AL-KHILAFAH FIL ISLAM, IKUTI SERUAN MUJADDID PADA ABADNYA!

Oleh: Erwan 

Membicarakan Khalifah dalam konteks agama Islam (Khalifah Islam / Kekhalifahan dalam Islam) tentulah kita sebagai umat Muslim tidak boleh terlepas dari pijakan Qur’an Suci dan Hadits, apa dan bagaimana keKhalifahan itu menurut konsep Islam haruslah kita tempatkan pada posisi yang tepat. Tegaknya kekhalifahan pasca wafatnya Nabi Suci adalah merupakan janji Allah yang tentunya tidak seorang Muslimpun meragukannya. Nubuat tegaknya Khalifah Islamiyah ini terdapat dalam surat Annur ayat 55 (Qs 24:55)

Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa, dan bahwa Ia akan menegakkan bagi mereka agama mereka yang telah Ia pilih, dan bahwa Ia akan memberi keamanan sebagai pengganti setelah mereka menderita ketakutan. Mereka akan mengabdi kepada-Ku, dan tak akan menyekutukan Aku dengan apa pun. Dan barangsiapa sesudah itu tidak terima kasih, mereka adalah orang yang durhaka (Qs 24:55)

Menurut Abu Sa’id Abdullah bin ‘Umar Al-Baidlawi dalam kitab tafsirnya Anwa­rut-Tanzil wa Asrarut-Ta’wil Yang dimaksud orang-orang sebelum mereka ialah para pengikut Nabi Musa. Dikarenakan masih terpaut dengan Nabi Musa maka ada baiknya kita flash back untuk melihat Nubuatan Nabi Musa tentang kedatangan Nabi Suci. Dika­takan :

Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. (Ulangan 18:18)

Pada umumnya ulama Islam yang mempunyai spesialisasi di bidang Kristologi mengatakan bahwa persamaan antara Nabi Musa dengan Nabi Suci Muhammad saw, adalah terletak pada sama-sama punya ayah, sama-sama terlahir normal, sama-sama menikah, sama-sama diterima kaumnya, sama-sama meninggal dan dikubur didunia

Persamaan ini benar jika tujuannya hanya untuk mendeskreditkan Yesus dari per­samaan dengan Nabi Musa (karena Umat Kristen “kekeh” mengatakan bahwa Nabi yang di janjikan yang seperti Musa adalah Yesus). Namun ke 5 persamaan di atas sangat tidak spesifik sebab kita tahu para Nabi yang punya Ayah bukan hanya Nabi Musa dan Nabi Muhammad saja, para Nabi yang terlahir normal bukan hanya Nabi Musa dan Nabi Muhammad saja, para Nabi yang menikah bukan hanya Nabi Musa dan Nabi Muhammad saja, Yang diterima oleh kaumnya bukan hanya Nabi Musa dan Nabi Muhammad saja dan yang meninggal lalu dikubur di dunia bukan hanya Nabi Musa dan Nabi Muhammad saja. Persamaan antara Nabi Musa dengan Nabi Muhammad yang spesifik dan unik adalah terletak pada kekhalifahan pasca wafatnya mereka. Setelah Nabi Musa wafat maka Allah ta’ala mengutus utusan :

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab kepad Musa, dan sesudah dia, Kami utus berturut-turut para Utusan (2:87)

Namun dalam Qur’an Suci ditegaskan bahwa Nabi Suci Muhammad adalah Khata­man-Nabiyyin (Qs 33:40) di mana setelahnya tidak akan datang lagi baik nabi baru mau­pun nabi lama maka pasca Nabi Suci wafat orang yang datang menggantikannya (baca: Khalifah) bukan seorang Nabi. Nabi Suci menjelaskan:

Adapun Bani Israil itu dipimpin oleh Nabi-Nabi setiap seorang nabi wafat maka datanglah nabi yg lain, dan sesungguhnya sesudah saya tdk akan datang nabi lagi, tetapi akan ada khalifah-khalifah yang banyak (Bukhari)

Karena itu salah sekali jika ada anggapan bahwa Khalifahnya Nabi Suci hanya terbatas pada Khalifatur Rasyidin yakni Hadzrat Abu Bakar As-Shiddiq, Hadzrat Umar bin Khattab ra, Hadrat Utsman ra, dan Hadzrat Ali ra. Orang yang berpandangan demikian hendaklah merenungkan dimanakah letak keagungan Nabi Suci[i] dibanding Nabi Musa jika kepada Nabi Musa Allah mengutus banyak sekali khalifahnya (yakni para nabi Is­raeli) sedangkan dalam umat Nabi Suci Muhammad hanya terbatas empat Khalifah saja?[ii].  Menurut pendapat saya anggapan demikian sama saja dengan tuduhan kaum kafir Quraisy yang mengatakan bahwa Nabi Suci itu adalah Abtar[iii](Qs 108:3). Anggapan ini tentunya tidak akan terjadi bila kita mencermati nubuatan persamaan Nabi Suci dengan Nabi Musa. Dalam umat Nabi Musa, ada Khalifah yang sifatnya Duniawi saja seperti Yo­shua, ada yang bersifat Rohani saja seperti Nabi Musa namun ada yang datang dengan membawa kedua-duanya yakni kejayaan Duniawi dan Rohani seperti Nabi Daud. Begi­tupula halnya dengan umat Nabi Suci Muhammad. Khalifah Nabi Suci ada yang mem­bawa kejayaan Duniawi seperti halnya para Khulafaur Rasyidin namun ada juga yang bersifat Rohani. Khalifah Nabi Suci yang bersifat Rohani inilah yang nampaknya lu­put dari mata kita hingga banyak sekali ajaran-ajaran mereka diabaikan bahkan ditentang habis-habisan. Khalifah Nabi Suci yang bersifat Rohani ini bukan nabi[iv], mereka adalah para Mujaddid yang senantiasa dibangkitkan Allah tiap-tiap abad, Nabi bersabda:

Innallaha yab’atsu lihadzihi ummati ‘ala rasi kulli mi atin man yujaddidu laha dinaha

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat ini (Muslim) pada permulaan tiap abad (Hijriah) orang-orang yang memperbaharui (Mujaddid) ajaran-ajaran agamanya”.(Hr Abu Daud Sulaiman, wafat 274 H., Kitab al-Sunan, Ch. al-Maluhim; dicetak dr Ansari Press, Delhi, India, vol. 2, hal. 241),

sejarah mencatat pada tiap-tiap abad ada saja pengakuan kemujaddidan seperti:

 

Abad pertama: Umar bin ‘Abdul Aziz

Abad kedua: Imam Syafi’ie & Imam Ahmad bin Hanbal

Abad ketiga: Abu Sharh & Abul Hasan ‘Asy’ari

Abad keempat: Abu Ubaidullah dr Neshapur & Qadi Abu Bakr Baqilani

Abad kelima: Imam al-Ghazali

Abad keenam: al-Sayyid Abdul Qadir Jailani

Abad ketujuh: Imam Ibnu Taimiyyah & Khwaja Muinuddin Khisti

Abad kedelapan: Ibnu Hajar Asqalani & Salih ibn Umar

Abad kesembilan: Sayyid Muhammad Jaunpuri

Abad kesepuluh: Imam Suyuthi

Abad kesebelas: al-Saikh Ahmad, dr Sirhind (Mujaddid Alfitsani

Abad keduabelas: Syah Waliyullah Muhaddats Dehlavi

Abad ketigabelas: Sayyid Ahmad Barelavi

(Sumber: Nawab Siddiq Hassan Khan, Hujajul-Kiramah, hal. 135-139, diterbitkan oleh Shah Jehan Press, Bhopal, Pakistan)

 

Tentang Mujaddid abad ke-14 Hijriah dikatakan:

 

“dan pada permulaan abad ke-14, yang masih tinggal sepuluh tahun lagi, apabila terjadi datangnya Mahdi dan turunnya Yesus, mereka akan merupakan Mujaddid dan Mujta­hid”.(Ibid: Hal 139)[v]

 

Jauh sebelumnya Nabi Suci telah menubuatkan masalah kekhalifahan ini dan kon­sep khalifah di akhir zaman yakni:

 

Prophethood shall remain among you as long as Allah shall will. He will bring about its end and follow it with khilafat on the presepts of prophethood for as long as He shall will and then bring about its end. A tyrannical monarchy will then follow and will remain as long as Allah shall will and then come to an end. There will follow there after monarchi­cal depotism to last as long as Allah shall will and come to an end upon His decree. There will then emerge Khilafat on percept of prophethood (Musnad Ahmad)

 

Masa Khilafah Rasyidin yang dikatakan sebagai khilafat on the precept of prophethood (Khilafat minhajin nubuwwah) selama Allah menghendaki dimulai dengan Abu Bakar Siddiq, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Arti dari Khilafat minhajin nubuwwah adalah suatu kekhali­fahan yang mengikuti petunjuk, aturan, pelaksanaan nilai moral sesuai dengan contoh yang diberikan Nabi Suci. Jadi khilafat setelah wafatnya Nabi Suci berakhir de­ngan wafatnya Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian tidak benar pendapat Hizbut Tahrir bahwa Khilafat Islami berakhir dengan dibubarkannya kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kemal Pasha pada tahun 1924. Kemudian muncul kerajaan-kerajaan Tirani (Malikan Adhdhon) selama masa yang panjang, dimulai dengan Mu’awiyah dan berlang­sung sampai berakhirnya Bani Umayah. Kemudian akan muncu kerajaan-kerajaan Di­taktor (Despotik – Malikan jabriyyatan) yang tidak kalah bengisnya dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan dalam silsilah sebelumnya, dan berakhir dengan runtuhnya Bani Abasiyah dan Fatimah. Setelah masa malikan adhdhon dan malikan jabriyyatan berakhir maka kini era yang tampil adalah kembalinya era Khilafat minhajin nubuwwah[vi] yakni suatu kekhalifahan yang mengikuti petunjuk, aturan, pelaksanaan nilai moral sesuai deng­an contoh yang diberikan Nabi Suci, siapakah mereka itu?, jawabannya adalah, kini saat­nya para Mujaddid -yang selama ini datang hanya dengan kekuasaan rohani tidak dengan kekuasaan Duniawi– tampil memimpin dunia Islam dengan menjadi Khalifah dan ulil amri Duniawi dan Rohani. Saya berkeyakinan bahwa hanya manusia dari Allah sajalah yang bisa menyatukan segala macam perbedaan firqah umat Islam, hanya manusia dari Allah sajalah yang bisa menyatukan bahkan merekatkan kembali perpecahan Suni-Syiah, hanya manusia dari Allah sajalah yang bisa tampil cantik dalam menghadapi segala macam perbedaan mazhab, sekte bahkan akidah bukan hanya dalam intern umat Islam melainkan antara umat Islam dan non Islam sebab Nabi Suci juga menubuatkan dalam haditsnya

“saya ini Al-Hasyir (yang mengumpulkan) karena yang mengumpulkan segala manusia mengikuti jejakku” (HR Bukhari-Muslim)

Jadi Khilafat minhajin nubuwwah atau Khilafah yang besifat Ilhamiyah[vii] ini akan tam­pil memimpin dunia sesuai sabda Nabi Suci. Mereka akan berdasar kepada vox dei vox populi (suara Tuhan adalah suara Rakyat) bukan kepada vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), sebab:

 

Boleh jadi kamu tak menyukai suatu barang, sedangkan barang itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai suatu barang, sedangkan barang itu tak baik bagi kamu; dan Allah tahu, sedangkan kamu tak tahu (Qs 2:216)

 

Mungkinkah dalam keadaan itu yang menjadi Khalifah adalah Imam Mahdi? Hanya Allah Yang Maha Tahu namun yang pasti mereka adalah mahdi[viii], yakni orang yang menda­pat petunjuk dari Allah.

 

 


 

[i] Arti khataman Nabiyyin adalah kesempurnaan kenabian yang mana dengan datangnya itu berakhirlah silsilah kenabian. Jadi selain bermakna Nabi terakhir tersimpan makna bahwa Nabi Suci mempunyai maqam yang jauh melebihi para Nabi, hal ini terlihat ketika Mi’raj Nabi Suci yang terus melaju tinggi melebihi seluruh Nabi, bahkan dia yang meng imami para Nabi ketika shalat di masjid Al-Aqsha.

