Nasehat Imam Zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad

Jadikanlah pagi hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan malam hari dengan perbuatan utama. Dan jadikanlah petang hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan siang hari dengan takwa kepada Allah.

Ketahuilah saudara-saudara, bahwa menyatakan bai’at dengan lisan itu tiada artinya jika tak disertai dengan keteguhan hati untuk menetapi bai’at itu dalam segala keadaan. Hanya orang yang taat sajalah yang akan masuk dalam keluargaku, yang oleh Allah telah dijanjikan: “Aku sendiri yang akan menjaga setiap orang yang berada dalam rumah ini”. Ini bukan berarti bahwa Allah hanya akan menjaga orang-orang yang berada dalam rumahku yang dibuat dari batu bata, melainkan pula orang-orang yang memasuki rumah rohaniku, yakni yang berbai’at dan bersungguh-sungguh menetapinya.

Nasehatku yang pertama, saudara harus mempunyai iman yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang memberi kekuatan lahir batin, Yang menciptakan segala sesuatu, Yang kekal dan abadi, Yang tak berputera dan tak diputerakan, Yang Maha Suci, sehingga tak perlu disalib atau mengalami penderitaan atau mati. Tuhan jauh terpisah, tetapi teramat dekat. Ia teramat dekat, tetapi jauh terpisah. Sekalipun Dia itu Esa dan Yang Maha Esa, tetapi penjelmaan-Nya berlainan dan bermacam-macam (asmâ’ul-husna). Apabila terjadi perubahan dalam batin seseorang, Ia pun menjadi Tuhan baru baginya. Manusia menyaksikan perubahan Tuhan, selaras dengan perubahan dalam batinnya. Ini bukan berarti bahwa Tuhan itu berubah. Tuhan itu kekal, tak berubah dan dzat Yang Maha Sempurna, tetapi setiap kali batin manusia mengalami perubahan, Tuhan membabar diri-Nya dalam perwujudan yang baru. Setiap kali manusia meningkatkan usahanya, Allah pun memperlihatkan diri-Nya dengan perwujudan yang lebih sempurna. Apabila manusia memperlihatkan perubahan yang luar biasa dalam batinnya, Allah pun akan memperlihatkan kekuasaan-Nya yang luar biasa. Inilah akar dan pangkalnya keramat dan mukjizat yang ada pada hamba Allah. Iman kepada Allah Yang Maha Kuasa inilah syarat mutlak bagi gerakan kita. Tanamkanlah iman sedalam-dalamnya pada kalbu saudara, dan dahulukanlah urusan iman ini melebihi urusan pribadi saudara, melebihi urusan kesenangan dan keluarga saudara. Tunjukkanlah segala keberanian saudara dalam kegiatan sehari-hari untuk tetap setia di jalan Allah. Janganlah saudara lebih menyukai barang-barang duniawi daripada Allah, dan jangan pula saudara menggantungkan pertolongan selain kepada Allah, baik ia itu kawan ataupun keluarga. Tetapi tempatkanlah Allah di tempat yang paling atas, sehingga saudara akan ditempatkan di langit sebagai umat-Nya.

Sudah menjadi kodrat Allah untuk memperlihatkan tanda keindahan-Nya. Tetapi saudara akan menikmati karunia itu bila tak ada lagi jarak antara saudara dengan-Nya, yakni setelah keinginan, harapan dan cita-cita saudara menjadi satu dengan kehendak-Nya. Yakni setelah saudara, baik dalam kelapangan maupun dalam kesempitan, dalam kesenangan maupun dalam kesusahan, tetap bersujud dengan khusyu’ kepada-Nya, sehingga Dia akan berbuat beserta saudara apa yang Ia kehendaki. Jika saudara melakukan ini dalam batin saudara akan tampak Tuhan yang selama ini tak menampakkan wajah-Nya.

Adakah di antara saudara yang suka mengerjakan nasehat ini hanya karena ingin mendapat perkenan atau ridla Ilahi, tanpa memperlihatkan kekecewaan sedikit pun terhadap cara Allah melaksanakan kehendak-Nya? Sekalipun dalam kesusahan, saudara harus tetap maju, karena inilah rahasia untuk memperoleh sukses. Saudara harus berjuang sehebat-hebatnya untuk menyiarkan pengertian tauhid di seluruh dunia. Untuk itu, hendaklah saudara bersikap lemah lembut dan ramah tamah terhadap sesama manusia, karena semua manusia itu makhluk Tuhan. Janganlah mulut atau tangan saudara menyakiti mereka. Hendaklah saudara senantiasa berbuat untuk kebahagiaan umat manusia. Janganlah saudara bersikap sombong terhadap orang lain, sekalipun ia itu bawahan saudara sendiri. Janganlah saudara menggunakan kata-kata yang kotor terhadap siapa pun, sekalipun mereka menggunakan kata-kata yang kotor terhadap saudara. Hendaklah saudara bersikap rendah hati, ramah dan santun, suka mengampuni, kasih sayang dan suka menolong, sehingga saudara akan diterima dengan senang hati.

Banyak sekali orang yang pura-pura ramah, santun dan suka mengampuni, tetapi batinnya seperti beruang. Banyak pula yang tampak suci, tetapi batinnya seperti ular. Saudara tak akan diterima di hadapan Tuhan, terkecuali apabila lahir dan batin saudara benar-benar suci. Jika saudara besar, kasihanilah si kecil dan jangan menghinanya. Jika saudara pandai, layanilah si bodoh dengan kata-kata bijaksana, dan janganlah merendahkan kebodohannya demi untuk memamerkan kepandaian saudara. Jika saudara kaya, janganlah memperlakukan si miskin dengan sombong. Waspadai jalan setan! Takutlah kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya, dan janganlah saudara menyembah makhluk-Nya. Bertakwalah kepada Allah, sehingga saudara dapat mengurangi perhatian saudara akan kesenangan duniawi. Usahakanlah hidup saudara untuk memperoleh perkenan atau ridla Ilahi. Jauhilah segala yang tak suci, karena Dia itu Maha Suci. Jadikanlah pagi hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan malam hari dengan perbuatan utama. Dan jadikanlah petang hari sebagai saksi bahwa saudara telah menghabiskan siang hari dengan takwa kepada Allah.

Janganlah saudara takut akan kutukan dunia karena ia akan lenyap seperti awan, mereka tak dapat merubah siang menjadi malam. Tetapi yang harus saudara takuti adalah kutukan Allah. Sikap pura-pura dan kemunafikan tak dapat menyelamatkan jiwa saudara, karena Allah tahu apa yang ada dalam lubuk hati saudara. Adakah saudara dapat menipu Dia? Maka dari itu, sucikanlah jiwa saudara sampai bersih dan cemerlang tanpa ada kotoran sedikit pun, karena jika terdapat kotoran, sekalipun hanya sedikit, nur-Nya akan hilang. Jika dalam hati saudara terdapat kesombongan, pura-pura, kemunafikan, kepalsuan dan kemalasan, maka saudara tak berharga sepeser pun dalam pandangan-Nya. Hati-hatilah jika saudara hendak berbuat sesuatu, janganlah sekali-kali jatuh dalam hayalan seakan-akan saudara telah berbuat sesuatu yang penting, karena Allah menghendaki agar hidup dan jiwa saudara mengalami revolusi jiwa yang sebaik-baiknya. Allah menghendaki agar saudara menerima kematian, agar Ia memberikan hidup bagi saudara. Galanglah perdamaian, hentikanlah permusuhan dan ampunilah kesalahan, karena sungguh jahatlah orang yang tak mau berdamai dengan saudaranya. Sekalipun saudara berada di pihak yang benar, hendaklah bersikap rendah hati, seakan-akan saudaralah yang bersalah, agar saudara diperlakukan dengan baik. Hentikanlah segala sesuatu yang menyebabkan gemuknya kesombongan saudara, karena pintu yang saudara dipersilahkan masuk tak dapat dilalui oleh orang gemuk.

Celaka sekali orang yang tak berhasil menumbuhkan iman pada sabda Allah yang telah aku sampaikan kepada saudara. Jika saudara menginginkan kasih Allah di langit, maka bersegeralah ke arah persatuan di antara saudara, seolah-olah kalian itu saudara kandung yang dilahirkan dari satu ibu. Barangsiapa mengampuni kesalahan saudaranya, ia adalah orang terhormat. Tetapi barangsiapa keras kepala dan tak mau mengampuni kesalahan saudaranya, maka ia sungguh-sungguh celaka, dan dia bukanlah pengikutku. Takutlah akan laknat Allah. Orang jahat tak akan dekat dengan-Nya, demikian pula orang yang sombong, orang yang menindas, orang yang lalim dan orang yang tak jujur. Orang yang hanya mementingkan kesenangan dunia, ia bagaikan anjing, semut, atau burung bangkai yang dengan membabi buta menerkam mangsanya. Mereka yang hanya mencari kemewahan hidup tak akan dekat dengan Allah. Mata yang tak suci dijauhkan dari Allah dan hati yang tak suci tak dapat menyadari Allah. Barangsiapa hidup untuk Allah sekalipun di dalam api, ia tak akan menjadi hangus. Barangsiapa menangis karena membela Allah, ia akan memperoleh kesenangan, keriangan dan kegembiraan. Dan barangsiapa binasa karena membela Allah, ia akan bertemu dengan-Nya. Berusahalah agar saudara menjadi kawan Allah dengan segala kejujuran, keteguhan hati dan semangat yang menyala-nyala, sehingga Dia akan menjadi kawan saudara. Bersikaplah kasih sayang terhadap bawahan dan pelayan saudara, demikian pula terhadap kerabat saudara yang melarat, sehingga saudara akan diterima di langit dengan penuh kasih sayang. Jadilah saudara menjadi milik-Nya, sehingga Ia akan menjadi milik saudara. Dunia ini penuh dengan seribu satu macam kejahatan, cobaan dan fitnah. Maka dari itu berpegang teguhlah kepada Allah dengan segala keikhlasan dan keteguhan hati, sehingga Dia akan menyingkirkan kejahatan, cobaan dan fitnah itu dari saudara. Tak ada kejahatan dan penderitaan di bumi tanpa diputuskan dari langit, dan tak ada kesusahan akan dihilangkan terkecuali setelah diturunkan rahmat dari langit. Oleh karena itu, amatlah bijaksana jika saudara berpegang teguh kepada batang intinya tanpa menghiraukan cabang-cabangnya. Saudara tak dilarang meminta pertolongan obat atau ikhtiar lain. Adapun yang dilarang ialah jika saudara menyerahkan nasib saudara kepada obat atau ikhtiar lain itu. Dalam keadaan bagaimanapun hanya kehendak Allah sajalah yang menentukan. Barangsiapa mempunyai pendirian demikian, kedudukan iman dan tawakalnya kepada Allah adalah yang paling baik.

Orang Yang Menghormati Qur’an Suci Akan Dihormati Di Langit

Nasehat yang yang amat penting lagi ialah agar saudara jangan menjadikan Qur’an Suci sebagai Kitab yang ditinggalkan, karena di dalam Qur’an Suci terletak kehidupan saudara. Barangsiapa menghormati Qur’an Suci, ia akan dihormati di langit. Barangsiapa menjunjung Qur’an Suci di atas yang lain, ia akan diberi keistimewaan di langit. Tak ada Kitab yang teramat penting bagi manusia di seluruh muka bumi ini selain Qur’an Suci, dan tak ada Rasul yang lebih mulia dariapda Nabi Suci Muhammad saw. Maka dari itu berjuanglah agar saudara menikmati kecintaan Nabi Suci. Janganlah saudara mencintai orang lain melebihi cinta saudara terhadap Nabi Suci, sehingga saudara akan masuk sorga sebagai orang yang diselamatkan. Hendaklah diingat bahwa keselamatan itu bukan hal yang terjadi sesudah mati. Keselamatan sejati itu harus diusahakan di dunia ini. Siapakah yang akan diselamatkan? Ialah orang yang memelihara iman yang kuat bahwa Allah Yang Maha Hidup itu kenyataan dan bahwa Nabi Muhammad saw. itu syafî’ (yang mensyafa’ati) antara Allah dan manusia, dan bahwa di bawah kolong langit tak ada orang yang derajatnya menyamai beliau, dan tak ada Kitab yang menyamai Qur’an Suci. Dan bahwa tak ada orang lain selain Nabi Suci yang Allah menghendaki agar terus hidup sampai akhir zaman. Dan bahwa untuk menjamin kehidupan beliau sampai akhir zaman, Allah telah meletakkan dasar agar syari’at beliau dan kenikmatan rohani beliau terus berlangsung sampai akhir zaman. Dan akhirnya, dari arus kenikmatan rohani beliau itu, Allah mengutus Masih Mau’ud di dunia, yang kedatangannya sangat diperlukan untuk melengkapi bangunan Islam. Sebelum dunia berakhir, perlu sekali corak gerakan Muhammad itu diperbaharui dengan gerakan corak Masih rohani, sama halnya seperti yang pernah diberikan kepada gerakan Musa. Hal ini diisayaratkan dalam Qur’an Suci: “Pimpinlah kami pada jalan yang benar, jalannya orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (1:5-6)

Nabi Musa menerima perbendaharaan yang tak diberikan kepada umat yang sudah-sudah. Nabi Muhammad saw. menerima perbendaharaan yang tak diberikan kepada umat Nabi Musa a.s. Kini umat Muhammad menggantikan umat Musa, sekalipun umat Nabi Muhammad seribu kali lebih besar dari umat Musa. Demikian pula Masihnya Muhammad juga melebihi Masihnya Musa. Sebagaimana Masihnya Musa muncul di abad 14 sesudah Musa, Masihnya Muhammad juga tepat muncul di abad 14 sesudah Muhammad saw. bukan itu saja, melainkan pula datangnya Masih Mau’ud itu tepat pada waktu keadaan umat Islam serupa benar dengan keadaan umat Yahudi pada waktu datangnya Isa Al-Masih. Saya adalah Masih Mau’ud, dan tak ada lagi yang lain. Maka dari itu, barangsiapa bai’at kepadaku dengan tulus, dan menjadi pengikutku dengan ikhlas, dan meningkatkan ketaatannya kepadaku dengan meninggalkan segala kepentingan pribadi, niscaya ia, dalam keadaan yang penuh derita ini, merupakan orang yang jiwanya ingin sekali memberi syafaat kepadanya.

Wahai saudara yang masuk dalam Gerakanku, saudara tak akan diakui sebagai pengikutku di langit, sebelum saudara berjalan di atas kesucian yang sejati. Hendaklah saudara menjalankan shalat lima waktu dengan khusyu’ dan khudlu’, seakan-akan saudara melihat Allah di hadapan saudara. Hendaklah saudara menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas hanya karena Allah. Jika menurut hukum saudara harus membayar zakat, saudara wajib memenuhi kewajiban yang penting itu. Jika menurut hukum saudara diwajibkan beribadah haji ke Mekah, dan tak ada rintangan di jalan, maka pergilah. Berbuatlah kebajikan sebagaimana saudara cinta akan kebajikan, dan tinggalkanlah kejahatan sebagaimana saudara benci kepada kejahatan. Yakinilah seyakin-yakinya bahwa tak ada perbuatan yang dapat membawa saudara ke hadirat Tuhan jika perbuatan itu sunyi dari kesucian yang sejati. Akar dari segala perbuatan baik adalah taqwa. Jika akar ini tak kering, amal perbuatan pun tak akan layu. Perlu sekali saudara diuji dengan bermacam-macam kesusahan dan penderitaan seperti kaum mukmin yang sudah-sudah. Oleh karena itu ingat, janganlah sekali-kali saudara jatuh. Bumi tak akan membahayakan saudara sedikit pun, jika pertalian saudara dengan langit kuat. Manakala saudara menderita sesuatu yang tak menyenangkan, ini hanya timbul karena perbuatan saudara sendiri. Jika di dunia ini saudara kehilangan kehormatan, Allah akan memberikan kehormatan di langit yang tak akan lenyap. Oleh karena itu, janganlah saudara meninggalkan Allah, apapun yang harus saudara tempuh. Mungkin saudara difitnah sehebat-hebatnya sampai harapan saudara menjadi hilang, namun dalam hal demikian, janganlah saudara menjadi susah, karena ini merupakan cobaan Allah untuk menguji apakah saudara sabar atau tidak. Jika saudara menginginkan supaya para malaikat di langit menyanyikan puji-pujian saudara, maka terimalah pemberian pukulan orang banyak, dan bergembiralah. Dengarkanlah caci maki dan bersyukurlah kepada Allah. Saudara boleh kecewa tetapi jangan patah harapan dari Allah. Saudara adalah umat Allah yang terakhir. Amalkanlah kebaikan seluas-luasnya sampai mencapai kesempurnaan yang paling tinggi. Barangsiapa di antara saudara duduk bermalas-malasan, ia akan dikeluarkan, lalu ia akan mati dengan penyesalan di hati, dan ia tak akan merugikan Allah sedikit pun.

Ingat! Dengan segala senang hati, saya sampaikan berita gembira kepada saudara, bahwa Allah itu benar-benar ada. Walaupun segala sesuatu adalah makhluk-Nya, tetapi dia hanya memilih orang yang memilih-Nya. Dia sendiri yang akan mendatangi siapa saja yang pergi kepada-Nya. Dia akan menghormati siapa yang menghormati-Nya. Setelah saudara meluruskan hati, dan membersihkan lidah, mata dan telinga, lalu saudara menghadap kepada-Nya, Dia pasti akan menerima saudara.

Dalam hal iman, apa yang Allah inginkan dari saudara hanyalah agar saudara berkeyakinan bahwa Allah itu Esa, dan bahwa Muhammad saw. itu Nabi-Nya, capnya sekalian Nabi, dan Nabi yang paling besar. Sesudah beliau, tak kan datang Nabi lagi, selain orang yang diberi Barus Muhammadiyyah, jika hamba itu tak terpisah dari tuannya, atau jika cabang itu tak berlainan dari akarnya. Yakinlah seyakin-yakinya bahwa Nabi ‘Isa bin Maryam sudah wafat. Adapun makamnya ada di Kashmir, jalan Khanyar, Srinagar. Allah menerangkan mengenai wafatnya Nabi ‘Isa dalam Qur’an Suci. Hendaklah diingat bahwa saya bukannya mengingkari kemuliaan Nabi ‘Isa a.s., akan tetapi Allah telah menyampaikan berita kepada saya bahwa Masih Muhammadi itu lebih tinggi dari Masih Musa’i. Saya sangat menghormati Masih bin Maryam, karena dipandang dari sudut rohani, Masih bin Maryam itu khatamul-khulafa bagi silsilah Israili, sedangkan saya adalah khatamul-khulafa dalam Islam. Dalam syari’at Musa, Masih bin Maryam adalah Masih Mau’ud, sedangkan saya adalah Masih Mau’ud dalam syariat Muhammad. Oleh karena itu, saya amat menghormati beliau, yang namanya saya pakai. Barangsiapa berkata bahwa saya tak menghormati beliau, ia adalah pembohong dan pengacau.

Siapakah Pengikutku Dan Siapakah Bukan Pengikutku

Saya ulangi sekali lagi penjelasan saya bahwa janganlah saudara merasa puas karena telah berbai’at kepada saya hanya secara lahiriah saja. Amal lahiriah tak ada artinya jika tak disertai dengan perubahan batin. Allah melihat apa yang ada dalam batin saudara, dan Allah akan bertindak terhadap saudara atas dasar apa yang Ia lihat dalam batin saudara. Awas, dosa itu racun! Maka dari itu jauhilah. Aku berkata demikian ini hanya melaksanakan terutus kami kepada saudara. Durhaka terhadap Allah adalah kematian yang hina. Maka dari itu jauhilah! Bershalatlah agar saudara memperoleh kekuatan. Jika saudara pada saat shalat tak mempunyai kepercayaan yang kuat bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, kecuali yang sudah termasuk janji terdahulu, saudara bukan pengikutku. Barangsiapa yang terpaku dalam urusan dunia dan tak ingat akan urusan akhirat, ia bukan pengikutku. Barangsiapa tak menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan perbuatan jahat, misalnya minuman keras, judi, memandang orang lain dengan nafsu birahi, curang, makan suap dan segala macam kesenangan yang tak halal, ia bukan pengikutku. Barangsiapa yang tak menetapi shalat dengan teratur, dan tak ingat kepada Allah dengan segala kerendahan hati, ia bukan pengikutku. Barangsiapa tak menghentikan persahabatan dengan orang jahat yang akan berpengaruh jahat kepada saudara, ia bukan pengikutku. Barangsiapa tak menghormati orangtua, dan tak taat kepada mereka dalam hal yang tak bertentangan dengan Qur’an Suci, demikian pula mengabaikan berbakti kepada mereka, ia bukan pengikutku. Barangsiapa tak mau berbuat kebaikan sedikit pun terhadap tetangga padahal ia bisa, ia bukan pengikutku. Barangsiapa tak mau mengampuni kesalah orang yang bersalah, apalagi berhati dendam ingin membalasnya, ia bukan pengikutku. Suami yang tak jujur terhadap isterinya dan isteri yang tak jujur terhadap suaminya, mereka bukan pengikutku. Barangsiapa mengingkari janji yang telah ia lahirkan pada waktu bai’at, ia bukan pengikutku. Barangsiapa yang tak mengakui saya sebagai Masih Mau’ud, ia bukan pengikutku. Barangsiapa yang tak taat kepadaku dalam perkara kebaikan, ia bukan pengikutku. Barangsiapa yang duduk berjinak-jinak dengan orang yang memusuhi saya, dan terjerumus dalam persetujuan dengan mereka, ia bukan pengikutku. Mereka yang berzina, durhaka, mabuk, membunuh, mencuri, berjudi, tak jujur, makan suap, perampok, penindas, sewenang-wenang, pembohong, pemalsu dan sekutu-sekutunya, demikian pula barangsiapa mengemukakan tuduhan palsu atau keji terhadap saudara laki-laki atau perempuan, ia bukan pengikutku. Terkecuali jika ia bertobat atas kesalahannya dan memutus persahabatan dengan orang jahat dan membuka kembali lembaran baru.

Sungguh, semua yang tersebut di atas adalah racun. Saudara tak boleh menjalankan itu, karena gelap dan terang itu tak dapat bersama. Barangsiapa mempunyai tabiat jahat dan tak jujur kepada Allah, ia tak dapat menikmati berkah yang dinikmati orang-orang suci. Sungguh sangat beruntung orang yang menyucikan batinnya dengan mencuci bersih semua kotoran di hati. Demikian pula orang yang bersumpah setia kepada Allah karena mereka tak akan gagal. Tak mungkin Allah akan merendahkan mereka, karena mereka adalah milik-Nya dan Allah milik mereka. Mereka akan diselamatkan dari segala macam bencana. Sungguh bodoh sekali orang yang mencoba melukai mereka, karena mereka itu sesungguhnya dalam pangkuan Tuhan, yang selalu siap menolong mereka. Siapakah yang menumbuhkan iman kepada Allah? Tiada lain hanya mereka yang seperti terlukiskan di atas. Sungguh bodoh sekali orang yang takut akan orang yang berbuat dosa, yang dalam hatinya penuh dengan kejahatan, karena ia pasti akan dibinasakan. Semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, belum pernah Allah membinasakan orang baik. Sebaliknya, Allah memperlihatkan bagi mereka besarnya mukjizat mereka, bahkan sekarang pun Allah berbuat demikian.

Allah Mempunyai Kekuatan Maha Besar Dan Mengagumkan

Allah adalah Tuhan Yang Maha Setia. Dan bagi mereka yang tetap setia kepada-Nya, Ia menunjukkan karya-karya yang mengagumkan. Dunia ingin merobek-robek dan menelan mereka, demikian pula para musuh ingin membunuh mereka. Tetapi sebagai kawan mereka, Allah akan menyelamatkan mereka dari segala macam bahaya, dan mengeluarkan mereka sebagai pemenang di semua lapangan. Alangkah bahagianya orang yang tak melepaskan pegangannya kepada Allah. Kepada-Nya kami nyatakan iman kami, dan kepada-Nya kami mengenal kembali. Dia ialah Tuhan Yang telah menurunkan wahyu-Nya kepadaku. Yang telah memperlihatkan tanda bukti yang sangat kuat kepadaku. Yang telah mengutusku sebagai Masih Yang Dijanjikan pada abad ini. Tak ada Tuhan selain Dia, baik di langit maupun di bumi. Barangsiapa tak menumbuhkan iman kepada-Nya, ia akan kehilangan kebaikan, berkah dan bantuan. Aku telah menerima wahyu dari Tuhanku yang memancarkan sinar seperti matahari. Aku melihat bahwa Dia sendirilah Tuhannya sekalian alam. Dan tak ada yang lain. Alangkah kuatnya Tuhan yang kami jumpai, dan alangkah besarnya kekuatan yang Ia berikan! Dan alangkah besar dan hebatnya sifat-sifat Tuhan yang kami lihat. Bagi Dia tak ada yang mustahil, terkecuali apa yang berlawanan dengan Kitab Suci-Nya dan janji-janji-Nya. Oleh sebab itu, jika saudara berdo’a kepada-Nya, janganlah seperti sarjana ilmu alam yang membentuk ilmu alam sendiri tanpa memakai cap Allah, karena orang seperti ini, do’anya akan ditolak dan tak akan diterima. Mereka buta, tak mempunyai penglihatan. Mereka mati dan tak hidup. Di hadapan Allah mereka membentuk hukum sendiri dan mereka menempatkan pembatasan-pembatasan atas kekuatan-Nya dengan menganggap-Nya lemah dan tak berdaya di luar pembatasan-pembatasan itu. Sudah barang tentu, mereka akan diperlakukan menurut kondisi mereka.

Sebaliknya, jika saudara berdo’a, saudara harus berkeyakinan bahwa Tuhan itu berkuasa atas segala sesuatu. Hanya dengan cara demikian sajalah do’a saudara akan diterima, dan saudara akan menyaksikan keajaiban kekuatan Tuhan, yang telah kami saksikan sendiri. Dan ingat, kesaksian kami bukan atas dasar tutur kata, melainkan berdasarkan hal-hal yang telah kami lihat sendiri. Bagaimana mungkin orang yang tak yakin bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu akan diterima do’anya. Dan bagaimana mungkin orang semacam itu berani bermohon kepada Allah tentang hal penyembuhan dan perubahan yang dikehendakinya, pasti akan melibatkan pelanggaran hukum alam menurut pengertian mereka. Tetapi, wahai orang-orang budiman, Tuhan dikau adalah Tuhan Yang menggantungkan berjuta-juta bintang di langit tanpa satu tiang pun di bawahnya, dan Yang telah menciptakan langit dan bumi tanpa memakai bahan apapun. Apakah saudara mengira bahwa untuk memenuhi kebutuhan saudara, Tuhan menjadi tak berdaya? Sebenarnya salah pengertian saudara sendirilah yang menyebabkan saudara kehilangan berkah. Banyak sekali keajaiban-keajaiban Tuhan, tetapi ini pun hanya disaksikan oleh mereka yang dengan segenap kejujuran dan ketulusan menjadi milik-Nya. Tuhan tak akan membuka rahasia keajaiban kepada orang yang tak mempunyai kepercayaan akan kekuasaan-Nya dan orang yang tak tulus dan tak setia kepada-Nya.

Alangkah celakanya orang yang tak tahu bahwa ia mempunyai Tuhan Yang berkuasa atas segala sesuatu! Sesungguhnya surga kami ialah Allah. Kebahagiaan kami yang paling tinggi ialah dalam Allah, karena semua keindahan hanya ada pada-Nya. Harta berharga ini patut kita miliki sekalipun harganya ialah nyawa kita. Iutlah permata yang harus dibeli, sekalipun untuk memperoleh itu orang harus mengorbankan apa saja. Wahai saudara yang tengah dahaga, larilah ke sumber itu, niscaya dahaga saudara akan lenyap, karena itu adalah sumber kehidupan yang akan menyelamatkan saudara. Apakah yang harus aku lakukan dan seruan seperti apakah yang harus aku berikan yang akan mengesankan jiwa saudara tentang berita gembira ini? Genderang apakah yang harus aku pukul sambil berteriak di sepanjang jalan, agar semua orang mendengar, “Inilah Tuhan kamu!” Dan dengan obat apakah aku harus menyembuhkan orang-orang, agar telinga mereka dapat mendengar?

Allah Adalah Pilar Utama Dari Segala Bangunan Kita

Jika saudara sungguh-sungguh ingin menjadi milik Allah, maka yakinlah bahwa Allah itu benar-benar milik saudara. Jika saudara tidur, Allah yang menjaga, jika saudara lengah di waktu menghadapi musuh, Dialah yang akan mengawasinya dan menggagalkan rencananya. Saudara tak dapat membayangkan betapa mengagumkan kekuatan Allah. Jika sekiranya saudara tahu, niscaya saudara tak perlu susah-susah memikirkan kekurangan apa-apa di dunia ini. Apakah orang yang kaya raya akan menangis jika ia kehilangan satu sen? Jika saudara mendapat kepastian bahwa Allah Yang Maha Kaya akan mencukupi segala kebutuhan saudara, apakah ada alasan bagi saudara untuk melulu mengurusi barang-barang duniawi? Allah itu perbendaharaan yang paling berharga. Berilah penilaian yang tepat. Tanpa-Nya saudara itu bukan apa-apa, demikian pula harta benda saudara. Janganlah mengikuti bangsa yang menggantungkan segala sesuatu kepada barang duniawi. Seperti binatang yang makan tanah, mereka hidup atas landasan barang-barang duniawi yang rendah. Seperti burung yang makan bangkai, mereka pun makan bangkai. Mereka menyimpang terlalu jauh dari Allah. Mereka makan daging babi, mereka minum minuman keras seperti minum air biasa, seakan-akan tak membahayakan. Selama mereka terlalu banyak bergantung pada barang-barang duniwi dan tak mencari pertolongan Allah, mereka mati. Ruh ketuhanan mereka telah terbang seperti burung merpati yang terbang dari sarangnya. Penyakit menyembah Mammon telah mengeram dalam lubuk hati mereka dan mengoyak-ngoyak ruh ketuhanan mereka. Waspadalah terhadap bahaya penyakit ini. Saya bukan melarang saudara memikirkan barang-barang duniawi dalam batas-batas yang benar, tetapi yang saya larang ialah agar saudara jangan menjadi budaknya barang-barang duniawi seperti bangsa lain, dan lupa sama sekali kepada Allah, Yang Maha Menguasai barang-barang duniawi itu. Jika sekiranya saudara mempunyai mata, saudara hanya akan melihat Allah, Allah, dan Allah saja, adapun barang-barang lain itu tak ada harganya sama sekali. Saudara tak dapat melipat atau membentangkan tangan saudara selain hanya dengan izin Allah. Orang yang mati rohaninya pasti akan menertawakan ini, tetapi lebih baik ia mati sebelum bersenang-senang menertawakan ini.

Awas, Jangan Meniru Bangsa Lain

Ingat, jika saudara melihat bangsa lain telah mencapai sukses luar biasa dalam urusan duniawi, janganlah saudara tergesa-gesa ingin mengikuti jejak mereka. Dengarkanlah betul-betul dan perhatikanlah sungguh-sungguh, bahwa mereka itu asing dan tak menaruh perhatian terhadap Allah, Yang memanggil kamu semua supaya kembali kepada-Nya. Tuhan mereka tiada lain hanya seorang manusia yang lemah. Inilah sebabnya mengapa mereka dibiarkan dalam kesesatan yang menyenangkan. Bukan maksud saya untuk melarang saudara mencita-citakan kebaikan di dunia, tetapi yang saya larang ialah agar saudara jangan mengikuti cara-cara mereka yang berpikir bahwa dunia sekarang ini adalah segala-galanya. Semua perbuatan yang saudara lakukan, baik mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dunia ini ataupun dengan akhirat, hendaklah memohon bantuan dan pertolongan Allah semata-mata, dan hendaklah hal ini menjadi pedoman hidup saudara untuk selama-lamanya. Tetapi permohonan bantuan ini janganlah hanya keluar dari mulut saja, melainkan harus keluar dari keyakinan yang dalam bahwa anugerah itu datang dari langit saja. Saudara akan sungguh-sungguh menjadi orang tulus, apabila di saat-saat kesukaran, sebelum saudara membuat rencana, saudara menutup pintu kamar saudara, dan bersujud di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, sambil menangis kepada-Nya agar Ia memberi bantuan dan pertolongan. Maka malaikat pasti akan datang menolong saudara, dan dengan cara yang gaib, jalan keluar akan terbuka bagi saudara. Kasihanilah jiwa saudara, dan janganlah seperti mereka yang sama sekali memutus hubungan dengan Allah, dan terjun dalam urusan duniawi begitu rupa hingga untuk mencari pertolongan Allah, mereka tak mau mengucapkan kata-kata yang sudah lazim, “Insya Allah”. Semoga Allah membuka mata saudara, sehingga saudara mulai sadar bahwa Tuhan saudara ialah pilar utama yang seluruh bangunan bersandar kepadanya. Jika pilar utama itu tumbang, dapatkan pilar-pilar kecil lainnya mempertahankan posisinya? Sudah barang tentu tidak! Semuanya akan roboh seketika itu juga, dengan kemungkinan jatuhnya banyak korban. Demikian pula bangunan saudara tak dapat mempertahankan posisinya tanpa adanya pertolongan Allah. Jika saudara tak mau menangis untuk memohon pertolongan Allah, demikian pula jika saudara tak menjadikan permohonan itu sebagai pokok asasi hidup saudara, maka saudara tak akan memperoleh sukses, dan saudara akan mati dengan sangat menyesal.

Janganlah saudara melamun, mengapa umat lain mendapat sukses padahal mereka tak mempunyai pengertian sedikit pun tentang Allah Yang paling sempurna dan Yang Maha Kuasa. Adapun jawabnya hanyalah karena mereka itu meninggalkan Allah, maka mereka dicoba dengan barang-barang duniawi. Kerapkali terjadi bahwa mereka yang meninggalkan Allah, dicoba berupa pemberian kehidupan mewah kepadanya, dengan segala pikirannya yang dipusatkan kepada urusan duniawi, dan pintu kemajuan dunia terbuka baginya, namun jika dilihat dari segi agama dan kerohanian, dia itu orang melarat dan telanjang. Dia akan mati tenggelam di dunia ini, dan akan dilemparkan untuk selama-lamanya di neraka. Kadang-kadang cobaan mereka itu berupa ketidaksuksesan dalam menumpuk kekayaan. Tetapi cobaan ini tak begitu berbahaya jika dibandingkan dengan cobaan pertama, karena cobaan pertama menyebabkan orang menjadi durhaka, takabur, dan merasa dirinya yang paling besar. Bagaimanapun juga, dua macam golongan manusia ini sama-sama mendapat murka Allah. Adapun sumber pancuran yang sebenarnya bagi segala macam kebahagiaan ialah Allah. Oleh sebab itu, jika umat ini tak menyadari adanya Tuhan Yang Maha Hidup dan Yang Maha Mencukupi, bahkan acuh tak acuh tentang Dia, dan memalingkan muka dari-Nya, bagaimana dia akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya? Berbahagialah mereka yang tahu akan rahasia ini.

Demikian pula janganlah saudara mengikuti para ahli filsafat dunia. Dan janganlah saudara menderita batin karena ditakut-takuti oleh mereka. Semua ini adalah perwujudan yang berubah-ubah tentang kebodohan besar. Satu-satunya filsafat yang hak dan benar, yang diberikan Allah kepada saudara, ialah Qur’an Suci. Orang yang tergila-gila ilmu filsafat duniawi sangat terancam bahaya kehancuran. Dan bahagialah mereka yang untuk memperoleh ilmu dan filsafat hakiki, mereka mau pergi ke Qur’an Suci.

Mengapa saudara mengambil jalan kebodohan? Apakah saudara akan mengikuti orang buta dengan pengharapan agar mereka menunjukkan jalan kepada saudara? Wahai kaum yang bodoh, bagaimana mungkin orang buta dapat menunjukkan jalan? Ilmu filsafat yang benar itu hanya diperoleh melalui roh cusi. Melalui roh ini saudara dapat mencapai ilmu pengetahuan yang tak dapat dijangkau oleh orang lain. Jika saudara dengan segala kejujuran memohon ini, niscaya saudara akan memperolehnya, lalu saudara akan menemukan ini sebagai ilmu yang memberi kesegaran dan kehidupan di hati, dan saudara akan mendapat keyakinan yang setinggi-tingginya. Bagaimana mungkin orang buta dapat menunjukkan jalan kepada saudara? Bagaimana mungkin orang yang biasa makan bangkai dapat menyajikan makanan yang bersih dan sehat kepada saudara? Hanya mereka yang jiwanya membumbung ke angkasa sajalah yang akan mewarisi ilmu. Bagaimana mungkin orang yang tak pernah merasa puas dengan pikiran mereka sendiri dapat memberi kepuasan kepada saudara? Yang paling penting adalah kesucian hati dan kejujuran, dan kesucian harus didahulukan. Sesudah itu baru saudara akan memperoleh apa saja.

Pintu Wahyu Ilahi Selalu Terbuka

Janganlah saudara mengira bahwa wahyu Ilahi itu hanya dahulu saja diturunkan, tetapi di kemudian hari tak diturunkan lagi. Saya berkata kepada saudara dengan sungguh-sungguh, bahwa setiap pintu memang dapat ditutup, akan tetapi pintu turunnya malaikat senantiasa terbuka. Bukalah pintu hati saudara untuk menerimanya. Jika saudara menutup jendela saudara dengan tangan saudara sendiri, niscaya saudara tak akan mendapat sinar matahari. Oleh karena itu, bangun segera dan bukalah jendela hati saudara, agar sinar matahari rohani masuk ke dalam hati saudara. Jika Allah tak menutup pintu wahyu-Nya kepada dunia, bahkan anugerah itu Dia turunkan lebih banyak lagi dari yang sudah-sudah, beranikah saudara berkata bahwa pintu kenikmatan ruhani telah tertutup, sekalipun wahyu itu di suatu zaman sangat diperlukan sekali? Tidak! Sekali-kali tidak! Sebaliknya, pintu wahyu Ilahi senantiasa terbuka. Kini, jika menurut ajaran Surat Al-Fatihah, pintu kenikmatan itu terbuka bagi saudara, mengapa saudara tak ingin menerimanya? Ciptakanlah dahaga saudara akan sumber kenikmatan ini, lalu dengan sendirinya sumber itu akan mengalirkan air dengan derasnya. Sama halnya, jika bayi ingin minum susu, ia menangis sekeras-kerasnya, lalu susu ibu tampak membesar penuh susu. Mulailah dahulu supaya pantas menerima rahmat Ilahi, hingga saudara nanti akan diberi rahmat. Tunjukkanlah kekhawatiran dan keprihatinan saudara, sehingga jiwa saudara akan diberi ketentraman. Menangislah berulang-ulang sampai ada tangan diulurkan kepada saudara dan memegang saudara dengan kuat. Memang sukar sekali jalan Tuhan itu! Tetapi sungguh, jalan itu dibuat mudah bagi mereka yang berani melompat ke dalam jurang dan tabah menghadapi maut. Bahagialah mereka yang demi cintanya kepada Allah, berani melancarkan pertempuran dengan hawa nafsu sendiri. Tetapi alangkah celakanya mereka yang untuk kepentingan hawa nafsu rendahnya, berani melancarkan perlawanan terhadap Allah, dan menolak untuk membuat dirinya taat kepada kehendak Allah. Barangsiapa untuk kepentingan dirinya sendiri ia menyingkiri perintah Allah, ia tak akan masuk kerajaan langit. Oleh sebab itu, berjuanglah sekeras-kerasnya agar tak sepatah kata Qur’an Suci pun akan memberi kesaksian  menentang saudara dan menyebabkan saudara cemas karenanya. Karena keburukan itu, sekalipun hanya sebutir gandum, pasti akan diberi hukuman. Waktunya terlalu pendek, tujuan hidup saudara belum tercapai. Berjalanlah dengan cepat, karena matahari hampir terbenam. Apapun yang saudara persembahkan kepada Allah, periksalah dengan teliti, agar tak ada cacat yang ketinggalan, yang menyebabkan kerusakan yang tak dapat dibetulkan lagi, atau agar saudara tak memiliki suatu barang yang nilainya tak lebih dari barang rombengan atau barang palsu, yang tak pantas dipersembahkan ke istana.

Kedudukan Qur’an Suci Yang Amat Tinggi

Saya telah diberitahu bahwa di antara saudara ada sebagian yang menolak sama sekali Hadits Nabi. Jika berita ini betul, maka orang-orang ini salah sekali. Saya tak pernah mengajarkan agar mereka mempunyai pendapat demikian. Sebaliknya, saya berkeyakinan bahwa Allah memberi tiga hal sebagai petunjuk. Yang pertama ialah Qur’an Suci, yang menguraikan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemuliaan dan Kebesaran Tuhan, dan memutuskan perselisihan antara umat Yahudi dan umat Nasrani dan melarang menyembah selain Allah, baik manusia, binatang, matahari, bulan, dan semua bintang di langit, anasir maupun hawa nafsu sendiri. Oleh karena itu, ingatlah. Jangan sampai saudara mengambil langkah yang bertentangan dengan apa yang termuat dalam Qur’an Suci. Saya berkata dengan sungguh-sungguh bahwa barangsiapa menyingkiri perintah yang termuat dalam Qur’an Suci, sekalipun hanya sepertujuhratus, ia menutup pintu keselamatan bagi dirinya. Jalan yang paling benar dan sempurna hanyalah yang diuraikan Qur’an Suci. Adapun lain-lainnya hanyalah bayangan belaka. Oleh sebab itu, pelajarilah Qur’an Suci dengan penuh perhatian dan pengertian yang dalam, dan saudara pasti akan mencintai Qur’an Suci melebih lain-lainnya.

Sungguh Allah telah bersabda kepada saya bahwa “Semua kebaikan termuat dalam Qur’an Suci”. Segala kebaikan terdapat di sana dan ini memang nyata. Sungguh celaka sekali orang yang memilih kitab lain di atas Qur’an Suci. Qur’an Suci adalah sumber keselamatan saudara, dan kebaikan untuk semuanya. Tak ada kebutuhan rohani satu pun yang tak diketemukan dalam membenarkan iman saudara di Hari Kiamat. Di bawah kolong langit tak ada kitab selain Qur’an Suci yang dapat memberi petunjuk langsung kepada saudara. Sungguh besar sekali rahmat Tuhan Yang telah menganugerahkan Kitab Suci seperti ini. saya berkata dengan sungguh-sungguh kepada saudara bahwa Kitab yang dibacakan kepada kita, jika dianugerahkan pula kepada umat Nasrani, mereka tak akan binasa. Berkah dan pimpinan Qur’an Suci yang dianugerahkan kepada kita, jika dianugerahkan pula kepada umat Yahudi, sebagai pengganti Kitab Taurat, niscaya kebanyakan sekte mereka tak akan binasa dengan menyangkal Hari Kiamat. Oleh sebab itu, sadarlah akan nilai rahmat Tuhan yang dianugerahkan kepada saudara. Ini adalah rahmat yang besar dan harta yang berharga. Tanpa Qur’an Suci, seluruh dunia tak akan lebih baik dari segumpal darah yang kotor. Kitab Suci lain di dunia tak berharga sama sekali jika dibandingkan dengan Qur’an Suci.

Dalam waktu seminggu, Qur’an Suci dapat membuat saudara menjadi orang suci, asalkan saudara tak menyimpang dari Qur’an Suci, baik lahir maupun batin. Qur’an Suci dapat membuat saudara seperti Nabi, asalkan saudara tak menyimpang dari Qur’an Suci. Adakah kitab selain Qur’an Suci yang dalam kata permulaannya sudah mengajarkan do’a yang bunyinya: “Pimpinlah kami pada jalan yang benar, yaitu jalan mereka yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”.

Ayat ini mencerminkan adanya harapan besar, yakni kita akan ditunjukkan jalan yang benar yang sampai kepada kenikmatan, yang dahulu pernah diberikan kepada para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Oleh sebab itu, tingkatkanlah ketetapan hati saudara dan jangan sekali-kali menolak ajakan Qur’an Suci ini yang mengajak saudara untuk berusaha memperoleh kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka. Allah benar-benar cenderung untuk memberikan nikmat kepada saudara. Allah membuat saudara sebagai pewaris dari kenikmatan ini, bahkan sampai Hari Kiamat, kenikmatan ini tak akan dilimpahkan kepada umat lain. Allah tak akan merampas dari kita pemberian nikmat berupa Wahyu Ilahi, dan berwawansabda dengan Allah yang biasa disebut “mukallamat” dan “mukhathabat”. Allah bermaksud memberikan nikmat ini kepada saudara, sebagaimana pernah diberikan kepada mereka. Akan tetapi barangsiapa berdusta karena ingin menyombongkan diri bahwa ia telah menerima Wahyu Ilahi, atau mendapat kehormatan berwawansabda dengan Allah, padahal sebenarnya tidak, maka dengan disaksikan Allah dan para malaikat, saya nyatakan bahwa orang semacam ini akan binasa atau dibinasakan, karena telah berbuat bohon dan penipuan terhadap Allah, Khaliknya.

Kedudukan Sunnah Sebagai Penjelasan

Alat petunjuk nomor dua yang diberikan kepada manusia adalah Sunnah. Sunnah adalah tingkah laku Nabi Suci yang dikerjakan menurut ajaran Qur’an Suci, yang disalin seterang-terangnya dalam praktek. Misalnya, secara lahir Qur’an Suci tak menjelaskan jumlah raka’at dari masing-masing shalat yang diwajibkan kepada manusia, tetapi Sunnah Nabi membuat ini menjadi terang. Orang tak menjadi sesat jika berkata bahwa Hadits dan Sunnah itu satu dan sama. Akan tetapi apa yang disebut Hadits itu baru dikumpulkan seratus lima puluh tahun setelah wafatnya Nabi Suci, sedangkan Sunnah itu sudah ada di zaman permulaan berdampingan dengan Qur’an Suci. Setelah Qur’an Suci, kaum Muslimin sangat berhutang budi kepada Sunnah. Tugas Allah dan Rasul-Nya untuk memimpin manusia ada dua macam cara, yaitu dengan menurunkan Kitab Suci, yakni sabda Allah yang menyatakan kehendak-Nya dan ridla-Nya untuk memenuhi sehubungan dengan undang-undang-Nya. Adapun tugas Nabi Suci ialah menyalin Kitab Suci itu dalam praktek, dengan demikian beliau menunjukkan bagaimana melaksanakan Kitab Suci dengan segala aspeknya. Oleh sebab itu, beliau menyalin semua perkataan Qur’an Suci dalam perbuatannya, dan dengan perbuatannya itu banyak sekali dipecahkan macam-macam kesukaran. Oleh karena itu tidak tepat jika dikatakan bahwa tugas ini dibebankan kepada Hadits, karena sebelum dilakukan pengumpulan Hadits, syari’at Islam sudah dijalankan dengan tertib. Apakah orang-orang tak mengerjakan shalat sebelum Hadits dikumpulkan? Apakah mereka tak berpuasa, berzakat atau menjalankan ibadah haji? Apakah sebelum Hadits dikumpulkan, mereka tak tahu apa yang halal dan apa yang haram?

Kedudukan Hadits Yang Sebenarnya

Alat petunjuk nomor tiga ialah Hadits, karena di dalamnya banyak dijelaskan hal-hal yang berhubungan dengan riwayat, sejarah, tata susila dan hukum. Adapun kedudukan Hadits yang sebenarnya ialah sebagai pelayan dari Qur’an dan Sunnah. Orang yang tak tahu kedudukan Qur’an Suci yang sebenarnya, menempatkan Hadits sebagai hakim atas Qur’an Suci, sama halnya seperti umat Yahudi terhadap tradisi mereka. Tetapi kami menganggap Hadits itu sebagai pelayan dari Qur’an dan Sunnah, dan sebagai pelayan tak mungkin menurunkan derajat majikannya. Qur’an itu sabda Allah, Sunnah itu tingkah laku Nabi Suci, dan Hadit adalah saksi yang menguatkan Sunnah. Keliru sekali anggapan bahwa Hadits itu hakim bagi Qur’an Suci. Jika sekiranya ada hakim bagi Qur’an Suci, maka Kitab Suci itu sendirilah yang menjadi hakimnya. Bagaimanapun juga, dalam Hadits itu terdapat unsur spekulasi, maka dari itu tak boleh diberi kedudukan lebih tinggi, karena kedudukannya hanya sebagai dalil penguat belaka. Qur’an dan Sunnah menjelaskan tugas yang sebenarnya, adapun tugas Hadits itu tak lebih dari melengkapi perincian tambahan saja. Dapatkah Hadits mempunyai kedudukan sebagai hakim bagi Qur’an Suci? Qur’an Suci dan Sunnah sudah merupakan petunjuk bagi manusia, belum timbul persoalan apa yang disebut hakim.

Oleh sebab itu janganlah berkata bahwa Hadits itu merupakan hakim bagi Qur’an Suci. Tetapi katakanlah bahwa Hadits itu melengkapi dalil-dalil penguat bagi Qur’an dan Sunnah. Memang Sunnah itu perwujudan kehendak Qur’an Suci. Kata Sunnah artinya: “Tingkah laku Nabi Suci”. Sunnah bukanlah nama barang yang ditulis dan dikumpulkan seratus lima puluh tahun setelah wafatnya Nabi Suci. Ini disebut Hadits. Adapun Sunnah Allah ialah suri tauladan yang dikerjakan oleh kaum Muslimin sejak zaman permulaan, dan jumlahnya meliputi ribuan Sunnah.

Sekalipun di dalam Hadits terdapat unsur spekulasi, tetapi apabila tak bertentangan dengan Qur’an Suci, Hadits ini harus diterima, karena Hadits ini menguatkan Qur’an dan Sunnah. Hadits ialah gudang material untuk membahas banyak persoalan Islam.

Oleh sebab itu, tak menghargai Hadits sama artinya dengan mengingkari sebagian besar bangunan Islam. Memang apabila bertentangan dengan Hadits lain yang cocok dengan Qur’an Suci atau bertentangan dengan Sahih Bukhari, Hadits itu harus ditolak, karena jika Hadits itu diterima, ini berarti menolak Qur’an Suci. Saya yakin bahwa semua Hadits yang cocok dengan Qur’an Suci pasti akan diterima oleh semua orang tulus. Bagaimanapun juga berilah pengakuan yang wajar dan manfaatkan Hadits seluas mungkin, karena Hadits itu sabda Nabi Suci dan semua Hadits yang tak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah harus saudara terima.

Hendaklah saudara mengikuti Hadits begitu rupa, hingga semua perbuatan saudara didasarkan atas Hadits. Jika seandainya Hadits itu bertentangan dengan apa yang diterangkan dalam Qur’an Suci, hendaklah saudara menggunakan pikiran saudara untuk mempertemukannya dalam penafsiran. Jika tak mungkin tercapai pertemuan, maka Hadits itu harus ditolak dan dibuang, karena Hadits ini tak mungkin datang dari nabi Suci. Tetapi jika ada Hadits yang cocok dengan Qur’an, sekalipun itu Hadits dla’if, Hadits itu harus diterima, karena Hadits itu dibenarkan Qur’an Suci.

Jika seandainya ada Hadits yang berisi ramalan, tetapi Hadits ini dianggap dla’if oleh ahli Hadits, sedangkan ramalan yang termuat dalam Hadits itu menjadi kenyataan (terpenuhi), baik di zaman saudara atau di saman sebelum saudara, maka Hadits ini harus diterima sebagai Hadits sahih, dan ahli Hadits yang menganggap Hadits ini dla’if, ia berada dalam kekeliruan. Hadits-hadits yang berisi ramalan berjumlah sampai ratusan, dan sebagian besar dianggap dla’if oleh ahli Hadits. Maka dari itu jika saudara tak mau menerima Hadits yang menjadi kenyataan ini, karena dianggap dla’if atau salah satu rawinya dianggap tak dapat dipercaya, saudara adalah tak mempunyai iman, karena saudara menlak Hadits yang kebenarannya dikuatkan oleh Allah dengan memenuhi ramalan yang diterangkan di dalamnya. Andaikan ada seribu Hadits seperti ini yang dianggap dla’if oleh para ahli Hadits, tetapi semua ramalan yang diterangkan di dalamnya terpenuhi semuanya, apakah saudara akan menolak Hadits-hadits ini, yang berarti menolak seribu dalil yang menguatkan kebenaran Islam, yaitu menolak seribu dalil yang menguatkan kebenaran Islam, yaitu terpenuhinya ramalan yang tercantum di dalamnya? Jika saudara berbuat demikian, saudara memusuhi Islam. Allah bersabda: “Dia tak melahirkan rahasia-Nya kepada siapa pun selain kepada orang Yang Dia pilih di antara Utusan” (72:26-27).

Oleh sebab itu, semua ramalan hanya akan dilahirkan kepada Utusan Allah. Bukankah sudah cocok dengan akal yang sehat bahwa Hadits yang berisi ramalan yang terpenuhi itu sahih, sekalipun ditolak karena dianggap dlo’if oleh para ahli Hadits? Atau, tepatkah dikatakan bahwa Allah bersalah karena memperkuat Hadits dlo’if dengan bukti kejadian yang nyata? Bagaimanapun juga, saudara harus mengambil pedoman jika Hadits tak bertentangan dengan Quran dan sunnah, atau tak bertentangan dengan Hadits yang cocok dengan Quran Suci, Hadits itu tetap sahih sekalipun dianggap dlo’if oleh para ahli Hadits. Memang kita harus hati-hati betul dalam menentukan hal ini, karena, sebenarnya memang banyak sekali Hadits bikin-bikinan yang menyebabkan perpecahan di dalam Islam. Semua madzhab yang berselisih memakai dalil Hadits ini atau itu yang memenuhi kebutuhan mereka, sampai terjadi persoalan yang sudah terang tentang shalat pun menimbulkan banyak pertentangan. Sebagian berpendapat bahwa “Amin” harus diucapkan dengan suara keras hingga kedengaran orang lain, tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa “Amin” harus di batin saja. Adalagi yang berpendapat bahwa “ma’mum” harus mengikuti bacaan Al-Fatihah bersama-sama dengan Imam, tetapi Madzhab lain melarang berbuat demikian, karena dengan demikian, shalanya menjadi batal. Ada pula yang bersidakep di dada, tetapi menurut yang lain harus bersidakep di perut. Sebab musabab perselisihan ini karena bermacam-macamnya Hadits yang masing-masing Madzhab berpegang pada Hadits yang ada di tangannya. Qur’an Suci menyatakan:

masing-masing golongan merasa puas tentang apa yang ada di tangan mereka “(23:53)

Keyakinan Tentang Allah Menyelamatkan Manusia dari Dosa

Wahai yang mencari Tuhan dengarkanlah! Tak ada yang dapat menyelamatkan orang dari dosa selain keyakinan yang sempurna. Keyakinan memberi kekuatan kepada orang untuk berbuat baik. Hanya keyakinan sajalah yang akan mengubah saudara menjadi orang yang cinta kepada Allah. Dapatkah Saudara menjauhi kejahatan tanpa adanya keyakinan? Dapatkah saudara mengekang bisikan jahat syetan tanpa bantuan sinar keyakinan? Dapatkah saudara mengubah batin sendiri tanpa adanya keyakinan yang sempurna? Dapatkah saudara mencapai kepuasan dan ketenteraman batin tanpa keyakinan yang sempurna? Dapatkah saudara memperoleh kebahagiaan sejati tanpa keyakinan? Adakah di dunia ini Sang Penebus dosa yang dapat memberi kekuatan kepada saudara untuk menyingkiri perbuatan dosa? Dapatkah khayalan darah Yesus menyelamatkan orang dari dosa? Wahai umat Nasrani hentikanlah ucapan palsu yang menakutkan, seakan-akan dunia akan hancur karenanya. Karena Yesus sendiri sangat menggantungkan keselamatannya pada keyakinan yang sempurna. Dia percaya dengan yakin, lalu dia diselamatkan. Sungguh celaka orang-orang Nasrani yang menipu dunia dengan ucapan bahwa mereka diselamatkan dengan darah Yesus Kristus, sekalipun dosa mereka setinggi langit. Mereka bahkan tak tahu siapakah Tuhan mereka. Hidup mereka berupa senang-senang dan bersukaria karena minum sampai mabuk, mereka tak sadar akan hidup mereka dengan Tuhan, dan mereka tak akan menikmati buah kehidupan yang dilakukan dalam kesucian. Oleh sebab itu, ingatlah selalu bahwa saudara tak dapat keluar dari kegelapan tanpa adanya keyakinan yang kuat. Bahagialah bagi mereka yang memiliki keyakinan dan bahagialah mereka yang diselamatkan dari kebimbangan dan keragu-raguan, karena hanya mereka yang akan diselamatkan dari dosa. Alangkah bahagianya jika rahmat yang besar berupa keyakinan yang kuat ini diberikan kepada saudara, dengan demikian saudara akan diselamatkan dari dosa sejak diterimanya rahmat tersebut

Keyakinan dan dosa tak dapat bersama-sama. Maukah saudara memasukan tangan saudara ke dalam lobang, yang saudara mempunyai keyakinan bahwa di dalam lobang itu terdapat ular berbisa? Atau apakah saudara akan tetap berdiri di tempat yang disitu sedang dihujani batu yang keluar dari gunung berapi? Atau tempat yang di dekatnya terdapat singa galak yang sewaktu-waktu akan menyerang? Atau, apakah saudara mau tinggal di sebuah desa yang sedang diserang penyakit menular? Lalu jika saudara beriman kepada Allah dengan penuh keyakinan seperti keyakinan saudara akan bahayanya ular atau singa atau penyakit menural, tak mungkin saudara berani menantang Dia dengan pendurhakaan atau berani memecah perjanjian untuk taat kepada-Nya

Wahai orang yang dipanggil pada ketulusan dan kebenaran! Yakinlah seyakin-yakinnya bahwa daya-tarik Ilahi akan tumbuh dalam batin saudara, dan saudara akan dibersihkan dari dosa, asalkan hati saudara dipenuhi dengan keyakinan yang kuat. Mungkin saudara akan berkata bahwa saudara mempunyai keyakinan yang teguh. Akan tetapi ingatlah betul-betul, mungkin perasaan ini hanya hayalan belaka, sedang keyakinan yang teguh belum saudara miliki, karena saudara belum membuang keadaan-keadaan yang seharusnya sudah dibuang. Misalnya, saudara belum membuang laku dosa. Saudara belum mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh keyakinan ini. Saudara belum takut kepada dosa sebagaimana saudara harus takut. Hendaklah saudara renungkan sedalam-dalamnya persoalan berikut ini: Orang tak akan mau memasukan tangannya ke dalam lobang, yang ia yakin bahwa di dalamnya terdapat ular berbisa. Demikian pula tak mau makan makanan yang ia yakin bahwa makanan itu mengandung racun. Demikian pula orang tak akan berjalan melalui tempat yang ia yakin bahwa di situ ada harimau. Jadi, jika saudara mempunyai keyakinan bahwa perbuatan dosa itu akan mendapat siksaan Allah, niscaya tangan, kaki, mata, telinga saudara tak akan berani berbuat dosa, Maukah saudara membakar diri dalam api yang saudara yakin bahwa api itu akan membuat hangus saudara? Ingatlah selalu bahwa benteng yang dibikin dari keyakianan yang kuat, benar-benar mempunyai ketinggian setinggi langit sehingga syetan tak dapat memanjatnya untuk menjatuhkan saudara ke dalam dosa.

Tiap-tiap orang suci itu disucikan dengan keyakinan. Hanya keyakinanlah yang memberi kekuatan kepada saudara untuk menghadapi kesukaran dengan tabah, bahkan karena keyakinannlah seorang raja dipaksa untuk turun tahta dan hidup sebagai pengemis. Keyakinan dapat memecahkan segala macam kesulitan. Keyakinan memungkinkan orang melihat Allah. Semua gagasan tentang penebusan dosa adalah palsu, karena kesucian itu hanya diperoleh dengan keyakinan yang kuat. Satu-satunya barang yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa dan meningkatkan manusia ke arah ketulusan dan kesabaran, bahkan melebihi malaikat, ialah keyakinan dan hanya keyakinan saja. Semua agama yang tak dapat menciptakan keyakinan, adalah palsu. Semua agama yang tak dapat menunjukkan Allah dengan cara yang tak ada keragu-raguan sedikitpun adalah palsu. Semua agama yang hanya mengajarkan dongeng dan cerita belaka adalah palsu

Jangan Puas Dengan Dongeng

Allah itu ada, dahulu ada, sekarang juga ada. Kekuasaan-Nya juga tetap seperti sediakala. Sekrangpun Allah memperlihatkan tanda bukti seperti yang sudah-sudah. Lalu mengapa orang hanya puas dengan cerita dan dongeng saja? Dengan demikian agama menjadi mati dan rusak karena hanya berisi dongengan tentang keajaiban yang sudah lampau. Ummatnya pun menjadi rusak, karena Allah tak menurunkan rahmat-Nya dan tak memberi pertolongan lagi. Sebagaimana manusia itu tertarik kepada kesenangan dunia setelah melihat dengan mata kepala sendiri, demikian pula manusia pasti tertarik kepada Allah setelah mereka tahu dengan yakin bahwa kesenangan rohani itu lebih lezat. Daya tarik keindahan Tuhan sudah melekat dalam jiwanya, sehingga barang-barang lain tampak seperti sampah yang tak berharga. Manusia akan selamat dari perbuatan dosa, jika ia tahu dengan yakin akan kekuasaan dan pembalasan Allah. Tak takut itu berpangkal dari kebodohan. Orang yang mempunyai ilmu Ketuhanan pasti tak akan kosong sedikitpun dari takut kepada Allah. Seorang penghuni yang tahu bahwa banjir akan melanda rumahnya, atau rumahnya sudah terkepung api, pasti akan lari meninggalkan rumah itu. Lalu mengapa cara-cara hidup saudara tak dirobah setelah iman saudara kepada Allah, dan kepercayaan saudara akan pembalasan Tuhan, menjadi kuat sampai menjadi keyakianan yang tak dapat digoncangkan lagi. Oleh sebab itu, bukalah mata saudara dan pelajarilah dengan tekun Undang-Undang Tuhan yang bekerja di alam semesta. Janganlah saudara seperti tikus besar yang selalu menggali lobang dan masuk dalam tanah. Jadilah seperti burung rajawali yang terbang di angkasa, yang merasa senang terbang di udara cerah di daerah yang tinggi.

Setelah saudara berbai’at di tangan saya dan bertobat, janganlah saudara mengulangi cara-cara hidup berdosa seperti yang sudah-sudah. Janganlah saudara seperti ular, yang tetap sama seperti ular setelah berganti kulit. Ingatlah bahwa di sembarang waktu saudara akan mati, sekalipun saudara tak menyadarinya. Berusahalah sekuat-kuatnya untuk membersihkan jiwa saudara, karena, saudara hanya akan dekat dengan Tuhan Yang Maha Suci apabila saudara sendiri suci.

Cara Untuk Mencapai Kesucian Ialah Shalat Yang Dilakukan Dengan Khusyu

Masalah yang amat penting ialah bagaimana orang dapat memperoleh rahmat ini. Allah memberi jawaban atas pertanyaan ini sebagai berikut:

Dan mohonlah pertolongan dengan Sabar dan Shalat” (2:153)

Apakah shalat itu? Shalat ialah permohonan yang ditujukan kepada Allah Yang Maha Suci dengan sekhusyu’-khusyu’nya  dan seyakin-yakinnya disertai dengan permohonan sedalam-dalamnya untuk diberi ampun dan diberi rahmat bagi Nabi Suci. Oleh sebab itu jika saudara bershalat, janganlah seperti orang bodoh yang hanya puas dengan membaca kalimat-kalimat Arab, karena bagi kebanyakan orang, shalat dan istigfar itu hanya upacara lahir, bukan kesungguhan hati. Jika saudara bershalat, selain menetapi semua aturan yang tercantum dalam Quran (Sabda Allah) dan dalam Hadits (Sabda Nabi Suci), saudara harus bermohon dengan segala kerendahan hati kepada Tuhan dengan menggunakan bahasa sendiri agar membekas dalam batin saudara. Dalam shalat itulah terletak obat penawar bagi segala macam kesukaran. Saudara tak tahu, kesukaran apakah yang sedang mengintai saudara. Oleh sebab itu, sebelum saatnya tiba, mohonlah agar saudara diberi rahmat dan keselamatan.

Wahai orang-orang kaya, raja dan milyuner! Sedikit sekali golongan anda yang takut kepada Allah dan berjalan di jalan Allah. Kebanyakan dari anda hanya mementingkan urusan duniawi, menghabiskan hidup anda dalam kesibukan dunia. Dan lupa bahwa anda akan mati. Jika anda tak bershalat, dan bahkan anda acuh tak acuh terhadap Allah, anda akan memikul dosa orang-orang yang berhubungan dengan anda. Jika anda berminum-minuman, anda akan memikul dosa orang-orang yang berminum dengan anda. Wahai orang bijaksana! Dunia ini tak akan kekal. Maka jagalah diri anda sebaik-baiknya. Hentikanlah segala macam kejahatan. Jauhilah segala macam minuman keras, anggur, wiski, bir dan sebagainya, semua itu adalah minuman yang membahayakan. Candu, ganja, opium dan sebagainya, yang menjadi kebiasann anda, benar-benar buruk sekali pengaruhnya yang akhirnya akan menyebabkan kematian. Hendaklah anda menjauhkan diri dari barang-barang ini. Sebenarnya kami tak mengerti, mengapa anda menggunakan barang-barang ini, padahal telah anda saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa beribu-ribu orang telah binasa menjadi korban, sedang siksaan di Akhirat akan lebih berat lagi. Jadilah orang yang bertaqwa kepada Allah (menjaga diri dari kejahatan), agar saudara berumur panjang dan diberkahi Allah. Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, berfoya-foya, bergelimang dalam kemewahan, hidup tak bertanggungjawab, adalah laknat, karena dengan demikian anda tak ingat, tak memikirkan, dan tak menghiraukan akan penderitaan orang lain.

Setiap orang kaya bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama manusia akan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi sebagaimana orang miskin juga harus bertanggung jawab akan hak dan kewajibannya. Bahkan sebenarnya, orang kaya itu mempunyai pertanggungjawaban yang lebih besar lagi. Sungguh celaka sekali orang yang menjauhkan diri dari Allah, yang tanpa takut-takut lagi makan semua barang haram larangan Allah, jika mereka marah, mereka mengamuk seperti orang gila, melontarkan kata-kata kotor, siap untuk memukul, melukai dan membunuh. Dan celaka sekali orang yang mengejar kesenangan dan kemewahan dengan tanpa malu sedikit pun. Orang semacam ini tak akan mengerti apakah kesenangan yang sebenar-benarnya.

Wahai saudara-saudara yang tercinta. Saudara tak akan hidup lama di dunia, apalagi jika saudara sudah banyak umur. Janganlah saudara mengecewakan Tuha. Pemerintah duniapun jika tak senang kepada saudara, pasti dapat membinasakan saudara. Maka dari itu, saudara harus lebih tak mengecewakan Tuhan Yang menciptakan saudara. Tak ada yang dapat membinasakah saudara, jika menurut penglihatan Allah, saudara benar-benara taqwa kepada-Nya. Dia sendiri yang akan melindungi saudara, dan tak seorangpun dapat mengganggu saudara, sekalipun orang itu musuh saudara yang haus darah. Jika saudara tak bertaqwa kepada Allah, Allah tak akan melindungi saudara, saudara akan hidup penuh ketakutan, perasaan tak tenang dan tak tentram, dan pada usia lanjut, saudara akan  penuh sesal dan duka cita. Allah hanya akan melindungi orang-orang yang menyertai Dia. Oleh karena itu, datanglah kepada-Nya, dan janganlah memusuhi Dia. Jangan sekali-kali saudara acuh tak acuh akan kewajiban yang Dia bebankan kepada saudara. Janganlah saudara bertindak sewewang-wenang terhadap sesama mahluk, baik dengan mulut maupun dengan tangan dan hendaklah saudara takut akan kutukan Allah. Hanya inilah jalan ke arah keselamatan.

Wahai para ulama Islam! Janganlah anda tergesa-gesa menuduh saya sebagai penipu. Sungguh banyak sekali rahasia Tuhan yang orang tak dapat menangkap semuanya seketika itu juga. Janganlah anda terburu-buru menolak pada waktu anda mendengar itu. Karena sikap semacam ini bukanlah sikap orang tulus. Karena jika anda menafsirkan Hadits bertentangan denga arti yang sebenarnya, maka turunnya Masih sebagai Hakim yang adil, tak akan ada artinya. Anda berpendapat bahwa datangnya Masih itu membawa tugas untuk bersama Imam Mahdi memerangi semua orang kafir, agar mereka memeluk Islam. Kepercayaan ini merendahkan sekali derajat agamat Islam. Di manakah ayat Quran yang menerangkan bahwa agama harus disiarkan dengan pedang? Sebaliknya, Allah bersabda dalam Quran Suci sebagai berikut:

“Tak ada paksaan dalam agama” (2:256)

Lalu dari siapakah Masih Mau’ud diberi wewenang untuk menggunakan kekerasan supaya orang-orang memeluk Islam? Quran Suci tak membenarkan penggunaan paksaan dalam hal agama, dan dalam sejarah Nabi Suci dapat dibaca dengan terang bahwa pada waktu beliau mengangkat senjata, ini bukan sekali-kali untuk menyiarkan Islam, melainkan:

1.       Untuk menghukum orang-orang yang membunuh kaum Muslimin, dan mengusir kaum muslimin dari tempat tinggal mereka. Dalam Quran Suci diterangkan sebagai berikut: “Izin perang diberikan kepada orang-orang yang diserang, karena mereka telah dianiaya, dan sesungguhnya Allah itu berkuasa untuk menolong mereka” (22:39)

2.       Atau, perang-perang Beliau itu hanya bersifat defensif (membela diri) terhadap serangan orang-orang yang berusaha mati-matian untuk menghancurkan Islam, demikian pula untuk menyetop fitnah mereka yang dilakukan dengan kekuatan senjata.

3.       Atau, mereka diserang karena menuntut kemerdekaan.

Selain tiga tujuan ini, Nabi Suci dan Khulafa-ur-Rasyidin tak melakukan peperangan apapun lagi. Sebenarnya, kaum Muslimin mengangkat senjata untuk membela diri, mereka telah menanggung segala macam penganiayaan dengan sabar yang dalam sejarah bangsa-bangsa tak ada persamaannya. Lalu Masih dan Mahdi macam apakah ini, yang akan memenggal leher setiap orang kafir yang tak mau memeluk Islam?

GADDI-NASYIN dan PIRZADAH*

Para kepala silsilah dari suatu Thariqat, demikian pula para Pir, mereka semakin jauh dari Islam. Siang dan malam mereka hanya mengerjakan bid’ah dan khufarat. Mereka tak mempunyai fikiran sedikitpun bahwa Islam sedang mengalami kesulitan yang luar biasa. Jika saudara mendatangi perkumpulan mereka, mereka bukan membicarakan Quran dan Hadits, melainkan ramai membunyikan alat-alat musik dan nyanyian-nyanyian. Sekalipun mereka mengerjakan ini, namun mereka mengaku sebagai pemimpin agama dan pengikut agama Nabi Suci Muhammad saw.

Memang setiap orang dapat mengaku bahwa ia cinta kepada Allah. Tetapi yang mencintai Allah yang sebenarnya hanyalah dia yang cintanya disaksikan oleh langit, setiap orang mengaku bahwa ia adalah pengikut agama yang benar. Tetapi hanya dialah yang mengikuti agama yang benar, yang memperoleh nur di dunia ini pula. Setiap orang berkata bahwa ia memperoleh keselamatan. Tetapi yang memperoleh keselamatan yang sebenarnya hanyalah dia yang diberi nur di dunia ini pula

Wahai saudaraku yang tercinta! Saat ini adalah saat yang paling baik untuk memperjuangkan agama yang saudara cintai.

Sadarilah akan pentingnya saat ini. Janganlah saudara sia-siakan kesempatan yang baik ini. Karena jika saudara sia-siakan, saudara akan kehilangan kesempatan yang baik untuk berkorban. Apakah saudara akan sampai hati tak ikut berjuang sebagai pengikut Nabi besar Muhammad saw? Kuatkanlah iman saudara, dan berilah percontohan sehingga para malaikat di langit kagum akan keteguhan hati saudara, dan mereka pasti akan memohonkan berkah untuk saudara.

Dengan ini, saya sudahi nasehat saya. Dan saya berdo’a semoga nasehat ini akan berguna bagi saudara untuk merobah batin saudara, sehingga saudara akan seperti bintang-bintang di langit yang akan menerangi dunia, berkat nur dan ruh saudara yang saudara peroleh dari Tuhan sarwa sekalian alam. Amiin!


* Gaddi Nasyin ialah juru kunci turun temurun dari kuburan seorang wali. Ini banyak sekali terdapat di Pakistan dan Iran. Pir ialah sebangsa Kiai kolot atau semacam Guru Tarekat

About these ads

11 Tanggapan

  1. Pengalaman saya Membaca Nasehat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad;
    Pada waktu pertama kali membaca nampaknya biasa-biasa saja, namun makin berulang-ulang saya baca, makin terasa ada “kekuatan” yang saya dapatkan, khususnya sebagai tambahan bekal dalam menjalani sisa-sisa hidup ini

  2. Nasehat beliau itu benar

  3. pada tulisan diatas saya membaca sebuah kalimat dari ayat al qur’an yang berbunyi ““Dia tak melahirkan rahasia-Nya kepada siapa pun selain kepada orang Yang Dia pilih di antara Utusan” (72:26-27).
    kemudian saya ulangi lagi membaca ayat nya itu’
    a عَالِمُ الْغَيْبِ (Dia yang mengetahui yang gaib) فَلا يُظْهِرُ (maka tidaklah diperlihatkan) عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (terhadap seorangpun hal itu (yang gaib itu)). إِلا (kecuali) مَنِ ارْتَضَى (diantara yang direhdai( NYa) مِنْ رَسُولٍ (yaitu para Rasul (Nya) فَإِنَّهُ يَسْلُكُ (maka sesungguhnya Dia mengadakan) مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (penjaga-penjaga (Malaikat) di muka dan dibelakangnya (nabi itu) (qs 72:26-27)”
    pertanyaan saya;
    1. apa maksud kata “gaib” di dalam ayat tersebut?
    2. kenapa kata ” الْغَيْبِ ” diartikan sebagai ramalan dari pada hadis yang sudah dibuktikan oleh maksud tulisan diatas?, bukankah kata “gaib” itu mempunyai makna yang lebih luas dari hanya sekedar ramalan yang sempit itu?
    3. apakah ayat itu dimaksudkan bahwa akan turun seorang nabi yang akan menerima kegaiban setelah nabi MUhammad ? tolong dijelaskan maksudnya dengan sejujurnya , apa maksud dibalik nasehat naskah diatas?. sepertinya naskah diatas bermaksud meramalkan seorang nabi yang akan datang setelah nabi Muhammad.

    • Assalamu’alaikum wr wb;
      Ikhwan rahmanhadiq Yth, sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya diwebblog kami, untuk pertanyaan2 saudara dapat kami tanggapi sbb;
      1. Jika kita tinjau dari QS 72:26-27, yang dimaksud “barang ghaib” adalah kehendak Allah, dan secara khusus adalah wahyu Ilahi dan secara lebih khusus lagi adalah kebenaran yang terkandung dalam ayat suci Al-Quran.
      2.
      a. Jika kita telaah dalam alinea yang sedang dibahas diatas maksudnya adalah ada sebagian kalangan dari kaum muslimin yang menolak hadist-hadist yang dianggap dho’if padahal hadist-hadist tersebut yang berisi janji Allah atau ramalan-ramalan ternyata dalam perjalanan waktu ramalan-rmaalan tersebut terpenuhi, sehingga sudah sewajarnya kita menerima hadist tersebut begitu rupa meskipun dianggap dho’if oleh Ahli Hadist.
      b. Konteks pembahasan yang dikemukakan oleh Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sbb: Ada sebagian golongan didalam Islam yang menolak hadist-hadist yang dianggap dho’if meskipun hadist-hadist tersebut berisi nubutan-nubuatan atau ramalan-ramalan tentang kebenaran Islam yang akan mencapai kemenangan atau kejayaan, yang mana nubuatan2 atau ramalan2 tersebut akhirnya tergenapi dengan berjalannya waktu. Sudah semestinya sebagai seorang muslim menerima hadist-hadist tersebut meskipun hadist-hadist tersebut dianggap dho’if karena ternyata hadist-hadist tersebut terpenuhi kandungannya. Disini konteks yang dimaksud oleh Imam Zaman HMGA adalah orang-orang yang menolak kedatangn Al-Masih Ma’uud dan Al-Mahdi yang kedatangannya justeru dinanti-nantikan oleh sebagian golongan Islam yang lain, dan kedatangan beliau telah dinubuatkan dalam hadist-hadist meskipun hadist-hadist tersebut dianggap dho’if, karena kedatangan beliau justeru adalah sebagai awal dari kemenangan Islam di zaman akhir ini.
      3. Konteks Ayat Qur’an tersebut adalah Rasulullah Muhammad SAW adalah Utusan Allah yang diperintahkan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, tentu Allah ta’ala tidak akan membiarkan Utusan-Nya tersebut berjuang sendirian didalam menyiarkan risalah tersebut maka Allah ta’ala mengutus utusan-utusan yang mengawal risalah tersebut didepan maupun dibelakang beliau. utusan-utusan sebelum beliau adalah para nabi-nabi yang utus kepada bangsa-bangsa secara nasional yang senantiasa menubuatkan/meramalkan kedatangan Rasulullah Muhammad SAW, seperti nabi-nabi bani Israel, yang menunggu pracletos (penghibur), khong fu tse yang menunggu datangnya Guru Kebijaksanaan yang sempurna, Budha gautama yang menungu Budha yang agung, dll yang sejatinya adalah menunggu-nunggu datangnya Rasulullah Muhammad SAW, sebagai gambaran hingga hari ini umat budha selalu melantunkan “OM” apa makna “OM” tolong dipelajari dalam buku “Muhammad dalam kitab Suci Dunia”.

      Sedangkan para pengawal setelah beliau adalah para utusan yaitu para mujadid yang datang pada setiap abad yang kedatangannya untuk memperbarui atau mentajdid pemikiran2 yang berkembang karena perkembangan zaman sehingga Islam tetap up to date selaras dengan zamannya, pembaharuan2 tersebut tidak akan terjadi tanpa campur tangan Allah ta’ala sebagai bentuk penjagaan-Nya terhadap wahyu Ilahi sebagai bimbingan kepada umat manusia. Jadi para Utusan setelah Rasulullah Muhammad SAW tersebut adalah para mujadid yang diutus pada setiap abad bukan para nabi yang pada abad ke 14 H ini yang menyatakan diri sebagai mujadid adalah Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad maka dari itu mari kita ikuti seruannya untuk tetap istiqomah didalam perjuangan menyiarkan Islam ke seluruh dunia, dan juga benar-benar menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mencintai Islam dan perjuangan dijalan-Nya sebagai satu-satunya tujuan hidup kita atau dengan bahasa lain menjunjung agama melebihi dunia, Insya Allah, amin.

      Demikian tanggapan kami semoga bermanfaat, terimakasih.
      Wassalam wr wb.

  4. Terima kasih atas uraiannya. Tapi saya masih belum puas atas jawabannya, malah saya tambah bingung nih akhi.
    1 . Bukankah pada ayat QS 72:26-27 tertera bahwa kata “غَيْبِهِ “ (Gaib) tersebut hanya tertuju kepada “ مِنْ رَسُولٍ” (Rasululllah) . Lalu dengan dasar apa ayat tersebut dialihkan menjadi makna yang sangat spesifik menurut yang akhi sampaikan dengan kalimat “kebenaran yang terkandung dalam ayat suci al-qur’an”? Sehingga makna ayat tersebut dijadikan luas sekali atau tidak spesifik lagi atau menjadi kabur sama sekali? Apa tujuan akhi mengaburkan tujuan/sasaran dari ayat tersebut?
    2. Apakah kata “ مِنْ رَسُولٍ” pada diatas diatas juga dapat diartikan sebagai “Al-Masih Ma’uud” ?
    3. Apa perbedaan antara “Rasul Allah” dengan “Nabi” dan “Al-Masih Ma’uud” ?
    Demikian saja dulu akhi. Mohon dijelaskan dengan alasan dan pemahaman yang tepat, benar dan jujur, agar kami tidak dibawa ke arah jalan yang bengkok/tidak lurus?

    • Assalamu’alaikum wr wb,
      Ikhwan rahmanhadiq Yth, berkaitan dengan pertanyaan ikhwan dapat kami jawab sbb:
      1. Sebelum membahas masalah “al-ghoib” dalam ayat 72:26 perlu kita pahami dahulu, pokok bahasan didalam ruku ini yang pada intinya adalah menjelaskan bahwa wahyu yang telah diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW akan tetap terjaga. Didalam memahami konteks ayat 26 maka perlu kita hubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya. (ingat kaidah tafsir Al-quran, yaitu tafsirul Quran bil quran, artinya ayat-ayat Quran suci itu saling menjelaskan, sehingga ayat yang satu akan dijelaskan oleh ayat Quran yang lainnya, baik ayat-ayat sebelumnya maupun sesudahnya). Maka pada ayat 24-25 disana tertera” Sampai tatkala mereka melihat apa yang mereka dijanjikan, mereka akan tahu siapa yang paling lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya; Katakanlah: Aku tak tahu apakah yang dijanjikan kepadamu itu sudah dekat, ataukah Tuhanku masih lama lagi akan menentukan itu”. Jadi konteks al-ghaib adalah keputusan Allah terhadap para penentang Rasulullah; apakah keputusan itu sudah dekat pelaksanaannya atau akan dilaksanakan jauh hari kemudian tiada seorangpun yang tahu termasuk Muhammad Rasulullah SAW itu sendiri.
      Jika kita pelajari asbabun nuzul dari ayat-ayat ini; yakni ketika Rasulullah menyampaikan dakwah ke Tha’if, lalu semua orang menolak beliau bahkan melempari beliau dengan batu hingga belaiu berdarah-darah, maka sebagai manusia biasa adalah wajar belaka beliau merasa tidak berdaya dan menumpahkan isi hati beliau yang didalam buku Life of Muhammad oleh Muir, dikatakan sbb: “Wahai tuhanku aku mengadu kepada Engkau tentang kelemahanku dan ketidakberdayaanku, dan tentang tak berartiku menghadapi umat manusia. Tetapi Engkau Tuhannya orang miskin dan Tuhannya orang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada tangan siapakah Engkau akan menyerahkan badanku? Apakah kepada tangan orang-orang asing yang mengepungku? ataulah kepada para musuh yang telah engkau berikan ditempat kediamanku untuk menguasai aku? …. aku mencari perlindungan dalam cahaya wajah Engkau….”
      Jadi secara jelas dapat dipahami bahwa kaitan antara al-ghaib dan min Rasul (Rasulullah) adalah keputusan Allah terhadap orang-orang yang menentang kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah, Allah sendiri yang akan menentukan, dan Rasulullah sebagai utusan tugasnya hanyalah menyampaikan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya, tidak kurang dan tidak lebih.
      Jika kita kembali pada konteks nasehat Imam Hazrat Mirza ghulam Ahmad, beliau menegaskan kembali bahwa seolah-olah kebenaran itu pada awalnya nampak lemah dan tak berdaya, tetapi sejarah menjadi saksi bahwa kebenaran yang nampak lemah dan tak berdaya bahkan dimusuhi pada akhirnya akan mencapai kemenangan; sedangkan kapan akan tercapainya kemenangan maka itulah hal yang “Ghaib” hanya Allah yang tahu, tetapi Imam Zaman meneguhkan kembali bahwa kemenangan itu pasti akan tercapai tinggal masalah waktu belaka.

      2. “Min Rasull” yang dituju pada ayat Suci tersebut adalah semua utusan Allah sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya.
      3. Sebelum menjawab pertanyaan ikhwan pada point ke 3; saya justeru ingin bertanya terlebih dahulu apa pengertian yang saudara pahami mengenai “Rasul Allah”; “Nabi” dan “Al-Masih Ma’uud” menurut Ikhwan rahmanhadiq sehingga tidak bias dan bertele-tele.

      Demikian tanggapan kami , kurang lebihnya mohon maaf dan semoga bermanfaat, trims
      Wassalam wr wb.

  5. AssalamualaikumWR.WB.
    Terima kasih atas uraian pak ustad. Penjelasan pak Ustad mulai menambah wawasan saya dan lebih paham maksudnya. Saya lebih mengerti bahwa yang dimaksud dengan “min Rasull” itu adalah utusan Allah yaitu seluruh nabi-nabi (sebelum hingga sampai nabi Muhammad SAW).
    Mengenai pertanyaan pak uztad pada saya tentang perbedaan antara nabi dan rosul, maka saya jawab; bahwa saya masih belum mendalaminya atau masih awam dengan perbedaan itu (karena pemahaman saya dulunya bahwa nabi mendapatkan wahyu dan hanya untuk dirinya saja, sementara rosul mendapatkan wahyu dan disampaikan kepada seluruh manusia).
    Kemudian dari sebuah buku yang ditulis Syeikh ‘Athiyah Saqar saya membaca bahwa nabi adalah seorang manusia yang diberikan wahyu kepadanya dengan suatu syariat untuk diamalkan akan tetapi dia tidak diwajibkan untuk menyampaikannya. Sedangkan Rasul adalah seorang manusia yang diberikan wahyu dengan suatu syariat untuk diamalkannya dan dia diperintahkan untuk menyampaikannya. Setiap rasul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul.
    Keterangan ini di perkuat oleh ayat al qur’an surat Al Ahzab ayat 45-46 yang berbunyi;
    “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS 33:45-46)”
    Kemudian diperkuat lagi oleh surat al Ahzabb ayat 40 yang berbunyi ;
    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah serta penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS 33:40)”.
    Jadi keterangan tersebut diataslah yang menjadi pegangan saya selama ini. Saya belum mempunyai pemahaman selain dari itu, tetapi kalau Bapak uztad punya pejelesan selain dari keterangan ayat-ayat diatas, maka dengan senang hati, saya akan mendengar penjelasan Bapak Uztad sebagai ilmu pengetahuan tambahan bagi saya.
    Sementara “Al-Masih Ma’uud” menurut apa yang bapak Uztad uraikan, saya menangkap bahwa beliau hanya sebagai Imam atau pemimpin agama yang ingin menyampaikan kebenaran berdasarkan ayat-ayat Al qur’an dan sunnah rasul (nabi Muhammad SAW). Tetapi kalau pemahaman saya terlalu terlalu sempit atau belum sesuai dengan maksud tujuan Bapak, maka lebih baik Bapak Uztad menjelaskan lebih detailnya lagi .
    Keterangan bapak Uztad tentang surat Jin ayat 24-25 dapat dipahami dalam pengerti yang luas dan umum. Sedangkan tentang Surat Al Jin , lebih banyak/spesifik ditujukan pada makluk gaib (Jin) yang tidak semua manusia dapat melihatnya atau berkomunikasi dengan makluk Jin itu, kecuali para “min rasulli “ (khususnya kepada nabi Muhammad) yang sudah diberi kelebihan dan petunjuk oleh Allah. Sementara pada ayat 24-25, saya tidak melihat hubungan ayat tersebut terhadap ramalan-ramalan/nubuat-2 yang dihubungan dengan hadist doif yang hurus diterima. Mungkin pandangan Bapak Uztad jauh lebih tajam dari pandangan saya. Menurut saya, ayat 24-25 , secara spesifik tertuju pada “peringatan” atau “hari pembalasan” yang akan diterima oleh orang-orang yang menentang petunjuk Rasullullah (sunnah Rasul) nantinya (diakhirat).
    Saya harap bapak tidak bosan-bosannya atau malas untuk memberikan penjelasan. Karena penjelasan Bapak tersebut, bukan saja bermamfaat bagi saya , tetapi juga akan dibaca dan dipahami oleh tamu-tamu yang datang ke rumah (situs) bapak ini. Jadi pertanyaan-2 saya ini, sedikit banyaknya telah membantu meramaikan dan juga bagaimana cara bapak mempertahankan kebenaran artikel yang bapak sampaikan diatas. Semoga Bapak memahami.
    Demikian dari saya, mohon maaf , trims
    Wassalam wr wb.

    • Wa’alaikum salam wrwb;
      Ikhwan fillah rahmanhadiq, kami pun mengucapkan terimakasih atas kesediaan ikhwan tetap berdiskusi dengan kami, karena dengan banyak berdiskui Insya Allah ilmu yang kita pelajari bukannya berkurang akan tetapi malah bertambah. Dan sebelumnya juga kami ucapkan Alhamdulillah, jika hal-hal yang kita diskusikan dapat bermanfaat, terutama untuk diri kita sendiri dan semoga kepada saudara-saudara yang lain yang mengunjungi webblog ini. Berkaitan dengan materi diskusi baiklah kami langsung saja ke pokok persoalan sbb:
      1. Jika sebelumnya kami tanyakan masalah pengertian atau pemahaman mengenai nabi, rasul, dan masih ma’uud, sebenarnya kami ingin mengetahui terlebih dahulu dasar pengertian yang ikhwan miliki agar dalam pembahasan nanti bisa sinkron antara maksud dan tujuan yang ingin disampaikan dengan istilah-istikah yang ada (secara syar’i) yang telah baku diyakini dikalangan kaum muslimin pada umumnya, karena kebanyakan diskusi yang ada pada akhirnya tidak membahas substansi masalah yang disampaikan tetapi malah ribut atau berbeda pendapat pada masalah istilah saja, padahal isinya atau substansinya sama. Jadi Pengertian nabi dan rasul sebagaimana yang telah ikhwan sampaikan itulah pengertian yang umum diyakini oleh kaum muslimin yang didasarkan pada pemahaman ulama salaf, dan kami tidak dalam posisi memperdebatkannya; akan tetapi jika kita merujuk kepada pengertian maknawiyah yang terkandung dalam Al-Quran maka pengertian yang demikian akan menjadi rancu dan cenderung mempersempit makna yang sebenarnya sangat luasdan dalam. Untuk penjelasana masalah ini, nabi dan rasul bisa dibaca pada entry disini; sedangkan masalah masih ma’uud dapatdipelajari disini atau disini dan juga disini. dan jika nanti masih ada pertanyaan dapat disambung pada topik2 yangdibicarakan pada entry tersebut diatas.
      2. Sedangkan yang berkaitan dengan surat 72 (Al-Jinn), sebagaimana yang ikhwan sampaikan; memang demikianlah yang dikemukakan dalam tafsir Depag sbb: “Dinamai “Al Jinn” (jin) diambil dari perkataan “Al Jinn” yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan Al-Quran dan mereka mengikuti ajaran Al-Quran tersebut” (hal. 982).
      Akan tetapi jika kita bandingkan dengan tafsir Maulana Muhammad Ali sbb: “Surat ini membicarakan perlindungan yang diberikan kepada para Nabi melawan para musuh. Pokok persoalan ini, yang disinggung-singgung dalam ayat 8 ruku’ pertama, dijelaskan dalam ruku’ kedua. Judul Surat ini diambil dari uraian ayat pertama tentang sejumlah orang yang beriman kepada kebenaran Nabi Suci, yang disebut Jinn.
      Pada umumnya para mufassir menganggap bahwa diturunkannya Surat ini ialah pada waktu Nabi Suci pulang dari Tha’if, yang terjadi lebih kurang dua tahun sebelum Hijrah, dengan demikian, Surat ini tergolong Surat yang diturunkan pada zaman memuncaknya perlawanan musuh. Abu Thalib dan Siti Khadijah telah meninggal; pengasingan diputuskan dengan paksa terhadap Nabi Suci dan semua keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul-Muththallib; sebagian kaum Mukmin telah berhijrah ke Abesinia. dan sisanya yang tinggal di Makkah dianiaya sehebat-hebatnya; kaum Quraisy sudah tuli terhadap semua nasihat dan peringatan: dan akhirnya, kunjungan Nabi Suci ke Tha’if hanya mengakibatkan bertambahnya keadaan yang menurut ukuran manusia biasa, bisa menyebabkan putus asa. Dalam mengalami keadaan seperti ini, sangat diperlukan jaminan yang meyakinkan, dan jaminan yang meyakinkan diberikan dalam Surat ini. Tetapi selain ada jaminan yang meyakinkan, kita diberitahu di sini, bahwa masih ada suatu kaum yang tersembunyi dari penglihatan, (inilah sebabnya mengapa Surat ini dinamakan Jinn), yang mau menerima risalah Qur’an. Terang sekali ini merupakan bayangan kemenangan Islam yang besar di luar tanah Arab, dan akan terjadi pada zaman yang akan datang.” (Hal 1245).
      Jadi perbedaan tafsir yang mengakibatkan berbedanya tujuan yang dimaksud, sehingga jika kita perpedoman pada tafisr depag tersebut maka akan muncul misalnya “orang-orang yang ahli mengusir jin”, “mampu menundukkan jin untuk tujuan2 tertentu,” dlsb yang pada dasarnya bukan untuk menambah dan mempertebal keimanan seseorang dengan meneladani rasulullah, tetapi terjebak pada masalah klenik dan tahayul yang justeru dapat membawa manusia kepada perbuatan syirik. Padahal tujuan surat tersebut adalah memberitahukan, terutama kepada Rasullah SAW pada saat itu dimana beliau dalam keadaan tak berdaya, bahwa beliau akan menang menghadapi para penentang beliau karena ternyata para “jin” yaitu orang-orang belum pernah bergabung dengan Rasulullah (bangsa-bangsa yang belum dikenal oleh rasulullah) akan datang membantu.
      Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “jin” pada surat 72 ini, dalam Quran Suci Maulana muhammad Ali menerangkan sbb:
      ” Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih
      1 Katakan: Telah diwahyukan kepadaku, bahwa segolongan jin2580 telah mendengar¬kan, maka mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengar Qur’an yang menga¬gumkan.
      2 Yang memimpin kepada jalan yang benar, maka kami beriman kepadanya. Dan kami tak akan menyekutukan sesuatu dengan Tuhan kami.
      3 Dan bahwa Ia — Maha-luhur kemuliaan Tuhan kami — tak mengambil isteri dan tak pula anak.2581
      4 Dan orang bodoh di antara kami membuat-buat kebohongan yang berlebih-lebihan terhadap Allah.
      5 Dan kami mengira bahwa manusia dan jin tak akan berkata dusta terhadap Allah.
      6 Dan orang-orang dari golongan manusia, mencari perlindungan kepada orang-orang dari golongan jin, maka mereka menambah jahat perbuatan mereka.2581a
      7 Dan mereka mengira sebagaimana kamu mengira, bahwa Allah tak akan membangkit¬kan seorang pun.
      8 Dan kami berusaha untuk mencapai langit, tetapi kami menemukan langit itu penuh dengan pengawal yang kuat dan nyala api.2582
      9 Dan kami biasa duduk di beberapa tempat di sana untuk mendengar-dengarkan. Tetapi kini siapa saja yang akan berusaha untuk mendengarkan, akan menemukan nyala api siap menanti kepadanya.
      10 Dan kami tak tahu keburukan apakah yang dimaksud bagi orang yang ada di bumi, atau apakah Tuhan mereka bermaksud menunjukkan mereka kepada jalan yang benar.2583
      11 Dan sebagian kami adalah orang yang saleh, dan sebagian kami lagi tidaklah demikian; kami adalah golongan yang mengikuti bermacam-macam jalan.
      12 Dan kami tahu bahwa kami tak dapat melepaskan diri dari Allah di bumi, dan kami tak dapat pula melepaskan diri dari Dia dengan melarikan diri….”
      Tafsir:
      2580. Tentang adanya jin atau adanya makhluk halus seperti Malaikat (jin yang mendorong perbuatan jahat, sedang Malaikat mendorong perbuatan baik), adalah persoalan lain, tetapi sudah terang bahwa jin yang disebutkan di sini bukanlah jin golongan makhluk halus; untuk penjelasan yang lebih terang tentang kata jin, lihatlah tafsir nomor 822. Jin juga disebutkan dalam 46:29-31, di sana jin berkata kepada kaumnya: “Wahai kaum kami, kami mendengar satu Kitab yang diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan apa yang ada sebelumnya”. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud jin di sana adalah kaum Yahudi. Ternyata jin yang dibicarakan di sini ialah kaum Kristen, sebagaimana diterangkan dalam ayat 3.
      2581. Terang sekali kata-kata ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dibicarakan di sini ialah kaum Kristen. Kaum Yahudi dan kaum Kristen yang tinggal di luar tanah Arab mau menerima Risalah Kebenaran yang dibawa oleh Nabi Suci adalah suatu kenyataan. Tetapi dari apa yang diterangkan dalam ayat selanjutnya, terang sekali bahwa yang dimaksud di sini ialah umat Kristen di kemudian hari; dan kata-kata ayat ini bersifat ramalan hari kemudian, yakni tatkala umat Kristen merupakan jumlah terbesar dari umat manusia (inilah salah satu arti kata jinn) (LL), mau menerima Kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi Suci. Setidak-tidaknya, kata-kata ramalan ini, baik bertalian dengan kejadian dalam waktu dekat maupun jauh di kemudian hari, ini telah diisyaratkan dalam kata-kata permulaan Surat ini yang berbunyi: “Telah diwahyukan kepadaku, bahwa segolongan jin telah mendengarkan”.
      2581a. Tak sangsi lagi bahwa jin dan manusia yang disebutkan dalam ayat ini adalah para pemimpin kejahatan dan aniaya, dan pula orang-orang yang lemah akalnya vang mengikuti mereka dengan membuta-tuli; lihatlah tafsir nomor 822.
      2582. Yang dimaksud mencapai langit di sini ialah mempelajari rahasia langit. Boleh jadi yang dituju oleh ayat ini ialah para ahli nujum dan ahli perbintangan di antara mereka, yang untuk jelasnya lihatlah tafsir nomor 2101-2104, tetapi kemungkinan besar bahwa yang dituju ialah ramalan penemuan para ahli ilmu pengetahuan moderen tentang ruang angkasa dan benda-benda langit.
      2583. Rupa-rupanya kata-kata ayat ini ditujukan kepada bencana besar yang tujuannya untuk mengarahkan perhatian manusia ke arah kebenaran rohani.

      Demikian tanggapan kami semoga bermanfaat, terimakasih.
      Wassalam wr wb.

  6. Assalamu’alaikum wr wb,
    Betul kata pak Uztad.. kita tidak akan berdebat tentang masaalah Nabi dan Rasul yang sudah dijelaskan di dalam Al Qur’an itu. Ketetapan kitab Suci adalah keputusan final dan juga merupakan petunjuk yang paling benar diantara yang benar, kalau diperdebadkan lagi tentu lebih banyak mudharatnya daripada mamfaatnya. Padahal masih banyak kebenaran ayat-ayat Al qur’an yang masih belum kita laksanakan dan kita amalkan. Masih banyak manusia yang belum menerima ayat-ayat kitab suci dangan cara yang benar menuju jalan yang benar pula.

    Saya sudah membaca penjelasan dan pandangan Bapak tentang surat Jinn, saya menemukan berbagai pandangan Bapak yang sangat mencengangkan bagi saya. Penjelasan Bapak tersebut merupakan informasi yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.
    Apakah hal itu yang Bapak maksudkan dengan penjelasan Qur’an suci yang sudah di “Up date”? apakah penjelasan Bapak itu tertuju kepada ramalan bahwa “telah muncul Utusan setelah Rasulullah yang disebut Imam Zaman HMGA”, sebagaimana yang telah Bapak terangkan sebelumnya? Yang menurut Bapak telah dinanti-nantikan oleh sebagian golongan Islam yang lain sesuai menurut hadist-hadist, sebagai awal dari kemenangan Islam di zaman akhir ini ?. Lalu kalau boleh saya mengetahui bagaimana bunyi hadist tersebut?

    Walaupun saya tetap ingin melanjutkan diskusi tentang masaalah Jin yang menurut penjelasan Bapak adalah golongan manusia , bukan makluk gaib. Tetapi saya tangguhkan dulu, karena saya lebih tertarik untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik dan lebih mendalam dari Bapak Uztad , tentang apakah ada hubungan antara ramalan-ramalan dari surat Jinn tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada Bapak diatas? Mohon penjelasannya supaya saya tidak bertambah bingung.

    Demikian dari saya, mohon maaf , trims
    Wassalam wr wb.

    • Wa’alaikum salam wr wb,
      Ikhwan Rahmanhadiq Yth; Alhamdulillah jika penjelasan kami dapat dipahami, karena sebenarnya setiap manusia harus terus menerus belajar, termasuk mempelajari ayat-ayat suci Al-Quran yang ilmunya tiada habis jika kita gali terus menerus. Dan Syukur Al-hamdulillah pada abad ke 14 H, Allah ta’ala berkenan mengirimkan utusan-Nya yaitu mujadid agung Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (barangkali orang boleh berbeda pendapat pada masalah ini), tetapi dalam pandangan kami (Gerakan Ahmadiyah Indonesia / Ahmadiyah Lahore) beliaulah orang yang tepat yang telah dipilih Allah ta’ala untuk memperjuangkan Islam dan memenangkannya atas semua agama; dan menjadikan iman kita benar-benar hidup dengan cahaya yang cerah dan semangat yang luar biasa. Sebagaimna hadist ”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap-tiap abad orang yang akan memperbaharui baginya agamanya” (HR Abi Daud); untuk itu kami hanya menyarankan pertama baca kembali nasehat beliau berulang-ulang hingga benar-benar paham terhadap apa yang dimaksudkan oleh beliau. selanjutnya baca buku-buku beliau yang telah kami masukkan diwebsite, atau jika ingin membeli buku-buku yang dicetak dan perlu diskusi lebih lanjut dapat menghubungai kami di alamt website yang ada. Demikian sedikit penjelasan yang dapat kami sampaikan sekali lagi kami ucapkan terimakasih dan Wassalam wr wb.
      Selamat Berjuang..!

  7. (karena kami kirim melalui email tidak bisa terkirim maka tanggapan ini kami muat disini)
    Tanggapan utk sdr rahmanhadid:

    Waalaikum salam wr wb:
    Sdr Rahmanhadiq Yth, berkenaan dengan komentar sdr dapat kami tanggapi sbb;

    1. “Terima kasih atas saran Bapak kepada saya untuk terus belajar Al qur’an”
    Tanggapan: Yang kami maksud adalah kita semua, tidak saja saudara tetapi saya juga dan orang lain juga sehingga jangan ada kesan kami lebih tau daripada saudara, sama sekali bukan begitu maksudnya.

    2. “mengandung banyak celah untuk dapat dimasuki oleh pemikiran, pemahaman dan opini-opini diluar konteks ayat-ayat asli dari Al qur’an itu sendiri.”
    Tanggapan: Dalam menafsirkan Al-Quran tentu sudah ada kaidah-kaidah yang menjadi patokan dan pegangan, dan tidak setiap orang mampu menafsirkan Al-Quran yang sesuai dengan kaidah2 tersebut; untuk itu para mufasir sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dan selalu berpegang pada konsep-konsep yang sudah ada dari ulama-ulama sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Mauala Muhammad Ali pun demikian, tidak serta merta beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan sekehendak hatinya atau pemikirannya sendiri karena yang demikian pasti akan keliru.

    3. “Saya akan lakukan uji materi terhadap bahasa terjemahan Al Qur’an Bapak serta apakah kesimpulan yang bapak nyatakan itu benar atau hanya berupa opini atau pengalihan isu dan membengkokkan tafsir ayat-ayat al qur’an saja;”
    Tanggapan : Tidak ada keinginan sama sekali membengkokkan atau memasukkan opini kedalam tafsir yang jelas-jelas perbuatan demikian akan dilaknat oleh Allah ta’ala. saya kutip pejelasan dari Bpk KH Agus Salim (salah seorang tokoh senior GAI) sbb: ” biar berapapun “modern” nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham “ke-aqlian” (rationalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan taukhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah. ” http://studiislam.wordpress.com/2011/02/11/pandangan-tokoh-nasional-terhadap-pemikiran-gerakan-ahmadiyah/

    4. “Saya sendiri mengikuti anjuran Bapak supaya belajar untuk menggali kebenaran ayat Al qur’an. Tetapi pemahan Bapak jauh menyimpang dari petunjuk Al qur’an. Jadi tidak mungkin saya belajar dengan orang-orang seperti Bapak yang ingin menyesatkan saya terhadap kebenaran ayat-ayat al qur’an.
    Tanggapan : “Jika sdr merasa pemahaman yang kami sampaikan tidak sesuai dengan apa yang sdr pahami cukuplah tugas kami menyampaikan apa yang harus kami sampaikan telah kami lakukan, dan kami tidak berharap sdr mengikuti apa yang kami sampaikan jika memang sdr merasa itu tidak cocok dengan pemahaman sdr. Dan kami pun tidak merasa paling benar sendiri karena kebenaran mutlak hanyalah milik Allah ta’ala, kami hanya meyakini inilah penafsiran yang menurut pandangan kami lebih mendekati kebenaran sehingga kami mencoba untuk mengikutinya. dan kami pun yakin selain pandangan kami itu masih ada kebenaran-kebenaran lainnya yang barangkali luput dari pendapatan kami. Kita hanyalah manusia biasa dan bukankah hanya Allah ta’ala pemilik kebenaran tunggal didunia ini, jadi bagaimana memahami bahwa suatu penafsiran itu benar sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah ta’ala jika tolok ukurnya adalah otak kita, ilmu kita. Maka dari itu ada baiknya kita senantiasa memohon kepada petunjuk kepada Allah ta’ala sebagaimana yang dicontoh oleh Rasulullah Muhammad SAW, agar DIA (Allah ta’ala) sang pemilik kebenaran yang mutlak berkenan memberi petunjuk kepada kita tentang suatu persoalan yang kita masih kurang memahaminya.

    5. “Cukuplah ini sebagai pertemuan terakhir saya dengan Bapak. Saya harap Bapak tidak menghapus diskusi kita ini , agar orang lainpun dapat membaca dan memahaminya.”
    Tanggapan : Kami sangat berkeinginan untuk mempublikasikan hasil diskusi ini sebenarnya, namun sayang seribu sayang dalam kata-kata sdr rahmanhadiq tercantum kata-kata yang menyebabkan tread ini tidak lolos sensor karena mengandung kata-kata yang kurang sopan bagi seorang muslim, jadi dengan berat hati tidak kami tayangkan namun tanggapan tetap kami kirim kepada sdr. dan kami berharap ini bukan akhir dari diskusi kita, karena barangkali kita bisa mendiskusikan hal-hal lainnya yang lebih menarik bagi kemajuan umat Islam yang kita cintai ini.

    Barkaitan dengan materi diskusi, berikut ini kami kutip dari Islamologi yang barangkali bisa menjadi bahan perbandingan untuk diskusi :

    Apakah jin, syetan, iblis itu itu? :

    Iblis
    Iblis bukanlah dari golongan Malaikat, “Iblis adalah dari golongan jin, maka ia durhaka” (18:50). Dalam 2:36, Iblis disebut setan. Hendaklah diingat bahwa Iblis dan Setan adalah sama. Apabila kejahatan makhluk jahat itu terbatas mengenai diri sendiri, ia disebut Iblis, dan apabila kejahatannya mengenai orang lain, ia disebut Setan; atau, Iblis berarti yang sombong, dan Setan berarti yang menggoda. Kata Iblis berasal dari kata balasa artinya putus asa, dan Syaithân berasal dari kata syathana artinya merenggang atau menjauh. Jadi makhluk yang sama ini memakai dua sebutan; ia disebut Iblis karena putus asa akan rahmat Tuhan, dan ia disebut Setan karena menggoda manusia supaya mengerjakan hal-hal yang menjauhkan mereka dari rahmat Tuhan. Oleh karena itu, Iblis berarti keinginan rendah yang menjauhkan manusia dari sujud kepada Allah dan memperoleh rahmat-Nya, sedangkan Setan berarti penghasut keinginan rendah untuk menyelewengkan manusia dari jalan yang benar.
    Apakah arti “Iblis tak mau bersujud kepada Adam”? Sebagaimana kami terangkan di atas, Malaikat bersujud kepada manusia artinya, manusia dapat mendayagunakan kekuatan alam dengan pengetahuannya akan barang-barang; manusia dapat menaklukkan alam. Akan tetapi manusia sendiri adalah bagian dari alam, dan manusia tak dapat menaklukkan hawa nafsu sendiri. Kemajuan manusia terletak pada dua hal, menaklukkan alam dan menaklukkan diri sendiri. Menakulkkan alam dapat dicapai dengan kekuatan ilmu yang dianugerahkan kepadanya, akan tetapi menaklukkan diri sendiri, masih diperlukan adanya rahmat Tuhan yang lain, yaitu Wahyu, dan ini dijelaskan dalam 2:38.

    Jin
    Kata jin berasal dari kata janna artinya menutupi, merahasiakan, menyembunyikan atau melindungi. Para ahli bahasa Arab semuanya sepakat bahwa kata jin berasal dari bahasa Arab; lebih-lebih karena banyak sekali perkataan Arab yang digubah dari akar kata yang sama, yaitu janna; misalnya kata-kerja janna yang artinya menutupi atau menaungi (6:77) dan kata benda jannah yang artinya taman, karena pohon-pohonnya rindang menutupi tanah, dan kata majan atau junnah yang artinya perisai, karena ini melindungi manusia; dan kata janin artinya janin (embrio) yang ada dalam rahim ibu. 6
    Pengertian jin yang digunakan dalam Qur’an Suci ada dua macam, Pertama, pengertian jin sebagai makhluk halus yang tak dapat ditangkap panca indra biasa. Makhluk ini diciptakan dari api, dan fungsinya ialah merangsang keinginan nafsu rendah. Hal ini diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an. Tentang terciptanya jin, Qur’an berfirman: “Dan jin Kami ciptakan sebelumnya dari api yang amat panas” (15:27). “Dan Dia ciptakan jin dari nyala api” (55:15). Dan untuk menunjukkan bahwa jin dan setan itu sama, dalam Qur’an terdapat ayat yang menerangkan ucapan setan: “Aku lebih baik daripada dia; Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakan dia dari tanah” (7:12). Adapun mengenai fungsi jin, Qur’an menjelaskan seterang-terangnya: “Setan yang menyelinap yang membisikan bisikan jahat dalam hati manusia, dari golongan jin dan manusia” (114:4-6). Hadits yang kami kutip di muka menerangkan bahwa tiap-tiap orang mempunyai kawan dari golongan malaikat yang membisikkan bisikan baik dan mulia, dan kawan dari golongan jin yang membisikkan bisikan jahat yang membangkitkan nafsu rendah.

    Setan
    Seringkali timbul pertanyaan, apa perlunya Allah menciptakan makhluk yang menyesatkan manusia? Banyak orang yang salah paham tentang hal ini. Allah menciptakan manusia, dilengkapi dengan dua macam nafsu, (1) nafsu tinggi, yang menyadarkan manusia akan kehidupan yang tinggi tau kehidupan rohani, dan (2) nafsu rendah yang berhubungan dengan kehidupan jasmani; dan bersesuaian dengan dua macam nafsu itu, Allah menciptakan dua jenis makhluk yang disebut malaikat dan setan. Nafsu rendah penting sekali bagi kehidupan jasmani manusia, tetapi ini merintangi manusia dalam mencapai tingkat kehidupan yang tinggi, selama nafsu rendah itu tak terkendalikan dan dibiarkan semau-maunya. Manusia diharuskan mengekang nafsu rendah itu. Jika manusia dapat melaksanakan itu, nafsu rendah bukan lagi menjadi perintang, malahan bisa membantu dalam meningkatkan kehidupan rohaninya. Itulah yang dituju oleh Nabi Suci pada waktu menjawab pertanyaan salah seorang sahabat, apakah Nabi juga mempunyai kawan dari golongan jin? Jawabannya: ‘Ya’, “tetapi Allah menolongku mengalahkannya, sehingga ia tunduk kepadaku dan tak menyuruh aku selain kebaikan”. Setan Nabi Suci dikatakan telah tunduk kepada beliau berbuat baik, artinya, menjadi pembantu beliau dalam meningkatkan kehidupan beliau ke arah kehidupan yang lebih tinggi.
    Sebenarnya pengertian inilah yang menjadi dasarnya ceritera tentang Adam. Mula-mula setan menolak bersujud kepadanya, artinya, menolak menjadi pembantu dalam meningkatkan kehidupan rohani, dan dengan jalan bagaimana pun setan berusaha keras untuk menyesatkan Adam dan membangkitkan nafsu rendahnya. Qur’an berfirman: “Dan setan berkata: Sesungguhnya aku akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang telah ditentukan dan sungguh aku akan menyesatkan mereka dan akan kubangkitkan keinginan mereka yang bukan-bukan” (4:118-119). Tetapi setan dapat dikalahkan dengan bantuan wahyu Ilahi, dan siapa saja yang mengikuti wahyu Ilahi, ia tak merasa takut akan godaan setan. Qur’an berfirman: “Lalu Adam menerima firman dari Tuhannya, dan Dia kembali kasih sayang kepadanya … Sesungguhnya akan datang kepada kamu pimpinan dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti pimpinan-Ku, tak ada ketakutan akan menimpa mereka, dan mereka tak akan susah”(2:37-38). Jadi adanya setan berarti bahwa dalam perkembangan rohani tingkat permualaan, manusia harus bertempur melawan setan dengan pantang menyerah dan pantang menuruti bisikan jahatnya, dan siapa saja yang mau mengerjakan pertempuran itu, pasti dapat mengalahkan setan; sementara itu, dalam tingkat perkembangan yang tinggi, hawa nafsu telah ditaklukkan samasekali, sehingga setan benar-benar menjadi pembantu “yang tak menyuruh dia selain kebaikan”, sampai-sampai nafsu jasmani pun menjadi pembantu dalam mencapai kehidupan rohani yang tinggi. Tanpa perjuangan, tak ada kemajuan dalam kehidupan; jadi dalam perkembangan rohani tingkat permulaan, setan itu menjadi sarana untuk kebaikan manusia, tekecuali bila manusia itu sendiri lebih suka mengikuti setan daripada berjuang untuk melawan dan menaklukkannya.

    Kata jin yang berarti manusia
    Pengertian jin yang nomor dua yang digunakan dalam Qur’an Suci ialah, manusia golongan tertentu 7, juga digunakan oleh Qur’an Suci dalam arti manusia para pemimpin kejahatan, berulangkali disebut setan oleh Qur’an, lihatlah 2:14; 3:174; 8:48; 15:17 dan 21:82. Bahkan digunakannya kata jin dalam arti manusia, ini sudah lazim dalam perpustakaan Arab sebelum Islam. Syair ciptaan Musa bin Jabir yang berbunyi fama nafarat jinni, makna aslinya jinku tak lari, ini dimaksud ialah “kawanku yang seperti jin, tak lari” (LL). Di sini terang sekali bahwa kata jin berarti manusia. Dan Tabrezi berkata: “Orang yang tajam dan pandai dalam segala hal, oleh bangsa Arab diibaratkan jin atau setan (TH. I, hal. 193). Contoh lain yang disebutkan dalam syair Arab sebelum Islam, kata jin digunakan dalam arti orang besar atau orang yang gagah berani 8.
    Sebagai tambahan, para ahli bahasa Arab menerangkan, bahwa kata jin berarti mu’adzamanu-nasi (Q, TA), artinya sekumpulan orang banyak atau sejumlah besar manusia. Menurut logat orang Arab, yang dimaksud sekumpulan orang banyak ialah dunia non Arab. Semua orang asing non Arab, mereka sebut jin, karena tidak terlihat oleh penglihatan mereka. Dalam arti inilah kata jin digunakan oleh Qur’an Suci sehubungan dengan peristiwa Nabi Sulaiman. Qur’an berfirman: “Dan sebagian jin ada yang bekerja di bawah kekuasaannya dengan izin Tuhannya … Mereka mengerjakan apa yang ia kehendaki, antara lain, mengerjakan benteng-benteng dan patung-patung” (34:12-13). Gambaran jin tertera di sini sebagai pembuat benteng, menunjukkan seterang-terangnya bahwa mereka itu manusia. Dalam 38:37, mereka disebut syayathin (setan-setan) yang mereka dikatakan sebagai ahli bangunan dan penyelam; dan selanjutnya dikatakan bahwa mereka “dirantai kakinya”. Terang sekali bahwa yang yang membangun gedung dan menyelam di laut bukanlah makhluk halus yang tak kelihatan, dan jika itu makhluk halus, maka tak perlu dirantai kakinya. Sebenarnya, mereka adalah bangsa asing yang ditaklukkan oleh Nabi Sulaiman dan mereka harus menjalani kerja paksa.9
    Di tempat lain dalam Qur’an Suci, jin dan manusia dipanggil ma’syar (6:131). Kata ma’syar artinya golongan atau masyarakat (jamaah yang urusannya sama) (LA). Jin dan manusia yang diuraikan dalam ayat itu bukanlah dua golongan makhluk yang berlainan. Dalam ayat itu pula diajukan pertanyaan kepada jin dan manusia: “Apakah belum datang kepada kamu para Utusan dari golongan kamu?”. Nah, semua utusan yang disebutkan dalam Qur’an Suci dan Hadits adalah dari golongan manusia dan dalam Qur’an tak ada satu ayat pun yang menerangkan utusan dari golongan jin. Oleh sebab itu yang dimaksud jin dalam ayat itu ialah bangsa asing non-Arab, atau, para pemimpin kejahatan yang menyesatkan orang lain. Dalam 17:88 diuraikan bahwa “jika jin dan manusia bergabung menjadi satu untuk mendatangkan yang seperti Qur’an ini, mereka tak dapat mendatangkan itu”, sedang dalam 2:23 yang memuat tantangan serupa itu, kata jin diganti dengan kata syuhada-akum (para pemimpin kamu). Dalam 46:29, kata jin digunakan dalam arti orang asing; dalam ayat itu diuraikan bahwa golongan jin telah datang kepada Nabi Suci dan mendengarkan Qur’an Suci, lalu beriman kepadanya; karena semua perintah yang termuat dalam Qur’an itu diperuntukkan bagi manusia, dan tak sekali-kali diperuntukkan bagi jin. Ternyata golongan jin yang diuraikan dalam 46:29 adalah segolongan kaum Yahudi dari Nisibis, sebagaimana diuraikan dalam Hadits; Qur’an Suci juga menerangkan bahwa mereka beriman kepada Nabi Musa (46:30). Adapun jin yang disebutkan dalam Surat 72 ruku’ pertama, itu kaum Nasrani 10, karena dalam ayat itu diterangkan bahwa mereka menganut doktrin Allah berputera (72:3-4). Dalam 72:6, jin disebut rijal, jamaknya kata rajul, artinya orang laki-laki, dan kata rijal hanya diterapkan terhadap manusia laki-laki saja (LA).
    Dalam menafsirkan Surat 46 ayat 29, Imam Ibnu Katsir mengutip beberapa Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad yang membenarkan fakta ini: “Tatkala Nabi Suci pulang dari Tha’if, pada tahun Bi’tsah kesepuluh, di Nakhlah beliau berjumpa dengan segolongan jin. Diriwayatkan bahwa jin itu datang dari Niniveh. Sebaliknya, ada satu riwayat yang dapat dipastikan kebenarannya, bahwa tatkala Nabi Suci pulang dari Tha’if, beliau beristirahat di suatu kebun, dan di sana beliau berjumpa dengan seorang penganut Kristen penduduk kota Niniveh; dan ia mendengarkan pesan Nabi Suci dan beriman kepada beliau. Boleh jadi ia mempunyai banyak kawan yang kepada mereka ia bercerita tentang Nabi Suci yang kelak kemudian mereka menghadap beliau. Golongan jin lain lagi dikatakan menantikan Nabi Suci pada waktu beliau berada di Makkah, dan pada suatu malam, beliau diriwayatkan pergi keluar untuk berkumpul dengan mereka semalam suntuk di tempat yang sunyi. Dan diriwayatkan bahwa bekas-bekas mereka dan bekas-bekas api unggun yang dinyalakan di waktu malam masih nampak pada pagi harinya. Ketika waktu shalat telah tiba, Nabi Suci menjalankan shalat bersama Ibnu Mas’ud (yang meriwayatkan Hadits ini), datanglah dua jin dan ikut shalat berjama’ah. Kemungkinan besar mereka adalah kaum Yahudi dari Nisibis yang jumlahnya tujuh orang (IK. 46:29). Ternyata kepergian Nabi Suci untuk menjumpai mereka di luar kota disebabkan karena siapa saja yang hendak bertemu dengan Nabi Suci pasti diganggu dan diancam oleh kaum Quraisy.
    Pendek kata, Qur’an dan Hadits tak pernah menerangkan jin seperti gambaran umum, yaitu jin yang mencampuri urusan manusia, dan menguasai kekuatn alam, dan menyamar sebagai manusia atau apa saja, dan masuk dalam tubuh laki-laki atau perempuan, lalu mendatangkan penyakit. 11

    Jin atau setan tak dapat menjangkau rahasia Tuhan
    Salah pengertian lain lagi sehubungan dengan masalah jin dan setan, perlu segera diluruskan. Sebagian ulama mengira bahwa menurut ajaran Qur’an Suci, setan dapat memasuki rahasia Tuhan, dan secara diam-diam mendengarkan wahyu yang disampaikan kepada malaikat. Cerita ini adalah kepercayaan tahayul bangsa Arab yang mereka ambil dari kaum Yahudi 12 atau dari kaum Persi, dan ini ditolak oleh Qur’an Suci dengan kata-kata yang tegas. Tatkala membicarakan wahyu, Qur’an berfirman: “Dan sesungguhnya ini wahyu dari Tuhan sarwa sekalian alam. Roh yang dipercaya telah menurunkan itu dalam hati engkau … Dan setan-setan tak menurunkan wahyu, dan ini memang tak sepantasnya bagi mereka, dan mereka memang tak mampu melakukan itu. Sesungguhnya mereka dijauhkan dari mendengar itu” (26:192-212). Mengingat bunyi ayat tersebut, tak mungkin orang tetap mempunyai pendirian bahwa menurut ajaran Qur’an Suci, setan dapat memasuki rahasia Tuhan. Rahasia Tuhan itu dipercayakan kepada malaikat Jibril, yang di sini disebut Roh yang dipercaya, ini untuk menunjukkan bahwa wahyu terjamin keamanannya di dirinya; kemudian wahyu itu diturunkan ke dalam hati Nabi Suci. Bukan itu saja, melainkan segala pengertian mengenai setan memasang telinga untuk mendengar-dengarkan wahyu, ini ditolak mentah-mentah oleh Qur’an Suci; mereka tidaklah naik ke langit seperti dugaan umum, dan tak pula mereka turun ke bumi membawa wahyu, mereka disingkirkan jauh-jauh, dan disingkirkan pula dari mendengarkan wahyu; maka dari itu, ceritera tentang setan mendengarkan rahasia Tuhan secara diam-diam, itu dongengan kosong. Selanjutnya Qur’an menerangkan: “Apakah mereka mempunyai sarana yang dengan itu mereka dapat mendengarkan rahasia Tuhan? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka membawa bukti yang terang” (52:38). Ayat ini terang-terangan menolak pengakuan tahayul yang dilakukan oleh setan, bahwa mereka bisa naik ke langit dan mendengarkan rahasia Tuhan. Selanjutnya Qur’an menerangkan bahwa rahasia Tuhan di-percayakan dengan aman kepada para rasul dan tiada makhluk lain yang dapat menjangkau rhasia Tuhan. Qur’an berfirman: “Dia tak membuka rahasia-Nya kepada siapa pun selain kepada utusan yang Dia pilih. Sesungguh-nya seorang pengawal berjalan di mukanya dan di belakangnya” (72:26-27).
    Di kalangan kaum Muslimin juga terdapat salah pengertian tentang setan yang memasang telinga untuk mendengarkan rahasia Tuhan. Hal ini timbul karena mereka salah mengerti tentang beberapa perkataan, terutama kata syaitan dan jin. Sebagaimana kami terangkan di muka, kata syaitan digunakan pula oleh Qur’an dalam arti para pemimpin musuh, seperti misalnya kaum munafik. Qur’an berfirman: “Dan apabila mereka sendirian bersama setan-setan (syayathin) mereka, mereka berkata: kami menyertai kamu” (2:14). Semua mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud setan-setan (
    syayathin) di sini ialah para pemimpin kaum kafir (IJ. CI. hal. 99, Bdl. Rz, dan sebagainya). Nah, perlawanan kepada Nabi Suci terutama sekali datang dari dua sumber, yaitu dari para pemimpin musuh dan dari para ahli nujum (kahin). Oleh karena agama Islam merupakan lonceng kematian bagi segala kepercayaan tahayul, dan jabatan kahin mewakili kepercayaan tahayul yang paling besar yang pernah memperbudak jiwa bangsa Arab yang selalu cenderung kepada kepercayaan tahayul, maka para ahli nujum memusuhi Nabi Suci sekuat tenaga. Mereka memperdayakan usaha manusia dengan manteranya yang sakti, dan meramalkan dengan sombongnya bahwa tak lama lagi Nabi Suci akan mati. Seperti halnya pemimpin musuh yang diuraikan dalam 2:14, ahli nujum itu pun disebutkan dalam Qur’an sebagai syayathin (setan-setan), karena mereka memimpin manusia ke arah jalan hidup yang buruk. Kata rajm yang digunakan sehubungan dengan setan atau ahli nujum, juga disalah-mengertikan. Memang benar bahwa kata rajm artinya melempar batu, tetapi kata rajm digunakan pula dalam arti zhann (menduga), tawahhum (tahayul), syatm (memaki-maki) atau tharada (mengusir) (R). Rajm dalam arti menduga, tercantum dalam 18:22): “menduga-duga barang gaib”; rajm dalam arti memaki-maki, disebutkan dalam 19:46, di mana kata la-arjumannaka diartikan “Aku akan berkata kepadamu dengan kata-kata yang tak engkau sukai” (R). Dan R. menambahkan bahwa setan disebut pula rajm karena ia diusir dari segala kebaikan, dan dari mala’ul-a’la (majelis luhur).
    Nah, dalam Qur’an Suci tercantum ayat sebagai berikut: “Dan sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia ini dengan lampu-lampu dan itu Kami buat sebagai rujuman lis-syayathin” (67:5), yang pada umumnya kata-kata ini diterjemahkan dengan kata-kata yang tidak tepat, yakni: “sebagai benda yang dilemparkan kepada setan” 13. Menurut yang telah kami jelaskan di atas, terjemahan yang benar dari kalimat itu ialah “sebagai sarana menduga-duga bagi para kahin”, yaitu para ahli nujum dan ahli perbintangan (astrology). Jadi arti ayat itu yang disetujui oleh ulama kenamaan adalah: “Dan sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia ini dengan lampu-lampu, dan itu Kami buat sebagai sarana menduga-duga bagi setan manusia, yaitu para ahli nujum dan ahli perbintangan” (LL. Bdl. TA). Mufassir lain berkata: “Dikatakan bahwa arti ayat itu ialah : “Dan sesungguhnya … dan itu Kami buat demikian rupa sehingga para setan-manusia, yaitu para ahli perbintangan, menduga-duga dengan itu” (RM). Ibnu ‘Atsir, setelah menerangkan bahwa bintang-bintang itu tak mungkin digunakan sebagai benda yang dilempar, karena bintang itu tetap pada tempatnya, oleh karenanya yang dimaksud hanyalah nyala sinar bintang tersebut, beliau memberi alternatif: “Telah diterangkan bahwa yang dimaksud rujm ialah dugaan … dan apa yang diterangkan oleh para ahli perbintangan dengan rabaan dan perkiraan, dan dengan menarik kesimpulan dari penggabungan dan pemisahan bintang-bintang; mereka itulah yang dimaksud syayathin, karena mereka itu setan-setan manusia. Diterangkan dalam satu Hadits, bahwa barangsiapa tahu sesuatu dari ilmu perbintangan … ia sama saja tahu sesuatu dari ilmu sihir; para ahli perbintangan adalah kahin (ahli nujum) dan kahin ahli sihir, dan ahli sihir itu kafir; jadi para ahli perbintangan yang mengaku memperoleh ilmu dari bintang-bintang untuk menentukan kejadian-kejadian yang akan datang, dan bahwa baik dan buruk itu disebabkan oleh bintang, adalah kafir. (N. artikel rajm). Jadi ayat Qur’an yang terang-terangan mengutuk praktek-praktek penujuman telah disalah mengertikan seakan-akan arti ayat itu bintang-bintang digunakan sebagai benda yang dilemparkan kepada setan yang hendak naik ke langit. Sehubungan dengan itu, Qur’an Suci menerangkan dalam dua tempat sebagai berikut:
    “Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia dengan perhiasan bintang-bintang. Dan (di sana ada) yang menjaga terhadap tiap-tiap setan yang mendurhaka. Mereka tak dapat mendengarkan kepada persidangan yang luhur, dan mereka dikecam dari setiap penjuru. Mereka diusir, dan mereka akan memperoleh siksaan yang kekal. Kecuali orang yang sekali-kali dapat merenggut, lalu ia akan diikuti oleh nyala sinar yang cemerlang” (37:6-10).
    “Dan sesungguhnya Kami telah membuat bintang-bintang di langit, dan Kami buat itu kelihatan indah bagi mereka yang melihat. Dan Kami menjaga itu terhadap setiap setan yang terkutuk. Kecuali orang yang mencuri pendengaran, maka ia diikuti oleh nyala sinar yang terang”(15:16-18).
    Dalam dua ayat tersebut diterangkan dengan kata-kata yang tegas, bahwa para ahli nujum tak dapat naik ke langit atau ke bintang yang digunakan oleh mereka sebagai landasan duga-dugaan mereka; mereka pulalah yang dalam ayat itu disebut setan yang mendurhaka dan setan yang terkutuk. ”
    Mereka tak dapat mendengarkan kepada persidangan yang luhur” Tetapi dalam ayat itu diterangkan bahwa mereka “diusir dan dikecam dari setiap penjuru; mereka diusir, artinya para pengikut mereka tak menghormati mereka, dan mereka dikecam karena apa yang mereka katakan ternyata tidak benar; oleh sebab itu, mereka hidup dalam siksaan yang kekal. Lalu ada suatu pengecualian: “Kecuali orang yang sekali-kali dapat merenggut”. Nah, yang dimaksud merenggut sesuatu, setelah adanya uraian bahwa mereka diusir dan dikecam dari segala penjuru, ialah karena dugaan mereka itu kadang-kadang benar. Pengertian semacam itu diuraikan pula dalam 15:18 yang berbunyi: “Kecuali orang yang mencuri pendengaran”. Sudah tentu ini tidak berarti rahasia Tuhan itu di suatu tempat dibicarakan dengan suara keras, baik di langit ataupun di bintang, dan para ahli nujum atau setan, bersembunyi dan mendengar rahasia Tuhan itu. Sebagaimana telah kami terangkan, wahyu Tuhan itu dipercayakan kepada Roh yang dipercaya yaitu malaikat Jibril, yang selanjutnya menurunkan itu ke dalam hati Nabi Suci. Dalam proses penyampaian wahyu, tak ada masalah mendengar-dengarkan 14
    . Dan dalam dua ayat tersebut hanyalah dibicarakan para ahli nujum, yaitu para kahin bangsa Arab. Qur’an Suci sendiri telah menyatakan dengan tegas, bahwa setan tak dapat naik ke langit, dan setan tak dapat menjangkau rahasia Tuhan, dan wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Suci itu diturunkan melalui Jibril, dan langsung diturunkan ke dalam hati Nabi Suci; jadi jika ada yang berkata bahwa setan dapat mendengar-dengarkan rahasia Tuhan, maka ini berarti memperolok-olokkan segala prinsip yang telah diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an Suci. Adapun mengenai uraian para ahli nujum kadang-kadang merenggut sebagian, dan diam-diam mendengarkan rahasia Tuhan, ini hanyalah mengisyaratkan bahwa dugaan mereka kadang-kadang benar; adapun yang dimaksud nyala sinar mengikuti mereka, ialah kekecewaan mereka sehubungan dengan datangnya Islam yang membinasakan seluruh hasil kepongahan ahli nujum. Gambaran kebenaran rohani yang dilukiskan dengan istilah hukum fisik yang lazim di dunia, ini biasa diuraikan dalam Qur’an Suci. Tak sangsi lagi pekerjaan ahli nujum itu tahayul dan sudah jelas kegelapan ajaran tahayul itu disapu bersih oleh Islam, sehingga agama Islam dapat disebut nyala api yang membakar penujuman.

    Catatan kaki:
    11. Pengertian jin semacam itu ada hubungannya dengan ceritera dalam kitab Bebel. Ceritera tentang Yesus mengusir setan lebih hebat dari dongeng biasa.: “Maka setan-setan pun keluarlah daripada banyak orang itu, sambil berteriak, katanya: Engkau inilah Anak Allah” (Lukas 4:41). Setelah dibuangkannya setan itu, bertutur-tuturlah orang kelu itu (Matius 9:33); seorang perempuan dari Kanaan mempunyai anak perempuan yang kemasukan setan; mula-mula Yesus menolak untuk mengusir setan, karena anak itu bukan keturunan Israil (Matius 15:24); dari Maria Magdalena telah dikeluarkan sebanyak tujuh setan (Lukas 8:2); setan yang dikeluarkan dari dua orang lagi, cukup untuk seluruh kawanan babi; “Lalu keluarlah segala setan itu serta masuk ke dalam babi sekawan itu, maka terjunlah semua babi itu dari tempat curam ke dalam tasik, lalu matilah lemas di dalam air” (Matius 8:32). Dan kekuatan untuk mengusir setan diberikan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus (Markus 16:17).

    12. Kitab Talmud mengajarkan bahwa malaikat diciptakan dari api, dan malaikat mempunyai bermacam-macam jabatan … dan jin bertindak sebagai perantara antara malaikat dan manusia … dan mereka tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari karena mereka mendengarkan apa yang sedang terjadi di belakang tirai untuk mencuri rahasia Tuhan” (RI, hal. 68). Qur’an menentang ajaran itu. Yang diciptakan dari api bukanlah malaikat, melainkan jin. Jin tak bertindak sebagai perantara antara malaikat dan manusia; kedudukan manusia lebih tinggi, bahkan lebih tinggi lagi daripada malaikat; jin adalah makhluk halus yang tak kelihatan, dari jenis yang paling rendah; fungsi mereka hanyalah membisikkan kejahatan dalam hati manusia; dan mereka tak dapat menjangkau rahasia Tuhan.

    13. Mr. Marmaduk Pickthall pun menerjemahkan seperti itu, sekalipun beliau menerangkan dalam tafsirnya, bahwa terjemahan itu tak betul: “Berdasarkan satu Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, yang diisyaratkan oleh ayat ini ialah para ahli nujum dan ahli perbintangan yang menganggap bahwa baik dan buruk itu bersumber pada bintang”.

    14. Hadits berikut ini tak dapat diartikan secara harfiah, karena ada sebagian yang bertentangan dengan Qur’an Suci, yang ini agaknya disebabkan karena terjadi kesalahpahaman di pihak beberapa rawi. Diriwayatkan Nabi Suci bersabda: “Jika Allah hendak menurunkan wahyu, maka berguncanglah langit, dan balatentara langit jatuh pingsan dan bersujud. Malaikat Jibril yang bangkit pertama kali, dan Allah mewahyukan kehendak-Nya kepadanya. Lalu para malaikat menjawab: Kebenaran! Dia ialah Yang Maha-luhur, Yang Maha-besar. Para pendengar rahasia mendengar sebagian daripadanya. Beberapa pendengar rahasia, dibinasakan dengan nyala api, tetapi ada beberapa yang berhasil memberitahukan pekabaran itu kepada yang lain sebelum mereka sendiri dibinasakan, dan yang lain itulah yang menyampaikan pekabaran kepada kahin (ahli nujum) di bumi (Bu. 65, Suratr 34:1). Hadits ini terdiri dari bermacam-macam versi, tetapi yang kami ambil hanyalah hal yang paling mencolok. Nah, banyak sekali Hadits yang menerangkan dan Qur’an Suci sendiri amatlah tegas mengenai hal ini, yakni wahyu itu langsung disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Suci tanpa campur tangan siapa pun; tetapi dalam Hadits tersebut diterangkan bahwa wahyu disampaikan oleh malaikat Jibril kepada malaikat lain, dan penyampaian itu dilakukan begitu rupa, hingga setan pun dapat mendengar itu, padahal dalam Qur’an Suci diterangkan bahwa setan “disingkirkan jauh dari mendengarkan itu” (26:212). Oleh karena Hadits tersebut bertentangan dengan Qur’an Suci dan bertentangan pula dengan Hadits sahih lainnya, maka Hadits itu seluruhnya tak dapat diterima. Tak sangsi lagi bahwa di suatu tempat terjadi kesalahpahaman pada waktu menyampaikan Hadits itu, dan dimasukkan dalam Hadits itu pendapat seorang rawi yang keliru.

    Demikian yang dapat kami sampaikan, jika ada hal-hal yang kurang berkenan kami mohonm aaf yang sebesar-besarnya, semoga bermanfaat,
    Terimakasih
    Wassalam wrwb.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: