NABI ISA A.S TELAH WAFAT
Penterjemah:Erwan
[Perbedaan pertama antara kaum Ahmadi dengan kaum muslimin pada umumnya adalah sehubungan dengan kematian Nabi Isa a.s . Rata-rata kaum muslimin percaya bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di langit dengan badan jasmannya, namun para anggota Ahmadiyyah dan juga para Ulama intelektual yang menelaah percaya bahwa - seperti para nabi lainnya - Nabi Isa a.s. telah wafat. Qur'an Suci jelas sekali membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat seperti manusia lainnya dan tidak hidup lagi di manapun. Jelas sekali dinyatakan bahwa Nabi Isa a.s. hanyalah memiliki sifat-sifat kemanusiaan, dan tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, beliau hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Karena itu sejak lahir hingga wafat, dia tunduk pada keterbatasan fisik dan biologi yang telah ditentukan Tuhan untuk manusia.]
Bukti dari Quran Suci
BUKTI PERTAMA: Semua manusia hidup dan mati di bumi ini.
Semua Nabi adalah manusia biasa, oleh karena itu mereka tunduk kepada undang-undang Ilahi yang tak berubah-ubah, bahwa manusia hidup dan mati di bumi ini. Qur’an Suci munyatakan:
-
1. “Ia berfirman: Di sana (yakni di bumi) kamu hidup dan di sana kamu meninggal dan dari sana kamu akan dibangkitkan” (7:25)
-
2. “Dan bagi kamu adalah tempat tinggal di bumi dan perlengkapan untuk sementara waktu” (7:24)
-
3. “Bukankah Kami jadikan bumi sebagai daya tarik, yang hidup dan mati” (77:25,26)
-
4. “Dan dari (bumi) itu Kami menciptakan kamu dan kesitu juga Kami kembalikan kamu. Dan dari bumi itu Kami mengeluarkan kamu untuk kedua kali.” (20:55)
BUKTI KEDUA : Kehidupan jasmani tergantung pada makanan dan minuman.
Tuhan telah menjelaskan bahwa undang-undang-Nya berlaku bukan hanya untuk orang biasa saja namun juga untuk para Nabi, bahwa hidup itu sangat bergantung pada makanan dan minuman:
-
1. “Kami tidak mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) setiap Rasul kecuali mereka itu makan-makanan.” (25:20)
-
2. “Dan Kami tak membuat mereka (yakni para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan.” (21:8)
Mengenai Nabi Isa a.s. dan ibunya yang tulus dinyatakan :”Dua-duanya makan, makanan” (5:75). Maka jika Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan - segenap kaum Muslimin berpendapat bahwa Nabi Isa a.s. tidak makan-makanan lagi di langit - beliau tak akan bisa, dengan hukum Ilahi yang dinyatakan di atas, hidup dengan badan jasmaninya. Jasmani itu membutuhkan makanan jadi Nabi Isa a.s. yang tak makan-makanan lagi pasti sudah mati.
BUKTI KETIGA: Jasmani manusia bisa rusak termakan waktu.
Tak ada satu badan jasmani manusia pun di bumi ini yang tidak mengalami perubahan. Kehidupan jasmani pasti menglami perubahan seiring dengan perubahan waktu. Qur’an Suci menyatakan:
-
1. “Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal (Khuld). Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal (Khalidun)” ? (21:34)
-
2. “Mereka (yakni para Nabi) itu tidak hidup kekal (Khalidin)” (21:8)
Mengenai arti kata Khulud (yang diterjemahakan di atas dengan kekal selama-lamanya), kamus Qur’an yang terkenal dari Imam Raghib menjelaskan:
“Khulud” artinya ialah sesuatu yang kebal dari kerusakan, dan tahan terhadap perubahan kondisi. Bangsa Arab menyebut sesuatu dengan kata Khulud….. yakni terus menerus dalam suatu keadaan dan tidak berubah (hal 153-154).
Karena itu menurut pengertian bahasa Arab, pengertian Khulud menunjukan tetapnya suatu keadaan yang tidak mengalami perubahan atau mengalami kerusakan. Di dalam ayat-ayat tersebut di atas, hukum Ilahi telah menjelaskan secara jelas bahwa dalam keadaan seperti itu setiap orang akan menglami perubahan dengan berlalunya waktu. Dia pertama-tama menjadi anak, kemudian dewasa, kemudian tua dan akhrinya mati ini diperkuat oleh banyak ayat-ayat lainnya, contohnya
-
1. “Allah ialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, lalu Ia memberi kekuatan setelah lemah, lalu membuat kelemahan dan ubanan setelah keadaan kuat.” (30:54)
-
2. “Dan diantara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun (jompo), sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu.” (22:5)
-
3. “Dan barang siapa Kami beri umur panjang, niscaya Kami kembalikan kepada keadaan kejadian yang hina (buruk). Apakah mereka tak mengerti?.” (36:58)
Secara umum undang-undang Ilahi telah dijelaskan seterang-terangnya di sini, dan tidak ada pengecualian bagi seorang manusia pun. Sejak dari anak seseorang berkembang secara fisik untuk mencapai perkembangan yang sepenuhnya setelah itu dia mulai lemah dan akhirnya sampailah kepada kekanak-kanakan yang kedua kalinya tatkala dia kehilangan masa-masa yang pernah dicapainya.
Jika demi kepentingan argumentasi itu, Nabi Isa a.s. akan kembali kedunia ini, dia harus berusia 2000 tahun, dan dari sinilah,menurut hukum Ilahi di atas beliau sudah terlalu tua untuk berbuat sesuatu. Pada kenyataanya, sungguh dibawah undang-undang ini Nabi Isa a.s. sudah wafat sejak dahulu.
BUKTI KEEMPAT: Wafatnya Para Nabi
-
1. “Almasih, ‘Isa bin Maryam, hanyalah seorang Rasul: sungguh telah berlalu para utusan sebelum dia “. (5:75)
-
2. “Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan. Jika ia mati atau dibunuh, apakah kamu akan berbalik atas tumit kamu?.” (3:143)
Ayat yang kedua di sini memperjelas ayat yang pertama. Kedua ayat itu sama-sama memperingatkan, yang pertama terhadap Nabi Isa a.s. , yang kedua terhadap Nabi Suci Muhammad. Penjelasan ayat Qur’an Suci di sini sangat jelas sekali bagi si pencari kebenaran. Ayat pertama jelas sekali mengatakan bahwa semua Nabi sebelum Nabi Isa a.s. telah wafat - segenap kaum Muslimin menerima ini. Dalam ayat yang kedua, kata-kata yang sama digunakan untuk memperjelas bahwa semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. telah wafat, dan karena tak ada Nabi yang dibangkitkan antara Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci, ayat yang kedua pasti diturunkan khusunya untuk menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat. Karya-karya klasik tata bahasa Arab menjelaskan kepada kita bahwa, dengan menggunakan awalan al pada kata para utusan (al-rusul, lit “para-utusan) di dua ayat tersebut di atas jelas-jelas memberi arti seluruh utusan (lih bahr al-Muhit, vol 3, hal 68).
Arti dari Khala
Haruslah diingat bahwa kata khala (yang diterjemahkan di atas dengan “belalu”) dalam bentuk kata lampau tanpa kata sandang, ketika ditujukan kepada manusia, bermakna kematian mereka. (lih Lisan al-Arab dan Aqrab al-Mawarad), juga di dalam Qur’an Suci, mana kala kata qad khalat tanpa partikel ila digunakan untuk orang, maksudnya adalah mereka telah berlalu dan meninggal, dan tak akan kembali lagi. Sebagai contoh:
-
1. “Itulah umat yang sudah berlalu (qad khalat).” (2:134)
-
2. “…Yang sebelumnya telah banyak umat yang berlalu (qad khalat).” (13:30)
-
3. “….dikalangan umat yang telah berlalu (qad khalat).”(46:18)
-
4. “itulah tata cara Allah terhadap orang-orang yang sebelumnya telah berlalu (khalat).” (33:38)
Dalam penafsiran dua ayat tentang seluruh Nabi sebelum Nabi Isa a.s. dan Nabi Suci saw. telah berlalu, para mufasir umunya mengambil arti yang sama:
“Nabi Suci telah meninggal dunia sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi-Nabi sebelumnya, dengan cara kematian yang alami atau dibunuh” (Qanwa ‘ata Baidawi, vol.3 hal 124).
Sebenarnya ayat-ayat tersebut di atas mengenai Nabi Suci (3:143) itu sendiri telah menjelaskan makna dari khalat (telah berlalu seluruh Nabi sebelumnya) dengan menggunakan kata-kata “bila dia meninggal atau dibunuh” atas dirinya. Jelaslah, kalimat “telah berlalu para Nabi sebelumnya “berarti salah satu dari mati alami atau dibunuh
BUKTI KELIMA: Semua yang dituhankan itu mati
Semua yang dianggap tuhan selain Allah , dijelaskan oleh Qur’an Suci itu “mati”:
“Adapun orang-orang yang mereka seru selain Allah, mereka tak dapat menciptakan apa-apa malahan mereka itu diciptakan. (mereka) mati tak hidup. Dan mereka tak tahu kapan mereka dibangkitkan.” (16:20-21)
Begitu pula Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan, Qur’an Suci itu sendiri berkata: “Sungguh kafir orang -orang yang berkata: “Allah ialah Masih bin Maryam.” (5:72)
Ayat-ayat ini menjadi bukti secara lengkap bahwa Nabi Isa a.s. yang dianggap tuhan oleh sebagian besar oleh manusia dan dipanggil “Tuhan Jesus”, pasti sudah mati ketika ayat ini diwahyukan. Jika tidak, pengecualian itu pasti disebutkan di sini.
Setelah amwaat (mereka itu mati), kata ghairu ahyaa’u (”tidak hidup”) menjelaskan masalah tersebut lebih mantap, dan kembali menguatkan tentang kematian terhadap “tuhan-tuhan” tersebut.
BUKTI KEENAM: Kedatangan Nabi Isa a.s. yang kedua bertentangan dengan Khataman-nabiyyin.
Kedatangan Nabi Isa a.s. lagi ke dunia ini akan menyalahi prinsip Khataman Nabiyyin karena Nabi Suci saw. adalah Nabi penutup dan Nabi yang terakhir menurut prinsip tersebut. Qur’an Suci menjelaskan: “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi. (33:40)
Nabi Suci menjadi Nabi yang terakhir (Khataman-Nabiyyin) memastikan bahwa setelah beliau tidak akan muncul lagi Nabi yang lain, baik Nabi baru maupun Nabi lama. Seperti halnya kedatangan nabi baru akan merusak Khataman-Nabiyyin begitu pula kehadiran Nabi lama, karena Khataman-Nabiyyin berarti Nabi yang muncul setelah munculnya seluruh Nabi. Seandainya Nabi Isa a.s. datang sesudah Nabi Suci dia (Nabi Isa a.s. ) pasti akan menjadi Nabi yang terakhir, Khataman-Nabiyyin.
Salah sekali jika untuk berdalih bahwa menurut perkiraannya kedatangannya yang kedua kali, Nabi Isa a.s. tak akan menjadi Nabi. Karena Qur’an Suci mengatakan: “Ia (Nabi Isa a.s. ) berkata: “sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Ia telah memberikan kepadaku kitab, dan membuat aku seorang Nabi. Dan ia membuat aku seorang yang diberkahi di manapun aku berada.” (19:30-31). Jadi manakala dia kembali ke dunia ini dia harus tetap Nabi. Kedatangannya lagi tanpa kenabian akan menjadi tak berarti, karena tugas kepemimpinan umat Muslim (imam) dan keKhalifahan Nabi Suci harus dilaksanakan oleh umat Muslim itu sendiri. Di sini membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, sebagaimana para Nabi lainnya dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Nabi yang terakhir.
BUKTI KETUJUH: Qur’an Suci secara khusus menjelaskan kematian Nabi Isa a.s.
Menjelaskan berbagai macam pengertian umum dalam hal hidup dan mati, adalah tak perlu bila Qur’an Suci itu sendiri telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menjelaskan secara khusus tentang kematian Nabi Isa a.s. di dalam Qur’an Suci. Ketika Yahudi berhasil dalam rencananya menggantungkan Nabi Isa a.s. di tiang salib, Nabi Isa a.s. berdo’a agar diselamatkan dari penderitaan ini, dan dijawab oleh-Nya sebagai berikut:
“Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan meninggikan engkau di hadapanKu dan membersihkan engkau dari orang-orang kafir dan membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat.” (3:54)
Di sini Tuhan telah membuat 4 perjanjian dengan Nabi Isa a.s.
-
i. “mematikan engkau” (tawaffa) yakni, Nabi Isa a.s. tak akan dibunuh oleh kaum Yahudi, melainkan beliau akan meninggak secara wajar
-
ii. “meninggikan engkau dihadapanKu” (raf’a) yakni, dia tidak mati disalib, yang mana Yahudi mencoba membuktikan dia itu terkutuk (ul 21:23), melainkan dia akan menerima kedekatan Ilahi.
-
iii. “membersihkan engkau dari orang-orang kafir” (tathir) yakni, dia akan dibersihkan dari semua tuduhan Yahudi, yang mana hal ini telah dilakukan oleh Nabi Suci saw.
-
iv. “membuat orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat”, yakni pengikutnya akan berada di atas para pembangkangnya.
Ayat di atas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah mati, karena raf’a (pengangkatan ke hadirat Ilahi) hanya bisa dicapai setelah mati, setelah semua selubung jasmani disingkirkan. Setiap orang tulus akan dianugrahi raf’a dihadapanTuhan setelah kematiannya. Nabi Suci bersabda:”ketika orang beriman mendekati kematiannay, para malaikat datang kepadanya. Jadi, bila orang tulus, mereka berkata:”wahai ruh yang suci! Keluarlah kau dari jasad yang suci, maka keluarlah ruh yang suci tersebut, lalu mereka membawanya ke surga dan dibukakanlah gerbang-gerbang surga itu untuknya” (Miskhat).
Karenanya, sewaktu-waktu orang tulus meninggal, para Malaikat membawa ruhnya ke seruga. Begitu pula halnya yang terjadi dengan Nabi Isa a.s. , setelah kematianya, ruhnya diangkat ke surga dan dia bergabung di antara barisan orang-orang tulus yang telah mati.
Dengan demikian Tuhan telah memenuhi semua janji-janji di atas dengan urutan: Dia menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari tangan-tangan Yahudi, dan kemudian mewafatkannya dengan wajar, setelah kematiannya Tuhan memuliakan ruhnya dengan kedekatan Ilahi; Dia membersihkan segala tuduhan Yahudi melalui Nabi Suci saw. dan memberikan pengikutnya berada di atas kaum kafir.
BUKTI KEDELAPAN: Umat kristiani tersesat setelah Nabi Isa a.s. wafat.
Pernyataan Nabi Isa a.s. pada hari kiamat, bahwa umatnya akan menuhankan dia setelah kematiannya, demikianlah yang tertulis di Qur’an Suci .
“Da0n tatkala Allah berfirman: Wahai Isa Bin Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia: ambillah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah. Dia menjawab: Maha Suci Engkau! Tak pantas bagiku mengtakan apa yang aku tak berhak mengatakannya. Jika aku mengatakan itu, Engkau pasti mengetahui. Engkau tahu apa yang ada dalam batinku, dan aku tak tahu apa yang ada dalam batin Engkau. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu barang-barang gaib. Aku tak berkata apa-apa kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku yaitu: Mengabdilah kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu; dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah engkau mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Yang Maha menyaksikan segala sesuatu” (5-116-117)
Inti bukti ini sebagai berikut:
-
i. Nabi Isa a.s. akan menyangkal telah mengajarkan doktrin kristen yang sesat tentang ketuhannya
-
ii. Dia akan menegaskan ajaran dia yang sebenarnya yang telah ia berikan kepada umatnya.
-
iii. Selama Nabi Isa a.s. berada di tengah-tengah mereka, pengikutnya memegang ajaran yang benar;
-
iv. Setelah Nabi Isa a.s. tawaffa (diterjemahkan di atas dengan “Kau menyebabkan aku mati”) keyakinan mereka menjadi rusak.
Arti dari Tawaffa
Kamus-kamus bahasa Arab memberitahukan pada kita bahwa tawaffa allahu fallanun, yakni Tuhan telah melakukan tawaffa kepada seseorang artinya Tuhan mencabut nyawanya dan menyebabkan dia mati. Arti inilah yang diberikan oleh Taj al-Urus, Al-Qamus, Surah, Asas Al-Balaghah, Al-Sihah, dan Kalyat abi-l-Baqa.
Dalam ayat di atas, Nabi Isa a.s. berkata dalam dua periode yang berbeda, yang pertama menjelaskan kata-kata “selama aku berada di tengah-tengah mereka”, dan yang kedua tatkala hanya “Engkaulah yang mengawasi mereka”, mereka itu adalah umat Nabi Isa a.s. , Kristen. Dan periode kedua (hanya Tuhan saja yakni bukan Nabi Isa a.s. yang mengawasi mereka) dikarenakan tawaffaitani atau ketika Engkau mematikan aku (Nabi Isa a.s. )
Sekarang menurut ayat di atas, umat Kristen memgang keyakinan yang benar dalam perode yang pertama, dan berpandangan sesat pada periode kedua. Sebagaimana Qur’an Suci memberitahukan kepada kita berulang-ulang dan seluruh umat Muslimpun meyakini, bahwa ajaran Kristen telah menjadi sesat (atau dengan kata lain periode kedua telah dimulai) dengan ditandainya kedatangan Nabi Suci. jadi Nabi Isa a.s. telah wafat dengan dimulainya periode yang kedua yang telah datang setelah tawaffaitani atau kematian Nabi Isa a.s.
Ringkasan
Menurut Qur’an Suci, Nabi Isa a.s. memegang tidak lebih dari ketiga posisi berikut ini:
-
i. Beliau hanyalah manusia biasa diantara manusia biasa lainnya
-
ii. Beliau adalah Nabiyullah diantara para Nabi lainnya; dan
-
iii. Beliau adalah di antara mereka yang dituhankan manusia
Yahudi mempercayai Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa, sementara umat Kristiani menuhankannya. Umat Muslim menerima beliau sebagai salah satu di antara para nabiyullah lainnya. Qur’an Suci membuktikan Nabi Isa a.s. telah wafat dalam keadaan ketiga posisi tersebut.
I. Nabi Isa a.s. sebagai manusia biasa:
Qur’an Suci menyatakan: “Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau (hai Muhammad) itu kekal, apakah jika engkau mati, mereka itu kekal?.” (21:34). Ayat ini menunjukan bahwa tubuh manusia itu tak pernah kebal dari perubahan waktu, dan bahwa tubuh manusia itu harus hidup dan mati di bumi ini. Sebagaimana Nabi Isa a.s. itu menusia biasa - dia juga harus tunduk kepada sunatullah yang telah ditentukan kepada manusia karena menurut ketentuan Qur’an Suci “setiap jiwa harus merasakan mati” - Nabi Isa a.s.telah wafat.
II. Nabi Isa a.s. sebagai seorang Nabi:
“Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan; sebelum dia telah berlalu para utusan.” (3:143). Ayat ini membuktikan kematian seluruh Nabi yang lalu pada waktu diturunkannya wahyu tersebut, dengan demikian Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.
III. Nabi Isa a.s. sebagai yang dianggap tuhan:
Dalam hal semua yang dianggap tuhan selain Allah, Qur’an Suci memberitahukan kepada kita”mereka mati tidak hidup, dan mereka tak tahu kapan dibangkitkan.” (16:21). Ini telah diketahui secara universal , dan ditegaskan oleh Qur’an Suci bahwa umat Kristiani meyakini Nabi Isa a.s. sebagai tuhan dan menyerunya di dalam sembahyang mereka. Jadi menurut ayat di atas, Nabi Isa a.s. telah meninggal; dan “tak akan pernah menjawab do’a mereka hingga hari kiamat”.
Karena itu secara lengkap dan tuntas terbukti bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat lama sekali, dan kepercayaan terhadap kelangsungan hidupnya adalah bertentangan dengan ajaran Qur’an Suci yang terang benderang.
Bukti dari Hadits
[Telah kami tunjukan bukti-bukti dari ayat Al-Qur'an ayng menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup di langit melainkan beliau telah wafat di zamannya sebagaimana para nabi lainnya yang juga telah wafat. Oleh karena itu seharusnya tidak ada lagi keraguan sedikitpun di benak para orang bijak dan para pecinta kebenaran tentang masalah ini. Namun untuk lebih memuaskan para pencari kebenaran, kami akan menghadirkan beberapa hadits dari Nabi Suci saw., orang yang menerima wahyu Al-Qur,an, dan sebagai orang yang paling benar dalam penafsiran Qur'an Suci , untuk masalah ini seharusnya setiap dan segenap Umat Muslim tunduk sepenuhnya terhadap penafsiran dan keputusan Nabi Suci saw. ]
Hadits Pertama: arti dari Tawaffa.
“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Nabi Suci saw. Bersabda dalam suatu khotbahnya: Wahai saudara-ssaudara sekalian! Kalian akan dikumpulkan oleh Tuhanmu (pada hari kiamat)…. Dan beberapa orang dari umatku akan diambil dan dilemparkan ke neraka. Aku akan berkata ‘Oh Tuhan, tapi mereka adalah dari umatku’ Akan dijawab:’ Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan setelah kepergianmu”. Lalu aku akan berkata sebagaimana perkataan hamba Allah yang tulus (yakni Nabi Isa a.s. ): “Aku akan menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku (tawaffaitani). Engkaulah yang mengawasi mereka“…..
(Bukhari, Kitab al-Tafsir, dibawah Surat Al-Maidah)
kalimat terakhir dari sabda Nabi Suci saw. (‘aku menjadi saksi atas mereka…) diambil dari ayat Qur’an Suci yang mana telah dijawab oleh Nabi Isa a.s. sebagai suatu sangkalan pada hari kiamat. Adalah disetujui oleh seluruh umat Muslim, ketika kalimat ini digunakan oleh Nabi Suci saw. Pada hadits di atas, arti dari tawaffaitani adalah ‘engkau mematikan aku’ jadi jelaslah kalimat tersebut mempunyai arti yang sama ketika digunakan oleh Nabi Isa a.s. yakni ketika Nabi Isa a.s. diambil dari umatnya oleh kematiannya bukan diangkat hidup-hidup ke langit.
Hadits kedua: Semua Nabi pasti mati.
Pada saat menjelang ajalnya, Nabi Suci saw.. masuk ke mesjid dengan dibantu oleh dua orang untuk mengatakan hal ini:
“Wahai saudara-saudara sekalian!. Aku mendengar bahwa kalian takut akan kematian Nabimu. Apakah para Nabi sebelumku itu ada yang mampu mempertahankan hidupnya sehingga aku masih punya harapan untuk bersamamu lagi?. Dengarlah! Sebentar lagi aku akan menemui Tuhanku, begitu juga dengan kalian. Jadi aku meminta pada kelian untuk memperlakukan kaum muhajir dengan baik”
(Al-anwar ul-Muhammadiyya min al-Muwahib lil-dinnyya, Egypt, hal 317)
hadits ini diakhirai dengan mengutip tiga ayat Qur’an Suci: “Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia, telah berlalu banyak utusan” (3:143)
“dan tiada kami menciptakan manusia sebelum engkau itu kekal” (21:34); dan Dan Kami tak membuat mereka (para Nabi) tubuh yang tak makan-makanan, dan tak pula mereka kekal” (21:8). Bila seandainya ada beberapa nabi yang masih hidup, pastilah Nabi Suci. tak dapat berkata seperti hadits di atas. Jadi jelaslah bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat pada waktu itu.
Hadits Ketiga: Wafat sebelum Usia 100 tahun
-
1. “Tak ada seorangpun yang hidup hingga kini melainkan akan wafat sebelum seratus tahun berlalu” (Muslim. Kunz al-ummal, vol.7.170)
-
2. “Nabi Suci saw. Bersabda: ‘Allah mengirimkan angin setiap seratus tahun untuk mengambil tiap-tiap jiwa orang Mu’min” (Mustadrak, vol.4, p. 475)
hadits-hadits tersebut menunjukan bahwa setiap orang yang masih hidup di masa Nabi Suci saw. Akan wafat sebelum seratus tahun berlalu, bila Nabi Isa a.s. masih hidup ( di langit sebagaimana yang dikira orang) dia pasti telah wafat dalam perode tersebut.
Hadits keempat: Nabi Isa a.s. berusia 120 tahun
Aishah a.s. berkata bahwa, pada saat menjelang kematiannya, Nabi Suci saw. Bersabda :’ setiap tahun Jibril biasanya mengulangi pembacaan Qur’an Suci denganku sekali, namun pada tahun ini dia melakukan hal tersebut dua kali, dia memberitahukan padaku bahwa tak ada nabi melainkan hidup selama separuh dari usia nabi yang terdahulunya. Dan dia juga berkata padaku bahwa Nabi Isa a.s. hidup selama seratus dua puluh, dan aku menyadari bahwa aku akan meninggalkan dunia ini diawal usia enam puluhan” (Hajaj at-Kiramah, p. 428: Kanz al-Ummal, vol. 6, p. 160, dari Hadrat Fatima; dan Mawahib al-Ladinya, vol. 1, p.42).
Tabrani berkata tentang hadits ini: Hadits nya sangatlah dapat di percaya , dan dirawikan dengan beberapa versi:. Hadits tersebut tak ada keraguannya sedikitpun yang bukan hanya mengumumkan kematiannya Nabi Isa a.s. malainkan menyatakan usianya yakni 120 tahun. Dan diriwayatkan paling tidak melalui tiga jalur: Dari Aishah, ibn Umar dan Fatima. Karena itu Hadits tersebut sangatlah jelas membuktikan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat.
Hadits Kelima: Nabi Isa a.s. telah wafat seperti Musa.
-
i. Nabi Suci saw. Bersabda: “seandainya Musa atau Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku (Al-Yawaqit wal-Jawahir, hal. 240; Fath al-Bayan, vol. 2 hal 246; tafsir Ibn Kathir, dibawah ayat 81, surat Ali-Imran)
-
ii. “Seandainya Isa masih hidup dia pasti mengikutiku” (Shrah Fiqh Akbar, Egyptian ad., hal 99)
-
iii. “Bila Musa dan Isa masih hidup, mereka pasti mengikutiku” (Al-Islam, dipublikasikan oleh The Fiji Muslim Youth Organization, vol.4 oct 1974)
Hadits-hadits tersebut di atas jelas menunjukan bahwa baik Musa maupun Isa dianggap telah wafat Oleh Nabi Suci saw.
Hadits Keenam: Makam Nabi Isa a.s.
Nabi Suci saw. Bersabda:” semoga Allah melaknat Yahudi dan Kristiani yang membuat kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah”. (Bukhari, Kitab as-Salat, hal 296).
Nabi Suci saw. Bersabda seperti demikian di atas dikarenakan beliau sangat khawatir bahwa umat Muslim yang seharusnya terhindar dari kesalahan dengan membuat makam dari nabi mereka menjadi tempat ibadah seperti yang telah dilakukan oleh Yahudi dan Kristiani terhadap makam nabi-nabi mereka. Yahudi mempunyai banyak nabi namun nabi yang sangat dikenal oleh umat Kristiani hanyalah satu - Nabi Isa a.s. .hadits ini menunjukan keyakinan Nabi Suci saw. terhadap makamnya Nabi Isa a.s. dan sebenarnya tempat inilah (makam tersebut ) dimana Nabi Isa a.s. bersembunyi setelah diturunkan dari salib ( hingga beliau sembuh dari luka-lukanya), yang mana umat Kristiani memujanya dengan berlebih-lebihan. Jelaslah menurut hadits ini, Nabi Isa a.s. tidak diangkat ke langit.
Hadits ketujuh: Nabi Isa a.s. dalam jamaah orang yang telah wafat.
Dalam berbagai hadits tentang Mi’rajnya Nabi Suci saw. Diriwayatkan:
i. “Adam di langit pertama…Yusuf di langit kedua, dan sepupunya Yahya (sipembaptis) dan Isa sendiri dilangit ketiga, dan Idris dilangit keempat” (Kanz al-Ummal. Vol.VI, hal. 120)
Nabi Suci saw. melihat Nabi Yahya a.s. dan Nabi Isa a.s. berada ditempat yang sama; dan sebagaimana setiap para nabi yang terdahulu terlihat dalam Mi’raj telah wafat, maka pasti Nabi Isa a.s. pun telah wafat.
ii. Hadits di atas dikuatkan dengan hadits lainnya yang mengatakan bahwa dalam Mi’rajnya, Nabi Suci saw. menjumpai ruh para nabi (tafsir ibn Kathir, Urdu ed. Diterbitkan di Karachi. Vol III. Hal. 28).
Hadits kedelapan: “Turunya” Nabi Isa a.s. di malam Mi’raj.
Sebuah hadits tentang Mi’raj mengisahkan:
“lalu Nabi Suci saw. turun di Yerusalem bersama-sama dengan seluruh nabi. Pada saat sembahyang beliau mengimami mereka semua dalam sembahyang” (tafsir ibn Kathir, Urdu ed, vol LII hal. 23).
Diantara “seluruh” nabi adalah termasuk Nabi Isa a.s. . Seandainya dia, berbeda dengan nabi-nabi lainnya, masih hidup dengan badan wadagnya di langit, maka “turunya” beliau di Yerusalem pasti dengan badan wadagnya pula. Dalam hal ini, beliau harus diangkat kelangit dua kali dengan badan wadagnya pula, namun Qur’an Suci menerangkan hanya sekali raf’ nya(”pengangkatan” yang disalah mengertikan sebagai pengangkatan secara wadag ke langit”) Nabi Isa a.s. !
Kesulitan ini tak akan timbul bila kita meyakini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai hadits tentang Mi’raj, bahwa Nabi Isa a.s. berada dalam keadaan yang sama (yakni wafat) dengan para nabi lainnya yang dilihat Nabi Suci saw. dalam ru’yahnya.
Hadits Kesembiilan: Diskusinya Nabi Suci saw. dengan utusan Kristen.
“ketika enam puluh orang utusan (kristen) dari Najran mendatangi, kepala pendeta mereka mendiskusikan dengan beliau mengenai kedudukan Nabi Isa a.s. dan menanyakan kepada beliau prihal ayahnya Nabi Isa a.s. Nabi Suci saw. bersabda: ‘tidakkah engkau tahu bahwa seorang anak menyerupai ayahnya? Mereka menjawab ‘benar’. Sabdanya lagi:
A lastum ta’ lamuna anna rabbana layatu wa anna ‘Tsa ata’alaihi-fana’
Artinya:”Tidakkah engkau mengetahuinya bahwa Tuhan kita kekal sedangkan Isa binasa”
(Abab an-nuzul oleh Imam Abu-l0hasan Ali bin Ahmad al-wahide dari Neshapur, di terbitkan di Mesir, hal 53).
Betapa jelasnya pernyataan tersebut bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat dan tak lebih dari apa yang disabdakan oleh Nabi Suci saw. tersebut.
Hadits Kesepuluh: Dua gambaran Isa.
Di dalam Sahih al-Bukhari, diceritakan dua penggambaran fisik yang berbeda tentang Isa-satu menunjukan Messiah lalu dan yang lain menunjukan Messiah yang akan datang di akhir zaman diramalkan.
-
1. Dalam Mi’raj, Messiah yang terlihat dengan Musa, Ibrahim, dan para nabi lainnyam menggambarkan beliau sebagai berikut:
-
a. “Aku melihat Isa. Beliau adalah seorang yang berkulit agak kemerah-merahan” (Bukhari, Kitab al-ambiya, ch.24)
-
b. “aku melihat Isa, Musa, dan Ibrahim. Isa memiliki kulit yang agak kemerah-merahan, berambut keriting dan dadanya bidang” (ibid., ch 48)
dijelaskan dari kedua hadts tersebut bahwa Isa, yang terlihat bersama-sama dengan Ibrahim dan Musa, adalah nabinya Bani Israil. Beliau berkulit merah dan berambut keriting.
-
2. Bukhari meriwayatkan dalam sebuah hadits tentang mimpinya Nabi Suci saw. bekenaan dengan keadaan beliau yang akan datang:
“dalam keadaan tidur aku melihat diriku tawaf di ka’ba, dan aku melihat seorang lelaki berkulit agak putih dan berambut lurus. Aku bertanya siapakah ini. Mereka menjawab: ini adalah Masih bin Maryam (Bukhari, Kitab al-Fitn, ch. 27)
jadi, ketika Isa di jelaskan bersama-sama dengan Abraham dan Musa, beliau digambarkan dengan berkulit agak kemerah-merahan dengan rambut yang keriting; namun manakala Isa terlihat bersama-sama dengan dajjal dalam mimpi Nabi Suci saw. terntang masa yang akan datang, beliau dikatakan mempunyai kulit agak putih dengan rambut yang lurus. Jelaslah, dua penggambaran yang berbeda disini tak mungkin menggambarkan satu orang Isa, Nabi Bani Israil, yang mana dilihat oleh Nabi Suci saw. dalam Mi’raj dan Messiah yang dibangkitkan di akhir zaman untuk membasmi kejahatan Dajjal, digambarkan sebagai dua orang yang berbeda.
Messiah Bani Israil, isa, telah wafat, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi Suci saw. dan Messiah akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi Suci saw. berasal dari umat Muslim dan bukan dari nabinya Bani Israil. Hal ini dikuatkan dengan ketiga hadits berikut ini:
i ‘Ulama’u ummati ka anbiya’i ni Israil, artinya: “para ulama umat ku seperti nabi-nabi bani Israil.”
ii Ala inna-hu Khalili fi ummayi min ba’di artinya: “sesungguhnya dia (Al-Masih yang akan datang) adalah Khalifahku yang datang setelah aku di dalam jamaahku.”
iii Fa amma-kum min-kum, artinya: “Dia akan menjadi imam dari antara kamu
kesimpulan
Dari seluruh kutipan hadits-hadits di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
Hadits pertama: Nabi Suci saw. bersabda tentang kematian atas dirinya dengan menggunakan kalimat falamma tawaffaitani. Kalimat tersebut juga dipakai oleh Qur’an Suci berkenaan dengan Nabi Isa a.s., hal ini membuktikan bahwa beliau juga telah wafat.
Hadits kedua: bertanya para sahabatnya bahwa seandainya salah seorang dari sekian nabi ada yang mempertahankan hidupnya maka beliau juga pasti dapat hidup lebih lama lagi. Bila Nabi Isa a.s. masih hidup Nabi Suci saw. tak dapat memakai argument tersebut. Atau sahabat-sahabatn beliau akan menyangkal bahwa sebagaimana Nabi Isa a.s. masih hidup maka Nabi Suci saw. juga dapat mempertahankan hidupnya. Hal ini menunjukan Nabi Suci saw. dan para sahabatnya yakin banwa Nabi Isa a.s. telah wafat
Hadits Ketiga: Nabi Suci saw. meramalkan bahwa orang-orang yang beriman akan meninggal tak lebih dari seratus tahun. Maka bila seandainya Nabi Isa a.s. masih hidup dia pasti telah wafat dalam periode tersebut.
Hadits keempat: sebagaimana usia para nabi, seperti Musa, Daud, Sulaiman, dan lain sebagainya, diriwayatkan dalam hadits, Nabi Isa a.s. tertulis dalam Hadits berusia 120 tahun.
Hadits kelima: Bila Nabi Isa a.s. masih hidup maka Nabi Suci saw. tak dapat bersabda “Musa dan Isa akan menjadi pengikutku bila mereka masih Hidup“
Hadits keenam: Nabi Suci saw. telah memberikan petunjuk mengenai makam Nabi Isa a.s.
Hadits ketujuh: dalam malam yang agung Mi’raj Nabi Suci saw. melihat Nabi Isa a.s. dan Yahya a.s. (John si Pembaptis) bersama-sama dalam suatu tempat. Yahya a.s. telah wafat, menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. juga telah wafat. Nabi Suci saw. bertemu bukan dengan badan jasmaninya melainkan dengan ruh para nabi dalam pengalaman Mi’raj.
Hadits kedelapan: Di dalam malam Mi’raj seluruh nabi, termasuk Nabi Isa a.s. diimami oleh Nabi Suci Muhammad saw di mesjid Jerusalem. Hal ini menunjukan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, bila tidak dia pasti turun ke Jerusalem juga dengan badan Jasmaninya, lalu naik lagi ke langit untuk yang kedua kalinya-suatu hal yang tak mungkin ada yang mempercayainya. Ru’yah yang mengenai Nabi Suci saw. mengimami seluruh nabi dalam shalat menunjukan bahwa Nabi Suci saw. adalah Khataman al-ambiya, dan seseorang yang mana seluruh umat dari nabi-nabi tersebut harus memberikan ketaatan.
Hadits kesembilan: Diskusinya Nabi Suci saw. dengam perwakilan Kristen dari Najran menunjukan bahwa beliau yakin Nabi Isa a.s. telah wafat.
Hadits kesepuluh: Dalam Hadits Bukhari diriwayatkan dua gambaran fisik yang berbeda: yang satu terlihat bersama-sama dengan nabi-nabi lainnya dalam Mi’raj; dan yang lain terlihat thawaf di ka’ba dengan Dajjal didalam ru’yanya Nabi Suci saw. yang berkenaan dengan keadaan akhir zaman, yakni dalam masa yang akan datang.
Hal ini membuktikan Nabi Isa a.s. Nabi bani Israel, telah wafat, untuk Messiah akhir zaman pasti orang lain. Hendaklah diingat bahwa ramalan selalu membutuhkan penafsiran dan tak selamanya harus terpenuhi dalam artian harfiah. Alasannya adalah ketika seorang nabi atau orang tulus ditunjukan kejadian masa depan oleh Tuhan Yang Kuasa, adalah dalam bentuk ru’ya dan mimpi yang dilihat dengan mata rohani mereka bukan dengan mata fisik. Seluruh kitab suci setuju bahwa kebanyakan mimpi dan ru’ya membutuhkan penafsiran. Hal ini juga berlaku untuk raemalan Nabi Suci saw. mengenai “turunnya Messiah”Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj Dabbat al-ardh, dan lain-lain.
Dari ramalan-ramalah mengenai kedatangan Messiah, karena itu tak dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup sementara banyak ayat-ayat Qur’an Suci dan banyak Hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Nabi Isa a.s. tidak hidup melainkan telah wafat didalam usia 120 tahun.
DIarsipkan di bawah: Islamologi, Kristologi
ass wr wb
Benar Nabi Isa telah wafat, lalu siapakah seseorang yang dipanggil nabi (nabiyulloh) sampai 4 kali oleh rasulullah dlm suatu hadist ? bukankah itu artinya yang turun adalah seorang nabi Allah….
jadi maksudnya jika HMGA dipanggil nabi oleh Allah dlm wahyu2Nya dan disebut sbg Nabi ALlah oleh rasulullah, apakah itu belum cukup memberikan bahwa HMGA adalah benar seorang nabi walaupun nabi tanpa syariat…
wassalam,
Kata “Nabiyullah” untuk Nuzulul Masih hanya tertulis dalam Hadits, sedangkan Kata Khataman-Nabiyyin tertulils jelas dalam Qur’an Suci dan ini diartikan sendiri oleh Nabi Suci” Ana Khataman-Nabiyyin La Nabiyya Ba’di”. Ini artinya adalah bahwa perkataan yang Nabiyullah Isa ini tidak boleh bertentangan dengan Qur’an Suci sebagai hukum tertinggi dalam Islam, karena itu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menafsirkan kata Nabi untuk Al Masih sebagai berikut:
“These words (rasul, etc.) are used by way of metaphor, just as in Hadith also the word nabi has been used for the Promised Messiah. It is obvious that he who is sent by God is His envoy, and an envoy is called rasul in Arabic. And he who discloses news of the unseen, having received it from God, is known as nabi in Arabic. The meanings in Islamic terminology are different. Here only the linguistic meaning is intended.”(Arba`in, published December 1900, No. 2, p. 18, footnote)
“The epithet ‘prophet of God’ for the Promised Messiah, which is to be found in ‘Sahih Muslim’ etc. from the blessed tongue of the Holy Prophet, is meant in the same metaphorical sense as that in which it occurs in Sufi literature as an accepted and common term for the recipient of Divine communication. Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?”
Ana Khataman-Nabiyyin La Nabiyya Ba’di”.
bisa anda beri referensinya…
Dilain artikel anda mengatakan bahwa Nabi Isa menjalankan syariat sendiri dan tidak terkait dgn ajaran Musa, bukankah itu tidak ada persamaan antara HMGA dan Isa as?
Kami menganggap hadits-hadits nuzulul Masih merupakan kalam Ibarat, sebagaimana perkataan “Isa” bukanlah dalam artian “Isa” yang sesungguhnya begitupula dengan perkataan “Nabiyullah” juga bukan dalam artian Hakiki, disinilah letak perbedaan antara Nabi Hakiki dengan Nabi Majazi, Seorang Nabi bila menerima wahyu yang bertentangan dengan syariat terdahulu maka wajiblah nabi itu menerima syariat yang baru tersebut, sedangkan bila Nabi Majazi (baca: Muhaddats) maka bila dia menerima sesuatu nampaknya baru maka wajiblah dia menguji itu dengan Quran dan hadits, bila tidak bertentangan maka wahyu yang diilhamkan itu benar adanya, namun bila bertentangan maka wajiblah dia menolak, berikut pernyataan HMGA:
1. “If the objection be raised here that, as the Messiah (Jesus) was a prophet, his like should also be a prophet, the first answer to this is that our leader and master (the Holy Prophet Muhammad) has not made prophethood a necessary condition for the Messiah to come. On the other hand, it is clearly written that he shall be a Muslim, and shall be subject to the Shariah of the Quran like ordinary Muslims, and he shall not go further than this that he is a Muslim and the imam of Muslims.”
(Tauzih Maram, pages 17-18)
2. “The epithet ‘prophet of God’ for the Promised Messiah, which is to be found in ‘Sahih Muslim’ etc. from the blessed tongue of the Holy Prophet, is meant in the same metaphorical sense as that in which it occurs in Sufi literature as an accepted and common term for the recipient of Divine communication. Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?”
(Anjam Atham, footnote, p. 28)
nb: mohon direnungkan kalimat terakhir: bagaimana mungkin datang seorang nabi setelah Khatama al-anbiya
Wa innahu sayakuun fii ummati kadzabuuna tsalatsuna kalhum yaz’am, annahu nabiyyu, wa anaa khatamnabiyyinya lanabiyya ba’dii
“Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh penipu. Tiap-tiap orang dari mereka akan mengaku bahwa ia seorang nabi dan saya adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku” (Bukhari)
Jelas sekali disini Nabi Suci memahami kalimat Khataman Nabiyyin sebagai La Nabiyya Ba’di
bandingkan dengan HMGA:
Otherwise, how can there be a prophet after the Khatam al-anbiya?”(Anjam Atham, footnote, p. 28)
Baiklah Mas Erwan, saya ambil referensi dari http://www.aaiil.org sendiri
mengenai kenabian apa yang disandang oleh HMGA dan juga dipercaya oleh Qadiani (panggilan ramah anda kpd kami)
Tertulis di hal. 34 di Review of Religion yang terbit thn 1903 :
…it was also ordained that the last successor of the Holy Prophet, The Promise Messiah,
SHOULD BE CALLED A PROPHET, so that the resemblance referred to above, might be complete. The prophethood of the Promised Messiah moreover a not a substantial and indenpendent prophethood but one acquired throught the holy Prophet. It is on account of his being a perfect manifestation of the Holy prophet that he has received the title of a prophet. Thus in the Barahin-Ahmadiyya, almighty God addressed me saying ” O, Ahmad, thou hast been made an apostle.
In these words it is indicated that as being the manifestation of the Holy Prophets, I was called Ahmad, though my name was Gulam Ahmad, so being Ahmad, I was made a prophet, for Ahmad was a Prophet….
J/A percaya bahwa Muhammad saw adalah nabi terakhir yang membawa syariat
namun nabi yang tidak membawa syariat atau nabi yang mengikuti beliau dan karena ketaatan kepada Muhammad saw sbg manifestasi nya beliau Saw masih bisa berlangsung terus. HMGA adalah nabi yang tidak berdiri sendiri (tidak indenpendent) beliau menjadi nabi karena ketaatan beliau kepada Muhammad saw sbg Khatamannabiyin
dan seharusnya Lahore tidak menutup mata dengan penjelasan tsb,
wassalam.
Maaf, karena jawabannya sama silahkan klik disini untuk melihat jawabannya
ttd
erwan
Nunsewu. Ikut menyela.
Sesungguhnya, seberapa pentingkah kita memperdebatkan apakah Mirza itu Nabi atau bukan Nabi?
Dari pertanyaan ini, saya hanya ingin memahami alakadarnya dasar pijak perdebatan kita, dan capaian apa yang sesungguhnya ingin masing-masing kita idamkan.
Jikalau ya MGA adalah Nabi, lantas apa? begitu juga sebaliknya.
Sejak dulu, perdebatan ini dalam amatan saya tak pernah ada titik temu. Sudah banyak energi terkuras untuk soal ini. Dan selalu argumentasi yang terbangun adalah argumentasi yang saling bertentangan.
Siapa yang benar? Masing-masing kita tentunya akan menganggap kitalah yang paling benar!
Untuk keperluan itu, kita merangkai satu dalil dengan dalil yang lain, dipertautkan sedemikian rupa.
Masing-masing kita punya referensi, apologi, justifikasi, rasionalisasi, atas argumen dan logika yang kita bangun di dalam menafsirkan setiap teks yang kita pahami. Teks yang dimaksud adalah juga termasuk sekian statemen yang dilontarkan oleh MGA dan juga komentar dari para penafsir belakangan (Muhammad Ali, Bashirudin Mahmud Ahmad, dll).
Sekali lagi nunsewu. Saya terpaksa harus memaklumi diri saya sebagai orang yang tidak cukup kompeten dan kompatible untuk bisa ikut dalam kancah perdebatan ini.
Saya orang yang terlalu simplistis barangkali. Karenanya, seringkali saya tidak terlalu ambil peduli dengan status MGA. Saya mengamini beliau sebagai utusan tuhan yang memberikan pencerahan terhadap jalan pemikiran dan penghayatan saya atas kehidupan. Sebagaimana saya juga mengamini yang lainnya yang memberikan kontribusi serupa terhadap saya.
Mohon maaf karena untuk saat ini saya tidak terlalu ambil pusing dengan bentuk-bentuk formalisasi agama. Saya terus terang terlalu takut untuk terjebak dan berkubang diri dalam ranah pemahaman terminologi agama yang normatif. Buat saya penghayatan iman dan implementasinya dalam kehidupan tidak harus dibangun di atas apologi teologi yang wah.
eh, eh,… maaf nglantur.
untuk paragraf-paragraf terakhir tak usahlah ditanggapi. Saya mohon perkenannya saja untuk menjawab pertanyaan saya. Saya tidak berniat memperdebatkan jawaban apapun yang akan saya dapatkan. Sebab, pertanyaan saya murni dimunculkan dari ketakpahaman saya.
matur nuwun sekali atas perkenannya.
Sebenarnya saya juga tidak akan ambil pusing mengenai perbedaan antara Lahore dan Qadian..
masalahnya adalah kenapa disetiap website atau blog-blog LAhore selalu di muka diterangkan perbedaan2 tsb, seolah-olah Lahore ingin menambah runcing permasalahan tsb.
Apalagi mereka dgn ramah selalu menyebut J/A sbg Qadiani..
Wassalam,
Mas Alif:
Maaf, bukankah perkataan khalifah Qadiyani sendiri yang mengatakan:
“It is our duty (fard) that we should not consider non-Ahmadies as Muslims and it is their (non-Ahmadies’) duty that they should not consider us as Muslims” (Anwar Khildfat, p. 9, published 1916 C.E., Qadian)
Jadinya, karena Sekte Qadiyani telah menganggap bahwa Non Ahmadi itu telah Kafir dan keluar dari Islam (Murtad) maka untuk apa lagi kami menganggap Qadiyani itu Muslim?,
Jadinya menurut saya Sekte Qadiyani itu tidak perlu gusar, sebab Nabi Suci sendiri telah bersabda bahwa Bila seseorang menunjuk orang lain itu kafir, maka
“Whoever calls those who believe in Kalimah unbelievers (Kafir) is nearer to unbelief (kufr) (Hr Tibrani)
Jadinya bila Sekte Qadiyani itu dianggap sebagai Non Muslim, itu hanyalah suatu kebenaran Nubuat Nabi Suci, bahwa orang yang mengkafirkan ahli Kalimah (syahadat) maka dia sendiri yang lebih dekat kepada kekafiran. Selama Sekte Qadiyani itu menganggap diluar golongannya adalah Kafir dan Murtad, selama itu pula lah kekafiran dan kemurtadan itu kembali kepada dirinya sendiri
Mas basyarat:
Yang jadi titik permasalahan adalah permasalahan tentang Nubuatan Quran Suci tentang Ummatan Wahidatan (Qs 2:213). Kebenaran akan Nubuatan ini mulai nampak sekarang, kita bisa lihat bahwa dunia mengarah kepada satu kesatuan bahasa, mata uang, ekonomi bahkan dengan adanya Liga bangsa-bangsa (United Nation, PBB) hal itu semakin dekat. Tentu saja Islam sebagai Agama masa depan telah mengakomodir semua itu, tentunya kelak juga akan mengarah kepada Satu Agama (Islam)dengan Satu Nabi yaitu Nabi Suci Muhammad saw, hal ini saya anggap sangat penting. Sebab kedatangan Nabi setelah Nabi Suci Muhammad tentunya cita-cita Islam tentang Ummatan Wahidatan tidak akan terlaksana. Bila ada lagi Nabi yang datang maka tentunya umat nabi yang ini akan mengkafiri umat nabi yang lainnya. Kita bisa lihat pada doktrin Sekte Qadiyani yang menganggap ada lagi Nabi Setelah Nabi Muhammad, mereka menganggap 2 kalimah Syahadat yakni Asyhadualla Ila Ha IllaAllah, wa Asyhaduanna Muhammadar RasulAllah tidak cukup lagi untuk membuat seseorang menjadi Islam, melainkan orang tsb tetap kafir dan diluar Islam bila tidak mengimani nabi barunya. Namun disisi lain Sekte Qadiyani (paling tidak hingga saat ini) belum menciptakan kalimah syahadat yang baru. Dan juga saya pertanyakan kepada Sekte Qadiyani saat kapan sih mereka menganggap HMGA itu Nabi??, apakah pada saat:
1. Bai’at
2. Adzan
3. Shalat (tahiyat awal dan tahiyat akhir)?
mengingat dalam ke tiga hal itu terdapat 2 kalimah syahadat
Bila tidak dalam ke tiga hal itu, lalu pada saat kapan????,
dan dalam literaturnya tidak pernah saya ketemukan tulisan Nabi Ghulam Ahmad, bila kita meyakini seseorang itu nabi maka konsukwensinya kita menyebut kata nabi sebelum namanya, contoh
kita meyakini bahwa Nuh itu nabi, maka logisnya kita menyebut Nabi Nuh.
kita meyakini bahwa Ibrahim itu nabi, maka logisnya kita menyebut Nabi Ibrahim.
kita meyakini bahwa Musa itu nabi, maka logisnya kita menyebut Nabi Musa.
kita meyakini bahwa Isa itu nabi, maka logisnya kita menyebut Nabi Isa.
kita meyakini bahwa Muhammad itu nabi, maka logisnya kita menyebut Nabi Muhammad.
namun tidak pernah saya dapati ada tulisan Literatur dari Sekte Qadiyan yang menulis “Nabi Ghulam Ahmad”. Pertanyaan saya tetap sama yakni: saat kapan Qadiyani itu menganggap Mirza Ghulam Ahmad itu sebagai Nabi?
Mas Erwan :
“It is our duty (fard) that we should not consider non-Ahmadies as Muslims and it is their (non-Ahmadies’) duty that they should not consider us as Muslims” (Anwar Khildfat, p. 9, published 1916 C.E., Qadian)
Jadinya, karena Sekte Qadiyani telah menganggap bahwa Non Ahmadi itu telah Kafir dan keluar dari Islam (Murtad) maka untuk apa lagi kami menganggap Qadiyani itu Muslim?,
————
Assalamualaikum wr wb
Anda termasuk orang yang emosian juga ya…
Akhirnya keluar juga pengakuan dari seorang Ahmadi Lahore bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah bukan muslim,
Saya orang JAI tetap menganggap anda muslim walaupun telah keluar kata-kata tsb dari mulut anda sendiri..
Saya meragukan anda menguasai bhs. Inggris atau bahkan sama sekali tidak mengerti maksud dari tulisan ini, coba anda terjemahkan tulisan anda tsb:
It is our duty (fard) that we should not consider non-Ahmadies as Muslims and it is their (non-Ahmadies’) duty that they should not consider us as Muslims” (Anwar Khildfat, p. 9, published 1916 C.E., Qadian)
Siapa kira2 yang pertama-tama mengeluarkan fatwa di luar Islam? ahmadi atau non ahmadi
Referensi tuh dibaca dulu dong..
—
Mas Erwan :
Pertanyaan saya tetap sama yakni: saat kapan Qadiyani itu menganggap Mirza Ghulam Ahmad itu sebagai Nabi?
—–
Jawab
Aneh padahal Lahore sendiri yang menggembor-gemborkan bahwa qadiani menganggap HMGA itu Nabi
nah kenapa sekarang ada pertanyaan spt itu?
dan Apakah perlu bahwa kita harus memanggil seseorang itu dgn kata-kata Nabi spt logika anda? logika anda tidak mendasar sama sekali…
Qur’an tidak menyuruh seorang Nabi dipanggil Nabi seperti logika anda, tapi setiap muslim diwajibkan mengirimkan salam penghormatan kepada Nabi, yaitu as : alaihi salam…
jelas?
Justru anda yang tidak menganggap beliau HMGA bukan Nabi tapi memanggil beliau dgn Nabi Isa yang dijanjikan..cukup aneh bukan…?
kemudian apakah benar umat Islam bisa dipersatukan spt kata anda diatas?
logika anda lagi-lagi bengkok..
menurut Hadist Muhammad saw bahwa Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan, apakah golongan2 tsb lahir karena ahmadiyah qadiani yang menganggap ada nabi lagi (nabi tanpa syariat)
Sebelum ada Qadiani/JAI umat Islam telah saling kafir mengkafirkan satu sama lain, saling sesat menyesatkan..
Jadi tidak akan pernah terjadi satu umat walaupun golongan Islam tsb sama keyakinannya yaitu: tidak boleh ada nabi lagi setelah Muhammad saw
Tugas orang Jai adalah mengenalkan dan memasukan orang-orang kedalam bahtera nya HMGA didalam satu kekhalifahan
dgn begitu tidak akan terjadi kafir-mengkafirkan dan sesat menyesatkan jika semua telah berada dlm naungan satu khalifah..
jadi logika anda dan angan-angan anda tidak akan terwujud bila umat Islam ini TIDAK berada dlm satu naungan kekhalifahan..walaupun mereka semua sama menganggap tidak ada nabi lagi setelah Muhammad saw..
jelasnya tidak ada hubungannya sama sekali antara kesatuan umat dgn ada atau tidaknya nabi lagi setelah muhammad saw
seperti kata anda..yang bisa menyatukan umat Islam hanya satu yaitu kekhalifahan seperti yang nubuatkan hadist nabi…
Wassalam,
bukan main …
pernyataan anda yang mengatakan qadiani adalah diluar Islam
sangat kontradiktif dgn pernyataan2 Lahore yang katanya ingin semua umat islam bersatu tidak saling kafir mengkafirkan, tidak saling sesat menyesatkan…
eh anda malah lebih duluan menganggap kami diluar Islam..
padahal menurut anda sendiri tidak ada kata-kata yang lebih menyakitkan dari pada kata2 tsb..
—–
Mas Erwan:
Bila ada lagi Nabi yang datang maka tentunya umat nabi yang ini akan mengkafiri umat nabi yang lainnya. Kita bisa lihat pada doktrin Sekte Qadiyani yang menganggap ada lagi Nabi Setelah Nabi Muhammad, mereka menganggap 2 kalimah Syahadat yakni Asyhadualla Ila Ha IllaAllah, wa Asyhaduanna Muhammadar RasulAllah tidak cukup lagi untuk membuat seseorang menjadi Islam, melainkan orang tsb tetap kafir dan diluar Islam bila tidak mengimani nabi barun
—-
Jwb: Rupanya anda benar2 belum mengerti apa itu Nabi umati, Bagaimana bisa saling mengkafirkan umat nabi yang satu dgn umat nabi yang lain jika yang datang adalah nabi umati..
Anda harusnya Tahu, bahwa tidak semua kafir itu adalah keluar dari Islam, menurut hadist orang muslim yang meratapi mayat adalah orang kafir, orang muslim yang tidak bertetangga dgn baik adalah orang kafir..tapi bukan berarti keluar dari Islam…
Sekarang mari kita lihat apa kata pendiri lahore sendiri tentang ketidak imanan kepada HMGA dan konsekwensinya :
In the presence of promised Messiah as, Maulvi Muhammad Ali appeared as awitness on May 13, 1904. On being questioned by khwaja kamaludin , he said:
“Anyone who denies the truthfulness of a Prophet is a great liar, Mirza Sahib has claimed to be a Nabi. His followers believe him to be true in his claim and his opponenets conside him flase.
Lebih parah konsekwensinya bukan….
The Great Liar
————–
Wassalam,
Ooh maaf Mas Alif salah tanggap, saya hanya mengikuti Hadits Nabi dan perkataan HMGA bahwa bila ada orang yang mengkafirkan seorang ahli Kalimah (orang yang telah bersyahadat) maka kekafirannya akan berbalik pada dirinya sendiri. Kalimat saya cuku Sejas sbb:
Mas Alif:
Alhamdulillah, telah terjadi perubahan dalam diri Mas Alif, semoga nantinya bisa shalat bergabung bersama Jemaah Islam Non Ahmadi & mau menshalati jenazah Non Ahmadilainnya yang tidak mengkafirkan HMGA dan Gerakannya,Sehingga tidak eksklusif
Mas Alif:
Ooh maaf, pada halaman selanjutnya (Hal 93) dari buku yang sama yakni Anwari Khilafat ada tertulis:
“Now another question remains, that is, as non-Ahmadis are deniers of the Promised Messiah, this is why funeral prayers for them must not be offered, but if a young child of a non-Ahmadi dies, why should not his funeral prayers be offered? He did not call the Promised Messiah as kafir. I ask those who raise this question, that if this argument is correct, then why are not funeral prayers offered for the children of Hindus and Christians, and how many people say their funeral prayers? The fact is that, according to the Shariah, the religion of the child is the same as the religion of the parents. So a non-Ahmadi’s child is also a non-Ahmadi, and his funeral prayers must not be said. Then I say that as the child cannot be a sinner he does not need the funeral prayers; the child’s funeral is a prayer for his relatives, and they do not belong to us but are non-Ahmadis. This is why even the child’s funeral prayers must not be said. This leaves the question that if a man who believes Hazrat Mirza sahib to be true but has not yet taken the bai`at, or is still thinking about joining Ahmadiyyat, and he dies in this condition, it is possible that God may not punish him. But the decisions of the Shariah are based on what is outwardly visible. So we must do the same thing in his case, and not offer funeral prayers for him.” (Anwar-i-Khilafat, page 93)
yang saya tangkap dari tulisannya adalah BMA tidak boleh menshalatkan jenazah Non Ahmadi, bukan karena mereka sikap takfirul Muslimin, melainkan karena BMA menganggap kafirnya non Ahmadi itu benar-benar telah diluar Islam sama halnya seperti Kristen dan Hindu, itu sebabnya mengapa meskipun seorang anak kecil ( tentunya tidak pernah mengkafirkan HMGA kan?) tidak boleh dishalati jenazahnya. Maaf bila saya yang awam bahasa Inggris ini melakukan kesalahan, mungkin mas bisa menterjemahkan. Ditempat lain digunakan dengan kalimat Pakkay Kafir yang ini dalam istilah Urdu merupakan BENAR-BENAR KAFIR tanpa ada keraguan sedikitpun
Mas Alif:
Setiap Nabi butuh pengakuan dari umatnya bahwa beliau itu adalah Nabi, lalu dia membawa Kitab yang dianggap oleh umatnya sebagai Kitabullah. HMGA:
“If a person makes a claim to nubuwwat, it is necessary in that claim that … he form a religious nation (ummah) which considers him to be a nabi and regards his book as the book of God.” (Ainah Kamalat Islam, p. 344).
Karena itu saat kapan Qadiyani menganggap HMGA itu Nabi, Apakah pada saat Shalat?, Bai’at? atau pada saat adzan?
Mas Alif:
Takfirul Muslimin terjadi karena Umat Islam tidak atau kurang memahami makna 2 Kalimah Syahadat, yang ini juga diperjelas dalam Hadits bahwa orang yang telah bersyadat tidak boleh dibilang kafir. Hal ini berbeda dengan kedatangan seorang Nabi, mereka mengkafirkan satu dengan yang lainnya itu, tentunya punya alasan yang kuat berdasarkan Kitab Suci dan Hadits. Coba deh mas bayangkan bila dalam umat Islam, maaf, bila dalam Qadiyani itu ada nabi lagi, tentunya dikarenakan seteiap nabi pasti ada yang mengkafirinya, tentu akan pecah pula Qadiyani itu, yakni yang beriman kepada Nabi dan yang menolak Nabi baru itu, lalu coba bayangkan bila yang datang itu puluhan Nabi, atau bahkan ratusan Nabi, tentnuan dalam Sekte Qadiyani itu akan timbul pula perbecahan ratusan umat
Mas Alif:
Komment saya disini (klik) sudah menjelaskan:
Ahmadiyah Lahore juga meyakini bahwa Nabi Isa yang akan turun pada umat Muhammad di Akhir zaman juga merupakan “Nabi” (Nabi dalam tanda petik), Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, menjelaskan bahwa karena Nabi Suci adalah Nabi terakhir dan Agama Islam telah sempurna, karena itu kata “Nabi” dalam Hadits itu harus ditafsirkan supaya tidak bertentangan dengan ayat Muhkammat yakni bahwa Nabi Suci itu merupakan Khataman Nabiyyin….dst
MA juga telah menjelaskan dan membuktikan tulisan-tulisan belilau tentang makna ‘nabi’ yang digunakan untuk Mesias yang dijanjikan silah kan klik disini
Seorang Nabi bukannya butuh pengakuan dari umat tapi butuh pengakuan dari Allah…
HMGA dipanggil Nabi oleh Allah
Anda mengomentari fatwa dari BMA tapi tidak mau mengomentari fatwa dari MMA tsb..
Padahal logikanya fatwa dari MMA lebih parah dari BMA
coba anda baca hadist ini:
dalam kitab Yanabi’ul Muwaddah
hal.448: Yg artinya :”Dari Hadhrat Zabir bin Abdullah r.a. bahwa
Rasulullah s.a.w. bersabda :”Barang siapa yg mengingkarinya keluarnya
(kedatangannya) Al Mahdi ,kufurlah ia kepada apa yg diturunkan kepada Muhammad s.a.w.”.
anda akan menyesatkan Rasulullah juga ?
Setiap Nabi pasti mempunyai umat yang kepadanya sang Umat harus ta’at kepada Nabi tersebut
“Dan tiada Kami mengutus seorang Utusan melainkan agar ia ditaati dengan izin Allah” (Qs 4:64). Dan Nabi itu adalah saksi terhadap umatnya:
Tetapi bagaimanakah nanti jika dari tiap-tiap umat Kami datangkan seorang saksi, dan Kami datangkan engkau sebagai saksi terhadap (umat) itu (Qs 4:41).
Kata Kufur yang digunakan oleh Baginda Rasul tidak harus diartikan seseorang itu keluar dari Islam. Dalam hal ini kata kafir hanya berarti bahwa dia menolak ramalah/nubuatan tentang kedatangan Al Mahdi sebagaimana yang di sabdakan/diramalkan oleh Nabi Suci. Nabi Suci diriwayatkan memberi peringatan kepada para sahabat:
“Ingat! Nanti sepeninggalku, janganlah kamu menjadi kafir (kuffar, jamaknya kata kafir), sehingga sebagian kamu memenggal leher sebagian yang lain” (Bu. 25:132).
Di sini perbuatan menyembelih orang Islam oleh orang Islam lainnya dikutuk sebagai perbuatan kufur. Hadits lain lagi berbunyi:
“Memaki-maki orang Islam itu durhaka (fasiq), dan membunuh orang Islam itu kufur” (Bu. 2:36).
Sekalipun dalam Hadits itu dinyatakan bahwa peperangan antara kaum Muslimin disebut kufur, dan kaum Muslimin yang saling bertempur itu disebut kafir, namun Qur’an menyebut dua golongan kaum Muslimin yang saling bertempur itu orang yang beriman (mu’min) (49:9).
Dari Awal kedatangan Nabi Suci, seseorang jika hendak masuk Islam, yang diperlukan adalah membaca 2 kalimah kesaksian:”Tiada Tuhan Selain ALlah, Muhammad Utusan ALlah, untuk itu bila seseorang ingin keluar dari Islam maka yang diperlukan adalah pengingkaran atas apa yang telah diucapkannya. Nabi SUci bersabda:
“Tiada hal yang dapat mengeluarkan seseorang dari iman, kecuali ia mengingkari apa yang membuat dia masuk dalam iman itu” (Rd. III, hal. 310). Imam Ahmad bin Mustafa juga berkata, bahwa hanya orang sinting sajalah yang menyebut orang lain: kafir, karena para Imam yang dapat dipercaya dari madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hambali dan Asy’ari, semuanya berpendapat bahwa kaum ahli kiblat tak dapat disebut kafir” (MD. I, hal. 46).
Kini menurut Qadiyani, 2 kalimah syahadat tidak lagi cukup untuk membuat seseorang menjadi muslim, melainkan dia tetap kafir dan diluar Islam, namun disisi lain Qadiyani tidak mau membuat 2 kalimah syahadat yang baru. Oh iya saat kapan Qadiyani menganggap HMGA itu Nabi, Apakah pada saat Shalat?, Bai’at? atau pada saat adzan?.
Bagaimana kalau yang datang adalah Nabi umati spt penjelasan referensi Lahore sendiri bahwa HMGA adalah Nabi umati?
Mengenai hadist kufur tsb
Coba baca lagi hadist tsb…
Rasulullah s.a.w. bersabda :”Barang siapa yg mengingkarinya keluarnya(kedatangannya) Al Mahdi ,kufurlah ia kepada apa yg diturunkan kepada Muhammad s.a.w.”.
Jika ia telah kufur kepada apa yang diturunkan kpd Muhammad saw apakah masih bisa di sebut Islam?
Bukankah itu artinya orang tsb sudah tidak percaya lagi kepada yang diturunkan kepada Muhammad saw
Jadi yang menyebabkan kufur itu ada dua macam yaitu keimanan dan perbuatan…
dan anehnya anda sama sekali tidak mau mengomentari fatwa MMA yang lebih “KERAS” beliau menyamakan orang-orang yang tidak percaya kepada kenabian HMGA sama dengan kaum kristian (diluar Islam)yang tidak mempercayai Nabi Muhammad saw
coba baca:
In the presence of promised Messiah as, Maulvi Muhammad Ali appeared as awitness on May 13, 1904. On being questioned by khwaja kamaludin , he said:
“Anyone who denies the truthfulness of a Prophet is a great liar, Mirza Sahib has claimed to be a Nabi. His followers believe him to be true in his claim and his opponenets conside him false. The Holy Prophet sa is true according to Muslims and false according to the Christians.
Masih belum puas coba baca An Nissa ayat 50-51?
kita dilarang membeda-bedakan nabi,
Mirza sahib has claimed to be a Nabi kata MMA
anda mau mencoba membantah Qur’an?
Mengenai saat kapan Qadian mengakui kenabian HMGA?
Pertanyaan sama saya tujukan kepada anda pada saat kapan anda menganggap Nabi Isa as itu Nabi yang benar? atau Adam as, atau Ibrahim as? atau yang lain-lainnya?
Atau pada saat kapan anda menganggap HMGA itu Muhadast
lucu pertanyaannya…
Mungkin bagi Mas Alif lucu, tapi bagi saya Iman Itu (menurut Imam Raghib) Ikrarur bil lisan tashdiqun bilqalbi wa ‘amalun bil-jawarih, yakni diucapkan melalui lisan, dibenarkan melalui hati, dan diamalkan melalui perbuatan. Contohnya saya beriman kepada Nabi Suci Muhammad saw, maka terucaplah Muhammadur Rasul Allah.
Mas Alif:
Naudzubillahi Min Dzalik?!!, apakah rukun iman kita juga berbeda?, apakah juga Qadiyani telah menciptakan rukun iman yang baru???. Yang saya tahu dalam Rukun Iman tersebut, beriman kepada Para Utusan -Nya yang ini juga banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan sebelum kami (tentunya juga dibaca pada saat Shalat. Dengan kata lain pertanyaan Mas saya jawab pada saat Umat Islam Shalat (saya tidak tahu apakah Qadiyani juga sama) mereka membaca Shalawat kepada Nabi Suci dan keluarganya, sebagaimana Shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Juga dalam Ikrarul bil lisan, Umat Islam sehari-hari pasti menyebut sebutan Adam dengan Nabi yakni Nabi Adam, Menyebut Isa dengan Nabi yakni Nabi Isa, menyebut Ibrahim dengan Nabi, yakni Nabi Ibrahim. Adakah Sekte Qadiyani menyebut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu dengan Nabi ?? atau Nabi Ghulam Ahmad misalnya???
Setiap saat saya menganggap HMGA itu Muhaddast, juga para Imam-Imam pada zamannya yang lainnya, seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Syekh Abdul Qadir Jailani, dsb. Dan karena tidak diperlukan dalam syari’at Islam bahwa beriman kepada mereka suatu keharusan untuk seseorang itu Muslim atau tidak, maka tidaklah tercipta suatu syahadat baru. Hal ini sangat berbeda dengan kedatangan seorang Nabi. Kedatangan nabi itu diperlukan suatu pengakuan keimanan kepada Nabi tersebut (Contoh dalam Islam adalah Syahadat yang di iringin dengan Rukun Iman, lalu rukun Islam).
Kepada Umat Muhammad Syahdatnya adalah
Asyhadualla Ila Ha Illa Allah
Wa Asyhadu anna MuhammadaRasul Allah
Kepada Umat Isa, Syahadatnya adalah
Asyhadualla Ila Ha Illa Allah
Wa Asyhadu anna Isa Rasul Allah
Nah bila Sekte Qadiyani itu meyakini HMGA sebagai Nabi, dan merupakan suatu keharusan bila seseorang itu ingin dianggap Islam oleh Sekte Qadiyani, maka dengan ini saya persilahkan untuk membuat Syahadat baru yang isinya adalah kesaksian bahwa HMGA adalah Rasu Allah. Silahkan …..
Bila tidak, maka pertanyaan yang sama saya ajukan kembali, yakni Saat kapan Qadiyani itu mengakui HMGA sebagai nabi ???
Mas Alif:
Sudah saya jelaskan berulang-ulang kali tentang arti Nabi yang dipergunakan untuk Al-Masih yang akan datang/ Masih Muhammadi, yang kesemua itu merujuk kepada Muhaddats.
Yang saya kurang percayai dari Literatur Sekte Qadiyan ini (tentang pernyataan MMA) adalah tidak adanya penjelasan HMGA (dalam buku Haqiatul Why) ucapan MMA ini. Hazrat Mirza merekam kejadian Pengadilan dalam buku Haqiqatul Wahyu dalam halaman 265-266 namun sama sekali tidak menuliskan ucapan MMA.
Yang ada adalah:
“After this, when we went into the court-room the attorney of the opposite
party asked me the question: ‘Is your rank and status as you have described it
in the book Tiryaq-ul-Qulub?’ I replied: Yes, by the grace of God this is the
status He has bestowed upon me.” 265-266 of Haqiqat-ul-Wahy (Ruhani Khaza’in, v. 22, p.277-278)
Nah kalau kita membaca buku Tiryaq-ul-Qulub jelas sekali pengakuan HMGA sebagai Muhaddats.
Mas Alif:
Yang menyebabkan perpecahan dalam umat Islam adalah mereka menjadikan Hadits diatas Quran. Mas Alif yang saya hormati, bila keimanan terhadap Al-Mahdi (begitu pula dengan Nuzulul Masih) itu penting (yang bisa menyebabkan seseorang keluar dari Islam) niscaya Allah akan memasukan itu dalam Qur’an Suci, Sebagaimana Ramalan tentang kedatangan Nabi Suci dalam kitab-kitab terdahulu merupakan suatu keharusan, maka nubuatan itu dibuat sejelas-jelasnya dalam kitab suci mereka (baca Muhammad in World Scriptures Jilid 1-3), sehingga dinyatakan bahwa Kaum Ahli Kitab mengenal Nabi Suci seperti mengenali anak-anak meeka sendiri:
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenal dia, seperti mereka mengenal anak mereka. Dan sesungguhnya segolongan mereka menyembunyikan kebenaran, sedangkan mereka tahu. (Qs 2:146)
Sehingga tidak ada alasan bagi kaum Ahli kitab untuk beriman kepada Nabi Suci Muhammad saw. Lain halnya dengan beriman kepada Al-Mahdi, Jangankan Qur’an Suci. Nubuatan kedatangan Al-Mahdi SAMA SEKALI tidak tercatat dalam Bukhari,Muslim. Saya rasa Mas Alif beserta Sekte Qadiyannya, cukup pintar untuk mengetahui perbedaan Quran SUci dan HAdits, dan juga kenapa dalam perawian nya terdapat tingkatan-tingkatan dimana yang paling unggul adalah Bukhari dan Muslim. Jadi bagaimana mungkin tidak tidak beriman kepada Al-Mahdi bisa menyebabkan seseorang keluar dari Islam??, adapun bila kita ingin menjadikan Hadits yang mas ALif sampaikan itu sebagai suatu kebenaran maka kita harus menafsifkan kata hadits itu sebagai orang yang menolak nubuatan kedatanan Al-Mahdi
Sebagaimana kata kafir yang diungkapkan dalam suatu hadits:
Nabi Suci diriwayatkan memberi peringatan kepada para sahabat:
“Ingat! Nanti sepeninggalku, janganlah kamu menjadi kafir (kuffar, jamaknya kata kafir), sehingga sebagian kamu memenggal leher sebagian yang lain” (Bu. 25:132).
Di sini perbuatan menyembelih orang Islam oleh orang Islam lainnya dikutuk sebagai perbuatan kufur. Hadits lain lagi berbunyi:
“Memaki-maki orang Islam itu durhaka (fasiq), dan membunuh orang Islam itu kufur” (Bu. 2:36).
Sekalipun dalam Hadits itu dinyatakan bahwa peperangan antara kaum Muslimin disebut kufur, dan kaum Muslimin yang saling bertempur itu disebut kafir, namun Qur’an menyebut dua golongan kaum Muslimin yang saling bertempur itu orang yang beriman (mu’min) (49:9).
Tentunya bila sekte Qadiyani menyatakan Hadits lebih unggul dari Qur’an Suci, maka akan rancu. Namun umat Islam lainnya menyatakan bahwa QUr’an Suci itu adalah sumber hukum yang pertama dimana Quran Suci bisa membatalkan penjelasan Hadits sekalipun Hadits itu dianggap Shahih oleh Ahli Hadits. Bila kita menjadikan QUran Suci sebagai acuan utama maka jelas sekali, kata Kafir disini bukan berarti keluar dari ISlam, Sebab Qur’an Suci tetap menyebut 2 golongan yang berseteru itu sebagai dua golongan kaum Muslimin
Maaf apakah saya berdiskusi dengan orang yang kurang tanggap? Maaf istilah sekarang TELMI, cape kan bolak-balik terus..
Anda bertanya kepada saya:
Saat kapan anda menganggap HMGA sbg Nabi? Apakah dlm sholat? Shahadat atau Baiat?
Saya jawab: pertanyaan tsb lucu..pertanyaan tsb sama dengan pertanyaan saat kapan anda menganggap Nabi Isa, nabi Adam, Ibrahim sbg Nabi?
Apakah ada yang salah dgn jawaban saya? Anda koq malah menuduh qadian berlainan rukun Iman? Berlainan sholatnya?
Manya saya bilang telmi..Maaf..
Alangkah dasyatnya fitnah anda tsb ! kalo sampai tulisan anda tsb dibaca orang kemudian menimbulkan fitnah yang mengakibatkan persekusi kepada ahmadi qadian apakah anda siap mempertanggung jawabkan kelak di akherat? Jawabannya simple koq..Tentu saja karena HMGA adalah utusan Allah maka qadiani memasukan keimanan kepada beliau kepada rukun Iman yaitu beriman kepada para Utusan Nya/Nabi-Nabi Nya?
Lalu setelah beriman kepadanya kemudian perbuatan nyatanya adalah Dgn berada di Nizam Khilafat Nubuwah berarti sampai saat ini saya/qadiani menganggap beliau sbg utusan Allah/Nabi Allah
gitu aja koq tidak mengerti…Entah kalo Lahore tidak menganggap beliau sbg Utusan Allah…
masih kurang jelas? Apakah pada saat sholat anda menyebut semua Nabi yang anda yakini tsb disebutkan (dilisankan)? ingat lho menurut HMGA : Budha Gautaman adalah Nabi, Kresna, Zoroaster, Khong Hucu adalah Nabi bahkan socrates adalah Nabi
nah pada saat kapan anda menyebuti beliau2 sbg Nabi? Apakah dlm sholat anda? Bisa anda jawab?
Jadi Tidak perlu dgn perbuatan atau dgn lisan untuk meyakini beliau-beliau sbg Nabi cukup dgn Iman yang kita yakini…
makanya pertanyaan anda: saat kapan qadiani menganggap beliau sbg Nabi? Adalah pertanyaan yang menggelikan….
Anda memaksa saya/qadiani untuk memanggil beliau dgn nabi Ghulam Ahmad..
Walaupun saya tidak berat untuk menyebut beliau Nabi Ahmad as karena Allah dan Muhammadpun memanggil beliau dgn kata-kata Nabi
Lalu apakah ada suruhan dlm Qur’an bahwa kita wajib menyebut seorang Nabi dgn kata-kata “Nabi” ?
kalao tidak ada kenapa anda bertanyaa demikian? Bukankah itu artinya menggelikan, maka saya bilang LUCU…
Silahkan cari ayatnya kalo anda masih memaksa saya dan qadiani dgn harus menyebut kata2 nabi tsb?
Kalo tidak ada maka anda telah mengada-ngada alias bid’ah
Mengenai syahadat:
Anda menyuruh Qadiani menyebut syahadat baru?
Saya ingin bertanya kepada anda..Apakah anda itu sudah menjadi Allah (Nauzubillah)? menyuruh orang bersyahadat lain? Pantas anda dipanggil demikian oleh Bp. Sujana di artikel lain.. Memerintahkan orang lain bersyahadat versi anda sendiri adalah menggelikan karena pendiri Ahmadiyah yaitu Imam Mahdi anda justru mengajak dan menyuruh orang lain untuk membaca 2 kalimah syahadat secara islam tsb. agar orang masuk Islam berbondong-bondong
eh anda malah menyuruh orang lain melepaskan syahadat Islam tsb..
DGn begitu apakah anda masih bisa dikatakan sbg pengikut HMGA sejati? aneh…
Oh ya bisakah anda memberikan referensi bahwa pernah ada syahadat:
“Kepada Umat Isa, Syahadatnya adalah
Asyhadualla Ila Ha Illa Allah
Wa Asyhadu anna Isa Rasul Allah ”
Coba buktikan bahwa sampai sekarang umat Isa diharuskan membaca syahadat tsb? Tanyakan coba sama mereka/Kristian atau yahudi apakah mereka disuruh bersyahadat demikian seperti kata anda…
Jika tidak ada maka anda sudah mengada-ngada alias Bid’ah….
dan bukankah anda mengimani semua Nabi-nabi yang 25 itu..nah apakah anda juga bersyahadat untuk mereka?
Mengenai Fatwa MMA tentang The great Liar…
di artikel lain anda mengakui bahwa MMA hanya menyebut the great liar untuk bla..bla..bla..(penjelasannya lihat sendiri)
tapi disini anda mencoba membantah bahwa penyebutan itu tidak ada dlm literatur…
mana yang benar? Mengapa anda koq plin-plan? Ada atau tidak? Jujur aja… Logikanya kalo tidak ada untuk apa anda mencoba membela diri dgn berbagai penjelasan? DGn begitu terbukti bahwa perkataan The great liar oleh MMA itu pernah ada !
Sekarang pertanyaan saya kepada anda..Lebih keras mana fatwa BMA atau fatwa MMA?
Mengenai Kenabian HMGA
Apakah referensi dari Lahore sendiri kurang jelas bagi anda bahwa HMGA should be called Prophet (dgn penjelasan yang sama dgn qadiani) lihat ref yang saya berikan sebelumnya merujuk kpd review religion thn 1903..disana tidak ditulis HMGA should be called Muhaddast..
masih mau mengelak? Aneh kepada referensi Lahore sendiri anda mencoba membantahnya…
Mengenai Kekufuran kepada Al Mahdi
Al Mahdi adalah utusan Allah, kita tidak boleh membeda-bedakan utusan Nya
entah kalo Lahore tidak menganggap beliau sbg utusan Allah…
Dlm Qur’an An Nissa 150-151 seseorang menjadi benar-benar kafir jika membeda-bedakan utusan Allah dan beriman hanya sebagian..
bahkan menurut hadist yg saya kutip: yang mengingkari Al Mahdi Kufur akan apa yang telah diturunkan kpd Muhammad saw
Jadi Qadiani merujuk kepada 2 Kitab sendiri..
Sekarang pertanyaan saya balik buat anda Lahore:
Jika anda tidak menganggap beliau sbg Utusan Allah, tidak adanya konsekwensi yang akan berakibat lain jika tidak beriman kepada Imam Mahdi anda tsb..Lalu untuk apa anda berbaiat kepadanya? Untuk apa anda mendirikan Ahmadiyah Lahore? Untuk apa anda mengenalkan HMGA di website-website anda tsb? Untuk apa anda menandai mesjid2 anda dgn tulisan Gerakan Ahmadiyah ? Lebih baik anda lepas saja atribut2 ahmadiyah anda tsb toh tidak ada gunanya..
orang mau beriman atau tidak beriman kepada HMGA, tidak ada konsekwensi apa-apa dari Allah…
Lalu Untuk apa Muhammad saw menyuruh umat Islam berbaiat kepadanya? Dan menunggu Imam Mahdi dan nabi Isa?
Apakah kita boleh mengabaikan perintah2 Muhammad saw tsb walaupun tidak tercantum dlm Qur’an?
Apakah dgn mengabaikan perintah2 Muhammad saw dan Qur’an masih bisa disebut Islam walaupun orang tsb telah bersyahadat? anda sendiri kan bilang bahwa keimanan harus lah diucapkan, dibenarkan dlm hati disertai perbuatan…
Nah jika anda berucap syahadat saja tanpa disertai keimanan dan perbuatan, artinya tidak menuruti apa2 yang diperintahkan ALlah dan Muhammd saw
apakah orang tsb bisa dikatakan Islam?
Lalu pertanyaan yang lainnya buat anda..
HMGA mengaku telah menerima wahyu Allah..
Apakah kepada wahyu Allah tsb yang disampaikan kepada kita lewat HMGA maka kita boleh abaikan?
Apakah tidak mengakibatkan konsekwensi apa-apa?
Tolong jawab !!!
Atau kalau anda masih mencoba berputar-putar terus
cukup 2 pertanyaan buat anda dan saya harapkan anda menjawab secara jujur?
APAKAH HMGA ITU ADALAH UTUSAN ALLAH ATAU BUKAN?
ATAU
APAKAH BENAR ALLAH TELAH MENGUTUS HMGA ?
Cukup anda jawab Ya atau bukan…
biar jelas.
Mas Alif:
Iya, Allah mengutus HMGA sebagai Mujaddid untuk memenangkan perkara Islam, sebagaimana Allah telah mengutus orang-orang Besar, Imamuz-zaman (imam pada zamannya) seperti Imam Syafi’i, Syekh Abdul Qadir Jaillani, dan para Mujaddid lainnya.
Mas Alif yang saya hormati
Dasar pemikiran saya cukup simpel dari zaman Nabi dahulu, setiap orang yang ingin masuk Islam, yang diperlukan adalah kesaksian 2 kalimah syahadat. Kini menurut Sekte Qadiyani 2 kalimat syahadat itu sudah tidak relevan lagi untuk seseorang supaya menjadi Islam, melainkan dia tetap kafir dan diluar Islam, sama kafirnya dengan Hindu dan Kristen bila menolak nabi barunya itu.
Kini bila memang 2 kalimat syahadat itu menurut sekte Qadiyani itu sudah tidak berlaku dan relevan lagi, maka saya persilahkan untuk membuat kalimah syahadat yang baru. Atau jangan-jangan sudah ada??,
Bagus…
Berarti anda setuju bahwa Allah telah mengutus HMGA..
nah selanjutnya adalah..
1. Jika HMGA utusan Allah, apakah manusia boleh menolak segala utusan Nya tersebut?
Anda masih menjalani rukun Iman? Rukun adalah wajib..
Kita wajib beriman kepada semua utusan Allah…
2. anda masih baca qur’an ?
coba baca ayat2 Qur’an apa kata qur’an jika kita menolak utusan Allah
anda mau membantah Qur’an?
3. Anda masih mengaku sbg umatnya Muhammad?
Jika ya apa kata hadist jika kita mengingkari Imam Mahdi?
Padahal Anda mengaku Islam tapi tidak menjalankan apa kata qur’an apa kata hadist karena Kalo anda masih mempersoalkan fatwa BMA berarti anda sama sekali tidak membaca qur’an dan menjalankan apa kata hadist…
jelas? fatwa BMA sejalan dgn Qur’an dan hadist…
Utusan Allah artinya dia ditunjuk oleh Allah sebagai utusan Nya untuk memberi peringatan atau khabar dari Allah..
Nah jika Imam Syafii dan para Mujadid lainnya menurut anda adalah utusan Allah berarti mereka mendapat otoritas dari Allah sbg utusan Nya
mengaku sbg utusan Allah?
Bisa anda berikan referensi dari mereka2 bahwa mereka benar2 mengaku sbg utusan Allah…
jangan ngarang !
Mengenai komentar anda agar qadiani membentuk syahadat baru, saya jawab : BENAR-BENAR MENGGELIKAN.
Alasanya coba baca lagi komentar saya diatasnya lagi….
kenapa komentar saya tsb tidak anda komentari ?
tidak bisa menjawab atau memang sudah bungkam..?
bukan itu saja anda sama sekali tidak bisa membuktikan bahwa pernah ada syahadat2 yang anda tulis….Seperti syahadat Isa, Ibrahim dll…
Jadi itu cuma karangan anda saja yang tidak bisa anda pertanggung jawabkan…
Tidak aneh kalo Lahore pintar mengarang…
Lha memang MMA jago ngarang koq..
Hehehe menggelikan..
Rasul yang saya gunakan disini adalah dalam arti istilah/etimologi (Kamus Arab) bukan dalam arti syari’at. HMGA menjelaskan:
“Risalat in Arabic lexicology means to be sent.” (Letter dated 17 August 1899; published in Al-Hakam, vol. iii, no. 29, August 1899)
Dalam arti Terminologi Islam, hal ini sangat berbeda:
1. “According to the explanation of the Holy Quran, rasul is he who receives the commands and beliefs of the religion through the angel Gabriel.” (Izala Auham, p. 534)
2. “It is part of the concept and essence of rasul that he receive religious knowledge through angel Gabriel.” (ibid., p. 614)
HMGA menolak arti Rasul dalam artian terminologi, namun menerima dalam artian istilah/kamus
1. “This humble one has never, at any time, made a claim of nubuwwat or risalat [prophethood or messengership] in the real sense. To use a word in a non-real sense, and to employ it in speech according to its broad, root meaning, does not imply heresy (kufr).” (Anjam Atham, footnote, p. 27)
2. “These words [i.e. nabi, rasul] do not bear their real meaning, but have been used according to their literal meaning in a straight-forward manner.” (Majmu‘a Ishtiharat, vol. i, p. 313)
3. “It is obvious that he who is sent by God is His envoy, and an envoy is called rasul in Arabic. And he who discloses news of the unseen received from God is called nabi in Arabic. The meanings in Islamic terminology are different. At this place, only the literal meaning is intended.” (Arba‘in, No. 2, footnote, p. 18)
Dan karena arti “rasul” itu hanya istilah saja, bukan dalam artian Terminologi, maka yang menginkari kerasulan jenis ini tidak bisa disebut kafir:
“The point is worth remembering that to call the denier of one’s claim as kafir is only the privilege of those prophets who bring a shariah and new commandments from God. But apart from possessors of shariah (sahib-i shariah), all the others who are muhaddas, no matter how high a rank they may have with God, and be exalted with the robe of Divine revelation, no one becomes a kafir by denying them.”
— Tiryaq al-Qulub, October 1902, p. 130, footnote.
Karena HMGA itu berada dalam kerasulan jenis ini maka HMGA menyatakan bahwa:
my belief from the beginning has been that no person becomes a kafir or antichrist by denying my claim. I do not apply the term kafir to any person who professes the Kalima (Tiryaq al-Qulub, published October 1902, pages 130-131)
Apakah Sekte Qadiyani itu menganggap Hadits lebih tinggi kedudukannya dari pada Qur’an Suci?, dalam Qur’an Suci dinyatakan bahwa Bila seorang Islam memberikan salam Islam tidak boleh kita sebut kafir
Dan janganlah kamu berkata kepada orang yang memberi salam kepada kamu: Engkau bukan orang mukmin (Qs 4:94)
Terlebih lagi dengan Imam Mahdi. Apakah nubuatan Imam Mahdi itu ada tersebut jelas dalam Kitab Suci Al-Qur’an?, jangankan QUr’an Suci. Bukhari dan Muslim, dua kitab paling Sahih menganggap hadits-hadits yang berkenaan dengan Imam Mahdi itu adalah lemah. Saya bukannya mengingkari kedatangan Mahdi, namun yang saya tolak adalah, seseorang tidak bisa menjadi Kafir dan diluar Islam hanya karena menolak Mahdi, dan kita juga tidak bisa menyebut seseorang itu kafir dan diluar Islam berdasarkan Hadits, terlebih lagi hadits ini dianggap lemah oleh Bukhari dan Muslim
Mas Alif:
Kedatangan seorang Nabi butuh pengakuan dari umatnya. Menurut mas Alif sendiri, bila kedatangan seorang Nabi, lalu seseorang yang ingin dianggap sebagai umat nabi itu bagaimana caranya? Menurut (menurut Imam Raghib) Ikrarur bil lisan tashdiqun bilqalbi wa ‘amalun bil-jawarih, yakni di ikrarkan dengan lisan, di benarkan oleh Hati dan diamalkan. Nah menurut Mas Alif sendiri apa bentuk “ikrar dengan lisan” bila kita meyakini seseorang itu sebagai utusan Allah??.
HMGA menjelaskan:
“If a person makes a claim to nubuwwat, it is necessary in that claim that … he form a religious nation (ummah) which considers him to be a nabi and regards his book as the book of God.” (Ainah Kamalat Islam, p. 344).
Nah menurut Mas Alif sendiri, apa bentuk ucapannyanya (ikrarul bil lisannya) bila ummat menganggap seseorang itu nabi?.
Quran menjelaskan tentang Syahadat umat terdahulu, seperti umatnya Nabi Isa as.
Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang Engkau wahyukan, dan kami mengikuti Utusan, maka tulislah kami beserta orang yang menyaksikan. (3:53)
Nah perhatikan kalimat “maka tulislah kami beserta orang yang menyaksikan” bahasa Qurannya menyebutkan : Faktubna ma’asyahiddin bisa juga kita artikan, maka tulislah kami beserta orang-orang yang telah bersyahadat. Apa bentuk syahadat Nabi Isa as?, Injil menyebutkan:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh 17:3)
Nah, kini Sekte Qadiyani menganggap bahwa HMGA itu adalah Nabi dan Rasul dalam artian HAKIKI, dan umat Islam yang telah bersyahadat adalah kafir dan diluar Islam, sama kafirnya dengan umat Kristen dan Yahudi. Kini meurut sekte Qadiyani dua kalimat Syahadat itu tidak lagi cukup untuk membuat orang itu Islam, melainkan dia tetap kafir dan diluar Islam, karena itu saya persilahkan Sekte Qadiyani itu membuat syahadat (kesaksian) baru yang membuat seseorang itu dianggap muslim oleh Sekte Qadiyani. Bila tidak maka tidak ada alasan untuk mengikuti BMA dengan menganggap 2 kalimat Syahadat tidak lagi cukup untuk membuat seseorang itu Muslim.
Mas Erwan:
Karena HMGA itu berada dalam kerasulan jenis ini maka HMGA menyatakan bahwa:
my belief from the beginning has been that no person becomes a kafir or antichrist by denying my claim. I do not apply the term kafir to any person who professes the Kalima (Tiryaq al-Qulub, published October 1902, pages 130-131)
Saya jawab:
Lalu kenapa MMA mengatakan THE GREAT LIAR kepada Orang yang menolak HMGA?
Lupa ya…
————————-
Mas erwan:
Apakah Sekte Qadiyani itu menganggap Hadits lebih tinggi kedudukannya dari pada Qur’an Suci?, dalam Qur’an Suci dinyatakan bahwa Bila seorang Islam memberikan salam Islam tidak boleh kita sebut kafir
Dan janganlah kamu berkata kepada orang yang memberi salam kepada kamu: Engkau bukan orang mukmin (Qs 4:94)
Terlebih lagi dengan Imam Mahdi. Apakah nubuatan Imam Mahdi itu ada tersebut jelas dalam Kitab Suci Al-Qur’an?, jangankan QUr’an Suci. Bukhari dan Muslim, dua kitab paling Sahih menganggap hadits-hadits yang berkenaan dengan Imam Mahdi itu adalah lemah. Saya bukannya mengingkari kedatangan Mahdi, namun yang saya tolak adalah, seseorang tidak bisa menjadi Kafir dan diluar Islam hanya karena menolak Mahdi, dan kita juga tidak bisa menyebut seseorang itu kafir dan diluar Islam berdasarkan Hadits, terlebih lagi hadits ini dianggap lemah oleh Bukhari dan Muslim
Saya jawab:
Logika saja mas..kalao hadist mengenai Imam Mahdi itu lemah kenapa anda mempercayai Imam Mahdi kepada HMGA terlepas dari kafir tidaknya seseorang.
Aneh sekali jika anda mengatakan semua Hadist Imam Mahdi adalah lemah tapi anda beriman kepada HMGA sbg Imam Mahdi…
berdasarkan apa anda mempercayai adanya Imam mahdi?
Aneh sekali pernyataan anda tsb…makin tidak jelas pemahaman anda…
Menurut Hadist yang saya percaya Seseorang yang menolak Imam Mahdi adalah kufur..Jelas…?
Anda menjawab HMGA adalah utusan Allah, saya berkali-kali tanyakan kepada anda Apa konsekwensi seseorang yang menolak utusan Allah? Anda tidak mau menjawab Cuma ngeyel terus..
———–
Mas erwan:
Kedatangan seorang Nabi butuh pengakuan dari umatnya. Menurut mas Alif sendiri, bila kedatangan seorang Nabi, lalu seseorang yang ingin dianggap sebagai umat nabi itu bagaimana caranya? Menurut (menurut Imam Raghib) Ikrarur bil lisan tashdiqun bilqalbi wa ‘amalun bil-jawarih, yakni di ikrarkan dengan lisan, di benarkan oleh Hati dan diamalkan. Nah menurut Mas Alif sendiri apa bentuk “ikrar dengan lisan” bila kita meyakini seseorang itu sebagai utusan Allah??.
HMGA menjelaskan:
“If a person makes a claim to nubuwwat, it is necessary in that claim that … he form a religious nation (ummah) which considers him to be a nabi and regards his book as the book of God.” (Ainah Kamalat Islam, p. 344).
Nah menurut Mas Alif sendiri, apa bentuk ucapannyanya (ikrarul bil lisannya) bila ummat menganggap seseorang itu nabi?.
Quran menjelaskan tentang Syahadat umat terdahulu, seperti umatnya Nabi Isa as.
Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang Engkau wahyukan, dan kami mengikuti Utusan, maka tulislah kami beserta orang yang menyaksikan. (3:53)
Nah perhatikan kalimat “maka tulislah kami beserta orang yang menyaksikan” bahasa Qurannya menyebutkan : Faktubna ma’asyahiddin bisa juga kita artikan, maka tulislah kami beserta orang-orang yang telah bersyahadat. Apa bentuk syahadat Nabi Isa as?, Injil menyebutkan:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh 17:3)
Saya jawab:
Bolak-balik terus nih…
Umat yang mana yang anda maksudkan..? Berkali-kali saya bilang bahwa HMGA adalah nabi umati sesuai pengakuan beliau, dan anda sendiri pun mengakuinya walaupun dlm berbagai dalih ..
Lalu kenapa timbul pertanyaan anda tsb?
Nah Anda meyakini Nabi Adam adalah nabi bukan?, lalu apa syahadat anda untuk menyatakan bahwa beliau adalah Nabi?
Aneh dan Menggelikan logika anda tsb….
———
Mas erwan:
Nah, kini Sekte Qadiyani menganggap bahwa HMGA itu adalah Nabi dan Rasul dalam artian HAKIKI, dan umat Islam yang telah bersyahadat adalah kafir dan diluar Islam, sama kafirnya dengan umat Kristen dan Yahudi. Kini meurut sekte Qadiyani dua kalimat Syahadat itu tidak lagi cukup untuk membuat orang itu Islam, melainkan dia tetap kafir dan diluar Islam, karena itu saya persilahkan Sekte Qadiyani itu membuat syahadat (kesaksian) baru yang membuat seseorang itu dianggap muslim oleh Sekte Qadiyani. Bila tidak maka tidak ada alasan untuk mengikuti BMA dengan menganggap 2 kalimat Syahadat tidak lagi cukup untuk membuat seseorang itu Muslim.
Saya jawab:
baiklah karena anda ngeyel terus dgn pertanyaan bodoh tsb…
Saking ngeyelnya sampai salah tulis….
Sekali lagi saya terangkan:
Anda mengakui bahwa HMGA adalah utusan Allah dan sbg Imam Mahdi
MMA mengakui bahwa HMGA mengkalim sbg Prophet (Nabi) dan yang menolaknya adalah The great Liar..(referensi suda saya berikan !)
Qur’an mengatakan bahwa menolak utusan Allah adalah kafir sebenar-benarnya walaupun sebagain utusan diimani…
Hadist Nabi mengatakan bahwa yang menolak Imam Mahdi adalah kufur,
Jadi fatwa BMA tidak sembarangan mas menuruti Qur’an dan hadist, fatwa MMA bahkan lebih keras lagi…
Lalu apa hak anda menyuruh kami bersyahadat lain?
Sungguh Ironis Lahore yang katanya murid sejati HMGA malah menyuruh orang lain bersyahadat diluar Islam padahal HMGA berusaha mengajak orang-orang bersyahadat Islam…
Pertanyaan sama buat anda ! Kalo anda merasa cukup dgn syahadat anda lalu untuk apa anda membentuk Ahmadiyah Lahore dan mengenal-ngenalkan Imam Mahdi anda kepada orang2 lain agar berbaiat kepada presiden anda..(Mana ada dlm Literatur Islam seorang presiden mengambil baiat?
baiat kepada siapa? Memangnya ada pengganti HMGA dlm tubuh Lahore?
Katanya tidak ada khalifah/penerus HMGA tapi koq…ada sistim baiat? Baiat kepada siapa mas lha HMGA sudah wafat koq…Aneh kan? }
Lebih baik anda tanggalkan semua atribut Ahmadiyah..toh anda sama saja dgn ghair..
Apa perlunya bertabligh kepada orang lain bahwa HMGA adalah Imam mahdi
kalo anda sendiri tidak mengakui hadist2 kedatangan Imam Mahdi
Akan banyak persoalan yang tidak akan pernah anda jawab..
karena banyak hal yang saling bertolak belakang….
Makanya lebih baik lepaskan atribut Ahmadi dlm tubuh Lahore daripada banyak kontroversi dlm pemahaman nanti karena berada ditengah2 artinya tidak ke ghair dan tidak juga ke Ahmadiyah
Kalau ghairkan jelas mereka sama sekali tidak mengakui HMGA….
Mas Erwan:
1. Apakah Mas Alif punya bukti bahwa Khulafaur Rasyidin itu ada yang mengatakan bahwa dirinya diangkat oleh Allah?
Saya jawab:
Pantas saja anda tidak mengakui kekhalifahan Masih II diangkat oleh Tuhan
Lha kepada Khulafaur Rasyidin yang jelas2 artinya khalifah yang mendapat petunjuk dari Allah saja anda tidak mengakuinya….
Abu Bakar r.a., khalifah pertama dlm riwayat pernah berkata:
Tuhan telah mengangkatku menjadi khalifah di antara kamu supaya aku menggalang kesatuan persaudaraan di antara kamu dan menegakkan kelestarian iman.
Utsman r.a., Menurut riwayat, beliau pernah berbicara di muka suatu majlis sebagai berikut:
Dan kemudian Tuhan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, dan demi Allah aku tidak pernah mendurhakai beliau, juga tidak pernah menipu beliau (Bukhari, Kitabul Hirat-ul-Hasya).
Aku tidak akan berpisah dari jubah khilafat yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku (Tabari, jilid V, hlm. 121).
Demikian juga Umar ra dan Ali ra dlm riwayat pernah mengaku sbg Khalifah pilihan Tuhan.
———
Mas Erwan:
2. Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu (24:55), apakah kata-kata diantara kamu ini merujuk kepada orang yang beriman kepada Nabi Suci Muhammad atau kepada orang yang beriman kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad?
Saya jawab:
Tentu saja kepada orang-orang yang beriman baik kepada Nabi suci maupun kepada HMGA
Memangnya boleh kita membeda-bedakan utusan Allah? Anda tahu konsekwensi orang yang beriman kepada sebagian utusan Allah dan tidak beriman kpd yang sebagian lagi?
——————————–
Mas Erwan:
3. Apakah nubuatan pada ayat tsb (24:55) -tentang tegaknya kekhalifahan itu- merujuk kepada kekhalifahan Nabi Suci atau kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad?
Saya jawab:
Dua-duanya, karena ada nubuatan Nabi yang mengatakan adanya khalifah kenabian dlm 2 masa, Masa awal dan akhir zaman…
——————-
Mas Erwan:
4. Apakah Khalifah Sekte Qadiyani itu Khalifah Masih Mau’ud atau Khalifah Nabi Suci Muhammad saw?
Saya jawab:
Kekhalifahan Masih Mauud sesuai sabda Nabi akan adanya kekhalifahan yang mengikuti kenabian…
Pertanyaan menggelikan, MMA sendiri dan anda mengakui kekhalifahan Nuruddin walaupun malu-malu..apakah Nuruddin itu khalifah Muhammad atau khalifatul Masih Maud?
———————————
Mas Erwan:
Karena bagi saya jelas sekali dan seluruh umat Islam melihat ayat itu (24:55) sebagai janji Tuhan untuk tegaknya kekhalifahan Islam, bukan kekhalifahan Sekte Qadiyani. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pun mengatakan bahwa Kekhalifahan Nabi Suci itu adalah para Muhaddats dan Mujaddid:
Saya jawab:
Memang benar HMGA mengatakan bahwa semenjak tidak adanya kekhalifahan yang khulafaur Rasyidin maka sebagai gantinya adalah kedatangan para mujadid
Namun setelah kedatangan dirinya maka diteruskan lagi oleh para khalifah. Dan hal itu sesuai dgn sabda Nabi suci..
Buktinya beliau mengangkat Nuruddin sbg Khalifahnya…
Anda dan guru master anda sendiri MMA mengaku Nuruddin sbg khalifah..pertanyaan sama kpd anda khalifah Nuruddin kalifahnya siapa?
Gitu aja koq ditanyain…lupa ya kalo MMA mengakui kekhalifahan Nuruddin…bahkan MMA baiat kepada nya, pertanyaan menggelikan.
———–
Mas Erwan:
Setalah penjelasan oleh HMGA itu sendiri, bila Mas Alif beserta sekte Qadiyannya masih bandel juga, hal ini membuktikan bahwa Sekte Qadiyani itu tidak lagi mendengar ucapan HMGA melainkan taklid kepada Bashiruddin Mahmud Ahmad
Saya jawab:
Logikanya BMA hanya meneruskan khalifah Nuruddin yang diangkat oleh HMGA
Kalo MMA mengakui khalifah Nuruddin..
terus kenapa kepada BMA tidak mau mengakui?
————
Mas Erwan:
Allah memberikan usia yang lebih panjang kepada BMA adalah supaya BMA itu bertaubat, namun ketika tindakannya semakin menjadi-jadi, yakni ketika dia mendakwakah dirinya sebagai Muslih Mau’ud pada 28 januari 1944 ternyata tidak sampai 23 tahun yakni tepatnya November 1965, dia wafat. Sebelumnya tahun 1954 lehernya di tusuh hal ini membuktikan tepatnya surat Surat Al Haqqah (69:44-47) itu, yakni barang siapa yang berdusta atas nama Tuhan maka Tuhan akan memotong batang nadinya.
Kisah Paulusnya Masih Mau’ud ini merupakan pengulangan dengan Paulusnya Masih Israel, dimana pada tahun 70 M dia lehernya disembelih oleh Jenderal Nero. Dan hingga kini pengikut Jemaat Pauluspun masih eksis bahkan merupakan agama mayoritas, namun tetap tidak bisa kita anggap bahwa agama kristen itu benar. Dan sedikitnya jumlah Hawariyyin (Murid sejati Nabi Isa as.) juga tidak bisa kita bilang bahwa mereka adalah salah
Saya jawab:
Bukan main…kepada ayat2 qur’an saja anda membantah coba baca ayat yang anda sodorkan bukankah sudah jelas bahwa Allah akan Memotong urat Nadinya (dibinasakan)
bukannya dipanjangkan umurnya jika mengaku-ngaku mendapat wahyu/ilham dari Allah
Sebelum mengaku sbg muslih Mauud BMA telah sering mengaku mendapat Ilham dari Allah dan semenjak pengakuannya tsb BMA telah melewati masa 23 tahun bahkan lebih…
Apakah dgn ditusuk lehernya tsb kemudian batang nadi beliau terpotong?
Buktinya beliau masih hidup bahkan kemudian bisa menyelesaikan tafsir qur’an..
Justru kalau anda memakai hujah ditusuknya leher tsb untuk membuktikan BMA tidak benar berarti anda tidak mempercayai qur’an sbg pedoman hidup..
seolah-olah Allah gagal dlm pemutusan urat Nadinya tsb karena BMA masih hidup bahkan sehat2 saja setelah penusukan tsb padahal dlm ayat tsb tidak ada seorangpun yang bisa menolong…masih ngeyel coba baca ayat2 selanjutnya dari ayat tsb…
Masalah banyaknya anggota qadian dibandingkan lahore janganlah anda menyamakan dgn kaum kristen yang banyak mas…
masalahnya karena HMGA mendapat wahyu akan tersebarnya tablighnya ke seluruh dunia…bahkan raja-raja mendapat berkahnya…
dgn begitu justru lewat Qadian lah terjadinya pemenuhan wahyu tsb..kalao lewat Lahore maka bisa dikatakan wahyu HMGA tsb belum terpenuhi..
Mengenai anda sbg kaum hawariyin, persis sekali yang anda katakan tsb…
Ketika terjadi penyaliban Nabi Isa kaum hawariyyin lari menyelematkan diri mereka sendiri bahkan banyak yang murtad begitu juga ketika Ahmadiyah mendapat tekanan dari sana-sini maka Lahore lari menyelamatkan diri dgn mengubah seluruh ajaran HMGA (murtad) agar tidak mendapatkan tekanan dan mereka membentuk jemaah baru
————————
Mas Erwan:
Iya sebagaimana para Nabi dibangkitkan oleh Allah, maka para Muhaddats dan Mujadid yang merupakan Khalifah Nabi Suci, juga dibangkitkan oleh Nabi (Diangkat oleh Nabi). Namun hal ini berbeda dengan Sekte Qadiyani, yang jelas-jelas Khalifahnya diangkat oleh manusia.
Saya jawab:
Lalu bagaimana dgn Khalifah Nuruddin..Lupa ya…hehe
makin kacau saja pemahamannya…satu-satunya jalan biar klop kenapa anda tidak mengakui Nuruddin saja sih sekalian..biar kloplah gitu…itu mungkin yang MMA lupa ajarkan kepada murid2nya…
————-
Mas Erwan:
Apa sih mas arti Khalifah itu??. Dalam artian tertentu kami bisa memahami penggunaan istilah Khalifah (Klik). Namun yang kita tolak adalah Khalifah yang diaku-aku oleh Sekte Qadiyani yakni sebagai pengejawantahan surat 24:55 tersebut. Karena jelas sekali dalam buku Syahadatul Quran, HMGA menyatakan bahwa surat 24:55 itu merupakan kesinambungan Khalifah Nabi Suci yang dijanjika