Oleh:Simon Ali Yasir
“The Greatest story ever told” is a familiar phrase claimed in the Christian world to describe of the life of Jesus. With either intentional or unintentional ignorance towards Biblical, historical, and archeological evidence, they have made a theory about his life as one full of supernatural events and ended in Jesus’ bodily ascension to heaven after the crucifixion. The theory of Jesus’ being ascended to heaven bodily to return again to the earth in the last age has also influenced the Muslim world so strongly that many of them are still waiting for his return. In this age of commonsense, many also think that this theory is too good to be to true – if not absurd – and cannot satisfy their rational minds. Evidently, careful historical, archeological, Biblical, and Qur’anic studies give different ideas about the theory.
In this writing, the writer tries to highlight some events related to the life of Jesus Chronologically from the events before his birth to the end of his life in Kashmir based on Qur’anic and Biblical evidence to add to the trends of accepting the human story of the great man.
What importance would it bring to reveal the true life story of Jesus? It would be probably help to break the great wall that stands in the way blocking the light of truth to reach humanity. For the Christian world, accepting the story of human Jesus would probably become “the real greatest story ever told”
Kelahiran Maryam
Hanna adalah seorang bangsawan yang tulus, istri seorang alim keluarga Imran, namanya Yoakhim. Sudah lama ia berumah tangga, namun belum juga dikaruniai anak. Pada suatu hari, suaminya diejek oleh tetangganya tentang kemandulannya. Karena ejekan tersebut, suaminya pergi ke Bait Allah untuk sembahyang mohon anak. Demikian pula Hanna, sembahyang di rumah dengan permohonan yang sama. Doa mereka dikabulkan oleh Tuhan secara luar biasa. Hanna mengandung. Mereka sangat bersyukur ke hadirat Ilahi atas karuniaNya. Sebagai tanda syukurnya, Hanna nadzar bahwa anak yang masih dalam kandungan akan dipersembahkan sebagai pelayan Bait Allah (3:35). Beliau melahirkan seorang anak perempuan yang dinamakan Maryam, dan mohon agar Maryam dan keturunannya dilindungi Ilahi dari godaan setan yang terkutuk (3:36).
Maryam dewasa
Di Bait Allah, Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria sampai usia remaja (3:37). Dengan tekun dan sabar Zakaria mengasuh dan mendidik Maryam. Berkat didikannya, Maryam menjadi seorang wanita yang saleh. Setelah Maryam dewasa, rajin sekali ia beribadah. Hampir seluruh waktunya untuk zikir dan ibadah kepada Tuhan di Bait Allah. Setiap kali Zakaria masuk ke mihrab Maryam, selalu menemukan hidangan disisinya, maka ia bertanya: “Wahai Maryam, makanan ini engkau dapat dari mana?” Maryam hanya menjawab: “Ini dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki tanpa hitungan” (3:37). Kesalehan Maryam itu membangkitkan keinginan Zakaria untuk mempunyai keturunan yang saleh (3:38). Siang malam Zakaria mohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang tulus yang akan meneruskan memimpin manusia ke jalan yang benar (19:2-6). Permohonan Zakaria dikabulkan Ilahi. Dengan perantaraan seorang malaikat, Zakaria memperoleh kabar gembira tentang lahirnya seorang anak laki-laki yang namanya Yahya (3:39; 19:7). Yahya dilahirkan ketika Zakaria telah mencapai usia lanjut (3:40-41; 19:8-11). Yahya seorang anak yang tulus, pandai, berbakti kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya dan sekali-kali tidak sombong (19:12-15). Setelah dewasa Yahya diangkat sebagai Nabi Utusan Allah kepada bangsa Israel
Maryam menerima kasyaf (ru’ya)
Menurut adat kebiasaan kaum Yahudi, wanita yang sedang datang bulan tak boleh tinggal di Bait Allah, karena dianggap najis. Demikian pula Maryam, pada suatu waktu harus meninggalkan Bait Allah. Ia menyingkir ke sebelah Timur serta menyekat dirinya dengan sebuah tabir (19:16-17). Di sanalah Maryam menerima kasyaf (ru’ya) dari Ilahi dengan perantaraan malaikat Jibril yang menampakkan diri seperti seorang laki-laki (19:17). Maryam amat terkejut, dan mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan (19:18). Jibril memperkenalkan diri, bahwa dirinya bukanlah orang jahat, melainkan seorang Utusan Ilahi, yang diutus agar menyampaikan kabar gembira kepada Maryam bahwa:
Maryam adalah wanita yang terpilih dan disucikan (3:42),
Maryam agar memperbanyak bakti kepada Allah SWT (3:43), dan
Maryam akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci (19:19), namanya Al-Masih Isa Ibnu Maryam, yang dihormati di dunia dan akhirat dan tergolong orang-orang tulus dan dekat dengan Allah, ia akan melaksanakan tugas sebagai Nabi sampai usia lanjut (3:45-46).
Maryam amat bergembira dan sedih menerima kasyaf tersebut. Bergembira karena beliau wanita yang beruntung, dimuliakan Ilahi. Beliau sangat sedih, karena mendapat kabar akan melahirkan seorang anak laki-laki, padahal beliau belum berumah tangga. Bagaimana bisa terjadi? (19:20;3:47). Beliau tidak mengerti bahwa dirinya sedang ramai diperebutkan siapa yang beruntung bisa memeliharanya sebagai istri (3:44). Jibril menghibur, supaya Maryam tidak bersedih hati, karena Tuhan akan menyingkirkan rintangan Maryam untuk melahirkan (21:91) sebagaimana Allah menyingkirkan halangan Elisabet untuk mengandung dan melahirkan Yahya dalam usia lanjut (21:90). Bagi Tuhan amat mudah menyingkirkan rintangan itu, karena Tuhan menghendaki Nabi Isa as. adalah Al-Masih yang kedatangannya dinanti-nantikan oleh Bani Israil. Masalah ini telah diputuskan Ilahi (3:47;19:21). Rintangan yang dihadapi oleh Maryam, ialah anggapan Maryam bahwa seorang biarawati harus hidup wadat. Ini tidak benar, karena aturan itu bikin-bikinan para rahib sendiri, bukan syariat Musa (57:27).
Kelahiran Al-Masih
Akhirnya Maryam berumah tangga. Pria yang beruntung mendapat undian untuk memelihara Maryam sebagai istri ialah Yusuf si tukang kayu. Beberapa bulan kemudian, Maryam mengandung (19:22). Pada saat akan melahirkan, Maryam pergi ke tempat yang jauh (19:22) ke kota betlehem di Yudea untuk keperluan sensus penduduk (Lukas 2:2-6). Dalam perjalanan inilah Maryam melahirkan Al-Masih yang kelahirannya telah dinubuatkan oleh para nabi terdahulu. Al-Masih dilahirkan kembar, saudara kembarnya ialah Thomas alias Didymus (Yohanes 11:16). Kelahiran Al-Masih itu pada musim korma (19:23-26), kira-kira bulan September-Oktober tahun 6 sebelum Masehi. Jadi, Al-Masih tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember sebagaimana diyakini oleh umat Kristen sekarang. Jika Al-Masih dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dustalah cerita Lukas, bahwa ketika Al-Masih dilahirkan, pada malam itu banyak para penggembala berada di padang menjaga kawanan ternak mereka (Lukas 2:8). Hal ini tak mungkin terjadi pada tanggal 25 Desember, sebab pada tanggal tersebut di daerah 23 ½ – 66 ½ L.U. mulai musim dingin.
Masa kanak-kanak dan remaja Al-Masih
Pada hari yang ke 8, Al-Masih dibawa ke Bait Allah di Yerusalem untuk disunnat (Lukas 2:21). Kemudian oleh kedua orang tuanya dibawa lari ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari ancaman Herodes yang agung. Setelah Herodes meninggal pada awal tahun 4 sebelum masehi, digantikan oleh Arkhilaus, kembalilah Yusuf dan Maryam dengan membawa anaknya, ke tanah Israil dan menetap di Nasaret di daerah Galilea. Sampai beliau berusia 12 tahun (Matius 2:1-23). Nicholas Notovich seorang musafir Rusia yang menulis sejarah berbagai nabi menceritakan: “Tatkala Isa mencapai usia 13 tahun, yaitu saat untuk menikah bagi bangsa Israil…. Beliau diam-diam menghilang dari rumah orang tua beliau. Beliau meninggalkan Yerusalem dan berangkat ke Sind (India) …. Beliau melintasi Sind dan menetap di daerah bertuhan (penyembah Tuhan) didaerah Ainjab yang memiliki lima sungai. Lalu beliau menjelajahi seluruh daerah India; beliau hidup 6 tahun lamanya di tempat-tempat yang berlainan, seperti Benares, Jahganath dan Rayagriba. Orang berduyun-duyun mendengarkan ajaran beliau, tetapi beliau membuat marahnya kaum Brahim (kaum pendeta agama Hindu), tatkala beliau mengajarkan derajat manusia adalah sama; karena adanya sugesti bahwa Brahmin adalah setaraf dengan kaum Sudra, itu dianggap mencemarkan kaidah suci. Kaum Brahmin berusaha untuk menganiaya Yesus dan beliau terpaksa lari ke daerah pegunungan Himalaya, dan terus ke Persia. Beliau tiba kembali di Israil pada usia 29 tahun”.
Kenabian Isa Al-Masih as.
Isa Al-Masih (Yesus Kristus) bertemu kembali dengan keluarga dan kaumnya. Ayahnya telah lama wafat, ketika beliau masih dalam perantauan. Kini, beliau membantu ibunya mengasuh adik-adiknya. Pada usia 30 tahun, beliau diangkat sebagai Nabi Utusan Allah untuk bangsa Israil (3:49; 19:30). Beliau diutus membetulkan Torat dan melunakkan syariat Musa (3:50). Beliau mengajarkan bahwa Allah itu Maha Esa dan mengajak kaumnya agar mengabdi kepadaNya (3:51; 5:117; 19:36; 43:64), dengan membawa banyak tanda bukti, diantaranya:
Membuat burung dari tanah (3:48; 5:110),
Menyembuhkan orang sakit buta dan lepra (3:48; 5:110),
Menghidupkan orang mati (3:48; 5:110), dan sebagainya.
Nabi Isa Al-Masih adalah contoh yang sempurna dari sifat jamali, yaitu sifat keindahan dan keelokan budi pekerti. Beliau seorang yang selalu mendirikan salat dan membayar zakat (19:34) serta mengerjakan puasa (Matius 4:2). Beliau tak berlaku kasar terhadap ibunya (19:32) sebagaimana diceritakan oleh Injil Matius (12:48). Doktrin pokok ajaran beliau adalah membalas keburukan dengan kebaikan (Matius 5:39-40). Beliau adalah seorang hamba Allah (19:30; 43:50) yang diangkat sebagai Nabi (19:30), diutus kepada bangsa Israil (3:49). Beliau membutuhkan makan, minum dan akhirnya wafat (5:75) sebagaimana para nabi sebelumnya (5:75). Jadi, keliru sekali anggapan Gereja bahwa beliau adalah Tuhan yang harus disembah, hidup langgeng di langit tanpa makan dan minum. Beliau telah menyangkal pengakuan sebagai Anak Allah atau Tuhan (5:116). Ungkapan Anak Allah hanyalah dalam arti ibarat, bukan dalam arti yang sebenar-benarnya, yang dimaksud ialah orang baik, sedangkan orang jahat biasa disebut anak setan.
Penyaliban yang gagal
Selama lebih kurang tiga tahun, beliau berdakwah di Galilea, Yudea, Samaria dan di sebelah Timur sungai Yordan. Murid-murid beliau disebut kaum Hawariyin (3:52) yang sering mendapat wahyu Ilahi (5:111) dan menolong Allah (3:52). Allah swt. Berkenan menurunkan “makanan” dari langit kepada mereka (5:112-115) dan menjanjikan kemenangan kepada mereka (3:55; 61:14).
Kaum Bani Israil umumnya tidak menyetujui ajaran beliau dan selalu menolaknya. Mereka tidak Berterima kasih atas petunjuknya, malah mendustakannya dan menghina beliau sebagai anak haram dan ibunya telah berbuat serong (4:156), bahkan mereka merencanakan pembunuhan secara keji terhadap beliau (3:54), tetapi Tuhan berjanji akan menyelamatkannya (3:55). Dalam bulan April ± tahun 30 Masehi, kaum Yahudi melaksanakan niat jahatnya, dengan bantuan seorang muridnya yang khianat, Yudas Ekskariot. Mereka dapat menangkap Al-Masih yang sedang bersembunyi di taman Getsemani pada hari Kamis malam.
Keesokan harinya, Jumat tanggal 7 April 30 M beliau dihadapkan kepada Pontius Pilatus untuk diadili. Pontius Pilatus berusaha membebaskan beliau, karena tak ada bukti bahwa beliau berbuat kesalahan; akan tetapi tuntutan kaum Yahudi amat keras dan dikhawatirkan timbul pemberontakan, maka Pontius Pilatus meluluskan tuntutan mereka. Dalam perjalanan menuju tempat penyaliban, beliau dicaci maki dan disiksa. Akhirnya setelah sampai di bukit Golgota, beliau dinaikkan ke atas salib. Pada waktu itu disalibkan pula dua orang penjahat, yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Yesus Kristus. Peristiwa ini membuat kaum Yahudi puas dan lega, mereka merasa telah berhasil membunuh Al-Masih, padahal sebenarnya Al-Masih belum wafat ketika diturunkan dari tiang salib oleh murid-muridnya hanya seperti telah wafat saja. Jadi upaya mereka membunuh beliau sejatinya gagal total (4:157-158).
Al-Masih tak mati disalib
Asas pokok agama Yahudi dan Kristen ialah percaya akan kematian Al-Masih disalib secara dogmatis (4:159). Dogma tersebut diungkapkan Ilahi dalam Quran Suci, bahwa “tak seorangpun dari kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen), melainkan akan mengimankan (kematian Isa Al-Masih disalib) itu sebelum matinya” (4:159) atau selama hidupnya; dan juga dibantah dengan keras oleh Ilahi dalam Quran Suci yang menyatakan bahwa Al-Masih sekali-kali tak mati disalib, dan dijelaskan keadaan yang sebenarnya hanya seperti orang mati atau pingsan saja ketika diturunkan dari tiang salib (4:157-158). Kematian di atas tiang salib adalah amat terkutuk, yang hanya dialami oleh orang-orang terkutuk saja (Ulangan 21:23), tak mungkin dialami oleh orang yang mulia seperti Nabi Isa Al-Masih as. Karena Al-Masih tak wafat di atas tiang salib, maka kebangkitan beliau dari “kubur” adalah wajar dan ajaran tentang penebusan dosa yang diwariskan oleh Adam (Galatia 3:13) adalah palsu.
Penyaliban Al-Masih itu hanya berlangsung tiga jam saja, dari pukul 12 s/d 15 waktu setempat. Karena menjelang hari Sabat, yang pada hari itu tak boleh ada mayat tinggal tergantung pada kayu salib (Yohanes 19:31), maka kaum Yahudi mohon kepada Pilatus agar mematahkan kaki orang-orang yang disalib kemudian setelah mati diturunkan secepatnya. Kaki kedua penjahat yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri Al-Masih diremukkan sehingga tewas, tetapi kaki Al-Masih tidak, karena Al-Masih telah diserupakan dengan orang mati (4:157), sehingga Al-Masih mereka sangka benar-benar telah mati. Kematian Al-Masih itu amat meragukan mereka. Untuk menghilangkan keragu-raguan itu seorang laskar Romawi menikam rusuk Al-Masih dan mengalirlah darah dengan air (Yohanes 19:32-34). Tikaman ini dianggap menyempurnakan kematian Isa Al-Masih, padahal justru sebaliknya membuktikan bahwa beliau belum wafat, karena darah dengan air mengalir adalah tanda alami masih adanya kehidupan. Anggapan keliru mereka itu merupakan pertolongan Ilahi untuk menyelamatkan Isa Al-Masih dari kematian terkutuk disalib, dan pertolongan itu disempurnakan lewat para muridnya, kaum Hawariyin, yakni diturunkannya Al-Masih dari tiang salib oleh Yusuf Arimatea dan kawan-kawannya. Kemudian dikuburkan dalam gua batu, setelah diobati dengan rempah-rempah dan dikafani.
Pada hari yang ketiga, Maria Magdalena dan kawan-kawan ziarah kubur, ia menyaksikan bahwa batu penutup kubur telah tergolek dan di dalam kubur tinggal kain kafan yang berlumuran darah. Al-Masih telah bangkit dan meninggalkan kubur. Beliau menyamar sebagai tukang kebun untuk menyelamatkan diri. Hal ini membuktikan bahwa Al-Masih ketika diturunkan dari tiang salib dan dikuburkan belum wafat, hanya pingsan atau mati suri saja. Sebagaimana kita baca dalam Kitab Perjanjian Baru, yang menyatakan Isa Al-Masih mati disalib bukanlah orang-orang yang menangani langsung penurunan Yesus dari tiang salib lalu mengobati, mengkafani terus menguburkannya. Sumbernya hanyalah dengan orang yang hanya melihat dari jauh saja, bukan saksi mata. Dengan demikian berarti bahwa:
Sempurnalah janji Ilahi, bahwa beliau akan menyelamatkan Al-Masih dari kematian terkutuk (3:55) dan gagallah rencana (makar) kaum Yahudi (3:54).
Sempurnalah nubuat Al-Masih bahwa anak manusia akan berada dalam perut bumi selama tiga hari, sebagaimana Yunus dalam perut ikan selama tiga hari, dalam keadaan hidup (Markus 16:1-2).
Sempurnalah sebagian nubuat Yesaya, bahwa Tuhan menghendaki Yesus sebagai “Hamba Tuhan yang menderita” itu akan menyaksikan keturunannya dan umurnya akan lanjut” (Yes 53:10)
Hukum Tuhan itu berlaku bagi siapapun. Tuhan menetapkan bahwa orang yang telah mati tak akan hidup ke dunia lagi (Ayub 7:9-10; Quran 23:100; 36:42). Karena Al-Masih bangkit dari kubur, maka bisa disimpulkan bahwa ketika beliau diturunkan dari salib belum wafat, hanya pingsan/mati suri saja.
Kubur yang kosong dan kain kafan berlumuran darah yang ditinggalkan adalah saksi bisu bahwa Al-Masih tatkala diturunkan dari tiang salib hayat masih dikandung badan, belum wafat dan yang ditangkap lalu dipakukan pada tiang salib itu adalah Isa Al-Masih (Yesus Kristus), bukan orang lain, Yudas Eskariot misalnya. Bukti alami terakhir yang pembuktiannya masih menunggu waktu adalah DNA pada kain kafan tentu sama dengan DNA pada Bukit Golgota dan makam Kudus dan sama pula dengan DNA dimakam Yus Asaf di Srinager, Kasymir.
Al-Masih sesudah percobaan penyaliban
Sesudah peristiwa penyaliban yang gagal, Nabi Isa as. Tidak naik ke sorga di langit sebagaimana diyakini oleh Gereja atau umat Islam umumnya, melainkan tetap melaksanakan tugas menggembalakan domba-domba Israil yang tersesat (Qur’an 3:47-48; Matius 15:24).
Bangsa Israil itu terdiri dari 12 suku (7:160; 5:12), yang dinamakan menurut 12 putera Yakub, yaitu Ruben, Simeon, Levi, Yahuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Yusuf, dan Benyamin (I Tawarikh 2:1-2). Mereka memperoleh kejayaan pada zaman Daud dan Sulaiman, sesudah itu mengalami kemunduran, kemudian dibinasakan oleh raja Babil, Nebukadnezar pada tahun 597 sebelum Masehi lalu disempurnakan dengan membinasakan Bait Allah di Yerusalem pada tahun 588 sebelum Masehi. Mereka ditawan dan diperbudak di Babil (II Raja-raja 24:10-17). Baru pada zaman Cyrus yang Agung dari Persia yang menggantikan Babilonia, mereka diizinkan kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah di Yerusalem (Ezra 1:1-4); akan tetapi sebagian besar dari mereka tetap tinggal di Babil dan menyebar ke negeri-negeri Timur: Persia, Afghanistan, Pakistan, Kasymir dan sebagainya; hanya sebagian kecil saja yang kembali ke Palestina, dibawah pimpinan Nabi Uzair, yaitu: suku Yahuda, Lewi dan Benyamin (Ezra 1:5). Kepada tiga suku inilah Al-Masih melakukan dakwah selama lebih kurang tiga tahun di Palestina. Tugas ini sesudah peristiwa penyaliban dilanjutkan oleh 12 murid pilihannya dengan pesan:
“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil. Pergilah dan beritakanlah: kerajaan Sorga telah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan Cuma-Cuma, karena itu berikanlah pula dengan Cuma-Cuma” (Matius 10:5-8).
Setelah luka-luka Al-Masih sembuh akibat penyaliban, beliau meninggalkan Palestina, terus mengembara ke sebelah Timur bersama ibundanya dan saudara kembarnya, Thomas. Beliau menjelajah negeri Syria, Persia, terus Pakistan. Di Pakistan Utara, Siti Maryam wafat dan dimakamkan di kota Murree. Dari sinilah Al-Masih masuk ke Kasymir dan mulai dengan kehidupan baru menjadi ayah dari beberapa anak (salah seorang penduduk Srinagar bernama Sahibzada Basyarat Salim mempunyai silsilah lengkap yang sampai kepada Nabi Isa Al-Masih as.). Pengembaraan Al-Masih dan ibunya ini dinyatakan Ilahi dalam firmanNya:
“Dan Kami membuat Ibnu Maryam dan ibunya sebagai tanda bukti, dan keduanya Kami ungsikan ke tanah yang tinggi yang mempunyai padang rumput dan mata air” (Al Mu’minun 23:50).
Tempat tinggal yang dilukiskan dalam ayat tersebut tak sesuai jika diterapkan pada tanah Mesir, Yerusalem atau Syria, akan tetapi tepat sekali jika diterapkan pada Kasymir, di samping itu banyak bukti-bukti historis dan etnologis yang menunjangnya. Di sinilah Al-Masih berdakwah sampai usia lanjut dan wafat secara wajar dalam usia 120 tahun, sebagaimana telah dinubuatkan oleh Musa bahwa Roh Allah
“tidak akan selama-lamanya tinggal didalam manusia, karena manusia itu daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja” (Kejadian 6:3).
Makam beliau terdapat di jalan Khan Yar, Srinagar, Kasymir. Sekarang kita bisa menyaksikan dan ziarah ke sana.
DIarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Ditandai: Kristologi

Wah panjang juga ceritanya.. Soal makan di Kasymir apakah bisa dijelaskan pembuktiannya?
Bisa mas Googling di internet kata kuncinya adalah
Yesus wafat di Kashmir.
Atau silahkan klik:
http://www.aaiil.org/indonesia/indonesianbooksislamahmadiyya/misc/yesuswafatdikashmir/yesuswafatdikashmir.shtml
wah semakin memberikan kecurigaan mengenai ahmadiyah dengan kristen ada apa ini ?
apakah pembentuk ahmadiyah ingin membuat sebuah kecintaan umat islam pada yesus seperti yang diyakini umat kristen ? atau ingin mencampur aduk antar pemahaman islam dan kristen? entahlah ada misi sesuatu pastinya seperti yang sudah diduga sebelumnya
Dimata kami Nabiyullah Isa as, merupakan salah satu nabi yang wajib di iman kan, sayangnya ambisi agama Kristen yang ingin menjadikan Nabiyullah Isa as, sebagai Tuhan telah membuat mereka mengubur sejarah Nabi Isa as yang sebenarnya, untuk itulah kami berusaha menyajikan kebenaran sejarah Nabi Isa berdasarkan Quran Suci, Hadits dan fakta sejarah yang ada
wasalam
apapun yang anda katakan, belum ada pembuktian secara tertulis, kitab-kitab yang kita semua baca adalah buku sejarah, jika kita andaikan pada jaman sekarang, buku sejarah banyak yang direvisi, karena “membahayakan” negara.. begitu pula pendapat saya, kitab-kitab yang kita pelajari sama saja dengan buku sejarah jaman sekarang, ada yang dikurangi bahkan ada yang dilebih-lebihkan… apakah anda semua akan mempercayainya, itu hak anda.
saya tidak berada disisi siapapun, saya tidak membela siapapun, karena saya bukan pengacara, tetapi menurut keyakinan saya, bahwa setiap manusia diberikan hak untuk menjadi apa yang dia inginkan, tanpa pengaruh dari orang lain…
seandainya memang anda meyakini Al-Quran sebagai “buku sejarah” yang benar, itu hak anda, dan buat saya anda tidak berhak menjelek-jelekan “buku sejarah” lain..
dan seandainya anda ingin mencanumkan ayat-ayat yang ada di dalam Al-Kitab sebaiknya jangan hanya sepotong-sepotong, pelajari secara penuh, pelajari dri orang yang mempercayainya, karena hal itu akan membuat mata anda terbuka, jangan mempelajari sesuatu dari orang yang membencinya, karena apa yang akan disampaikan orang itu pastilah hanya kelemahan-kelemahan saja…
memang tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap agama pasti mencari kelemahan dari agama lain, dan jika sudah menemukannya pasti akan ditunjukan kepada orang banyak, apa bedanya anda dengan PENGECUT…?????
saya sudah mempelajari banyak agama dari para penganutnya, dan satu hal yang sama yang saya temui di 2 agama besar di Indonesia…
saling mencari kelemahan, dan disebarluaskan, saya tidak perlu menyebutkan agama apa, pasti anda semua juga sudah tau…
kalau seperti ini, apa bedanya agama dengan pasar, yang isinya para “penjual” Syurga, yang berusaha menjatuhkan penjual lainnya…???
STOP
bukan maksud saya menggurui, tapi hanya menyampaikan uneg-uneg saya…
jika diantara anda ada yang ingin menanggapi omongan saya tadi silahkan saja kirim e-mail ke childrenofgod@ymail.com, tapi ingat JANGAN COBA-COBA MENGUMPAT PADA SAYA, KARENA ANDA AKAN MENDAPAT VIRUS YANG SANGAT BERBAHAYA, VIRUS PABUSACILAN….
Sdr Children of God yth, sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas kunjungannya dan pertisipasinya dalam dialog disini, kami sangat setuju dengan pendapat sdr yang mengatakan sbb : ” tetapi menurut keyakinan saya, bahwa setiap manusia diberikan hak untuk menjadi apa yang dia inginkan, tanpa pengaruh dari orang lain…”
Perlu kiranya kami tegaskan disini bahwa kami tidak merasa paling mengetahui segala sesuatu dan tidak dalam kapasitas mengklaim kebenaran yang tunggal serta memiliki tendensi apapun, dan yang kami lakukan hanyalah menyampaikan sebuah pandangan yang menurut kami berlandaskan pada teks-teks yang kami yakini kebenarannya (Al-Quran) yang didukung oleh data dan fakta sejarah yang kami dapatkan sehingga hal yang demikian barangkali kurang berkenan bagi pihak2 lain maka kami persilahkan untuk menyampaikan pandangannya ataupun tanggapannya dan kami hanya berharap untuk dapat bertukar pendapat dengan jalan yang baik dan bijaksana, menghindari cara-cara yang pengecut sebagaimana saudara sampaikan.
Dengan demikian kata2 sdr yang menyatakan bahwa hak setiap manusia untuk memiliki pandangan tertentu tanpa dipengaruhi pihak manapun sangat kami dukung, tentunya dengan memberikan pandangan yang positif dan konstruktif sehingga setiap orang dengan daya pikir, nalar dan kecerdasannya mampu menggunakan daya-daya tersebut secara benar dan tepat sehingga dapat mengambil kesimpulan yang sesuai dengan kodratnya dan berlandaskan pada prinsip-prinsip hidup manusia yang universal, serta sesuai dengan ilmu pengetahuan.
Nah dengan berpegang pada prinsip yang demikian maka kami berharap sdr Children of God dapat memberikan tanggapan atau barangkali memilki pandangan lain yang berbeda maka kami persilahkan untuk mempostingnya dan Isnya Allah dapat kita pelajari bersama.
Kami jamin segala informasi akan kami buka seluas-luasnya, kata2 kotor, hinaan dan cacian harus dihindari dan saya jamin tidak akan pernah ada dalam situs kami, dan kami sangat menghargai kejujuran.
Kami tunggu tanggapannya. terimakasih
sejak lahir saya dibesarkan secara Islam, dan Alhamdulillah sampai saat ini saya masih percaya dengan seluruh ajaran serta hadist Rasulullah SWT.
sekarang saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir universitas Katolik terkenal di kota Bandung.
selama saya belajar dan berinteraksi di kampus saya, saya jadi lebih menghargai perbedaan di Indonesia karena seluruh bentuk interaksi yang saya jalani entah itu secara kehidupan sosial maupun akademik telah membuka mata saya bahwa setiap agama tidak pernah mengajarkan kebencian seperti yang disebarkan oleh banyak oknum dari berbagai agama tertentu.
saya juga berpendangan sama dengan sdr. Children of God bahwa setiap manusia diberikan hak untuk menjadi apa yang dia inginkan, tanpa pengaruh dari orang lain, tetapi saya punya tambahan untuk prinsip tersebut, bahwa SETIAP ORANG JUGA PUNYA HAK UNTUK MENGETAHUI DAN MENCARI FAKTA entah itu berasal dari kitab suci agamanya sendiri ataupun agama lain.
*Tanpa menjelek2kan agama lain tentunya.*
menurut saya Forum seperti ini bersifat sangat positif karena setiap orang diperkenankan memberikan pandangannya untuk masalah yang nilainya sangat krusial bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
tidak sedikit teman saya yang berpindah agama baik ke Islam maupun ke Kristen. tapi itu tidak membuat mereka merubah pertemanan kami menjadi permusuhan.
salam..emm maaf kalau kata2 ku menyakitkan..cuma ingin meluahkan sangsi diri terhadap kebenaran cerita ini..saya setuju dengan cerita ni tapi agak sangsi apabila disebut nabi isa sudah meninggal..bukankah baginda di angkat ke langit dan akan turun suatu hari hampir kiamat nanti??
Wa’alaikum salam wr wb,
Akhwat Tini Yth,
Memang benar, selama ini kita telah mendapatkan cerita bahwa Nabi Isa itu masih hidup dilangit dan akan turun diakhir zaman. Cerita ini memang banyak berkembang dikalangan Muslim sejak masih balita padahal serita ini termasuk cerita yang dibawa oleh kaum yahudi yang berbondong2 masuk Islam dan dianggap cerita yang bersumber dari Qur’an Suci, sehingga ketika mendengar cerita yang berbeda dengan yang sudah diketahuinya menjadi ragu2 dan sangsi, itu manusiawi karena apa yang sudah diketahui sejak awal akan susah untuk dikoreksi dan dianggap kebenaran yang mutlak.
Lalu bagaimana dengan cerita ini? makanya sekali lagi kita perlu mempelajari Quran Suci dengan mendasarkan pada Sunatullah (hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT untuk alam semesta) dan ayat-ayat Muhkan (ayat-ayat Hukum dalam Quran Suci). misalnya Allah bersabda “kullu nafsin dza iiqotul maut; sesuatu yang bernyawa pasti akan mengalami mati” maka disini tidak ada perkecualian misalnya Nabi Isa, atau Nabi Khidir, atau siapapun; akan tetapi hukum ini berlaku bagi seluruh ciptaan Allah termasuk nabi yang paling mulia kekasih Allah pun, Muhammad SAW terikat pada hukum ini. Maka dengan demikian menjadi mudah untuk memahami hal-hal yang lainnya yang termasuk dalam ayat-ayat mutasyabihat (kalam ibarat) jika sudah memahami ayat ini,
Masalah diangkat kelangit jika sudah bisa memahami konteks hukum ayatnya; maka tafsirnya bukan diangkat kelangit dengan badan jasmaninya, karena tidak mungkin secara hukum alam badan manusia mengembara diangkasa dan tetap dalam kondisi hidup seperti dibumi, karena badan tsb memerlukan kondisi yang hanya bisa dipenuhi syarat-syarat hidupnya dibumi, maka dapat ditafsirkan diangkat kelangit berarti dimuliakan dan ditinggikan derajatnya. Hal ini selaras jika kita pahami bahwa Nabi Isa AS.adalah nabi yang diutus bagi Bani Israel, akan tetapi kaum Yahudi menolaknya dan mengganggap nabi palsu. Maka menjadi tugas Quran Suci mengoreksinya dengan menjelaskan kedudukan beliau sebagai nabi yang benar2 berasal dari Allah SWT dan benar2 dimuliakan dan ditinggikan derajatnya.
Demikian wasalamu’alaikum wr wb.
ah…1 hal orang theologi emang aneh…pelajari smua agama tp ga beriman.buat yg bikin artikel sory.tp gw percaya Al-Quran yang dibawa nabi Muhammad.Jesus meluruskan domba-domba yang kesasar???wakakak…mang manusia domba…Islam ga pernah nyamain manusia dengan domba.baca Al Quran dgn bener.bukan mengkaji pake lutut.Allah Maha Besar…Sesuatu memang bakal mati…tp Nabi Isa ga mati Disalib…dia masih hidup,dan akan muncul sblm hari kiamat.wassalam.
Ikhwan hamba Allah Yth, berbeda pendapat itu boleh-boleh saja dan tidak ada yang melarang, apa yang kami sampaikan hanyalah satu pandangan yang menurut kami lebih Qur’ani dan ilmiah serta didasarkan pada fakta-fakta yang cukup jelas. Untuk lebih dalam mempelajari masalah ini dapat dibaca pada artikel Nabi Isa Sudah Wafat disini. terimakasih.
Nabi Isa a.s akan di turunkan kelak oleh Allah SWT jika Dajjal telah keluar. karena hanya Nabi Isa lah tandingannya Dajjal.
jadi seperti halnya Dajjal yang tengah dikunci oleh Allah sehingga belum bisa keluar, begitu pula dengan Nabi Isa yang di angkat Allah dan dikekalkan oleh-Nya. sebelum tiba masanya untuk diturunkan untuk mengalahkan Dajjal dan mengembalikan masa kejayaan islam.
Ikhwan eza Yth, mengenai dajjal dan turunnya nabi isa untuk yang ke dua mungkin dapat dibaca disini:
1. mematahkan salib
2. Integrasi religi
terimakasih.