Kliping tentang Ahmadiyah

Kompas, Kamis 18 Agustus 2005 Sekretaris Kabinet: ajaran Ahmadiyah terdiri dari dua aliran. “Yang satu aliran Lahore dan satunya Qadiyan. Nah, aliran Qadiyan inilah yang dilarang sebagaimana disampaikan Presiden 

Tempo 26 februari 2006 Menteri Agama: Sebelum Mirza Ghulam Ahmad wafat, tidak ada persoalan 

Kompas, selasa 25 april 2006 Menteri Agama: Saya bisa menerima jika dianggap sebagai Mujaddid (pembaharu)

Klik gambar atau tulisan untuk memperbesar

4 Responses to “Kliping tentang Ahmadiyah”

  1. Sekarang diin thogut menguasai dunia dan diin Allah sedang terpuruk…
    Apa yang telah dilakukan Ahmadiyah selama kurang lebih hampir se abad ini?
    Apakah Ahmadiyah dengan nabinya Mirza Ghulam Ahmad berhasil menegakkan diin Allah diatas diin bangsa2?
    Butuh berapa lama Ahmadiyah menegakkan diin Allah?Apakah sama cara dan waktunya seperti ketika nabi Muhammad menegakkan diin Allah?

  2. Tidak ada dakwahan kenabian dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beserta gerakannya Ahmadiyah merupakan pelayan dan pembela Islam. Tugas utama dari Imam Ghulam Ahmad adalah menghidupkan Allah Yang Maha Hidup didalam kalbu setiap umat manusia serta memenangkan perkara Islam diatas semua Millah yang ada. Cara yang dilakukan oleh Imam Ghulam Ahmad untuk menyiarkan Islam adalah dengan pena, yakni untuk menjawab tuduhan-tuduhan palsu orang-orang yang membenci Islam serta menyiarkan keindahan Islam lewat literatur-literatur, brosur-brosur, ceramah, kunjung-mengunjungi dsb

  3. Menurut lahore :
    1. Bagaimana pandangan kalian jika sholat di masjid umum? Atau jika kalian bermakmum di belakang non ahmadi?
    2. Bagaimana hukum candah dalam GAI?
    Kalau Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai mujjadid, bagaimana dengan pernyataan beliau ini :

    “Sesungguhnya Allah subchanaHu wa ta’ala telah menamakan nabi kepadaku dengan wahyu-Nya, demikian juga aku telah dinamakan (nabi) sebelum itu melalui sabda rasul kita Al-Mushthofa (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Al-Istifta’, halaman 18).

    وَبِالْحَقِّ اُرْسِلْتُ فَمَالَكُمْ تَعْرِفُوْنَ

    “Dan dengan benar aku telah diutus (sebagai rasul), maka apa yang
    menyebabkan kamu tidak mengerti.” (Al-Istifta’, halaman 46)

    لَقَدْ اُرْسِلْتُ مِنْ رَبِّ الْعِبَادِ

    “Sungguh aku telah diutus (sebagai rasul) dari Tuhannya para hamba.” (Tuhfatu Baghdad, halaman 11)

  4. 1. Bagaimana pandangan kalian jika sholat di masjid umum? Atau jika kalian bermakmum di belakang non ahmadi?

    Bisa dilihat pada Gerakan Ahmadiyah Indonesia
    PEGANGAN TEGUH GERAKAN AHMADIYAH INDONESIA point no 8
    8. Menyebut kafir kepada orang Islam adalah perbuatan yang amat keji. Oleh sebab itu, tak akan bersalat makmum di belakang siapa saja yang menyebut kafir kepada orang Islam; hal ini untuk menunjukkan betapa tidak sukanya terhadap perbuatan semacam itu; sikap demikian dilakukan terhadap siapa saja, baik ia itu orang Ahmadi ataupun bukan. Sebaliknya, mau bersalat makmum di belakang siapa saja yang tidak mengafirkan orang Islam.

    2. Bagaimana hukum candah dalam GAI?

    Dalam pergerakan Organisasi Syiar Islam dimanapun sumber dana sangatlah diperlukan. Begitupula dengan GAI, namun istilah dalam GAI bukanlah Candah tetapi Infaq. Tujuan utama pengumpulan dana ini bukan untuk kekayaan sang ketua umumnya namun murni untuk perjuangan Islam

    Pernyataan HMGA tentang rasul ini dijelaskan dalam tempat lain:
    “It is true that, in the revelation which God has sent upon this servant, the words nabi, rasul and mursal [a variant of rasul] occur about myself quite frequently. However, they do not bear their real sense. … according to the real meaning of nubuwwat [prophethood], after the Holy Prophet Muhammad no new or former prophet can come. The Holy Quran forbids the appearance of any such prophets. But in a metaphorical sense God can call any recipient of revelation as nabi or mursal. … I say it repeatedly that these words rasul and mursal and nabi undoubtedly occur about me in my revelation from God, but they do not bear their real meanings. … This is the knowledge that God has given me. Let him understand who will. This very thing has been disclosed to me that the doors of real prophethood are fully closed after the Last of the Prophets, the Holy Prophet Muhammad. According to the real meaning, no new prophet or ancient prophet can now come.” (Siraj Munir, p. 3)

    Kita melihat bahwa para Muhaddats dan Mujaddid adalah nabi dan rasul dalam artian etimologi (tata bahasa) atau dalam artian menurut pustaka Sufi. Nabi adalah orang yang mendapatkan An-Naba’ dari Allah, sedangkan rasul adalah orang yang diutus. Namun sama sekali bukan dalam artian terminologi Islam (dalam artian yang sebenarnya) sebab : According to the real meaning, no new prophet or ancient prophet can now come

Leave a Reply