• Selamat Datang

    Banyak umat Islam yang tidak / belum mengetahui perpecahan dalam Ahmadiyah yang terjadi tahun 1914. Pada tahun tersebut Ahmadiyah terpecah menjadi dua. Perpecahan itu diakibatkan tiga perbedaan yang sangat FUNDAMENTAL yakni :
    1. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad betul-betul Nabi.
    2. Beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur'an Suci. 61:6.
    3. Semua orang Islam yang tidak berbai’at kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama beliau, hukumnya kafir dan keluar dari Islam (klik Ainai Sadaqat . hal 70-71)
    Yang mendukung pendapat itu adalah Ahmadiyah Qadiyan. Di indonesia organisasi itu bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
    Sedangkan yang tidak menyetujuinya memisahkan diri dan membentuk anjuman baru. Anjuman itu bernama Anjuman Ahmadiyya Ishaati Islam Lahore (AAIIL) atau yang lebih dikenal dengan nama Ahmadiyah Lahore. Di Indonesia organisasi ini bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia. Untuk lebih mengenal lebih lanjut tentang Ahmadiyah Lahore ini silahkan klik
    -Gerakan Ahmadiyah Indonesia
    - Kliping Tentang Ahmadiyah

  • Artikel Terakhir

  • Kategori

  • Sign In

GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA

Allah SWT bersabda:

Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa (khalifah) di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa (khalifah), dan bahwa Ia akan menegakkan bagi mereka agama mereka yang telah Ia pilih, dan bahwa Ia akan memberi keamanan sebagai pengganti setelah mereka menderita ketakutan. Mereka akan mengabdi kepada-Ku, dan tak akan menyekutukan Aku dengan apapun. Dan barang siapa sesudah itu tidak bersyukur, mereka adalah orang-orang durhaka

(QS 24:55)

 

Nabi Suci Muhammad saw bersabda:

”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap-tiap abad orang yang akan memperbaharui baginya agamanya”

(HR Abi Daud)

 

 

Menurut ayat suci di atas Allah berjanji akan menjadikan umat Islam sebagai penguasa (khalifah) dimuka bumi, yang pemenuhan janji itu pasca Nabi Suci dibangkitkannya Khalifah ruhani atau Mujaddid pada permulaan tiap-tiap abad. Mujaddid adalah orang yang diangkat Allah untuk memperbaharui agama Islam. Pembaharuan (tajdid) yang dilakukan adalah dinamisasi (iman) purifikasi (akidah dan ibadah) dan reinterpretasi Quran Suci sesuai dengan tuntutan zaman. Berkat tajdid inilah Islam senantiasa akan selaras dengan fitrah manusia sebagaimana diajarkan oleh Quran Suci dan Sunnah Nabi. Pembaharuan para mujaddid itulah yang disebut Gerakan Pembaharuan Dalam Islam.

Ahmadiyah didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Alqadiani, Mujaddid abad ke-14 Hijriyah yang bergelar Almasih dan Mahdi, berdasarkan ilham dari Allah SWT. Yang beliau terima pada tanggal 1 Desember 1888 dan sekarang Ahmadiyah telah tersebar di seluruh dunia.

 

Pendiri Gerakan Ahmadiyah

“Penulis surat selebaran ini diberitahu bahwa ia adalah Mujaddid pada abad ini dan bahwa keluhurannya menyerupai Al Masih Ibnu Maryam. Aku datang untuk menegakkan kebenaran Islam dan untuk meyakinkan manusia akan keindahannya dan untuk memimpin mereka kearah sumber ajaran Islam. Aku tak membawa syari’at baru, Qur’an Suci adalah Kitab Suci terakhir. kedatanganku adalah untuk mengabdi kepada Islam dan untuk menyiarkannya, dan untuk membersihkan wajah Islam dari kotoran-kotoran yang melekat kepadanya, sebagai akibat dari hiruk pikuk pikiran manusia. Aku adalah Mujaddid abad ke 14 Hijriyah ini”. (Surat Selebaran, tahun 1885 )

“Aku berkeyakinan teguh bahwa Nabi kita Muhammad s.a.w. adalah Nabi terakhir dan sesudah beliau tidak akan dibangkitkan lagi seorang Nabi, baik Nabi lama maupun Nabi baru.” (Nishan-i-Asmani, hal 28 )

Deklarasi Sumpah Hazrat Maulana Muhammad Ali, Amir pertama Gerakan Ahmadiyah Lahore:

“Aku, Muhammad Ali, Amir Gerakan Ahmadiyah Lahore, bersumpah Demi Allah bahwa keyakinan saya adalah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Mujaddid dan Al-Masih, dan bukan seorang nabi, dan seseorang yang tidak mempercayainya tidak kafir dan tidak keluar dari Islam; hal ini juga merupakan keyakinan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri. ‘Wahai Allah’, bila saya telah berdusta atas nama-Mu, kirimkanlah kepadaku Azab yang sangat berat biar dunia melihat betapa mengerikan dan menakutkannya Azab Ilahi kepada orang yang berdusta atas nama Mu” (Dikutip dari Iqra A Souvenir Megazine, hal 34, 1985)

Lihat juga Kliping Tentang Ahmadiyah

GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA

“Nabi Suci Muhammad saw. bersabda bahwa sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap abad orang yang akan memperbaharui agamanya baginya”. (H.r. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a)

Apakah Ahmadiyah itu?

Berdasarkan Hadits sahih di atas, Allah SWT. pada tiap-tiap permulaan abad membangkitkan seorang Mujadid atau orang yang memperbaharui agama di dalam Islam. Pembaharuan mereka itulah yang disebut gerakan pembaharuan di dalam Islam.

Ahmadiyah berjuang hanya untuk membela dan menyiarkan Islam melalui lima cabang kegiatan dakwah Islam yang telah digariskan oleh Mujadid dalam kitab Fathi Islam (1893), yaitu:

  • 1. Menyusun karangan-karangan atau buku-buku dan menerbitkannya
  • 2. Menyiarkan brosur-brosur dan maklumat-maklumat yang dilanjutkan dengan pembahasan dan diskusi
  • 3. Komunikasi langsung dengan kunjung-mengunjung, mengadakan ceramah-ceramah dan majelis taklim
  • 4. Korespondesi dengan mereka yang mencari atau menolak kebenaran Islam
  • 5. Bai’at

Dua Golongan Ahmadiyah

Setelah pendiri Gerakan Ahmadiyah wafat (26 Mei 1908), Gerakan Ahmadiyah dipimpin oleh Shadr Anjuman Ahmadiyah yang diketuai oleh Maulwi Hakim Nuruddin. Setelah beliau wafat pada tanggal 13 Maret 1914, Shadr Anjuman Ahmadiyah dipimpin oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, putra pendiri Gerakan Ahmadiyah. Beberapa saat setelah ia terpilih, timbullah perbedaan pendapat yang penting dan mendasar. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berpendapat bahwa:

  • 1. Masih Mau’ud itu betul-betul Nabi
  • 2. Beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur’an Suci 61:6
  • 3. Semua orang Islam yang tidak berbai’at kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama beliau, hukumnya kafir dan keluar dari Islam (Ainai Sadaqat, Hal 35)

Pendapat tersebut yang menyebabkan terjadinya perpecahan dalam Ahmadiyah. Mereka yang setuju terhadap pendapat tersebut  dikenal sebagai Ahmadiyah Qadian, karena pusatnya di Qadian, India tetapi setelah Pakistan dan India merdeka pindah ke Rabwah sampai sekarang, meskipun Khalifahnya berada di Inggris. Kemudian mereka menyebut dirinya sebagai Jemaat Ahmadiyah

Sedangkan mereka yang tak setuju terhadap pendapat tersebut tergabung dalam Ahmadiyah Anjuman Isya’ati Islam (Ahmadiyah, Gerakan Penyiaran Islam) yang berpusat di Lahore dan dikenal sebagai Ahmadiyah Lahore yang pada saat itu dipimpin oleh Maulana Muhammad Ali, M.A., LL.B., sekretaris Almarhum Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Menurut Ahmadiyah Lahore, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad bukanlah Nabi, dia adalah seorang Mujaddid. Ahmad dalam Al-Qur’an adalah Nabi suci Muhammad saw. dan kaum Muslimin yang tidak bai’at kepada beliau tidaklah kafir.

Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI)

Faham Ahmadiyah Anjuman Isya’ati Islam atau Ahmadiyah Lahore masuk ke Indonesia pada tahun 1924 dengan perantaraan dua muballigh, Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad. Berkat rahmat Allah, pada tanggal 10 Desember 1928 Gerakan Ahmadiyah Indonesia (sentrum Lahore) didirikan oleh Bapak R.Ng.H.Minhadjurrahman Djajasugita dkk. yang mendapat Badan Hukum Nomor 1X tanggal 30 April 1930.

Dalam melaksanakan aktivitas dakwahnya, GAI telah menerbitkan puluhan judul buku-buku agama dalam bahasa Belanda, Jawa dan Indonesia serta majalah-majalah. Di samping itu telah pula melahirkan Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) di Yogyakarta dan di berbagai daerah, yang menyelenggarakan pendidikan (sekolah) mulai tingkat Taman Kanak-kanak sampai perguruan Tinggi

——————————————————————————————

“Saya berdiri saksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”

JANJI  SEPULUH

DIUCAPKAN WAKTU BAI’AT

SAYA  BERJANJI  DENGAN  HATI  TULUS  BAHWA:

  • 1. Selama hidup tak akan berbuat dosa syirik
  • 2. Akan menyingkiri segala macam kejahatan, seperti misalnya: berdusta, berzina, memandang orang lain dengan nafsu birahi, khianat, sewenang-wenang, mengacau dan berbuat bencana, lagi pula tak akan tunduk kepada meluapnya hawa nafsu.
  • 3. Akan tekun menjalankan shalat lima waktu sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya; dan dengan sekuat-kuatnya akan menjalankan shalat tahajjud, dan memohonkan rahmat atas Nabi Suci (sholawat), memohon perlindungan daripada dosa (istighfar), mengucapkan syukur atas nikmat Ilahi (tasyakur), memuji dan memahasucikan Allah (tahmid dan tasbih).
  • 4. Tak akan menyakiti sesama manusia, teristimewa kaum Muslimin, baik dengan tangan, lisan ataupun dengan cara-cara lain.
  • 5. Akan tetap setia kepada Allah, baik di waktu senang maupun susah, di waktu kecukupan maupun kesempitan, di waktu sehat maupun sakit; dan dalam keadaan bagaimanapun akan tetap tawakkal kepada Allah; dan akan menghadapi segala kesukaran dan kehinaan di jalan Allah dengan gembira; di saat-saat derita tak akan mundur selangkah pun bahkan semakin menguatkan tali pengikat dengan Allah.
  • 6. Akan menjauhkan diri dari kelakuan buruk atau menurut ajakan nafsu daging; dan akan mentaati sepenuhnya segala perintah Qur’an Suci; dan akan menjunjung tinggi sabda Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup.
  • 7. Akan menjauhkan diri dari kesombongan, dan sebaliknya akan hidup dengan andap asor, rendah hati dan lemah lembut.
  • 8. Akan menjunjung tinggi kehormatan agama Islam melebihi apa saja, bahkan melebihi jiwa, harta, tahta, anak dan saudara.
  • 9. Akan mencintai sesama manusia demi cinta saya kepada Allah; dan dengan sekuat-kuatnya hendak menggunakan nikmat pemberian Allah untuk kebahagiaan umat manusia.
  • 10. Akan menaati perjanjian ini sampai mati, dan dengan segala keikhlasan akan meneguhkan tali persaudaraan ini lebih daripada ikatan keluarga dan ikatan-ikatan lainnya.

——————————————————————————————

POKOK  KEKUATAN GERAKAN  AHMADIYAH  INDONESIA

  • 1. Kesatuan Islam, siapa saja yang menjunjung syahadat tetap Muslim, bukan kafir.
  • 2. Paham Islam amat luas, Islam mengakui bahwa semua agama itu pokok aslinya dari Allah.
  • 3. Islam itu sempurna, semua bentuk agama yang tak sempurna pasti akan menyingkir.
  • 4. Memudahkan Qur’an, semua orang Islam dapat memahami dan menerangkannya.
  • 5. Qur’an itu genap dan lengkap, tak ada dan tak akan ada ayatnya yang mansukh (dihapus)
  • 6. Ruh Qur’an Suci itu amat kuasa, kuasa ruh Qur’an Suci dapat dan selalu dapat menaklukkan dunia, tanpa membutuhkan pertolongan pedang.
  • 7. Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir, sesudah beliau tak ada dan tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama atau Nabi baru.
  • 8. Kesempurnaan Kenabian ada pada diri Nabi Muhammad saw., oleh sebab itu para pengikutnya mendapat rahmat Ilahi yang lebih tinggi daripada umat sebelumnya.
  • 9. Membersihkan semua kesalahan yang masuk dalam umat Islam, teristimewa Kependetaan (Kerahiban).
  • 10. Mendatangkan perintah Islam yang maha besar kepada sekalian umat di dunia. Menyiarkan pengertian yang benar tentang Qur’an Suci

AQIDAH GERAKAN  AHMADIYAH  INDONESIA

  • 1. Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dan percaya semua perkara agama yang telah disetujui oleh para Ulama Salaf dan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Dan yakin bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang terakhir.
  • 2. Nabi Muhammad saw. adalah khatamun nabiyyin. Sesudah beliau tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.
  • 3. Sesudah Nabi Muhammad saw. Malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwwat kepada siapa pun.
  • 4. Apabila Malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat:”Walaakin rasuulullaahi wa khaataman-nabiyyiin” (Qur’an Suci 33:40), dan berarti membuka khatamun nubuwwat.
  • 5. Sesudah Nabi Muhammad saw. silsilah wahyu Nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu Walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlaq umat tetap segar.
  • 6. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw. bahwa di dalam umat ini tetap akan datang Auliya Allah, para Mujaddid, dan para Muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.
  • 7. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalan bukan nabi, hanya berkedudukan sebagai mujaddid.
  • 8. Percaya kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir
  • 9. Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir
  • 10. Kami berpendapat bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai pelayan dan misi Nabi Muhammad saw.

JATI DIRI GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA

Dalam Teori

  • 1. Islam adalah agama yang hidup. Semua pengikutnya yang sempurna, dengan ridha Ilahi, dapat berhubungan dengan-Nya.
  • 2. Islam adalah agama kesatuan. Semua umat Islam adalah saudara dan tak seorangpun dapat disebut kafir karena berbeda pendapat, selama ia berpegang teguh kepada kalimat laailaaha illallaah Muhammadarrasuuuullah (Tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah)
  • 3. Agama Islam berpandangan liberal. Islam mengakui kesatuan umat manusia dan menerima semua Nabi yang dibangkitkan diantara semua bangsa di dunia.
  • 4. Islam adalah agama yang unggul dan tak bisa diungguli. Prinsip-prinsip ajarannya secara bertahap akan diterima dan memperoleh kemajuan di dunia
  • 5. Islam adalah agama yang rasional. Baik ajaran pokok (ushul) maupun cabang-cabang (furu’)nya selaras dengan nalar dan fitrah manusia.
  • 6. Pintu Ijtihad tetap terbuka untuk selama-lamanya.
  • 7. Kitab Suci Al-Qur’an mendapat tempat yang pertama dan utama dalam kehidupan, dan merupakan sumber hukum Islam yang asli dan tak dapat diganti. Hadits datang sesudah itu dan berada di bawah Al-Qur’an. Sesudah itu datang Fiqih (yurisprudensi) dan Ijtihad para Imam, yang kedua-duanya berada di bawah Qur’an Suci dan Hadits Nabi saw
  • 8. Kitab Suci Al-Qur’an adalah sumber petunjuk bagi umat manusia sepanjang zaman. Tak ada satu ayat pun yang pernah hapus atau akan dihapus
  • 9. Kitab Suci Al-Qur’an memiliki daya rohani yang besar; oleh karena itu tidak memerlukan dan tak akan memerlukan pedang.
  • 10. Kitab Suci Al-Qur’an adalah kumpulan semua kebenaran rohani dan agama, dan memancarkan sinar kepadanya. Tidak hanya mendorong ke arah kemajuan dibidang agama saja, tetapi juga memberikan dalil-dalil dalam memperjuangkannya.
  • 11. Nabi Suci Muhammad saw. memiliki sifat-sifat kesempurnaan semua Nabi terdahulu; oleh karena itu umat manusia tidak memerlukan datangnya Nabi lagi.
  • 12. Nabi Suci Muhammad saw. adalah penutup para Nabi. Sesudah beliau tidak akan datang lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru. Para Mujaddid (pembaharu) akan bangkit pada tiap-tiap permulaan abad untuk membetulkan kesalahan-kesalahan umat Islam dan memberi bimbingan ke jalan yang benar.

Dalam Praktek

  • 1. Menghormati para pendiri agama dari berbagai bangsa dan kitab-kitab sucinya.
  • 2. Menghormati semua sahabat Rasulullah saw., semua Imam (dari madzab manapun), para Wali dan Mujaddid.
  • 3. Beranggapan bahwa semua madzab dalam Islam adalah sebagai ranting-ranting pohon yang beraneka macam. Perbedaan-perbedaan kecil bisa saja timbul, tetapi semua sependapat tentang Qur’an Suci dan Nabi Muhammad saw.
  • 4. Tunduk kepada syari’at dan adat istiadat Islam. Menjauhi semua adat dan kebiasaan yang buruk dan menerima kekuasaan Al-Qur’an secara kaffah.
  • 5. Cinta kasih kepada siapapun (pemeluk agama apapun, dari negara manapun dan bangsa atau umat apapun juga)
  • 6. Beranggapan bahwa setiap orang Islam adalah saudara dan berusaha sedapat mungkin untuk menolongnya
  • 7. Kebaktian kepada agama Islam dikerjakan bersama Imam dan Mujaddid pada abadnya dan di bawah pimpinannya. Berjuang untuk memperbaharui organisasi dan membuang kesalahan-kesalahan dengan semangat dan jiwa agama yang besar.
  • 8. Membela agama Islam, semua Kitab Suci dan Utusan Allah dari segala serangan.
  • 9. Beranggapan bahwa dirinya sebagai duta di jalan Tuhan Yang Maha Esa dalam hal menyebar-luaskan Islam. Menyampaikan wahyu Tuhan dan pesan Islam kepada seluruh bangsa di dunia.
  • 10. Membelanjakan sebagian dari waktu dan miliknya untuk mempertahankan dan menyiarkan Islam.
  • 11. Dengan senang hati menghadapi segala macam kesulitan, kesalah-pahaman dan penghinaan demi dan untuk agama Allah
  • 12. Menjunjung tinggi agama melebihi dunia. Cinta kasih kepada Tuhan dan Utusan-Nya. Mendahulukan pelayanan kepada agama Islam dan rela berkorban untuk umat manusia pada umumnya dan Nabi Suci Muhammad saw. pada khususnya daripada urusan duniawi

PEGANGAN TEGUH GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA

  • 1. Percaya dengan yakin akan ke-Esaan Allah dan Kenabian Muhammad saw.
  • 2. Percaya dengan yakin bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi terakhir dan yang terbesar di antara para nabi. Dengan datangnya beliau agama telah disempurnakan oleh Allah. Oleh sebab itu, sepeninggal beliau tak akan ada nabi lagi yang diutus; akan tetapi pada tiap-tiap permulaan abad Hijriah, akan diutus Mujaddid-mujaddid (pembaharu-pembaharu), untuk melayani dan menegakkan Islam.
  • 3. Percaya dengan yakin, bahwa Al-Qur’an Suci adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw., tak ada satupun ayat yang dihapus selama-lamanya sampai Hari Kiyamat, Qur’an menjadi pedoman dan petunjuk bagi kaum Muslimin
  • 4. Mengakui bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid abad 14 Hijirah. Beliau bukan Nabi dan tidak pernah mengaku Nabi.
  • 5. Percaya bahwa Allah kerap kali mewahyukan sabda-Nya kepada orang-orang suci yang dipilih oleh Allah di antara kaum Muslimin, meskipun mereka bukan nabi. Orang-orang semacam ini disebut Mujaddid atau Muhaddats, artinya orang yang diberi sabda Allah. Anugerah semacam itu acapkali disebut dzillunnubuwwah, artinya bayang-bayang kenabian. Sebagaimana kata dzillullaah atau bayang-bayang Allah berarti raja, bukan Allah, demikian pula kata dzillu-n-nabiy atau bayang-bayang Nabi ini bukan berarti Nabi yang sungguh-sungguh.
  • 6. Barangsiapa mengucapkan dua kalimah syahadat: “asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah” dan percaya akan arti dan maksudnya, maka ia adalah orang Islam, bukan kafir.
  • 7. Menghormati dan memuliakan para sahabat, para wali dan para ulama besar Islam. Tak membeda-bedakan penghormatan terhadap para sahabat, para wali, para muhaddats dan para Mujaddid.
  • 8. Menyebut kafir kepada orang Islam adalah perbuatan yang amat keji. Oleh sebab itu, tak akan bersalat makmum di belakang siapa saja yang menyebut kafir kepada orang Islam; hal ini untuk menunjukkan betapa tidak sukanya terhadap perbuatan semacam itu; sikap demikian dilakukan terhadap siapa saja, baik ia itu orang Ahmadi ataupun bukan. Sebaliknya, mau bersalat makmum di belakang siapa saja yang tidak mengafirkan orang Islam.
  • 9. Mengakui akan benarnya hadits nuzulul Masih atau turunya Al-Masih. Akan tetapi oleh karena Qur’an Suci sendiri, dengan kata-kata yang terang telah berfirman bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, maka kita percaya bahwa Masih yang turun pada akhir zaman, bukanlah Nabi Isa bangsa Israil, melainkan seorang Mujaddid yang sifat-sifatnya ada persamaannya dengan Nabi a.s.
  • 10. Percaya bahwa tak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, dan percaya bahwa tak ada Imam Mahdi yang datang menyiarkan Islam dengan pedang. Adapun Imam Mahdi yang sesungguhnya ialah seorang Mujaddid yang dianugerahi petunjuk dan sabda Allah untuk menegakkan menjaga dan menghayati agama Islam yang sejati

SIKAP GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA

Terhadap Politik

  • 1. Gerakan Ahmadiyah tersebar luas di berbagai negara dan Kerajaan di dunia, yang masing-masing mempunyai cara hidup dan kepercayaan sendiri.
  • 2. Di negara manapun Gerakan Ahmadiyah menetap, tunduk dan taat kepada Undang-undang Negara yang bersangkutan dengan memegang teguh semboyan: Laa tha’ata limahluuqin fil ma’shiyatillaah, artinya tidak ada ketaatan terhadap sesama makhluk dalam hal maksiyat kepada Allah.
  • 3. Gerakan Ahmadiyah bukanlah gerakan politik dan tak mencampuri perjuangan politik apa saja di manapun juga, sekalipun Gerakan Ahmadiyah menyadari akan pentingnya perjuangan politik.
  • 4. Gerakan Ahmadiyah tidak dan tidak akan merampas hak politik anggotanya, asalkan gerakan politik itu tak bertentangan dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa; namun gerakan Ahmadiyah memperingatkan anggotanya agar tetap setia kepada baiatnya: hendak menjunjung tinggi agama melebihi dunia.
  • 5. Tujuan Gerakan Ahmadiyah ialah hendak mendirikan Islam (damai) di dunia dan sekali-kali tak akan membuat fasad (kerusakan) di dunia
  • 6. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) sekali-kali tak bertanggung jawab atas sikap Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang lebih dikenal sebagai Ahmadiyah Qadian.

Terhadap Agama Selain Islam

  • 1. Yang mendapat kemenangan adalah agama yang mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa. Penyembah berhala, penyembahan manusia, penyembahan makhluk pasti akan dikalahkan.
  • 2. Yang menang ialah sistem hidup yang sesuai dengan fitrah (kodrat)
  • 3. Yang menang ialah agama yang tak ada paksaan di dalamnya, baik paksaan senjata maupun dengan uang atau bujuk rayu penipuan
  • 4. Yang menang ialah agama yang terbuka, bukan agama yang sembunyi-sembunyi. Oleh sebab itu:
  • 5. Berbicara dan bermusyawarah tentang agama harus selalu ada, yang timbul dari cinta kasih kepada sesamanya. Bukan dengan mencela Tuhan yang disembah oleh fihak lain, sekalipun bukan Allah.

Terhadap Sesama Muslim

  • 1. Gerakan Ahmadiyah menyatakan dengan tegas bahwa di dalam Islam tak ada sekte (firqah), yang ada ialah mazhab. Mazhab bukanlah sekte, melainkan pendapat tentang masalah agama yang lazim disebut masalah far’iyyah (detail), bukan masalah pokok. Terhadap masalah pokok semua mazhab sama pendapatnya.
  • 2. Ittibaa’ (mengikuti) pendapat para Imam, para Mujtahid dan Mujaddid, ini dibenarkan oleh Islam asalkan disertai dengan pertimbangan ilmu (pengetahuan akan dalil-dalilnya). Yang tak dibenarkan ialah taqlid a’ma, artinya mengikuti pendapat para ulama tanpa dipertimbangkan dengan ilmu dan tak mengetahui dalil-dalilnya. Orang Ahmadi harus lebar dada, artinya harus menunjukkan toleransi terhadap pendapat orang lain. Orang Ahmadi tak boleh sempit dada, karena yang pasti benar hanyalah Allah dan Rasul-Nya.
  • 3. Gerakan Ahmadiyah menyadari bahwa ada golongan dan perkumpulan Islam yang mengabdi dan berbakti kepada Allah semata-mata menurut kekuatan dan kecakapannya sendiri. Golongan dan perkumpulan itu diakui sebagai sahabat, bahkan sebagai saudara. Gerakan Ahmadiyah ikut bersyukur, jika golongan atau perkumpulan Islam semacam itu mendapat kemenangan, dan jika mendapat kesulitan dan kemalangan Gerakan Ahmadiyah ikut beristighfar, bahkan suka memberi pertolongan jika mereka mau menerimanya.
  • 4. Gerakan Ahmadiyah berpendapat bahwa sebaiknya golongan-golongan itu makin menyadari akan bahaya yang mengancam Islam; dengan demikian masing-masing golongan akan merapatkan barisannya, saling memperkuat benteng pertahanannya, bahu membahu menghadapi bahaya yang sedang mengancam itu, dengan meninggalkan perkara yang remeh-remeh dan tahu membedakan antara barang yang mendatangkan manfaat dan yang mendatangkan bencana.

Musuh Islam

Musuh Islam menurut Gerakan Ahmadiyah Indonesia (G.A.I) dan cara menghadapinya, bisa dijelaskan sebagai berikut:

  • 1. Islam itu bukan orang dan bukan umat. Oleh karena itu, musuhnya pun bukan orang atau umat.
  • 2. Musuh Islam ada yang bersemayam dalam dada kaum Muslimin dan kaum non-Muslim.
  • 3. Musuh Islam yang bersemayam di dalam dada kaum Muslimin dan kaum non-Muslim ialah: Kemusyrikan (termasuk pula syirik khafi), kekafiran, kemaksiatan dan kefasikan (durhaka). Gerakan Ahmadiyah wajib memanggil dan mengajak mereka supaya mengabdi kepada Allah Yang Maha Eda dan menghormati sekalian Utusan Allah.

Kekuatan Islam

Kekuatan Islam menurut Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), penjelasannya sebagai berikut:

  • 1. Islam mempunyai kekuatan yang tak ada taranya di dunia, karena agama Islam adalah agama fitrah (agama kodrat)
  • 2. Merasa kuat itu belum tentu kuat sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, orang Islam tak cukup hanya merasa kuat, tetapi ia harus kuat sungguh-sungguh. Adapun caranya ialah mengenal akan Undang-Undang Allah, baik yang tersirat di alam semesta maupun yang tersurat dalam Qur’an Suci
  • 3. Nabi Muhammad saw. adalah contoh yang paling baik. Beliau telah membawa perubahan yang tak ada taranya dalam sejarah dunia. Beliau telah mengubah ruh Jahiliah menjadi ruh Islam dan Iman yang mengguncangkan dunia. Bukan dengan jalan tambal sulam barang yang rusak, melainkan mengubah sama sekali asas Jahiliah. Beliau meniupkan ruh baru yang hanya tunduk kepada Allah, dengan memutuskan segala tali pengikat yang membelenggu kemerdekaan ruhnya.

Kekristenan dan Kepercayaan Lain

Tentang kekristenan dan kepercayaan lain menurut Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) adalah sebagai berikut:

  • 1. Memeluk agama atau kepercayaan itu harus dari pilihannya sendiri. Syarat dan kemampuan untuk memilih itu sesudah orang mencapai akil baligh
  • 2. Tak ada paksaan dalam memilih agama atau kepercayaan, baik paksaan dengan pedang, maupun paksaan dengan harta atau kedudukan, lebih-lebih paksaan dengan tipu daya. Islam tak mengenal paksaan dalam memilih agama.

Kemenangan GAI

Kemenangan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (G.A.I.) penjelasannya sebagai berikut:

  • 1. Gerakan Ahmadiyah tidak menang dan merasa menang, jika Islam belum mendapat kemenangan, karena Gerakan Ahmadiyah adalah pelayan Islam semata-mata.
  • 2. Gerakan Ahmadiyah telah dapat menarik sementara orang ke dalam Islam. Ilmu dan paham adalah laksana angin, yang dapat masuk ke dalam dada orang-orang dengan perantaraan buku, brosur, surat kabar dan media komunikasi yang lain, tak sedikit orang yang tertarik kepada Islam. Ini adalah pertanda baik.
  • 3. Ada golongan yang memfitnah dan memaki-maki Gerakan Ahmadiyah. Mereka menuduh bahwa Gerakan Ahmadiyah adalah kaki tangan Inggris, subversif dan sebagainya. Adakalanya tuduhan palsu itu laku juga, tetapi orang yang terlanjur membelinya, lama kelamaan merasa bahwa ia tertipu.
  • 4. Dahulu pernah ada ulama besar yang datang ke Indonesia semata-mata untuk memburuk-burukkan Gerakan Ahmadiyah. Ulama ini ialah Abdul Alim As- Shidiqi. Gerakan Ahmadiyah tak melayani ulama tukang fitnah, dan bekerja terus untuk syi’ar Islam. Buku-buku Ahmadiyah telah tersebar luas di mana-mana. Orang yang berotak sehat akan menilai baik-buruk Gerakan Ahmadiyah dari hasil karyanya.

34 Tanggapan

  1. Belum ada komentar, jika dalam tubuh GERAKAN AHMADIYAH terpecah menjadi dua bagian.
    1. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad berpendapat bahwa:

    1. Masih Mau’ud itu betul-betul Nabi
    2. Beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur’an Suci 61:6
    3. Semua orang Islam yang tidak berbai’at
    kepadanya, sekalipun tidak pernah mendengar nama beliau, hukumnya kafir dan keluar dari Islam (Ainai Sadaqat, Hal 35)
    Menurut saya tidak sejalan dengan nafas Isalm yang sesungguhnya
    tetapi jiga dalam tubuh GAI mengalir sari’at islamiah dan sunah Nabi Muhammad SAW. Apa salahnya……..! Toh itukan hanya pergerakan menuju perjuangan di jalan Allah. dan bukan Aliran. Isalm tidak punya aliran-aliran, kecuali Cabang-cabang ilmu.

  2. Sejalan dengan komentar mas buyung sidik silahkan lihat pada point Terhadap Sesama Muslim point 1&3:

    1. Gerakan Ahmadiyah menyatakan dengan tegas bahwa di dalam Islam tak ada sekte (firqah), yang ada ialah mazhab. Mazhab bukanlah sekte, melainkan pendapat tentang masalah agama yang lazim disebut masalah far’iyyah (detail), bukan masalah pokok. Terhadap masalah pokok semua mazhab sama pendapatnya.

    3. Gerakan Ahmadiyah menyadari bahwa ada golongan dan perkumpulan Islam yang mengabdi dan berbakti kepada Allah semata-mata menurut kekuatan dan kecakapannya sendiri. Golongan dan perkumpulan itu diakui sebagai sahabat, bahkan sebagai saudara. Gerakan Ahmadiyah ikut bersyukur, jika golongan atau perkumpulan Islam semacam itu mendapat kemenangan, dan jika mendapat kesulitan dan kemalangan Gerakan Ahmadiyah ikut beristighfar, bahkan suka memberi pertolongan jika mereka mau menerimanya.

  3. Ternyata ada juga yang bisa mengerti dan memahami tentang ajaran ahmadiyah. Pada awal saya bersekolah di PIRI saya juga ragu tapi ternyata ada yang mengerti juga. Semoga orang yang salah mengerti itu bisa memahami dan mendapat hidayah-NYA.

  4. berharap masyarakat tidak memandang ahmadyah hanya dari satu sisi saja, karena selama ini ahmadiyah dilihat oleh masyarakat adalah ajaran yang menyimpang, yang mereka tahu sebenarnya adalah JEMA’AT AHMADIYAH QODIAN..

  5. KALAU AHMADIYAH TERPECAH JADI 2, LANTAS AHMADIYAH YG SEKARANG TIDAK MENGANGGAP MGA SEBAGAI NABINYA KENAPA MASIH MEMAKAI NAMA AHMADIYAH? DAN SIAPA PEMBENTUK ALIRAN MEREKA LAGI ? BUKANKAH AQIDAH MEREKA TELAH BERBEDA DARI AHMADIYAH YG DIBENTUK DI LONDON SANA ? AGAMA KOG BISA DI BUAT BUAT OLEH MANUSIA BEGITU

  6. SAYA PIKIR KESIMPULANNYA, KARENA RUANG GERAKNYA TERBATAS DI SELURUH DUNIA MAKA AHMADIYAH MULAI KOMPROMIS UNTUK MELUNAKKAN HATI ORANG2 YANG MEMUSUHINYA SALAH SATUNYA ADALAH DENGAN CARA MENYAMAKAN AQIDAHNYA DENGAN ISLAM. PADAHAL YANG DIAJARKAN OLEH MGA TIDAK SPT ITU. LALU SIAPA YANG MERUBAHNYA KINI? TUJUANNYA KAN SUPAYA ORANG ISLAM MENGANGGAP AHMADIYAH SAMA DGN ISLAM AKHIRNYA MEREKA TERJEBAK MASUK KEDALAMNYA

  7. Mas IrhamBahtiar
    Semasa HMGA itu masih hidup sama sekali tidak ada perpecahan umat, mas bisa baca sendiri kutipan Bpk Menteri Agama di http://img43.imagevenue.com/img.php?image=68597_Mentri_Agama_122_615lo.jpg
    disana ada pernyataan:
    “Sebelum Mirza Ghulam Ahmad – Pendiri Ahmadiyah – wafat, tidak ada persoalan yang menyangkut persatuan dan kesatuan umat. Tapi, setelah beliau wafat, timbul masalah. Sebagian pengikutnya yakin bahwa beliau adalah nabi, ini kelompok Ahmadiyah Qadiyan. Kelompok lain lain tidak dapat menerima keyakinan ini. Mereka yakin beliau hanya Mujaddid, pembaharu, seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ini keyakinan kelompok Ahmadiyah Lahore”

    Wass

  8. Assalamualaikum Ww. Saudara-saudaraku sesama MUSLIM, kebenaran datangnya dari ALLAH SWT, Barang siapa yang berpegang teguh kepada ALQURAN dan SUNAH RASUL (MUHAMMAD SAW) maka dia tidak akan tersesat sampai akhir zaman. Silahkan berdakwah tapi jangan mengkaburkan dan meragukan Ajaran ISLAM. Sebaiknya tidak mengunakan nama nama atau embel embel yang membuat berbagai penafsiran yang berbeda-beda tentang agama ISLAM. Islam adalah agama yang haq dan diredhoi ALLAH SWT. Wassalamualaikum Ww.

  9. [...] tentang aliran yg meresahkan masyarakat. Jadi keinget, kan PIRI didirikan sama salah satu aliran yg dipermasalahkan sekarang. Jangan..JANGAN2.. tapi..mana mungkin juga..wong gedung g angus masih utuh Terus juga ga [...]

  10. AHMADIYAH YANG SEJATI TIDAK AKAN PERNAH DAPAT DIHANCURKAN, KALAU MAU HANCUR KENAPA TIDAK ZAMAN MASIH MAU’UD SAJA? KITA LIHAT YANG HANCUR ITU JEMAAT HADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD AS ATAU MUSUH-MUSUHNYA.

  11. Assalaamu’alaikum,……..
    Hentikan saling mengejek,untuk apa membahas ahmadiyah,LDII atau yang lain-lainnya……………
    Islam itu bukan ahmadiyah,bukan muhammadiyah,bukan NU atau bahkan bukan LDII tapi Islam itu adalah Islam………………………

    Siapa yang menggunakan pedoman dalam ajaran Islam sesuai dengan syari’at itulah Islam……….

    Itu saja,jadi jangan saling menghina antar kelompok dalam organisasi…….hal itu cuman sia-sia…..bahas satu yang benar yaitu Islam yang benar-benar Islam tanpa tambahan/bid’ah yang diada-ada………

    Semoga Allah memberikan kenikmatan kepada seluruh Umat Muslim sedunia di dunia dan di akherat……

    Assalaamu’alaikum

  12. assalamualaikum..

    usahlahlah kita berbicara apa-apa pun
    tentang ajaran selain daripada islam sebenar iaitu
    ikutilah al-quran dan al-hadith yang merupakan pedoman untuk ummat islam seantero dunia

    benar, janganlah kita mengutuk antara satu sama lain kerena kan menimbulkan kesenangan kepada yahudi dan nasrani

    saya juga menasihati diri saya supaya menjauhi maksiat kerena hidup didunia ini x kekal selamanya..
    keredhaan Allah SWT amatlah diharapkan dalan hidup ini.

  13. Menurut saya orang Islam sekarang itu bodoh-bodoh, alias tidak belajar dari sejarah terdahulu. bahwa Islam tidak pernah bersatu secara utuh, selalu terjadi konfilk dan pertikaian di dalam tubuh Islam sendiri. coba tanya diri anda sendiri wahai umat Islam :
    1. Mengapa di dalam Silam ada golongan?
    2. Mengapa Islam terbagi kebeberapa golongon?
    3. Pentingkah golongan/aliran dalam Islam?
    4. Bukan nabi pernah bersabda, yang kurang lebih bahwa umatnya akan terbagi-bagi menjadi beberapa golongan, dan hanya satu golongan yang akan masuk surga bersama-Nya?
    5. Lalu mengapa kita mempersalahkan golongan?
    6. Bisakah Islam kembali pada jaran yang diajarkan Nabi Muhammad saw secara Utuh?
    7. Apakah ini kemunduran dan kebodohan Umat Islam?
    8. Tanyakan kepada diri anda, bukan sebagai muhamdadiyah, bukan sebagai Ahmadiyah, bukan sebagai golongan Islam lainnya, TAPI sebagai Umat Islam Universal…!

    terimakasih telah membaca komentar saya, saya memandang jengkel terhadap golongan-golongan dan aliran-aliran yang memecah belah umat Islam. kembalilah kepada Islam Universal sesuai ajran nabi dan kitab suci secara murni, lupakan dan tinggalkan segala golongan dan aliran semua itu menyesatkan. Kibarkan Ajaran Islam Murni tanpa golongan dan aliran, pegang tegug ajaran rosul dan Kitab suci Al Quran, maka Insya Allah umat Islam takan terpecah belah…..

  14. Ass..

    Mari kita satukan kembali Islam dan kembali ke Al-Qura’an jgn pernah kita mau dipecahkan oleh org-org yg ingin bertepuk tangan melihat perpecahan islam, karena itulah satu-satunya kelemahan Islam.
    Islam itu y Islam , bukan ahmadiyah , bukan muhhamadiyah , bukan NU buka Syiah atau apalah…

    Mari kita kembali ke Rasul kita Muhammad SAW, dan Kembali ke kitab pedoman kita Al Quran nul Karim..
    Bangkitlah Hii Islam… Bangkitlah Hii saudaraku…
    sadarlah…jgn pernah tercerai berai….

    Satukan kembali Islam dengan alat pemersatu kita yaitu Alquran….

    Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar….

  15. @ Yusup & luth al hadid

    Hingga tahun 1901, gerakan pembaharuan ini belum ada nama dengan kata lain tetap menggunakan nama Islam. Lalu atas kepentingan sensus yang diadakan Pemerintah setempat untuk membedakan antara golongan yang satu dengan yang lain (Pemerintah mewajibkan tiap2x golongan mempunyai nama) maka atas dasar itulah Nama Ahmadiyah diberikan, yang diambil dari salah satu nama Nabi Suci Muhammad saw, yang melambangkan aspek jamali (Aspek keindahan) atas dasar nama ini maka gerakan Ahmadiyah, merupakan gerakan yang menyiarkan Islam dengan Keindahan ajaran Nabi Suci Muhammad saw.

    Dalam Qur’an Suci kita dapati:

    Wahai orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah, dan ta’atlah kepada Utusan, dan kepada yang memegang kekuasaan di antara kamu; lalu jika kamu bertengkar mengenai suatu hal, kembalikanlah itu kepada Allah dan Utusan, jika kamu berman kepada Allah dan Hari Akhir. Ini yang paling baik dan paling tepat untuk (mencapai) penyelesaian (4:59)

    Ayat ini mengandung petunjuk supaya kita taat kepada Allah, Rasul dan Ulul Amri Min Kum. Dalam urusan Duniawi Ulul Amri Min Kum merupakan Pemerintahan setempat, dalam bidang Rohani Ulul Amri Min Kum merupakan para Mujaddid/Imamu Zaman (Imam pada zamannya) yang senantiasa dibangkitkan Allah untuk menyegarkan kembali Iman umat Islam.
    Menurut pendapat saya bermahzab itu perlu, saya tidak dapat membayangkan shalat, waudhu dsb tanpa mengikuti mahzab yang ada. Dan berorganisasi itu juga penting. Sayyidinna Ali pernah mengatakan bahwa: “Kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan Kebaikan yang tidak terorganisir“, lagi pula Qur’an Suci menyatakan:

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan, seakan-akan mereka itu bangunan kokoh (61:6)

    Dalam Hadits juga kita disuruh, Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang artinya kita wajib menjaga Sunnah Rasul dan ber Jama’ah, nah apakah mungkin kita berjamaah tanpa mempunyai Imam (Pemimipin)?
    Banyaknya golongan merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri (karena memang demikian yang dikehendaki Qur’an Suci, dan Hadits), yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya?, yang tidak boleh adalah golongan yang satu mengkafiri golongan yang lain. Masalah Takfirul Muslimin merupakan masalah kruisial yang mampu meluluh lantakan persatuan Islam. Allama Sayyid Jalaluddin menyatakan:

    Tindakan takfir atas kaum ahli Qiblat dengan sendirinya adalah suatu tindakan kekafiran” (Dala’il al-Masa’il)

    Pandangan kami terhadap golongan lain bisa dilihat pada “Sikap Gerakan Ahmadiyah” dibawah ” Terhadap Sesama Muslim” point 3 dan 4

    3. Gerakan Ahmadiyah menyadari bahwa ada golongan dan perkumpulan Islam yang mengabdi dan berbakti kepada Allah semata-mata menurut kekuatan dan kecakapannya sendiri. Golongan dan perkumpulan itu diakui sebagai sahabat, bahkan sebagai saudara. Gerakan Ahmadiyah ikut bersyukur, jika golongan atau perkumpulan Islam semacam itu mendapat kemenangan, dan jika mendapat kesulitan dan kemalangan Gerakan Ahmadiyah ikut beristighfar, bahkan suka memberi pertolongan jika mereka mau menerimanya.
    4. Gerakan Ahmadiyah berpendapat bahwa sebaiknya golongan-golongan itu makin menyadari akan bahaya yang mengancam Islam; dengan demikian masing-masing golongan akan merapatkan barisannya, saling memperkuat benteng pertahanannya, bahu membahu menghadapi bahaya yang sedang mengancam itu, dengan meninggalkan perkara yang remeh-remeh dan tahu membedakan antara barang yang mendatangkan manfaat dan yang mendatangkan bencana.

    Wasalam
    Erwan

  16. resay

    salam wa rahmah,
    Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aalihith Thahirin

    salam kenal dari saya yang berusaha untuk mencintai Ahlulbayt Nabi.

    Sering kali orang yang bertanya, pasti karena ketidaktahuannya akan sesuatu. Saya mengirimkan komen karena saya ingin mengajukan pertanyaan. Dan hal itu disebabkan karena saya tidak terlalu paham mengenai Ahmadiyah Lahore.

    Kalau boleh tanya, apakah Ahmadiyah Lahore meyakini keberadaan Kitab Tadzkirah? kalau meyakini keberadaan kitab tersebut, lalu bagaimanakah keyakinan saudara-saudaraku ahmadiyah lahore terkait dengan kitab tersebut? bagaimana kedudukan Al-Qur’an dikalangan ahmadiyah lahore.

    terima kasih banyak atas jawabannya.

    Semoga Allah senantiasa merahmati saudara-saudaraku Ahmadiyah Lahore.

    wassalam.

    Sebelumnya saya mohon maaf komentarnya saya pindahkan.
    Terima kasih atas pertanyaan ini. Banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada Ahmadiyah (Lahore) dan juga pendirinya Hazrat Mirza Ghulah Ahmad berkenaan dengan kitab Tazkirah.
    Perlu diketahui bahwa Imam Mirza Ghulam Ahmad tidak tahu menahu tentang buku yang berjudul Tazkirah ini. Yang menyusun buku Tazkirah ini adalah Ahmadiyah Qadiyan (Kelompok Ahmadiyah yang meyakini adanya lagi nabi setelah Nabi Suci Muhammad saw) dan disusun beberapa tahun setelah beliau wafat. Penyusunnya suatu tim atau panitia yang diketuai oleh Maulana Muhammad Ismail (dosen Jami’ah Ahmadiyah Qadiyan), Syaikh Abdul Qadir (muballigh Ahmadiyah Qadiyan) dan Maulwi Abdur Rasyid atas saran Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (khalifah II pada Jemaat Ahmadiyah kelompok Qadian) dan buku Tazkirah tersebut terbit pertama kali tahun 1935 M/1354 H. (Imam Mirza Ghulam Ahmad wafat tahun 1908 M). Jadi, buku Tazkirah tersebut sama sekali bukan Imam Mirza Ghulam Ahmad yang menyusun tetapi dari Ahmadiyah Qadiyan dan dilakukan setelah Imam Mirza Ghulam Ahmad wafat. Adapun isinya adalah “wahyu-wahyu” (baca ilham-ilham) dari Allah SWT. kepada Imam Mirza Ghulam Ahmad dan yang ditulis oleh beliau pada berbagai tulisan (buku-buku, makalah-makalah atau pun catatan harian) beliau. Hal itu sangat berbeda dengan Alquran, yang penyusunannya dilakukan sendiri oleh Rasulullah saw. sewaktu beliau masih hidup. Kesimpulan penting dari fakta tersebut adalah Imam Mirza Ghulam Ahmad sama sekali tidak mengetahui adanya buku Tazkirah, apalagi menyatakan Tazkirah sebagai pengganti kitab suci Alquran, jauh dari kenyataan. Jadi jelas, bila ada orang yang menyatakan bahwa Imam Mirza Ghulam Ahmad mengganti Alquran dengan Tazkirah itu merupakan fitnah

    Wasalam
    Erwan

  17. Mas Erwan,
    Saya kurang jelas untuk posisi Lahore terhadap Tazkirah susunan dari Qadyan ini, menolak atau menerima. Apakah dari pihak Lahore ada penyusunan wahyu MGA yang serupa?
    Wassalam,

  18. Assalamu’alaikum wr wb.
    Ikhwan muslim Yth, Bagi Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) Tadzkirah, tak ubahnya buku biasa saja yang siapa saja suka boleh membacanya atau kalau tidak suka boleh menolaknya.

    Sedangkan substansi tadzkirah yang merupakan ilham-ilham Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tentu saja akan kehilangan makna, ketika ilham-ilham itu dikumpulkan jadi satu karena dengan melepas ilham-ilham tersebut dari pokok bahasan yang diuraikan oleh HMGA maka besar kemungkinan bagi pembaca awam akan menimbulkan salah persepsi dan salah tafsir terhadap ilham-ilham tersebut yang membutuhkan penjelasan yang lengkap dari sipenerima ilham.

    Demikian penjelasan kami, terimakasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  19. Begitu ya Mas,
    Lantas dari fihak Lahore pastinya punya dong versi kumpulan wahyu2 MGA-nya, yang lebih lengkap.
    Boleh ditunjukkan salah satu misal wahyunya dan kelengkapannya dibandingkan dengan versi Qadyan, Mas?
    Salam,

  20. Wa’alaikum salam wr wb.
    Ikhwan Muslim Yth, Bagi Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) karena ilham2 tersebut merupakan penjelasan dari suatu peristiwa maka biarlah tetap berada satu bagian dengan buku-buku beliau yang sangat banyak dan tidak perlu dikumpulkan secara terpisah, sehingga jika ingin mengetahui sesuatu ya dibaca aja buku yang membahas sesuatu peristiwa tersebut dan kaitannya dengan ilham2 tersebut.
    Yang perlu diketahui adalah apa fungsi ilham2 tersebut karena secara substansi orang malah ribut pada masalah wahyunya bukan pada substansinya, Sebagian besar Ilham2 yang diterima HMGA adalah janji Allah SWT tentang kemenangan dakwah beliau terhadap lawan2 beliau dan ini banyak terbukti sejak beliau masih hidup sampai hari ini. Ada baiknya seorang yang arif dan bijaksana merenungkan kaitan Ilham janji Allah tersebut dan terpenuhinya isi dari janji tersebut. Mengapa kita tidak berusaha mendapatkan janji dari Allah dan tidak menginginkan Allah berbuat untuk memenuhi janji tersbut ketika kita masih hidup pada saat ini hingga nanti yang akan datang?. Bukankah Allah menjamin akan menjawab doa2 kita? Tidak yakinkah kita akan janji Allah tsb atau kita ragu dengan kualitas iman kita? mungkin ini yang perlu kita renungkan.