[ii] Azyurmadi Azra menulis dalam artikel Relevansi Khilafah di Indonesia, Kompas, Sabtu 18 Agustus 2007 hal 6, bahwa “Kekhalifahan (Khilafah), menurut sejarawan terkemuka Ibn Khaldun, tamat dengan berakhirnya al-Khulafa’ al-Rasyidun”

[iii] Kata abtar berasal dari kata batr, maknanya memutus atau memotong sama sekali suatu barang; jika kata ini diterapkan bagi binatang, ini berarti binatang yang terputus. Kaum Kafir Quraisy acapkali sesumbar, bahwa dikarenakan Nabi Suci tidak mempunyai keturunan laki-laki maka silsilah dia akan terputus (abtar) yang karenanya kelak nama Muhammad akan segera dilupakan dan tenggelam karena tidak ada yang seorangpun yang akan menyandang nama “Fulan bin Muhammad”. Qur’an Suci merupakan kitab yang penuh dengan hikmah, setiap untaian katanya tersirat makna yang sangat agung, dalam surat Al-Ahzab dikatakan: Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. Dan Allah senantiasa Yang Maha-tahu akan segala sesuatu. (Qs 33:40), secara jasmani Nabi Suci memang tidak mempunyai keturunan (Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu) namun beliau adalah seorang Rasul Allah (melainkan dia itu Utusan Allah). Tiap-tiap Rasul merupakan ayah ruhani bagi umatnya, itu sebabnya ditempat lain dikatakan bahwa istrinya Nabi Suci merupakan ummul mukminin (Ibunya kaum Mukmin) (Qs 33:6). Silsilah keruhanian Nabi Suci akan terus-menerus berlangsung hingga hari kiamat sebab setelah beliau tidak akan datang lagi nabi, baik nabi baru maupun nabi lama. Karena kedatangan seorang nabi setelah Nabi Suci akan memutus garis keturunan Nabi Suci dan menggantikan garis keturunan Nabi Suci dengan Nabi yang datang itu, itulah sebabnya setelah diterangkan Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan dia itu Utusan Allah Allah menetapkan bahwa Nabi Suci adalah dan segel (penutup) para Nabi (Khataman-Nabiyyin). Memang secara general seluruh umat Muslim merupakan anak-anak rohani Nabi Suci, namun yang sedang saya bahas disini adalah anak rohani dalam konteks Khalifah Nabi Suci dimana kata Khalifah berasal dari kata khalafa, artinya ia datang kemudian atau menggantikan orang lain yang sudah wafat atau tak ada lagi. Jadi konteks Khalifah Nabi Suci disini adalah seorang Muslim yang karena ketaatannya kepada Qur’an Suci, Hadits dan Sunnah Rasul membuat ia menjadi mazhar (cermin) sempurna dari kehidupan Baginda Rasul dan muslim itulah yang menjadi Khalifah Nabi Suci

[iv] Meskipun bukan nabi namun mereka mempunyai persamaan yang kuat dengan Nabi, dalam Hadits dikatakan “Ulama fi Ummati ka ambiya bani Israil” (Ulama dalam umat ku seperti nabi-nabi Bani Israel) Al ulama waritsun ambiya (ulama adalah pewaris para nabi). Dikatakan mempunyai persamaan yang kuat karena kepadanya Allah berkenan berwawanSabda, dalam Hadits dikatakan “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kamu terdapat banyak pribadi yang diberi sabda Ilahi sekalipun mereka bukan Nabi; jika di antara umatku ada orang yang seperti itu, maka orang itu adalah ‘Umar (Bu. 62:6).

 

[v] Nawab Siddiq Hassan menulis bukunya 10 tahun sebelum memasuki abad 14 H, dia berkeyakinan Mujaddid abad 14 itulah Al-Masih yg dijanjikan dan juga Mahdi. Mungkin dia melihat bahwa kedatangan Al-Masih nya bani Israel adalah 14 abad setelah Nabi Musa, begitupula Al-Masih nya umat Islam akan turun 14 abad setelah Nabi Suci Muhammad saw

[vi] Ahmadiyah Qadiyani senang sekali menggunakan dalil ini demi tegaknya khalifah mereka, yang perlu dicermati dalam hadits ini adalah Khilafat minhajin nubuwwah adalah merujuk kepada kekhalifahan Nabi Suci Muhammad, bukan kenabian selain/setelah Nabi Muhammad sebab diawal hadits tersebut dikatakan Prophethood shall remain among you as long as Allah shall will. He will bring about its end jadi setelah Nabi Suci tidak akan datang lagi nabi.

[vii] Zaman Nabi Suci dan tiga generasi setelahnya dikatakan generasi terbaik sebab diantara mereka masih banyak sahabat yang melihat langsung contoh dan teladan Nabi Suci dan mereka mempraktekannya sehingga menjadi satelite bagi generasi yang tidak bisa melihat Nabi Suci. Begitupula mereka yang hidup pada zaman generasi sahabat (Tabi’in) bisa melihat langsung kehidupan suci sahabat dan menjadi satelite bagi mereka yang tidak bisa melihat kehidupan sahabat dan seterusnya hingga generasi ke tiga (300 tahun), lalu setelah itu Allah akan menarik perkara Islam selama seribu tahun (Qs 32:5) hingga dikatakan dalam hadits Iman telah terbang ke bintang Tsuraya (B. 65: LXII) namun setelah masa itu (300 tahun + 1000 tahun, yakni 14 H) Islam akan mulai bersinar kembali. Para Khalifah yang akan memimpin Islam harus bersifat Ilhamiyah sebab sangat sulit sekali untuk memfilter air yang turun dari hulu –karena jauhnya dari sumber air tersebut menyebabkan air itu bercampur tanah dan kotoran-tanpa bantuan langsung dari Allah, sedangkan tugas mereka selain menyajikan air yang suci bersih dan segar sebagaimana air yang turun dari hulu mereka juga berkewajiban menjadi contoh sempurna dari Nabi Suci bagi umat yang sama sekali terpisah jauh dari kehidupan tabi’in, sahabat apalagi kehidupan Nabi suci

[viii] Mahdi adalah orang yang mendapatkan Al-huda (petunjuk) dari Allah,

6 Tanggapan

  1. Ass wr wb.,
    1.Anda dilain artikel mengatakan bahwa Nabi Isa as dan nabi2 bani israel berdiri sendiri artinya tidak terkait dgn ajaran Musa, tapi sekarang berkesimpulan bahwa mereka khalifahnya Musa, mana yang benar mas?
    Bukankah itu artinya juga tidak ada kesamaan antara Nabi Musa dan Muhammad saw jika anda berkesimpulan begitu?

    2. Apakah para mujadid tsb mengaku sbg Khalifah? Karena kekhalifahan indentik dgn baiat dan pengangkatan, apakah para pengikutnya berbaiat kepada mujadid2 tsb?
    3. Apakah kedatangan para Mujadid tsb datang ketika setelah masa kerajaan2 dan kediktaktoran, karena sesuai hadist kedatangan khalifah nubuwah tsb terjadi setelah masa itu?
    4. Jika Mujadid = khalifah atau khalifah = mujadid, kenapa mujadid pertama dihitung sejak Umar ra bukan Abu Bakar ra?
    wassalam,

  2. 1.Anda dilain artikel mengatakan bahwa Nabi Isa as dan nabi2 bani israel berdiri sendiri artinya tidak terkait dgn ajaran Musa, tapi sekarang berkesimpulan bahwa mereka khalifahnya Musa, mana yang benar mas?
    Bukankah itu artinya juga tidak ada kesamaan antara Nabi Musa dan Muhammad saw jika anda berkesimpulan begitu?

    Yang saya katakan adalah kenabian nabi-nabi Israel bukan didapat karena mereka mengikuti ajaran Taurat, kenabian mereka adalah Independent, seandainya mereka menerima ajaran Taurat itu bukan berasal dari para Rahib-Rahib yang mengkorupsi ajaran Taurat. Bedanya dengan Nabi Suci Muhammad, Karena Quran Suci itu terpelihara dari segala kerusakan dan korupsi maka khalifahnya Nabi Suci (para Mujaddid) bila ingin mencapai “maqam kenabian” (Nabi Zhilli, Nabi Ghairi Mustaqil Nabi Buruz, dsb yang merujuk kepada Muhaddats) maka dia harus mengikuti dengan seksama Qur’an Suci dan Hadits dan tidak boleh menyimpang sehelai rambutpun dari ajaran Qur’an Suci dan Hadits)

    2. Apakah para mujadid tsb mengaku sbg Khalifah? Karena kekhalifahan indentik dgn baiat dan pengangkatan, apakah para pengikutnya berbaiat kepada mujadid2 tsb?

    Masalah bai’at atau tidak saya tidak tahu pasti, namun kalau Mas Alif baca Shahadatul Qur’an tulisan HMGA disana dijelaskan bahwa Khalifah Nabi Suci adalah Muhaddats dan Mujaddid

    3. Apakah kedatangan para Mujadid tsb datang ketika setelah masa kerajaan2 dan kediktaktoran, karena sesuai hadist kedatangan khalifah nubuwah tsb terjadi setelah masa itu?

    Apakah berdirinya Khalifah Qadiyani itu terjadi setelah masa2x kerajaan dan kediktatoran atau tidak?

    4. Jika Mujadid = khalifah atau khalifah = mujadid, kenapa mujadid pertama dihitung sejak Umar ra bukan Abu Bakar ra?
    wassalam,

    Khalifah Nabi Suci itu ada dua yakni Khalifah dibidang Duniawi dan dibidang Rohani, tidak jarang dibidang Duniawi dan Rohani terjadi dalam satu orang misalnya Umar Abdul Aziz, begitupula halnya dengan Nabi Musa, khalifah pertamanya adalah Thalut (Saul) bukan Nabi.

  3. Maaf tidak satupun pertanyaan saya dijawab oleh anda
    Para nabi2 Israeli setelah Musa jelas mendapat pengajaran taurat langsung dari Allah itu saya sudah tahu…
    yang saya maksud adalah:
    1. Jika para Nabi2 israeli tsb tidak terkait dgn ajaran Tauratnya Musa (dilain artikel) lalu kenapa anda menyebutnya sbg Khalifah2 Nabi Musa?
    2. Bisa anda beri referensinya…
    3. Khalifah JA jelas datang setelah masa kerajaan2 tsb, pertanyaan yang saya maksud adalah jika mujadid2 adalah para khalifah Nubuwah spt yang dihadist diberitakan, apakag mujadid 1 sampai ke 13 itu datang ketika masa2 kerajaan tsb?
    4. Maaf baru dengar ada khalifah Nabi suci yang dibidang keduniaan?

    itulah mas…akan semakin banyak pertanyaan saya,
    karena apa yang MMA ajarkan itu jelas adalah bid’ah2 yang tidak ada dalam literatur Islam maupun sejarahnya…
    wassalam,

  4. Maaf, karena kesibukan yang luar biasa, saya baru bisa hadir sekarang ini.
    Sebelum kita dudukan terlebih dahulu persoalan ini pada tempatnya yakni apakah arti dari Khalifah?
    Kata Khalîfah berasal dari kata khalafa, artinya ia datang kemudian atau menggantikan orang lain yang sudah wafat atau tak ada lagi, makna aslinya pengganti; oleh sebab itu berarti kepala pemerintah tertinggi yang menggantikan kepala pemerintah sebelumnya (T, LL).

    Sebagaimana Nabi Musa mempunyai Khalifah maka Nabi Suci pun yang mempunyai kemiripan dengan Nabi Musa juga mempunyai Khalifah (Qs 24:55) hanya bedanya jika para Khalifah Nabi Musa itu adalah Nabi maka Khalifah Nabi Suci Muhammad itu bukan Nabi:

    Kaanatbanuu israaiila tasuu suhamul ambiyaai kulaamaa malaka nabiiyun khalafa nabiyuun wa innahu lanabiyaa ba’dii wasayakuu nuu khulafaaau fayaktsuruuna

    Adapun Bani Israil itu dipimpin oleh Nabi-Nabi setiap seorang nabi wafat maka datanglha nabi yg lain, & sesungguhnya sesudah saya tidak akan datang nabi lagi, tetapi akan ada khalifah-khalifah yg banyak (Bukhari)

    Mas Alif:

    Jika para Nabi2 israeli tsb tidak terkait dgn ajaran Tauratnya Musa (dilain artikel) lalu kenapa anda menyebutnya sbg Khalifah2 Nabi Musa?

    Saya tidak bilang para Nabi Israeli tidak terkait dengan ajarannya Taurat Musa, namun yang saya katakan adalah para Nabi Israel itu menjadi Nabi bukan karena mengikuti kitab Taurat yang ada, yang berada di tangan para Rahib, karena Taurat yang berada ditangan para Rahib itu sudah korup, Tidak mungkin Nabi Isa menjadi nabi karena mengikuti Kitab Taurat yang ada pada Ulama Yahudi yang sudah banyak dimanipulasi, Nabi Isa dan para Nabi Israel lainnya menjadi karena ANUGRAH semata-mata dari Allah Ta’ala, bukan karena ketaatannya mengikuti ajaran para nabi sebelumnya. Seandainya mereka menerima ajaran Taurat, pastilah itu datang wahyu langsung dari Allah, karena itu bila mereka menerima wahyu yang bertentangan dengan ajaran yang terdahulu, dia tidak perlu susah payah mencari titik temu, melainkan para Nabi itu akan mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya. Hal ini tentu berbeda dengan Imam Ghulam Ahmad, dan para Imam yang lainnya seperti Imam Ghazali. Ketika beliau menerima wahyu (baca:Ilham) yang bertentangan dengan Syari’at Islam (ajaran Quran Suci dan Sunnah Nabi) mereka harus membuang jauh-jauh wahyu tersebut. Inilah makna dari para Muhaddats itu adalah Nabi wa Ummati, mereka disebut Nabi karena dia menerima Naba’un dari Allah, namun mereka juga disebut Ummati, karena mereka tunduk dan taat kepada QUr’an Suci dan Sunnah Nabi

    Mas Alif:

    3. Khalifah JA jelas datang setelah masa kerajaan2 tsb, pertanyaan yang saya maksud adalah jika mujadid2 adalah para khalifah Nubuwah spt yang dihadist diberitakan, apakag mujadid 1 sampai ke 13 itu datang ketika masa2 kerajaan tsb?

    Maaf yang saya tahu Tirani Khalifah Utsmaniah itu yang berakhir di Turki runtuh pada tahun 1920, sedangkan Khalifah Sekte Qadiyani itu berdiri tahun 1914

    Mas Alif:

    4. Maaf baru dengar ada khalifah Nabi suci yang dibidang keduniaan?

    Kalau kita baca sejarah Israel, tentunya akan kita dapati, sepeninggal Nabi Musa ada pemimpin Israel (Baca Khalifah) yang bernama Saul, dia itu bukan Nabi. Para Khalifatur Rasyidin itu juga adalah Khalifah Nabi Suci dibidang Duniawi

  5. Inilah makna dari para Muhaddats itu adalah Nabi wa Ummati, mereka disebut Nabi karena dia menerima Naba’un dari Allah, namun mereka juga disebut Ummati, karena mereka tunduk dan taat kepada QUr’an Suci dan Sunnah Nabi.

  6. saya dlm hal ini sebaiknya tdk komentar! ingin lbh memahami tuk tdk ttl fanatik yg tdk msk akal. prinsip saya dlm apapun mesti ada perbedaan & persamaan, dlm hal ini saya tertarik membicarakan dlm hal persamaannya, shg tercipta kedamaian.kita dah punya sejarah masa lalu,kita gali yg baik tuk masa kini kita ttp berusaha menyempurnakan pengalaman masa lalu sesuai dg kebutuhan jaman masakini atas petunjuk”TYME” masa yg akan dtg dpt kita isi dgn lebih sempurna dg usaha kerja keras. Atas keberhasilan pemerentah & para pemimpin umat menjadikan bangsa INDONESIA lbh bermoral masa kini & yg akan datang shg dg sgr indonesia menjadi negara maju & lbh bermartabat, sejajar dg negara maju di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: