PENGERTIAN HAKIKI GERAKAN AHMADIYAH
oleh: Maulana Muhammad Ali
This article was taken out from Ahmadiyya Movement translated by H.E. Koesnadi in 1981. SOme contents from this article were edited by editional staff to have some writting put in “Studi Islam”. Any reader who has great will and wants to get further more complete information can contact us. Our address is on the front page
Ahmadiyah bukan suatu agama tersendiri.
Banyak sekali pengertian yang salah tentang Gerakan Ahmadiyah terdapat pada khalayak ramai. Pengertian yang paling tidak benar, bahwa Ahmadiyah ialah suatu agama yang sama sekali terpisah dari agama Islam, seperti “Babisme atau Bahaisme”. Dasar pikiran palsu ini, beranggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiyan, Pendiri Gerakan Ahmadiyah telah melakukan pendakwahan kenabian. Pernyataan ini telah terbukti tidak benar, sebagaimana dijelaskan dalam halaman-halaman sebelumnya. Tetapi ada pula orang-orang yang melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa para Ahmadi memiliki kalimat syahadat dan cara bershalat yang berlainan, mempunyai kitab lain di samping Qur’an Suci, dan berbeda pula Kiblatnya1. Semua tuduhan itu tidak beralasan sama sekali.
Apabila Ahmadiyah merupakan suatu agama tersendiri, seperti halnya agama Baabi atau Bahai, maka segala kegiatannya tidak akan ditujukan kepada penyebaran Islam. Pekerjaan apa pun yang dalam abad ke-14 H. ini telah dilakukan tentang propaganda Islam di Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya di dunia, maka saham yang paling banyak adalah usaha-usaha para pengikut Gerakan Ahmadiyah. Sehubungan dengan ini literatur keislaman yang dihasilkan orang-orang Muslim di Barat, maka sebagian besar hasil kerja Gerakan Ahmadiyah, atau hasil dari pengaruhnya. Seandainya Ahmadiyah sesuatu yang berbeda atau yang memusuhi Islam, maka ia tak akan sebegitu banyak melakukan tekanan mendirikan missi-missi Muslim dan penyebaran literatur Islam ke seluruh dunia.
Babisme telah muncul limapuluh tahun lebih dahulu sebelum Gerakan Ahmadiyah mulai dengan missinya. Apakah Babisme pernah mulai dengan suatu missi Islam atau pernah menerbitkan literature keislaman ke seluruh dunia? Jikalau Gerakan Ahmadiyah adalah agama yang berbeda dengan Islam, maka tentu mereka akan mengarahkan segala tenaganya untuk meyiarkan faham ‘baru’ tersebut, tetapi fakta menunjukkan bahwa segala upaya mereka ditujukan untuk semata-mata pelayanan Islam.
Memang benar bahwa ada di antara pengikut Ahmadi, yakni kelompok Qadiyan, yang menuntut kenabian terhadapnya tetapi mereka masih dalam daerah abu-abu (intermediary state). Walaupun mereka menuntut keyakinan kenabian dan jika di antara kaum Muslimin tidak meyakininya dianggap kafir2, tetapi mereka tidak pernah merubah syahadatnya menjadi pernyataan baru. Pernyataan syahadat mereka pun tetap sebagaimana kaum Muslimin lainnya:
Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah
Jadi, sebagaimana saya katakan, mereka hanya berada di posisi abu-abu atau dalam keadaan kebimbangan. Mereka pun tidak pernah menganggap bahwa Pendiri Gerakan ini sebagai nabi terakhir, mempunyai kalimah tersendiri, dan menciptakan agama tersendiri bagi mereka.3 Kesimpulan logis dari kepercayaan mereka, bahwa barang siapa tidak menerima Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, adalah seorang kafir dan ada di luar batas Islam, sehingga kalimah syahadat tersebut diatas itu menjadi tidak berlaku lagi.4 Apabila kalimat syahadat yang sekarang ini tidak memasukan seseorang dalam pangkuan Islam, maka lebih empat ratus juta orang-orang Muslim di dunia yang mengikrarkan keimanannya dalam kalimat syahadat ini, dinyatakan sebagai kafir dan ada di luar batas Islam. Jadi, kalimat ini harus dinyatakan sebagai telah dihapus, dan kerasulan serta kenabian dari orang yang menerima dia merupakan suatu syarat mutlak memasuki pangkuan Islam, harus dianggap merupakan bagian dan bingkisan dari kalimat yang baru. Apabila kepercayaan kepada kenabian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak dibuang, suatu waktu akan tiba di mana orang-orang ini akan merumuskan suatu kalimat tersendiri dan suatu agama tersendiri, dan hubungan mereka dengan Islam akan menjadi serupa dengan Babisme atau Bahaisme, yang menganggap Islam sebagai suatu agama sejati pada masa lampau, tetapi sehubungan dengan keadaan sekarang, mereka menganggap hanya agama mereka sendiri yang benar. Islam dan kalimat syahadat telah dihapuskan oleh mereka. Orang-orang Qadiyan telah menempatkan dirinya sendiri menghadapi “buah simalakama” (menghadapi keadaan sukar memilih antara dua kemungkinan yang dua-duanya buruk). Mereka berusaha untuk berlayar dalam dua kapal pada waktu yang sama.
Di satu pihak, para Qadiyani menyatakan empat ratus juta orang-orang Muslim sebagai kafir, di lain pihak mereka menghitung dirinya sendiri sebagai kaum Muslimin, akan tetapi tidak mau merumuskan kalimat bagi kepercayaannya yang baru. Tetapi kepercayaan ini tak akan dapat bertahan lama-lama. Atau keseganan terhadap doktrin (kepercayaan) seperti itu akan menimbulkan ketidak relaan dalam hati sanubari mayoritas orang-orang ini dan mereka akan menahan diri untuk membenarkan pendakwahan kenabian pada Pendiri Gerakan atau mereka menerima hasil penghabisan dari kepercayaan mereka, yaitu bahwa kalimat syahadat yang dahulu harus dicampakkan dan diganti dengan suatu kalimat yang baru. Bagaimana pun Gerakan Ahmadiyah bukanlah suatu agama baru dalam bentuk aslinya, dan tidak pula sampai sebegitu jauh tumbuh menjadi agama baru di kalangan para pengikut Mirza Ghulam Ahmad.
Gerakan Ahmadiyah bukan merupakan suatu sekte dalam arti umum peristilahan.
Setiap agama di dunia ini bisanya dibagi dalam sekte-sekte, yang pada umumnya berbeda satu sama lain mengenai asasnya. Misalnya, beberapa golongan Kristen menganggap Yesus Kristus sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan yang lain menganggapnya sebagai manusia biasa. Dengan majunya ilmu pengetahuan, golongan belakangan ini makin lama makin tambah jumlahnya. Ini berarti bahwa baik orang-orang yang percaya kepada Allah Tritunggal (Trinitas) maupun orang yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa, mereka itu semuanya adalah orang Kristen.
Begitu pula di antara orang-orang beragama Hindu. Banyak orang yang percaya kepada Allah Yang Tunggal, dan yang lainnya yang menyembah berhala-berhala dan mempercayai tiga ratus dan tiga puluh juta tuhan-tuhan. Sebagian menganggap Weda sebagai kata-kata Tuhan, yang lainnya menganggap sebagai gubahan manusia-manusia belaka. Perbedaan itu sebenarnya dapat disebut sebagai perbedaan azas-azas kesektean. Sehubungan dengan ini tidak ada perbedaan dan tidak ada sekte dalam Islam. Yang ada hanya madzhab-madzhab, aliran dan sebagainya bersepakat dalam hal azas-azas agama. Semua beriman kepada Allah Yang Maha Esa, kepada telah berakhirnya kenabian dengan Nabi Muhammad saw. Semua kaum Muslim, tak terkecuali, menganggap Qur’an Suci sebagai Kitab yang terakhir diwahyukan oleh Allah swt yang tidak pernah mengalami perubahan dalam teksnya. Sewaktu shalat semua muka dihadapkan ke kiblat yang sama. Tetapi di samping persamaan faham ini bahwa semua beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kerasulan Nabi Muhammad dan Qur’an Suci, ada beberapa perbedaan faham dalam hal yang kecil-kecil dan sepele tentang agama. Beberapa Imam Muslim, sesudah mempertimbangkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang berbeda, sehubungan dengan hal-hal tertentu dari kehidupan agamawi. Beberapa golongan Muslim mengikuti imam ini atau yang lainnya sesuai dengan pilihan mereka sendiri, dan dengan demikian timbullah berbagai-bagai faham aliran (school of thought) dalam Islam. Inilah sebab-musabab sebenarnya yang ada di belakang pertumbuhan aliran, faham atau golongan, dan tidak benar kemudian disebut orang sebagai sekte dalam Islam. Perbedaan-perbedaan di antara aliran-aliran atau faham-faham ini tidaklah mengenai perbedaan fundamental dari agama, tetapi mengenai hal-hal yurisprudensi (fiqih, hukum) atau hal-hal yang tidak penting dalam peribadatan agamawi. Dan perbedaan faham semacam ini seperti dikatakan oleh Nabi Suci dalam suatu hadits adalah merupakan rahmat “Perbedaan faham di antara umatku adalah suatu rahmat”; karena disamping kesatuan, ini merupakan suatu kebebasan untuk berfikir. Bebas berpandangan, bebas untuk mempunyai pendapat sendiri (ijtihad), kesemuanya ini merupakan rahmat dalam memajukan ilmu pengetahuan dan pelajaran serta memperkembangkan kebiasaan untuk berfikir secara mendalam. Maka itu, perbedaan-perbedaan di antara faham-faham atau aliran-aliran kaum Muslim sebenarnya tidak merupakan hal-hal yang penting. Tetapi azas-azas Gerakan Ahmadiyah tidak diletakkan atas salah satu perbedaan faham semacam itu. Ciri yang penting dari Gerakan Ahmadiyah pada waktu sekarang sama dengan dahulu, yaitu membela dan menyiarkan Islam. Perbedaan apapun yang ada antara Gerakan ini dengan orang-orang Muslim lainnya, ini samasekali tidak berhubungan dengan hal-hal mengenai fiqih (hukum) atau hal-hal yang tak penting dalam kehidupan agamawi, tetapi hanya dengan hal-hal yang berhubungan dengan pembelaan dan penyiaran Islam. Sejarah Gerakan mempunyai kesaksian yang menyatakan bahwa ketika Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mendirikan organisasi ini dan membuat pengumuman tentang diadakannya sumpah kesetiaan (bai’at), beliau tidak melakukan sesuatu yang berbeda dari golongan-golongan Muslim yang lain tentang sesuatu azas agamawi.
Tujuan mendirikan organisasi ini hanya untuk pembelaan dan penyiaran Islam. Walaupun beliau sebelumnya telah membaktikan seluruh waktunya untuk tujuan yang mulia ini, tetapi pada tahap ini beliau meletakkan suatu dasar yang tetap untuk penyiaran Islam menurut ayat Qur’an
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan yang menyeru kebaikan, dan menyuruh berbuat benar dan melarang perbuatan salah”.5
Segera sesudah itu, beliau pun mulai menulis Fathi Islam di mana beliau membagi pekerjaan penyiaran Islam dalam lima cabang yang utama. Dalam keadaan inilah beliau telah dibukakan bahwa kepercayaan kepada kenaikan jasmaniah Yesus ke langit dan terus menerusnya kehidupan Yesus sampai sekarang, merupakan rintangan di jalan kemajuan Islam. Atas pemberitahuan Ilahi inilah didasarkan pendakwahannya, dan inilah pula yang menjadi sebab-musabab orang-orang Muslim menentang beliau.
Sikap terhadap masalah-masalah fiqih (jurisprudensi).
Mengenai masalah-masalah fiqih (jurisprudensi) sikap orang-orang Ahmadi bebas samasekali. Seluk-beluk hukum yaitu peraturan nikah, talaq, waris, shalat, puasa, wudhu dan lain sebagainya, yang sering diantara para ulama Muslim merupakan pertentangan besar, tidak menjadi kesulitan sedikit pun bagi mereka. Mereka menikmati kebebasan penuh mengenai masalah-masalah ini. Sangat tepat apabila dikatakan, bahwa Gerakan Ahmadiyah agaknya suatu perpaduan dari berbagai-bagai aliran, faham dalam Islam, didasarkan atas fiqih dan menghimbau mereka ke arah persatuan dengan bersikap lapang dada dan menyisihkan perbedaan-perbedaan faham mereka. Perbedaan-perbedaan kecil apapun antara Ahmadiyah dan “sekte-sekte” Muslim lainnya, hanya mengenai, sebagaimana telah dibicarakan lebih dahulu, adalah dalam penyiaran dan pembelaan Islam. Jadi, andaikata Ahmadiyah adalah suatu “sekte” dalam Islam, ini tak sama dengan sekte-sekte dari agama-agama lain, karena tidak ada sekte-sekte dalam Islam dengan pengertian itu. Sekali lagi Ahmadiyah tidak sama dengan aliran-aliran lain dalam Islam, yang didasarkan atas perbedaan-perbedaan faham mengenai “fiqih”, karena dalam pengertian itu Ahmadiyah merupakan sintesis dari segala aliran-aliran ini. Ia adalah suatu aliran dalam Islam, dengan pengertian, bahwa untuk membantu perkara Islam ia telah meletakkan tekanan atas berbagai hal, dan menciptakan sarana-sarana efektif dalam menghadapi kekuatan-kekuatan bermusuhan terhadap Islam. Tugas untuk mengadakan reformasi dalam kalangan kaum Muslimin sendiri termasuk dalam bidang programnya.
Suatu gerakan bagi Islam.
Karena ia memiliki ciri-ciri istimewa dari golongan Islam lainnya, maka Ahmadiyah dapat disebut suatu golongan atau suatu aliran dalam Islam, tetapi sebenarnya ia adalah suatu gerakan yang besar dalam pangkuan Islam. Tujuan utamanya adalah membangunkan kaum Muslim dan mempersatukan usaha mereka untuk menyebar-luaskan Islam. Tujuannya bukan memusatkan dan memegang teguh kepada perbedaan-perbedaan faham yang tidak begitu penting, sebagaimana dilakukan oleh golongan-golongan Islam lainnya. Cita-citanya jauh mengatasi segala penganut-penganut faham lain dalam Islam.
Apabila tujuan Gerakan ini hanya untuk membuktikan telah wafatnya Yesus Kristus dan menyuguhkan kebenaran pendakwahan-pendakwahan Pendiri Gerakan sebagai Masih yang dijanjikan, Mahdi dan Mujaddid, mungkin ini dapat mengklasifikasikan Ahmadiyah sebagai suatu aliran seperti halnya aliran-aliran lain dalam Islam. Tetapi ini bukanlah sebab-musabab didirikannya Gerakan Ahmadiyah, dan ini hanyalah merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan. Dan apakah tujuannya itu? Menyebar-luaskan dan memperkuat perkara Islam di seluruh dunia dan menggalakkan kaum Muslimin untuk tugas yang suci ini.
Wafatnya Yesus Kristus.
Kepercayaan akan telah wafatnya Yesus Kristus dianggap sebagai ciri yang terpenting dari Gerakan Ahmadiyah. Ada orang-orang suci Muslimin lainnya, seperti Imam Bukhari dan Imam Malik yang percaya bahwa Yesus Kristus itu telah wafat. Imam Bukhari dalam kumpulan haditsnya telah merawikan dari Ibnu Abbas bahwa arti mutawaffika adalah mumituka yaitu (aku akan mematikan engkau)6 Ini berarti, bahwa beliau tidak berpendapat bahwa arti tuwaffa itu adalah mengangkat jasmani dan rohani bersama-sama ke langit sebagaimana kemudian diartikan dan diterima oleh sementara orang. Begitu pula Imam Malik percaya akan telah wafatnya Yesus Kristus: wa qaala malikun maata7 artinya “dan Malik berkata, ia telah wafat”.
Kepercayaan akan telah wafatnya Yesus Kristus dari dua pribadi berkaliber besar ini menunjukkan, bahwa mesti ada pula di antara orang-orang suci Muslim pada zaman terdahulu menganut kepercayaan yang serupa. Para Sahabat Nabi Suci rupanya sepakat tentang hal ini, karena pada waktu Nabi Suci wafat, para sahabat yang tidak percaya kepada berita yang menyedihkan itu, didiamkan oleh Abu Bakar dengan membaca ayat, :”Dan Muhammad itu tiada lain hanyalah utusan; sebelum dia, telah berlalu banyak utusan“8 - Jadi, para Sahabat Nabi Suci semuanya berkeyakinan sepatutnya bahwa seperti semua para Nabi yang lain, Nabi mereka pun telah meninggalkan dunia yang fana ini. Inilah persetujuan faham para Sahabat Nabi Suci tentang wafatnya Yesus Kristus. Andaikata ada salah seorang yang percaya bahwa Yesus Kristus masih hidup, tentu hal ini dikemukakan mereka.
Pada abad ini pula almarhum Sir Sayyid Ahmad dari Aligharh, Mufti Muhammad Abduh dan Sayyid Rashid Ridla dari Mesir, mempercayai telah wafatnya Yesus Kristus.9 Banyak ulama di India yang pula menganut semacam kepercayan ini, tetapi mereka takut mengakuinya di depan umum karena kepercayaan yang demikian itu sudah cukup untuk mencaci maki mereka sebagai orang-orang yang pro Ahmadiyah. Orang-orang semakin tambah curiga sedemikian rupa, apabila seseorang mengemukakan hal ini, ia akan dianggap mempunyai hubungan rahasia dengan Gerakan Ahmadiyah. Karena pendakwahan Pendiri Gerakan Ahmadiyah didasarkan kepada telah wafatnya Yesus Kristus, maka para Ulama Muslim dan beberapa penterjemah Qur’an Suci pada masa sekarang sangat ragu-ragu untuk menerima kepercayaan ini sebagai suatu kebenaran.
Pada lahirnya, soal hidup dan wafatnya Yesus Kristus tidak merupakan salah satu azas dari Islam, dan juga tidak merupakan suatu bagian yang “furu” (cabang-cabangnya). Maka itu, apakah sebabnya bahwa hal ini menjadi salah satu ciri khas dari Gerakan Ahmadiyah ini? Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, tujuan utama dari Gerakan Ahmadiyah ialah penyiaran Islam, teristimewa di Barat, dimana Islam harus menghadapi serangan Dajjal (Anti Kristus). Kepercayaan akan kehadiran Yesus Kristus di langit, merupakan rintangan yang terbesar bagi penyiaran Islam di antara kaum Kristen. Apabila Yesus Kristus sekarang masih hidup di langit dengan badan jasmaninya dari tanah, selama dua ribu tahun terakhir, dan tanpa makan dan ada di atas segala keperluan kehidupan materi, tanpa mengalami sesuatu perubahan sedikitpun pada jasadnya, maka tentu ia bukan dari jenis manusia biasa. Apabila ia benar-benar memiliki hal-hal yang aneh ini, maka jasadnya adalah kekal. Ini adalah alasan yang dengan sangat kuat dikemukakan oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Muslim yang percaya akan masih hidupnya Yesus Kristus terus menerus, maka dengan mudah menjadi mangsa mereka. Akibat yang pasti dari keperacayaan mereka yang aneh ini, maka wajar Yesus Kristus adalah jauh di atas mahluk manusia biasa, bahkan layak pula sebagai seorang pemegang saham Ketuhanan. Apakah hal ini menjadi berfaedah dalam keadaan semacam itu untuk pergi dan menyiarkan Islam kepada orang-orang Kristen? Inilah sebab-musababnya Pendiri Gerakan Ahmadiyah melakukan tekanan untuk menghilangkan suatu pandangan yang palsu tentang Yesus Kristus.
