Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul -Muhammadur-Rasulullah- orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. (more…)

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Kekinian [6a]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tafsir dalam konteks sejarah dan dalam konteks ayat dan surat di atas sebenarnya tetap relevan dan signifikan dengan tafsir dalam konteks kekinian, karena Al Fatihah merupakan intisari Al Quran petunjuk bagi umat manusia untuk sepanjang zaman di mana saja ia berada. Signifikasi hidayah Al Fatihah dewasa ini terutama sebagai surat permohonan (sûratud-du’â’) dibagi menjadi dua bagian yang saling berhubungan. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah pernah Tuhan menurunkan sebuah kitab seperti Al Fatihah yang tujuh ayatnya ini, baik dalam Injil maupun dalam Taurat, dan Allah Ta’ala berfirman bahwa surat ini terbagi antara Aku dan hamba-hamba-Ku dan mereka yang berdoa serta mengamalkan isi surat itu pastilah Kuterima dan Kuwujudkan kehendak mereka” (H. R. Nasa’i dari Ubay bin Ka’ab r.a.).

Kedua bagian itu, pertama mengenai aspek Tuhan, kedua mengenai aspek insan, baik secara individual maupun kolektif. Keduanya saling berhubungan. Hubungannya sebagai berikut: (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7)

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 1 [3]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Ayat pertama, Alhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, yang biasanya diterjemahkan segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian Alam. Dalam ayat ini ada empat kata kunci, yaitu: alhamd, Allah, Rabb, dan al’âlamîn.

Kata alhamd, segala puji yang dipakai oleh Allah SWT, bukan kata syukur, madah dan tsana. Syukur berarti menyatakan terimakasih untuk segala macam karunia yang telah diterima; tsana menunjukkan pikiran terimakasih supaya diumumkan, dan madah mengandung arti pujian yang diwujudkan bukan dengan ikhlas, seperti dalam sabda Rasulullah saw. “Ihsu’turaba fi wujuhil-madahina” artinya “Curahkanlah abu di muka orang-orang yang memuji dengan rasa palsu!” (more…)

Serial Islamologi – Rukun Iman; Iman Kepada Para Nabi [3]

 Iman Kepada Para Nabi

Oleh: Maulana Muhammad Ali MA. LLB.

Iman dan Islam

Kata iman makna aslinya keyakinan hati, sedang kata Islam makna aslinya tunduk, maka dari itu, Islam terutama sekali bertalian dengan perbuatan. Perbedaan makna asli ini diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an dan Hadits, walaupun dalam penggunaan sehari-hari, dua-duanya mengandung arti yang sama, dan kata mukmin dan muslim acapkali digunakan dalam Qur’an dan Hadits silih berganti. Contoh penggunaan kata iman dan islam dalam Qur’an Suci diuraikan dalam 49:14: “Para penduduk padang pasir berkata: Kami beriman (amanna dari kata iman); katakanlah: Kamu tidaklah beriman, tetapi katakanlah: kami tunduk (aslama dari kata islam); (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Pengantar [1]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Dengan nama Allah Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih
Segala puji bagi Allah, Tuhan serwa sekalian alam
Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang
Yang memiliki Hari Pembalasan
Kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan
Pimpinlah kami pada jalan yang benar
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang-orang yang terkena murka dan bukan pula (jalan) orang yang sesat

Surat Alfâtihah, lengkapnya Fâtihatul-kitâb artinya Pembukaan Kitab. Surat ini dikenal dengan berbagai nama, misalnya:

  1. Sab’un minal-matsâni, tujuh ayat yang selalu diulang (15:87), karena tujuh ayatnya selalu diulang oleh setiap orang Islam dalam salatnya. Menurut Zajjaj dan Abu Hayyan, nama ini mengandung puji-pujian kepada Tuhan. (more…)

Hakekat Shalat dan Doa

Oleh: MAULANA KALAMAZAD MOHAMMED

Tidak ada di dunia ini, dimana Allah Yang Maha-tinggi telah menunjukkan tidak saja kesenangan, melainkan juga satu kenikmatan yang mencolok. Seperti halnya orang sakit yang tidak dapat mencecap kenikmatan dari hidangan yang paling nikmat, lalu menganggapnya pahit atau kehilangan selera; dengan cara yang sama, orang-orang yang tidak menemukan kesenangan dalam ibadah mereka hendaknya merenungkan penyakitnya ini. (Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad)

Setiap agama mengajarkan pentingnya doa dan tak seorang nabi pun datang ke dunia tanpa menyeru umatnya agar berdoa dengan sungguh-sungguh. Meskipun demikian, dengan mengabaikan hal ini, banyak orang, khususnya di zaman modern ini, tidak sadar akan esensi atau hakekat doa; yakni, bagaimana berdoa sedemikian rupa sehingga jiwa kita bisa mengadakan hubungan dengan Rabb dan Tuhan kita. Hal ini tidak berlebihan  jika dikatakan bila hubungan dengan Tuhan ini dilakukan, banyak masalah kita – baik pribadi maupun masyarakat – agaknya akan  bisa dikelola lebih baik daripada yang nampak saat ini dan apa yang tampaknya bagaikan kegelapan akan berubah menjadi cahaya terang. (more…)

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-c], Sifat-sifat Allah

Ada sebuah kiriman dari pengunjung weblog dengan Judul “ALLAH ISLAM SESUNGGUHNYA” dan uraian yang panjang lebar yang mencoba menjelaskan pengertian tentang Allah yang tentu saja jauh menyimpang dan berbeda dari pemahaman kaum Muslimin, lalu pada akhir penjelasannya dia menyimpulkan sbb: “Benarkah Allah adalah Tuhan? Ataukah ia hanyalah iblis yang menyamar sebagai Tuhan? Renungkanlah dengan hati nurani anda!”

Tabi’at sifat-sifat Allah

Sebelum kami membicarakan sift-sifat Allah, perlu kami mengingatkan para pembaca tentang adanya salah paham mengenai Tabi’at Tuhan. Dalam Qur’an Suci, Allah dikatakan sebagai Yang melihat, mendengar, berbicara, marah, mencintai, penuh kasih sayang, menguasai, mengawasi dan sebagainya. Tetapi digunakannya sifat-sifat itu janganlah diartikan bahwa Allah itu seperti manusia 6, karena dalam Qur’an Suci diuraikan seterang-terangnya bahwa Allah adalah di atas segala paham kebendaan. (more…)

Pancasila dan HUT Proklamasi ke 65

Oleh: Bapak Nanang Rahmatullah Iskandar

Dan apabila kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lain, biasanya dasar falsafah mereka adalah sekitar : Liberty, Fraternity. Egalitee, atau Justice, Democracy, Liberty dlsb-nya. Indonesia justru telah mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila ke-1 dasar negara, atau dengan perkataan lain Dia-lah yang kita akui, yang telah menciptakan Liberty, Democracy, Justice dan lain sebagainya.

Beruntung bahwa Indonesia mempunyai Pancasila yang merupakan dasar falsafah negara yang sangat dikagumi oleh bangsa-bangsa lain. Pancasila menjadi dasar falsafah tidaklah terjadi secara kebetulan. Hal ini terjadi berkat kodrat dan iradat Ilahi Rabbi. Mengapa demikian ? Karena terbukti bahwa ternyata ada keselarasan antara Pancasila dengan Ummul kitab, Al Fatihah. Penjelasannya adalah sebagai berikut

Ummul-kitab atau Al Fatihah, Menurut Rasulullah saw pengertiannya dibagi menjadi dua bagian, yakni antara Tuhan sendiri dan hamba-hamba-Nya. Antara keduanya berhubungan erat, kata berjawab, gayung bersambut. Allah memperkenalkan diri sbb: (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 211 pengikut lainnya.