WAHYU DALAM ISLAM

Berkenaan dengan masalah wahyu Ilahi dalam agama Islam, kesulitan yang dialami oleh kaum muslimin pada umumnya untuk  memahami secara tepat masalah wahyu Ilahi adalah adanya pendapat bahwa seseorang yang menerima wahyu itu pasti seorang nabi.  Salah pengertian seperti ini yang mengakibatkan penolakan terhadap dakwah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, karena dasar pengertian yang berbeda tersebut. Yang  perlu dipahami konsep wahyu dalam Islam adalah komunikasi antara Ilahi dengan ciptaan-Nya (atau khususnya Tuhan berbicara kepada manusia) sebagaimana yang diajarkan dalam Qur’an Suci. Dengan berakhirnya kenabian setelah Nabi Suci Muhammad, maka bentuk tertinggi dari wahyu Ilahi, (wahyu matluw) juga telah berakhir. Tetapi bentuk wahyu yang lebih rendah (wahyu khaffi), yang selalu diterima oleh para nabi maupun bukan para nabi seperti halnya orang-orang suci, masih terus berlangsung hingga hari kiamat.

 I. Al Qur’an dan Hadist tentang terus berlangsungnya wahyu Ilahi

 Menurut Qur’an Suci, ciri yang mencolok dari agama yang sejati adalah bahwa dia mengajak kepada Satu Tuhan Yang-hidup Yang-mendengarkan doa dari mereka yang susah, menyingkirkan kesulitan mereka, dan berbicara kepada para hamba-Nya. Ayat-ayat berikut ini menggambarkan poin ini:

  1. “Tatkala ia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, mengapa engkau mengabdi kepada apa yang tak mendengar dan tak melihat, dan tak berguna bagi engkau sedikitpun?” (Q.S. 19[Maryam]:42).
  2. Allah mengutuk para penyembah sapi emas dengan berfirman: “Apakah mereka tak tahu bahwa ini tak dapat bicara dengan mereka, dan tak dapat menunjukkan jalan?” (Q.S. 7[Al-a’raf]:148). Dan di tempat lain: “Apakah mereka tak melihat bahwa itu tak memberi jawaban kepada mereka, dan tak merugikan dan tak pula menguntungkan mereka?” (Q.S. 20[Tha Ha]:89).
  3. Merujuk kepada para penyembah tuhan palsu, dikatakan: “Dan do’a kaum kafir itu sia-sia belaka tidak dijawab” (Q.S. 13[Al-Ra’d]:14).

Karena itu agama yang benar di setiap abad mengajak manusia kepada Tuhan Yang-hidup Yang-berbicara kepada manusia. Setiap pengikut keimanan bisa membuat klaim lisan bahwa Islam membawa manusia kepada Tuhan, tetapi untuk memanggil umat manusia di dunia kepada Tuhan berdasarkan pengalaman pribadi dan mencapainya adalah hanya karya dari mereka yang disucikan oleh Tuhan Sendiri, dan mereka adalah pengikut sempurna dari Nabi Suci Muhammad.

Wahyu kepada yang bukan nabi

Dengan kenabian yang telah berakhir bersama kedatangan Nabi Suci Muhammad maka petunjuk yang diterima telah  mencapai kesempurnaannya. Tetapi apakah dalam hal dengan lengkapnya petunjuk itu, maka hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya telah dibentuk secara permanen, dan selanjutnya apakah dimasa depan manusia akan mencapai Tuhan dari sejak kelahirannya? Atau, apakah orang-orang akan tetap menyimpang  dari Tuhan dan kehilangan jalannya yang benar, bahkan setelah berakhirnya kenabian? Siapakah yang akan menggantikan kedudukan para nabi untuk menegakkan hubungan antara Tuhan dengan orang-orang yang tersesat itu, ketika manusia bisa menyimpang dengan melalaikan ajaran yang ada? Dalam hal ini, Qur’an Suci memerintahkan kepada Nabi Suci Muhammad untuk menyatakan:

        “Katakanlah: Ini adalah jalanku; Aku menyeru kepada Allah, dengan yakin –

          Aku dan orang-orang yang mengikuti aku”. (Q.S.12[Yusuf]:108).

Karena itu, seperti halnya Nabi Suci yang menyeru umat kepada Tuhan melalui cahaya yang diberikan kepadanya dengan wahyu (“ilmu yang meyakinkan”), maka demikian pula para pengikutnya yang menerima cahaya wahyu yang ditegakkan antara Tuhan dengan makhluk-Nya berdasarkan “ilmu’l yaqin”. Orang-orang semacam itu disebut auliya (jamak dari wali), atau orang yang dikasihi Tuhan. Wahyu yang diterimanya  bukanlah wahyu nubuwwat, tetapi wahyu wilayat, karena yang pertama itu sudah berakhir bersama Nabi Suci. Al-Qur’an menyatakan tentang para auliya sebagai berikut: 

    “Ingatlah. Sesungguhnya auliya Allah ialah orang yang tak mempunyai rasa takut dan tak pula berduka cita” (Q.S. 10 [Yunus]:62).

     “Mereka mendapat busyra (kabar baik) di dunia dan di Akhirat”. (Q.S. 10 [Yunus]:64).

Mereka yang diundang oleh Allah, pertama diri mereka sendiri harus mempunyai hubungan yang kuat dengan Tuhan. Cara untuk membina hubungan ini melalui kewalian (wilayat) dan busyra atau “kabar baik”.