Arti penting dari pendakwahan.
Pengertian yang hakiki dari Gerakan Ahmadiyah hanyalah ini, yakni ia adalah suatu gerakan besar untuk propaganda, menyebar-luaskan dan membela Islam di seluruh dunia. Semua ciri-ciri khas yang dimilikinya, adalah sarana untuk mencapai tujuan yang mulia tersebut. Pengakuan pendakwahan dari Pendiri Gerakan pun berarti demikian, yakni tidak untuk suatu tujuan tersendiri tetapi hanya suatu sarana untuk mencapai tujuan penyiaran Islam. Hal yang paling besar dengan penerimaan pendakwahan ini, maka seseorang akan merasakan pada dirinya suatu keyakinan yang kuat, sehingga ia pun bergembira sekali melakukan setiap pengorbanan demi perkara Islam. Logika dari keyakinan ini mungkin dapat atau mungkin saja tidak memuaskan seseorang, tetapi faktanya bahwa orang-orang yang bersama dan mengiringi Pendiri Gerakan atau yang sesudah wafatnya mengadakan hubungan spirituil (rohaniah) dengan beliau, merasakan adanya suatu semangat yang nyata untuk mempropagandakan Islam dan mempunyai keyakinan sepenuhnya bahwa Islam sekarang sedang maju meliputi seluruh dunia. Rupanya ada suatu kekurangan pada kita, yakni kita tidak bangkit pada kesempatan ini dan mau memperkenalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, padahal Islam memiliki keindahan kerohanian yang sedemikian rupa sehingga mengalahkan apa pun juga. Apakah itu materialisme yang pada masa sekarang dipertontonkan, atau jaringan agama Kristen yang akan menyapu bersih dan disebar-luaskan ke seluruh dunia, atau keulungan mereka di segala bidang, kesemuanya itu pasti akan ditundukkan oleh Islam. Semua kepala akan tunduk kepada prinsip-prinsip yang tak dapat dikalahkan, dan perdamaian serta kesejahteraan rohaniah akan terwujud. Keimanan dan kecintaan terhadap Islam inilah yang memberi semangat kepada setiap orang Ahmadi untuk berusaha sekuat tenaga bagi kemajuan Islam. Tanpa keimanan dan kecintaan, dan kemauan berkorban tak mungkin ada semuanya itu. Hubungan rohani dengan Pendiri Gerakan telah merangsang orang-orang Ahmadi pada keimanan dan kecintaan ini. Jadi suatu perubahan telah terjadi pada mereka, sebagaimana terjadi pada suatu pohon yang telah diberi suntikan. Itulah sebabnya kenapa antara seorang Ahmadi dan bukan Ahmadi ada perbedaan sikap yang hebat. Yang akhir itu sedang menunggu kedatangan orang lain yang akan datang menolongnya dalam perkara Islam, dan yang pertama berkeyakinan bahwa memajukan Islam adalah tugasnya dan dialah yang bertanggung jawab atas keberhasilan itu dan ia mempunyai kesanggupan untuk melaksanakannya. Perbedaan dalam pandangan kedua orang ini adalah sangat jelas. Menunggu turunnya Yesus Kristus dari langit adalah suatu perlindungan bagi orang yang hendak menghindarkan diri dari kewajiban yang mulia itu. Kepercayaan akan dakwah-dakwah Pendiri Gerakan mengingatkan kepada orang Muslim dan mereka yang ingin mengetahui betul-betul, bahwa tidak ada seorang pun yang akan turun dari langit untuk mengangkat mereka dari rawa keputusasaan, dimana mereka telah tenggelam dengan mendalam. Mereka harus berjuang keras bagi keselamatan dirinya sendiri.
Mereka yang berbai’at (bersumpah setia) kepada Pendiri Gerakan Ahmadiyah dengan sungguh-sungguh, akan yakin bahwa ramalan Nabi Suci benar dan nyata. Diramalkan bahwa hari-hari kejayaan Islam akan diikuti oleh kemiskinan dan kesukaran orang-orang Muslim. Tetapi Islam akan bangkit kembali kepada kemuliaannya dan akan menaklukkan dunia dengan kekuatan rohaniah dan zaman gerak kemajuan Islam akan dimulai lagi. Abad ini (abad 14 H.) adalah abad yang diramalkan untuk kemenangan Islam dengan turunnya Masih yang dijanjikan. Sekarang menjadi tugas kita untuk membawa risalah Islam ke semua penjuru dunia. Kekuatan untuk menaklukkan hati terpaut dalam Islam. akan tetapi orang-orang Muslim sendirilah harus bekerja keras dengan mandi keringat untuk kemenangan Islam.
Penerimaan dakwah Pendiri Gerakan ini telah merubah sikap pemalas para pengikutnya, menambah kekuatan iman yang diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan Gerakan Ahmadiyya. Inilah satu-satunya tujuan mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Masih yang dijanjikan, Mahdi dan Mujaddid. Ini tidak berarti bahwa Islam sebelumnya tidak lengkap, dan dengan mengakui Pendiri Gerakan Ahmadiyah, maka sempurnalah keimanan kita. Kesempurnaan Islam sendiri telah difirmankan dalam ayat: Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Agama kamu10, tetapi seperti menurut Imam Bukhari ” Iman itu dapat naik dan dapat pula turun”.11 Mengakui dakwah Pendiri Gerakan merupakan sumber besar untuk mempertebal keimanan dalam Islam. Jalan propaganda Islam adalah sulit dan mendaki, tidak dapat dilaksanakan tanpa keimanan yang kuat. Apalagi jalan ini tidak ditebari dengan kehormatan dan kemuliaan lahiriah, dan tidak mempunyai gemerlapan dan daya tarik dari kehidupan seorang politikus yang bersifat avonturir (seorang petualang).
Ramalan-ramalan Nabi Suci Muhammad saw ternyata benar
Jika sekiranya kita suka memikir sedikit mendalam, maka akan nampaklah bahwa Gerakan Ahmadiyah itu telah membuka jalan baru untuk kemuliaan dan keberhasilan terutusnya Nabi Suci. Telah ditunjukkan kepada seluruh kaum Muslimin bahwa ramalan beliau tiga belas abad yang lampau ternyata benar. Ini adalah sungguh merupakan pertolongan yang besar untuk mempertebal keimanan mereka kepada Nabi Suci. Di hadapan kita, segala kejadian di dunia dan ramalan-ramalan Nabi Suci telah terbukti. Para ulama siang dan malam membaca hadits-hadits ramalan itu, tetapi mereka tidak terasa akan makna dan maksudnya.
Hanya ada seorang yang mampu menerangkan Hadits ramalan ini, sesuai dan benar-benar tepat dengan peristiwa di dalam zaman sekarang ini. Orang itu adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadiyan. Untuk mengangkat tabir kegelapan ini, maka seseorang memerlukan cahaya dari atas. Tentu saja hanya dengan petunjuk dari langit, maka beliau dapat memberi penerangan dan membetulkan pikiran-pikiran yang salah tentang hadits-hadits itu.
Hadits tentang Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj telah menunjukkan betapa besarnya penglihatan rohani Nabi Suci, dan ini telah dibahas di tempat lain, hanya sebagian dari ramalan-ramalan yang oleh Pendiri Gerakan telah disoroti dan diterangkan dengan jelas. Ada lagi ramalan-ramalan yang lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits, yang nyata-nyata sudah terjadi dan Gerakan Ahmadiyah memperhatikan untuk memperkuat kepercayaan kepada ramalan-ramalan Nabi Suci. Misalnya perang dunia yang besar telah disebut sebagai al-mulhamatul-kubra atau al-mulhamatul-‘uzma12, yang berarti Perang Besar.
Perang Dunia pertama (1914-1918) dikenali pula dengan nama yang sama. Disebutkan juga, bahwa bilangan orang Kristen (al-Rum) jauh melebihi orang golongan lain pada waktu itu13, dan golongan Islam diperlakukan dengan kejam dan dipandang hina oleh golongan lainnya;14 al-Rum dalam keterangan ini mengacu pada bangsa Kristen. Golongan Islam akan menjadi semakin lemah, sehingga seolah-olah mereka itu akan ditelan bulat-bulat oleh bangsa lain.15 Di dalam umat Islam sendiri tidak ada kesatuan, pertikaian dan perbantahan awak sama awak, kafir mengkafirkan, rusak budi pekertinya, tidak menghiraukan agama dan mengikuti jejak orang Yahudi dan Kristen. Hal ini semua termaktub dalam Hadits Nabi Suci. Tidak adanya keimanan dan ilmu agamawi, dan sedikitnya orang yang menaruh perhatian kepada hal-hal kerohanian telah seringkali dikemukakan dalam hadits-hadits itu. Nabi Suci tiga belas abad yang lalu telah meramalkan pula tentang adanya golongan tidak beragama yang pada waktu sekarang dikagumi oleh seluruh dunia kebendaan. Tentang melimpah ruahnya kekayaan materi, disebut pula dalam hadits-hadits ini. Begitu pula Qur’an Suci mengemukakan banyak ramalan-ramalan mengenai zaman ini. Misalnya meninggalkan unta-unta karena adanya alat-alat angkutan yang lebih menyenangkan dan lebih cepat, seperti kereta api dan pesawat udara.
Dan tatkala unta-unta ditinggalkan.16
Dan dalam suatu Hadits dikatakan:
Unta-unta akan ditinggalkan, tidak akan digunakan untuk berpergian yang cepat (dari suatu tempat ke tempat lainnya)17
Bangsa-bangsa biadab diperadabkan:
Dan ketika binatang-binatang buas dikumpulkan18
Dan segala bangsa di dunia dapat berhubungan satu sama lain, karena adanya alat perhubungan, misalnya kereta api, kapal laut dan kapal udara, telepon, telegram, radio dan lain sebagainya.
Dan tatkala orang-orang dipersatukan19
Majalah-majalah, surat-surat kabar, selebaran-selebaran dan lain sebagainya akan diterbitkan tanpa kesulitan
Dan tatkala buku-buku disiarkan20
Ramalan-ramalan ini, dan banyak lagi ramalan-ramalan lainnya seperti ini tepat terjadi dalam zaman lain juga, tetapi seluruh ramalan itu tepat pada zaman kita sekarang ini, sedangkan rinciannya tidak tepat untuk zaman lampau. Keadaan zaman kita sekarang ini, nampak rinciannya disebut dengan terang dalam hadits-hadits itu, sehingga sungguh menakjubkan akal pikiran kita. Dalam lapangan ini Gerakan Ahmadiyah membuka jalan baru untuk kebenaran Islam dan menambah kepercayaan kita kepada semua ramalan Nabi Suci dan hadits-hadits yang sahih.
Penafsiran yang benar tentang ramalan-ramalan Nabi Suci.
Seribu tigaratus tahun yang lalu kepada Nabi Suci tidak saja diperlihatkan secara ruhaniah apa yang akan terjadi pada Islam, tetapi pula bencana apa yang akan dihadapi oleh dunia. Beliau menyebut semua peristiwa ini dalam hadits-haditsnya. Begitu pula tentang datangnya Masih yang dijanjikan dan tentang akan berdirinya Gerakan Ahmadiyah, merupakan mata rantai dari peristiwa-peristiwa ini. Apabila segala hal lainnya itu menunjukkan kebenaran Nabi Suci, maka kehadiran Gerakan Ahmadiyah pada waktu sekarang ini mempunyai maksud yang sama. Peristiwa-peristiwa termaksud di atas itu berhubungan erat sekali dengan kedatangan Masih yang dijanjikan. Kedatangan Masih sebelum terjadinya ramalan-ramalan itu tidak akan mungkin. Akan tetapi jika tanda-tanda itu sudah terjadi nyata, maka kedatangan Masih itu sudah jelas adanya, sebab segala peristiwa itu saling berhubungan erat dengan kedatangannya. Jika yang ternyata terjadi itu hanya sebagian saja, sedang lainnya belum, maka bolehlah kita menantikan saja akan kedatangannya. Jika semuanya itu telah terjadi nyata, mengapa kedatangan Masih selalu tertunda dengan tidak ada batasnya? Padahal kemenangan Islam meliputi segala agama itu akan terjadi dengan kedatangannya. Jika Ya’juj wa Ma’juj sudah meliputi bumi kita ini dan menguasai segala kekayaan serta kekuasaan; jika Dajjal merata menyesatkan kemanusiaan; jika umat Islam sudah tidak lagi menyentuh Qur’an Suci dan dengan menyedihkan melibatkan diri dalam percekcokan serta saling melemparkan kata-kata yang kotor antara mereka sendiri hanya karena perbedaan faham yang kecil; jika ulama-ulama telah sunyi dari segala pengertian kebenaran dan kenyataan serta melibatkan diri dalam pemujaan arti harfiah saja (tanpa mempergunakan ilmu dan akal sehat -pent.), maka seperti itulah yang tersebut dalam Hadits bahwa iman yang sejati telah terlalu jauh, yaitu di bintang Tsuraya. Jika semuanya ini sudah ternyata terjadi dan umat Islam dikelilingi oleh segala macam kesukaran dan penderitaan, maka apakah ini mungkin perbuatan Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Bijaksana bahwa umat Islam harus menderita dalam segala bidang, sedangkan janji-Nya untuk membebaskan kita apakah tidak akan dipenuhi sampai detik yang sangat dibutuhkan ini? Jelas, hal ini tidak mungkin terjadi.
Pandangan Pendiri Gerakan Ahmadiyah mudah diterima dan dimengerti, karena dialah yang menarik perhatian kita akan peristiwa-peristiwa di dunia ini, dialah yang menunjukkan bahwa ramalan-ramalan atau penglihatan rohani Nabi Suci betul dan nyata.
Segala tanda-tanda telah tampak di hadapan kita, akan tetapi kita tidak dapat melihatnya. Siang dan malam kita membaca Hadits tentang hal ini, tetapi kita tidak dapat merasakan. Tabir kegelapan menutupi mata kita dan orang-orang yang pandai-pandai atau para Ulama atau apa yang disebut para pemimpin rohani pun tidak. Mirza Ghulam Ahmad-lah yang telah membuang tabir kebohongan itu dan terpancarlah sinar dari dalamnya yang membuktikan kebenaran Nabi Suci serta ramalan-ramalannya. Andaikata Pendiri Gerakan Ahmadiyah tidak muncul, segala kenyataan-kenyataan sehubungan dengan hadits berkenaan itu, akan tetap tersembunyi dari dunia. Jadi, hanya Ahmadiyah sendirilah yang telah menetapkan kebenarannya dan keasliannya ramalan-ramalan Nabi Muhammad saw., seperti tersebut dalam kitab-kitab Hadits.
Penafsiran yang benar tentang Islam
Ahmadiyah tidak hanya memberikan penafsiran atas ramalan dan penglihatan (ru’ya) Nabi Suci, tetapi memberi juga penafsiran yang benar tentang Islam. Ahmadiyah bukanlah suatu agama baru dan bukan pula suatu sekte, sebagaimana telah diterangkan di muka, melainkan hanyalah suatu Gerakan Besar untuk menyiarkan Islam. Karena penyiaran Islam menuntut, bahwa Islam harus dihidangkan dalam bentuk yang sebenarnya, maka segala noda dan kotoran harus dimusnahkan dari wajahnya yang cantik, sehingga menjadi suatu daya tarik bagi manusia. Allah Yang Maha Kuasa telah memberi pengertian kepada Mujaddid abad ini dengan memperlihatkan kepadanya bahwa telah terpenuhinya semua ramalan dan penglihatan Nabi Suci dan menganugerahkannya pandangan untuk membuka segala kepercayaan yang menjadi penghalang kemajuan Islam. Jadi, Ahmadiyah adalah perwujudan Islam yang bersahaja dan bersih, yang pada waktu dahulu bisa menarik dunia dan begitu juga sekarang. Dengan perkataan lain, Ahmadiyah adalah penafsiran yang benar atas pelajaran-pelajaran dari Qur’an Suci. Hal yang membedakannya dari golongan-golongan Islam lain, bahwa Ahmadiyah menghapuskan segala kesalahan yang diperbuat orang dalam ajaran Islam dan menunjukkan keindahan berpautan dengan ajaran Islam yang telah dilupakan oleh kaum Muslimin selama ini, dan Islam akan memperoleh kembali daya-tariknya bagi dunia. Islam adalah agama yang hidup yang mempersembahkan Tuhan Yang Maha Hidup Kekal dan Nyata, Yang besabda kepada hamba-Nya yang tulus pada masa lalu dan pada masa sekarang dan akan terus bersabda selamanya. Sebagaimana halnya sifat-sifat-Nya Mendengar dan Melihat, maka sifat-Nya berhubungan dengan manusia tidak akan terhenti. Meskipun ke-nabian telah berakhir, tetapi hubungan Allah dengan hamba-hamba-Nya tidak akan tertutup. Tetapi pada umumnya orang-orang Muslim menyangka bahwa Allah bersabda dahulu kala, tetapi sepeninggal Nabi Muhammad saw pintu wahyu (sabda Allah) sudah tertutup selama-lamanya. Gerakan Ahmadiyah telah menekankan secara khusus atas perkara ini dan bahwa agama, yang bagi pemeluknya tidak ada kesempatan untuk mencapai tingkat perhubungan dengan Allah, adalah agama yang mati. Sebagaimana dijanjikan dalam Qur’an Suci dan Hadits, Allah akan terus bersabda kepada hamba-hamba-Nya yang tulus dari umat ini selama-lamanya.
Islam adalah agama fitrah dan manusia menurut kodratnya dengan sendirinya tertarik kepada Pencipta-Nya. Sayangnya ada beberapa Ulama Islam yang berperasaan bahwa Islam pada waktu turunnya Mahdi, akan disiarkan dengan kekuatan jasmani. Dongeng-dongeng tentang turunnya Mahdi yang demikian itu tersiar merata di kalangan umat ini. Jadi celaan kaum non-Muslim tentang menyiarkan Islam dengan pedang diperkuat oleh orang-orang Muslim itu sendiri. Ini mengakibatkan kebencian non-Muslim terhadap Islam menjadi-jadi, dan kemudian menjadi rintangan bagi propaganda Islam. Ahmadiyah yang menjernihkan seluruh isu ini dengan mengemukakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama21. Islam telah menarik manusia karena ajaran-ajarannya yang indah. Ia adalah agama fitrah manusia, agama yang bersahaja, sepi dari segala kesulitan upacara agama. Orang buta huruf pun dapat mengerti ajaran-ajarannya. Tetapi Fiqih (Yurisprudensi) menyebabkan segala sesuatu menjadi sangat kompleks (kusut). Kepercayaan dan ajaran-ajaran Islam yang bersahaja berubah menjadi bahan percekcokan yang seru, yang tidak bermanfaat, dan melumpuhkan peri kehidupan Muslimin sehari-hari. Gerakan Ahmadiyah memperoleh kembali kesederhanaan asli yang telah hilang dari Islam dengan menempatkan Qur’an di atas segalanya, dan menjadi sumber yang sebenar-benarnya dari ajaran Islam. Sesudah itu Hadits, dimana Nabi Suci menerangkan dan menafsirkan ajaran-ajaran Qur’an. Fiqih yang bukan sumber asli dari syariat mengenai seluk-beluk kehidupan kita, dan tidak layak kemudian diberi tempat utama mendahului Qur’an dan Hadits, jadi seharusnya tidak dijadikan nomor satu.
Islam adalah agama rasional (dapat diterima dengan akal). Qur’an kerapkali memerintahkan para pembacanya supaya mempergunakan akal, pertimbangan dan pengertian dalam perkara agama. Tetapi sebagian para Ulama berpendirian sebaliknya, yakni siapa yang mencoba berusaha untuk mengerti perkara agama dengan menggunakan akal pikirannya, maka dikatakan kafir atau sesat.. Gerakan Ahmadiyah lagilah yang memancarkan cahaya atas perihal ini, dan membuktikan kebenaran prinsip-prinsip agama didasarkan kepada akal pikiran yang sehat, serta menunjukkan bahwa akal dan agama itu tidak berdiri terpisah. Keduanya saling isi-mengisi. Akal pikiran membuktikan perlu dan benarnya agama, sedangkan agama memberi cahaya dan petunjuk kepada akal-pikiran. Tetapi sebagian Ulama pada waktu ini menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama dan melarang orang-orang Muslim untuk memperoleh pendidikan keduniawian. Gerakan Ahmadiyah membantu menyingkirkan salah faham ini dari otak benak kaum Muslimin, dan menjelaskan bahwa kemajuan kebendaan itu akan membimbing manusia kepada kemajuan rohani yang lebih tinggi, yang berfaedah untuk kemanusiaan. Penolakan atas nilai kerohanian itu karena tidak dimilikinya ilmu agama yang sejati. Dengan majunya ilmu pengetahuan Islam pula akan maju pesat, karena Islam adalah agama akal, suatu agama yang mendorong kepada pandangan hidup yang ilmiah.
Islam adalah sungguh-sungguh suatu agama yang berpandangan luas dan berlapang dada (toleran). Dalam pandangan Islam, seluruh umat manusia itu satu umat, dan dinyatakannya pula bahwa seperti adanya undang-undang jasmani dan alam semesta, maka hanya ada satu undang-undang rohani untuk seluruh manusia, dan setiap bangsa telah mempunyai pemimpin rohaninya yang telah mengajak umatnya kepada ketulusan dan kebajikan. Tetapi sifat Islam yang menonjol ini tidak diindahkan sama sekali. Gerakan Ahmadiyah-lah yang memancarkan cahaya pada perkara ini, dan menekankan atas kenyataan bahwa para Nabi telah dikirimkan kepada setiap bangsa, jadi telah menghidupkan kembali pandangan luas dan umum dari Islam. Islam adalah agama kemajuan. Meskipun azas-azas agama ditetapkan dalam Qur’an dan penjelasan-penjelasan ada dalam Hadits selaras dengan kebutuhan zaman, tetapi karena Islam itu berpengertian sangat luas dan manusia itu dihadapkan kepada seribu satu soal sehubungan dengan kemajuan peradaban, maka pintu ijtihad (usaha keras untuk menentukan pendapat di lapangan hukum mengenai hal yang pelik dan meragukan. -pent.) dalam Islam tidak tertutup. Artinya, sesuai dengan kebutuhan dari setiap zaman dan setiap negeri, maka orang berhak membuat aturan-aturan (undang-undang) untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dibawah pimpinan Qur’an Suci dan Hadits.
Tak dapat disangkal bahwa Islam adalah agama persatuan dan persaudaraan. Menurut perintah Qur’an yang terang, tidak ada orang yang berhak mengusir seorang Muslim lainnya dari Islam selama ia masih menyatakan keimanannya kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw. Tetapi dalam abad ini ada berbagai golongan Muslim yang mengira bahwa keselamatan itu adalah hak preogratif mereka sendiri, dan mereka saling menyatakan kafir dan penghuni neraka. Ahmadiyah menghidupkan kembali prinsip, bahwa semua orang yang mengikrarkan kalimah syahadat yaitu: “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah” dia adalah Muslim dan tidak ada seorang pun berhak menyebut kafir kepadanya. Sebelum Islam, yang disebut agama ialah cuma kumpulan tata upacara lahir belaka yang menjadi sumber untuk memperoleh pahala, atau untuk membebaskan diri dari siksaan di akhirat. Islam memberi pengertian baru tentang agama, lalu dihubungkan dengan kegiatan manusia sehari-hari, inilah yang menjadi sumber daya kehidupan manusia. Kaum Muslimin melupakan hakikat ajaran Islam yang agung ini, dan Gerakan Ahmadiyahlah yang menarik kembali kepada ajaran ini. Selain itu Gerakan Ahmadiyah menerangi kembali berbagai persoalan Islam. Di bawah ini saya akan bahas seluk-beluk ciri-ciri khas Gerakan Ahmadiyah.
(Endnotes)
Catatan Akhir
1 Rumah Suci Allah di Mekkah, ke arah mana orang-orang Muslim menghadapkan wajahnya pada waktu bershalat
2 Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad, The Truth about the Spilit (Qadiyan, India, Second Edition, 1938), pp. 55, 140, 185, etc.
3 Pernyataan ini sifatnya ramalan Maulana Muhammad Ali, dan sebagian telah terpenuhi pada tahun 1954, ketika suatu pernyataan tertulis di sampaikan delegasi golongan Qadiyan kepada Mahkamah Penyelidikan (Court of Inquiry), bahwa: “Seorang Muslim adalah orang yang termasuk umat Nabi Muhammad saw. dan menganut keimanan dalam Kalimah Toyyibah. (Laporan dari “Court of Inquiry”, dalam kerusuhan di Punjab tahun 1953, hal. 218). Pada tempat yang lain dari laporan itu dikemukakan bahwa:
”Atas pertanyaan, apakah orang-orang Ahmadi (yakni para pengikut golongan Qadiyan -T.) menganggap orang-orang Muslim lainnya sebagai kafir, dalam arti, bahwa mereka adalah di luar batas Islam. Sikap mereka dihadapan kami, bahwa orang-orang serupa itu bukanlah orang-orang kafir dan bahwa kata kufr, apabila dipergunakan dalam literatur Ahmadi golongan Qadiyani, sehubungan dengan orang-orang serupa itu, ialah dipergunakan dalam arti bid’ah yang sepele dan tidak pernah dimaksud untuk menganggap orang serupa itu keluar batas Islam. (halaman 199)”.
Apa yang tertulis di atas itu adalah pendapat para Hakim dari Mahkamah Penyelidikan (Court of Inquiry) tersebut. Jawaban yang sebenarnya di depan Mahkamah itu adalah sebagai berikut:
”P (Pertanyaan): Apakah Tuan golongkan Mirza Ghulam Ahmad di antara para mamurs (orang-orang yang diangkat Allah -T) yang pengakuan sedemikian itu terhadapnya merupakan syarat untuk disebut seorang Muslim?”.
”J (Jawaban): Saya telah menjawab pertanyaan ini. Tidak ada seorang pun yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad, dapat dianggap sebagai di luar batas Islam”. (Proses Mahkamah Penyelidikan, pada pemeriksaan ke 84, tanggal 14 Januari 1954).
“P: Silahkan melihat pada halaman 22 dari “Dzikrullah” dimana dimuat perkataan sebagai berikut:
(Yakni, Kepercayaan saya bahwa ada dua golongan di dunia ini, yaitu, golongan mukmin (yang beriman) dan golongan kafir (yang tidak percaya), jadi orang-orang menyatakan beriman pada Masih yang di janjikan ( yaitu Mirza Ghulam Ahmad -T .) adalah mu’min , dan orang-orang yang tidak beriman kepadanya , mungkin karena suatu alasan, adalah kafir). Bukankah di sini kata kafir dipergunakan sebagai kata lawan dari mu’min?.
“J: Dalam konteks ini kata mu’min berarti orang yang beriman dan kata kafir berari orang yang tidak beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad.
P: Apakah keimanan kepada Mirza Ghulam Ahmad merupakan suatu bagian dari iman ?.
J: Tidak! Kata mukmin di sini dipergunakan hanya untuk menyampaikan pengertian keimanan kepada Mirza Ghulam Ahmad, bukan keimanan dalam Rukun Iman. (Ibid, 85th siting, 15th January 1954). Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Pemimpin golongan Ahmadiyah di Rabwah (tadinya di Qadiyan), mengakui bahwa keimanan kepada Pendiri Gerakan Ahmadiyah bukanlah merupakan bagian dari iman (juzwi-iman), tetapi empat puluh tahun sebelumnya, dalam tahun 1914, ia dengan secara lantang mengumumkan:
“Keimanan kepada Masih yang dijanjikan adalah suatu bagian dari Iman (juzwi-iman). Jadi siapakah yang berani berkata melawan beliau, bahwa beriman kepadanya tidak merupakan bagian dari Iman? (Al-Fadl, Qadiyan, 20 Mei 1914).
4 “Bahwa semua orang yang disebut Muslim, yang belum secara formal berbai’at kepadanya, dimana pula mereka berada, mereka adalah kafir dan ada di luar batas Islam, meskipun mereka tidak tidak pernah mendengar nama Masih yang dijanjikan. Bahwa kepercayaan ini mempunyai persesuaianku sepenuhnya, itu aku siap sedia mengakuinya” (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, The Truth about the Split, Qadiyan, India, Second Edition 1938, pp.55-56). Keterangan-keterangan tersebut diatas dengan jelas bertentangan satu sama lain
5 Qur’an Suci, 2: 103
6 Bukhari 65:12
7 Imam Muhammad Tahir of Gujarat, Majma’ Bikharil -Anwar (Lucknow, India, Nawal Kishore Press), vol. I, halaman 286, dan Ikmalul-Ikmal Sharh Muslim Vol. I halaman 265
8 Qur’an 3:143
9 Lihat Annexe 2 “Para Ulama Mesir tentang wafatnya Yesus Kristus” dan kalimat-kalimat dari The Massage of the Quran oleh Muhammad Asad
10 Qur’an , 5:3
11 Bukhari 2:32
12 Misykat; Bab al-Malaham
13 Musnad Ahmad, Vol.IV, h. 230
14 Ibid
15 Tirmidzi, Ibnu Majah
16 Qur’an, 81:4
17 Imam Muhammad Tahir dari Gujarat, Majma’-Biharul-Anwar( Lucknow, India, Nawal Kishor Press, Vol.III, hal.165; Misykat, Bab turunnya Masih
18 Qur’an, 81:5. Rupa-rupanya dikumpulkannya binatang-binatang buas juga merupakan ramalan yang terjadi di kemudian hari, yaitu dikumpulkannya binatang-binatang buas dari segala penjuru dunia di sebuah kota besar. Kata “wuhusy” adalah jamaknya dari kata “wahsy’ artinya binatang buas, seperti juga binatang yang tidak jinak atau binatang padang pasir. Dengan demikian secara ibarat dapat diterapkan terhadap orang-orang yang masih biadab. Wanita yang pemalu juga disebut “wahsy”, oleh karena itu, ayat ini dapat pula mengisyaratkan dikumpulkannya orang-orang yang masih biadab dalam pusat peradaban. Hendaklah diingat bahwa kata “hasyr” (husyirat) bukan saja pergi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berarti menyebabkan orang-orang turun ke kota. (dari catatan kaki Qur’an Suci H.M Bachrun, No. 2672 -pent.).
19 Ibid, 81:7
20 Ibid, 81:10
21 Qur’an, 2:256
DIarsipkan di bawah: Ahmadiyah, Studi Islam
