HIJRAH PENGGENAPAN TIGA NUBUAT YESAYA

Oleh: Simon Ali Yasir

“Jika kamu tak menolong dia, Allah sungguh-sungguh telah menolong dia tatkala orang-orang kafir mengusir dia - dia adalah orang yang kedua dari (orang) dua; tatkala dua dua orang itu berada dalam goa, tatkala dia berkata kepada kawannya: Jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah menyertai kita. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan memperkuat dia dengan bala tentara yang kamu tak melihatnya, dan membuat rendah kalimah kaum kafir. Dan kalimah Allah adalah yang amat luhur” (9:40)

Yang dimaksud “dia” dalam ayat suci 9:40 di atas adalah Nabi Muhammad saw. yang melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah dalam tahun 622 Masehi. Ayat suci yang menguraikan hijrah Nabi tersebut setidak-tidaknya ada tiga peristiwa profetik sebagai pemenuhan nubuat Yesaya a.s. seorang Nabi Israel yang hidup sekitar tahun 700 sebelum tarikh Masehi. tiga peristiwa profetik itu ialah: (1) Pertolongan Ilahi terhadap Nabi Muhammad saw. (2) Tentang innallaha ma’ana dan (3) Kebinasaan kaum Quraisy. Uraian sekedarnya sebagai berikut:

Pertolongan Ilahi

Perlindungan Ilahi terhadap Nabi Muhammad saw. yang juga mengandung arti perlindungan terhadap al Qur’an atau agama Islam, ini diisyaratkan dalam kalimat “Jika kamu tak menolong dia, Allah sungguh-sungguh telah menolong dia tatkala orang kafir mengusir dia”. Wujud pertolongan itu berupa perlindungan terhadap beliau dari bahaya maut yang mengancam keselamatan beliau, misalnya pada zaman Mekah akhir, para sahabat telah hijrah ke Madinah, Rasulullah tinggal sendirian di Mekah. Kaum kafir Quraisy akhirnya membuat berbagai macam rencana yang dikemukakan dalam suatu rapat besar di Darun-Nadwa; akhirnya disepakati sebuah rencana agar Rasulullah saw. dibunuh dengan menikamkan pedang dalam tubuh beliau yang dilakukan serempak oleh para pemuda dari berbagai kabilah, sehingga tak ada orang atau kabilah yang dapat melancarkan tuduhan terhadap seseorang atau suatu kabilah. Untuk tujuan inilah, rumah Rasulullah dikepung begitu hari mulai malam. Secara diam-diam beliau dapat meloloskan diri lalu bersama Abu Bakar menuju ke gua Tsur untuk bersembunyi. Keesokan hari para calon pembunuh yang haus darah itu terkejut, karena yang bangun dari tempat tidur Ali bin Abi Thalib, bukan Rasulullah. Beliau telah meninggalkan kota Mekah, penduduk Mekah juga terkejut dan heran, bagaimana bisa lolos dari kepungan. Kemudian dilakukan penyisiran ke seluruh penjuru kota. Hasilnya nihil. Hari berikutnya dilakukan penyisiran lagi. Hasilnya nihil pula. Kaum kafir menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat membawa nabi Muhammad, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Hal ini di isyaratkan dalam ayat:

“Dan tatkala orang-orang kafir membuat rencana terhadap engkau untuk mengurung engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau - dan mereka membuat rencana, dan allah juga membuat rencana; dan Allah itu yang terbaik di antara para perencana” (8:30)

Peristiwa dan ayat suci tersebut merupakan pemenuhan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi:

“Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah! Buatlah rancangan, tetapi akan gagal juga; ambillah keputusan, tetapi tidak terlaksana juga, sebab Allah menyertai kami!” (Yes 8:9-10)

Imanuel

Imanuel (bahasa Ibrani) artinya Allah beserta kita atau kami, senada dengan inallah ma’ana artinya sesungguhnya Allah beserta kita, yang termaktub di dalam ayat 9:40 “dia adalah yang kedua dari (orang) dua; tatkala dua orang itu berada dalam gua, tatkala dia berkata kepada kawannya: jangan merasa sedih, seungguhnya Allah menyertai kita”.