Tentang apa arti busyra itu, Nabi Suci menerangkan ayat diatas kepada para pengikutnya seperti di bawah ini:

        “Beliau bersabda: Tidak ada lagi yang tersisa dari kenabian kecuali mubasysyarat (sama seperti busyra). Orang-orang bertanya: Apakah itu mubasysyarat? Beliau menjawab: Impian yang benar”. (Bukhari, Kitab Tabir Mimpi, bab Mubasysyarat, 91:5).

‘Impian yang benar ini diceriterakan serupa dengan kenabian, seperti diriwayatkan Nabi Suci telah bersabda:

         “Impian baik dari seorang mukmin yang tulus itu adalah seperempat-puluh enam bagian kenabian”. (Bukhari).

Dan merujuk kepada wahyu Nabi Suci sebelum beliau menjadi seorang nabi, Bukhari mencatat dari Aisyah, isteri Nabi:

         “Wahyu kepad Nabi Suci itu dimulai pertama-tama dengan impian yang benar”. (Bukhari, Kitab 1).

Karena itu impian yang benar termasuk dalamkategori  wahyu.

Jenis-jenis wahyu

Qur’an Suci berkata:

        “Dan bagi manusia, tiada Allah akan bersabda kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengutus Utusan” (Q.S. 42(Al-Syura]:51).

Karena itu, ada tiga cara komunikasi Ilahi dengan manusia:

  1. Disuntikkannya ide ke dalam fikiran. Nabi Suci telah menggambarkan model ini dengan kata-kata: “Ruhul Kudus telah meletakkannya dalam hatiku”.
  2. “Dari balik tirai” – ini termasuk impian, visiun, atau mendengar kata-kata yang terilham.
  3. “Dengan mengirim seorang rasul” – ini merujuk dikirimkannya malaikat Jibril, yang nampak dan kata-katanya di dengar oleh orang yang menerima wahyu.

Model pewahyuan pertama dan kedua adalah biasa bagi para wali (auliya) serta para nabi. Yang ketiga itu hanya teristimewa bagi para nabi, dan setelah Nabi Suci Muhammad SAW. model yang ketiga tersebut telah berakhir. Sekarang malaikat Jibril tidak dapat membawa wahyu jenis ini, yang dikenal sebagai wahyu nubuwwat – wahyu kenabian. Akan tetapi, jenis wahyu model pertama dan kedua, bisa diterapkan pula kepada yang bukan nabi, seperti dalam kasus ibunya Musa, para murid nabi Isa, dan para wali diantara kaum Muslimin. Nabi Suci telah menamakan wahyu semacam itu sebagian dari kenabian, dan suatu hadist yang sahih menunjukkan bahwa ada orang-orang di antara umat Muslim kepada siapa Tuhan akan berbicara:

        “Nabi Suci telah bersabda: Di antara bani Israil sebelum kalian, biasa ada orang-orang yang diajak bicara oleh Tuhan meskipun mereka bukan nabi-nabi. Bila ada yang semacam itu di antara umatku maka dia adalah Umar”. (Bukhari, Kitab kemuliaan para Sahabat, bab Umar; Kitab 62, bab 6).

Pesan yang diberikan dalam hadist ini adalah bahwa seperti biasa adanya komunikasi Ilahi dengan bukan nabi dalam umat sebelum umat Islam, maka  hal itupun akan terdapat diantara kaum Muslimin. Semua mufasir sepakat bahwa Umar disebut pertama atau contoh yang mencolok dari penerima wahyu.

Karena itu Al-Qur’an dan Hadist sepakat bahwa wahyu nubuwwat, atau jenis wahyu yang teristimewa kepada para nabi, telah berakhir, tetapi komunikasi Ilahi (yang dianggap sebagai sebagian kenabian) tetap berlanjut di antara kaum Muslim. Individu yang diberkahi dengan wahyu ini disebut auliya (tunggal: wali) dalam Al-Qur’an. Mereka juga basyir (penerima berita baik) dan nadzir (yang memperingatkan), seperti yang ditulis Muhiyuddin Ibn Arabi:

      “Wali (kekasih Allah) sesungguhnya adalah seorang basyir dan nadzir, tetapi dia bukan pemberi hukum” (Futuhat Makkiyah, Bagian II, hal. 376).

Ahli agama dan pemimpin Muslim India dari awal abad ke sembilan belas, Sayyid Ismail Shaheed, dalam menafsirkan ayat Qur’an “Tidak ada suatu kota melainkan telah datang seorang juru ingat”, menulis:  “Telah dinyatakan bahwa kata nadzir (juru ingat) termasuk para nabi dan wali” (Abqaat, hal.401-402).

Wahyu kepada yang bukan nabi dalam al-Qur’an

Para auliya tidak hanya menerima ilmu dari yang ghaib, dan wahyu yang mengandung alamat baik serta peringatan (terhadap yang berbuat jahat), melainkan juga perintah dan larangan kepada penerimanya (meskipun bukan syariat). Al-Qur’an memberikan contoh-contoh berikut ini:

1. “Dan Kami wahyukan kepada Ibu Musa: Susuilah dia; lalu jika engkau takut akan dia, lemparkanlah dia di sungai, dan janganlah engkau takut dan jangan pula berduka-cita; sesungguhnya Kami akan mengembalikan dia kepada engkau, dan membuat dia salah seorang Utusan”. (Q.S.28[Al-Qashash]:7).

Dalam wahyu kepada ibunya nabi Musa, kata “susuilah dia” dan “lemparkanlah” adalah perintah,  Sedangkan “janganlah engkau takut atau berduka-cita” adalah larangan. Apakah wahyu ini tidak meyakinkan dan pasti, sama seperti wahyu kepada para nabi? Dengan bertindak mengikuti wahyu yang diterimanya dan melemparkan bayinya ke sungai, bukankah ibu nabi Musa menunjukkan bahwa dia percaya penuh kepada wahyu yang diterimanya seperti para nabi yang menerima wahyu untuk mereka? Bila wahyu ini tidak berasal dari Tuhan, nubuatan didalamnya pasti tidak tergenapi.

2. Kepada Maryam, ibunda Isa, datang wahyu: “Dan goyangkanlah batang kurma ke arah engkau; itu akan menjatuhkan buah kurma segar-segar yang sudah masak di hadapan dikau. Maka makanlah dan minumlah dan sejukkanlah mata engkau” (Q.S. 19[Maryam]:25, 26). “Goyangkanlah”, “makan”, “minum” dan “sejukkanlah” adalah perintah.

3. Murid-murid nabi Isa, yang bukan nabi, menerima wahyu: “Dan tatkala Aku wahyukan kepada para murid (Nabi Isa): Berimanlah kepada-Ku dan kepada Utusan-Ku, mereka berkata: Kami beriman, dan saksikanlah bahwa kami orang yang berserah diri .“(Q.S. 5[Al-Maidah]:111).

Karena itu jelaslah bahwa wahyu kepada orang yang bukan nabi itu meyakinkan dan pasti, tidak dicemari oleh syetan. Demikian pula para wali dapat menjadi model yang lurus dan sempurna bagi umat pada setiap keadaan, seperti halnya para nabi yang menjadi teladan bagi umatnya. Tetapi karena rantai kenabian telah terputus bersama Nabi Suci, maka pada umat Muslim pengikutnya yang terpilihlah yang memenuhi panggilan Tuhan. Al-Qur’an menyatakan: “Aku menyeru kepada Allah, dengan yakin – aku dan orang-orang yang mengikuti aku”. (Q.S.12[Yusuf]:108).

Para wali juga disebut khalifah dalam Qur’an Suci: “Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka khalifah di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa” (Q.S. 24[Al-Nur]:55). 

Nabi Suci telah menerangkan ayat ini sebagai berikut: “Bani Israil biasa dipimpin oleh nabi-nabi. Ketika seorang nabi wafat, dia diikuti oleh nabi yang lain. Tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku. Karena itu, akan ada para khalifah, dan itu akan banyak jumlahnya”. (Bukhari, Kitabul Anbiya, 60:50).

Tidak saja para khalifah itu serupa dengan para nabi – yang ditunjukkan dengan kata-kata “sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka” dari ayat di atas – tetapi kriteria ketulusannya juga akan sama. Nabi Suci telah bersabda:  “Khilafat akan mengikuti pola kenabian”. (Mishkat, Kitab Amal Buruk, sec.3).

II.  Wahyu kepada para Sahabat Nabi Suci

Di bawah ini contoh-contoh wahyu kepada para Sahabat Nabi, baik sepanjang hidup beliau maupun sesudahnya:

  1. “Aisyah meriwayatkan bahwa ketika para Sahabat memutuskan untuk memandikan jasad Nabi Suci [sebelum pemakamannya], mereka berkata: Demi Allah, kami tidak tahu bagaimana membuka pakaiannya, seperti yang kita lakukan terhadap si mati atau dengan tetap berpakaian. Maka ketika mereka bersilang pendapat tentang hal ini, Tuhan menyebabkan mereka jatuh tertidur, sehingga tak seorangpun yang dagunya tegak di atas dadanya. Kemudian terdengar seseorang berbicara mengatakan dari samping rumah, dan tak seorangpun yang tahu siapakah dia itu; ujarnya: Mandikanlah Nabi Suci dengan tetap berpakaian”. (Mishkat, bab ‘Mukjizat’). 
  2. “Seorang budak perempuan Abu Bakar sedang mengandung. Dia berkata: Telah diwahyukan kepadaku bahwa anakmu seorang perempuan. Dan dia memang melahirkan bayi perempuan”. (Kitab al-Lama’, oleh Abu Nasr Abdullah al-Qausani, bab Abu Bakar).
  3. “Dalam perintah tertulis  Sayidina Umar [Khalifah kedua] mengirimkan kepada [panglima pasukan] Sa’ad bin Abi Waqqas selama perang Persia, dinyatakan bahwa telah diwahyukan kepadanya musuh akan dikalahkan”. (Al-Wasa’iq as-Sabasiyya, hal.302, disusun oleh Dr. Hamidullah dari Hyderabad).
  4. “Ali dan al-Fazl memandikan jasad Nabi Suci ketika Ali mendengar suara berkata: Pandangkanlah matamu ke atas”. (Al-Khasa’is al-Kubra, oleh Suyuti, jil. ii, hal. 276).
  5. “Anas meriwayatkan bahwa Abu bin Ka’b berkata: Saya akan masuk ke masjid untuk salat, dan memuji Tuhan sedemikian banyaknya sehingga tak seorangpun yang memuji Dia seperti itu. Maka ketika dia berdoa, dan duduk untuk memuji-Nya, dia mendengar satu suara dari belakangnya yang berkata: “Wahai Allah, segala puji bagi-Mu, segenap kebaikan ada di Tangan-Mu, segala perkara kembali kepada-Mu, yang terang maupun yang rahasia, segala puji bagi-Mu, Engkau memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, ampunilah segala dosaku yang telah lalu dan tetapkanlah aku dalam kesucian pada seluruh sisa hidupku, berilah aku keinginan untuk berbuat kebajikan yang engkau ridlai, dan berilah rahmat-kurnia-Mu kepadaku. Kemudian Abu bin Ka’b datang kepada Nabi Suci dan menceriterakan hal ini kepadanya. Nabi Suci menjawab: Dia adalah Jibril.” (Ruh al-Ma’ani, jil. vii, hal. 64, di bawah ayat 33:40).
  6. “Abdullah bin Zaid bin Abdul Rabbih meriwayatkan: Ketika Nabi Suci memerintahkan pembuatan sebuah terompet yang digunakan memanggil orang-orang untuk shalat, saya bermimpi seorang laki-laki membawa sebuah terompet di tangannya. Saya berkata kepadanya: Apakah kamu penjual terompet? Dia berkata: Apa yang mau kauperbuat dengan terompet itu? Saya berkata: Untuk memanggil orang shalat. Dia berkata: Bolehkah kutunjukkan yang lebih baik dari itu? Dia berkata: Ya. Dia berkata: Katakanlah, Allahu Akbar (hingga akhir kata-kata untuk adzan). Pada pagi harinya saya pergi menemui Nabi Suci dan mengatakan kepadanya tentang impian saya. Beliau bersabda: ‘Impianmu jelas benar, bila Allah menghendaki demikian. Pergilah dan berdirilah bersama Bilal dan katakan padanya impianmu. Biarlah dia yang menyerukan panggilan salat, karena suaranya lebih keras darimu’. Maka saya berdiri di samping Bilal dan menyampaikan kepadanya kata-kata itu, lalu dia menyerukan adzan”. (Mishkat, bab ‘Adzan’, sec.3).    

Kesimpulannya, wahyu nubuwwat telah berakhir, tetapi mubasysyirat tetap berlangsung, dan di sini termasuk impian yang benar, yang termasuk sebagian kenabian. Wahyu kepada para wali di antara kaum Muslim juga termasuk ilham dan kata-kata yang terdengar, seperti yang telah kita tunjukkan dari peristiwa yang dikutip di atas, dari para Sahabat Nabi Suci s.a.w.

III.  Pandangan ulama Muslim dan otoritas keagamaan

1.     Imam Raghib dalam ‘Mufradat’

Dalam kamus Al-Qur’an klasiknya, Imam Raghib memberi batasan wahyu sebagai berikut:

Al-kalimatu-llati tulqa ila anbiya’i-hi wa auliya’i-hi wahy-un.

“Kata-kata Allah yang dikomunikasikan kepada para nabi-Nya dan para wali-Nya disebut wahyu” (Mufradat ar-Raghib, di bawah wahyu).

2.     Imam Ja’far Sadiq (w. 765 M.)

Kata-kata berikut ini dicatat oleh Imam ini pada garis Ali:

  1. Dia berkata: “Wahyu adalah satu dari ciri seorang yang terpilih oleh Allah. Memberikan argumen tanpa wahyu adalah suatu tanda penolakan dari Hadirat Ilahi”. (Tazkirat al-Auliya, bab 1, hal. 23).
  2. “Imam Ja’far berkata: Saya membaca Al-Qur’an dengan penuh semangat dan gairah sehingga dia dibukakan kepadaku melalui wahyu” (Futuhat Makkiyah oleh Ibnu Arabi).
  3. “Beberapa orang yang mempunyai pengalaman Ilahi telah berkata tentang diri mereka bahwa mereka mendengar kata-kata Ilahi, dan bahwa Dia berwawansabda dengan mereka, seperti telah dicatat oleh Imam Ja’far Sadiq bahwa dia telah berkata: Saya membaca satu ayat Al-Qur’an begitu seringnya sehingga saya mendengarnya dari Allah, Yang-mewahyukan ayat itu” (Maktubat dari Mujaddid Alif Sani, Jilid. iii, hal. 166).

3.     Imam Ahmad bin Hambali (w. 855 M.)

Mengenai Imam Hambali, pendiri dari empat madzhab fiqih Islam, ditulis;

“Dia berkata: Suatu hari saya di tempat pemandian umum, dan ada sekelompok orang yang mencebur ke air tanpa pakaian. Saya tetap ingat akan hadist: Dia yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh memasuki pemandian umum tanpa penutup pinggang. Maka saya tidak melepas seluruh pakaian saya. Malam itu dalam impian seseorang berkata kepadaku: ‘Wahai Ahmad, terimalah kabar baik bahwa Allah telah mengampunimu karena kamu telah mengikuti hadist, dan membuatmu seorang pemimpin yang akan diteladani’. Saya berkata: ‘Siapakah engkau?’ Dia menjawab: Jibril”. (Ihya as-Sunnah).         

4.     Imam Ghazali (w. 1111 M.)

Filsuf, pengarang dan Mujaddid besar ini, menulis dalam karyanya yang terkenal sebagai berikut:

  1. “Tak diragukan lagi, ilmu datang ke dalam hati kita melalui para malaikat dan ini merujuk kepada kata-kata Ilahi: Tidaklah dianugerahkan kepada seorang manusia bahwa Tuhan akan berbicara kepadanya kecuali hanya dengan wahyu…” (Ihya al-‘Ulum, jil. iii, hal. 14).
  2. “Tidakkah manusia yang berhati nurani ditunjukkan rahasia dunia melalui ilham (ke dalam fikiran), atau melalui impian yang benar, atau melalui visiun ketika terjaga. Ini adalah derajat tertinggi dari tingkatan kenabian, karena impian yang benar adalah seperempatpuluh enam kenabian. Maka waspadalah dalam menolak ilmu ini akibat langkanya pemahaman”. (ibid. hal.67).

