Ghulam Ahmad] sahib of Qadian is a
    mujaddid and the Promised Messiah, but not a prophet, nor can any
    person become a kafir or excluded from the fold of Islam by denying
    him. This was also the belief of Hazrat Mirza sahib.

    O God, if I have uttered falsehood in this oath taken in Thy name,
    then send upon me from Thyself such exemplary punishment as has no
    human hand in it, and from which the world would learn how stern and
    terrible is God’s retribution for one who deceives His creatures by
    swearing falsely in His name.”
    (Paigham Sulh, dated 15 January 1947. The oath had also appeared
    earlier in Paigham Sulh dated 11 December 1946.)

    Apakah ada do’a Bashiruddin Mahmud Ahmad yang seperti itu?, lalu bagaimana dengan BMA setelah pengakuannya sebagai Muslih Mau’ud, bisakah dia membuktikan kebenarannya selama 23 tahun? Bagaimana nasibnya 7 tahun menjelang kematiannya dan bagaimana kematiannya?

    Wasalam

  25. Mas Erwan :
    Alhamdulillah, disini kita sepakat bahwasannya Taurat itu telah banyak mengalami perubahan-perubahan hal ini diperkuat dengan temuan naskah dead sea scroll tahun 70 an lalu. Menurut hemat saya para Nabi Israeli mereka adalah nabi independent, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Taurat, dengan kata lain mereka menjadi nabi bukan karena mengikuti Taurat, sebab kitab Suci sebelum Quran Suci itu ditulis berdasarkan desas-desus belaka (Qs 2:78-79, baca juga tentang Injil Barnabas, hal ini juga berlaku untuk Kitab Suci selain Quran Suci termasuk Taurat), Karena itu mustahil para nabi Israeli berhukum kepada kitab Taurat yang berada di tangan para rahib, para nabi mendapatkan hukum Taurat berdasarkan wahyu kenabian yang mereka terima langsung dari Allah, karena itu bila ada beberapa wahyu yang dia terima dan berbeda dengan Taurat yang berada di tangan para rahib mereka pasti akan berkata aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku (Qs 6:50) hal ini tentunya berbeda dengan Imam Ghulam Ahmad yang senantiasa menjadikan Quran dan Hadits bila dia menerima ilham yang berbeda dengan pendapat Ahlusunah waljamaah, bila ternyata cocok maka akan dia gunakan, namun bila bertentangan dengan Quran dan Hadits maka ilham itu akan dibuangnya. Karena itu istilah para nabi Israel itu bukan umati, dan Imam Ghulam Ahmad adalah nabi wa ummati dalam artian tiada lain beliau adalah Muhaddats.

    Jawaban saya:
    Maaf mas Erwan, saya tidak mengatakan bahwa Para Nabi Israeli berhukum kepada Taurat yang berada ditangan para Rahib, Mereka para Nabi Israeli mendapat bimbingan Taurat langsung dari Allah melalui wahyu-wahyuNya

    Ayat2 berikut menunjukan bahwa Nabi-Nabi Yahudi berhukum pada taurat dan tidak 100% Taurat yang berada ditangan para Rahib juga semuanya sudah berubah:
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya petunjuk dan cahaya , yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (5:44)

    Bisa jadi mereka mendapatkan wahyu hanya berupa pengulangan2 dari Kitab Taurat tapi tidak 100% hanya beberapa mungkin menggenapi tapi tidak dirubah (Mathius) karena Taurat hanya diturunkan kepada Nabi Musa as :
    Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, (40:53)

    Jadi jika mereka hanya mendapatkan wahyu pengulangan yang isinya sama dgn Kitab Taurat bukan berarti mereka menjadi Nabi Indenpendent bukankah HMGA juga sering menerima wahyu berupa pengulangan isi Qur’an? Apakah beliau menjadi nabi indenpendent? Tentu saja tidak bukan…
    Dan pertanyaan saya belum dijawab oleh mas Erwan: Kriteria apa yang menyebabkan Lahore mengimani HMGA sbg Isa yg dijanjikan padahal tidak ada kesamaan sama sekali?

    ————————————-
    Mas Erwan:
    Menurut saya mustahil para nabi menyeru kepada ajaran Taurat yang dipegang oleh para Rahib, para Nabi mengajarkan kitab Taurat berdasarkan wahyu yang mereka terima sendiri. Terlebih lagi bila mas Alif mempunyai pengetahuan bahwasannya kitab Taurat itu pada zaman Nebukadnezar dimusnahkan dan sempat (maaf kalau tidak salah) selama 300 tahun, Kitab Taurat itu tidak ada.

    Jawaban saya:
    Saya sendiripun sebenarnya dari awal bilang begitu bahwa Benar para Nabi Israeli menyeru kepada ajaran Taurat berdasarkan wahyu yang dia terima sendiri..
    dan Saya jadi tambah bingung dengan komentar mas Erwan..
    pertama anda bilang bahwa Para Nabi Israeli tidak berhukum kepada Taurat tapi kemudian mengatakan bahwa “para Nabi mengajarkan kitab Taurat berdasarkan wahyu yang mereka terima sendiri”…bukankah itu artinya Para Nabi Israeli bersyariat/berhukum kepada Taurat?
    ————————————
    Mas Erwan:
    Maaf, boleh saya tahu isi redaktur hadits tsb? Karena yang saya tahu wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Suci Surat 96 tidak ada sama sekali berisi, wahai muhammad hari ini engkau adalah nabi.
    Jawaban saya:
    Redaksinya ini:
    (Hadis Muslim, Juz I, hal. 301) bahwa Hadhrat Amer bin Utbah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berkata:
    Apakah pengakuan engkau? Beliau menjawab: seorang Nabi!. Aku bertanya: Apakah Nabi itu? Beliau menjawab: Allah telah mengutusku.
    Hadhrat Imam Ibnu Arabi berkata dalam kitabnya:
    Kenabian itu ialah panggilan Allah ta’ala atau kalamullah kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya di dalam waktu bangun atau tidur (Al-Futuchatul-Makkiyah, Juz II, hal. 375).
    ———-
    Mas Erwan:
    Oh banyak sekali, penggunaan2x istilah-istilan Nabi dan Rasul dalam artian etimologi yang digunakan. Sebab orang2x suci (Muhaddats) tersebut juga meyakini bahwa Nabi Suci adalah Nabi terakhir dimana setelahnya tidak ada nabi lagi baik nabi baru maupun nabi lama, untuk lebih lengkapnya Mas Alif bisa dilihat disini [klik] situ juga dijelaskan kenabian dalam artian etimologi
    Jawab:
    maaf mas saya minta nama dan siapa Muhadast tsb mas (nama) berserta referensinya….
    Referensi yang mas Erwan berikan sebelum thn 1901….saya minta setelah 1901
    dan yang dijelaskan disana adalah kenabian yang berdiri sendiri dan JA pun mengakui hal tsb
    Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah adakah istilah Nabi umati/tanpa syariat?

    —————–
    Mas Erwan:

    Masalah Mubahila (Duel Prayer)
    Saya mendapatkan versi yang berbeda [klik] namun tanpa Mubahillah pun Muhammad Ali telah memohon kutuk bila dirinya adalah pendusta

    “I, Muhammad Ali, head of the Lahore Ahmadiyya Jama’at, do swear that
    my belief is that Hazrat Mirza [Ghulam Ahmad] sahib of Qadian is a
    mujaddid and the Promised Messiah, but not a prophet, nor can any
    person become a kafir or excluded from the fold of Islam by denying
    him. This was also the belief of Hazrat Mirza sahib.

    O God, if I have uttered falsehood in this oath taken in Thy name,
    then send upon me from Thyself such exemplary punishment as has no
    human hand in it, and from which the world would learn how stern and
    terrible is God’s retribution for one who deceives His creatures by
    swearing falsely in His name.”
    (Paigham Sulh, dated 15 January 1947. The oath had also appeared
    earlier in Paigham Sulh dated 11 December 1946.)

    Apakah ada do’a Bashiruddin Mahmud Ahmad yang seperti itu?, lalu bagaimana dengan BMA setelah pengakuannya sebagai Muslih Mau’ud, bisakah dia membuktikan kebenarannya selama 23 tahun? Bagaimana nasibnya 7 tahun menjelang kematiannya dan bagaimana kematiannya?

    Jawab:
    mengenai Mubahalah sudah dijawab lagi ini alamatnya..
    http://www.alislam.org/library/books/truth_prevails/chapter_5_section_9.html
    Mengenai sumpah BMA silahkan baca di bawah hal. 99-100 beliau malah sudah sumpah jauh sebelum MMA yaitu thn 1915.

    http://www.alislam.org/library/books/Nubuwwat-and-Khilafat.pdf

    Masalah kematian itu rahasia Allah mas…para khalifah dan para Imam mazhab saja meninggalnya karena dibunuh dan disiksa..apakah itu menandakan mereka tidak benar? tidak bukan…

    —-
    Begini aja deh mas Erwan, agar saya juga tidak berlama-lama disini yang mungkin menggangu kerja Mas Erwan, saya langsung to the point saja ke pertanyaan yang belum dijawab oleh anda:
    1. Apakah ada istilah Nabi Umati/tanpa syariat? Karena kami meyakini HMGA hanya sbg Nabi Umati? Jika tidak ada mengapa HMGA memakai istilah tsb untuk dirinya?
    2. Atas dasar apa Mas Erwan meyakini bahwa HMGA adalah nabi Isa yang dijanjikan ? Padahal dilihat dari komentar anda tidak ada kesamaan baik sifat maupun turunnya Isa dgn HMGA
    Lalu apa maksud Muhammad saw memberi gambaran ttg turunnya Isa as jika antara Isa Israeli dan isa Muhammadi tidak terdapat kesamaan?
    3. Apakah HMGA itu benar seorang Rasul yang telah ditunjuk oleh Allah?
    4. Jika Lahore tidak meyakini adanya kenabian lagi, lalu kenapa MMA baiat kepada khalifah I dan mengakui beliau sbg khalifah? Bukankah tidak ada khalifah tanpa kenabian? Jika alasannya menjaga perpecahan bukankah perpecahan itu timbul pada khalifah ke 2? Jika MMA tidak menyetujui kekhalifahan kenapa beliau tidak dari Khalifah I aja pecahnya? apakah demi menjaga perpecahan beliau sampai mengorbankan aqidah jika itu alasan utamanya?
    5 Jika hanya seorang Mujadid ? siapakah mujadid berikutnya setelah HMGA menurut Lahore? Karena sekarang sudah lebih 100 tahun lewat

    Oke mas, mohon maaf jika banyak pertanyaan, Kalau kita balik lagi ke referensi2 yang ada malah akan membingungkan kita karena memang ada 2 versi cerita, mana yang benar hanya Allah yang Tahu dan itu tidak akan ada habisnya…. Maka sekarang to the point saja deh…
    Jazzakalah atas jawabannya.
    Wassalam,

  26. Mas Alif

    Jadi jika mereka hanya mendapatkan wahyu pengulangan yang isinya sama dgn Kitab Taurat bukan berarti mereka menjadi Nabi Indenpendent bukankah HMGA juga sering menerima wahyu berupa pengulangan isi Qur’an? Apakah beliau menjadi nabi indenpendent? Tentu saja tidak bukan….

    Jawaban Hazrat Mirza Ghulam Ahmad:
    Although numerous prophets appeared amongs the Israelites, but the prophethood conferred on them was not due to their following in the footsteps of prophet Moses; but those prophethoods were the direct gift of the God Al mighty, and their following in the footsteps of Moses had nothing to do with it (Haqiqat al-wahy p, 97 publish 1907)

    Mas Alif:

    Saya sendiripun sebenarnya dari awal bilang begitu bahwa Benar para Nabi Israeli menyeru kepada ajaran Taurat berdasarkan wahyu yang dia terima sendiri..
    dan Saya jadi tambah bingung dengan komentar mas Erwan..
    pertama anda bilang bahwa Para Nabi Israeli tidak berhukum kepada Taurat tapi kemudian mengatakan bahwa “para Nabi mengajarkan kitab Taurat berdasarkan wahyu yang mereka terima sendiri”…bukankah itu artinya Para Nabi Israeli bersyariat/berhukum kepada Taurat?

    Yup, para nabi Israel mengajarkan kitab Taurat berdasarkan wahyu yang mereka terima sendir, bukankah sudah disepakati bahwasannya Kitab Taurat yang berada ditangan para Rahib itu sudah tidak murni lagi?, jadi para nabi menyeru kembali kepada Taurat berdasarkan wahyu yang dia terima, mana saja ajaran Taurat yang masih asli, atau bahkan membatalkan, mengganti dsb

    Mas Alif:

    Redaksinya ini:
    (Hadis Muslim, Juz I, hal. 301) bahwa Hadhrat Amer bin Utbah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia berkata:
    Apakah pengakuan engkau? Beliau menjawab: seorang Nabi!. Aku bertanya: Apakah Nabi itu? Beliau menjawab: Allah telah mengutusku.

    Saya samasekali tidak melihat bahwa Nabi mengatakan bahwa bila Allah menyebut seseorang itu Nabi/Rasul maka otomatis dia menjadi Nabi/ Rasul, sebab dalam Qur’an Suci, yang kita yakini sebagai 100% Firman Ilahi dikatakan:

    “And the king said: Bring him [Joseph] to me. So when the messenger (rasul) came to him … ” (12:50).
    Meskipun disini Allah menyebut utusan maka tidak otomatis membuat seseorang menjadi nabi/rasul

    Mas Alif:

    Referensi yang mas Erwan berikan sebelum thn 1901….saya minta setelah 1901
    dan yang dijelaskan disana adalah kenabian yang berdiri sendiri dan JA pun mengakui hal tsb
    Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah adakah istilah Nabi umati/tanpa syariat?

    Ada, silahkan baca kutipan dibawah ini adalah referensi setelah 1901
    “The point is worth remembering that to call the denier of one’s claim as kafir is only the privilege of those prophets who bring a shariah and new commandments from God. But apart from possessors of shariah (sahib-i shariah), all the others who are muhaddas, no matter how high a rank they may have with God, and be exalted with the robe of Divine revelation, no one becomes a kafir by denying them.”
    — Tiryaq al-Qulub, October 1902, p. 130, footnote.

    Perhatikan, kalimat yang saya tebalkan, artinya adalah kenabian tanpa syariat bermakna bukan nabi melainkan muhaddats

    Mas Alif

    mengenai Mubahalah sudah dijawab lagi ini alamatnya..
    http://www.alislam.org/library/books/truth_prevails/chapter_5_section_9.html

    Mas salah kutip, itu bukan ditujukan kepada Muhammad Ali, melainkan kepada salah seorang pengikut setia MBA yang kemudian menuduh MBA telah melakukan sex orgy kepada anggotanya;

    The present Khalifah is licentious. Under the guise of holiness, he is a womaniser. He has employerd some men and women as agents for this purpose. Through them, he entraps the innocent boy and girls. He has set up a society wich comprises men and women. The indulge in adultery (Al fazl)

    Mas Alif:

    Masalah kematian itu rahasia Allah mas…para khalifah dan para Imam mazhab saja meninggalnya karena dibunuh dan disiksa..apakah itu menandakan mereka tidak benar? tidak bukan…

    Adakah para Khalifah dan para Imam itu mengaku-ngaku sebagai seseorang yang kedatangannya telah dijanjikan?

    Yang menjadi pertanyaan saya adalah bisakah BMA bertahan hidup selama 23 tahun ba’da pengakuannya sebagai Muslih Mau’ud?, tahun berapa dia mendakwahkan sebagai Muslih Mau’ud?, tahun berapa dia wafat?. Bagaimana dia wafat?

    Berikut ini adalah literatur yang saya dapati dari literatur Lahore

    Sebelum wafat dikatakan harian koran Rabwah Al Fazl

    Nervous prostration like the loss of memory, and emotional outburts (like at the mention of holy names, places, and events)., are more or less prevalent. Some days the symptoms dwindle, but again they intensify; and so the trouble goes on. Because of remaining in prostrate position, there is tension followed by numbness in the leg muscles. All possible efforts to make his holiness walk a little, have failed all long (Al Fazal, Rabwah), dated 19th August, 1961)

    Konon dia menderita gangguan mental selama 7 tahun sebelum wafat

    Bisakah dia melewati 23 tahun seperti yang dikatakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad?

    Thousands of Muslim savants and spiritual leaders have always advanced this arguments before the infidels, and no Christian or Jew has yet come forward to identify of point out one such person who having fabricated a claim to be an ‘Appointee of Allah’ (as per prophecy), had then passed twenty three yeras of his remaining lif” (Arba’een p 3)

    Dakwahan sebagai Muslih Mau’ud 28 Januari 1944
    Wafatnya November 1965

    Meninggalnya adalah penggenapan nubuatan surat Qs 69:44-47

    Dan sekiranya ia membuat-buat sesuatu cerita melawan Kami, Niscaya ia akan Kami tangkap dengan tangan kanan, Lalu Kami potong urat nadinya. Dan tak seorang pun di antara kamu dapat menahan Kami dari dia

    yang saya baca http://www.alislam.org/library/books/AhmadiyyatRenaissanceofIslam.pdf hal 341 BMA lehernya ditusuk oleh anak muda

    mas Alif:

    Begini aja deh mas Erwan, agar saya juga tidak berlama-lama disini yang mungkin menggangu kerja Mas Erwan, saya langsung to the point saja ke pertanyaan yang belum dijawab oleh anda:
    1. Apakah ada istilah Nabi Umati/tanpa syariat? Karena kami meyakini HMGA hanya sbg Nabi Umati? Jika tidak ada mengapa HMGA memakai istilah tsb untuk dirinya?
    2. Atas dasar apa Mas Erwan meyakini bahwa HMGA adalah nabi Isa yang dijanjikan ? Padahal dilihat dari komentar anda tidak ada kesamaan baik sifat maupun turunnya Isa dgn HMGA
    Lalu apa maksud Muhammad saw memberi gambaran ttg turunnya Isa as jika antara Isa Israeli dan isa Muhammadi tidak terdapat kesamaan?
    3. Apakah HMGA itu benar seorang Rasul yang telah ditunjuk oleh Allah?
    4. Jika Lahore tidak meyakini adanya kenabian lagi, lalu kenapa MMA baiat kepada khalifah I dan mengakui beliau sbg khalifah? Bukankah tidak ada khalifah tanpa kenabian? Jika alasannya menjaga perpecahan bukankah perpecahan itu timbul pada khalifah ke 2? Jika MMA tidak menyetujui kekhalifahan kenapa beliau tidak dari Khalifah I aja pecahnya? apakah demi menjaga perpecahan beliau sampai mengorbankan aqidah jika itu alasan utamanya?
    5 Jika hanya seorang Mujadid ? siapakah mujadid berikutnya setelah HMGA menurut Lahore? Karena sekarang sudah lebih 100 tahun lewat

    Sabar ya mas Alif, nanti Insya Allah akan ada artikelnya yang bertemakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad merupakan Al-Masih yang dijanjikan Insya Allah pertanyaan2x mas akan terjawab. Namun sebelum itu akan ada beberapa artikel dahulu, seperti
    1. Nabi Isa telah wafat, berdasarkan Quran Suci dan hadits,
    2. Mujaddid adalah Khalifah Ruhani dalam Islam
    3. Persamaan Khalifah Islam dengan Khalifah Israel (Qs 24:55)
    baru setelah itu masuk, kebenaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Almasih dan Al Mahdi yang dijanjikan

  27. Mas Erwan, seperti yang sudah saya bilang setiap referensi yang anda berikan dari buku the truth triumph karangan Lahore sebenarnya sudah
    dijawab oleh JA anda bisa baca di http://www.alislam.org dgn judul bukunya: the truth prevails

    jadi kalo anda mencopy paste apa yang ada di buku-buku tsb tidak akan da habisnya
    Dan saya kira jawaban the truth prevails karangan J/A masuk akal…
    anda menulis bahwa BMA mengalami kelumpuhan dan kehilangan memory selama 7 tahun, bagaimana mungkin seorang yang kehilangan memory dan kelumpuhan bisa menyelesaikan pekerjaan besar membuat Tafsir Qur’an
    Bukankah itu artinya Lahore sudah memfitnah BMA
    Lalu mengenai kematiannya yang kata anda sesuai dgn qur’an 69:44-47

    Disilahkan anda baca alamat ini:
    http://www.alislam.org/library/books/truth_prevails/chapter_5_section_6.html

    Kalau boleh saya tanya bagaimana kematian MMA sendiri apakah para pengikutnya setia kepadanya ketika disaat-saat terakhir? Apakah beliau dishalatkan oleh pengikutnya sendiri?

    Tapi Saya tidak akan membahas masalah itu mas, bagi saya jelas memburuk-burukan kejelekan orang yang sudah meninggal dilarang oleh Nabi

    makanya pertanyaan diatas silahkan anda jawab secara pemikiran anda saja/logika..tidak perlu mengambil referensi2 dari HMGA karena JA juga mempunyainya…jadi hanya akan memenuhi blog anda saja….

    contohnya pertanyaan saya secara logika: Jika MMA tidak mengakui kekhalifahan lalu kenapa beliau berbaiat kepada khalifah I misalnya…

    wassalam,

  28. Oh iya jelas, beliau dishalatkan oleh sahabat-sahabat beliau baca di http://www.muslim.org/books/m-kabir/mjk3-8.htm Saya sama sekali tidak mengutak-ngatik buku truth triump, saya hanya membuktikan bahwa link yang mas kasih itu salah alamat, bukan jawaban Mubahilah kepada MMA akan tetapi tantangan mubahilah seorang pengikut setia MBA yang menuduh MBA telah melakukan sex orgy kepada anggotanya, dan mengenai kehilangan Memorinya itu yang nulis adalah surat kabar harian rabwah itu sendiri, dan mengenai http://www.alislam.org/library/books/AhmadiyyatRenaissanceofIslam.pdf hal 341 BMA lehernya ditusuk oleh anak muda, yang menulis adalah Zafrullah Khan salah seorang pejabat Qadiyani, dan bukan dari pihak Lahore yang menulisnya.
    Mas Alif

    contohnya pertanyaan saya secara logika: Jika MMA tidak mengakui kekhalifahan lalu kenapa beliau berbaiat kepada khalifah I misalnya…

    Sebenarnya saya berusaha untuk tidak out of context dari apa yang dibicarakan artikel, karena akan melebar. Namun supaya mas Alif tidak penasaran, jawabannya ada disini: http://www.muslim.org/books/m-kabir/mjk3-8.htm

    About a month before his death, when the Promised Messiah left Qadian to go to Lahore, he appointed Maulana Muhammad Ali to manage all affairs in his absence. After his death, when his body reached Qadian for burial, Khwaja Kamal-ud-Din said to Maulana Muhammad Ali in the cemetery garden that it had been proposed that Maulana Nur-ud-Din should succeed the Promised Messiah. He replied that he fully agreed with the proposal. Then the Khwaja sahib added that it was also proposed that all Ahmadis should take the pledge (bai‘at) on Maulana Nur-ud-Din’s hand. Maulana Muhammad Ali replied that there was no need for that because only new entrants to the Movement need take the pledge and that this was the purport of Al-Wasiyyat. The Khwaja sahib said that it was a delicate time and any difference of opinion may cause division in the community, and there was no harm in Ahmadis taking the pledge again. Then Maulana Muhammad Ali agreed and the pledge was taken at Maulana Nur-ud-Din’s hand.

    Jadi pada dasarnya MMA tidak menyetujuinya karena pada hanya mereka yang baru gabung saja yang perlu bai’at, namun karena alasan persatuan, dimana perbeaan kecil saja bisa menyebabkan perpecahan jemaat, (lagi pula tidak ada salahnya untuk bai’at lagi) maka MMA bai’at lagi ditangan M. Nuruddin.

  29. Terima kasih mas Erwan atas jawaban-jawabannya, dgn begitu menjadi jelas dan bisa disimpulkan bahwa MMA baiat karena terpaksa dgn khalifah I dan itu artinya beliau sudah bersebrangan pendapat sejak dgn Khalifah I bukan sejak dgn Khalifah ke II dan itu artinya pula bahwa Ahmadi pada waktu itu mau tidak mau harus mengakui adanya sistim kekhalifahan…
    wassalam,

  30. Ini jawaban atas khalifah

    The form of administration for the Ahmadiyya Movement was laid down by Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, by creating a body known as Sadr Anjuman Ahmadiyya. For details see our article entitled Khilafat in the Ahmadiyya Movement. We accepted that system from the day he put it into operation during his own life. The same system continued to operate under Hazrat Maulana Nur-ud-Din. He was Khalifa working according to the system set up by Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. That was why we accepted him.

    However, Mirza Mahmud Ahmad in 1914 introduced the system of autocratic rule by a khalifa possessing absolute power, who has to be obeyed blindly regardless of what he orders. This is completely against Islam. That is why we could not accept his khilafat, because there is no sign or trace of such an institution in Islam or in the teachings of Hazrat Mirza Ghulam Ahmad.

    Read a more detailed answer.

  31. Kelihatannya MMA tidak konsisten dgn pengakuannya…
    pertama anda bilang MMA sebenarnya tidak menyetujui adanya sistem kekhalifahan sejak khalifah I alasannya karena HMGA bukan Nabi
    sekarang jika melihat ref anda MMA setuju khalifah I tapi tidak mengakui khalifah II alasannya karena BMA telah merubah sistem kekhalifahan menjadi otokrat/personal
    Alasan yang benar yang mana mas?

    Coba anda berikan contoh dlm sejarah literatur Islam sistem kekhalifahan yang dipimpin oleh suatu lembaga?
    adakah?
    dan kalau melihat ref. anda diatas. kelihatannya MMA menyetujui adanya khalifah I, padahal beliau menganggap HMGA bukan Nabi (walaupun hanya Nabi tanpa syariat)
    coba berikan contoh dlm literatur Islam sistem kekhalifahan yang tidak mengikuti kenabian?
    adakah?
    Jika tidak ada…
    Sekarang anda pikirkan siapa sebenarnya yang tidak mengikuti ajaran Islam sesungguhnya..(khusus mengenai kekhalifahan)
    BMA bahkan telah menggenapkan nubuatan hadist Nabi yang mengatakan adanya khalifah yang mengikuti kenabian
    Wassalam

  32. Mas Alif:

    pertama anda bilang MMA sebenarnya tidak menyetujui adanya sistem kekhalifahan sejak khalifah I alasannya karena HMGA bukan Nabi

    Maaf dimana saya mengatakan bahwa MMA tidak menyetujui sistem kekhalifahan???, tolong bedakan antara Bai’at ulang dengan sistem kekhalifahan, yang saya katakan adalah MMA tidak menyetujui bai’at ulang, karena Bai’at hanya ditujukan bagi pendatang baru

    Mas Alif:

    sekarang jika melihat ref anda MMA setuju khalifah I tapi tidak mengakui khalifah II alasannya karena BMA telah merubah sistem kekhalifahan menjadi otokrat/personal
    Alasan yang benar yang mana mas?

    Alasan yang benar adalah karena dalam Al Wasyiat, HMGA mengatakan bahwa yang menjadi penggantinya (Successor/Khalifah) adalah Anjuman yang beranggotakan 14 orang, berikut ini adalah pernyataan Maulana Nuruddin

    “In the writing of Hazrat sahib [i.e. the Promised Messiah] there is a point of deep knowledge which I will explain to you fully. He left it up to God as to who was going to be the khalifa. On the other hand, he said to fourteen men: You are collectively the Khalifat-ul-Masih, your decisions are final and binding, and the government authorities too consider them as absolute. Then all those fourteen men became united in taking the bai‘at (pledge) at the hand of one man, accepting him as their khalifa, and thus you were united. And then not only fourteen, but the whole community agreed upon my khilafat.
    “… I have read Al-Wasiyya very thoroughly. It is indeed true that he has made fourteen men the Khalifat-ul-Masih, and written that their decision arrived at by majority opinion is final and binding. Now observe that these God-fearing men, whom Hazrat sahib chose for his khilafat, have by their righteous opinion, by their unanimous opinion, appointed one man as their Khalifa and Amir. And then not only themselves, but they made thousands upon thousands of people to embark in the same boat in which they had themselves embarked.” (Badr, 21 October 1909, p. 11, col. 1.)
    Nah dari antara collectively Khalifat-ul-Masih dipilihlah satu orang yang akan mengambil bai’at. Jadi jelas berbeda antara Kekhalifatan Nuruddin yang sifatnya Anjuman dengan kediktatoran Khalifah Qadiyan

    Mas Alif:

    coba berikan contoh dlm literatur Islam sistem kekhalifahan yang tidak mengikuti kenabian?

    Memangnya akan ada lagi nabi dalam Islam yang akan diikuti kekhalifahan????, coba deh mas Alif bayangkan bila ada lagi nabi, bahkan menurut BMA akan datang lagi ratusan nabi dan tiap-tiap nabi akan mempunyai khalifah dan tiap-tiap pengikut khalifah akan mengkafirkan (menganggap murtad) satu dengan yang lainnya, apa jadinya umat Islam ini. Coba bila hal ini terjadi dalam kubu Qadiyan itu sendiri???

  33. Assalamualaikum Mas Erwan,
    Mas Erwan:
    Maaf dimana saya mengatakan bahwa MMA tidak menyetujui sistem kekhalifahan???, tolong bedakan antara Bai’at ulang dengan sistem kekhalifahan, yang saya katakan adalah MMA tidak menyetujui bai’at ulang, karena Bai’at hanya ditujukan bagi pendatang baru
    Jawab :
    Kalau begitu MMA menyetujui adanya sistem Kekhalifahan, khalifah model apa? Apakah ada dlm literatur sejarah kekhalifahan tanpa diikuti kenabian?
    Lalu jika beliau setuju kenapa sekarang lahore tidak dibawah sistem kekhalifahan?
    Jika beliau tidak menyetujui baiat ulang lalu kenapa sebaliknya sekarang dlm Lahore ada istilah baiat?
    koq jadi terbalik-balik…
    —————-
    Mas Erwan:
    Alasan yang benar adalah karena dalam Al Wasyiat, HMGA mengatakan bahwa yang menjadi penggantinya (Successor/Khalifah) adalah Anjuman yang beranggotakan 14 orang, berikut ini adalah pernyataan Maulana Nuruddin dst….(deleted)
    Nah dari antara collectively Khalifat-ul-Masih dipilihlah satu orang yang akan mengambil bai’at. Jadi jelas berbeda antara Kekhalifatan Nuruddin yang sifatnya Anjuman dengan kediktatoran Khalifah Qadiyan

    Jawab :
    Jika MMA menganggap khalifah adalah sebuah lembaga
    berarti HMGA telah membawa syariat baru dlm Islam, karena sebelumnya tidak dikenal kekhalifahan dibawah sebuah lembaga…
    dari ref anda tsb disebut juga bahwa dlm collectively khalifah tsb dipilih lagi seorang yang menjadi amir khalifah…itu artinya orang itulah yang menjadi khalifah sebenarnya..membawahi 13 orang itu..
    Jika khalifah terdiri dari 14 orang tsb, bisa anda bayangkan jika terdapat perintah yang berbeda satu sama lain…yang bingung adalah para pengikutnya…
    Memang anda tahu proses pemilihan sistem pemilihan khalifah qadian jika anda menyebutnya diktaktor? Silahkan anda pelajari dan baca bagaimana proses pemilihan tsb di website resmi…
    ————–
    Mas Erwan :
    Memangnya akan ada lagi nabi dalam Islam yang akan diikuti kekhalifahan????, coba deh mas Alif bayangkan bila ada lagi nabi, bahkan menurut BMA akan datang lagi ratusan nabi dan tiap-tiap nabi akan mempunyai khalifah dan tiap-tiap pengikut khalifah akan mengkafirkan (menganggap murtad) satu dengan yang lainnya, apa jadinya umat Islam ini. Coba bila hal ini terjadi dalam kubu Qadiyan itu sendiri???

    jawab :
    Yang saya tanyakan adalah contoh kekhalifahan dlm Islam yang tidak diikuti kenabian..bukannya pertanyaan dibalas pertanyaan…
    Sesuai hadist Nabi akan ada kekhalifahan yang mengikuti kenabian diakhir zaman..
    Tidak perlu dibayangkan mas.. Masalah kenabian urusan Allah, Allah lah yang mengatur turunnya Nabi lagi bila diperlukan, jadi kita tidak perlu cemas…
    Kata Nabi Kita adalah umat terbaik..jika kepada umat Bani Israel saja Allah mengutus ribuan Nabi nah kenapa tidak untuk umat yang katanya terbaik ini..
    Jika terdapat 2 khalifah bunuhlah salah satu demikian hadist Nabi artinya cukup satu saja yang kita ikuti..
    Mengenai pentakfiran yang anda cemaskan..apakah menurut anda umat Islam sekarang ini tidak dalam pentakfiran satu sama lain?

    Wassalam,

  34. Ralat:
    Kalau begitu MMA menyetujui adanya sistem Kekhalifahan, khalifah model apa? Apakah ada dlm literatur sejarah kekhalifahan tanpa diikuti kenabian?

    Seharusnya: Apakah ada dlm literatur sejarah kekhalifahan tanpa mengikuti kenabian?

  35. Mas Alif:

    Kalau begitu MMA menyetujui adanya sistem Kekhalifahan, khalifah model apa? Apakah ada dlm literatur sejarah kekhalifahan tanpa diikuti kenabian?

    Kekhalifahan yang dimaksud oleh HMGA dan juga Muhammad Ali adalah Anjuman, anjuman inilah ‘pengganti’ HMGA, kata pengganti dalam bahasa Arab adalah Khalifah

    Mas Alif:

    Lalu jika beliau setuju kenapa sekarang lahore tidak dibawah sistem kekhalifahan?
    Jika beliau tidak menyetujui baiat ulang lalu kenapa sebaliknya sekarang dlm Lahore ada istilah baiat?
    koq jadi terbalik-balik…

    Bai’at hanya ditujukan kepada mereka yang baru bergabung kedalam Ahmadiyah

    Mas Alif:

    Jika MMA menganggap khalifah adalah sebuah lembaga
    berarti HMGA telah membawa syariat baru dlm Islam, karena sebelumnya tidak dikenal kekhalifahan dibawah sebuah lembaga…
    dari ref anda tsb disebut juga bahwa dlm collectively khalifah tsb dipilih lagi seorang yang menjadi amir khalifah…itu artinya orang itulah yang menjadi khalifah sebenarnya..membawahi 13 orang itu..
    Jika khalifah terdiri dari 14 orang tsb, bisa anda bayangkan jika terdapat perintah yang berbeda satu sama lain…yang bingung adalah para pengikutnya…
    Memang anda tahu proses pemilihan sistem pemilihan khalifah qadian jika anda menyebutnya diktaktor? Silahkan anda pelajari dan baca bagaimana proses pemilihan tsb di website resmi…

    Yang dilihat adalah Anjuman yang beranggotakan 14 orang itu sebagai Khalifah HMGA, paling tidak ketidak setujuan mas Alif menandakan perbedaan antara Sistem Khalifah yang dianut oleh Hazrat Nuruddin dengan BMA

    Mas Alif

    Yang saya tanyakan adalah contoh kekhalifahan dlm Islam yang tidak diikuti kenabian..bukannya pertanyaan dibalas pertanyaan…

    Karena dalam Islam TIDAK ADA NABI LAGI makanya tidak akan ada kekhalifahan yang mengikuti kenabian selain kekhalifahan yang mengikuti kenabian Nabi Suci Muhammad saw

    Mas Alif

    Sesuai hadist Nabi akan ada kekhalifahan yang mengikuti kenabian diakhir zaman..
    Tidak perlu dibayangkan mas.. Masalah kenabian urusan Allah, Allah lah yang mengatur turunnya Nabi lagi bila diperlukan, jadi kita tidak perlu cemas…

    Iya, kekhalifahan itu tiada lain adalah kedatangan para Mujaddid seperti yang diisyaratkan dalam 24:55, jadi bukan kekhalifahan yang mengikuti nabi baru

    Mas Alif:

    Kata Nabi Kita adalah umat terbaik..jika kepada umat Bani Israel saja Allah mengutus ribuan Nabi nah kenapa tidak untuk umat yang katanya terbaik ini..

    Kenapa Allah mengutus Nabi Muhammad untuk sekalian bangsa?, bukankah lebih mudah untuk tiap-tiap umat ada nabinya?

    Mas Alif:

    Mengenai pentakfiran yang anda cemaskan..apakah menurut anda umat Islam sekarang ini tidak dalam pentakfiran satu sama lain?

    Kedatangan HMGA adalah untuk mempersatukan umat Islam dan umat-umat yang lain dibawah naunngan bendera Khataman-nabiyyin Nabi Suci Muhammad saw, bukan malah memperparah keadaan umat dengan mengkafirkan golongan diluar golongannya

    Mas ALif:

    Seharusnya: Apakah ada dlm literatur sejarah kekhalifahan tanpa mengikuti kenabian?

    Bila yang dimaksud dengan Khalifah adalah anjuman (asosiasi, perkumpulan) ada banyak, contoh yang saya ingat adalah gerakan mahdawiyah merupakan khalifah dari Mujaddid abad 13 Barewi. Namun bila yang dimaksud khalifah dalam artian otoriter dan mengaku-ngaku pengenjuantahan dari surat 24:55 padahal nabinya bukan Nabi Muhammad saw, maka jawabannya tidak ada

    wasalam

  36. Mas Erwan, anda sama sekali tidak menjawab pertanyaan2 saya:
    1. Adakah dlm literatur Islam seorang Mujadid (bukan nabi) perlu meninggalkan sistem kekhalifahan? referensi kalau ada
    2. Adakah dlm literatur Islam sistem kekhalifahan dipimpin oleh sebuah lembaga/perkumpulan orang? (referensi atau alamat website boleh)
    3. Jika datang mujadid baru apakah GAI akan bubar, logikanya tidak mungkin ada 2 kekhalifahan, (ingat anda mengatakan mujadid adalah para khalifah yang disebut dlm hadist dan anjuman adalah pengganti HMGA) sudah 100 tahun lewat sejak HMGA tapi belum lagi muncul mujadid baru..siapa mujadid baru menurut lahore?
    Jika nomor 1 dan 2 tidak ada atau anda tidak bisa menunjukan referensinya bukankah itu artinya MMA telah mengajarkan hal2 yang baru dalam syariat Islam (bid’ah)

    anda mengatakan sistem khalifah qadian diktaktor karena dipimpin oleh perorangan, lalu bagaimana dgn sistem kekhalifahan khulafaru rasyidin? apakah mereka diktaktor juga? atau khalifah Nuruddin apakah beliau diktaktor juga?
    Sedangkan yang saya tahu justru Lahore dipimpin oleh seorang presiden lalu apa bedanya dgn kekuasaan perseorangan?
    wasalam,

  37. Mas Alif:

    1. Adakah dlm literatur Islam seorang Mujadid (bukan nabi) perlu meninggalkan sistem kekhalifahan? referensi kalau ada
    2. Adakah dlm literatur Islam sistem kekhalifahan dipimpin oleh sebuah lembaga/perkumpulan orang? (referensi atau alamat website boleh)

    Berikut ini adalah penjelasan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad:
    The Sufis have written that whoever is to be a khalifah after a spiritual leader (Shaikh) or messenger and prophet (rasul, nabi), first of all God makes truth to enter his heart. When some messenger (rasul) or spiritual leader (Shaikh) dies, the world is shaken, and it is very dangerous moment, but God stabilases the situation thorugh some khalifah…HIs HOliness (Hadzrat Mirza Sahib) added that, in a Divine isnpiration, he too had been named Shaikh by Al mighty God: Anta al-shaikhu al-Masihu alladhi la yuda’u waqtuhu (Al-Hakam, 14th April 1908)

    Jadi menurut Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad, sepeninggal para guru spiritual ada juga penerusnya yang disebut khalifah, masalah referensi linkya, saya belum dapat.

    Mas Alif:

    3. Jika datang mujadid baru apakah GAI akan bubar, logikanya tidak mungkin ada 2 kekhalifahan, (ingat anda mengatakan mujadid adalah para khalifah yang disebut dlm hadist dan anjuman adalah pengganti HMGA) sudah 100 tahun lewat sejak HMGA tapi belum lagi muncul mujadid baru..siapa mujadid baru menurut lahore?

    Ya memang seharusnya demikian, tohk ajaran yang dibawa oleh mujaddid baru tersebut yang pasti tidak akan bertentangan dengan apa yang dibahwa oleh HMGA. Sejauh yang saya tahu nama Jemaat HMGA juga hingga 1901 (maaf tahun nya saya tidak pasti) belum diberi nama Ahmadiyah hingga ada kepentingan konsensus dari pemerintah Inggris untuk membedakan madzhab-madzhab yang ada di India, lalu HMGA menerima wahyu untuk memberikan nama kepada pengikutnya dengan nama Ahmadiyah
    Mas Alif:

    siapa mujadid baru menurut lahore?

    Bila kita lihat kedatangan Mujaddid bisa diawal 100 tahun, di pertengahan 100 tahun atau bahkan di akhir 100 tahun, contohnya saja Mujaddid abad pertama, Umar Abdul Aziz, tidak mungkin beliau muncul di awal abad sebab pada awal abad Nabi Suci masih hidup

    Mas Alif:

    anda mengatakan sistem khalifah qadian diktaktor karena dipimpin oleh perorangan, lalu bagaimana dgn sistem kekhalifahan khulafaru rasyidin? apakah mereka diktaktor juga? atau khalifah Nuruddin apakah beliau diktaktor juga?
    Sedangkan yang saya tahu justru Lahore dipimpin oleh seorang presiden lalu apa bedanya dgn kekuasaan perseorangan?

    Bedanya??, yang pasti Lahore tidak pernah mengaku-ngaku Anjumannya sebagai khalifah yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 55 tsb, kekhalifahan berada pada Anjuman, lalu Anjuman yang beranggotakan 14 orang itu memilih satu orang sebagai amir atau presiden (bisa juga arti khalifah diterapkan dalam artian pemimpin). Azas yang dianut terlihat jelas adalah Demokrasi, bukan otokrasi.

    wasalam

  38. Mas Erwan, ada baiknya anda mempelajari dulu proses pemilihan seorang khalifah baik dlm Literatur Islam maupun Qadian…agar anda tidak asal memfitnah dgn mengatakan kekhalifahan qadian atau perseorangan itu adalah diktaktor…coba pelajari bagaimana proses terpilihnya Abu Bakar, Umar, lalu pelajari pula sistem di Qadian (lih. di website) bukankah kita disuruh oleh Allah agar selalu bertabayun dulu ? jadi bukan hanya lahore yang memakai sistem demokrasi….
    Mengenai kekhalifahan dan ayat 25:55 yang selalu anda kutip tsb tsb, mari kita lihat bagaimana contoh dari HMGA dlm Al Wasiyat berikut kutipan-kutipannya..
    berikut saya kutipkan perkataan HMGA dlm Al wasiyat versi Lahore sendiri :
    ————–
    Allah menolong para Nabi dan Rasul-Nya.Dia memenangkan
    mereka. Ini merupakan Sunnah Allah Ta’ala. Sejak Dia
    menciptakan manusia di bumi, Dia senantiasa memperlihatkan
    Sunnah ini. Sebagaimana difirmankan Allah:
    terjemahnya: “Allah telah menulis bahwa Dia dan Nabi-Nya akan menang.” (Al-Mujadilah, 58:21, – pent.).
    Sebagaimana maksud (kebangkitan) para Rasul dan para Nabiuntuk melaksanakan missi Allah di muka bumi, serta tak ada seorangpun yang mampu menandinginya: yang dimaksud menang(di sini) yaitu, Allah Ta’ala menampakkan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat. Singkatnya. ada dua macam penampakan kekuasaan:
    l.Dengan tangan para Nabi sendiri, Allah memperlihatkan
    tangan kekuasaan-Nya
    2. Pada waktu sesudah wafatnya Nabi. Ketika muncul kesulitan-kesulitan dan musuh datang dengan kuatnya.
    Diperkirakan bahwa kini tugas menjadi kacau dan diyakini bahwa sekarang Jemaat ini akan hancur. Orang Jemaat sendiri akan terjerat dalam kegelisahan. Mereka menjadi putus asa.
    Banyak orang yang malang berusaha menempuh jalan murtad.
    Pada waktu itulah Allah Ta’ala memperlihatkan kekuasaan-Nya
    yang hebat kedua kalinya. Dia menegakkan kembali Jemaat yang
    telah jatuh. Maka barangsiapa bersabar sampai akhir, Allah
    Ta’ala akan menunjukkan mukjizat itu.
    —————
    Kesimpulan saya:
    Beliau secara tidak langsung mengaku sbg seorang nabi dan Rasul karena beliau mengambil ayat:” Allah telah menulis bahwa Dia dan nabi-Nya akan menang (aAl-Mujadilah-58:21)”
    Jika HMGA bukan Nabi untuk apa beliau memakai ayat tsb untuk dirinya dan Jemaat nya

    kemudian beliau melanjutkan:

    “Sebagaimana yang terjadi pada zaman Hazrat Abu Bakar
    ash-Shidiq r.a. Tatkala kematian Nabi Muhammad saw. dianggap
    kematian yang belum waktunya. Banyak orang pedalaman yang
    jahil menjadi murtad. Para sahabat karena pukulan kesedihan
    menjadi seperti orang gila. Pada waktu itu Allah Ta’ala
    memperlihatkan lagi contoh kekuasaan-Nya dengan menampilkan
    Abu Bakar ash-shidiq r.a. Dia menegakkan Islam yang hampir
    hancur dan Dia memenuhi janji-Nya (dalam Q.S. An-Nur, 24:55,
    yakni: Kemudian Kami menguatkan mereka setelah ada ketakutan.

    Maka wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Sudah menjadi
    Sunnah Allah sejak dahulu bahwa Allah Ta’ala menunjukkan dua
    kekuasaan, supaya terlihat kehancuran dua kebahagiaan palsu
    para musuh. Kini tidak mungkin, Allah Ta’ala meninggalkan
    Sunnah-Nya (hukumNya) yang ‘qadim.’ Oleh karenanya,
    janganlah engkau sedih karena masalah yang saya jelaskan di
    hadapanmu. Janganlah hatimu gelisah. Karena engkau pasti
    juga akan melihat “kekuasaan kedua.” Dan kedatangannya lebih
    baik bagimu. Karena itu abadi, yang silsilahnya tidak
    terputus hingga Kiyamat. “Kekuasaan kedua” itu tidak dapat
    datang selama aku tidak pergi. Namun tatkala aku pergi, maka
    Allah akan mendatangkan “kekuasaan kedua” untukmu, yang
    senantiasa akan menyertaimu. Sebagaimana Allah telah
    berjanji dalam Barahin-i Ahmadiyah. Janji itu tidak
    berhubungan dengan saya pribadi, melainkan janji yang
    berhubungan denganmu. Sebagaimana difirmankan oleh Allah,
    “Aku akan menjadikan Jemaat yang menjadi pengikutmu ini
    unggul di atas yang lain hingga Kiamat.”””
    —————-
    Kesimpulan saya:
    Beliau memberi contoh khalifah Abu Bakar sbg kudrat kedua yang ditampilkan oleh Allah ketika umat Islam banyak yang murtad dan sbg pemenuhan ayat An Nuur:24-55, jadi kesimpulan lahore bahwa Mujadid adalah khalifah dgn mengambil surat tsb. Tidak sesuai dgn yang dijelaskan HMGA sendiri.
    Bukankah dgn begitu jelas bahwa kudrat kedua adalah kekhalifahan yang dipimpin oleh perorangan? Mohon garis bawahi juga:
    “Silsilah jemaat tidak akan terputus hingga kiamat…”
    “Kekuasaan kedua itu tidak dapat datang selana aku tidak pergi/wafat
    teladan bagi orang lain. Allah telah memberi kabar kepadaku,

    Kutipan lain:
    ” Aku akan membangkitkan seorang dari keturunanmu untuk
    Jemaatmu. Dan Aku akan mengistimewakannya dengan
    kedekatan-Ku dan wahyu-Ku. Dan dengan lantaran dia kebenaran
    akan meningkat. Dan banyak orang yang menerima kebenaran.
    Oleh karenanya nantikanlah hari-hari itu. Ingatlah, ada”
    ——————
    Kesimpulan saya:
    Anda garis bawahi: dan dgn lantaran dia kebenaran akan meningkat.
    Coba nubuatan tsb anda cocokan kepada BMA atau MMA. Lebih cocok mana?
    Bukankah sangat pantas ditujukan kepada BMA,
    Silahkan anda bayangkan bagaimana beliau BMA ditinggalkan oleh para seniornya yang memang sudah dinubuatkan oleh HMGA bahwa sepeninggal HMGA akan banyak yang murtad. (lihat catatan paling atas) BMA seorang diri dan beberapa pengikutnya mendirikan jemaat ditanah yang gersang dan tandus (Rabwah) tanpa fasilitas dana dll.
    Tapi justru keadaan tsb untuk membuktikan bahwa jemaat ini adalah jemaat yang didirikan oleh Ilahi karena beliau ltelah berhasil memberikan kemajuan yang pesat bagi jemaat dibuktikan dgn masuknya ribuan orang masuk kedalam jemaat ketika beliau menjadi khalifah.

    Kutipan lain
    9. Anjuman yang memegang uang tidak berwenang membelanjakan
    uang untuk keperluan yang lain-lain, kecuali untuk
    kepentingan-kepentingan Jemaat Ahmadiyah. Dari antara

    Disini jelas Anjuman bukanlah seorang khalifah, lembaga ini hanya mengurus masalah keuangan untuk kepentingan-kepentingan Jemaat…

    Wassalam,

  39. Mas Alif:

    Beliau secara tidak langsung mengaku sbg seorang nabi dan Rasul karena beliau mengambil ayat:” Allah telah menulis bahwa Dia dan nabi-Nya akan menang (Al-Mujadilah-58:21)”
    Jika HMGA bukan Nabi untuk apa beliau memakai ayat tsb untuk dirinya dan Jemaat nya

    Perkataan Nabi dan Rasul yang dipergunakan HMGA bukanlah dalam artian yang sebenarnya
    “It is true that, in the revelation which God has sent upon this servant, the words nabi, rasul and mursal [a variant of rasul] occur about myself quite frequently. However, they do not bear their real sense. … according to the real meaning of nubuwwat [prophethood], after the Holy Prophet Muhammad no new or former prophet can come. The Holy Quran forbids the appearance of any such prophets. But in a metaphorical sense God can call any recipient of revelation as nabi or mursal. … I say it repeatedly that these words rasul and mursal and nabi undoubtedly occur about me in my revelation from God, but they do not bear their real meanings. … This is the knowledge that God has given me. Let him understand who will. This very thing has been disclosed to me that the doors of real prophethood are fully closed after the Last of the Prophets, the Holy Prophet Muhammad. According to the real meaning, no new prophet or ancient prophet can now come.” (Siraj Munir, p. 3)
    Mas Alif:

    Kesimpulan saya:
    Beliau memberi contoh khalifah Abu Bakar sbg kudrat kedua yang ditampilkan oleh Allah ketika umat Islam banyak yang murtad dan sbg pemenuhan ayat An Nuur:24-55, jadi kesimpulan lahore bahwa Mujadid adalah khalifah dgn mengambil surat tsb. Tidak sesuai dgn yang dijelaskan HMGA sendiri.
    Bukankah dgn begitu jelas bahwa kudrat kedua adalah kekhalifahan yang dipimpin oleh perorangan? Mohon garis bawahi juga:
    “Silsilah jemaat tidak akan terputus hingga kiamat…”
    “Kekuasaan kedua itu tidak dapat datang selana aku tidak pergi/wafat
    teladan bagi orang lain. Allah telah memberi kabar kepadaku,

    Kalau mas Alif sudah baca buku HMGA Shahadatul Quran akan jelas bahwa Hazrat Abu Bakar (Khalifatur Rasyidin) yang merupakan Khalufah Nabi Suci ini tidak akan berakhir melainkan akan terus hingga hari kiamat, termasuk para Khalifah Nabi SUci ini adalah Mujaddid, jadinya Hazrat Abu Bakar merupakan Qudrati Tsani itu betul, namun dalam hal ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad juga merupakan mata rantai dari Khalifah tsb.
    dalam Al-Wasyiat dijelaskan bahwa Kekuasaan kedua atau Qudrati Tsani ini merupakan pertolongan yang dijanjikan Allah kepada Nabi Isa dan juga kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad selaku Al Masih Muhammadi. Dan pertolongan ini tiada lain adalah bahwa Allah akan menyelamatkan bahtera Ahmadiyah ini dari segala kerusakan dan penyimpangan-penyimpangan ajaran HMGA. Dan hal ini telah terjadi ketika Paulusnya Masih Mau’ud mencoba merusak ajaran HMGA dengan mengangkat derajat seorang Mujaddid menjadi Nabi

    Mas Alif:
    Kesimpulan saya:

    Anda garis bawahi: dan dgn lantaran dia kebenaran akan meningkat.
    Coba nubuatan tsb anda cocokan kepada BMA atau MMA. Lebih cocok mana?
    Bukankah sangat pantas ditujukan kepada BMA,
    Silahkan anda bayangkan bagaimana beliau BMA ditinggalkan oleh para seniornya yang memang sudah dinubuatkan oleh HMGA bahwa sepeninggal HMGA akan banyak yang murtad. (lihat catatan paling atas) BMA seorang diri dan beberapa pengikutnya mendirikan jemaat ditanah yang gersang dan tandus (Rabwah) tanpa fasilitas dana dll.
    Tapi justru keadaan tsb untuk membuktikan bahwa jemaat ini adalah jemaat yang didirikan oleh Ilahi karena beliau ltelah berhasil memberikan kemajuan yang pesat bagi jemaat dibuktikan dgn masuknya ribuan orang masuk kedalam jemaat ketika beliau menjadi khalifah.

    Menurut saya bukan pada thread yang pas untuk membahas Muslih Mau’ud, namun bila ingin melihat alasan-alasan Lahore menolak BMA sebagai Muslih Mau’ud silahkan lihat di: http://www.muslim.org/qadis/faqq.htm pada point no 7

    Mas Alif:

    9. Anjuman yang memegang uang tidak berwenang membelanjakan
    uang untuk keperluan yang lain-lain, kecuali untuk
    kepentingan-kepentingan Jemaat Ahmadiyah. Dari antara

    Disini jelas Anjuman bukanlah seorang khalifah, lembaga ini hanya mengurus masalah keuangan untuk kepentingan-kepentingan Jemaat

    Jelas pemahaman ini keliru sebab pada point no 13 nya tertulis

    “13. As the Anjuman is the successor to the Khalifa appointed by God, it must remain absolutely free of any kind of worldly taint.”

  40. Baiklah Mas Erwan, saya ambil referensi dari http://www.aaiil.org sendiri
    mengenai kenabian apa yang disandang oleh HMGA dan juga dipercaya oleh Qadiani (panggilan ramah anda kpd kami)
    Tertulis di hal. 34 di Review of Religion yang terbit thn 1903 :
    …it was also ordained that the last successor of the Holy Prophet, The Promise Messiah,
    SHOULD BE CALLED A PROPHET, so that the resemblance referred to above, might be complete. The prophethood of the Promised Messiah moreover a not a substantial and indenpendent prophethood but one acquired throught the holy Prophet. It is on account of his being a perfect manifestation of the Holy prophet that he has received the title of a prophet. Thus in the Barahin-Ahmadiyya, almighty God addressed me saying ” O, Ahmad, thou hast been made an apostle.
    In these words it is indicated that as being the manifestation of the Holy Prophets, I was called Ahmad, though my name was Gulam Ahmad, so being Ahmad, I was made a prophet, for Ahmad was a Prophet….
    J/A percaya bahwa Muhammad saw adalah nabi terakhir yang membawa syariat
    namun nabi yang tidak membawa syariat atau nabi yang mengikuti beliau dan karena ketaatan kepada Muhammad saw sbg manifestasi nya beliau Saw masih bisa berlangsung terus. HMGA adalah nabi yang tidak berdiri sendiri (tidak indenpendent) beliau menjadi nabi karena ketaatan beliau kepada Muhammad saw sbg Khatamannabiyin
    dan seharusnya Lahore tidak menutup mata dengan penjelasan tsb,
    wassalam.

  41. Ahmadiyah Lahore juga meyakini bahwa Nabi Isa yang akan turun pada umat Muhammad di Akhir zaman juga merupakan “Nabi” (Nabi dalam tanda petik), Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, menjelaskan bahwa karena Nabi Suci adalah Nabi terakhir dan Agama Islam telah sempurna, karena itu kata “Nabi” dalam Hadits itu harus ditafsirkan supaya tidak bertentangan dengan ayat Muhkammat yakni bahwa Nabi Suci itu merupakan Khataman Nabiyyin

    “The epithet ‘prophet of God’ for the Promised Messiah, which is to be found in ‘Sahih Muslim’ etc. from the blessed tongue of the Holy Prophet, is meant in the same metaphorical sense as that in which it occurs in Sufi literature as an accepted and common term for the recipient of Divine communication. Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?”(Anjam Atham, footnote, p. 28)
    Karena itulah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menggunakan kata nabi untuk ‘Nabi Isa’ yang dijanjikan itu dalam literatur Sufi yang terlebih dahulu dipopulerkan oleh Ibnu Arabi, Yakni seperti:
    – Nabi Ghair Mustaqil
    – Nabi Wa Ummati
    – Nabi Ghair Tasyri
    – Juz’i Nubuwat (imperfect prophethood)

    Namun kesemua itu merujuk kepada Muhaddats

    1. “It is absolutely clear from all these indications that he [the Messiah to come] will not have the attribute of full prophethood in the actual and real sense. However, imperfect prophethood will be found in him, which in other words is known as muhaddasiyya, and contains in itself one element from among all the elements of full prophethood.”— Izala Auham, p. 533.

    2. “The possessor of full prophethood can never be a follower (ummati), and it is absolutely prohibited by the Quran and Hadith that the man who is called messenger (rasul) of God in the fullest sense could be a complete sub-ordinate and disciple of another prophet. Almighty God says [in the Holy Quran]: ‘We did not send any messenger but that he should be obeyed by God’s permission.’ That is, every messenger is sent to be a master and leader, not to be a disciple and sub-ordinate of someone else. However, a muhaddas, who is a ‘sent one’, is a follower and also, in an imperfect sense, a prophet.” Izala Auham, p. 569.

    3. “In a partial sense the door of revelation and prophethood is always open for this blessed Umma. However, it should be remembered with presence of mind that this prophethood which continues forever is not full prophethood but, as I have just explained, it is only a partial prophethood which in other words is named by the term muhaddasiyya. It is obtained by obedience to the Perfect Man who contains within himself all the qualities of full prophethood, that is, the person possessing all the praiseworthy qualities, namely, our Leader and Master Muhammad, may peace and the blessings of Allah be upon him.”
    — Tauzih Maram, p. 10.

    Zill and Burooz are terms for non-prophets

    4. “I firmly believe that our Holy Prophet Muhammad is the Khatam al-anbiya, and after him no prophet shall come for this Umma, neither new nor old. Not a jot or iota of the Holy Quran shall be abrogated. Of course, muhaddases will come who will be spoken to by God, and possess some attributes of full prophethood by way of reflection (zill), and in some ways be coloured with the colour of prophethood. I am one of these.”
    — Nishan Asmani, May 1892, p. 28. [TOP]

    5. “The prophet is the real thing, and a saint is the zill.”
    — Karamat as-Sadiqeen, August 1893, p. 85. [TOP]

    6. “Corresponding to the issues of every age, for the resolving of those issues, spiritual teachers are sent who are the heirs of the messengers [rusul, plural of rasul] and who attain the qualities of the messengers by way of zill. And the mujaddid whose work bears striking similarity to the appointed task of one of the messengers, is called by the name of that rasul in the sight of Allah.” — Shahadat al-Quran, September 1893, p. 52.

    8. “Objection: Only a prophet can be the like of a prophet.

    “Answer: The entire Umma is agreed that a non-prophet takes the place of [or deputises for] a prophet by way of burooz. This is the meaning of the hadith report: ‘The ulama of my Umma are like the Israelite prophets’. Look, the Holy Prophet has declared the ulama to be like prophets. One hadith says that the ulama are the heirs of the prophets. Another hadith says: Among my followers, there will always be forty men who take after the heart of Abraham. In this hadith, the Holy Prophet has declared them to be the likes of Abraham.” — Ayyam as-Sulh, August 1898, p. 163.

    Untuk menjembatani perbedaan ada baiknya kita lihat apa yang dimaksud oleh Imam Ghulam Ahmad dengan Nabi Ghairi Tasyri itu:
    “The point is worth remembering that to call the denier of one’s claim as kafir is only the privilege of those prophets who bring a shariah and new commandments from God. But apart from possessors of shariah (sahib-i shariah), all the others who are muhaddas, no matter how high a rank they may have with God, and be exalted with the robe of Divine revelation, no one becomes a kafir by denying them.” — Tiryaq al-Qulub, October 1902, p. 130, footnote.

    Jelas sekali bahwa makna dari
    – Nabi Ghair Mustaqil
    – Nabi Wa Ummati
    – Nabi Ghair Tasyri
    – Juz’i Nubuwat (imperfect prophethood)
    dalam literatur Sufi itu merujuk kepada Muhaddats, bukan kepada kenabian yang sebenarnya, karena bagaimana mungkin datang lagi seorang nabi setelah Khatam al -anbiya?
    HMGA:
    Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?” (Anjam Atham, footnote, p. 28)

  42. Bolak-balik terus
    Boleh tahu apa artinya terjemahan tulisan dari lahore dibawah ini:

    Tertulis di hal. 34 di Review of Religion yang terbit thn 1903 :
    …it was also ordained that the last successor of the Holy Prophet, The Promise Messiah,
    SHOULD BE CALLED A PROPHET

    Wassalam,

  43. Bukankah Qadiyani juga mengatakan bahwa kenabian HMGA itu bukan Nabi Independent?, Bukan Nabi Tasyri??, nah kalimat Nabi Independent itu dalam bahasa Arabnya adalah Nabi Ghairi Tasyri dsb yang saya jelaskan diatas. Hal ini semata-mata untuk menjelaskan bahwa Hadits itu tidak boleh bertentangan dengan Quran Suci dan penjelasan Nabi yang sangat terang benderang, bahwasannya Nabi Isa telah wafat dan kenyataan tertulis dalam Quran Suci bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.
    Atau mungkin Qadiyani telah mengubah keyakinan lagi? bahwa HMGA itu adalah Nabi Independent?? (Nabi Mustaqil?)

  44. Saya malah jadi bingung..anda salah ketik atau apa?

    anda malah tidak mau menterjemahkan kalimat dari referensi Lahore sendiri dan malah balik bertanya pada saya….
    Baiklah mas erwan
    saya hanya ambil kesimpulan bahwa menurut referensi Lahore sendiri di tahun 1903,
    The Promise Messiah should be called a Prophet
    dgn keterangan bahwa menjadi Nabi karena ketaatan beliau kepada Allah dan Muhammad saw sbg Khataman Nabiyin..
    dan hal ini sama seperti anggapan Qadiani sampai saat ini….
    Lalu kenapa Lahore/MMA harus ngotot bahwa HMGA tidak boleh dipanggil demikian dlm arti kenabian tsb bahkan sampai harus memisahkan diri dari induknya?

  45. Mas Alif:

    The Promise Messiah should be called a Prophet
    dgn keterangan bahwa menjadi Nabi karena ketaatan beliau kepada Allah dan Muhammad saw sbg Khataman Nabiyin..

    Dengan kata Lain, Masih Mau’ud adalah Nabi, namun tidak boleh berhenti mengucapkan HANYA Nabi saja melainkan harus ada penjelasan Nabi Wa Ummati (ditempat lain disebut Nabi Buruz, nabi Zhill dsb), yakni Masih yang dijanjikan itu menjadi nabi karena ketaatannya dia mengikuti Nabi Suci. Kesemua itu telah saya jelaskan diatas yang BERDASARKAN TULISAH HMGA tiada lain merujuk kepada MUHADDATS, sebab:
    Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?” (Anjam Atham, footnote, p. 28)
    Paham?

  46. Kesimpulan anda:
    Nabi umati merujuk Muhadast
    atau Muhadast itu dgn kata lain Nabi umati menurut anda..

    Akhirnya setelah diberi referensi Lahore sendiri tsb mau tidak mau anda Lahore harus mengakui bahwa beliau adalah Nabi umati persis apa yang sering dikatakan oleh qadian
    bahwa belia hanya sbg nabi umati…
    Memang itu yang selalu dijelaskan oleh qadian mengenai jenis kenabian HMGA..
    Jadi masalah apa yang menyebabkan MMA harus keluar dari induknya? toh penjelasan pangkat kenabiannya sama.
    cuma dibolak-balik…
    Kenapa MMA tidak mau mendengarkan penjelasan BMA/qadian mengenai jenis kenabiannya HMGA…
    Jadi terbukti bahwa alasan mengenai kenabian indenpendent HMGA yang dilontarkan oleh MMA kpd BMA itu adalah fitnah dan mengada-ngada padahal inti penjelasannya sama saja..
    so whats the problem?
    Wassalam,

  47. Kesimpulan anda:
    Nabi umati merujuk Muhadast
    atau Muhadast itu dgn kata lain Nabi umati menurut anda..

    Akhirnya setelah diberi referensi Lahore sendiri tsb mau tidak mau anda Lahore harus mengakui bahwa beliau adalah Nabi umati persis apa yang sering dikatakan oleh qadian
    bahwa belia hanya sbg nabi umati…
    Memang itu yang selalu dijelaskan oleh qadian mengenai jenis kenabian HMGA..
    Jadi masalah apa yang menyebabkan MMA harus keluar dari induknya? toh penjelasan pangkat kenabiannya sama.
    cuma dibolak-balik…
    Kenapa MMA tidak mau mendengarkan penjelasan BMA/qadian mengenai jenis kenabiannya HMGA…
    Jadi terbukti bahwa alasan mengenai kenabian indenpendent HMGA yang dilontarkan oleh MMA kpd BMA itu adalah fitnah dan mengada-ngada padahal inti penjelasannya sama saja..
    so whats the problem?
    Wassalam,

    Mas Alif salah, Ahmadiyah mempercayai bahwa Masih Yang dijanjikan itu adalah “Nabi” namun karena Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir maka kata nabi dalam pelbagai Hadits itu harus ditafsirkan sedemikan rupa sehingga tidak bertentangan dengna penjelasan Qur’an Suci bahwa Islam telah sempurna dan Muhammad sebagai Khataman-nabiyyin. Karena itu “Nabi” untuk Masih Muhammadi itu adalah Nabi wa Ummati, Nabi Buruuz, Nabi Zhilli, Nabi Juz’i yang kesemua itu merujuk kepada Muhaddats. dan yang tidak mempercayainya tidak keluar dari Islam. Berbeda dengan Sekte Qadiyani penjelasan HMGA tentang Nabi untuk Masih yang akan datang itu adalah Nabi wa Ummati, Nabi Buruuz, Nabi Zhilli, Nabi Juz’i dianggap sebagai Nabi Hakiki karena itu yang tidak mempercayainya adalah Kafir dan Diluar Islam, sama halnya dengan kafirnya umat Kristen dan Hindu, karena itu jangan harap Sekte Qadiyani mau bergabung dengan umat ISlam lainnya bermakmum kepada diluar Golongannya, dan jangan harap Sekte Qadiyani mau menshalati jenazah diluar Golongannya. MEskipun Sekte Qadiyani juga tidak mau menciptakan syahadat baru yang menyebabkan seseorang itu (dianggap oleh Sekte Qadiyani) sebagai Islam

  48. Tidak ada nabi syari’at ataupun nabi ghairu syari’at selepas wafatnya Rasulullah Muhammad saw.

    Hal ini dikarenakan Rasulullah Muhammad saw bersabda :

    لا نبي بعدي

    Tidak ada seorang nabi setelah aku.

    Ini jelas me-nafi-kan (meniadakan) nabi baik jenis nabi syari’at ataupun ghairu syari’at karena lafazh نبي adalah ism nakirah (kata benda umum) yang mencakup semua satuan-satuan yang bisa masuk di dalamnya.

    Adapun penyebutan nabi dan rasul secara etimologi maka itu sah-sah saja tetapi bukan berarti bahwa nabi dan rasul (secara etimologi) tsb adalah mendapat wahyu dari Allah sebagaimana wahyu-wahyu yang umum datang ke pada nabi allah.

    Jika mimpi yang baik menjadi ciri adanya kenabian kecil, maka setiap orang yang memperoleh hal tsb maka menjadi nabi.

    Tentunya tidak demikian, karena jelas bahwa Rasulullah Muhammad saw adlaah nabi dan rasul terakhir yang mendapat wahyu dari Allah seara khusus.

    Seandainya ada nabi ghairu syari’at selepas Rasulullah Muhammad saw, tentunya umar bin Khaththab lah yang berhak disebut nabi.

    Bahkan, mungkin Ali kw lebih berhak disebut nabi tetapi Nabi Muhammad saw berkata kepada Ali kw :

    “Tidakkah engkau rela menjadi laksana Harun di samping Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”

    Ketika Ibrahim (anak Nabi Muhammad saw) wafat dikatakan bahwa :

    حدثنا ابن نمير: حدثنا محمد بن بشر: حدثنا إسماعيل: فلت لابن أبي أوفى:
    رأيت إبراهيم ابن النبي صلى الله عليه وسلم؟ قال: مات صغيراً، ولو قضي أن يكون بعد محمد صلى الله عليه وسلم نبي عاش ابنه، ولكن لا نبي بعده

    Ibrahim wafat ketika kecil, seandainya ditakdirkan setelah nabi Muhammad saw dia (ibrahim) hidup tentulah dia menjadi nabi, tetapi tidak ada seorang nabi setelah Muhammad saw. (HR. Bukhari no.5841)

    Allah mentakdirkan tertutupnya pintu kenabian dengan tidak memberikan anak laki-laki yang hidup bagi Rasulullah Muhamamd saw. Seandainya ada nabi ghairu syari’at maka tentulah Ibrahim akan hidup atas ijin Allah.

    Semua yang mengaku nabi, baik nabi syari’at wa ghairu syari’at adalah para pendusta yang sengaja mengada-adakan sesuatu untuk mengaburkan apa yang disampaikan secara tegas oleh Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw.

    Barakallahu fii kum

  49. Maka tidak ada jalan lain selain menafsirkan khootaman nabiyyiina dengan Laa nabiya ba’diy berdasarkan penjelasan dari lisan Rasulullah Muhammad saw :

    dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

    وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
    “Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatam an nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.” (HR. Abu Daud, Kitab Al Fitan wal Malahim Bab Dzikru Al Fitan wa Dalailuha, Juz. 11, Hal. 322, No hadits. 3710. At Tirmidzi, Kitab Al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Ja’a Laa Taqumus Sa’ah hatta Yakruju Kadzdzabun, Juz. 8, Hal. 156, No hadits. 2145. Katanya: Hasan Shahih. Syaikh al Abany mengatakan: Shahih. Lihat Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406 )

  50. bayangkan, seandainya Saidina Muhammad SAW dianugerahi kenabian dan kerasulan oleh Allah SWT disaat kedua orang tua beliau masih hidup, apalah jadinya syiar Islam itu berjalan?

    bayangkan, seandainya Saidina Muhammad SAW dianugerahi anak ‘lelaki’ yang hidup sampai dewasa dan mempunyai keturunan, apakah ‘keturunan’-nya mampu mengemban tanggungjawab (moral) sebagai ‘pewaris’ tahta Ahlul Bait?

  51. Issu kedatangan Imam Mahdi itu sebenarnya wujud harapan pengikut Nabi Ibrahim As. setelah beliau berdoa sbb.: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. 2:129).

    Oleh katurunan beliau ini selanjutnya, ditunggu-tunggulah kedatangannya sampai datang nabi terakhir dari dinasti Bani Israel yakni Nabi Isa As bin Maryam. Namun sayang, dalam kitab Injil, kitab terakhir yang dianugerahi pada keturunan Israil, masih juga disebut issu Imam Mahdi, Mesiah, Satrio Piningit dsb. berarti masih akan datang lagi Imam Mahdi yang pamungkas, yang sesungguhnya.

    Maka akhirnya, lahirlah Nabi kita Muhammad SAW sebagai Rasul Allah dan sekaligus penutup para nabi (QS. 33:40) dengan membawa Al Quran yang didalamnya memuat pernyataan atau ikrar Allah SWT bahwa Nabi dan Rasul Muhammad SAW adalah sebagai nabi pemungkas atau terakhir, dan sudah itu tidak akan ada lagi manusia yang diangkat dan dianugerahi sebagai nabi.

    Selain sebagai nabi terakhir, Saidina Muhammad SAW dianugerahi nama agama, yang sebelum ini para nabi terdahulu tidak diberikan nama agamanya, yakni ISLAM (QS. 5:3). Karena itu, nama Islam tidak pernah tersebut sama sekali dalam kitab-kitab suci sebelum Al Quran.

    Dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW sekaligus juga terjawablah issu tentang akan datang lagi Nabi Isa bin Maryam dan issu Imam Mahdi. Nabi Isa As. tidak akan datang lagi karena sudah tegas dinyatakan dalam Al Qiran (S. 2:134 dan 141). Begitu juga tentang Imam Mahdi tidak akan ‘muncuk’ bagi Syiah, dan tidak akan lahir lagi bagi Sunni karena sebagai Imam Mahdi yang ditunggu iotu tidak lain adalah penutup para nabi yakni Nabi kita Saidina Muhammad SAW.

    Tinggal bagaimana para khalifah-khalifah (ya raja, presiden, gubernur, pangeran, sultan, bupati atau walikota) kini dan yang akan datang ‘mampu’ membumikan Islam dan Al Quran dalam kehidupan nyata di dunia ini, ya masalah sosial budaya terutama masalah kekuasaan dan pemerintahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: