AHMADIYAH DAN PERUMUSAN KEBIJAKAN KEAGAMAAN DI INDONESIA

Oleh: Rudy Harisyah Alam

These working papers on Ahmadiyya were taken from written result discussions held by Jakarta Religion Research and Development Board (Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta) on December 22, 2005. First paper is from written text of lecture delivered by Rudy Harisya Alam on his point view on Ahmadiyya Lahore. The next one is the view of editorial staff (Ahmadiyya Lahore Movement) on that result

Tulisan Rudy Harisyah Alam diawali dengan pendahuluan tentang tindak kekerasan yang diterima oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) pada tanggal 9 dan 15 Juli 2005 di kampus Mubarok yang sekaligus menjadi kantor pusat JAI. Lokasinya terletak di desa Pondok Udik, kecamatan Kemang Parung, kabupaten Bogor. Penyerangan ini dilakukan oleh kelompok umat Islam yang menamakan dirinya Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) di bawah pimpinan seorang tokoh keturunan Arab bernama Habib Abdur rahman bin Ismail Assegaf.

Kasus kekerasan dan intimidasi ini bukan yang pertama kali, dan bukan pula yang terakhir. Sebelum kasus Parung, telah terjadi berulang kali kejadian, seperti di Cianjur, Jawa Barat (Maret 1984), Garut, Jawa Barat (1988), Kerinci, Jambi (1989), dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (2002). Setelah kasus Parung, maka penyerang pun masih melanjutkan kekerasannya seperti terjadi di Kabupaten Kuningan (Juli 2005), dan di Kabupaten Cianjur (September 2005)

Setidaknya ada dua masalah yang penting untuk dibahas berkaitan dengan hal ini. Pertama, bagaimana seharusnya kaum Muslim  menyikapi munculnya pandangan-pandangan keislaman yang berbeda dari pandangan  keislaman “mainstream” yang selama ini diyakini, khususnya pandangan keagamaan ini yang diyakini, khususnya pandangan keagamaan yang dimunculkan oleh Ahmadiyah. Kedua, bagaimana negara dan pemerintah merumuskan kebijakannya dalam menyikapi berbagai perbedaan pandangan tersebut. Tulisan ini sendiri tidak berpretensi untuk memberi jawaban tuntas dan memuaskan semua pihak. Namun, yang perlu digarisbawahi  adalah sebagai kebijakan untuk mengambil sikap yang tepat, maka sudah semestinya terlebih dahulu kita mengenali secara lebih mendalam apa itu Ahmadiyah dan poin-poin apa yang telah memicu perdebatan selama ini, sehingga dalam beberapa kasus telah melahirkan tindakan kekerasan.

Ahmadiyah di Indonesia

Meskipun di lingkup yang lebih kecil ajaran-ajaran Ahmadiyah bisa jadi sudah dikenal, namun kebanyakan kaum Muslim Indonesia jelas masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang Ahmadiyah. Indikasi terbatasnya pengetahuan tentang Ahmadiyah, yakni ketidaktahuan umumnya kaum Muslim Indonesia bahwa Ahmadiyah sendiri berkembang dalam dua kelompok ajaran dan gerakan, yakni Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore. Secara organisatoris kelompok Qadiyan direpresentasikan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang berpusat di Kemang, Parung. Sedangkan kelompok Lahore direpresentasikan oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang berpusat di Baciro, Yogyakarta.

Di Indonesia ajaran Islam Ahmadiyah, khususnya Ahmadiyah Lahore, sebenarnya telah dikenal sejak 1918 melalui Islamic Review edisi Melayu yang terbit di Singapura. Namun secara langsung ajaran itu baru diperkenalkan pada sekitar 1920 melalui seorang tokoh Ahmadiyah Lahore, yakni Maulana Khawaja Kamal-ud-Din yang datang ke Surabaya untuk tujuan berobat, dan sekaligus meninjau keadaan Surabaya. Lalu pada 28 November 1920, ia diberi kesempatan oleh Perhimpunan Taswirul Afkar untuk memberi sambutan dalam acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Ampel Surabaya. Dan pada 1921, ia juga sempat diundang untuk memberi ceramah di Gambir Park (kini Jakarta). Tokoh Ahmadiyah Lahore lainnya yang menyebarkan ajaran Islam Ahmadiyah ke Indonesia adalah Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad sekitar tahun 1924. Karena alasan kesehatan, Maulana Ahmad tidak lama berada di Indonesia, dan segera kembali ke India. Sementara Mirza Ahmad Baig meneruskan dakwahnya di berbagai tempat di Jawa, antara lain Yogyakarta, Wonosobo, Purbolinggo, dan Jakarta, sampai sekitar tahun 1936.

Pikiran-pikiran Ahmadiyah Lahore mendapat sambutan di kalangan Muhammadiyah, antara lain Djojosugito dan Muhammad Husni. Selain kedua orang itu, juga terdapat  nama-nama seperti Soedewo, Muhammad Kusban, Sunarto, Usman, Muhammad Irsyad, Mufti Syarif, dan lainnya. Mereka lalu mendirikan sebuah perkumpulan bernama Muslim Broderchap, yang bertujuan menyebar luaskan paham Ahmadiyah, antara lain dengan menerbitkan majalah berbahasa Belanda bernama Correspdentie Blad.

Pada 5 Juli 1928 Muhammadiyah mengeluarkan maklumat yang antara lain melarang pengajaran paham Ahmadiyah di lingkungan Muhammadiyah, dan orang-orang Muhammadiyah yang mengikuti paham tersebut harus menentukan pilihan: keluar dari Muhammadiyah atau membuang paham tersebut. Akibatnya Djojosugito dan Muhammad Husni pun dipecat dari keanggotaan Muhammadiyah. Selanjutnya tokoh-tokoh tersebut membentuk wadah sendiri yang dinamakan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (centrum Lahore) pada 10 Desember 1928. Di antara anggota pertama GAI adalah Muhammad Irsyad, Muhammad Sabit, Djojosugito, Muhammad Husni, Muhammad Kafi, Idris L.Latjuba, Hardjosubroto, K.H. Sya’roni, K.H. Abdurrahman, dan R. Supratolo. Organisasi itu selanjutnya, mengajukan permohonan untuk memperoleh badan hukum (Rechtspersoon) pada 28 September 1929, dan mendapat pengakuan sebagai badan hukum dengan putusan pemerintah atau Gouvernements Besluit tanggal 4 April 1930 No. IX (extra Bijvoegsel Jav. Courant 22 April 1930 No. 32). Dalam perkembangan kemudian Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) juga terdaftar pada Departemen Agama tanggal 27 Desember 1963 No. 18/II, dan juga terdaftar dalam Berita Negara RI yang diumumkan pada 28 November 1986 No. 95 lampiran No.35

Ahmadiyah : Pertumbuhan dan Perkembangannya

Tokoh utama sekaligus pendiri Ahmadiyah adalah Mirza Ghulam Ahmad. Lahir di Qadiyan , India, pada tahun 1835. Ghulam Ahmad adalah anak dari Ghulam Murtada, yang merupakan keturunan dari Haji Barlas, seorang raja di kawasan Qesh. Ketika Amir Tughlak Temur, kemenakan Haji Barlas, menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke wilayah Samarkand

Pada sekitar 1530 M, yakni pada masa pemerintahan Raja Mughal Babur, leluhur Ghulam Ahmad bermigrasi dari wilayah Samarkand ke wilayah Gurdaspur, Punjab, India, yakni di suatu tempat yang berjarak sekitar 50 kos ( 1 kos kurang lebih sekitar 2 mil) sebelah timur laut Lahore. Di sana mereka menetap dan mendirikan suatu perkampungan bernama Islampur Qadhi Majhi. Lambat laun masyarakat menghilangkan kata Islampur, dan nama Qadhi Majhi pun berubah menjadi Qadiyan. Desa Qadiyan itu pada mulanya dinamakan Qadhi Majhi mungkin karena di wilayah tersebut terdapat banyak sekali sapi, yang dalam bahasa Hindi disebut majh, sehingga wilayah itu yang memiliki luas sekitar 60 kos, dikenal pula dengan nama Majhah. Selain itu, karena leluhur Ghulam Ahmad diberi kewenangan untuk mengelola keseluruhan wilayah tersebut, maka mereka kemudian dikenal dengan gelar Qadhi.

Ketika berusia sekitar 6 tahun, Ghulam Ahmad memperoleh pengajaran tentang al-Quran dan beberapa karya dalam bahasa Persia oleh seorang guru bernama Fazl-i-llahi. Lalu ketika berumur 10 tahun, didatangkan lagi seorang guru bernama Fazl-i-Ahmad untuk mengajarinya kitab nahwu-sharaf. Kemudian ketika berusia 17 tahun, seorang guru lain, bernama Gul Ali Shah dari Batala, dipanggil untuk mengajari Ghulam Ahmad di bidang nahwu, mantiq, dan falsafah. Ghulam Ahmad juga mengaku bahwa ia membaca buku-buku tentang pengobatan dari ayahnya seorang tabib yang pandai di bidang pengobatan tradisional.

Pada tahun 1864 hingga 1868, Ghulam Ahmad bekerja di kantor pemerintahan di Sialkot. Pada masa-masa ini, di samping mengerjakan pekerjaan sehari-harinya, ia juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca al-Quran. Selama di Sialkot bahkan ia juga terlibat dalam banyak kontroversi dengan kaum misionaris Kristen. Ia juga menjadi akrab dengan pandangan Sayyid Ahmad Khan tentang Genesis, meskipun kemudian ia sendiri melontarkan kritik keras terhadap Ahmad Khan, yang bukan saja disebabkan ketidaksetujuannya terhadap pendekatan Ahmad Khan yang sangat naturalistik dalam memahami Islam, tetapi juga karena sikap apologetik Ahmad Khan, sehingga “as if there were anything in Islam that could not hold its own in the face of modern knowledge and science.”

Pada tahun 1868, Ghulam Ahmad di panggil pulang ke Qadiyan oleh ayahnya untuk mengurus lahan pertanian milik mereka dan menangani kasus sengketa tanah milik keluarga mereka. Namun, karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu, ia banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari al-Quran. Ia lebih suka menyendiri dan kurang berminat dengan urusan-urusan duniawi. Karena itu, ia pernah menulis surat kepada ayahnya yang menyebutkan bahwa ia ingin menghabiskan waktu hidupnya dalam kesendirian.

Kematian ayahnya, Ghulam Murtadha tahun 1876 telah mendorong Ghulam Ahmad untuk lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada Islam. Pada masa itu pula, sebuah gerakan baru mulai bangkit di kalangan Hindu, yang dikenal dengan nama gerakan Arya Samaj, yang didirikan oleh Swami Dayananda Sarasvati (1824-1883) pada tahun 1875 di Bombay, India. Pada tahun 1878 Ghulam Ahmad menulis berbagai artikel di media masa tentang isu-isu keagamaan, yang sebagiannya berisi kritik terhadap keyakinan gerakan Arya Samaj.

Pada tahun 1880, ia mulai menulis buku Barahin Ahmadiyah sebanyak 4 jilid, dan memerlukan waktu selama 4 tahun. Dalam karyanya ini, ia mengemukakan pandangan-pandangan tentang ajaran Islam, dan melontarkan keberatannya terhadap ajaran-ajaran Arya Samaj, Brahma Samaj, maupun Kristen, yang merupakan gerakan besar pada masa itu di India. Sebelumnya, pada tahun 1847, Swami Dayanand, pendiri gerakan Arya Samaj telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) yang memaparkan prinsip-prinsip keyakinan Weda yang “benar” dan berusaha menolak ajaran-ajaran baik dari Islam, Kristen, maupun Sikh. Buku Barahin Ahmadiyah dapat dikatakan sebagai respon pertama dari kalangan Islam terhadap polemik yang dilontarkan Swami Dayanand tersebut.

Ketika sedang menyusun buku Barahin Ahmadiyah itu pada tahun 1880, Mirza Ghulam Ahmad menginformasikan bahwa dirinya telah menerima ilham dari Tuhan yang menugasi ia sebagai mujadid abad keempatbelas hijriah dan ditunjuk untuk membela perkara-perkara Islam. Kendati demikian, pada saat itu ia belum membentuk jamaah. Baru tahun 1889 ia membentuk gerakan, setelah sebelumnya pada 1 Desember 1888 ia mengumumkan bahwa Tuhan telah memerintahkan dirinya untuk menerima baiat, dan membentuk jamaah. Jamaah itu diberi nama ‘Ahmadiyah’ yang mengacu salah satu nama panggilan Nabi Muhammad.

Di dalam sebuah manifesto yang ditulis 4 November 1900, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan karakteristik dari dua nama yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad, yaitu Muhammad dan Ahmad. Nama Muhammad mencerminkan sifat keagungan dan kebesaran beliau (jalal), sedangkan nama Ahmad mencerminkan sifat keindahan (jamal) pada diri beliau. Menurut Maulana Muhammad Ali, dari nama Ahmad Nabi Muhammad itulah nama Ahmadiyah dinisbatkan, dan bukan Ahmad dari nama Mirza Ghulam Ahmad. Lihat Maulana Muhammad Ali, The Ahmadiyyah Movement (Lahore: Ahmadiyyah Anjuman Isha’at Islam, 1973), h.20

Mirza Ghulam Ahmad, pertama kali mengadakan baiat di kota Ludhiana pada 1 Maret 1889., di rumah Mian Ahmad Jaan. Orang yang pertama kali berbaiat kepada Mirza Ghulam Ahmad adalah Maulana Nuruddin Sahib, dan sekaligus menyatakan bahwa Mirza adalah pendiri gerakan ini. Dipilihnya kota Ludhiana dan bukan kota Qadiyan, karena Ludhiana adalah pusat kegiatan misionaris Kristen dan di sanalah jurnal Kristen Noor-i-Afshan dipublikasikan sejak 6 Maret 1873. Selain itu, Ludhiana adalah tempat para maulawi terkemuka yang telah ikut berperan aktif dalam peristiwa pemberontakan 1857. Kehadiran Mirza di sana tampaknya merupakan respon terhadap dua jenis aktivitas semacam itu di kota tersebut.

Selanjutnya sekitar 1891, Mirza Ghulam Ahmad memproklamasikan bahwa dirinya adalah al-masih al-mawu’d sekaligus al-mahdi bagi umat Islam. (baca: Tuhan memberi Mirza Ghulam Ahmad dengan gelar al-masih al-mawu’ud dan al-mahdi) untuk menyingkirkan dua hambatan dalam upaya penegakan dan penyebaran Islam yang sejati. Hambatan pertama, adanya kepercayaan yang populer baik di kalangan Kristen maupun Muslim, bahwa Isa ibn Maryam belum wafat, tetapi diselamatkan pada saat penyaliban dan diangkat ke langit, serta masih hidup dan akan datang kembali di akhir zaman. Hambatan kedua, adanya kepercayaan bahwa al-Mahdi akan diturunkan di akhir zaman untuk menegakkan kebenaran ajaran Islam dengan “kekerasan”, dan ini disimbolkan dalam ungkapan sebuah hadis bahwa ia akan datang “menghancurkan salib dan membunuh babi”

Bertentangan dengan kepercayaan yang populer itu, maka pemahaman ke Islaman yang ditawarkan Mirza Ghulam Ahmad berbeda. Sesungguhnya Isa ibn Maryam tidak wafat di tiang salib, dan tidak diselamatkan dengan cara diangkat hidup-hidup ke langit. Beliau diselamatkan dari kematian di tiang salib (diserupakan mati dan ditolong para sahabatnya – redaksi), dan menjalani hidup (untuk meneruskan tugas kenabiannya – redaksi) dan wafat sekitar usia 120 tahun di Kasmir, India. Oleh karena itu, ramalan-ramalan yang berbicara tentang kedatangan nabi Isa ibn Maryam dalam sejumlah hadis, hendaknya dipahami secara metaforis. Pertama, yang akan datang sebagai al-Masih yang dijanjikan bukanlah Isa ibn Maryam (yang sudah wafat), tetapi seseorang yang memiliki kemiripan kualitas spiritual dengannya, dan orang itu akan datang sebagai seorang dari kalangan umat Nabi Muhammad. Kedua, sebagai al-Mahdi, maka orang itu akan menegakkan kebenaran ajaran Islam bukan dengan cara kekerasan, tetapi dengan cara-cara damai, yakni dengan mengemukakan argumentasi-argumentasi tak terbantahkan dan dapat diterima secara rasional.

Sejak 1901, Mirza Ghulam juga memulai penyebaran Islam ke wilayah Eropa dan Dunia Barat lainnya, dengan cara menerbitkan majalah bulanan berbahasa Inggris, bernama Review of Religions. Di antara editor pertama majalah ini adalah Maulana Muhammad Ali dan Khawaja Kamal-ud-Din. Selain itu, sejak 1904, Mirza Ghulam Ahmad juga mencoba menyebarkan ajaran Islam di kalangan Hindu dengan mengemukakan klaim selain sebagai al-Mahdi di kalangan Muslim dan al-Masih di kalangan Kristen, maka ia sesungguhnya manifestasi dari Krisna di kalangan Hindu. Dalam rangka membangun hubungan yang damai dan bersahabat antara kalangan Muslim dan Hindu, maka menjelang akhir hayatnya Mirza Ghulam Ahmad sempat menulis sebuah buku yang berisikan pesan damai bagi kedua komunitas tersebut yang berjudul Paigham Sulh (Pesan Damai).

Pada bulan Desember 1905, Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dirinya telah diberitahukan bahwa “masa tugasnya” sudah akan hampir berakhir. Untuk itulah, ia menulis sebuah pamflet kecil yang berjudul Wasiat (Washiyah Will) yang berisi antara lain pembentukkan Anjuman (Masyarakat), yang kemudian dinamakan Sadr Anjuman Ahmadiyah. Anjuman ini diberikan kekuasaan penuh untuk mengurusi perkara-perkara yang berkaitan dengan gerakan Ahmadiyah dan akan menjadi pengganti Mirza Ghulam Ahmad sepeninggalnya. Akhirnya Mirza Ghulam Ahmad menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 26 Mei 1908, setelah mengalami serangan penyakit diare. Sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad, maka Maulana Nuruddin menjadi penerus memimpin Ahmadiyah, dan akhirnya wafat pada tanggal 13 Maret 1914.

Isu-Isu di Seputar Perpecahan

Satu hari setelah Maulana Nuruddin wafat, yaitu 14 Maret 1914, Ahmadiyah terpecah menjadi dua aliran, kendati bibit-bibit perpecahan sudah tempak ketika Ahmadiyah masih berada di bawah kepemimpinan Maulana Nurrudin. Aliran pertama adalah Ahmadiyah Qadiyan di bawah pimpinan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, anak dari Mirza Ghulam Ahmad, yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Khalifah al-Masih II, menggantikan Maulana Nuruddin. Aliran kedua, Ahmadiyah Lahore, di bawah pimpinan Maulana Muhammad Ali. Masing-masing aliran itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai sebab-sebab timbulnya perpecahan.

Maulana Muhammad Ali, tokoh utama yang sekaligus pendiri kelompok Ahmadiyah Lahore menulis sebuah buku berjudul The Split in the Ahmadiyya Movement (1918, 1994) yang menjelaskan penyebab mengenai perpecahan tersebut. Menurut  kelompok Lahore disebabkan kelompok Qadiyan telah memunculkan doktrin dan kepercayaan baru yang ber beda dari apa yang selama ini diajarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri.

Pertama, soal keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi hakiki. Hal ini berkaitan dengan pemaknaan terhadap makna khatam al-nabiyyin bukan sebagai nabi penutup, tetapi sebagai “yang termulia” atau “yang tersempurna” dari para nabi (QS, al Ahzab, 33:40).  Finalitas kenabian di pahami sebagai berakhirnya pewahyuan yang membawa syariat baru, dan bukan untuk jenis wahyu tanpa syariat. Wahyu jenis kedua itulah yang diyakini kalangan Ahmadiyah Qadiyan yang diterima Mirza Ghulam Ahmad, dan karena itu maka Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi jenis ini, yakni nabi tanpa membawa syariat baru.

Kedua, soal penafsiran terhadap nama “Ahmad” yang muncul di dalam al-Quran surah al-Shaff (61:6), yang beri si ramalan Isa ibn Maryam tentang akan datangnya seorang utusan sesudahnya yang bernama “Ahmad”. Menurut Maulana Muhammad Ali, kelompok Qadiyan berpendapat bahwa Ahmad bukanlah salah satu dari nama Nabi Muhammad. Karena itu, ramalan Isa ibn Maryam itu bukan mengacu pada Nabi Muhammad, tetapi kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Ketiga, mengenai status seorang Muslim yang tidak meyakini paham yang dibawa Mirza Ghulam Ahmad, termasuk meyakini statusnya sebagai seorang nabi  dalam pengertian tanpa membawa syariat. Kelompok Qadiyan melalui pernyataan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, menganggap orang yang tidak mempercayai status itu, baik orang yang pernah mendengar atau belum pernah mendengar tentang ajaran tersebut adalah “kafir” dan “berada di luar Islam”

Dalam rangka menanggapi buku tersebut, maka Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (1889-1965), sebagai wakil kelompok Qadiyan dan juga sebagai Khalifah al-Masih II, menulis sebuah buku dalam bahasa Urdu yang berjudul Ainah-i Sadaqat pada Desember 1921. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The True about the Spilt pada tahun 1924. Di dalam buku tersebut Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad sesungguhnya tidak membantah ketiga hal tersebut. Yang dibantah adalah segi “kebaruan” dari keyakinan tersebut. Menurutnya, kecuali dalam perkara kedua, maka perkara pertama dan ketiga telah dianut bahkan ketika Mirza Ghulam Ahmad masih hidup. Sedangkan keyakinan yang menyangkut perkara kedua, memang berkembang tak lama setelah Mirza Ghulam Ahmad. Hal ini sebagai hasil dari ajaran yang diterimanya dari Maulana Nuruddin, Khalifah al-Masih I dalam struktur organisasi kelompok Ahmadiyah Qadiyan.

Selain masalah-masalah disebut di atas, maka perpecahan tersebut semakin menciptakan jurang yang semakin melebar antara Ahmadiyah Qadiyan dan kelompok Muslim lainnya, adalah pernyataan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad bahwa:

Karena al-Masih al-Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad -RHA) adalah utusan Allah dan pengingkaran terhadap utusan Allah adalah kedurhakaan yang berbahaya dan dapat mencabut iman. Menurut al-Quran dan hadis Nabi Muhammad, maka perkataan al-Masih al-Mau’ud adalah kewajiban bagi setiap orang Ahmadi untuk melakukan salat dengan bermakmum pada Imam orang Ahmadi pula. Tetapi, di tempat-tempat yang tidak terdapat Imam seorang Ahmadi, maka dia hendaknya melaksanakan salat sendiri sambil berdoa kepada Allah agar Dia memberi Jamaah …. karena seorang mukmin sejati tidak akan pernah sendirian. Demikian pula terlarang bagi kaum Ahmadi untuk menikahkan anak perempuannya dengan orang non-Ahmadi, karena istri pada umumnya dipengaruhi suami, dan ini akan membuat seorang menjadi mungkar. Demikian pula, kaum Ahmadi hendaknya tidak menghadiri penguburan seorang non-Ahmadi, karena hal itu akan berarti berupaya meminta syafaat kepada Allah bagi orang yang telah terbukti menjadi musuh dengan mengingkari dan menentang al-Masih al-Mau’ud.

Instruksi ini dikeluarkan oleh Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dalam publikasi “Syarat-syarat Bai’at” pada tanggal 15 Mei 1915 sebagaimana dikutip oleh Spencer Lavan dalam The Ahmadiyya Movement Past and Present, h. 51

Fatwa, Pelarangan, dan Sikap Pemerintah

Paham keIslaman Ahmadiyah sebenarnya telah mendapat berbagai tentangan sejak awal penyebarannya di Indonesia Meskipun tentangan keras khususnya ditujukan kepada Ahmadiyah Qadiyan,  namun sebagaimana dipaparkan di atas, Ahmadiyah Lahore pun mendapat respon yang keras, khususnya dari kalangan Muhammadiyah pada waktu itu.

Namun, betapapun sengitnya reaksi terhadap Ahmadiyah pada waktu itu, ketidaksetujuan itu tidak diwujudkan dalam tindak kekerasan, tetapi dalam bentuk perdebatan dan diskusi. Misalnya, pada tahun 1926 di Padang, Abdullah Ahmad dan Haji Abdul Karim, mengkritik pandangan Ahmadiyah bahwa Nabi Isa telah wafat dan tak mungkin turun ke dunia lagi. Haji Abdul Karim Amrulah secara khusus menyusun buku berjudul al-Qawl al-Shahih, yang membahas soal pengertian nabi, rasul, wahyu, dan  Nabi Muhammad adalah rasul penghabisan. Pada tahun 1925, di Tapaktuan (Aceh),  Muhammad Isa dan Ahmad Syukur, murid Abdul Karim Amrullah, menyanggah paham Ahmadiyah melalui pengajian-pengajian. Sedangkan pada tahun 1933 di Bandung (Jawa Barat), Ahmad Hassan dari Persatuan Islam banyak melakukan debat terbuka untuk mengkritik paham Ahmadiyah.

Tindak kekerasan sebagai ekspresi ketidaksetujuan terhadap ajaran keislaman Ahmadiyah, khususnya aliran Qadiyan, memang baru bermunculan pada era 1980an. Pada era itu, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang paham Ahmadiyah Qadiyan “di luar Islam, sesat, dan menyesatkan” melalui Musyawarah Nasional ke-2 yang ber langsung di Jakarta tanggal 26 Mei – 1 Juni 1980. Tindakan kekerasan bermunculan, misalnya di Cianjur, Jawa Barat (Maret 1984), di Garut, Jawa Barat (1988), di Kerinci, Jambi (1989).

Selanjutnya Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama pun mengeluarkan Surat Edaran No. D/BA.01/3099/84 tertanggal 20 September 1984 yang ditujukan kepada Kanwil-Kanwil Depag, khususnya Kepala Bidang Penerangan Agama Islam di seluruh Indonesia, yang menyatakan bahwa “Pengkajian terhadap aliran-aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa aliran Ahmadiyah Qadiyani dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya Nabi Muhammad bukan Nabi terakhir”. Selanjutnya SE itu berbunyi:”Perlu dijaga agar kegiatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak menyebar luaskan pahamnya di luar pemeluknya, agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat beragama dan mengganggu kerukunan kehidupan beragama”. Di dalam SE tersebut, Depag juga menyerukan kepada Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I dan Tingkat II, para ulama serta da’i di seluruh Indonesia untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang sesatnya Jemaat Ahmadiyah Qadiyan. “Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Jemaat Ahmadiyah Qadiyan, Depag menyerukan agar mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar, sementara seluruh umat Islam di minta untuk tidak terpengaruh oleh paham yang dinyatakan sesat tersebut.”

Meskipun Fatwa MUI tahun 1980 dan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji secara eksplisit ditujukan bagi Ahmadiyah Qadiyan. Namun melalui Munas ke-7 tanggal 26-29 Juli 2005, MUI mengeluarkan fatwa baru yang berisi penegasan kembali tentang “sesatnya” paham Ahmadiyah, dan tidak lagi membedakan antara dua kelompok Ahmadiyah, yakni Qadiyan dan Lahore.

Mengenai hal tersebut, K.H. Ma’ruf Amin, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, menjelaskan: “Kita tidak membedakan (antara Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore-RHA). Memang dalam persidangan (pembahasan fatwa – RHA) yang menyinggung perbedaan tersebut. Namun, ketika kita merujuk fatwa Majma’al-Fiqh al-Islamiy negara-negara OKI di Jeddah (1985), di sana terbunyi “fa amma’l-lahuriyah ka’l-qadiyaniyah fi’l-hukm ...” Jadi aliran Lahore disamakan seperti aliran Qadiyan dalam hukumnya sebagai “murtaddina kharijna ‘an-i’l-islam“. Artinya, mereka juga “murtad dan keluar dari Islam”. Kenapa ? Karena, mereka juga meyakini “anna Mirza Ghulam Ahmad zhill-un wa buruz-un li sayyidina Muhammad” (bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah bayangan dan penampakan dari Nabi Muhammad). Betapa kacau ! Bayangan dan penampakkan itu’kan  berarti “seperti ” Nabi” Wawancara dengan Ma’ruf Amin, tanggal 5 Agustus 2005, jam 14.00 di Istiqlal, Jakarta (RHA)

Sementara itu, respon dan kebijakan pemerintah terhadap kasus tersebut pun masih ambigu. Misalnya, pada satu kesempatan Menko Kesra Alwi Shihab, setelah mengikuti rakor menteri bidang politik, mengatakan bahwa pemerintah tidak akan melarang ajaran Ahmadiyah atau pun  membubarkannya, tetapi menyerahkan kepada pihak pengadilan untuk memutuskan perkara tersebut. Lebih lanjut, Alwi mengatakan bahwa pemerintah tetap mengakui keputusan yang pernah dikeluarkan pemerintah 1980 yang “mengizinkan para pengikut Ahmadiyah di kalangan mereka sendiri, namun melarang penyebaran ajaran tersebut” (Jakarta Post, 11/8/05). Sementara itu, pada suatu kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (18/8) sempat menyatakan bahwa Ahmadiyah sudah lama dilarang di Indonesia. Hal itu ditegaskan kembali oleh Menteri Agama M. Maftuh Basyuni (20/8) bahwa “Ahmadiyah sudah lama dilarang, karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam” Selain itu, Menteri Agama itu juga mengatakan bahwa pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan tersebut adalah Kejaksaan Agung. (Pelita, 22 Agustus 2005)

Di lain pihak, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh (24/8) mengatakan bahwa “tidak ada pelarangan atas Ahmadiyah sebelum ada perintah pengadilan”. Namun, Jaksa Agung mengakui bahwa memang sudah ada pelarangan-pelarangan di tingkat lokal di sejumlah daerah yang dilakukan pihak Kejaksaan setempat, seperti di Majalengka, Jawa Barat, dan Lombok Timur, NTB. Dan, “Pelarangan-pelarangan tersebut tidak akan dicabut oleh Kejaksaan Agung”.

Ambiguitas sikap pemerintah itu mungkin bisa dipahami sebagai cermin dari kompleksitas yang harus dihadapi. Kompleksitas tersebut semakin nyata jika kita menelaah Ahmadiyah dari segi perbedaan-perbedaan antara dua  yang berkembang di dalamnya, yakni Qadiyan dan Lahore. Hal inilah yang telah dipaparkan kami untuk melihat perbedaan di antara keduanya terdahulu, walaupun mungkin belum lengkap.

Penutup

Paparan di atas jelas belum dapat memberikan gambaran secara utuh tentang Ahmadiyah, termasuk isu-isu teologis yang berkembang dalam dua perspektif kelompok Ahmadiyah, baik Lahore dan Qadiyan. Tentu saja klasifikasi atas isu-isu teologis ini diharapkan dapat diperoleh dalam diskusi ini.  Namun demikian ada beberapa hal penting yang perlu dikemukakan, terkait dengan dua poin masalah yang dikemukan pada bagian awal tulisan ini.

Pertama, langkah terbaik untuk menyikapi munculnya pandangan keagamaan yang berbeda, termasuk perkembangan dalam pemikiran keislaman, bukan dengan tindakan kekerasan, tetapi dengan mengemukakan berbagai argumentasi “lebih baik”. Jika pun tidak dapat dicapai titik temu, hendaknya masing-masing pihak berpegang pada keyakinan sendiri, sambil menghormati hak orang lain juga untuk berpegang pada pandangan dan keyakinannya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini akan menumbuhkan sikap toleran dan kedewasaan di kalangan umat beragama, khususnya dalam menghadapi perbedaan pemahaman keagamaan yang ada. Mengutip pandangan Amien Rais, salah seorang tokoh Muslim Indonesia, “Jika orang tidak suka dengan ajaran Ahmadiyah, jangan ikuti. Sikap terbaik dalam menghadapi Ahmadiyah adalah dengan menegakkan toleransi, dan bukan dengan cara-cara kekerasan” (lihat http://www.antara.co.id (6 Agustus 2005)).

Kedua, berbagai perbedaan pandangan dalam pemahaman keagamaan hendaknya tidak mendorong kita untuk secara tergesa-gesa mencap kelompok lain sebagai “sesat”, “kafir”, ataupun “keluar dari Islam”. Hal ini berlaku, baik bagi kelompok Ahmadiyah sendiri, maupun kelompok-kelompok Islam lainnya.

Ketiga, pemerintah harus merumuskan kebijakan-kebijakan yang lebih komprehensif, baik intern suatu umat beragama maupun antar-umat beragama. Dalam hal ini, perlu kita pertimbangkan usulan Abdul Kader Toyob, seorang profesor Studi Islam di University of Nijmegen’s International Institute for the Study of Islam di Belanda, bahwa “Negara harus menjaga jarak dari perdebatan menyangkut isu-isu keagamaan, karena negara tidak bisa memutuskan apa yang benar atau tidak benar dalam (agama) Islam. Meskipun demikian, negara dapat menetapkan batas-batas, seperti misalnya jika seseorang tidak suka dengan pandangan tertentu, namun orang itu tidak boleh melakukan tindak kekerasan untuk mengekspresikan ketidaksukaan atau ketidaksetujuan itu. (lihat http://www.jakartapost, 18 Juli 2005)

Pandangan Redaksi Studi Islam

Pengkafiran Ahmadiyah sudah merupakan kaji lama, walaupun hadith Rasulullah SAW sudah jelas dan gamblang, bahwa barang-siapa mengumumkan sebagai kafir seorang yang beriman kepada Kalimah dia lebih dekat kepada kekafiran” (Hadist Tibrani, diriwayatkan oleh Ibn-i Umar). Jadi, sebelum fatwa dikeluarkan, maka harus dilakukan penyelidikan (tabayyun) berdasarkan Qur’an Suci dan Hadith Rasulullah serta bukan pendapat orang seperti tampak dalam fatwa MUI.

Untuk mengulas bagaimana fatwa MUI 2005 terjadi, dapat kita baca Majalah Berita Mingguan GATRA No.38 tahun XI, 6 Agustus 2005. Pendapat Sidang Komisi C tentang Ahmadiyah terdiri dari tiga poin yang kemudian diplenokan  yang dipimpin oleh Ketua MUI Prof.Dr. Umar Shihab dan didampingi oleh Sekretaris Umum, Prof. Dr. Din Syamsudin – yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah – itu ternyata mendapat protes keras dari K.H. Drs. Thoha Abdurrahman, Ketua MUI Yogyakarta – yang mantan Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU DIY – “Tentang Ahmadiyah yang sesat apakah seluruhnya? Apa kita sudah mempelajarinya?” katanya tegas mempertanyakan. “Kami minta penjelasan lebih jelas, supaya nanti tidak ada permasalahan jelek, hubungan antara sesama kaum muslimin”, ia menambahkan.

Maksud K.H. Thoha Abdurrahman agar dipisahkan antara Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadiyan. Namun tak didukung oleh peserta sidang. Ketua Komisi Fatwa, K.H. Ma’ruf, memberi penjelasan dan membacakan Keputusan Majma ‘al-Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi tentang aliran Qadiyaniyah seperti telah dikutip dan ditang gapi di atas (poin 1). K.H. Ma’ruf Amin menegaskan “Aliran Lahore pun dianggap sama dengan aliran Qadian. Penganut Ahmadiyah Lahore menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai bayangan (zhillun) dan penampakan (buruz) Nabi Muhammad. Mereka juga sudah murtad”

Mendengar jawab itu, K.H. Thoha Abdurrahman belum puas. Beliau bangkit dari kursi, lalu mengambil mikrofon, “Mestinya kita harus beralasan yang lebih kuat, kenapa ulama Indonesia ikut-ikutan?” ujarnya. Prof. Umar Shihab buru-buru memutus, “Ini bukan keputusan ulama Jeddah, melainkan keputusan OKI, Indonesia termasuk di dalamnya,” katanya.

Itulah makanya, sekretaris MUI DIY, Drs. H. Ahmad Muhsin Kamaludiningrat yang juga tokoh Muhammadiyah dan mantan pejabat di lingkungan Kanwil Depag DIY itu ketika diwawancarai wartawan GATRA, dengan tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah mengucapkan kalimat syahadat yang sama dengan umat Islam pada umumnya.

GAI (Gerakan Ahmadiyah (Lahore) Indonesia), sejak dari awal selalu terbuka dan bergaul dengan sesama saudara Muslim lainnya. Masjid GAI terbuka bagi semua umat Islam yang salat, dan setiap Jum’at terbuka non Ahmadi menjadi imam dan bukan makmum saja. Itulah sebabnya, reaksi yang sama pun muncul dari teman-teman Muslim lainnya di Yogyakarta. Ahmadiyah Lahore hampir tidak pernah terlewatkan untuk diikutsertakan dalam berbagai forum dan kegiatan keagamaan, baik internal Islam maupun lintas agama, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, Kanwil Depag, Dinas Sosial, dan institusi lainnya.

Sewaktu  kasus Ahmadiyah mencuat, maka institusi-institusi yang paling bertanggung-jawab terhadap keamanan dan pengamanan di wilayah DIY, silih berganti mengunjungi kantor Ahmadiyah Lahore untuk mendapatkan informasi dari sumber pertama tentang apa dan bagaimana Ahmadiyah. Kesimpulan yang diberikan dari antara mereka, bahwa Ahmadiyah Lahore tidak potensial memicu konflik keagamaan, yang ada hanya kesalahpahaman belaka. Oleh sebab itu sosialisasi ide-ide keagamaan Ahmadiyah Lahore perlu ditingkatkan.

Upaya sosialisasi ide-ide keagamaan Ahmadiyah di Indonesia telah berjalan jauh di masa kolonial. Misalnya, H.O.S Tjokroaminoto, sebagai tokoh nasional pada zamannya, pada tahun 1928 menerbitkan Qur’an dan Tafsir Maulana Muhammad Ali terjemah Indonesia (walaupun tidak selesai) yang diberi kata pengantar dari Haji Agus Salim. Intinya dikatakan tadinya “tak sedap hati” saya  yang pada saat permulaan, tetapi setelah itu berganti dengan suka dan setuju membantu dengan segala kesungguhan hati akan menjadikan usaha itu. Dengan jalan ini saya beroleh keyakinan, bahwa dengan usaha penerbitan salinan tafsir itu dapatlah segala faedah yang berguna dengan menyingkiri segala yang mudlarat dan keliru.

Demikian pula sepatah kata dari Departemen Agama Republik Indonesia pada penerbitan Islamologi (Dinu’l-Islam) yang diberikan Sekretaris Jenderal Departemen Agama Drs. H. Bahrum Rangkuti tanggal 24 Mei 1976. Beliau menyampaikan pengalaman sewaktu menjadi mahasiswa tahun limapuluhan oleh Prof. Dr. Husein Djajadiningrat buku De Religie van den Islam (terjemahan bahasa Belanda oleh Soedewo) dianjurkan sekali membacanya sebagai bahan telaah komparatif yang tak dapat dikesampingkan.

Dengan menelaah Islamologi yang merupakan terjemahan The Religion of Islam karangan Maulana Muhammad Ali itu, para pelajar Indonesia dan alim ulama pun hemat saya, akan beroleh gambaran yang lebih padu dan sistematis tentang agama Islam.  Mungkin di sana sini akan timbul semacam “kegoncangan”, tetapi jika pembaca telah melewati titik itu, dan sudi membacanya sekali lagi, apalagi dengan mengikut-sertakan pemikiran yang lebih mendalam, agaknya pergeseran kelainan pendapat dengan Maulana Muhammad Ali malah akan beralih menjadi sesuatu yang memperkaya pengalaman dan ilmu tentang hakikat Islam.

Namun pembaca hendaknya dapat membedakan adanya dua Ahmadiyah yang pecah karena alasan teologis. Kecenderungan Ahmadiyah Qadian yang mengkafirkan umat Islam yang tidak beriman kepada “kenabian Mirza Ghulam Ahmad” telah menuai perpecahan dan akhirnya menuai badai pengkafiran dari umat Islam umumnya. Sesuai dengan pandangan Maulana Muhammad Ali, maka jika Ahmadiyah Qadian tidak mau mengubah pendiriannya akan berujung pada dua pilihan. Pertama, menjadi agama baru seperti Bahaisme atau Sikh. Kedua, merubah pendiriannya dan kembali kepada ajaran aslinya.

Untuk mengetahui apakah hakikat Ahmadiyah sebenarnya, maka pembaca dapat menyimak bai’at dan janji kita yang harus dilakukan jika seorang ingin masuk dalam Gerakan Ahmadiyah.  Selain itu, kami lampirkan pula perbedaan antara Ahmadiyah Lahore dan Qadiyani sebagaimana disampaikan pula oleh Saudara  Rudy Harisyah Alam dalam pemaparannya.

LAMPIRAN 1

 

BAI’AT

Saya berdiri saksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah;

dan saya berdiri saksi bahwa Muhammad itu Utusan Allah,

 

Pada hari ini di bawah tangan ………………… saya menyatakan diri sebagai pengikut Gerakan Mujadid Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih yang dijanjikan dan Mahdi.

Dengan keikhlasan hati saya bertobat atas dosa saya sampai hari ini, dan saya berjanji akan menjauhkan diri dengan sekuat-kuatnya dari segala perbuatan dosa.

Saya berjanji dengan sekuat-kuatnya hendak menjunjung agama melebihi dunia.

Dengan sekuat-kuatnya saya hendak menetapi salat, zakat, puasa, dan naik haji ke Mekkah

Dengan sekuat-kuatnya saya hendak tablig agama Islam dan meluaskan Gerakan Ahmadiyah seperti yang diperintahkan oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia.

Saya berjanji bahwa selama-lamanya tidak akan membencanai Islam dan Gerakan ini.

Ya Allah, Ya Rabbi ! Saya mohon ampun atas kesalahan saya, dan mohon perlindungan dari dosa. Ya Tuhan, saya mengakui kesalahan saya, maka ampunilah kesalahan saya, karena tidak ada yang dapat mengampuni kesalahan selain Engkau.

Saksi                                                                           

…………………………………..

………………………………….                                            ………………………………………..

LAMPIRAN 2

 

JANJI SEPULUH

(DIUCAPKAN WAKTU BAI’AT)

 

Saya berdiri saksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Saya berjanji dengan hati tulus bahwa:

1.   Selama hidup tak akan berbuat dosa syirik (yaitu menyembah Tuhan selain Allah)

2.   Akan menyingkiri segala macam kejahatan, seperti misalnya: berdusta, berzina, memandang orang lain dengan nafsu birahi, khianat, sewenang-wenang, mengacau dan berbuat bencana, lagi pula tak akan tunduk kepada meluapnya hawa nafsu.

3.   Akan tekun menjalankan salat lima waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya; dan dengan sekuat-kuatnya akan menjalankan salat tahajud, dan memohonkan rahmat atas Nabi Suci (salawat), memohon perlindungan dari pada dosa (istigfar), mengucapkan syukur atas nikmat Ilahi (tasyakur), memuji dan memahasucikan Allah (tahmid dan tasbih)

4.   Tak akan menyakiti sesama manusia, teristimewa kaum Muslimin, baik dengan tangan, lisan ataupun dengan cara-cara lain.

5.   Akan tetap setia kepada Allah, baik di waktu senang maupun susah, di waktu kecukupan maupun kesempitan, di waktu sehat maupun sakit; dan dalam keadaan bagaimanapun akan tetap tawakal kepada Allah; dan akan menghadapi segala kesukaran dan kehinaan di jalan Allah dengan gembira; di saat-saat derita tak akan mundur selangkah pun bahkan semakin menguatkan tali pengikat dengan Allah.

6.   Akan menjauhkan diri dari kelakuan buruk atau menurut ajakan nafsu daging; dan akan menaati sepenuhnya segala perintah Qur’an Suci; dan akan menjunjung tinggi sabda Allah- dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup

7.   Akan menjauhkan diri dari kesombongan, dan sebaliknya akan hidup dengan andap asor, rendah hati, dan lemah lembut

8.   Akan menjunjung tinggi kehormatan agama Islam melebihi apa saja, bahkan melebihi jiwa, harta, tahta, anak dan saudara

9.   Akan mencintai sesama manusia demi cinta saya kepada Allah; dan dengan sekuat-kuatnya hendak menggunakan nikmat pemberian Allah untuk kebahagiaan umat manusia.

10. Akan menaati perjanjian ini sampai mati, dan dengan segala keikhlasan akan meneguhkan tali persaudaraan ini lebih daripada ikatan keluarga dan ikatan-ikatan lainnya.

LAMPIRAN 3

                                                               

Lahore

Qadian

1.     Muhammad adalah khataman al nabiyyin, dalam arti bahwa ia adalah nabi terbesar, sekaligus nabi terakhir penutup para nabi 1.     Muhammad adalah khatam al-nabiyyin, dalam arti bahwa ia adalah nabi terbesar, meski bukan nabi terakhir penutup para nabi.
2.     Qur’an Suci adalah syariah terakhir bagi dunia 2.     Qur’an Suci adalah syariah terakhir bagi dunia
3.     Tidak ada nabi, baik lama maupun baru, yang akan muncul sesudah Nabi Muhammad 3.     Nabi dapat muncul sesudah Nabi Muhammad
4.     Mirza Ghulam Ahmad bukan seorang Nabi, melainkan seorang pembaharu (mujjadid), dan sekaligus al-Masih yang dijanjikan serta al-Mahdi bagi umat Islam 4.     Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi, dan sekaligus al-Masih yang dijanjikan serta al-Mahdi bagi umat Islam
5.     Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah mengubah klaim, pandangan, atau definisinya tentang kenabian pada 1901 dengan adanya publikasi Ek Ghalati ka Izala 5.     Bukti tertulis pertama tentang perubahan keyakinan Mirza Ghulam Ahmad menyangkut kenabian terdapat pada selebaran Ek Ghalati ka Izala
6.     Keyakinan terhadap kedatangan Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid bukan prasyarat menjadi Muslim, tetapi penerimaan terhadap dirinya perlu demi kepentingan memajukan Islam. 6.     Keyakinan terhadap misi kenabian Mirza Ghulam Ahmad menjadi prasyarat untuk menjadi Muslim
7.     Siapa pun yang menyatakan keimanan dengan kalimat syahadat adalah seorang muslim, bukan kafir 7.     Siapa pun yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, ia adalah kafir
8.     Diperbolehkan untuk melaksanakan salat di belakang imam seorang Muslim manapun sepanjang ia tidak mengkafirkan Muslim lainnya. 8.     Tidak diperbolehkan salat di belakang imam seorang yang tidak mengakui klaim Mirza Ghulam Ahmad
9.     Hubungan perkawinan dengan orang non Ahmadi diperbolehkan. 9.     Hubungan perkawinan dengan orang non Ahmadi tidak diperbolehkan
10.  Setelah Nabi Muhammad, wahy al-nubuwwah telah berhenti; hanya wahy al-wilayah yang terus berlanjut.
Wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad adalah wahy al-wilayah, bukan wahy al-nubuwwah
10.  Setelah Nabi Muhammad, wahy al-nubuwwah terus berlanjut. Wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad adalah wahy al-nubuwwah.
11.  Pendiri Ahmadiyah Lahore adalah Maulana Muhammad Ali, salah seorang sahabat  dan sekaligus murid Mirza Ghulam Ahmad 11.  Pendiri Ahmadiyah Qadian adalah Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, anak dari Mirza Ghulam Ahmad, yang selanjutnya menjadi Khalifah al-Masih kedua

nb: Rudy Harisyah Alam merupakan perwakilan dari Balai Litbang Departemen Agama. Paska penyerangan Ahmadiyah Qadiyan di Parung dia mendapatkan tugas untuk meneliti dan membuat Paper tentang Ahmadiyah Lahore, tulisan yang telah anda baca merupakan hasil penelitiannya

8 Tanggapan

  1. 1. Kami tidak setuju Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian bercerai, karena kami memihak bersatu sesuai An Nahl (16) ayat 93, dan tidak memihak cerai berai sesuai Ar Ruum (30) ayat 32.

    2. Kami tidak setuju Departemen Agama Republik Indonesia melarang Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian hidup di bumi Indonesia yang berfalsafah Panca Sila, UUD. 45.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  2. Supaya adil harap dimuat juga didalam situs ini FORMULIR BAIAT AHMADIYAH QADIAN!

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. Sejauh yang saya ketahui Bai’at antara Qadian dan Lahore adalah sama, maaf kalau salah

  4. Untuk mengetahui dengan persepsi yang benar menurut kitab suci Nabi Suci tentang Ahamdiyah maupun Lahor atau Qadian, bacalah buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA” berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI0”
    hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selam 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dengan sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. Pak Soegana getol sekali ya promosi di site ini.

    Saya hanya sekedar klarifikasi saja. Tentang “sambutan tokoh Islam Pakistan”, menurut saya tulisan itu tidaklah selayaknya disebut sambutan atas penerbitan buku Pak Soegana. Tulisan ini tidak lebih sebagai balasan surat dari Hazrat Amir Saeed Ahmad atas surat Bapak terhadap beliau. Dan bukankah surat itu terbit tahun 93, sedangkan buku bapak baru terbit belakangan (baru-baru) ini saja.
    Sang penerjemah surat tersebut juga sempat mempertanyakan kenapa balasan surat itu dijadikan (dicantumkan) sebagai pengantar/sambutan pada buku bapak, apalagi disebut sebagai “sambutan umat Islam, pakistan”.
    Dari isi surat tersebut, tidak ada satu pernyataan pun yang mengarah pada buku yang bapak maksud.
    Terima kasih.

  6. Saudara, Penganut Ahmadiyah Yth :
    Sadarlah, Agama Allah itu Islam, Nabi terakhir itu Muhammad SAW. Jadi saudaraku jangan tertipu oleh iming-iming apapun, harta/ dunia ini tak cukup ditukar dengan aqidah Islmam, selagi nafas dibadan sadar dan tobatlah Saudaraku…..!

  7. Ikhwan Doharmi Sihotang, saya sependapat dengan ikhwan bahwa yang kami bela adalah Islam bukan Ahmadiyah, dan nabi kami pun juga Muhammad SAW bukan Mirza Ghulam Ahmad sekiranya ikhwan doharmi membaca semua artikel yang kami sajikan tentu tidak akan terjadi kesimpulan yang keliru terhadap gerakan dakwah kami. Barangkali yang ikhwan maksud adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang saat ini mendapat SKB dari Pemerintah, untuk itu kami harap ikhwan dapat membaca masalah tersebut disini. Terimakasih.

  8. Sdr. Rudy Harisyah Alam
    Memperhatikan tulisan sdr ttg Ahmadiyah Qadiyan itu tidak lebih dari Pandangan seorang Ahmadi Lahore kepada Ahmadiyah Qadian bukan Hasil sebuah Penelitian yang netral. silahkan diuji kalau tidak percaya, semoga para pemerhati mau mengkajinya lebih cermat lagi. “katanya peneliti???”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: