Tafsir SURAT (82) AL-INFITHAR : TERBELAH

Oleh  : DR. Basharat Ahmad

Surat ini termasuk Surat yang turun pada masa awal Mekkah, dan seperti surat sebelumnya, At-Takwir ( yang berarti Melipat), hal ini membuktikan melalui nubuwat, bahwasannya manusia itu pada prinsipnya harus bertanggung-jawab atas semua amal perbuatannya. Meski ada satu perbedaan pada konteksnya. Didalam surat sebelumnya (At-Takwir), tergenapinya nubuatan (ramalan) akan kejayaan yang disebutkan disana menyangkut kejayaan pada Abad Akhir, sedangkan tanda-tanda istimewa yang terdapat dalam surat ini (Al-Infithr) berkaitan dengan kejayaan dan kemenangan yang dicapai pada masa kehidupan Nabi Suci Muhammad s.a.w. Tergenapinya nubuatan tersebut nampak jelas pada masa hidup beliau, sehingga kejayaan serta keagungan tersebut dapat disaksikan hingga melampaui abad-abad sesudahnya hingga saat ini. (more…)

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-b], Ke-Esaan Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB.

Keesaan Allah

Semua pokok ajaran Islam dibahas sepenuhnya dalam Qur’an Suci, demikian pula ajaran iman kepada Allah, yang intinya adalah beriman kepada Keesaan Allah (tauhid). Kalimah Tauhid yang sudah terkenal ialah laa ilaaha illallah. Kalimah ini terdiri dari empat perkataan, yakni la (tidak), ilaaha (Tuhan), illa (kecuali), Allah (nama Tuhan yang sebenarnya). Jadi, kalimah itu yang biasa diterjemahkan tak ada Tuhan selain Allah,mengandung arti, bahwa tak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Kalimah syahadat inilah yang jika digabungkan dengan syahadat Rasul -Muhammadur-Rasulullah- orang sudah diakui sah sebagai orang Islam. (more…)

Serial Islamologi – Iman Kepada Allah [1-a], Adanya Allah

Oleh : Maulana Muhammad Ali MA LLB,

Pengalaman jasmani, batin, dan rohani manusia

Dalam semua Kitab Suci, adanya Allah dianggap sepenuhnya sebagai kebenaran axioma. Akan tetapi Qur’an Suci mengemukakan banyak bukti untuk membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Luhur, Pencipta dan Pengatur semesta alam. Dalam uraian ringkas ini, kami hanya bisa menyebutkan tiga bukti yang amat penting, yang terutama sekali dibahas di dalam Qur’an Suci. Pertama, bukti yang diambil dari peristiwa alam, yang dapat disebut pengalaman rendah atau pengalaman jasmani manusia. Kedua, bukti tentang kodrat manusia, yang disebut pengalaman batin manusia. Ketiga, bukti yang didasarkan atas Wahyu Ilahi kepada manusia, yang dapat disebut pengalaman tertinggi atau pengalaman rohani manusia. (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 4 – 7 [5]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Akhirnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa kenikmatan Ilahi tertinggi, berupa wahyu Ilahi, tidak hanya dikaruniakan kepada para Nabi saja, tetapi juga dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang mengikuti jalan yang benar. Al-Quran memberikan contoh, wahyu Ilahi dikaruniakan kepada orang-orang tulus yang bukan Nabi, misal-nya: kepada ibu Nabi Musa (20:38) dan kepada murid-murid Nabi Isa (5:111), dan wahyu-wahyu dalam bentuk seperti itu dijanjikan pula kepada orang-orang tulus di antara umat Islam sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw.: “Di antara mereka terdapat orang yang diberi firman Allah, sekalipun mereka bukan Nabi” (Bukhari)

Ayat keempat Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, artinya kepada Engkau kami mengabdi dan kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kata na’budu artinya kami mengabdi, mengandung pengertian ketaatan yang disertai dengan segenap kerendahan hati (TA), yakni ketaatan kepada perintah Ilahi, pandangan, hukum, norma, dan nilai yang termaktub dalam Al-Quran, agar akhlak Ilahiyah menyerap ke dalam hati sanubari kita, (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Teks dan Konteks Ayat 2 dan 3 [4]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Singkatnya, tak ada satu perbuatan pun, baik atau jahat, tanpa akibat mengadakan perubahan yang halus sekali pada kepribadian kita (10:63; 34:3). Jika manusia tak melihatnya dalam kehidupan di dunia ini, maka di akhirat pun masih ada ‘hari pembalasan’. Tiap-tiap jiwa bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya (6:52; 52:21), dan “tiada pemikul beban memikul beban orang lain” (6:165; 53:38). Manusia tak mungkin melakukan pelanggaran hukum Ilahi tanpa memperlakukan jiwanya tak adil (65:1; 69:25-32) dan tanpa menghukum dirinya sendiri (30:9, 10), sebab dia tak dapat menyembunyikan atau melarikan diri dari akibat perbuatan pada jiwanya (17:13-14). Sekalipun kesalahannya tak diketahui orang lain atau dia menutup-nutupi, memperkecil atau memperelok-elok kejahatannya – misalnya dengan dalih “kebanyakan orang berbuat begitu, mengapa saya tidak?” – namun struktur fitriah jiwanya sedemikian rupa sehingga dalam batinnya selalu ada yang mengusahakan agar dia dihukum juga tanpa disadarinya (36:4). Dalam beberapa hal, misalnya jika ada penyesalan mendalam akan suatu pelanggaran yang telah dilakukannya (2:167) atau jika dia dalam keadaan merana karena kesedihan (14:17) atau jika dia menurut kepada hawa nafsunya saja, sehingga akhirnya ada dalam belenggu kejahatan (2:81), maka perbuatannya itu dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh yang sama sekali tak mungkin disadarinya, karena proses-proses itu berlangsung dalam akhfâ’, yaitu dalam apa yang lebih tak mungkin lagi ditangkap dengan indera-indera (20:7)

Ayat kedua, arrahmânir-rahîm. Di sini Rububiyah Ilahi, yakni perbuatan Ilahi memelihara, mengatur, dan memimpin ciptaan-Nya ke arah kesempurnaan – termasuk manusia – dinyatakan dengan dua kata, Arrahmân dan Arrahîm. Keduanya berasal dari kata rahmat yaitu riqqatun taqtadil-hisâna ilal marhûm, kelembutan hati atau kasih sayang yang diikuti perbuatan baik terhadap yang disayangi. Digubah menjadi Rahmân – mengikut wazan fa’lân untuk menunjukkan tingkat perbandingan yang tertinggi – berarti rahmat yang tertinggi, Yang Maha-pengasih. Artinya, Kasih-sayang-Nya demikian besar, sehingga Dia telah menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua makhluk, yang sesuatu itu telah diciptakan sebelum adanya, yang diciptakan dan disediakan, bukan karena permohonan dan bukan pula karena balas jasa, (more…)

Tafsir Surat Al-Fatihah: Konteks Sejarah [2]

Oleh : KH. S Ali Yasir

Tiga ayat pertama menerangkan tentang nama diri Tuhan, Allah, dengan empat sifat utamanya, yaitu: Rabb, Rahmân, Rahîm, dan Mâliki yaumiddîn, yang semuanya menyatakan keagungan dan kemuliaan serta keterpujian Dzat Tuhan. Tiga ayat terakhir membeberkan hasrat jiwa manusia yang menyala-nyala di hadapan Tuhan Yang Maha-pencipta lagi Maha-pengasih dan penyayang, untuk berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah dikaruniai nikmat Ilahi, yakni para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan para shalihin, bukan jalan yang menyimpang ke kanan, sebagaimana kaum Yahudi, dan bukan pula jalan yang menyimpang ke kiri, sebagaimana kaum Kristiani.

Ada berbagai pendapat tentang pewahyuan surat ini. Sementara pakar berpendapat surat ini diwahyukan dua kali, di Mekah dan Madinah. Tetapi menurut jumhur ulama diwahyukan di Mekah pada zaman permulaan kenabian. Muhammad Izah Darwazah menempatkan pada urutan nomor lima, sesudah surat nomor 74 Al-Muddatstsir, wahyu ke-4. Sesudah surat Al-Fatihah, diwahyukan surat nomor 111, Al-Lahab. Jadi dalam menafsirkan surat ini dalam Konteks Sejarah sekurang-kurangnya perlu memahami surat Al-Muddatstsir yang mendahuluinya dan surat Al-Lahab yang mengikutinya, wahyu ke-6. (more…)

Serial Islamologi – Rukun Iman; Iman Kepada Para Nabi [3]

 Iman Kepada Para Nabi

Oleh: Maulana Muhammad Ali MA. LLB.

Iman dan Islam

Kata iman makna aslinya keyakinan hati, sedang kata Islam makna aslinya tunduk, maka dari itu, Islam terutama sekali bertalian dengan perbuatan. Perbedaan makna asli ini diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an dan Hadits, walaupun dalam penggunaan sehari-hari, dua-duanya mengandung arti yang sama, dan kata mukmin dan muslim acapkali digunakan dalam Qur’an dan Hadits silih berganti. Contoh penggunaan kata iman dan islam dalam Qur’an Suci diuraikan dalam 49:14: “Para penduduk padang pasir berkata: Kami beriman (amanna dari kata iman); katakanlah: Kamu tidaklah beriman, tetapi katakanlah: kami tunduk (aslama dari kata islam); (more…)

GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA (GAI) DAN PERMASALAHAN AHMADIYAH DI INDONESIA

Disampaikan dalam Dialog dan Dengar Pendapat  Tentang Penanganan Permasalahan Ahmadiyah di Indonesia Di Kantor Kementerian Agama, 22 Maret 2011; Oleh Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia (PB GAI)

Mukaddimah

Term of Reference (TOR) Dialog dan Dengar Pendapat tentang Ahmadiyah hari ini, secara keseluruhan hanya berbicara tentang Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), atau Ahmadiyah Qadian. Ahmadiyah Lahore sendiri sepintas lalu disebut-sebut pada paragraf keempat, yang dikaitkan dengan fatwa MUI tahun 2005 tentang Ahmadiyah. Itu pun perlu diberikan klarifikasi.

Keputusan Fatwa MUI tahun 2005 tentang Ahmadiyah secara eksplisit menyatakan sebagai “penegasan kembali”  terhadap keputusan fatwa serupa tahun 1980. Dengan demikian Keputusan Fatwa MUI tahun 2005 tentang Ahmadiyah tidak berdiri sendiri atau terpisah dengan fatwa serupa tahun 1980. Sedangkan keputusan fatwa MUI tahun 1980 tentang Ahmadiyah yang berjudul “Ahmadiyah Qadiyan” (more…)

Nasehat Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Jadikanlah pagi hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan malam hari dengan perbuatan utama. Dan jadikanlah petang hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan siang hari dengan takwa kepada Allah.

Ketahuilah saudara-saudara, bahwa menyatakan bai’at dengan lisan itu tiada artinya jika tak disertai dengan keteguhan hati untuk menetapi bai’at itu dalam segala keadaan. Hanya orang yang taat sajalah yang akan masuk dalam keluargaku, yang oleh Allah telah dijanjikan: “Aku sendiri yang akan menjaga setiap orang yang berada dalam rumah ini”. Ini bukan berarti bahwa Allah hanya akan menjaga orang-orang yang berada dalam rumahku yang dibuat dari batu bata, melainkan pula orang-orang yang memasuki rumah rohaniku, yakni yang berbai’at dan bersungguh-sungguh menetapinya.
(more…)

Menag: Ahmadiyah Qadiyan yang Sesat

Suryadharma Ali (Menag RI 22-10-2009 s.d. Sekarang)

Jakarta (Pinmas)–Ahmadiyah terbagi menjadi menjadi dua aliran, Qadiyan dan Lahore. Namun Menteri Agama, Suryadharma Ali (SDA) hanya menyatakan Ahmadiyah Qadiyan yang sesat.

“Yang sesat adalah Ahmadiyah Qadiyan. (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 211 pengikut lainnya.