Frase tersebut diucapkan Rasulullah saw. kepada sahabat setianya Abu Bakar, yang sedang mengalami kecemasan karena mendengar perdebatan kaum kafir di dekat mulut gua. Mereka sampai di sana berkat petunjuk ahli pencari jejak. Tatkala mereka melewati mulut gua, Abu bakar menyaksikan kaki-kaki dan ujung-ujung pedang mereka. Namun mereka tak tertarik untuk melihat dalam gua, karena “tertutup” oleh rumah laba-laba. Rumah laba-laba yang lemah itu ternyata dapat menjadi “benteng kokoh” yang menyelamatkan sang Rahmatan Lil’alamin. Mengapa? Jawabannya dinyatakan Ilahi dalam firman-Nya:

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan selain llah itu seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah; dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka tahu” (29:41)

Kaum Kafir itu mengambil pelindung selain Allah dan mengandalkan akalnya. Menurut akal sehat memang tak ada barang atau orang yang masuk ke dalam gua, karena rumah laba-laba dalam keadaan utuh.

Ucapan Rasulullah saw. inallaha ma’ana merupakan penggenapan nubuat Nabi Yesaya yang berbunyi sebagai berikut:

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik”. (Yesaya 7:14-15)

Ayat profetik tersebut menurut catatan ka Bible de Jerusalem sebagai “nubuat kelahiran Kristus” yang tujuannya ialah “Tuhan mewujudkan keselamatan bagi umat-Nya”. Sebenarnya profetik tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., bukan Isa al Masih (Yesus kristus). Mana yang benar? Mari kita analisa karakteristik dalam profetik tersebut lebih tepat diterapkan kepada siapa, Yesus ataukah Muhammad saw.

Pertama, anak laki-laki tersebut dilahirkan oleh almah. Kata Ibrani almah artinya perempuan muda atau gadis, anak dara. Menurut bahasa Yunaninya kata yang bermakna ganda ini Partheuos, sedang gadis atau anak dara bahasa Yunaninya bethulah. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kata perempuan muda untuk ayat Yesaya 7:14, tetapi untuk ayat matius 1:23 menggunakan arti anak dara. Maria, ibunda Yesus tak dapat disebut almah, baik dalam arti perempuan muda maupun anak dara, sebab dia mengalami tua, wafat dalam usia lanjut, dan dia juga berumah tangga (dengan Yusuf si tukang kayu); jadi dia bukan gadis. Tetapi almah dalam arti perempuan muda dapat diterapkan kepada Siti Aminah, ibunda Muhammad saw., karena beliau wafat dalam usia muda, dalam likuran tahun saja.

Kedua, kata Imanuel artinya Allah bersama kita atau Allah bersama kami, dalam sejarah hidup Yesus menurut Perjanjian Baru banyak ayat yang menggambarkan bahwa Allah tidak bersama kami (Almasih) karena Almasih berada di bumi sedang Allah (bapa) berada di langit tatkala beliau dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes pembaptis (mat 3:16-17), bahkan lebih fatal lagi karena Allah meninggalkan Yesus tergantung di tiang salib pada hari Jum’at Agung sekitar pukul 15:00, sebagaimana tercermin dalam ucapannya: Eli, Eli lama sabakhtani? Artinya “Allahku, Allahku mengapa engkau tinggalkan aku? (mat 27:46). Empat puluh hari setelah penyaliban yang gagal itu, Yesus sang anak Allah menyusul Bapanya ke Surga dengan meninggalkan kita umat manusia di bumi sampai sekarang, bahkan untuk selama-lamanya (Mik 16:19). Semua peristiwa tersebut menggambarkan bahwa kata Imanuel tak tepat diterapkan kepada yesus akan tetapi sangat tepat jika diterapkan kepada Muhammad Rasulullah saw. karena tatkala beliau dalam keadaan kritis seperti Yesus - hanya bedanya Yesus tergantung di tiang salib, Nabi Muhammad saw. terkurung di dalam gua - beliau justru mengucapkan, la tahzan innallaha ma’ana, artinya jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah beserta kita. Di samping itu hubungan kita dengan Allah dilukiskan bahwa “Dia (Allah) adalah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat nadinya” (50:16) karena “tak ada percakapan rahasia di antara orang tiga melainkan Ia yang keempatnya, dan tak pula antara lima orang melainkan Ia yang keenamnya, tak pula lebih sedikit dari itu dan tak pula lebih banyak daripada itu, melainkan Ia menyertai mereka di manapun mereka berada” (58:7), jadi Allah selalu beserta kita  kapan saja dan di mana saja.

Ketiga, tentang dadih tak disinggung-singgung dan tak terkait dengan kehidupan Yesus, tetapi dalam tarikh Islam dadih adalah minuman fitrah dan yang diminum beliau tatkala beliau Isra’ Mi’raj dan tatkala beliau bersembunyi dalam gua tsur selama tiga hari tiga malam.

Keempat, tentang madu, juga tak disinggung atau terkait dengan Yesus Kristus, tetapi oleh Allah dijelaskan dalam al Qur’an bahwa madu adalah obat bagi manusia (16:68-69) dan al qur’an adalah “madu ruhani” karena merupakan obat pula, yakni obat bagi segala penyakit dalam hati (10:57); jika demikian Rasulullah saw. adalah “penghasil” madu ruhani (98:2-3). Oleh karena itu al Qur’an selain sebagai obat juga sebagai rahmat bagi orang mukmin (17:82).

Kebinasaan kaum Quraisy

Tentang kebinasaan kaum kafir Quraisy diisyaratkan dalam kalimat “(Allah) membuat rendah kalimat kaum kafir, dan kalimat Allah adalah yang amat luhur”. Kata kalimat artinya: rancangan, ramalan Allah, putusan tanda, hukuman, kabar suka, ciptaan Tuhan, kata atau ucapan dan perintah. Di sini arti yang tepat adalah rancangan atau rencana. Rencana kaum kafir ialah membunuh Nabi Muhammad saw. dan membinasakan Islam, sedang rencana Allah ialah menyelamatkan para Nabi dari upaya pembunuhan, terutama bagi Nabi Muhammad saw. dan memenangkan Islam atas semua agama. Islam akan mengungguli kekaisaran Persia, sebagaimana yang disampaikan kepada Suraqah bin Malik dalam perjalanan menuju Madinah. Kedatangan Rasulullah di Madinah disambut baik oelh penduduk setempat.

Meski Nabi Muhammad saw. telah hijrah ke Madinah, kaum kafir tetap berusaha membinasakan beliau lewat kekuatan senjata. Terjadilah peperangan-peperangan dahsyat yang selalu dimenangkan oleh Islam dan membinasakan diri mereka sendiri. Misalnya perang badar yang terjadi dalam tahun 624 Masehi. Perang ini merupakan penggenapan nubuat yesaya yang berbunyi sebagai berikut:

Ucapan ilahi terhadap Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel, telah mengatakannya.” (21:13-17)

Dalam ayat profetik itu jelas dan tergenapi pada diri Nabi Muhammad saw. Anjuran membawa air untuk orang haus dan menyambut orang pelarian (hijrah), tergenapi tatkala penduduk madinah menyambut kedatangan Rasulullah saw dan Abu Bakar. Profetik “mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang terhunus” tergenapi dengan lolosnya Rasulullah dari rumah beliau yang telah dikepung musuh dan juga tatkala beliau bersama bersama Abu Bakar bersembunyi dalam gua Tsur. Profetik “melarikan diri… terhadap busur yang dilentur” terlengkapi tatkala beliau dikejar oleh Suraqah bin Malik yang mengejar beliau dan tiga kali melepaskan anak panah dari busurnya dalam perjalanan menuju Madinah. Sedangkan profetik “melarikan diri… terhadap kehebatan peperangan” tergenapi dengan syariat Islam tentang jihad atau qital yang boleh dilakukan karena diperangi, diusir dan dizalimi; jadi peperangan terpaksa dilakukan. Akhirnya profetik “dalam setaun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan kan habis…” tergenapi dengan terjadinya perang Badar yang terjadi dalam tahun 624 Masehi dan perang-perang berikutnya yang memusahkan kemuliaan Bani Kedar, yakni kaum Quraisy.

Leave a Reply