    Terimakasih. Wassalam. Wr wb

  21. Nikah antara Ahmadiyah dgn non Ahmadiyah, bagaimana pendapat anda? mohon masukan nya…

  22. Terima kasih atas penjelasannya Mas,
    Yang jadi perhatian saya adalah ilham2 itu berkenaan dengan pengakuan MGA sebagai nabi baru (Qadyan), penjelmaan Isa sekaligus Mahdi. Ada juga yang menyatakan dia juga adalah jelmaan Khrisna. Apakah ini bagian dari akidah Lahore juga?
    Salam,

  23. Assalamu/alaikum wr wb.
    Ikhwan muslim yth, didalam kasanah sufi sesorang yang berbuat sedemikian rupa mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. maka akan menempati maqam yang sangat mulia yakni fana-firasul atau lebur dalam sifat-sifat Rasulullah dan bahkan seseorang dapat mencapai kondisi fana-fillah yakni lebur dalam sifat-sifat Allah swt. Disini saya kutipkan beberapa tulisan dari para Ulama yang terkenal mengenai masalah ini:

    1. Professor Yusuf Saleem Chishti
    Penerjemah dan komentator karya Iqbal ini menulis sbb:
    “Tingkat pertama adalah fana fish-shaikh, menghasilkan kualitas dari pimpinan ruhaninya dalam dirinya; tingkat kedua adalah fana fir-rasul, menghasilkan kualitas nabi Suci dalam dirinya; tingkat ketiga adalah fana fi-llah, menghasilkan pencelupan asma Ilahi dalam dirinya”.
    (Sharh Bab Jibreel, hal. 267).

    2. Shah Waliullah dari Delhi (w. 1763 M.)
    Dikenal sebagai mujaddid abad 12 H., ulama yang mulia ini menulis:
    “Taqwa berarti tinggal menetap dalam batasan syariat agama. Kecintaannya kepada upacara yang disuruh Allah diterapkan dengan cintanya kepad Qur’an Suci, Nabi Suci dan Rumah Suci (Ka’bah), dan sesungguhnya mencintai segalanya yang berhubungan dengan Tuhan, termasuk bahkan cintanya kepada para wali. Beberapa orang menyebutnya fana fir-rasul atau fana fish-shaikh.”
    (Altaf al-Qudus, hal. 93, Gujaranwala, Pakistan, 1964).

    3. Khawaja Zia-ullah Naqshbandi
    “Peringkat fana fir-rasul dicapai ketika segenap karakteristik dan kualitas dari Nabi Suci diketemukan pada seseorang, dan seluruh amalan manusia, gerak-geriknya, kebiasaannya, pengabdian dan tafakkurnya semuanya tepat sesuai dengan sikap Nabi Suci…. Keberuntungan atas kebaikan yang sempurna adalah bahwa Allah mengecat hamba-Nya dengan warna serta sifat dari sahabat-Nya, yakni Nabi Suci”. (Maqasid as-Salikeen, hal. 46, Lahore).

    Lalu bagaimana orang-orang yang telah mencapai maqom tersebut menyatakan diri mereka :

    1. Abu Yazid Bustami (w. 874 M.)

    I. Dia berkata: “Orang-orang mengira bahwa saya seorang seperti mereka, tetapi bila mereka melihat atribut saya dalam dunia ruhani, mereka akan mati. Aku seperti sungai yang dalamnya tak diketahui, dan begitupun sumbernya, tak ada habisnya”. “Seorang laki-laki bertanya kepadanya, Apakah ‘arasy (singgasana Tuhan)? Dia berkata, akulah itu. Dia bertanya, Apakah Kursi (harfiah: kursi, atau ilmu Ilahi). Dia menjawab, akulah itu. Orang-orang berkata bahwa banyak hamba Tuhan yang tulus, seperti Ibrahim, Musa dan Nabi Suci Muhammad. Dia berkata: Akulah semuanya itu. Kemudian mereka bertanya tentang malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail. Dia berkata, aku semua dari mereka juga. Penanya berdiam diri. Abu Yazid menambahkan: Bila seseorang total lenyap di dalam Tuhan, maka karena Tuhan itu segala sesuatu, dia akan melihat dalam dirinya segala sesuatu”. (Tazkirat al-Auliya atau Memoir dari para Wali, edisi Urdu, bab 14, hal. 146).

    II. Diletakkan kepadanya bahwa pada Hari Pembalasan, setiap orang akan dikumpulkan di bawah bendera Nabi Suci Muhammad. Dia menjawab: “Demi Allah! Benderaku akan naik lebih tinggi dari bendera Nabi Suci. Semua orang dan para nabi akan berkumpul di bawahnya. Tidak ada yang seperti saya di langit, ataupun seseorang dengan asmaku di bumi. Asmaku tersembunyi dalam Yang Gaib (Allah). Bagaimana bisa seorang yang demikian itu lelaki biasa? Tidak; dia adalah lidah Kebenaran (Tuhan), dan yang berbicara adalah Kebenaran (Tuhan) Sendiri. ‘Dari-Ku dia berbicara, dari-Ku dia mendengar, dari-Ku dia melihat’. Karena itu, adalah Tuhan yang berbicara melalui lidah Abu Yazid. Dia Yang telah berkata: Benderaku lebih tinggi dari bendera Muhammad, s.a.w. Karena bendera Allah itu jauh lebih tinggi dari bendera Nabi Suci. Karena kalian membolehkan kata-kata ‘Sesungguhnya Akulah Tuhan’ bisa keluar dari sebatang pohon, maka kalian harus juga membolehkan kata-kata ‘Benderaku lebih tinggi dibanding Muhammad’ serta ‘Segala puji bagi-Ku, betapa besar kehormatan-Ku’ terbit dari pohon fikiran Abu Yazid”. (ibid. hal. 151).
    (Catatan: Rujukan dalam kata-kata “Dari-Ku dia berbicara…” adalah sesuai dengan hadist dimana Tuhan telah berkata: “Ketika Aku mencintai seseorang, Akulah Pendengarannya dengan mana dia mendengar, Akulah Penglihatan dengan mana dia melihat, Akulah Tangan dengan mana dia memegang, dan Akulah Kaki dengan mana dia berjalan” – Bukhari 81:38. Rujukan kepada kata-kata “Sesungguhnya Akulah Tuhan” muncul dari sebatang pohon adalah peristiwa terkenal dimana Musa mendengar suara ‘Sesungguhnya Akulah Tuhan, Rabb sarwa sekalian alam”, muncul dari semak atau pepohonan, sebagaimana dicatat dalam al-Qur’an – lihat 28:30. Abu Yazid di sini menerangkan bahwa seperti halnya suara itu bukanlah dari pepohonan itu sendiri, tetapi Allah yang berbicara melaluinya, begitu pula pernyataannya; sesungguhnya adalah suara Tuhan).

    III. Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistis yang tenar di dunia dari Persia, menyanyikan tentang Abu Yazid: “Darwis Abu Yazid yang mulia datang kepada murid-muridnya dan berkata: ‘Akulah Tuhan’. Pemimpin ruhani yang sempurna ini, dalam keadaan mabuk spiritual, mengumumkan tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka mengabdilah kepada-Ku. Dengan perkataan lain, dalam jubahku tiada lain kecuali Allah, sehingga berapa lama engkau akan mencari-Nya di langit dan di bumi?”
    (Miftah al-‘Ulum, hal. 25, 36; jil. 12, sec. 4, Bag. II)

    2. Abu Bakar Shibli (w. 945 M.)
    Diriwayatkan tentang wali Iraq yang terkenal ini:
    i. “Shaikh Shibli bertanya kepada siswanya: Tidakkah engkau bersaksi bahwa akulah Muhammad, Rasulullah? Muridnya bersaksi untuk itu”. (Saif ar-Rabbani, hal. 100)
    ii. “Tidakkah engkau pernah mempertimbangkan hal ini, bahwa ketika Nabi Suci Muhammad nampak dalam bentuk Shibli, dia (Shibli) telah berkata kepada seorang siswa tentang dia yang telah menerima rukyah (visiun): Bersaksilah bahwa aku Rasulullah. Maka siswa itu berkata: Sungguh saya berdiri saksi bahwa engkaulah Rasulullah. Ini bukanlah sesuatu yang diharamkan atau salah. Ini hanyalah seorang laki-laki yang tertidur (dalam mimpi) melihat seseorang dalam bentuk lainnya. Dan suatu jenis peringkat rukyah yang rendah adalah dimana seseorang melihat orang itu dalam mimpinya yang dilihatnya ketika dia terjaga”. (Al-Insan al-Kamil, jil ii, hal. 46, oleh Abdul Qadir Jili; lihat juga terjemah bahasa Inggris dalam R.A.Nicholson, Studies in Islamic Mysticism, Cambridge University Press, 1980, hal. 105).
    iii. “Dua laki-laki datang menjadi murid Abu Bakar Shibli. Dia berkata kepada salah-satu dari mereka: Katakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Shibli adalah Rasul-Nya’. Orang itu mengucapkan ekspresi la haul wa la (sesuatu yang kira-kira sama artinya dengan semoga Allah mengampuni!). Shibli menyatakan yang sama. Orang itu bertanya mengapa dia mengucapkan la haul. Shibli ganti bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Orang itu berkata, saya melakukannya karena kenapa saya menjadi murid orang yang merusak agama semacam ini? Shibli menjawab, saya mengucapkannya karena saya mengungkapkan rahasia yang begitu canggih kepada seorang yang bodoh. Dia kemudian memanggil orang kedua dan bertanya kepadanya: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Shibli adalah Rasul-Nya’. Dia berkata, saya kira engkau seorang dengan peringkat tinggi, ternyata engkau hanya utusan Allah. Shibli tertawa dan berkata: Saya akan mengajarimu.
    “ Demikianlah maka penangkapan dan pemahaman setiap orang itu berbeda. Ini adalah titik yang sama dimana seseorang tidak dapat mengambilnya, dan dia menolaknya, sedangkan yang lain mempunyai pemahaman yang lebih unggul. Shibli tidak pernah merasa direndahkan dengan apa yang difikirkan orang yang hanya melihat lahiriahnya saja. Faktanya adalah bahwa seorang yang menjadi guru, pembimbing dan mentornya itu melaksanakan fungsi yang diemban oleh Rasul Ilahi”. ( Tazkira Ghausiyya, oleh Maulana Shah Gul Hasan, hal. 315, dan Miftah al-Ashiqeen, hal. 16).

    3. Sayyid Abdul Qadir Jilani (w. 1166 M.)
    Dia adalah wali Iraq yang sangat terkenal di seluruh dunia, dengan kemasyhuran sampai kesetiap keluarga Muslim di dunia hingga kini.
    i. Pengalaman ruhani yang berikut ini diriwayatkan olehnya:
    “Tuhan telah merahmatiku dengan hadir di Madinah. Suatu hari saya sedang asyik mengingat Tuhan dalam ketenteraman ketika dia mengambilku dari dunia ini dan dari diriku sendiri, dan kemudian mengembalikan aku lagi. Dan saya berkata: ‘Bila Musa masih hidup maka dia akan menaati aku’. Inilah seolah saya adalah pengarang (dari Sabda itu), dan bukan seperti sedang menceriterakan Sabda itu. Maka saya tahu bahwa ini adalah benar-benar untukku dan saya telah dicabut oleh Allah. Saya lenyap (fana) dalam Nabi Suci, dan pada saat itu saya tidaklah sekedar si fulan atau si anu (yakni Abdul Qadir), tetapi saya pastilah Muhammad. Bila tidak, maka apa yang saya katakan hanyalah sekedar meriwayatkan sesuatu dari Nabi Suci”. (Saif ar-Rabbani oleh Sayyid Muhammad Makki, diterbitkan di Bombay, hal. 100).
    Kata-kata ‘Seandainya Musa masih hidup maka dia akan menaatiku’, adalah Sabda Nabi Suci Muhammad.
    ii. Dia menulis dalam sebuah sajak:
    “Aku adalah dunia yang lebih tinggi dengan cahaya Muhammad. Dalam rahasia ilmu Ilahi adalah kenabianku”.(Dari sajak yang dikenal sebagai Qasida Ruhi).
    iii. “Kenabian dalam pengertian lahiriah telah pergi, tetapi dalam istilah intinya ini tetap berlangsung hingga Hari Pembalasan. Kalau tidak, mengapa harus selalu ada empatpuluh wali di muka bumi? Aspek kenabian ada pada beberapa dari mereka, yang hatinya seperti para nabi. Dari antara mereka ada kalifah Tuhan dan utusan-Nya di bumi”. (Faiz Subhani, Kata-kata Abdul Qadir Jailani, diterbitkan di Delhi, hal. 122).
    iv. “Sungguh engkau pantas dikasihani! Engkau lari dariku, padahal Akulah penjagamu. Rumah-Ku memberimu perlindungan, bila tidak engkau pasti akan dibinasakan. Wahai manusia yang jahil! pertama lakukanlah ibadah haji kepadaku dan kemudian haji ke Baitullah. Akulah pintu ke Ka’bah (masjid pusat kaum Muslim di Mekkah), datanglah padaku dan aku akan tunjukkan padamu bagaimana melakukan ibadah haji”. (Wa’z Mahboob Subhani, hal.235, terjemah Urdu dari Fath ar-Rabbani wal-faiz ar-Rahmani).
    v. “Kewalian adalah zill (refleksi atau bayangan) kenabian, dan kenabian adalah zill dari Ketuhanan”. (Bihjat al-Israr, hal. 83).
    vi. Sebagian sajak dari Shaikh Abdul Qadir Jaelani:
    “Meskipun peringkatmu tinggi, tetapi kepunyaanku akan selalu lebih tinggi dari kepunyaanmu,
    “Akulah rajawali bagi setiap pembimbing ruhani dan terbangku tinggi, adakah orang lain yang diberkahi seperti aku,
    “Tuhan memberi tahuku akan rahasia kuno, dan memberiku apa yang kuminta,
    “Dia menjadikanku kepala para wali, perintahku harus dilaksanakan setiap saat,
    “Jika kuungkapkan rahasiaku maka lautan semuanya akan mengering,
    “Jika kunampakkan rahasiaku kepada gunung, maka dia akan runtuh dan menjadi seperti pasir
    “Jika kuperlihatkan rahasiaku kepada yang mati, dia akan bangkit hidup dengan kekuatan Ilahi,
    “Jika kubukakan rahasiaku kepada api, maka dia akan menjadi dingin dan padam,
    “Berlalunya bulan dan tahun tidaklah tanpa perintahku, mereka datang pertama kepadaku dan kemudian lewat,
    “Mereka memberitahuku segenap berita dunia ini, maka hendaknya engkau menghentikan kilah dan debatmu denganku,
    “Seluruh bumi Allah ini di bawah wewenangku, dan waktuku telah dibersihkan bagiku di hadapan hatiku,
    “Ketika saya melihat ke segenap bumi Allah, mereka berjumlah tidak lebih dari sebiji gabah,
    “Maka siapakah di antara para wali itu yang seperti aku, yang dapat bertanding denganku dalam ilmu dan kekuasaan,
    “Setiap wali dalam jejak langkah beberapa nabi, aku dalam jejak langkah Nabi Suci, rembulan yang sempurna”. (Dari sajak yang dikenal sebagai Qasida Ghausiyya).
    vii. “Aku jauh di atas kecerdasanmu. Maka janganlah kauukur aku dengan seseorang, atau mengukur seseorang denganku”. (Futuh al-Ghaib, hal. 22).
    viii. “Orang-orang mempunyai pembimbing ruhaninya , Jin memiliki pembimbing spiritual mereka, dan malaikat mempunyai pembimbing spiritual mereka. Tetapi aku pembimbing ruhani bagi mereka semuanya”. (Bihjar al-Israr, hal. 23).
    ix. “Allah mengungkapkan jenis-jenis ilmu yang menakjubkan ke hati orang besar. Dia membukakan kepadanya rahasia semacam itu yang disembunyikan dari orang-orang lain. Dia menghormatinya, menariknya kepada Dirinya, membimbingnya ke pintu-pintu kedekatan-Nya, dan membukakan hatinya bagi diterimanya ilmu serta rahasia. Dia menjadikannya juru-ingat-Nya kepada umat dan suatu tanda Ilahi di antara mereka. Dia menjadikannya seorang pemberi petunjuk dan orang yang diberi petunjuk . Dia menjadikannya perantara dengan Tuhan begitu pula yang wasilahnya diterima. Dia menjadikannya seorang yang tulus dan wali, yang menjadi pengganti para nabi dan utusan”. (Futuh al-Ghaib, wacana no.33).

    Kesimpulannya, jadi dalam konteks demikianlah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menyatakan dirinya, dan hal itu adalah sebuah kewajaran dari proses perjalanan ruhani yan telah beliau tempuh.

    Adakah kita berhasrat mengikuti jejak para wali Allah tsb, ??? mari kita renungkan.

    Terimakasih. Wassalamu’alaikum wr wb

  24. Ikhwan Dudu Yth,
    Didalam aqidah Gerakan Ahmadiyah Indonesia tidak ada pernyataan yang membatasi perkawinan antara anggota Gerakan Ahmadiyah maupun dengan yang lainnya. Anggota Gerakan boleh menikah dengan siapa saja asal sesuai dengan hukum2 Islam yang telah disepakati oleh Ulama, sehingga perkawinan antara Anggota Gerakan maupun dengan yang lainnya tidak menjadi masalah bagi kami.
    Demikian, Terimakasih.

  25. aku baru tau ada kalo ada gerakan ahmadiyah yang nggak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi..

  26. Assalamu alaikum wr.wb

    Menyandingkan islam dengan ahmadiyah, atau mohammadanisme, atau dalam bahasa indonesia mungkin muhammadiyah adalah bentuk kekeliruan. ISlam bukan ajaran Muhammad, ataupun ajaran ahmadiyah, atau mungkin tepatnya mohammadanisme. Islam buka konsep Muhammad. Muhammad dalam konteks ini bukan seorang mujtahid, ataupun mujaddid, melainkan sebagai perantara yang diberikan wewenang kerasulan untuk menyampaikan risalah Allah Swt kepada manusia, tepatnya Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Muhammad Saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan sang Haliq, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

    bukan saatnya untuk menafsirkan Islam berdasarkan aliran “A,B,…Z”.
    Pokok utama islam jatuh pada titik nadirnya saat ini adalah karena islam justru di sekulerkan, dileberalkan, dan dicampakkan hanya di tempat-tempat tertentu semisal masjid, surau, pusantren, depag, kua, dll. islam hanya dijadikan ajara spiritual yang akan menhapus dahaga spiritual orang-orang yang dahaga. sementara dalam tataran praktis islam tidak dijadikan pengikat, pengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat (spiritual, politik, ekonomi, kenegaraan, pendidikan, pengolaan sumber daya, dsb.) ummat islam saat ini sangat jauh dari apa yang dicontohkan dan diperjuangkan oleh Rasulullah yang mulia.
    dahulu Rasulullah mendirikan negara madinah, dengannya (daulah islam), islam desebarkan ke penjuiru dunia, dengannya seluruh hukum islam diterapkan baik hukum indifidu, masyarakat, maupun negara, dengannya islam mendapatkan kemuliaan, dengannya jihad diorganisir, dengannya hudud ditegakkan, dengannya kemaslahatan ummat di realisasikan, dengannya perbatasan terjaga, dengannya takseorangpun mampu menghinakan Rasul, dengannya takseorangpun berani menganggap diri sebagai nabi, dengannya kemuliaan wanita terangkat, dengannya sumberdaya alam ummat terjaga, dengannya keadilan akan tegak, dengannya semua ummat berlindung dibelaknnya, dengannya harta bergulir ditengah-tengah masyarakat secara adil dan syar’i, dan banyak lagi kebaikan yang akan muncul darinya. Allah Swt. berfirman “sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan taqwa, maka Allah akan menurunkan berkahnya dari langit dan bumi”. wallahu a’lam.

  27. wa’alaikum salam wr wb.
    ikhwan Fatih yth, kami memahami apa yang ikhwan maksudkan dan kami di Gerakan Ahmadiyah pun memiliki keinginan dan cita-cita yang sama dengan ikhwan, dalam bahasa kami yaitu kemenangan Islam, akan tetapi kami juga menyadari apa yang harus dilakukan dan apa yang belum perlu dilakukan pada masa sekarang ini, karena tantangan yang dihadapi oleh kaum muslimin sudah barang tentu berbeda dengan yang dihadapi oleh Rasulullah pada saat itu. Untuk itu memang perlu sekali seluruh elemen kaum muslimin bahu membahu merapatkan barisan dan mengesampingkan segala perbedaan (bila itu dianggap perbedaan) untuk mencapai cita-cita bersama yaitu kemenangan Islam.
    Terimakasih. Salam Perjuangan.
    Wassalam. wr wb.

  28. selama Tuhannya Allah, Nabinya Muhammad, pegangannya Quran dan Hadist, Syahadat tiada tuhan selain Allah dan bersaksi Muhammad utusan Allah, hajinya di mekkah, puasa dan berzakat, sholat 5 waktu….ya tak masalah. apapun mazhabnya (berbeda pd masalah detil, bkn pokok) Islam = Islam.

    “gigitlah dg gigi geraham” oleh kalian quran dan hadist….

    • Assalamu’alaikum wr wb, Ikhwan Aji Yth sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya; perbedaan yang ada diantara kaum muslimin pada umumnya dan Gerakan Ahmadiyah pada khususnya hanyalah pada masalah furu’iyah (atau masalah detail dari suatu pendapat, bukan pada pokok keimanannya) sehingga kami yakin perbedaan ini tidak akan menjadi persoalan jikalau kita mau berusaha sedikit saja membuka kitab-kitab yang ditulis para alim ulama klasik, mengapa demikian karena pendapat yang kami kemukakan bukanlah hal yang baru, akan tetapi bersumber dari pendapat (manhaj) para ulama terdahulu (salafus shalih), cuma memang perbedaannya pendapat tersebut tidak menjadi mainstream pendapat umat sehingga terasa asing dan aneh apabila kita kemukakan sesuatu yang seolah-olah berbeda, namun bila kita menyimak tulisan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad berikut ini tentu semakin yakin diri kita tidak menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan yang lain kecuali dalam masalah furu’iyah tersebut diatas, berikut kutipan tulisan HMGA :

      “Betapapun besarnya ulama yang menentang kita menciptakan kebencian terhadap kita di kalangan umat dan mengumumkan kita sebagai kafir serta sesat dari iman, dan berusaha agar kaum Muslim percaya bahwa saya, bersama-sama dengan seluruh yang mengikuti saya, telah menyimpang dari keimanan Islam dan dasar-dasar kepercayaan, semua ini direkayasa oleh para Maulawi yang cemburu. Tak seorangpun bahkan yang mempunyai sebiji ketaqwaan kepada Tuhan di hatinya bisa berani melakukan hal semacam itu. Kami berpegang teguh kepada Kitabullah; kepadanya setiap orang diminta untuk memegang teguh. Kami beriman bahwa tak suatupun yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa pemimpin kami Hazrat Muhammad Mustafa s.a.w. adalah Rasul-Nya dan akhir dari para nabi; serta kami beriman kepada malaikat, bangkitnya orang-orang mati, Hari Kebangkitan, surga dan neraka, serta segenap kebenaran. Kami beriman bahwa apapun Allah Yang Maha-tinggi telah firmankan dalam Qur’an Suci, dan apapun yang Nabi kita s.a.w. nyatakan, semuanya adalah benar seperti yang kami nyatakan di atas. Kami beriman bahwa siapapun yang mengurangi atau menambah-nambahi Syariat Islam bahkan sebesar satu atom saja, atau mengabaikan apa yang diwajibkan dan menghalalkan apa yang diharamkan, berarti tanpa iman, dan telah menyimpang dari Islam. Saya nasihatkan kepada para pengikut saya bahwa mereka harus beriman kepada Kalimah suci dari lubuk hati mereka, yakni, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, bahkan hingga kematian menjemput mereka, bahwa mereka beriman kepada seluruh nabi-nabi serta semua Kitab wahyu Ilahi, yang otentisitasnya telah ditegakkan dari Qur’an Suci, dan bahwa mereka menerima sebagai kewajiban untuk berpuasa, salat, membayar zakat, dan haji serta segala yang telah ditetapkan sebagai kewajiban oleh Allah Yang Maha-tinggi dan Rasul-Nya, dan mereka menerima sebagai yang diharamkan segala yang telah diharamkan dan karenanya mengikuti Islam dalam arti yang sebenar-benarnya.
      “Untuk menyimpulkannya, adalah wajib untuk beriman kepada segala perkara dimana telah ada kesepakatan dalam keimanan (itjma ulama) dan amalan mereka yang salih dari masa lalu Islam (para salafus shalih), dan yang dianggap Islam oleh kesepakatan dari Ahli Sunnah. Saya menyeru demi langit dan bumi untuk menyaksikan bahwa ini adalah keimanan saya, dan siapapun yang menisbahkan saya sesuatu yang berlawanan dengan agama ini, dia, telah meninggalkan ketaqwaan dan ketulusan, telah melakukan fitnah terhadap saya; dan pada Hari Pembalasan saya akan menuntutnya ketika dia membuka dadaku dan melihat bahwa disamping pengakuan saya di atas saya sesungguhnya melawan dalam hati atas pernyataan saya ini. Ingatlah, sesungguhnya laknat Allah bagi para pendusta dan perekayasa”. (Ayyam as-Sulh, hal. 86-87).

      Semoga bermanfaat, terimakasih.
      Wassalamu’alaikum wr wb

  29. Kalau Ahmadiyah benar, mengapa setiap negara islam menfatwa ianya tidak islam? Dan kenapa harus mengagungagungkan Ghulam Mirza? Kna kita ada Allah dan Nabi Muhammad untuk diagungagungkan? Kalaulah Mirza Ghulam Ahmad itu dianggap Isa Al Masih, bagaimana kalau generasi selepas kita menganggap orang lain pula sebagai Al masih?Apakah Al Masih diclaim mereka itu juga benar?
    Fikir-fikirlah wahai muslimin…Kenapa mau dfitubuhkah gerakan Ahmadiyah ini?Atas alasan apa?Atas alasan mau diketengahkan Mirza Ghulam Ahmad? atau apa?
    Atau mau diketengahkan ajaran baru? Sila jawab…

    • Berikut ini kami kutipkan tulisan HMGA untuk menjawab pertanyaan ikhwan, sbb:

      “Dan saudaraku, engkau tahu bahwa pengumuman pengafiran tidaklah berdasarkan penyelidikan yang wajar dan bahkan tidak berisi kecondongan kepada kebenaran sedikitpun. Bahkan semua deklarasi ini sepenuhnya dibuat-buat berdasarkan penipuan, ketidak-adilan dan kepalsuan, yang timbul dari kecemburuan pribadi. Orang-orang ini benar-benar mengetahui bahwa saya seorang mukmin dan mereka telah menyaksikan dengan mata-kepala mereka sendiri bahwa saya seorang Muslim, bahwa saya beriman kepada Tuhan Yang Esa kepada-Nya tanpa sekutu, bahwa saya mengakui Kalimah: Tidak ada Tuhan kecuali Allah, bahwa saya menerima Kitabullah, al-Qur’an, dan Rasul-Nya Muhammad s.a.w. sebagai yang terakhir dari para nabi, dan saya beriman kepada malaikat, Hari Kebangkitan, surga dan neraka, bahwa saya menegakkan salat dan menjaga puasa, bahwa saya termasuk Ahli Qiblat , bahwa saya menganggap haram semua yang telah dinyatakan haram oleh Nabi Suci dan menghalalkan semua yang dinyatakan halal olehnya, bahwa saya tidak pernah menambah, atau mengurangi, sesuatupun dari Syariat,bahkan sebesar atompun, dan bahwa saya menerima semua yang kita peroleh dari Rasulullah s.a.w., apakah kita mengetahui rahasianya ataukah tidak, dan demi berkah Ilahi, saya seorang mukmin dan seorang yang bertauhid”. (Nur al-Haq, jil. I, hal. 5).

      Kedua Mengenai tugas Al Masih silahkan baca disini

  30. Liga Muslim Dunia melangsungkan konferensi tahunannya di Makkah Al-Mukarramma Saudi Arabia dari tanggal 14 s.d. 18 Rabbiul Awwal 1394 H (6 s.d. 10 April 1974) yang diikuti oleh 140 delegasi negara-negara Muslim dan organisasi Muslim dari seluruh dunia.

    Deklarasi Liga Muslim Dunia – Tahun 1974

    (Rabita al-Alam al-Islami)

    Qadianiyah atau Ahmadiyah : adalah sebuah gerakan bawah tanah yang melawan Islam dan Muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah aliran Islam; yang berkedok sebagai Islam dan untuk kepentingan keduniaan berusaha menarik perhatian dan merencanakan untuk merusak fondamen Islam.

    Penyimpangan-penyimpangan nyata dari prinsip-prinsip dasar Islam adalah sebagai berikut :

    1. Pendirinya mengaku dirinya sebagai nabi.

    2. Mereka dengan sengaja menyimpangkan pengertian ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur�an.

    3. Mereka menyatakan bahwa Jihad telah dihapus.

    • ikhwan Halim Yth, Pertama Bagi Gerakan Ahmadiyah yang meyakini TIDAK ADA NABI LAGI SETELAH MUHAMMAD SAW, maka fatwa yang dikeluarkan oleh Rabithah tersebut jelas tidak pada tempatnya bagi kami, karena kekeliruan keyakinan Jemaat Ahmadiya (Qadiyani) dan juga para pemimpin yang tergabung dalam Rabithah tersebut mengatakan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan kedua-duanya adalah DUSTA yang ditimpakan kepada beliau, baca lagi jawaban kami kepada ikhwan Aji yang kami kutip dari terjemahan buku HMGA (Ayyam as-Sulh, hal. 86-87). dan bagi Ahmadiyah 100% memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT, tidak tergantung kepada ulama atau kelompok manapun.
      Kedua, mengenai penyimpangan penafsiran yang dikemukakan oleh HMGA, dapatkan ikhwan memberikan contohnya?, karena penafsiran yang dikemukakan oleh Ahmadiyah tetap bersumber pada penafsiran para salafusshalih, meskipun penafsiran tersebut TIDAK MENJADI MAINSTREAN UMAT, akan tetapi kebenaran tetaplah kebenaran dan tidak akan hilang oleh waktu.
      Ketiga masalah jihad, tolong dibaca lagi pembahasan mengenai Jihad disini, terimakasih

Tinggalkan Balasan