5.     Sayyid Abdul Qadir Jaelani (w. 1166 M.)

  1. “Wahai kalian, para perekayasa! Bukankah Allah mempunyai kekuatan untuk mengatakan: Akulah Allah, Tuhanmu, agunglah kejayaan-Nya, adalah pembicara, dan bukannya tuli. Kata-kata-Nya di dengar dan dimengerti””(Al-Fath ar-Rabbani, hal. 153).  
  2. “Ketika engkau mencapai fana (lenyap), peringkatmu di dekat Tuhan akan ditingkatkan, dan engkau akan diajak bicara dengan kata-kata-Nya: Hari ini kalian beserta kita, seorang yang dimuliakan, yang dipercaya”. (Futuh al-Ghaib, dengan tafsir Persia, Wacana no.28, hal. 171).
  3. Kata-kata wa-stana’tu-ka li-nafsi (Saya telah memilihmu khusus bagi Diri-Ku), yang ada dalam ayat al-Qur’an 20:41, diwahyukan kepada Abdul Qadir Jaelani beberapa kali. (ibid. hal. 33).
  4. “Saya bukanlah pengajar biasa seperti para pengajar kalian. Saya berbicara berdasarkan perintah Allah Yang Maha-kuasa. Ambillah kata-kataku sebagai perintah Allah.  Ketika saya berkhutbah dari mimbar, Allah menampakkan diri-Nya dalam hatiku” (Tuhfah Qadiriyyah, hal. 82).

6.     Imam Qurtubi:

“Orang Muslim yang sidik, yang tulus, adalah yang keadaannya mencerminkan keadaan para nabi. Dia diberkahi dengan yang dianugerahkan kepada para nabi, yakni, berita tentang yang ghaib”.

(Fath al-Bari, tafsir standar Bukhari, jil. xii, hal. 319).

7.     Syeikh Muhiyuddin Ibn Arabi (w. 1240 M.)

Filsuf Muslim terkenal dan wali dari Spanyol ini menulis:

  1. “Adalah mustahil bila wahyu Ilahi itu berhenti. Karena bila itu terputus, tidak ada lagi yang tersisa santapan ruhani bagi dunia ini yang harus terus-menerus dihidangkan”.(Futuhat Makkiyya, Bag.II, hal. 90, pertanyaan no.82).
  2. “Dari kami (para wali) ada mereka yang menerima dari Tuhan mereka perintah yang ada dalam Syariat. Sumbernya sama dengan yang digunakan bagi Nabi Suci Muhammad. Orang semacam itu adalah pengikut karena perintah ini tidak bertentangan dengan Syariat”. (Fusus al-Hukam, hal. 183).
  3. “Semua bentuk wahyu yang kami terangkan di sini didapati pada manusia dari Tuhan, dari kalangan wali. Wahyu yang istimewa bagi nabi, dan tidak untuk para wali, adalah wahyu yang mengisi Syariat”. (Futuhat Makkiyya, bag. II, hal. 176).
  4. “Dan demikianlah maka kedatangan Al-Qur’an terhadap hati para wali tidaklah terputus, disamping fakta bahwa Al-Qur’an itu dijaga dengan aman bersama mereka. Ini terjadi karena kemuliaan mereka, dan ini hanya bagi beberapa dari mereka”. (ibid. hal. 258).
  5. Ayat Al-Qur’an “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diwahyukan kepada kami…dan kami berserah diri kepada-Nya”(Q.S. 2:136), diungkapkan dalam bentuk wahyu yang diterima oleh Ibn Arabi. (ibid. Bag.III, hal. 367).

8.     Jalaluddin Rumi (w. 1273 M.)

Wali dari Persia serta pengarang Mastnawi ini menulis:

“Ini bukanlah ilmu perbintangan atau sihir atau sekedar mimpi

 Ini benar-benar wahyu – Allah yang Maha-mengetahui

Menyembunyikannya dari orang awam,

Kaum Sufi mengistilahkannya wahyu batin “.

Suatu tafsir atas Mastnawi menjelaskan bait-bait diatas itu sebagai berikut:

        “Kegunaannya dalam mmenyembunyikan ini dari publik adalah untuk menghindari kesulitan, karena bila seorang manusia dari Tuhan itu berkata, saya mempelajari hal ini dan itu dari wahyu Ilahi, orang akan mengira dia mengklaim kenabian. Maka, biarlah orang-orang terasing darinya, dia sungguh takut demi kehidupannya…..

         Kenyataannya adalah bahwa Allah berbicara kepada para malaikat, nabi, dan khususnya wali yang terpilih melalui kata-kata -Nya, dan meletakkan kata-kata dalam jiwanya dengan makna yang berbeda. Sesuai dengan ilmu-Nya yang abadi, Tuhan membuatnya memahami arti yang Dia maksudkan, dan mereka menerima arti pentingnya sesuai dengan kemampuannya. Untuk malaikat dan para nabi, ini disebut wahyu, dan bagi para wali ini dinamakan ilham, tetapi istilah wahyu bagi kaum sufi adalah wahyu batin”. (Miftah al-‘Ulum, Daftar iv, Bagian I, jil. xi, hal. 361).

9.     Imam Hajar Al-Asqalani

       Dia menulis dalam tafsirnya tentang Bukhari:

“Pada saat wahyu terputus dengan wafatnya Nabi Suci, maka ilham (wahyu kepada para wali) turun kepada mereka yang terpilih oleh Tuhan”. (Fath al-Bari, jil. I, hal. 332).

10. Imam Abdul Wahhab Shi’rani:

  1. “Pintu kenabian telah tertutup sesudah Nabi Suci Muhammad, dan tidak akan dibuka terhadap seorangpun hingga Hari Pembalasan. Namun, wahyu (wahy, ilham) tetap ada bagi para wali, yang tidak mengandung Syariat di dalamnya”(Al-Yawaqit wal-Jawahir, hal. 37).
  2. “Kenabian yang membawa Syariat telah terputus dengan wafatnya Nabi Suci Muhammad. Karena itu malaikat pembawa wahyu menurunkannya kepada para wali untuk pemahaman Syariat, dan memberi tahu dia akan rahasianya”. (ibid., hal. 71).
  3. “Wahyu pembawa Syariat telah berhenti setelah Nabi Suci Muhammad. Dan dari rahmat yang Allah telah anugerahkan kepadaku, satu adalah bahwa Dia telah menjadikan aku penerima wahyu yang baik”. (Al-Kibariyya al-Ahmar, catatan kaki dalam Yawaqit, jil. ii, hal. 8).

11. Shaikh Ahmad dari Sirhind (w.1624 M.)

Mujaddid dari India yang terkenal ini mengungkapkan pandangannya sebagai berikut:

  1. Dia mencatat tanya jawab seperti di bawah ini:

“Tanya: Karena agama telah lengkap dan sempurna dengan Qur’an Suci dan teladan Nabi Suci, apa perlunya wahyu (ilham), dan apa kekurangannya di sana sehingga dibuat bagus dengan wahyu?

“Jawab:  Wahyu membuat nampak kesempurnaan tersembunyi dalam agama, jadi tidak meningkatkan kesempurnaan agama. Seperti halnya penalaran (ijtihaad) membuat jelas perintah agama, begitu pula wahyu memperjelas rahasia dan keburaman dimana kebanyakan umat tidak faham. Perbedaan mencolok antara penalaran dan wahyu adalah bahwa yang awal itu menyangkut pandangan manusia sedangkan yang belakangan itu dinisbahkan kepada pandangan Sang Pencipta Yang Agung. Karena itu, wahyu mengandung kepastian sedangkan penalaran, tidak”. (Maktubat, jil. iii, Bag.VII, Daftar ii, Huruf No.55, hal. 19).

  1. “Perintah Syariat diwahyukan pada saat-saat tertentu tetapi perintah wahyu secara umum diperlukan sepanjang masa. Perintah Syariat itu berdasarkan empat sumber (rujukannya adalah Al-Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas dari mana hukum itu dipetik), sedangkan wahyu kepada para wali (ilham) tidak ada tempatnya. Tetapi dengan menepikan perintah Syariat, banyak perkara agama dimana sumber kelima adalah ilham. Sesungguhnya, bisa dikatakan bahwa, setelah Al-Qur’an dan Hadist, ilham adalah sumber ketiga. Sumber ini akan tetap ada sampai hari kiamat”. (ibid. hal. 19).
  2. “Wahyu para wali mengambil nikmat cahaya kenabian, dan adalah akibat dari berkah karena mengikuti para nabi”. (ibid. Bag.VI, Daftar iii, Huruf no. 23, hal. 63).
  3. “Hamba yang rendah ini diangkat dari lumpur degradasi, dan suara memanggilku, berkata:  Aku telah mengampunimu serta mereka yang datang kepada-Ku melalui ibadahmu, apakah langsung (melaluimu) ataukah tidak langsung, hingga Hari Pembalasan. Dan ini tetap diulang-ulang, hingga tidak ada ruang untuk diragukan lagi”. (Mabd wa Mu’ad dengan terjemah Urdu, hak. 17).
  4. “Shaikh Ahmad berkata bahwa pada suatu hari dia menyiapkan makanan untuk pembacaan al-Fatihah bagi puteranya (yakni amalan sedekahan berkenaan dengan kematian puteranya). Tidak ada keraguan atas diterimanya di hadapan Tuhan karena ajaran Al-Qur’an: ‘Tuhan hanya menerima amalan dari mereka yang tahu akan kewajibannya.’ Kemudian dia menerima wahyu: ‘Engkau sesungguhnya di antara mereka yang taqwa” (Kahl al-Jawahir, hal. 14).
  5. Sebelum kelahiran puteranya yang bungsu, Shah Muhammad Yahya, menerima wahyu: “Kami beri engkau berita baik akan seorang bayi laki-laki, yang namanya adalah Yahya”. Ini, sesungguhnya, adalah ayat 19:7 dari Al-Qur’an. Karena itu dia menamakan anaknya, Yahya. (Maqamat Imam Rabbani, diterbitkan di Delhi, hal. 136).     
  6. Dia menceriterakan bahwa untuk beberapa hari dia ditimpa oleh kekurangan amalan baik. Maka ketika dalam shalat dia sampai pada kata-kata, “Kepada-Mu kami mengabdi”, dia menghadapi persoalan: kalau dia mengucapkan kata-kata itu, di akan bersalah karena ada ayat: “mengapa engkau mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”; bila dia menghapuskannya, maka dia berdosa karena menghapus ayat. Kemudian dia mendapat wahyu: “Syirik (menyembah selain Allah) telah disingkirkan dari ibadahmu, dan imanmu telah menjadi suci bersih”. (Kitab al-Jawahir, hal. 15).
  7. Dia berkata: “Semua yang telah masuk, atau akan memasuki, dalam tatanan spiritualku, langsung atau tidak langsung, ditunjukkan kepadaku, dan saya diberitahukan tempat lahir dan rumahnya. Mereka semuanya diberikan kepadaku. Jika saya menginginkan, saya bisa menggambarkan mereka semuanya”. (ibid. Life of Shaikh Ahmad, oleh Khawaja Muhammad Baqir dari Lahore, hal. 5).

12. Mu’inuddin Chishti (w. 1236 M.)

Wali dan muballigh India ini, yang makamnya di Ajmer dikunjungi oleh ribuan kaum Muslim setiap tahun, menulis ayat:

 “Setiap saat Ruhul Qudus bertiup ke dalam Mu’in. Maka bukan aku yang mengatakan ini, tetapi sesungguhnya aku adalah Isa yang kedua” (Divan dari Chishti, ode no.70, hal. 102).

13.  Al-Baidawi

Mufasir Al-Qur’an klasik Arab ini, Al-Baidawi, menulis sbb:

“Seperti halnya iblis yang meletakkan fikiran jahat ke dalam hati orang-orang kafir, demikian pula Aku(Tuhan) mewahyukan kepadamu kebenaran (wahai kaum Muslim) dan mendorongmu agar berbuat kebaikan”.

(Tafsir Baidawi, jil. ii, hal. 267, diterbitkan di Delhi).

14. Imam Fakharuddin Razi

Mufassir klasik yang lain, Fakharuddin Razi, menulis sbb:

“Para malaikat memantulkan pengaruhnya ke dalam jiwa manusia dengan wahyu, dan menunjukkan mereka penggenapannya (yakni oleh para malaikat) dengan rukyah yang meyakinkan”

(Tafsir Kabir, jil. vii, hal. 370). 

15. Shah Waliullah Delhi (w. 1763 M.)

Dia adalah pemikir yang terkemuka, ahli agama serta penulis, yang dikenal sebagai mujaddid pada masanya. Dia menulis:

  1. “Umat Muslim itu tidak ditinggalkan oleh wahyu melalui para malaikat. Tidak tahukah engkau betapa Maryam melihat Jibril sebagai seorang laki-laki yang perkasa dan sehat dan betapa para malaikat memanggilnya? Begitu pula, Hadist mencatat bahwa seorang mukmin pergi menuju satu desa untuk mengunjungi kawannya. Di jalan, seorang malaikat nampak kepadanya dan berkata: Saya utusan Tuhan kepadamu. Hadist juga menyatakan bahwa jika engkau mempunyai tingkat keimanan yang sama (tingginya), malaikat akan menyalamimu bahkan ketika engkau sedang berbaring di tempat tidurmu” (Tafhimat, jil ii, hal. 134).
  2. “Tuhan mewahyukan kepadaku, berkata: Aku akan memberimu tarekat (jalan yang mengajarkan kemajuan ruhani) yang menjadikan manusia lebih mendekat kepada Tuhan; daripada mengamalkan tarekat yang sudah ada, dan ini akan lebih kuat dibandingkan salah satupun dari mereka”. (ibid. jil. I, hal. 45).

16. Khawaja Mir Dard dari Delhi (w. 1785 M.)

Dalam karyanya ‘Ilm al-Kitab, wali yang terkenal dari Delhi ini telah menulis di bawah judul Tahdees Ni’mat ar-Rabb (‘Sebutan kenikmatan Ilahi’ ) bahwa dia telah menerima wahyu banyak sekali ayat al-Qur’an, beberapa diantaranya dimana Nabi Suci dituju oleh Tuhan. Misalnya:

  1. “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. (Q.S. 26:214).
  2. “Katakanlah: Allah sudah cukup bagiku”. (Q.S. 39:38).
  3. “Dan tetaplah seperti apa yang diperintahkan kepada engkau, dan janganlah mengikuti keinginan rendah mereka”. (Q.S. 42:15).
  4. “Dan janganlah engkau berduka-cita tentang mereka, dan jangan pula engkau merasa sedih karena apa yang mereka rencanakan” (Q.S. 27:70).
  5. “Dan Ia menemukan engkau meraba-raba, lalu Ia menunjukkan jalan yang benar” (Q.S. 93:7).

(Lihat ‘Ilm al-Kitab, hal. 61-64).

17. Sayyid Muhammad Ismail Shaheed (w. 1831 M.)

Dia adalah seorang ulama yang cerdas dan syuhada yang terkenal dari North West India. Dia menulis:

  1. “Di antara perkara ini, satu adalah ilham (wahyu), dan ilham adalah hal yang ditegakkan sejak masa para nabi. Ini disebut wahyu. Jika ini terbukti dari orang-orang selain nabi, ini disebut tahdees (wahyu dari yang bukan nabi). Dalam Al-Qur’an, ilham semacam itu disebut wahyu, entah itu turun kepada para nabi ataukah para wali”. (Mansab-i Imamat, hal. 31).
  2. Jika seseorang berkata bahwa tak seorangpun selain para nabi dapat memperoleh ilmu dari masa depan yang ghaib, saya percaya bahwa dia mengingkari ajaran agama yang ditegakkan dengan kejadian yang berulang-ulang, yakni ajaran keimanan yang menyebar di dunia karena mereka itu dengan melimpah telah diriwayatkan (oleh Nabi Suci). (Abqaat, hal. 14-17).

18. Maulawi Abdullah Ghaznavi

Dia adalah seorang wali India dari abad terakhir yang berasal dari Ghazni di Afghanistan, tetapi menetap di Amritsar, Punjab. Dalam Biografinya tercatat bahwa dia menerima sejumlah besar ayat-ayat Qur’an dalam wahyu Ilahi. Beberapa diantaranya sbb:

  1. “Mohonlah rahmat untuk dia, dan berilah hormat kepadanya” (Q.S. 33:56).
  2. “Dan Tuhan dikau segera akan memberikan kepada engkau, sehingga kamu puas”.(Q.S. 93:5)
  3. “Bukankah Kami telah melapangkan dada engkau?” (Q.S. 94:1). 
  4. “Bukankah Allah sudah cukup bagi hamba-Nya?” (Q.S. 39:36).
  5. “Ia tiada lain hanyalah seorang hamba yang Kami beri nikmat”.(Q.S. 43:59).

Dia juga menerima wahyu berikut ini:

“Engkau dari-Ku dan Aku dari-Mu. Maka jangnlah takut atau berduka-cita” (Biografi Maulawi Abdullah Ghaznawi oleh Maulawi Abdul Jabbar Ghasnavi, hal. 10-11).

19. Maulavi Abdul Jabbar Ghasnavi

Suatu kali Maulavi Ghulam Ali Qasoori berkeberatan terhadap wahyu kepada Maulawi Abdullah Ghasnavi sebagai berikut: “Ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang ditujukan khusus dan hanya kepada Nabi Suci Muhammad. Tak seorangpun yang dapat dituju olehnya”.

Sebagai jawabannya, putera Maulavi Abdullah Ghaznavi yang bernama Maulavi Abdul Jabbar Ghaznavi, seorang yang sebaya dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan penentang keras Gerakan Ahmadiyah, menulis berikut ini:

“Bila seseorang menerima suatu wahyu Ilahi (ilham) yang berupa beberapa ayat Al-Qur’an yang khusus ditujukan kepada Nabi Suci Muhammad, maka penerima dari wahyu ini akan mengambilnya sebagai rujukan untuk dirinya sendiri, dan akan menafsirkannya dalam cahaya lingkungannya sendiri serta memetik pelajaran darinya….”

“Maka jika kepada seseorang telah diwahyukan ayat-ayat yang khusus ditujukan kepada nabi Suci, misalnya: ‘Bukankah Kami telah melapangkan dada engkau’, ‘Dan Tuhan dikau segera akan memberikan kepada engkau, sehingga engkau menjadi puas’, ‘Allah akan mencukupi engkau terhadap mereka’, ‘sabarlah dan tetap teguhlah seperti para utusan’, ‘berpeganglah dirimu kepada mereka yang menyeru Tuhannya pagi dan petang’, ‘salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah’, ‘janganlah mengikuti mereka yang hatinya telah Aku lalaikan dari mengingat Aku dan dia mengikuti hawa-nafsunya yang rendah’ ‘Dia menemukan kamu meraba-raba lalu memberimu petunjuk’, maknanya adalah bahwa orang itu akan dikaruniai barang-barang ini sedemikian luasnya sehingga dia puas, sesuai dengan maqam-nya. Dan terhadap perintah serta larangan (dalam wahyu) ini akan diterapkan kepadanya seperti kepada Nabi Suci”. (Asbat al-ilham, hal. 142-143).

20.  Allama Khalid Mahmud

Dia adalah seorang ahli agama masa kini yang merupakan lawan yang teguh dari Gerakan Ahmadiyah. Dia menulis dalam sebuah buku berbahasa Urdu:

“Berita dari yang ghaib, visiun serta wahyu juga diterima oleh beberapa orang yang bukan-nabi. Para auliya Allah diberi tahu kabar dari yang ghaib. Sesungguhnya, Umar (Kalifah kedua) memegang peringkat seorang muhaddast, pada maqam mana, sesuai dengan Hadist, Tuhan Sendiri telah menganugerahkan kedudukan berupa wawan-sabda dengan-Nya, tanpa orang tersebut mencapai peringkat nabi”. (‘Aqidat al-Umma fi ma’ni khatam an-nubuwwat, hal.48, catatan kaki).

21.  Sayyid Abul Ala Maudoodi (w. 1979 M.)

Pemimpin keagamaan dan politik yang terkemuka kaum Sunni dari masa kini di Pakistan menulis jawaban dari suatu pertanyaan dalam majalah bulanannya sbb:

“Nampaknya kalian heran dengan adanya dua macam wahyu. Kalau kalian membaca Al-Qur’an kalian akan tahu bahwa Kitab ini menyebutkan tiga jenis wahyu, hanya satu dari jenis ini yang dikumpulkan dalam Al-Qur’an: “Dan bagi manusia, tiada Allah akan bersabda kepadanya, kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tirai, atau dengan mengutus Utusan” (Q.S. 42:51). Di sini digambarkan tiga bentuk perintah dan petunjuk yang dikirimkan Tuhan kepada manusia. Pertama wahyu langsung, yakni ilham ke dalam hati. Kedua yakni berbicara dari balik tirai. Ketiga bahwa wahyu itu dikirim melalui utusan – malaikat. Wahyu yang dikumpulkan dalam Qur’an Suci hanyalah yang jenis ketiga itu”. (Bulanan Tarjuman al-Qur’an, September 1961, hal. 100).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: