• Selamat Datang

    Banyak umat Islam yang tidak / belum mengetahui perpecahan dalam Ahmadiyah yang terjadi tahun 1914. Pada tahun tersebut Ahmadiyah terpecah menjadi dua. Perpecahan itu diakibatkan tiga perbedaan yang sangat FUNDAMENTAL yakni :
    1. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad betul-betul Nabi.
    2. Beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur'an Suci. 61:6.
    3. Semua orang Islam yang tidak berbai’at kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama beliau, hukumnya kafir dan keluar dari Islam (klik Ainai Sadaqat . hal 70-71)
    Yang mendukung pendapat itu adalah Ahmadiyah Qadiyan. Di indonesia organisasi itu bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
    Sedangkan yang tidak menyetujuinya memisahkan diri dan membentuk anjuman baru. Anjuman itu bernama Anjuman Ahmadiyya Ishaati Islam Lahore (AAIIL) atau yang lebih dikenal dengan nama Ahmadiyah Lahore. Di Indonesia organisasi ini bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia. Untuk lebih mengenal lebih lanjut tentang Ahmadiyah Lahore ini silahkan klik
    -Gerakan Ahmadiyah Indonesia
    - Kliping Tentang Ahmadiyah

  • Artikel Terakhir

  • Kategori

  • Sign In

Ahmadiyah Kebangkitan Islam Kembali

AHMADIYAH KEBANGKITAN ISLAM KEMBALI

“Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar Ia memenangkan itu di atas semua agama. Dan Allah sudah cukup sebagai saksi” (Q.S. 48:28)

 

 

Tiga Lukisan

Mengomentari ayat kemenangan Islam atas semua agama di atas Ibnu Jarir menulis: “Agama yang benar yang Dia turunkan kepada Utusan-Nya itu akan mendapat kemenangan dari segala agama dan kemenangan ini akan terjadi (kembali) dengan turunnya Isa bin Maryam” (Tafsir Ath-Thabari jilid 28, hlm. 54). Bagaimana cara memenangkannya? Ayat berikutnya memberikan tiga lukisan, Baca selebihnya »

Defending the Oppressed Ahmadiyah

We concluded that “all people who believe in Syahadat – that Allah is the one God and that Muhammad is God’s messenger who brings us the principles of Islam — must be recognized as the brothers of Islam and must be protected.”

By Imam Ghazali Said*


Just over an hour after the Inter-religious Forum appointed me to be a spokesperson for the Ahmadiyah on April 24; my mobile phone started ringing and it hasn’t stopped since. The reason: people were asking me why I was defending the sect. Let me tell you the reasons:

The Ahmadiyah – either the Lahore group, which is popularly known the Indonesian Ahmadiyah Movement (GAI), or the Qodiyan group, otherwise known as the Indonesian Ahmadiyah Community (JAI) – have had significant interactions with Indonesian nationalist figures, both Muslim and secular, from 1920 until the 1980s. During this period, GAI and JAI members took part in the struggle for Indonesian independence and participated in the strengthening of national education.

Sayid Syah M Muballig, the head of Indonesian restoration committee and compiler of the Urdu language program for Radio Republic Indonesia in 1950, Erfan Dahlan, the son of Muhammadiyah founder KH Ahmad Dahlan, and many other figure in GAI and JAI took part in the struggle for independence and joined resistance groups, including the BKR, TKR, KOWANI and KNIL.

Baca selebihnya »

Mematahkan Salib

 

 

MEMATAHKAN SALIB

(KASRUSH-SHALIB)

“Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya hampir turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, maka ia akan memecahkan salib (yaksirush-­shalib)… .. .. ” (H.r. Bukhari)

 

 

Nabi Isa a.s. Telah Wafat

Hadits nuzul atau turunnya Nabi Isa ibnu Maryam kontroversial. Imam Syaukani menilai mutawatir ma’nawiyah, tetapi Mahmud Syalthut menilai Ahad. Batu uji Hadits profetik tersebut adalah Qur’an Suci dan bukti sejarah. Qur’an Suci sebagai Kitab nubuat yang nubuatnya tergenapi pada suatu waktu secara implisit menerangkan hal itu dalam Surat Az-Zuhkruf (43) ayat 57-61, maka dari itu sabda Nabi tentang nuzul Nabi Isa ibnu Maryam shahih adanya. Untuk memperoleh pengertian yang benar, terlebih dahulu harus memahami tentang mati-hidupnya Almasih Isa bin Maryam a.s.

Baca selebihnya »

Integrasi Religi

INTEGRASI RELIGI

 

Demi Dzat.yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya hampir turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, maka ia akan memecahkan shalib (yaksirush shalib) ….. (H.r.Bukhari)

 

 

Mengapa Salib Dipecah?

 

Kata salib (berasal dari bahasa Arab shalb adalah cara membunuh yang sudah terkenal) menurut KBBI artinya: 1. dua batang kayu yang bersilang tempat Yesus dihukum orang Yahudi; 2. tanda silang; menyalib menghukum mati pada kayu salib (tangan dan kaki orang yang dihukum direntangkan dengan dipakukan pada kayu salib). Jadi kalau hanya direntangkan dengan dipakukan pada kayu salib tidak sampai mati lalu diturunkan namanya bukan menyalib Baca selebihnya »

Kaidah Tafsir Al Quran

KAIDAH TAFSIR AL QURAN

“Dia ialah yang menurunkan Kitab kepada engkau; sebagian ayat-ayatnya bersifat menentukan (mukhamat) – inilah landasan Kitab – dan yang lain bersifat ibarat (mutasyabihat). Adapun orang yang hatinya busuk, mereka mengikuti bagian yang bersifat ibarat, karena ingin menyesatkan dan ingin memberi tafsir (sendiri). Dan tak ada yang tahu tafsirnya selain Allah, dan orang yang kuat sekali ilmunya, mereka berkata: kami beriman kepadanya, semua ini adalah dari Tuhan kami. Dan tak ada yang mau berfikir, selain orang yang mempunyai akal. ” (Q.S. 3:7).

Petunjuk Tak Langsung

Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (Rakernas MUI) di Jakarta tgl 6 November 2007 memutuskan Sepuluh Kriteria Sesat. Seseorang atau segolongan orang dinyatakan sesat atau menyimpang dari jalan yang benar jika a.l. “melakukan penafsiran Al­Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir”. Sayang kaidah-kaidah tafsir yang valid tak disebutkan, maka kriteria tersebut justru membuat umat semakin bingung. Padahal masalahnya amat signifikan dan urgen dalam memahami suatu ayat. Oleh karena itulah Pembaharuan Islam menurunkan artikel “Kaidah Tafsir Al-Qur’an” yang valid. Validitasnya dapat diuji. Baca selebihnya »

Wahyu Ilahi

 

WAHYU ILAHI

 

“Mahasucikanlah nama Tuhan dikau Yang Mahatinggi, Yang menciptakan lalu menyempurnakan dan Yang menentukan ukuran (bagi masing-masing ciptaan) lalu memberi petunjuk (ke arah kesempurnaan.). (Q.S. 87: 1-3)

 

 

Wahyu Ilahi versus Wahyu Setan

 

Kriteria sesat menurut Rakernas MUI tahun 2007 yang ke-3 adalah “meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an”. Kriteria ini menyesatkan, karena bukan hanya bertentangan dengan ajaran Quran Suci, Hadits Nabi dan pengalaman rohani orang-orang suci dari zaman ke zaman saja, melainkan pula melahirkan premanisme atau setanisme, sebab setan pun dapat memberi wahyu: “Dan demikianlah bagi tiap-tiap Nabi Kami buatkan musuh, setan-setan manusia dan jin sebagian mereka yuhi (membisikkan) sebagian yang lain dengan ucapan yang indah untuk menipu (mereka)” (6:112; lih 6:121).

Baca selebihnya »

Kematian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

 

KEMATIAN

H.M.GHULAM AHMAD

 

“Aduh celaka sekali hamba-hamba itu! Tiada datang kepada mereka seorang Utusan melainkan mereka memperolok-olok dia “ (Q.S. 36:30)

 

 

Premis Yang Salah

Para penentang H.M. Ghulam Ahmad dan Gerakannya seringkali mengemukakan bahwa kematian beliau karena doa mubahalah beliau sendiri yang ditulis pada tanggal 15 April 1907 lalu dimuat dalam majalahAhli Hadits, edisi 26 April 1907, yang beliau namakan “Penghabisan Verslag” yang dipetik oleh penulis artikel “Matinya Mirza Ghulam Ahmad” dalam rubrik Cakrawala Majalah Keluarga Islam NIKAH Vol. 7 No. 3 Juni-Juli 2008. Sbb: “Wahai Allah SWT yang Maha-mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada pengikutnya dengan sebab kematianku”. Baca selebihnya »

Ahmadiyah Ahlus-sunah Wal Jama’ah

 

AHMADIYAH AHLUS-SUNNAH WAL-JAMA’AH

“Dan hendaklah diantara kamu ada satu golongan yang menyeru kepada kebaikan, dan menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah. Mereka itulah orang yang beruntung” (Q.S. 3: 104).

 

 

Profetik Perpecahan Umat

 

Qur’an Suci secara halus menubuatkan tentang perpecahan umat Islam di kemudian hari sebagaimana tersirat dalam ayat suci 3:104 di atas, tetapi Nabi Suci berulangkali menubuatkannya dengan kata-kata yang terang, a.l. sbb: “Sesungguhnya kaum Yahudi berpecahbelah menjadi 71 golongan dan kaum Kristen berpecahbelah menjadi 72 golongan dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan” (H.r. Abi Daud), selanjutnya beliau bersabda “semuanya masuk Neraka, kecuali satu golongan” Baca selebihnya »

Tarekat Ahmadiyah (Tarekat Nabi Suci Muhammad SAW)

 

TAREKAT AHMADIYAH

(TAREKAT NABI SUCI MUHAMMAD SAW)

 

“Bacalah dengan nama Tuhan dikau Yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhan dikau adalah Yang paling Murah-hati, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Yang mengajarkan kepada manusia apa yang ia tak tahu ” (Q.S. 96:1-5)

 

 

Islam itu Sufistik

Dalam wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Suci Muhammad saw itu semua ayatnya mengandung nilai sufistik. Perintah membaca dengan nama Tuhan dikau (Rabbika) yang implementasinya adalah “Bismillahir-rahmanir-rahim”, artinya “Aku mohon pertolongan Allah Yang Maha-pemurah, Yang Maha-­pengasih”. Hanya dengan pertolongan Tuhan sajalah manusia dapat mencapai kesempurnaan sebagaimana yang dituju oleh sufisme. Baca selebihnya »

Persamaan & Perbedaan Ahmadiyah lahore dengan lainnya

PERSAMAAN & PERBEDAAN

AHMADIYAH (LAHORE) DENGAN LAINNYA

 

“Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat manusia satu umat. Dan mereka tak henti-hentinya berselisih; kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhan dikau; dan untuk inilah Ia menciptakan mereka” (Q.S. 11: 118-119)

 

 

Perbedaan itu rahmat

Kalimat “dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat manusia satu umat” maksudnya menurut Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya adalah “Allah tak memaksa manusia supaya menganut suatu kepercayaan; Allah memberi kebebasan memilih, apakah menerima ataukah menolak Kebenaran” (tafsir no. 1208), seperti dinyatakan dalam ayat lain. “Kebenaran adalah dari Tuhan kamu, maka barang siapa suka ia boleh beriman, dan barang siapa suka ia boleh kafir” (18: 29). Ini tak berarti bahwa menerima Kebenaran dari Tuhan tak diganjar dan menolak Kebenaran tak dihukum. Baca selebihnya »