Murtad Dalam Islam

Oleh: Maulana Muhammad Ali

 [Benarkah hukuman Murtad dalam Islam adalah halal darahnya? Bukankah Tak ada paksaan dalam Agama Islam, berikut ini kami sajikan artikel dari Islamologi untuk menghilangkan kesalah-pahaman bahwa Islam adalah agama kekerasan agama intoleransi serta agama yang brutal. Untuk melengkapi pengetahuan tentang masalah ini ada baiknya juga membaca artikel: Jihad dan Jizyah ]

Kata murtad berasal dari kata irtadda menurut wazan ifta’ala, berasal dari kata radda yang artinya: berbalik. Kata riddah dan irtidad dua-duanya berarti kembali kepada jalan, dari mana orang datang semula. Tetapi kata Riddah khusus digunakan dalam arti kembali pada kekafiran, sedang kata irtidad digunakan dalam arti itu, tapi juga digunakan untuk arti yang lain (R), dan orang yang kembali dari Islam pada kekafiran, disebut murtad. Banyak sekali terjadi salah paham terhadap masalah murtad ini, sama seperti halnya masalah jihad. Pada umumnya, baik golongan Muslim maupun non-Muslim, semuanya mempunyai dugaan, bahwa menurut Islam, kata mereka, orang murtad harus dihukum mati. Jika Islam tak mengizinkan orang harus dibunuh karena alasan agama, dan hal ini telah diterangkan di muka sebagai prinsip dasar Islam, maka tidaklah menjadi soal tentang kekafiran seseorang, baik itu terjadi setelah orang memeluk Islam ataupun tidak. Oleh sebab itu, sepanjang mengenai kesucian nyawa seseorang, kafir dan murtad itu tak ada bedanya.

Persoalan murtad menurut Qur’an

Qur’an Suci adalah sumber syari’at Islam yang paling utama; oleh sebab itu akan kami dahulukan. Soal pertama, dalam Qur’an tak ada satu ayat pun yang membicaraan perihal murtad secara kesimpulan. Irtidad atau perbuatan murtad yang terjadi karena menyatakan diri sebagai orang kafir atau terang-terangan mengingkari Islam, ini tak dapat dijadikan patokan, karena adakalanya orang yang sudah mengaku Islam, mempunyai pendapat atau melakukan perbuatan yang menurut penilaian ulama ahli fiqih, bukanlah bersumber kepada Islam. Mencaci-maki seorang Nabi atau menghina Qur’an, acapkali dijadikan alasan untuk memperlakukan seseorang sebagai orang murtad, sekalipun ia secara sungguh-sungguh mengaku sebagai orang beriman kepada Qur’an dan Nabi. Soal kedua, pengertian umum bahwa Islam menghukum mati orang murtad, ini tak ada dalilnya dalam Qur’an Suci. Dalam Encyclopaedia of Islam, tuan Heffeming mengawali tulisannya tentang masalah murtad dengan kata-kata: “Dalam Qur’an, ancaman hukuman terhadap orang yang murtad hanya akan dilakukan di Akhirat saja”. Dalam salah satu wahyu Makkiyah terakhir, terdapat uraian: “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah beriman -bukannya ia dipaksa, sedang hatinya merasa tentram dengan iman, melainkan orang yang membuka dadanya untuk kekafiran-, mereka akan ditimpa kutuk Allah, dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (16:106). Dari ayat ini terang sekali bahwa orang murtad akan mendapat siksaan di Akhirat, dan hal ini tak diubah oleh wahyu yang diturunkan belakangan tatkala pemerintah Islam telah berdiri, setelah Nabi Suci hijrah ke Madinah. Dalam salah satu wahyu Madaniyah permulaan, orang murtad dibicarakan sehubungan dengan berkobarnya pertempuran yang dilancarkan oleh kaum kafir dengan tujuan untuk memurtadkan kaum Muslimin dengan kekuatan senjata: Dan mereka tak akan berhenti memerangi kamu sampai mereka mengembalikan kamu dari agama kamu, jika mereka dapat. Dan barangsiapa di antara kamu berbalik dari agamanya (yartadda) lalu ia mati selagi ia kafir, ini adalah orang yang sia-sia amalnya di dunia dan di Akhirat. Dan mereka adalah kawan api, mereka menetap di sana (2:217).[1] Maka apabila orang menjadi murtad, ia akan dihukum karena ia kembali mengerjakan perbuatan jahat lagi, tetapi ia tidaklah dihukum di dunia, melainkan di Akhirat. Adapun perbuatan baik yang ia lakukan selama menjadi Muslim, menjadi sia-sia karena ia mengambil jalan buruk dalam hidupnya.

Surat ketiga yang diturunkan pada tahun ketiga Hijriah, membicarakan berulangkali orang yang kembali kepada kekafiran setelah mereka memeluk Islam, namun hukuman yang diuraikan di dalam Surat tersebut akan diberikan di Akhirat. Qur’an berfirman: “Bagaimana Allah memimpin kaum yang kafir sesudah mereka beriman, dan sesudah mereka menyaksikan bahwa Rasul itu benar; dan sesudah datang kepada mereka tanda-bukti yang terang (3:85). “Pembalasan mereka ialah, mereka akan ditimpa laknat Allah (3:86). “Terkecuali mereka yang bertobat sesudah itu, dan memperbaiki kelakuan mereka” (3:88). “Sesungguhnya orang yang kafir sesudah mereka beriman, lalu mereka bertambah kafir, tobat mereka tak akan diterima (3:89).

Adapun dalil yang paling meyakinkan bahwa orang murtad tidak dihukum mati, ini tercantum dalam rencana kaum Yahudi yang diangan-angankan selagi mereka hidup di bawah pemerintahan Islam di Madinah. Qur’an berfirman: “Dan golongan kaum Ahli Kitab berkata: Berimanlah kepada apa yang diturunkan kepada arang-orang yang beriman pada bagian permulaan hari itu, dan kafirlah pada bagian terakhir hari itu” (3:71). Bagaimana mungkin orang yang hidup di bawah pemerintahan Islam dapat meng-angan-angankan rencana semacam itu yang amat merendahkan martabat Islam, jika perbuatan murtad harus dihukum mati? Surat al-Maidah adalah Surat yang diturunkan menjelang akhir hidup Nabi Suci, namun dalam Surat itu perbuatan murtad dibebaskan dari segala hukuman dunia: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada-Nya (5:54). Sepanjang mengenai Qur’an Suci, tak ada satu ayat pun yang menerangkan bahwa orang murtad harus dihukum mati, bahkan ayat yang membicarakan perbuatan murtad tak membenarkan adanya hukuman semacam itu, dan tak dibenarkan pula oleh ayat 2:256 yang ini merupakan Magna Charta bagi kemerdekaan beragama yang berbunyi: “laa ikraha fiddiin – Tak ada paksaan dalam agama.

Persoalan murtad menurut Hadits

Marilah kita sekarang meninjau uraian Hadits, yang dalil Hadits inilah yang dipakai oleh kitab-kitab fiqih sebagai dasar adanya hukuman mati bagi kaum murtad. Tak sangsi lagi bahwa uraian Hadits yang bersangkutan mencerminkan uraian yang timbul belakangan, namun demikian, jika Hadits itu kita pelajari dengan teliti, sampailah pada kesimpulan, bahwa perbuatan murtad tidaklah dihukum, terkecuali apabila perbuatan murtad itu dibarengi dengan peristiwa lain yang menuntut suatu hukuman bagi pelakunya. Imam Bukhari yang tak sangsi lagi merupakan penulis Hadits yang paling teliti dan paling hati-hati, amatlah tegas dalam hal ini. Dalam Kitab Bukhari terdapat dua bab yang membahas masalah murtad; yang satu berbunyi: Kitabul-muharibin min ahlil-kufri wariddah, artinya Kitab tentang orang yang berperang (melawan kaum Muslim) dari golongan kaum kafir dan kaum murtad. Adapun yang satu lagi berbunyi: Kitab istita-bal-mu’anidin wal-murtadin wa qitalihim, artinya Kitab tentang seruan bertobat bagi musuh dan kaum murtad dan berperang melawan mereka. Dua judul itu sudah menjelaskan sendiri. Judul yang pertama, menerangkan seterang-terangnya bahwa yang dibicarakan hanyalah kaum murtad yang berperang melawan kaum Muslimin. Adapun judul yang kedua, hubungan kaum murtad dengan musuh-musuh Islam. Itulah yang sebenarnya menjadi pokok dasar seluruh persoalan; hanya karena salah paham sajalah maka dirumuskan suatu ajaran yang bertentangan dengan ajaran Qur’an yang terang-benderang. Pada waktu berkobarnya pertempuran antara kaum Muslimin dengan kaum kafir, kerapkali terjadi orang menjadi murtad dan bergabung dengan musuh untuk memerangi kaum Muslimin. Sudah tentu orang semacam itulah yang harus diperlakukan sebagai musuh, bukan karena murtadnya, melainkan karena berpihak kepada musuh. Lalu ada pula kabilah yang tak berperang dengan kaum Muslimin dan apabila ada orang murtad dan bergabung dengan mereka, orang tersebut tak diapa-apakan. Orang semacam itu disebut seterang-terangnya dalam Qur’an Suci: “Terkecuali orang-orang yang bergabung dengan kaum yang mempunyai ikatan perjanjian antara kamu dan mereka, atau orang-orang yang datang kepada kamu sedangkan hati mereka mengerut karena takut memerangi kamu atau memerangi golongan mereka sendiri. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia beri kekuatan kepada mereka melebihi kamu, sehingga mereka berani memerangi kamu. Lalu jika mereka mengundurkan diri dari kamu, dan tak memerangi kamu,dan menawarkan perdamaian kepada kamu, maka Allah tak memberi jalan kepada kamu untuk melawan mereka (4:90).

Satu-satunya peristiwa yang disebutkan dalam Hadits sahih mengenai pemberian hukuman kepada kaum murtad ialah peristiwa segolongan orang dari kabilah ‘Ukul yang memeluk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, tetapi mereka tak merasa cocok dengan udara di Madinah, maka dari itu Nabi Suci menyuruh mereka supaya tinggal di suatu tempat di luar Madinah, yang di sana dipelihara unta perahan milik pemerintah, sehingga mereka dapat menikmati udara terbuka dan minum susu. Mereka menjadi sehat sekali, tetapi kemudian mereka membunuh penjaganya dan membawa lari untanya. Kejadian itu dilaporkan kepada Nabi Suci, lalu sepasukan tentara diperintah untuk mengejar mereka, dan mereka dihukum mati (Bu. 56:152).[2] Riwayat itu terang sekali bahwa bukan dihukum mati karena murtad, melainkan karena membunuh si penjaga unta.

Banyak sekali orang yang hanya menekankan satu Hadits yang berbunyi: “Barangsiapa murtad dari agamanya. Bunuhlah dia” (Bu. 88:1). Tetapi mengingat apa yang diungkapkan dalam Kitab Bukhari bahwa yang dimaksud murtad ialah orang yang berbalik memerangi kaum Muslimin, dan menghubungkan nama mereka dengan nama-nama musuh Islam, maka terang sekali bahwa yang dimaksud oleh Hadits tersebut ialah orang yang mengubah agamanya dan bergabung dengan musuh-musuh Islam lalu bertempur melawan kaum Muslimin. Hanya dengan pembatasan dalam arti itulah, maka Hadits tersebut dapat disesuaikan dengan Hadits lain, atau dengan prinsip-prinsip yang digariskan oleh Qur’an Suci. Sebenarnya, kata-kata Hadits tersebut begitu luas sehingga mencakup segala pergantian agama, agama apa saja. Jika demikian, maka orang non-Muslim yang masuk Islam, atau orang Yahudi yang masuk Kristen, harus dibunuh. Terang sekali bahwa uraian semacam itu tak dapat dilakukan kepada Nabi Suci. Maka Hadits tersebut tak dapat diterima begitu saja tanpa diberi pembatasan dalam artinya.

Hadits lain yang membicarakan pokok persoalan yang sama menjelaskan arti Hadits tersebut di atas. Hadits ini menerangkan bahwa orang Islam hanya boleh dibunuh dalam tiga hal, antara lain disebabkan “ia meninggalkan agamanya, dan meninggalkan masyarakat (attariku lil-jama’ah)” (Bu. 88:6). Menurut versi lain berbunyi: “orang yng memisahkan diri (al-mufariq) dari masyarakat”. Terang sekali bahwa yang dimaksud memisahkan diri dari atau meninggalkan masyarakat, yang dalam Hadits itu ditambahkan sebagai syarat mutlak, ialah bahwa ia meninggalkan kaum Muslimin dan bergabung dengan musuh. Dengan demikian, kata-kata Hadits itu bertalian dengan waktu perang. Jadi perbuatan yang dihukum mati itu bukan disebabkan mengubah agamanya, melainkan desersi.

Dalam Kitab Bukhari tercantum pula satu contoh yang sederhana tentang perbuatan murtad: “Seorang Arab dari padang pasir menghadap Nabi Suci untuk memeluk Islam di bawah tangan beliau. Selagi ia masih di Madinah, ia diserang penyakit demam, maka dari itu ia menghadap Nabi Suci dan berkata: Kembalikan bai’atku, Nabi Suci menolaknya, lalu ia menghadap lagi dan berkata: Kembalikan bai’atku, Nabi Suci pun menolaknya, lalu ia pergi” (Bu. 94:47). Hadits tersebut menerangkan bahwa mula-mula penduduk padang pasir itu memeluk Islam. Pada hari berikutnya, karena ia diserang penyakit demam, ia mengira bahwa penyakit itu disebabkan karena ia memeluk Islam, maka dari itu ia menghadap Nabi Suci untuk menarik kembali bai’atnya. Ini adalah terang-terangan perbuatan murtad, namun dalam Hadits itu tak diterangkan bahwa penduduk padang pasir itu dibunuh. Sebaliknya, Hadits itu menerangkan bahwa ia kembali ke padang pasir dengan aman.

Contoh lain tentang perbuatan murtad yang sederhana diuraikan dalam satu Hadits bahwa pada suatu hari seorang Kristen memeluk Islam, lalu ia murtad dan menjadi Kristen kambali, namun demikian, ia tidak dibunuh. “Sahabat Anas berkata, bahwa seorang Kristen memeluk Islam dan membaca Surat Ali ‘Imran, dan ia menuliskan ayat Qur’an untuk Nabi Suci, lalu ia berbalik menjadi Kristen kembali, dan ia berkata: Muhammad tak tahu apa-apa selain apa yang aku tulis untuknya. Lalu Allah mencabut nyawanya, lalu kaum Muslimin menguburnya” (Bu. 61:25). Selanjutnya Hadits itu menerangkan tentang peristiwa dihempaskannya tubuh orang itu oleh bumi. Terang sekali bahwa peristiwa itu terjadi di Madinah setelah diturunkannya Surat kedua (al-Baqarah) dan Surat ketiga (Ali ‘Imran) tatkala negara Islam telah berdiri, namun demikian orang yang murtad itu tak dianiaya, sekalipun ia mengucapkan kata-kata yang amat menghina Nabi Suci, dan menyebut beliau sebagai pembohong yang tak tahu apa-apa, selain apa yang ia tulis untuknya.

Di muka telah kami terangkan bahwa Qur’an menguraikan kaum murtad yang bergabung dengan kabilah yang mengikat perjanjian persahabatan dengan kaum Muslimin, dan kaum murtad yang benar-benar mengundurkan diri dari pertempuran, yang tak memihak kepada kaum Muslimin dan tak pula kepada musuh, dan menerang-kan agar mereka jangan diganggu (4:90). Semua itu menunjukkan bahwa Hadits yang menerangkan bahwa kaum murtad harus dibunuh, ini khusus hanya ditujukan terhadap kaum murtad yang memerangi kaum Muslimin.

Perbuatan murtad dan fiqih

Jika kita membaca kitab fiqih, di sana diuraikan bahwa mula-mula para ulama fiqih menggariskan satu prinsip yang bertentangan sekali dengan Qur’an Suci, yakni orang dapat dihukum mati karena murtad. Dalam Kitab Hidayah diuraikan: “Orang yang murtad, baik orang merdeka maupun budak, kepadanya disajikan agama Islam; jika ia menolak, ia harus dibunuh” (H.I. hal. 576).  Tetapi setelah Kitab Hidayah menguraikan prinsip tersebut, segera disusul dengan uraian yang bertentangan dengan menyebut orang murtad sebagai “orang kafir yang melancarkan perang (kafir harbiy) yang kepadanya telah disampaikan dakwah Islam” (H.I. hal. 577). Ini menunjukkan bahwa dalam Kitab Fiqih pun, orang murtad yang dihukum mati, ini disebabkan karena ia musuh yang memerangi kaum Muslimin. Adapun mengenai perempuan yang murtad, mereka tidak dihukum mati, karena alasan berikut ini: “Alasan kami mengenai hal ini ialah, bahwa Nabi Suci melarang membunuh kaum perempuan dan karena pembalasan yang sebenarnya (bagi kaum mukmin dan kafir) itu ditangguhkan hingga Hari Kiamat, dan mempercepat pembalasan terhadap mereka di dunia akan menyebabkan kekacauan, dan penyimpangan dari prinsip ini hanya diperbolehkan apabila terjadi kerusakan di bumi berupa pertempuran, dan hal ini tak mungkin dilakukan oleh kaum perempuan, karena kondisi mereka tak mengizinkan” (HI hal. 577). Ulama yang menafsiri kitab itu menambahkan keterangan: “Menghukum mati orang murtad itu wajib, karena ini akan mencegah terjadinya pertempuran yang merusakkan, dan ini bukanlah hukuman karena menjadi kafir” (idem). Selanjutnya ditambahkan keterangan sebagai berikut: “Hanya karena kekafiran saja, tidaklah menyebabkan orang boleh dibunuh menurut hukum” (idem). Terang sekali bahwa dalam hal pertempuran dengan kaum kafir, ulama ahli fiqih berbuat kesalah-pahaman, dan nampak sekali terjadi pertentangan antara prinsip yang digariskan oleh Qur’an dengan kesalah-pahaman yang masuk dalam pikiran ulama ahli fiqih. Qur’an Suci menggariskan seterang-terangnya bahwa orang murtad dihukum mati, bukan karena kekafirannya melainkan karena hirab atau memerangi kaum Muslimin. Adapun alasannya dikemukakan seterang-terangnya bahwa menghukum mati orang karena kekafiran, ini bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Tetapi ulama ahli fiqih salah paham, bahwa kemampuan berperang, mereka anggap sebagai keadaan perang, suatu anggapan yang tak masuk akal samasekali. Jika itu yang dimaksud, bahwa orang murtad mempunyai kemampuan berperang, anak kecil pun dapat disebut harbiy (orang berperang), karena anak kecil itu akan tumbuh menjadi besar dan mempunyai kemampuan berperang; bahkan kaum perempuan yang murtad pun tak dapat dikecualikan dari hukuman mati, karena mereka pun mempunyai kemampuan berperang. Undang-undang hukum pidana bukanlah berdasarkan atas kemampuan, melainkan atas kenyataan. Jadi, ulama fiqih pun mengakui benarnya prinsip bahwa orang tidak dapat dihukum mati hanya karena ia mengubah agamanya, terkecuali apabila orang murtad itu memerangi kaum Muslimin. Bahwa ulama fiqih telah berbuat kesalah pahaman dalam mengartikan hirab atau keadaan perang, adalah soal lain.

___________


[1]. Penulis Kristen yang bersemangat sekali untuk menemukan ayat Qur’an yang menghukum mati orang murtad, tak segan-segan lagi menerjemahkan kata fayamut (yang sebenarnya berarti: lalu ia mati) mereka terjemahkan: lalu ia dihukum mati, suatu terjemahan yang amat keliru. Kata fayamut adalah kata kerja aktif, dan kata yamutu artinya ialah mati. Digunakannya kata itu membuktikan seterang-terangnya bahwa perbutaan murtad tidaklah dihukum mati. Sebagian mufassir menarik kesimpulan yang salah terhadap ayat yang berbunyi: “ini adalah orang yang sia-sia amal perbuatannya”, ini tidaklah berarti bahwa ia akan diperlakukan sebagai penjahat. Adapun yang dimaksud dengan kata amal di sini ialah perbuatan baik yang ia lakukan selama ia menjadi Muslim. Amal inilah yang akan menjadi sia-sia, baik di dunia maupun di akhirat setelah ia murtad. Perbuatan baik hanya akan ada gunanya jika perbuatan baik itu mendatangkan kebaikan bagi seseorang, dan dapat meningkatkan kesadaran menuju perkembangan hidup yang tinggi. Di tempat lain dalam Qur’an Suci diuraikan bahwa perbuatan orang akan sia-sia jika ia hanya bekerja untuk duniawinya saja dan mengabaikan kehidupan akhirat: “Yaitu orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, dan mengira bahwa mereka adalah ahli dalam membuat barang-barang. Mereka mengafiri ayat-ayat Tuhan dan mengafiri perjumpaan dengan-Nya, maka sia-sialah amal mereka. Maka dari itu Kami tak akan menegakkan timbangan bagi mereka pada Hari Kiamat” (18:104-105). Dalam ayat ini, yang dimaksud habithat ialah perbuatan yang sia-sia sepanjang mengenai kehidupan rohani.

[2]. Sebagian Hadits menerangkan bahwa mereka disiksa sampai mati. Jika ini terjadi sungguh-sungguh, ini hanyalah sekedar hukum qisas, yang sebelum turun wahyu tentang hukum pidana secara Islam, hukum qisas menjadi peraturan yang lazim. Sebagian Hadits menerangkan bahwa segolongan orang dari kabilah ‘Ukul mencukil mata penjaga unta, lalu digiringnya ke gunung batu yang panas, agar ia mati kesakitan. Oleh sebab itu lalu mereka juga dihukum mati seperti itu (Ai. VII, hal. 58). Tetapi Hadits lain membantah tentang digunakannya hukum qisas dalam peristiwa tersebut. Menurut Hadits ini, Nabi Suci berniat menyiksa mereka sampai mati sebagaimana telah mereka lakukan terhadap si penjaga unta, tetapi sebelum beliau melaksanakan hukuman itu, beliau menerima wahyu yang mengutarakan hukuman bagi mereka yang melakukan pelanggaran semacam itu, yang berbunyi: “Adapun hukuman orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berbuat bencana di bumi, ialah mereka harus dibunuh atau disalib atau dipotong tangan mereka berselang-seling, atau dipenjara” (5:33) (IJ-C. VII, hal. 121). Jadi, menurut ayat ini, perbuatan murtad ialah melancarkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Adapun hukumannya bermacam-macam selaras dengan sifat kejahatan yang mereka lakukan. Adakalanya dihukum mati atau disalib apabila ia menjalankan teror; tetapi adakalanya hanya dihukum penjara saja.

About these ads

27 Tanggapan

  1. Ini yang saya butuhkan… saya copy ke komputer saya ya… boleh kan?

  2. Akhirnya ada juga jawaban bg para murtadin di FFI ttg hukum ini…dg ini ini dpt meluruskan misconception mrk, Insya Allah.. Ini blh saya copy kan ? Utk tujuan dakwah saja…afwan.

  3. Ada tambahan lagi nih . Dalam ayat Al-Qur’an AnNisaa’ :89,90

    89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling[330], tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

    ket:
    330: Ini adalah kisah dimana ada orang-orang arab yang masuk islam lalu terkena demam madinah dan kembali murtad. Dalam cerita ini akhirnya mereka dibunuh karena masuk kedalam barisan Musyrik melawan Muslim.

    90. kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai)[331] atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya[332]. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu[333] maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

    ket:
    Pada ayat 90 diberikan pengampunan (tidak dibunuh) bagi orang yang murtad tersebut. Apabila, mereka meminta perlindungan dari negara lain dimana ummat memiliki perjanjian damai dengannya atau bisa disebut suaka (331). Bagi yang meminta perlindungan dan merasa keberatan memerangi umat Islam (332), dan bagi yang membiarkan ummat Islam dan tidak memerangi (333).

    • Ikhwan Ramases Yth, Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas tanggapannya;
      Memang benar sekali, Islam tidak mengajarkan bahwa sesorang yang murtad itu bisa dibunuh;
      adapun peristiwa tersebut sangat jelas bahwa mereka dibunuh karena memang menjadi musuh kaum
      muslimin dalam peperangan, dan dalam peperangan setiap lawan harus dikalahkan.
      Terimakasih.

  4. terimah kasih,,, ini sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas saya…
    sekali lagi terimah kasih

  5. Penerimaan atau penolakan terhadap pengaku nabi dan rasul termasuk wilayah aqidah yang sangat fundamental, artinya hanya satu pilihan antara muslim (menerima) atau kafir (menolak). Ketika Rasulullah Nabi Muhammad SAW mengaku sebagai Nabi dan Rasul, orang yang menerimanya disebut Muslim dan orang yang menolaknya disebut Kafir. Begitu juga ketika Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dan rasul, imam mahdi dan isa al-masih, secara otomatis orang yang menerimanya akan disebut muslim dan orang yang menolaknya disebut kafir. Hal ini kita temukan dalam kitab “Tadzkiroh” halaman 343, Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu sebagai berikut : “sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbai’at kepadamu dan tetap menentang kepadamu maka sesungguhnya dia adalah orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan berhak menjadi penghuni neraka jahim”. Dalam “Tadzkiroh” halaman 600 Mirza Ghulam Ahmad menyatakan : “Allah telah menyatakan kepadaku, bahwa setiap orang yang telah sampai kepadanya da’wahku dan tidak menerimaku maka dia bukan muslim dan berhak menerima adzab Allah”. Jadi siapakah yang pertama kali menyatakan bukan muslim (kafir) kepada orang yang tidak percaya dan menentang Mirza Ghulam Ahmad dengan segala ajarannya ?

    • “sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbai’at kepadamu dan tetap menentang kepadamu maka sesungguhnya dia adalah orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan berhak menjadi penghuni neraka jahim

      Disini yang dibahas adalah para penentang. Bukankah hal ini senada dengan Hadits Qudsi yang menyatakan:
      [HQ.3.17] Berkata Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
      Siapa yang memusuhi Wali-Ku maka Aku mengisyaratkan perang terhadapnya.” [HR. Bukhari] [AS142] sumber: http://berandasuluk.blogsome.com/hadis-qudsi-003/

      Menentang Para Wali Allah yang merupakan Khalifah Nabi Suci, merupakan perbuatan fasiq (24:55).

      Para Wali Allah merupakan pejuang-pejuang Islam yang hendak menyiarkan Islam dan membuat Agama Islam melebihi agama2x lain, karena itu perbuatan menentang para Wali Allah ini berarti menentang dan tidak senang bila Islam unggul diatas agama2x lainya, begitu juga dengan menentang missi Hazrat Mirza Ghulam AHmad untuk mematahkan salib, dan membunuh Dajjal, bukankah hal itu berarti menentang rencana Ilahi untuk memenangkan Islam diatas agama lainnya?

      “Allah telah menyatakan kepadaku, bahwa setiap orang yang telah sampai kepadanya da’wahku dan tidak menerimaku maka dia bukan muslim dan berhak menerima adzab Allah”

      Kalimat yang dikutip tidak lengkap hanya sepenggal-sepenggal, dan juga tidak ada dalam Buku Tadzkirah, (Pembuat Kitab Tadzkirah bukan Hazrat MIrza Ghulam Ahmad, Tadzkirah dibuat 80 tahun setelah HMGA wafat, dibuat oleh orang Qadiyan). Kalimat yang dimaksud, senada dengan yang terdapat dalam Haqiqat-ul-Wahi, Roohany Khazaen, Vol. 22, P. 167, namun dalam buku itu pada halaman sebelumnya dijelaskan:

      “These people first prepared a fatwa of kufr against me, and about 200 Maulvis put their seals upon it, calling us kafir. In these fatwas, such hostility was shown that some Ulama even wrote that these people (Ahmadis) are worse in disbelief than Jews and Christians; and they broadcast fatwas saying that these people must not be buried in Muslim cemeteries, they must not be offered salaam and greetings, and it is not proper to say prayers behind them, because they are kafir. They must not be allowed to enter mosques because they would pollute them; if they do enter, the mosque must be washed. It is allowable to steal their property, and they may be killed …

      Now look at this falsehood, namely, that they accuse me of having declared 200 million Muslims and Kalima-professing people to be kafir. We did not take the initiative for branding people as kafir. Their own religious leaders issued fatwas of kufr against us, and raised a commotion throughout Punjab and the whole of India that we were kafir. These proclamations so aliented the ignorant people from us that they considered it a sin even to talk to us in a civil manner. Can any maulvi, or any other opponent, prove that we had declared them kafir first? If there is any paper, notice or booklet issued by us, prior to their fatwas of kufr, in which we had declared our Muslim opponents to be kafir, then they should bring that forward. If not, they should realise how dishonest it is that, while they are the ones who call us kafir, they accuse us of having declared all Muslims as kafir. …Then having declared us kafir by their fatwas, they themselves admit that he who calls a Muslim a kafir gets the kufr reflected back upon himself. Under these circumstances, was it not our right to call them kafir according to their own admission?”
      (Haqiqat-ul-Wahy, See Ruhani Khaza’in, v. 22, p. 122-124)

      Jadi jelas, HMGA tidak pernah menyatakan Kafir kepada orang2x yang tidak mempercayai dakwahnya. Dalam buku itu bisa kita lihat situasi dan kondisi saat HMGA hidup, bahwa, Fatwa para ulama, bukan hanya mencap HMGA kafir, melainkan juga orang Islam biasa (non Ahmadi) yang percaya bahwa HMGA muslim, adalah KAFIR JUGA/KAFIR DENGAN SENDIRINYA!:

      “Two hundred Maulvis declared me to be kafir and wrote a fatwa of kufr about me. Their fatwa shows that anyone who calls a momin (believer) as kafir becomes kafir himself, and anyone who calls a kafir as momin also becomes a kafir…” (p. 168)
      Nau’dzubillahi mindzalik!
      (nb: Penjelasan selengkapnya bisa diliat di: http://www.ahmadiyya.org/allegs/muslim.htm)

      Jadi, bila mengutip kalimat HMGA jangan dipotong2x, atau jangan hanya kopi paste saja, hal ini sama saja dengan penentang Islam yang mengutip Ayat QUran Suci sepenggal2x demi menunjukan Islam itu agama Teror!
      Bunuhlah kaum musyrik, di mana saja kamu berjumpa dengan mereka, dan tawanlah mereka dan kepunglah mereka dan hadanglah mereka di tiap tempat penghadangan. (9:5)

  6. saya mau tanya.
    bagaimana hukumnya org yg merasa di hatinya dibayangi kata2 murtad.
    begini, apa berniat murtad dalam hati itu dinyatakan murtad?
    entah mengapa saya klu membaca kalimt2 jelek kemudian kalimat itu menjadi terbayang2 di pikiran.
    saya merasa dihantui kalimat itu.
    saya tidak mau murtad. tpi kalimat itu menghantui.
    apa itu murtad?
    padahal saya masih beribadah.

    • Sdr Yaya Yth, seseorang dikatakan murtad adalah jika orang tersebut telah benar2 meninggalkan Islam atau berbalik dari Islam menjadi kafir dan tidak saja terbersit didalam hatinya tetapi juga disertai dengan perbuatan yang nyata bahwa orang tersebut telah benar2 meninggalkan Islam. Sedangkan seseorang yang didalam hatinya baru terbersit perbuatan murtad tidak bisa dihukumi sebagai seorang yang murtad, karena segala perbuatan kita akan ditimbang berdasarkan perbuatan kita bukan berdasarkan hal2 yang baru ada didalam hati. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita diharuskan mencari ilmu sebanyak banyaknya agar keraguan dalam hati yang menimbulkan pikiran buruk terhadap Islam yang menyebabkan keinginan murtad itu sirna. Adakalanya memang seseorang telah berbuat sesuatu yang melanggar hukum Islam tetapi jika orang tersebut tidak menyatakan dirinya murtad tidak bisa orang lain menghukumi murtad kepadanya karena yang berhak menentukan seseorang itu menjadi murtad atau tidak adalah dirinya sendiri dan Allah SWT, sedangkan perbuatan yang melanggar hukum Islam yang telah dilakukan akan dibalas oleh Allah SWT. Untuk itu bagi setiap muslim ada kewajiban untuk mempelajari Al-Quran, Sunah dan Hadist dengan sungguh2 agar imannya menjadi bertambah kuat, dan tidak ada keraguan sedikitpun terhadap agamanya, karena sumber dari kemurtadan adalah karena lemahnya iman seseorang. Demikian semoga bermanfaat, terimakasih.

  7. as salam..saya ingin tanya..ketika saya berumur 15 tahun pada waktu maghrib tiba-tiba sahaja saya seperti meragui agama islam dan terdetik di hati seperti ini “benarkah islam agama yg sebenar, dan tiba-tiba seperti terdetik berkata tidak mahu la jadi orang islam jika tidak benar” lantas selepas sahaja berkata perkataan tersebut saya terus mengucap dua kalimah syahadah dan berasa hairan bagaimana tiba-tiba bisa berfikir begitu..saya mohon sangat-sangat soalan saya dibalas secepat mungkin..saya menderita kerana saya terlalu cintakan islam…LA ILA HA ILLALLAH, MUHAMMADURRASULULLAH..

    • Waalaikumsalam wr wb, Sdr Hamba Allah Yth, Sebagaimana diajarkan oleh Qur’an Suci Surat 114:4, ” Dari keburukan bisikan (syetan) yang menyelinap”, kita diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan bisikan syetan yang menyelinap ke dalam hati manusia, karena memang demikianlah perbuatan syetan yang selalu meniupkan keragu-raguan terhadap persoalan yang sudah nyata kebenarannya, dan juga menampakkan indah perbuatan jahat dan maksiat. Apalagi jika bisikan itu terjadi ketika kita sedang melaksanakan shalat. Betapa banyak dari ibadah2 kita kadang2 malah melamun atau memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, hal ini terjadi karena banyak hal dan banyak faktor tetapi yang pasti harus kita lakukan adalah kita perbaiki ruh shalat kita dan kita usahakan untuk memenuhi syarat dan rukun shalat sebaik mungkin sehingga Insya Allah shalat kita akan khusu’ dan terbebas dari gangguan syetan. Untuk itu sdr dapat membaca artikel ini “hakekat-shalat-dan-doa” sehingga Insya Allah shalat kita menjadi ibadah yang berkualitas dan terbebas dari gangguan syetan. amin.
      Demikian semoga bermanfaat, Wassalam wr wb. Terimakasih.

  8. assalamu alaikum….
    saya mau bertanya,,bagaimana dengan hukum dalam Islam jika seroang anak berrpindah agama (dari Muslim menjadi Katolik) kemudian sang anakmasih ingin berbakti pada orang tuanya dengan cara ingin memberikan sejumlah uang kepada ayah-nya… Apakah hukumnya haram menerima segala bentuk bantuan dari si anak??? Kemudian bagaimana dengan bantuan yg diberikan utk saudara-saudaranya yg lain apakah haram juga hukumnya????
    Jika tidak,, bagaimana aturannya dalam hukum Islam???
    Mohon informasinya,, terima kasih banyak sebelumnya…..

    Wassalam…
    naLu…..

  9. Wa’alaikukm salam wr wb, Sdr Nalu yth, Hukum seorang anak atau orang tua yang berpindah agama adalah segala bentuk hubungan yang berkaitan dengan hukum agama adalah terputus, misalnya dalam hal do’a, do’a orang yang berbeda keyakinan hukumnya tidak diterima demikian juga dalam masalah waris, maka seorang anak ataupun orang tua yang berpindah agama maka masing2 kehilangan hak waris dari masing2 ahlinya. Sedangkan pemberian yang bersifat hadiah atau bantuan itu tidak masalah selama bantuan atau hadiah tersebut bersifat cuma-cuma tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari, bahkan untuk urusan hutang piutang pun tidak masalah karena hal tersebut bukan dalam lingkup ibadah. Demikian semoga bermanfaat, terimakasih.

  10. Pertanyaan mengenai hadits dibawah ini:

    tercantum dalam Sahih Bukhari, Kitab apa dan bab apa kalau bisa nomor haditsnya juga..?

    Contoh lain tentang perbuatan murtad yang sederhana diuraikan dalam satu Hadits bahwa pada suatu hari seorang Kristen memeluk Islam, lalu ia murtad dan menjadi Kristen kambali, namun demikian, ia tidak dibunuh. “Sahabat Anas berkata, bahwa seorang Kristen memeluk Islam dan membaca Surat Ali ‘Imran, dan ia menuliskan ayat Qur’an untuk Nabi Suci, lalu ia berbalik menjadi Kristen kembali, dan ia berkata: Muhammad tak tahu apa-apa selain apa yang aku tulis untuknya. Lalu Allah mencabut nyawanya, lalu kaum Muslimin menguburnya” (Bu. 61:25)

  11. Wa’alaikukm salam wr wb

    kalau anak MURTAD apakah orang TUA KAMI berdosa…???

  12. tidak ada dosa waris dalam Islam, jika anak murtad maka yg menanggung dosa tsb adalah anak sendiri. orang tua tidak bertanggung jawab atas dosa anaknya yg murtad. namun demikian sebagai orang Tua wajib menasehati anak tsb agar tdk murtad. apabila orang tua sudah memberi nasehat, menegur dan memperingati anaknya tapi si anak tetap pada pendiriannya untuk murtad maka orang tua tdk bertanggung jawab atas dosa anaknya.
    …..

  13. assalamualaiku.
    disini saya ada pertanyaan:
    1) adakah perbuatan menyembah berhala dikira Murtad bagi orang
    islam? saya keliru dengan konsep syirik. bukankah jika menyembah
    selain Allah atau menyamakan berhala sama seperti Allah S.W.T itu
    perbuatan syirik yang membawa kepada Murtad?

    2) bolehkah kita menasihati dan mengembalikan orang Murtad ini
    kembali semula kepada Islam yakni agama yang lurus dan benar?

    saya mohon pendapat. Terima kasih

    • Waalaikumsalam wr wb,
      Sdr Lisa Yth, berkenaan dengan perbuatan murtad sebagaimana dibahas pada artikel diatas yakni seseorang yang semula Muslim kemudian berubah menjadi non muslim atau keluar dari Islam karena makna Murtad adalah berbalik dari keimanan kepada Allah SWT lalu menjadi tidak beriman kepada Allah SWT. Hal ini berbeda dengan Syirik karena orang Syirik barangkali didalam hatinya masih ada keimanan kepada Allah tetapi dia mencampur adukkan keimanannya dengan meyakini sesuatu selain Allah misalnya percaya kekuatan benda-benda tertentu atau tempat-tempat tertentu yang bisa memberikan keselamatan ataupun musibah kepada dirinya. Jadi jelas bedanya antara murtad dan syirik.

      Sebagai seorang muslim sudah barang tentu kita wajib memberikan nasehat kepada orang yang murtad tentunya dengan cara-cara yang baik, sopan dan tidak memaksa. Karena keimanan seseorang adalah masalah hati yang tidak seorang pun bisa memaksanya. sebaliknya dengan penjelasan dari Al-Quran yang ilmiah, rasional, disertai contoh-contoh dari kehidupan Rasulullah maka sudah barangtentu seseorang yang murtad akan memiliki keimanan kepada Allah kembali, karena pada dasarnya manusia tidak bisa lepas dari Allah SWT, karena memang kodrat manusia membutuhkannya.
      Demikian tanggapan kami semoga bermanfaat, terimakasih
      Wassalam wr wb

  14. Assalamualaikum,

    langsung saja,ketika saya berkunjung ke kediaman sahabat saya (seorang Muslim),saya mendapati teman saya ini menyimpan aksesoris keagamaan selain Islam di laci kamarnya,malah bisa dibilang mengkoleksi nya..ketika saya hendak bertanya kenapa ia menyimpannya,ia berkata “hmm damai sekali lah hati ini kalau mengenggam aksesoris keagamaan itu”…dan kemudian dia meng-indahkan agama itu dan mengaku sangat tertarik,dalam hati saya terus beristighfar dan bersyahadat kpd Allah SWT,saat itu saya benar-benar terkejut,shock dan tidak habis pikir dengan sahabat saya ini…

    pertanyaan saya, apakah ini sudah termasuk murtad??apa yang harus saya lakukan??

    Mohon jawabannya,Terima Kasih :)

    • Waalaikum salam wr wb, Sdr Maulana yth, seseorang dikatakan murtad jika memang secara sadar mengakui bahwa sahabat tersebut mengatakan keluar dari Islam. Jika sekedar melakukan perbuatan yang menjurus kepada perilaku murtad maka belum bisa dikatakan murtad. Akan tetapi sangat disayangkan mengapa dia melakukan hal yang demikian bisa jadi karena kurangnya ilmu ke islamannya atau juga hal-hal yang lain. Maka solusinya adalah dengan diajak diskusi agar sahabat tersebut menukan kebnaran yang sejati karena jika imannya sudah mantap tentu tidak akan melakukan suatu perbuatan yang tidak ada manfaatnya buat keimanan kita atau justeru mereduksi keimana kita. Harus diyakini bahwa kebenaran dan kepalsuan itu tidak dapat bersanding karena kepalsuan akan lenyap sedangkan kebenaran akan terang benderang bagi orang yang beriman. Demikian saran saya semoga bermanfaat. Wassalam wr wb.

  15. MENURUT PEMAHAMAN SAYA MENGAPA ORANG BERAGAMA,..?!

    Jawabnya :
    “SUPAYA MENJADI ORANG BAIK.”

    BAGAIMANA CARANYA MENJADI ORANG BAIK

    “BERBUAT BAIK” singkat itu saja

    Pesa saya :
    1. JANGAN MELAKUKAN SEGALA BENTUK KEJAHATAN
    2. PERBANYAK KEBAJIKAN
    3. SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

  16. Assalamualaikum brother….kebetulan saya tinggal di Belanda…baru baru ini ada berita di tv tentang seorang perempuan di sudan yang murtad karena menikah…perempuannya di penjara dan akan dihukum mati…kemudian berita terakhirnya perempuan tersebut dibebaskan….yg ingin saya tanyakan apa betul Sudan menjalankan hukum Islam seperti Saudi Arabia..??? kalau seperti yang saya baca dalam tulisan brother…tidak benar hukum islam yang menghukum mati apabila seseorang murtad….apa betul Sudan dan Saudi tidak mengerti betul hukum Islam yang sebenarnya…????…saya sendiri masih bimbang apa betul seperti itu ataukah hanya kebiasaan berita berita di media barat ini yang selalu memojokkan umat Islam….mohon penjelasannya….terima kasih…wassalam

    • Waalaikum salam wrwb, Sdri Mary Vermeer Yth, terimakasih atas silaturahimnya melalui website sederhana ini, berkaitan dengan pertanyaan sdri, kebetulan kami juga belum mengetahui dengan jelas apakah Sudan menerapkan hukum Islam atau tidak, sedangkan di Arab Saudi menerapkan “Hukum Islam”, mengapa saya memberikan tanda kutip dalam “hukum Islam” di Arab Saudi, karena sebagaimana kita pahami dari berbagai sumber hukum Islam yang jelas-jelas diterapkan pada masa Rasulullah tentu berbeda dengan yang saat ini diterapkan di Arab Saudi, karena sebuah hukum pasti akan mengalami perkembangan sebagaimana kehidupan manusia yang senantiasa berubah sesuai dengan keadaan zaman. Sehingga dengan demikian Hukum Islam yang saat ini berlaku di Arab Saudi barangkali telah disesuaikan dengan konstitusi negara tersebut yang tentu berbeda pula hukum-hukum yang diatur pada masa Rasulullah. Demikian semoga bermanfaat, terimakasih.

  17. jika seseorng sudah murtad tau mauk ke aagama lain terus masuk islah lgi itu bagaimana hukumnya?
    terimksih ;)

    • Sdri Nika Yth, seseorang yang pernah keluar dari Islam atau murtad kemudian masuk Islam Lagi tentu tidak ada hukuman yang akan diterapkan baginya, selain dia sebaiknya bertaubat atas perilakunya tersebut dan sebagai kewajiban untuk seorang muslim belajar memperdalam kembali ajaran Islam secara sungguh-sungguh, agar dia masuk Islam dengan kesadaran yang sebenar-benarnya dan keyaikinan yang sempurna, dan tidak melakukan perbuatan yang dimurkai Allah misalnya murtad kembali. Demikian semoga bermanfaat, terimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: